"Ndre...," desisku saat dia kemudian menonaktifkan handphone itu.
"Hari ini saja Yas, aku mohon. Ijinkan aku bersamamu tanpa gangguan siapapun," pinta Andre berat, menatapku penuh harap.
Kunikmati mata indah yang selalu meneduhkanku itu. Empat tahun sudah Andre setia menemaniku meski saat dia butuh aku justru malah sibuk mengurusi orang lain. Pekerjaaanku sebagai konseling perkawinan ynag membuatku sering menduakan Andre dengan pasien-pasienku.
Aku tau Andre ingin meminta ganti rugi atas waktu bersama kami minggu lalu yang terganggu dengan kehadiran Salome.
Pagi itu, kami merencanakan akan jalan-jalan ke pantai berdua. Tapi baru juga aku terbangun hendak beres-beres rumah dulu, tiba-tiba Salome sudah berdiri dibalik pintu. Matanya sembab, begitu sendu.
"Sa..., ada apa?" tanyaku, kutuntun dia masuk bebarengan saat Andre keluar dari kamar. Kutatap Andre sekilas, tapi aku yakin saat itu Andre sudah tergores belati kekecewaan.
"Aku buatkan teh anget ya?" tawarku lirih sambil mendudukkannya ke sofa. Lalu aku berjalan ke dapur, Andre mengikutiku.
"Kenapa Salome?" tanyanya
"Mungkin dia bertengkar lagi dengan suaminya," kataku menerka, sambil sibuk menuang teh.
"Lalu kenapa dia kesini?"
Kutatap Andre, lalu tersenyum,
"Sayang, kami sudah berteman sangat akrab bahkan sudah seperti saudara. Aku juga seorang konsultan perkawinannya, jadi wajarlah dia menemuiku,"
"Tapi kita mau liburan Yas....!" ucapnya memelas seperti anak kecil.
Kusentuh kedua pipi suamiku itu.
"Ndre, apa kamu lebih suka aku jadi orang yang tega membiarkan temannya terpuruk? Kalo bukan aku, siapa lagi Ndre yang mau membantu Salome?" jelasku hati-hati.
Lama Andre terdiam.
"Oke, begini saja aku janji akan menggantinya minggu depan, gimana?" lanjutku mencairkan keegoisan Andre.
Andre menghela napas panjang.
Aku tersenyum mengecup pipinya.
"Itu baru lelakiku," pujiku membuatnya tersenyum getir.
Kucoba acuhkan itu dan berlalu membawa secangkir teh hangat ke ruang tamu.
Salome masih termangu seperti patung kayu.
"Minumlah, biar tubuhmu rada anget" kataku menyodorkan cangkir teh itu ke Salome.
Salome meneguk sedikit, hanya sedikit seakan-akan tenggorokannya begitu sulit menelan air teh itu.
"Keanu ingin cerai, Yas...," katanya parau, hampir tak terdengar.
Aku tersentak saat itu.
Dan untuk kedua kalinya aku tersentak saat tangan Andre meraih jemariku.
Dan untuk kedua kalinya aku tersentak saat tangan Andre meraih jemariku.
"Itu tadi dari Salome kan, Ndre?" tanyaku
"Jangan kecewakan aku lagi Yas, aku takut," pinta Andre
Kutatap Andre lekat. Matanya sedikit memburam.
Duh Gusti, ampuni aku yang telah begitu jahat pada lelaki sebaik Andre. Ampuni aku yang begitu sering mengecewakan dia.
Andre memelukku.
"Jangan duakan aku terus Yas. Bukan hanya mereka, aku juga membutuhkanmu, Yas. Aku juga ingin mendapat perhatianmu,"
Air mataku meleleh,
Ya Allah, terimakasih. Terimakasih telah memberiku lelaki yang begitu arif dan menyayangiku tulus. Apa jadinya aku jika lelaki yang dipilihkan Tuhan macam Keanu, suami Salome? Tak berani aku membayangkannya. Pantas Salome selalu blak-blakan bilang iri padaku.
"Aku iri denganmu, Yas," akunya waktu itu membuatku tergelak.
"kau bercanda, Sa? Apa yang kau iri dari aku? Kau cantik, sukses, dan punya suami yang begitu waooww..., "
Yah! Aku memang pantas mewakili diri Keanu dengan kata waow. Wajah tampan, otak brilian, punya perusahaan besar. Kehidupan salome sudah sangat sempurna, apalagi ada malaikat kecil bernama Angel yang begitu lucu diantara mereka. Jadi pantaskah Salome malah iri padaku? Aku biasa-biasa saja, sejak sekolah aku selalu dibawah dia dalam segi apapun. Aku hanya bersuamikan pegawai biasa disebuah perusahaan, bahkan aku juga blum punya malaikat seperti Angel.
Salome tersenyum kecut.
"Waow-nya itu yang kemudian jadi masalah, Yas" katanya datar.
Kukernyitkan dahiku.
"Beruntungnya dirimu yang punya suami seperti Andre. Tulus dan penuh perhatian,"
Kata-kata Salome itu menyadarkanku betapa aku telah sering tidak mensyukuri titipan Allah untukku yang satu itu.
Kueratkan pelukanku, terasa begitu hangat.
"Maafkan aku, Ndre, aku janji hari ini tidak akan mengecewakanmu lagi," kataku masih dalam pelukannya.
***
Buru-buru aku turun dari taksi dan sedikit berlari memasuki rumah sakit. Tadi, tiba-tiba Andre menelpon dan menyuruhku ke rumah sakit.
"Yas, kau bisa ke rumah sakit sekarang juga?" perintah Andre dari seberang.
"Rumah sakit? Kau..., kau tidak apa-apa kan, sayang?" Aku langsung cemas.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Kau kesini saja dulu, kutunggu diruang UGD"
"Siapa yang sakit, Ndre?" Aku masih ngotot bertanya.
"Sudahlah kau kesini saja dulu!"
Lalu panggilan terputus,
Lalu panggilan terputus,
Akupun buru-buru menuju rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Apa Andre mengalami kecelakaan? Apa Andre baik-baik saja?
Sebelum memasuki ruang UGD langkahku terhenti. Kulihat salome duduk terpekur di sebuah kursi disisi sebelah kiri pintu masuk UGD.
"Salome?" desisku.
Salome mendongak dan langsung tersenyum.
Kuhampiri Salome. Keadaannya jauh lebih berantakan dari kemarin. Wajahnya begitu pucat, mungkin sudah malas memulaskan make-up ke wajah cantiknya itu.
"Yas, kebetulan, aku memang menunggumu," katanya
Aku duduk disampingnya.
"Kau baik-baik saja? Kau kelihatan tidak sehat. Kau pucat sekali."
Aku mulai cemas, apalagi saat kuraih jemarinya. Begitu dingin.
Aku mulai cemas, apalagi saat kuraih jemarinya. Begitu dingin.
Tapi salome malah tersenyum.
"Sudahlah, jangan terlalu cemas begitu," kilahnya
Salome menunduk sejenak.
"Yasmin, terimakasih ya, selama ini kau sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku beruntung memilikimu. Dan kau juga sangat beruntung memiliki Andre."
Aku tak mengerti arah bicara salome,
"Kau bertengkar lagi dengan Keanu, Sa?" tanyaku hati-hati.
Salome tersenyum lagi. Senyum itu beberapa minggu ini sangat langka tapi entah kenapa pagi ini dia begitu mudah mengukir senyum di bibirnya.
"Berjanjilah, Yas, jangan pernah kecewakan Andre saat dia membutuhkanmu. Karna saat itulah pembuktian cinta kita pada orang yg kita cintai."
Aku tersenyum,
"Tenang saja Sa, aku tak kan menyia-yiakan anugerah indah itu."
"Aku iri denganmu, Yas,"
Aku tergelak
"Come on, jangan mulai lagi Sa," desisku.
Salome tergelak, dan tawanya itu terpotong oleh dering telpon dari ponselku.
"Ya Allah, aku sampai lupa, Andre menungguku di UGD," pekikku bangkit.
"Pergilah!" katanya.
"Apa kau tau apa yang terjadi, Sa?" selidikku.
"Yang pasti Andre-mu tidak apa-apa."
"Kalo begitu ayo kita kedalam," ajakku.
"Kau saja dulu, aku masih ingin disini,"
"Tapi kau sudah mulai sakit Sa,"
"Tak apa, sebentar lagi. Kau cepat temui Andre gih, dia pasti sudah cemas!"
Aku salah tingkah, "Oke, aku kedalam dulu ya"
Salome hanya tersenyum.
Aku bergegas pergi.
"Yasmin," panggilnya lagi.
Aku menoleh. Salome tersenyum lagi.
Aku menoleh. Salome tersenyum lagi.
"Sekali lagi terimakasih ya,"
Aku tersenyum seraya mengangguk. Lalu aku sedikit berlari memasuki ruang UGD. Baru usai menutup pintu sudah bisa kulihat Andre berdiri di sudut ruangan. Hatiku bersorak lega melihat lelakiku itu baik-baik saja.
"Oh syukurlah sayang kau baik-baik saja," kataku berhambur memeluknya.
"Yas..., " suara Andre tercekat.
Kulepas pelukanku. Kulihat dengan jelas ada gurat kesedihan di mata indahnya.
"Yang tabah ya," katanya memegang kedua pipiku.
Aku malah jadi gemetar.
"Ada apa, Ndre?"
Sepertinya Andre butuh kekuatan penuh untuk menjelaskan, suaranya seperti tersangkut di tenggorokan.
"Yas..., Salome...., " lirih suara Andre.
"Oh ya, aku tadi bertemu Salome." potongku ceria
"Apa?!" Andre malah kaget
"Iya , aku ketemu Salome didepan situ. Sudah cukup lama aku tak lihat senyum manisnya dan tadi dia sering memperlihatkan itu, aku senang sekali..., " ceritaku antusias.
"Yasmin..., sadarlah!" desis Andre merengkuh pundakku kuat.
Dahiku mengernyit.
"Kenapa? Ada apa?!"
Andre malah menunduk. Sekian lama disini aku baru sadar tak jauh disampingku ada sesosok terbujur tertutup kain putih. Aku mengamatinya.
"Siapa itu, Ndre?" tanyaku makin gemetar.
Apa ini Angel? Ah bukan, Angel masih berumur 4 tahun, tak mungkin seperti ini. Lalu siapa? Keanu kah?
Aku langsung menatap Andre.
"Si-siapa itu, Ndre?"
Andre menunduk.
"Maafkan aku Yas, tak seharusnya kemarin aku egois. Aku memang membutuhkanmu tapi aku tak peduli kalo waktu itu ada yang jauh lebih membutuhkanmu. Aku..., "
"Maksudnya apa ini, Ndre? Jangan buat aku bingung!" Aku mulai geram
"Yas, Salome..., " ucapan Andre tak tuntas, matanya memburam menatap sosok terbujur kaku tertutup kain putih itu.
"Tidak..., kau bercanda Ndre. Aku baru saja bertemu Salome didepan," kilahku.
Andre memelukku erat, tapi aku berontak dan melangkah ke arah mayat tertutup itu dan dengan kasar kubuka kain putih penutup jasad kaku itu.
Dan dunia seolah berhenti berputar, mataku menemukan wajah beku pucat pasi milik Salome.
"Tidak... ini tidak mungkin...."
Sebuah tangis pecah, kulihat sosok Keanu disudut ruangan terduduk dengan derai air mata. Kulihat sosok terbujur kaku itu lagi. Slide demi slide kejadian di depan ruang UGD tadi berseliweran di otakku. Dan aku makin kebingungan sendiri. Kakiku mulai lemas. Andre buru-buru mendekatiku. Masih sempat kudengar Andre menangkap tubuhku dan memanggilku dengan cemas, sebelum kurasakan semua begitu pekat.
Salome, subuh tadi ditemukan orang yang sedang jogging mengambang di danau ditengah taman kota, tempat favorite kami bertukar cerita. Mungkin masalahnya terlalu berat untuk dipikul sendiri. Kemarin Salome menelponku untuk mengurai ceritanya yang kembali bertengkar hebat dengan Keanu.
Sungguh, inikah akhir yg seharusnya? Apakah ini wujud kepasrahan seorang Salome menghadapi ironi hidupnya? Atau ini pelajaran agar Keanu sadar akan semua kesalahan-kesalahannya yang telah menyia-yiakan Salome selama ini?
Sungguh, inikah akhir yg seharusnya? Apakah ini wujud kepasrahan seorang Salome menghadapi ironi hidupnya? Atau ini pelajaran agar Keanu sadar akan semua kesalahan-kesalahannya yang telah menyia-yiakan Salome selama ini?
Entahlah, ini semua adalah rencana Tuhan. Yang pasti, ini membuatku sadar bahwa mensyukuri adalah kunci kebahagiaan kita.
Randublatung,28/07/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar