Minggu, 11 Oktober 2015

Normal

Aku menegakkan punggungku maksimal. Semilir angin sore langsung menerpa wajahku, memberi kesejukan untuk pori-pori kulit wajahku yang sejak tadi sengaja kututupi dengan kertas map.

Entah sudah berapa lama aku berdiam diri di rooftop kantor tempatku bekerja. Yang pasti sejak istirahat makan siang tadi aku tak pernah kembali ke meja kerjaku. Dan mungkin besok aku akan dipanggil kepala divisiku untuk mendengarkan omelan panjangnya. Biarlah, aku tak begitu peduli itu karena aku terlalu fokus memikirkan ucapan Kendra tadi pagi.

"Berhentilah bersikap begini!" Desah Kendra lebih mirip sebuah bentakan, mencoba menghentikan tanganku yang sibuk menata kertas-kertas di map.
Aku menatapnya sekilas, tapi meski hanya sekilas aku bisa melihat dengan jelas sinar kemarahan menyala di kedua manik matanya yang legam.

Tapi..., marah? Kenapa Kendra marah? Apa mengetahui aku bisa tetap bersikap baik-baik saja meski kenyataannya luka lama itu menganga sangat lebar hingga kini, membuatnya marah? Atau karena kedatangan pelaku penoreh luka lamaku itu yang  membuatnya marah?
"Kalo kau ingin marah, marahlah! Kalo kau ingin memaki, memakilah! Kalo kau ingin lari, larilah! Itu terlihat lebih baik dan lebih normal sebagai seorang manusia." Geramnya tertahan.
"Kenapa aku harus marah? Kenapa aku harus memaki? Kenapa aku harus lari? Apa karena kedatangan Glenn?" Cetusku.

Perlahan genggaman tangannya di lenganku mengendur. Bibirnya sedikit bergetar.
"Apa karena aku tak terpengaruh dengan kedatangan Glenn, lalu aku terlihat tak normal? Apa aku harus terpuruk jatuh agar terlihat normal? Hah?!"
Kendra menatapku nanar.
"Aku tau sebesar apa luka itu, aku tau sepenting apa dia dulu, aku juga tau sekeras apa kau mencoba bertahan..."
"Kurasa kau tak cukup tau." Kilahku.

Glenn, nama itu sebenarnya sudah mendarah daging di tubuhku. Cintanya seperti sebuah cakrawala luas yang memayungi seluruh kehidupanku. Tapi, ternyata itu tetap bukan jaminan Tuhan merestui kami. Karena ternyata saat kami berencana menghalalkan cinta kami, badai gelombang itu menghantam kami. Dan kami saling melepas genggaman tangan.

Dan bohong namanya jika itu tak menyakitkan. Karena secara kasat mata pun itu adalah pukulan yang cukup berat. Tapi, karena aku ada diantara orang-orang yang selalu membuatku tersenyum, aku pun berusaha menyingkirkan kesedihan itu. Keluarga, teman-teman, dan juga Kendra.
Lalu setelah 3 tahun, Glenn kembali ke kota ini, bahkan ke kantor ini, apa aku perlu menunjukkan lagi kelukaan itu?

"Ternyata kau disini."
Aku sedikit kaget dengan suara barusan, buru-buru menoleh mencari pelakunya dan ternyata... Kendra.
"Kau tak akan bilang kalo seharian ada disini kan?'' Selidiknya mendekat.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan hanya mendesah seraya menatap matahari yang mulai kehilangan teriknya.
"Ada apa?" Kendra mendekat, dan duduk tepat di depanku.
"Tidak, aku hanya berfikir."
"Memikirkan apa?"
"Perkataanmu tadi pagi."
"Hah?" Kaget Kendra
Aku tersenyum.

Selama 3 tahun ini, Kendra sudah seperti penyelamatku. Mungkin tak apa jika tak ada dia, tapi karena ada dia aku bisa jadi setegar ini. Bisa melupakan bahkan menghapus perlahan rasa menyesakkan ketika mengingat nama Glenn.
"Menurut pandanganmu, apa benar aku terlihat tak normal? Apa aku terlalu memaksakan diri?" Tanyaku.
Kendra menatapku sedikit sayu. Lalu terdengar mendesah sedikit berat.
"Aku hanya khawatir kau terjebak dalam smile mask syndrome, dan aku takut akan berlanjut menjadi masked depression.''
Alisku mengkerut mendengar hipotesisnya. Lalu aku tergelak lirih.
"Aku tak paham apa itu Smile mask syndrome atau Masked depression, tapi apa ini hanya kekhawatiranmu atau memang kau sudah menangkap gejala itu didiriku?" Tanyaku lagi.
Kendra masih menatapku lekat, sama seperti biasanya jika sedang melakukan konseling padaku.
"Aku harap aku hanya terlalu khawatir." Katanya kemudian, menjawab pertanyaanku tadi. Aku mengangguk menyetujui.
"Sejak kejadian itu, sampai detik ini, suasana hatimu harus selalu kau tekan saat kau bekerja. Kau harus bisa tersenyum manis dan ramah, padahal bisa saja waktu itu hatimu sedang menangis sedih." Paparnya, "dan itu bisa jadi pemicu utama Smile mask syndrome." Lanjutnya.
Aku hanya ber'o' pendek, tanda mengerti.

Memang, pekerjaan resepsionis yang telah kulakoni sebelum perpisahanku dengan Glenn dulu, tetap bisa kujalankan dengan baik. Dan aku menganggapnya sebagai profesionalisme kerja.

Dan tentang ketegaranku awalnya aku memang merasa ini adalah hal yang sebenarnya. Aku kuat, aku tegar, aku bisa melewati semua rasa sakit di masa lalu itu. Lama-lama aku bahkan hampir tak merasakan rasa sakit itu lagi. Dan saat melihat kembalinya pelaku penoreh luka hatiku itu, Glenn, aku hanya merasa terguncang sebentar. Hanya sebentar.

Tapi, semua kecemasan yang diluapkan Kendra tadi pagi justru seperti sebuah siraman air garam di atas bekas luka yang ternyata belum sembuh betul. Aku jadi bertanya, benarkah selama ini aku kuat menanggung luka pengkhianatan Glenn waktu itu? Yah, aku meragukan semua yang selama ini aku percayai.

"Mungkin..." Kataku mengabur, "mungkin kau benar. Selama ini aku mungkin memang terlalu memaksakan diri. Tak menyuarakan apa yang seharusnya aku katakan dan malah mengatakan yang bukan suaraku." Lanjutku berat.
"Apa kau menyadarinya kini?" Tanyanya seperti mendikte agar aku jujur.
Aku diam sebentar, mendesah panjang dan menatapnya dengan sedikit sudut bibirku yang melebar.
"Apa itu juga tak normal?"
"Apa kau takut?" Sergahnya cepat.
Aku mendesah lagi.
Takut? Entahlah, apa ini yang disebut takut? Takut kalo hatiku merasakan kesakitan lagi seperti 3 tahun dulu?
"Ya, mungkin. Mungkin benar aku selama ini hanya pura-pura tegar agar aku bisa melewatinya lebih mudah." Jawabku bimbang, "tapi kebohongan itu terbongkar saat aku bersikeras meyakini bahwa kembalinya dia bukanlah apa-apa."
Kendra menggenggam jemariku perlahan.
"Tak apa, itu yang disebut Repetition compulsion, tekanan ynag disebabkan pengulangan peristiwa masa lalu yang menyakitkan." Jelasnya, "dalam hal ini, terjadi karena pertemuanmu kembali dengan Glenn."
"Lalu?"
"Mintalah bantuan. Bersuaralah. Ulurkan tanganmu agar ada yang membantumu melewati ini."
"Apa jika aku tak meminta bantuan, maka aku terlihat tak normal?"
"Tidak juga, tapi meminta bantuan pada orang lain itu jauh lebih terlihat normal. Menceritakan apa yang kamu rasakan adalah langkah awal kamu meminta bantuan pada orang lain." Sanggahnya ringan, membuatku tergelak.
"Jadi tunggu saja sampai aku datang meminta bantuan."
"Tidak." Sergahnya singkat, membuatku terhenyak, "Aku tak mau menunggu lagi, karena pada dasarnya kau sudah mengulurkan tanganmu padaku. Menyuarakan apa yang kamu takutkan, apa yang kamu rasakan, itu sebuah sinyal bahwa kamu minta bantuan."
Kudramatisir kekagetanku dengan ekspresi lucu.
"Benarkah? Oh, tentu saja, selama ini aku pasienmu kan?" Kataku membenarkan.
"Tapi sekarang aku bicara bukan sebagai terapismu."
Mataku memicing, Kendra menunduk, seperti memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya sebagai lanjutan. Perlahan Kendra menarik tanganku yang lain. Kini, kedua tanganku terengkuh jemarinya.
"Awalnya aku kira ini sebuah Countertransference syndrome." Ucap Kendra, lagi-lagi menyebut istilah psikologi yang tak begitu kumengerti, "semacam belitan emosional terapis kepada pasiennya, karena merasa pasien sangat membutuhkan terapis. Atau karena terapis terlalu bersimpati pada masalah pasien." Lanjutnya menjelaskan.

Kupandangi rengkuhan jemari Kendra pada kedua tanganku. Selama ini, kami memang terlalu dekat jika dilihat dari sudut pandang dokter dan pasiennya.
"Tapi semakin lama aku semakin menyadari itu bukan sekedar empati atau simpati."
Aku mendongak menatap wajah Kendra yang ternyata tengah menatapku.
"Itu adalah perasaan cinta." Tegasnya lirih.
Aku terpaku, waktu seakan ikut terhenti mendengar pernyataan Kendra tadi. Tapi, tanpa kusadari aku tergelak.
"Selama 3 tahun ini kau coba mengulurkan tanganmu padaku, aku hanya berharap saat aku meraihnya janganlah menghindarinya." Pintanya.
Aku menunduk lagi. Seraut wajah tampan Glenn melintas, menoreh sedikit luka lagi. Perih.
"Saat dia tak terlihat, semuanya terasa lebih mudah. Tapi saat aku melihatnya lagi, aku tau itu tak semudah yang kubayangkan. Aku takut, Ken." Keluhku tetap menunduk.

Kendra mempererat genggamannya, seakan memberi kekuatan untukku yang memang sedang kalut. Kutatap Kendra perlahan. Dan seketika senyum manisnya tergelar membuat wajahku memias.
"Apa ini normal?" Tanyaku serius, meski disela usahaku menekan pias wajahku.
"Ya, ini normal. Biasa terjadi pada semua manusia." Jawabnya masih dengan senyum yang belum dihilangkannya, seperti puas melihat wajahku yang merona karena malu.

Entah itu Smile mask syndrome, Masked depression atau malah Repetition compulsion, aku tak begitu peduli dengan yang sedang menimpaku. Mungkin aku memang sedikit terguncang dengan kedatangan pelaku penoreh lukaku itu. Mungkin memang akan jadi hari-hari yang berat untuk beberapa waktu. Tapi semua itu normal, seperti yang dikatakan Kendra tadi. Dan aku tak begitu peduli dengan yang menimpa Kendra. Mungkin dia memang mengalami Countertransference syndrome, tapi selama dia ada disampingku membantuku melewati semua kesakitan sama seperti 3 tahun terakhir ini, bukankah itu masih digolongkan normal?
Seperti aku, dia pun baru saja menyuarakan apa yang selama ini disimpannya dalam hati.



>Inspirasinya dari pengetahuan yang kudapat dari drakor It's okay that's love dan Dr. Frost.
Maaf kalo kurang benar, soalnya bukan jebolan khusus psikologi, hehehe

2 komentar:

  1. Nice, mba.

    Berasa baca fiksi terjemahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih.... tapi masih harus banyak belajar, soale pengetahuannya dari drama n google, hehe

      Hapus