Sebuah selimut hangat tiba-tiba menutupi tubuhku yang basah kuyup dan mulai menggigil kedinginan. Aku buru-buru merapatkan selimut itu dan masih kusempatkan mengucap terima kasih pada pria berbaju waitress tadi.
Aku melihat sosok anak laki-laki yang tadi kutolong, kini sudah dibawa pergi oleh tim medis yang baru datang. Ibunya masih meraung-raung menangisi kejadian yang hampir menewaskan anaknya itu. Andai saja tadi aku tak nekat menolong.
Aku mendesah dan lebih merapatkan selimut yang menutupi badanku. Air di musim gugur memang cukup menyakitkan.
"Kau seharusnya langsung ganti baju agar tak kedinginan."
Aku mendongak menuju arah suara itu. Seraut wajah tampan dengan setelan jas mahal terpampang hanya setengah meter di hadapanku, Kang Min Ho, general manager personalia hotel bintang lima tempatku bekerja ini.
Min Ho menyodorkan secangkir kopi panas padaku.
"Minumlah, aku tak mau kau mengalami hypotermia," katanya meraih tanganku agar mau menerima cangkir kopi itu.
Aku sedikit tergelak menerimanya.
"Itu terdengar seperti sedang mengkhawatirkan," ujarku lebih terkesan menyindir.
"Apa salah seorang manager mengkhawatirkan pegawainya?"
Gelak tawaku makin keras.
"Benarkah? Saya kira anda lebih mengkhawatirkan posisi anda. Anda pasti takut kejadian ini akan mengkambinghitamkan posisi anda kan?"
"Cha In Ha!" Suara Kang Min Ho cukup lantang hingga mampu membuat beberapa waitress dan pengunjung restoran di sekitar kolam menoleh ke arah kami.
Aku memilih bangkit dan melangkah pergi.
"Bisakah kau berhenti bersikap cetus padaku?" desisnya mengejar langkahku.
"Apa ada pengaruhnya dengan jabatan anda jika ada seorang pelayan restoran hotel ini bersikap cetus pada anda, kwajang-nim?" tanyaku balik, tetap melangkah dan tetap diikuti olehnya.
"Aku bilang hentikan!" geramnya meraih pundakku, tapi dapat dengan mudah kutepis.
"Bisakah tidak terus-terusan mengungkit itu?"
Kali ini langkah Kang Min Ho mendahului dan menghadangku. Matanya yang legam menatapku dengan marah.
"Oh, maaf jika anda tersinggung."
Kang Min Ho mendesah.
Kang Min Ho, 3 tahun lalu, kami masuk ke hotel ini dengan seragam yang sama, cita-cita yang sama, dan juga cinta yang sama. Impian kami adalah mendapatkan kembali hotel terindah di kota Anshan ini dan menjadikannya lebih indah berpuluh-puluh kali lipat.
Kami tau langkah mimpi kami memang berawal dari seorang pelayan. Tapi Kang Min Ho ataupun aku percaya, kami akan melangkah naik seiring berjalannya waktu.
"Kenapa kau mengikutiku? Apa karena terlalu mencintaiku?" tanyaku kala itu pada Kang Min Ho, tentang alasan dia yang mau mengorbankan ijasah s1 manajemennya hanya untuk bisa berseragam sama denganku.
Meski aku juga tau, mungkin memang karena Kang Min Ho mencintaiku dan tak ingin aku berjuang sendiri di pertarungan yang telah kuimpikan sejak kecil.
"Ya. Itu karena aku sangat mencintai Cha In Ha," akunya penuh percaya diri.
Kang Min Ho sudah tau semua tentang riwayat hidupku, bahkan tentang impianku merebut kembali kepemilikan Amora Hotel ini yang gagal dipertahankan oleh harabeoji dan appa dari ulah licik rival mereka.
Tapi seiring waktu berjalan, aku mulai menyadari Kang Min Ho mulai menunjukkan sifat aslinya yang tamak. Dia merangkak sendiri meraih ambisinya. Dengan segala cara tentunya.
"Harus berapa kali kubilang, aku tidak mengkhianatimu." akunya setelah emosinya mereda dengan suara tertahan.
Aku memilih menyeruput kopi daripada menanggapi alibi usang itu.
"Aku masih ingat dan terus menjaga impian kita, In Ha-ya."
''Kita?" desisku sinis. "Anda dan saya tidak cocok dalam kata kita, Kwajang-nim!" lanjutku mendramatisir kesinisanku.
"Jangan buat aku membentakmu lagi, In Ha."
Aku tergelak.
"Lakukan saja jika ingin membentakku. Itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kematian harabeoji dan keterpurukan mental appa," cetusku dengan nada meninggi.
Kng Min Ho menatapku lekat, seperti memohon mengakhiri semua kebencian yang kuumbar lewat tatapan dan ucapanku. Kang Min Ho meraih kedua pundakku, tapi cepat-cepat kutepis hingga cangkir kopi dan selimut penutup tubuhku ikut tertepis jatuh.
"In Ha-ya, berhentilah bersikap begini, aku mohon!"
''Jangan memohon pada seorang pelayan restoran, nanti bisa merusak nama baik anda kalo sampai didengar orang lain."
"In Ha-ya..." rajuknya kembali meraih pundakku, tapi lagi-lagi kutepis. Dan aku mundur beberapa langkah.
"Kita bukan lagi dua orang yang pantas bicara sedekat ini, Kwajang-nim."
"Berhentilah memanggilku kwajang-nim!" geramnya memprotes.
Min Ho mendesah berat mengatur emosinya. Perlahan dia mengambil selimut yang terjatuh di depan kakiku, dibentangkannya, lalu diselimutkan ke tubuhku lagi.
Aroma tubuh yang khas itu, desah nafas berat itu, rasanya sudah cukup membuat degup jantungku nyaris terdengar nyaring. Aku bahkan tak mampu mengelak seperti yang sudah-sudah.
"Mungkin kesalahanku memang tak bisa dimaafkan sampai kapanpun. Mungkin luka yang kuciptakan juga tak akan bisa sembuh meski aku berlutut memohon ampun padamu. Tapi... "
Kupejam mataku, bukan untuk menikmati chemistry kedekatan yang hampir 3 tahun menghilang, tapi dadaku serasa penuh dengan aroma penyesalan Kang Min Ho. Hampir membuatku merasakan aritmia.
"Bersabarlah sedikit lebih lama dengan keadaan ini. Aku benar-benar tak berubah, In Ha."
Aku perlahan mundur, berharap bisa kembali bernafas lebih baik.
"Dan berhentilah bersikap seperti ini. Kau tak akan bisa mewujudkan mimpimu jika tak bisa berstrategi."
Aku tergelak,
"Oya? Maksud berstrategi itu seperti lempar batu sembunyi tangan? Atau menjadikan teman sebagai batu loncatan?" tanyaku sinis.
Min Ho mendesah.
"Impianku terlalu berharga jika harus kukotori dengan strategi semacam itu, kwajang-nim."
"Aku lakukan semua ini untukmu, In Ha-ya... " Keluhnya dengan tatapan memelas, sempat membuatku takjub.
"Setelah mendapatkan hotel ini, aku akan memberikannya padamu."
Aku tersenyum.
"Setelah sengaja menenggelamkanku anda bermaksud melemparkan pelampung? Bukankah itu sangat menggelikan?"
Mata Kang Min Ho nanar menatapku. Segumpal cairan bening terkumpul disudut matanya.
"Ada banyak hal yang perlu anda waspadai daripada sibuk meyakinkan pelayan restoran seperti saya," ujarku datar. "karena tidak semua orang bisa anda jadikan batu loncatan, kadang adakalanya bisa menjadi batu sandungan yang akan menjatuhkanmu."
"Apa itu sebuah kekhawatiran? Apa kau sedang mengkhawatirkanku?" tanyanya dengan secercah kemilau di matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak." jawabku menikmati keterkejutannya atas jawabanku. "Itu adalah peringatan." lanjutku menyebabkan gumpalan air mata di sudut matanya meleleh.
Aku sempat merasa bersalah atas air mata yang menetes itu, karena sebenci apapun aku pada Kang Min Ho aku tak bisa menekan debar jantungku tiap kali ada di sekitarnya. Tapi kemudian bayangan sosok appa yang saat ini harus terpaksa ada di Rumah sakit Jiwa karena guncangan mental atas kematian haraboeji menyadarkanku akan fatamorgana ini.
Aku mendesah panjang.
"In Ha-ya, sampai sekarang aku tak pernah berubah, aku tetap oppa-mu yang dulu. Yang akan selalu mencintaimu." Kang Min Ho merengkuh kedua bahuku dengan tatapan yang lekat. "Kau yang lebih dulu mendorongku menjauh, tapi aku selalu berusaha tetap ada di tempat semula. Karena aku yakin suatu saat semua akan kembali seperti dulu." lanjutnya membuatku tak sadar tersenyum kecut.
"In Ha-ya, percayalah, aku lakukan semua ini untuk bisa merebut hotel ini, untukmu," Ucapnya lagi, memaksaku untuk percaya.
Kutatap mata yang hanya berjarak beberapa inchi itu.
"Seperti aku yang tak akan menyerah, kau juga jangan mudah menyerah dengan keadaan ini meski terasa sulit!" Pintanya dan aku nyaris terbuai itu sebelum kemudian dari ujung koridor terdengar panggilan.
"Oppa...!"
Aku ataupun Min Ho sama-sama menoleh ke sumber suara itu. Seraut wajah cantik, rambut tergerai indah dan dengan dandanan fashionable berdiri menatap kami, Lee Dae Hee. Buru-buru aku menepis tangan Kang Min Ho dari pundakku dan mundur selangkah.
"Hei, Cha In Ha, bukankah ini masih jam kerja?" Teriaknya arogan.
Aku tergelak getir, lalu menatap Kang Min ho yang terdiam.
"Apa aku masih harus menurutimu untuk percaya dengan semua yang kau ucapkan tadi?" desisku sinis.
Kang Min Ho mendesah berat.
"Anda memang tak pernah mencampakkanku, tapi anda merentangkan jarak yang sangat mustahil untuk didekatkan sampai kapanpun." Lalu aku melangkah pergi, tapi belum lagi langkah ke tiga aku berhenti.
"Aku tau apapun yang aku katakan akan terdengar sebagai alasan, tapi... "
"Aku merasa sangat bersalah pada appa dan harabeoji karena tadi sempat akan mempercayai anda, Kwajang-nim," keluhku menyanggah ucapannya, lalu melangkah lagi bertepatan dengan kedatangan Lee Dae Hee.
"Apa yang kalian bicarakan?" geram Dae Hee menarik tanganku dan menghentikan langkahku secara paksa. "masa lalu?" lanjutnya mencibir.
Aku tergelak. Wajah cantik itu yang membuatku terpaksa mengubur mimpiku bersama Kang Min Ho lebih awal.
"Tenang saja, aku tak tertarik bicara masa lalu karena aku sibuk menata masa depanku, Lee Dae Hee-ssi." Kutepis cengkeraman tangan putri tunggal presiden direktur hotel ini, sekaligus batu loncatan Kang Min Ho selama ini.
Lee Dae Hee tersenyum sinis. Aku pun berlalu dengan langkah kesal. Kesal pada diriku yang sempat terbuai fatamorgana masa lalu bersama Kang Min Ho. Karena sampai di langkah ke berapa pun, aku tak pernah mendengar masa lalu yang menyuruhku tak mudah menyerah itu tenyata tak pernah menyusulku.
Randublatung, 11/11/2015
Note:
Kwajang-nim : General manager
Appa : Ayah
Harabeoji : Kakek
Oppa : Kakak laki-laki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar