Minggu, 27 September 2015

Love Next Door

Impian. Sama seperti orang lain akupun memiliki itu. Ingin mencoba lagi menjalin simpul-simpul cinta dan menjadikannya sebuah mahakarya yang indah. Tapi entah kenapa langkahku seperti terbelenggu. Ada jurang di depanku yang tak bisa kulangkahi, pun aku tak bisa menemukan jembatan agar bisa menyeberangi jurang itu. Aku terpaku disitu.
Yang menjadi pertanyaan, apa sebenarnya yang membelengguku? Jurang apa yang membuatku tak bisa melanjutkan langkahku?
"Masa lalu." Tandas Mia, satu-satunya wanita yang dekat denganku lima tahun terakhir ini.
Tapi entah harus kusebut apa dia. Desainer cantik itu lebih seperti ibuku yang tak pernah bosan mendengar semua keluh kesahku. Dan kemudian memberi solusi terbaik. Aku hanya merasa nyaman ada bersamanya, dan dia tak sekalipun menampik kedatanganku. Sekalipun itu hari libur, ataupun tengah malam.
Aku menatap wajah teduhnya yang juga sedang menatapku.
"Hah?!" Kagetku sangat terlambat.
Mia tersenyum, "Selama kau masih terikat masa lalu itu, jangan terlalu berharap kau bisa melangkah jauh." Jelasnya.
Aku tersenyum samar.
Tak ada yang sangat tau masa laluku melebihi Mia. Tentang sebuah nama yang merajai kehidupanku sebelum lima tahun yang lalu. Hanna. Tentang bagaimana besar dan agungnya rasa cintaku pada Hanna, yang kemudian menjadi samudera kepedihan karena pengkhianatan Hanna yang tak bisa kumengerti hingga hari ini.
"Sederhana saja, jika kau masih berdiri di depan pintu yang sudah lama tertutup, bagaimana kau bisa menemukan pintu lain untuk kau buka?"
Kukernyitkan dahiku mendengar hipotesis Mia. Tapi detik berikutnya aku tergelak.
"Bagaimana jika aku tidak bisa menemukan pintu lain padahal aku sudah meninggalkan pintu lama itu?" Tanyaku
Mia tak menjawab, membuatku menatapnya kembali. Yang ternyata mata itu tengah menatapku tanpa kedip.
"Begitu indahkah pintu itu hingga setelah bertahun-tahun kau tetap tak rela meninggalkannya? Hingga kau masih saja ragu bahwa akan ada pintu lain yang menunggu untuk kau buka?" Keluh Mia sedih.
Aku langsung tertunduk, merasa bersalah dengan semua kata-kata Mia barusan.
"Maaf." Pintaku lirih.
"Kenapa minta maaf? Apa telah melakukan kesalahan padaku? Tidak kan? Lalu kenapa kau minta maaf?"
"Berhentilah membuatku merasa bersalah, Mia!" Sergahku sedikit geram.
Mia tercekat. tapi kemudian senyum kecutnya tersungging. Membuatku jadi serba salah.
Aku tau selama ini aku seakan mengabaikan perasaan Mia padaku. Aku tau Mia tak hanya setia menemaniku menangani masalah-masalah yang sering datang padaku. Aku tau Mia juga ingin mengganti pintu lama Hanna yang enggan kutinggalkan itu. Tapi siapa yang bisa mengatur arus perasaan? Sekeras apapun aku mencoba mengganti kedudukan Hanna dihatiku dengan nama Mia, tetap saja aku tak bisa. Itu adalah perjuangan yang sangat melelahkan, dan aku hampir menyerah. Atau mungkin, sudah pasrah.
"Bodoh." Desis Mia lirih, tapi kesannya sangat menyakitkan.
Aku mendesah berat.
"Ya, aku memang bodoh. Tetap mengingat masa lalu itu dan tak mempedulikan semua perasaanmu."
"Bukan kau, tapi aku yang bodoh." Sanggah Mia, membuatku menatapnya, "jelas-jelas aku sudah tau kalo kau tak pernah berhasil melupakan pintu itu, tapi tetap saja aku menunggu hari dimana kau mau meninggalkan pintu itu." Lanjut Mia dengan serentetan tawa lirih.
"Mia, aku tau perasaanmu..." Pengakuanku terpenggal oleh gelak tawa Mia yang terkesan menyindir.
"Tak usah berpura-pura kau tau perasaanku, Kun. Karena aku tau kau tak pernah tau dan tak pernah mau tau perasaanku." Sanggahan Mia benar-benar menambah debit rasa bersalahku pada wanita cantik dihadapanku ini.
Aku menunduk sedih.

"Apa benar kau sangat mencintaiku?" Tanya Hanna sambil menatapku dengan senyum. Yah, ingatanku pada kenangan masa lalu bersama Hanna kembali menyerang.
"Apa kau masih ragu? Apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu?" Desisku, sebenarnya sedikit kesal tapi entah kenapa semua luntur oleh senyum manis Hanna.
"Menderitalah karena aku, sebesar apa kau menderita sebesar itu pula cintamu padaku." Ungkapnya dengan nada datar.
Aku tergelak mendengar jawaban tak masuk akal Hanna.
"Apa kau percaya bahwa mencintai seseorang itu menahan derita? Semakin kau mencintainya maka akan semakin menderita." Papar Hanna enteng.
"Benarkah?" Kernyitku.
Senyum manis Hanna kembali tergelar.
"Jadi, kalo aku semakin mencintaimu maka aku akan semakin menderita, begitu?" Tanyaku dengan gelak tawa, "tapi kenapa aku justru sangat bahagia?" Lanjutku heran.
"Itu karena ini baru setengah perjalanan, setiap kisah yang berawal pasti ada akhirnya. Begitu seterusnya, dan seterusnya... " Jawaban Hanna malah seperti melenceng dari topik aslinya.

Tapi setelah kejadian pengkhianatan Hanna pada cintaku terjadi, barulah aku membenarkan semua analisa Hanna waktu itu. Benar, mencintai itu menahan derita dan jika semakin besar kadar cinta, maka akan semakin menyakitkan penderitaan itu. Yang membuatku makin hancur, kenapa Hanna seperti memang sengaja memberitahukan itu padahal tau betul aku sangat mencintainya? Apa terlalu mencintai itu semacam kesalahan atau bahkan dosa?
"Apa benar kau sangat mencintaiku?" Tanyaku pada Mia, menjiplak pertanyaan Hanna kala itu yang baru saja kukenang.
Tapi pertanyaanku tak serta merta dijawab Mia, seperti yang kulakukan dulu. Mia malah tertawa lirih.
"Apa itu penting untuk kau ketahui sementara kau tak pernah peduli sebesar apa aku mencintaimu." Timpal Mia terkesan sinis.
Aku menatap Mia sedih. Apalagi saat menyadari Mia mendesah berat, seperti begitu menderita dengan keadaan ini.
"Aku ataupun kau sebenarnya ada dalam situasi yang tak jauh beda. Sama-sama terikat dengan cinta yang menyakitkan. Sama -sama kesulitan melepaskan diri meski punya keinginan." Ucap Mia terkesan datar tapi cukup kuat menohok ulu hatiku.
Mia kemudian menatapku, lalu seulas senyum tipis tergelar.
"Sekalipun kita percaya akan ada cinta lain yang menunggu di pintu berikutnya, tapi bukan perkara gampang mengangkat kaki ini untuk melangkah pergi dari depan pintu itu kan?" Ucap Mia lagi.
Benar, cinta ini memang benar-benar menyakitkan. Tapi sesakit apapun penderitaan yang ditimbulkan cinta itu, tetap tak seburuk yang dibayangkan. Tapi semua ini tak hanya tentang perasaan. Ini juga pilihan yang kita pilih sendiri, meski tak berarti kita memilihnya dengan senang hati. Karena dalam setiap pilihan itu ada konsekuensi yang harus dijalani. Rasa sakit yang menyakitkan.

Sama seperti Mia, aku pun percaya akan adanya cinta lain yang menunggu di pintu berikutnya. Cinta yang akan membantu kita membalut luka dari dentuman pintu cinta sebelumnya. Tapi semua butuh waktu. Dan aku tak yakin waktu yang kubutuhkan akan sama dengan waktu yang dimiliki Mia untukku.
"Maafkan aku, Mia, kau pasti juga tau seberat apa penderitaan ini." Keluhku lirih.
Terdengar Mia mendesah panjang.
"Ya, aku tau. Kita memang berada dalam situasi yang tak mungkin jatuh cinta atau melepaskan cinta." Sahut Mia berat, lalu berlalu dengan langkah sedih.

Dan disudut ruangan, di samping jendela besar, sosok yang sejak tadi memang ada disitu kini tersenyum kecewa dengan gelengan kepala pelan. Seakan tak percaya aku telah melukai Mia lagi.
Aku menatapnya dengan mata memburam
"Kenapa kau meninggalkanku? Kau telah mengkhianatiku karena lebih dulu meninggalkan dunia ini, Hanna." Keluhku, dan bulir-bulir air mata mengalir begitu saja melewati pipiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar