"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kupikir papamu akan membiusmu dan mengirimmu ke luar negeri." Katanya ringan, seraya menatapku dengan senyum yang begitu akrab di bibirnya.
Mas Gatra memang orang yang ramah dan solider. Pun kariernya sudah jauh sekali di atasku, dia tak pernah berubah. Tetap low profile. Mungkin itulah yang membuatku menjadikannya panutan, daripada papaku sendiri yang lebih terkesan otoriter dan arogan.
Aku tersenyum samar.
"Bukankah kau sendiri yang menjuluki belut listrik? Kau yang paling tau sepak terjangku setiap kabur dari kekangan papaku kan?"
Mas Gatra tergelak, ikut meneguk softdrinknya. Lalu diam beberapa menit.
"Kidung juga kebingungan mencarimu. Kau harus segera menemuinya." Kali ini ucapannya terkesan lebih serius.
Aku melempar pandanganku ke semburat jingga si senja seraya meneguk lagi softdrink ditanganku. Tapi, untuk menelan softdrink itu rasanya sedikit sulit. Mungkinkah karena tersebut nama Kidung tadi?
Nama itu. Gadis manis mungil yang tingginya pun hanya mencapai dadaku itu, entahlah... Aku kesulitan berfikir karena terlalu banyaknya hal yang kufikirkan tiap kali mengingat apalagi jika bertemu dengannya.
"Aku tau, aku sudah menemuinya." Kataku serak dan berat. Berat menahan rasa sakit yang menyerang dadaku.
"Apa kau akhirnya memberitahu dia? Tentang dirimu yang sebenarnya, tentang siapa ayahmu, dan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya?"
Sakit. Entah kenapa rasa sakit itu kian terasa mendengar semua pertanyaan dari mas Gatra. Bahkan menelan ludahku pun terasa seperti menelan duri-duri.
"Tidak, tapi dia sudah tau." Sanggahku tetap serak dan berat.
Kidung, gadis manis yang lincah itu aku mengenalnya dua bulan terakhir belakangan ini. Dia seorang mahasiswa tingkat akhir yang menyiapkan bahan skripsinya. Dia terjun langsung masuk ke firma keluargaku demi melakukan surveinya. Tapi selama itu pula aku menyembunyikan fakta bahwa ternyata Kidung juga tercatat dalam catatan hitam masa lalu papa.
Aku dalam dilema. Disatu sisi aku terlanjur jatuh cinta pada Kidung, tapi disisi lain aku mendengar langsung dari bibir Kidung bahwa dia sangat membenci seseorang yang dulu telah menghancurkan kerja keras ayahnya bahkan sampai membuat ayahnya meninggal. Dan seseorang itu adalah papaku.
Saat mengetahui masa lalu keluargaku dan keluarga Kidung berkaitan erat, aku sering berfikir, jika pada akhirnya aku ditakdirkan jatuh cinta padanya, mengapa aku malah dilahirkan di keluarga yang menghancurkan keluarganya? Kenapa aku harus menyandang nama Wibowo dibelakang namaku? Kenapa harus gadis yang memikat hatiku itu yang menjadi putri dari korban ketamakan papaku?
"Seberapa banyak dia tau tentang dirimu yang sebenarnya?" Delik Mas Gatra menggusur lamunanku tentang Kidung. Aku diam.
Teringat mata teduh itu kemarin saat aku menunggunya di depan rumah sederhananya. Tanpa dendam, tapi juga seperti hampa cinta.
"Kau terlihat kurusan." Selidik Kidung mengamatiku dengan teliti sebelum kembali melangkah membuka pintu rumahnya.
"Benarkah? Mungkin karena aku jarang makan." Jawabku asal, meski memang itu kenyataannya.
"Kenapa?" Tanya Kidung menatapku dengan mata memicing.
"Tak ada selera makan."
Kidung tergelak memegang daun pintu, menungguku masuk.
"Manusia hanya kuat 4 hari kalo tidak makan, tapi sebelum hari ke empat, menjelang hari ke tiga, manusia sudah tak punya tenaga untuk berdiri." Kali ini Kidung lebih mirip menceramahiku.
Aku melangkah memasuki rumah sederhananya. Ini kedua kalinya aku bertandang ke rumah Kidung. Dengan suasana hati yang sangat jauh berbeda.
"Karena sudah kesini, aku akan memasak sesuatu yang bisa kau makan."
"Tidak perlu." Sergahku langsung disambut tatapan matanya yang bening.
Dan rasa sakit yang hebat tiba-tiba menyerang dadaku, membuatku hampir tak bisa bernafas. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa mata bening itu telah 10 tahun lebih menderita oleh perbuatan papaku sendiri.
"Hei, bukankah selama ini kau yang sering cerewet padaku agar tak lupa mengisi perut, hah?!" Gusarnya melipat tangannya ke dada.
Aku menghindari tatapan itu.
"Semua orang itu punya masalah, tapi seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, tetap tidak boleh tidak makan. Kalo tak makan, apa bisa menghadapi masalah? Yang ada masalah makin berat." Lanjutnya makin mengomel.
Dan semua sikapnya itu jauh dari perkiraanku. Membuatku makin merasa bersalah.
Aku mendesah panjang
"Aku juga penasaran seberapa banyak dia tahu tentang siapa aku yang sebenarnya." Gumamku mengambang. "tapi anehnya, dia bahkan tak sekalipun bertanya 'kenapa', tentang semua kebohonganku selama ini." Lanjutku.
Ya, selama ini aku memang merahasiakan siapa sebenarnya aku di hadapan Kidung. Aku memperkenalkan diri sebagai pengacara amatir di firma hukum itu. Aku bahkan tak menambahkan nama Wibowo di belakang namaku.
Tapi benar kata pepatah 'serapat apapun bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga'. Dan beberapa hari lalu, saat papaku melakukan konferensi pers sebagai kandidat calon ketua MA yang baru ternyata namaku ikut tersebut. Kidung yang saat itu kebetulan ada didekatku hanya menatapku diam dengan berbagai dugaan yang meracuni otakku.
"Kau... sangat menyayangi Kidung kan?" Tanya Mas Gatra, untuk kedua kalinya menyeretku dari lamunan.
Aku mendesah, tak berniat menjawab pertanyaan menyesakkan itu. Kudengar Mas Gatra tertawa lirih.
"Kau sangat menyayanginya, itulah kenapa kau sangat takut mengatakan yang sebenarnya pada Kidung. Begitu pun aku."
"Kenapa ya kita bertiga terbelit di dalam takdir yang aneh?" Gumamku menatap cakrawala yang kian suram, senja benar-benar telah sempurna.
"apa Tuhan memang sengaja mengirimmu sebagai pemersatu kami ketika kebencian harus menjadi pemisah?" Lanjutku disambut tawa Mas Gatra yang menurutku terdengar sangat aneh.
"Kenapa? Ada yang lucu? Apa masalah ini bagimu pantas untuk ditertawakan?" Kali ini aku sedikit kesal.
"Kenapa? Apa kau tak merasa takdir kita memang sedikit menggelikan? Aku secara tak sadar membantu papamu menghancurkan hidup keluarga Kidung, dan karena rasa bersalahku selama 10 tahun lebih diam-diam membiayai hidupnya, bahkan sampai mau menjadikannya sarjana hukum." Papar Mas Gatra. "dan kau, dengan sendirinya akhirnya mendekati korban dari kerakusan papamu. Bahkan kemudian jatuh cinta padanya. Apa menurutmu itu kurang lucu?" Lanjut Mas Gatra bertanya.
Aku diam sebentar.
"Cinta yang di mulai dari sebuah kebencian, apa akan berakhir tragis, Mas?" Aku malah mengajukan pertanyaan lain.
Mas Gatra diam, menatap ufuk barat yang sudah sempurna gelap dengan hiasan sebuah bintang kejora.
"Saat menemui Kidung, apa dia menanyakan sesuatu?" Tanya Mas Gatra datar meski terkesan sangat serius.
Aku meneguk sisa softdrink-ku seraya menata dulu suasana hatiku yang semrawut karena harus mengingat kembali kejadian kemarin.
Bahkan, sebelum akhirnya aku memutuskan menemui Kidung, aku sudah lebih dulu menyiapkan segala kemungkinan terburuk sekalipun. Aku berjanji akan menjawab semua hal yang akan dia tanyakan. Aku akan terima semua kemarahan bahkan makian jika itu bisa membuatnya puas.
Tapi, ketika aku melihatnya pulang. Aku malah menemukan senyum kecilnya. Meski sedikit dipaksakan, tapi aku tau senyum itu sebuah kesungguhan bahwa dia tetap menerimaku. Dan selama dua jam di rumahnya, aku bahkan tak sekalipun mendengarnya bertanya 'kenapa'.
Dan itu membuatku makin merasa bersalah padanya.
Aku menarik nafas panjang.
"Tidak, tak satupun pertanyaan dia tanyakan. Dan itu membuatku bertanya-tanya, benarkah dia baik-baik saja?"
Mas Gatra menepuk pundakku pelan.
"Dia akan baik-baik saja. Percayalah, dia bukan gadis lemah." Ujar Mas Gatra meyakinkanku tapi itu malah membuatku tertawa.
"Aku terus bertanya, kenapa aku harus terlahir dengan nama belakang Wibowo."
"Kau sedang mengeluh?" Selidik Mas Gatra.
Kujawab dengan helaan nafas berat. Mas Gatra merangkulku 'bak seorang kakak menggamit adik kecilnya. "kau tau, tak seorangpun di dunia ini yang terlahir dengan memilih orang tuanya. Karena orang tua bukan pilihan, tapi pemberian. Jika kau merasa semua ini harus berakhir bahagia, maka berusahalah agar bisa berakhir bahagia." Lanjut Mas Gatra pasti.
Kutatap Mas Gatra dalam suasana temaram yang telah menyelubungi seluruh alam. Ada senyum kepastian disana. Kepastian yang mungkin meyakinkanku bahwa ada akhir yang harus kuusahakan untuk terjadi; bahagia.
Mungkin memang tidak mudah, tapi mungkin memang langkah pertama aku harus menemui Kidung lagi untuk memperkenalkan diriku yang sebenarnya.
Aku bangkit.
"Aku akan menemuinya." Kataku tegas.
Dan senyum Mas Gatra tergelar dalam remangnya pandanganku akan malam yang sudah menjelma.
"Apa ini?'' Tanya Kidung tak mengerti saat kusodori KTP milikku.
Aku menarik nafas sebentar.
"Selama ini kau hanya tau namaku Danish kan? Aku terlalu pengecut untuk berkata jujur bahwa namaku..."
"Itu sudah cukup." Sergah Kidung cepat, dan tegas.
Aku menatapnya lekat, pun ia menatapku tanpa kedip.
"Bagiku sudah cukup mengenalmu sebagai seseorang bernama Danish." Kata Kidung lagi.
Apa ini? Kidung bahkan tak peduli bahwa namaku Danish Wibowo? Kidung tak peduli aku putra dari orang yang telah menghancurkan seluruh keluarganya?
"Kau tak marah?" Tanyaku tak yakin.
Kidung menunduk dengan seulas senyum yang masih sempat kunikmati.
"Jujur saja, sebenarnya saat baru mngetahuinya aku begitu marah, begitu kecewa." Akunya terkesan dingin.
Aku terpaku mendengar pengakuannya.
"Kenapa harus kau yang disebut sebagai putra kandidat ketua MA itu? Kenapa aku harus mendengarnya dari media saat hampir setiap hari aku bertemu denganmu?" Lanjutnya membuatku tertunduk.
"Tapi... ketika aku mendengar kau menghilang bahkan kau tak bisa dihubungi oleh siapapun, aku merasa aneh." Kidung berhenti sejenak, menarik nafas pendek. "aku mencemaskanmu. Aku..."
Aku mendongak mengamati perubahan mimik wajahnya. Lalu tiba-tiba Kidung mendongak dengan senyum kecil.
"Dan aku merasa lega waktu kemarin menemukanmu menungguku di depan rumahku."
"Kau mencemaskanku?" Tanyaku
"Hmm..."
"Kau senang melihatku kemarin?"
"Hmm..."
"Kau tak membenciku?"
Kidung menghela nafas pendek.
"Aku membenci perbuatan papamu di masa lalu, tapi aku..." Suara Kidung menghilang membuat dahiku berkerut, "aku percaya kau berbeda dengan papamu. Itulah sebabnya aku tak punya hak membencimu juga." Lanjutnya dengan seulas senyum.
Dan entah kenapa aku juga ikut tersenyum. Bahkan rasa sesak yang selama ini menghimpitku perlahan menghilang.
Mungkin inilah yang dimaksud oleh mas Gatra tentang mengusahakan akhir yang bahagia. Mungkin aku harus mulai berfikir, meski itu adalah kesalahan papaku, itu adalah kesalahan papaku. Ada kalanya aku akan merasa sangat bersalah pada korban dan keluarganya, tapi siapa orang di dunia ini yang tak pantas bahagia? Sekalipun aku putra seorang 'pembunuh', sekalipun aku merasa ikut menanggung dosa itu, tapi bukan berarti aku harus menerima akibatnya kan?
Mungkin, aku hanya perlu membuat pelaku mengakui kesalahannya, dan akan ada yang mengurus untuk semua balasannya.
Kutatap Kidung lagi, senyumnya terlihat jelas memastikan semua akan baik-baik saja. Dan aku bernafas dengan lega. Menyisihkan dosa dan karma yang ditinggalkan oleh papa.
"Kau sangat menyayanginya, itulah kenapa kau sangat takut mengatakan yang sebenarnya pada Kidung. Begitu pun aku."
"Kenapa ya kita bertiga terbelit di dalam takdir yang aneh?" Gumamku menatap cakrawala yang kian suram, senja benar-benar telah sempurna.
"apa Tuhan memang sengaja mengirimmu sebagai pemersatu kami ketika kebencian harus menjadi pemisah?" Lanjutku disambut tawa Mas Gatra yang menurutku terdengar sangat aneh.
"Kenapa? Ada yang lucu? Apa masalah ini bagimu pantas untuk ditertawakan?" Kali ini aku sedikit kesal.
"Kenapa? Apa kau tak merasa takdir kita memang sedikit menggelikan? Aku secara tak sadar membantu papamu menghancurkan hidup keluarga Kidung, dan karena rasa bersalahku selama 10 tahun lebih diam-diam membiayai hidupnya, bahkan sampai mau menjadikannya sarjana hukum." Papar Mas Gatra. "dan kau, dengan sendirinya akhirnya mendekati korban dari kerakusan papamu. Bahkan kemudian jatuh cinta padanya. Apa menurutmu itu kurang lucu?" Lanjut Mas Gatra bertanya.
Aku diam sebentar.
"Cinta yang di mulai dari sebuah kebencian, apa akan berakhir tragis, Mas?" Aku malah mengajukan pertanyaan lain.
Mas Gatra diam, menatap ufuk barat yang sudah sempurna gelap dengan hiasan sebuah bintang kejora.
"Saat menemui Kidung, apa dia menanyakan sesuatu?" Tanya Mas Gatra datar meski terkesan sangat serius.
Aku meneguk sisa softdrink-ku seraya menata dulu suasana hatiku yang semrawut karena harus mengingat kembali kejadian kemarin.
Bahkan, sebelum akhirnya aku memutuskan menemui Kidung, aku sudah lebih dulu menyiapkan segala kemungkinan terburuk sekalipun. Aku berjanji akan menjawab semua hal yang akan dia tanyakan. Aku akan terima semua kemarahan bahkan makian jika itu bisa membuatnya puas.
Tapi, ketika aku melihatnya pulang. Aku malah menemukan senyum kecilnya. Meski sedikit dipaksakan, tapi aku tau senyum itu sebuah kesungguhan bahwa dia tetap menerimaku. Dan selama dua jam di rumahnya, aku bahkan tak sekalipun mendengarnya bertanya 'kenapa'.
Dan itu membuatku makin merasa bersalah padanya.
Aku menarik nafas panjang.
"Tidak, tak satupun pertanyaan dia tanyakan. Dan itu membuatku bertanya-tanya, benarkah dia baik-baik saja?"
Mas Gatra menepuk pundakku pelan.
"Dia akan baik-baik saja. Percayalah, dia bukan gadis lemah." Ujar Mas Gatra meyakinkanku tapi itu malah membuatku tertawa.
"Aku terus bertanya, kenapa aku harus terlahir dengan nama belakang Wibowo."
"Kau sedang mengeluh?" Selidik Mas Gatra.
Kujawab dengan helaan nafas berat. Mas Gatra merangkulku 'bak seorang kakak menggamit adik kecilnya. "kau tau, tak seorangpun di dunia ini yang terlahir dengan memilih orang tuanya. Karena orang tua bukan pilihan, tapi pemberian. Jika kau merasa semua ini harus berakhir bahagia, maka berusahalah agar bisa berakhir bahagia." Lanjut Mas Gatra pasti.
Kutatap Mas Gatra dalam suasana temaram yang telah menyelubungi seluruh alam. Ada senyum kepastian disana. Kepastian yang mungkin meyakinkanku bahwa ada akhir yang harus kuusahakan untuk terjadi; bahagia.
Mungkin memang tidak mudah, tapi mungkin memang langkah pertama aku harus menemui Kidung lagi untuk memperkenalkan diriku yang sebenarnya.
Aku bangkit.
"Aku akan menemuinya." Kataku tegas.
Dan senyum Mas Gatra tergelar dalam remangnya pandanganku akan malam yang sudah menjelma.
"Apa ini?'' Tanya Kidung tak mengerti saat kusodori KTP milikku.
Aku menarik nafas sebentar.
"Selama ini kau hanya tau namaku Danish kan? Aku terlalu pengecut untuk berkata jujur bahwa namaku..."
"Itu sudah cukup." Sergah Kidung cepat, dan tegas.
Aku menatapnya lekat, pun ia menatapku tanpa kedip.
"Bagiku sudah cukup mengenalmu sebagai seseorang bernama Danish." Kata Kidung lagi.
Apa ini? Kidung bahkan tak peduli bahwa namaku Danish Wibowo? Kidung tak peduli aku putra dari orang yang telah menghancurkan seluruh keluarganya?
"Kau tak marah?" Tanyaku tak yakin.
Kidung menunduk dengan seulas senyum yang masih sempat kunikmati.
"Jujur saja, sebenarnya saat baru mngetahuinya aku begitu marah, begitu kecewa." Akunya terkesan dingin.
Aku terpaku mendengar pengakuannya.
"Kenapa harus kau yang disebut sebagai putra kandidat ketua MA itu? Kenapa aku harus mendengarnya dari media saat hampir setiap hari aku bertemu denganmu?" Lanjutnya membuatku tertunduk.
"Tapi... ketika aku mendengar kau menghilang bahkan kau tak bisa dihubungi oleh siapapun, aku merasa aneh." Kidung berhenti sejenak, menarik nafas pendek. "aku mencemaskanmu. Aku..."
Aku mendongak mengamati perubahan mimik wajahnya. Lalu tiba-tiba Kidung mendongak dengan senyum kecil.
"Dan aku merasa lega waktu kemarin menemukanmu menungguku di depan rumahku."
"Kau mencemaskanku?" Tanyaku
"Hmm..."
"Kau senang melihatku kemarin?"
"Hmm..."
"Kau tak membenciku?"
Kidung menghela nafas pendek.
"Aku membenci perbuatan papamu di masa lalu, tapi aku..." Suara Kidung menghilang membuat dahiku berkerut, "aku percaya kau berbeda dengan papamu. Itulah sebabnya aku tak punya hak membencimu juga." Lanjutnya dengan seulas senyum.
Dan entah kenapa aku juga ikut tersenyum. Bahkan rasa sesak yang selama ini menghimpitku perlahan menghilang.
Mungkin inilah yang dimaksud oleh mas Gatra tentang mengusahakan akhir yang bahagia. Mungkin aku harus mulai berfikir, meski itu adalah kesalahan papaku, itu adalah kesalahan papaku. Ada kalanya aku akan merasa sangat bersalah pada korban dan keluarganya, tapi siapa orang di dunia ini yang tak pantas bahagia? Sekalipun aku putra seorang 'pembunuh', sekalipun aku merasa ikut menanggung dosa itu, tapi bukan berarti aku harus menerima akibatnya kan?
Mungkin, aku hanya perlu membuat pelaku mengakui kesalahannya, dan akan ada yang mengurus untuk semua balasannya.
Kutatap Kidung lagi, senyumnya terlihat jelas memastikan semua akan baik-baik saja. Dan aku bernafas dengan lega. Menyisihkan dosa dan karma yang ditinggalkan oleh papa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar