Senin, 16 November 2015

Don't Give Up

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, jarum jam sudah bergeser di angka sepuluh. Artinya aku sudah disini sudah sepuluh menit lebih. Kuarahkan pandanganku ke pintu masuk mini mall dan ternyata belum ada tanda-tanda kedatangan orang yang sejak tadi kutunggu. Kinanti.

Kemarin aku tak sengaja bertemu dengan Kinanti di perempatan jalan saat lampu merah. Dia dengan sepeda motor butut dan seabrek belanjaan sayuran di tengah terik matahari yang hampir mencapai klimaksnya. Tapi seperti apapun penampilan Kinanti aku akan tetap mengenalinya. Karena kurasa lesung pipit di pipi kiri dan tahi lalat di pipi kanan tak banyak yang bisa memilikinya sekaligus.
"Kinanti?" pekikku membuka kaca helmku pada sosok wanita di sebelahku.
Yang kupanggil Kinanti pun menoleh, lalu ikut membuka kaca helmnya. Matanya memicing seakan mewakili otaknya yang berfikir mengingatku. Memang hampir empat tahun kami sudah tak bertemu atau sekedar bertukar sapa.
"Kau sudah tak ingat aku?" tanyaku tak percaya
Mata panda itu makin memicing, membuatku mau tak mau tersenyum. 
"Aku Hata, Kin.., " desisku setengah gemas.
"Hata? Serius?" Kinanti malah yang tak percaya dengan pernyataanku.
Terpaksa kulepas helmku agar lebih meyakinkan. Dan disambut dengan gelak tawa Kinanti yang sangat, sangat kurindukan.
"Whoah... sungguh keajaiban kita bisa bertemu, disini pula," komentarnya.
Kami terpaksa meminggirkan dulu motor beda jaman kami. Kuamati barang bawaan Kinanti.
"Kau belanja segini banyak?"
"Oh, ini. Aku kerja."
"Kerja?" desisku, sedikit menahan sesak nafas.
Kinanti mengulum senyum, lalu dia menulis sesuatu di sebuah kertas.
"Ini nomor telponku, kalo ada waktu yang tepat kita bisa ketemu lagi." katanya menyerahkan sobekan kertas bertuliskan 12 nomor padaku.
"Aku tak bisa lama-lama disini." Kinanti menstater motor bututnya.
Aku masih melongo memandangi kertas di tanganku.
''Aku duluan ya,"
''Eh, tunggu... "
Kinanti tak menggubris panggilanku dan terus saja menjalankan motornya.
Aku tersenyum mengingat kejadian kemarin itu, 
"Memikirkan apa?''
Sontak aku terlonjak kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, saat aku mendongak mencari pelaku penanya yang ada malah wajah heran Kinanti menanggapi kekagetanku yang memang terkesan overdosis.
Aku mendesah, seiring Kinanti duduk di bangku di hadapanku. Kugeser sebotol minuman dingin yang mulai tak dingin ke arahnya.
"Kau telat, aku hampir jamuran menunggu disini." dengusku seperti kesal, padahal aku sangat lega akhirnya melihat lagi sosok itu.
Kinanti tertawa lirih, mengacuhkan kekesalan yang kutunjukkan. Sekaligus memamerkan lesung pipitnya yang selalu memikatku.
"Iya maaf, aku tadi harus menyelesaikan dulu pekerjaanku," 
"Memang kau kerja apa?"
"Di warung makan."
Aku terdiam mendengar jawaban Kinanti. Dan tak lama Kinanti menyadari kekagetanku yang kutunjukkan dalam diam itu.
"Kenapa? Jangan terlalu kaget begitu," desisnya meneguk minuman botol di tangannya.

Kinanti yang kukenal dulu adalah seorang lulusan FK terbaik, seorang residen tercakap di sebuah rumah sakit ternama. Saat itu kami masih sering berkomunikasi. Tapi karena perbedaan mencolok profesi yang kami geluti kami jadi sulit berkomunikasi dan harus merelakan keakraban yang sebenarnya sudah terjalin sejak masih SMA. Kubiarkan Kinanti menggeluti dunia medisnya yang begitu menjanjikan, sementara aku berpetualang ke berbagai tempat mencari sumber minyak yang menjadi kebanggaanku sejak terlahir di kota minyak ini.

Tapi apa ini? Harusnya Kinanti telah melewati masa residennya dan menuju arah menjadi dokter spesialis. Kenapa ini malah kerja di warung makan? Apa karena kasus yang sempat kudengar itu?
"Kinanti jadi korban seniornya," ujar Gea, sahabat sekaligus tetanggaku yang kebetulan berprofesi sebagai apoteker di rumah sakit yang sama yang ditempati Kinanti.
"Maksudnya?"
"Pasien yang di operasinya meninggal, dan Kinanti yang saat itu bertugas sebagai asisten dituding sebagi penyebab kematian." perjelas Gea.
"Lalu?"
"Entahlah, aku tak tau nasib dia selanjutnya. Aku sibuk mengurus kepindahanku ke rumah sakit lain."
Aku terpaku.

"Kau ngambek? Kenapa umur segini masih suka ngambek?" gerutunya
Mataku menatap secara detail penampilan Kinanti. Awalnya Kinanti terkesan acuh dan lebih memilih menikmati minumannya, tapi lama-lama dia terlihat jengah.
"Hei, kau tau kan menatap orang seperti itu sangat tidak sopan?" dengusnya meletakkan botol minumannya.
Kurendahkan pandanganku. Terdengar Kinanti mendesah.
"Aku memang tak cukup tau masalahnya, tapi benarkah karena itu sekarang kau begini?" tanyaku hati-hati.
Kinanti tak langsung menjawab. Diamnya membuat dadaku terasa penuh dengan beban yang tak kutau bernama apa.
"Harus bagaimana lagi." Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibirnya, membuatku tergelak.
"Apakah ini Kinanti yang kukenal sejak aku berumur 16 tahun?"
Diam, Kinanti kembali mengunci mulutnya.
"Dokter adalah impianmu sejak kau memutuskan masuk ke jurusan IPA."
"Sudah tidak lagi," sergahnya membuatku tergelak.

Baru empat tahun ternyata mampu membuat Kinanti yang kukenal menjadi orang asing. Hanya wajah, lesung pipit dan tahi lalat itu yang tak berubah dan membuatku yakin sosok dihadapanku ini adalah Kinanti yang sejak SMA membuatku jatuh cinta dengan semangat gigihnya dalam mempertahankan kelangsungan hidup impiannya.

''Bahkan ijin lisensiku juga dicabut. Apa masih berguna memegang impian itu?" katanya seperti mengeluh.
"Kenapa menyerah segampang itu? Sekalipun harus merangkak kau tetap tak boleh berhenti."
Kinanti menatapku sedih. Dan membuatku nyaris tak kuasa menikmati sinar mata panda itu.
"Kadang menyerah bisa menjadi pilihan terbaik,"
Aku tergelak.
"Apa yang kau maksud menyerah seperti ini? Sangat konyol seorang lulusan FK terbaik malah bekerja di warung makan."
"Aku juga lopper koran kalo pagi, malamnya aku kebagian sift menjaga loket karcis Tol."
Aku mencondongkan tubuhku ke arahnya.
"Haruskah sejelas itu kau jabarkan pekerjaanmu? Kenapa, agar kau terlihat lebih menyedihkan di mataku?" desisku marah.
Kinanti menunduk menghindari tatapan marahku. 
"Harusnya kau mencari keadilan itu agar impianmu bisa kau pertahankan. Jangan hanya sandungan kecil kau langsung menyerah begini?"
Kinanti mendesah.
"Pihak keluarga pasien juga menuntutku. Meski aku berhasil lepas dari tuntutan, tapi ijin lisensiku sudah dicabut, tak satupun rumah sakit yang mau menerimaku," cerita Kinanti, masih dengan menunduk.
"Aku merasa semua pintu tertutup untukku. Bahkan keluargaku... "
Aku kembali diserang perasan yang tak kutau namanya itu, yang pasti sangat menyiksaku di bagian ulu hati.
"Aku menyerah untuk bisa bertahan hidup, Ta."
Suara serak Kinanti membuatku tak mampu lagi menahan sesak dadaku. Kuhela nafas berat.
"Maaf," pintaku lirih, juga berat. "pasti ini berat sekali untuk kau lalui sendiri."
Kinanti melebarkan sudut bibirnya, hingga lesung pipit itu terlihat kian jelas.
"Sejak pertama bertemu, kita adalah dua orang yag punya jalan impian yang berbeda, Ta.''
''Dan itulah yang membuat kita kesulitan berjalan bersama, begitu kan?" sergahku melanjutkan kalimatnya. Kalimat andalan yang selalu dilontarkannya sejak dulu setiap kali aku meminta kesediaannya menitipkan hatinya padaku.
Kinanti tergelak lirih.
"Bisakah kau juga menyerah dari kalimat itu?" todongku menghilangkan bibirnya yang melebar.
Kinanti membisu lagi, tak mempedulikan aku yang menanti reaksinya. Malah sibuk memutar-mutar botol minuman di tangannya.
"Kau tak lelah hidup seperti ini, Kin?" tanyaku kemudian.
Kinanti mendesah.
Aku mencoba membayangkan keseharian Kinanti dari jabaran pekerjaan yang dilakoninya. Usai subuh harus berkeliling mengantar koran, lalu seharian sibuk di warung makan, bahkan malamnya masih harus menjaga loket karcis jalan Tol. Pantas saja penampilannya sangat semrawut dan kusut.
Meski bagiku itu tak mengurangi rasa memikat hatiku, tapi... aku merasa hidup Kinanti pasti sangat melelahkan.
"Aku mulai terbiasa hidup keras begini, Ta."
Kutatap lekat wajahnya. Lalu perlahan tanganku terlulur meraih jemarinya.
"Bagilah sedikit beban itu padaku, Kin!" pintaku sedikit pesimis.
Lama Kinanti membiarkanku menunggu jawaban dan hanya memamerkan sinar mata pandanya.
"Bisakah kau yang menyerah saja dari kalimat ini, Ta?" Akhirnya kalimat itu yang diucapkannya.
Aku tergelak seiring tanganku melepas jemarinya. Meski penolakan ini bukan yang pertama kalinya, tapi entah kenapa tetap saja rasanya sama seperti pertama kali, saat acara malam perpisahan SMA dulu.
"Dulu karena jalan impian kita yang terlalu berbeda, sekarang apalagi?" gusarku tak terima penolakannya.
"Sekarang aku hanya pekerja serabutan."
Aku tergelak mendengar alasan konyolnya.
''Apa aku perlu menjadi pekerja lopper koran, pegawai warung makan dan penjaga loket karcis jalan Tol agar tak ada alasan lagi?"
"Hata... !" desisnya tak suka. 
Hening kemudian, aku ataupun Kinanti sibuk dengan gejolak yang melanda pada diri masing-masing.
"Kin, untuk berjalan bersama dua orang tak perlu harus lebih dulu memiliki impian yang sama. Mereka hanya perlu bergandengan tangan dan percaya jalan impian bisa ditempuh berdua,'' kataku membuka keheningan.
Kinanti mengalihkan kegelisahannya dengan meneguk lagi minuman botolnya.
"Lihatlah dirimu sekarang, ini bukan Kinanti yang seharusnya. Jangan terus-terusan menyiksa dirimu seperti ini, Kin."
"Lalu aku harus bagaimana?" desisnya marah, dengan intonasi suara meninggi.
Kilatan emosi matanya terlihat dengan jelas.
"Segala cara sudah kucoba untuk memperbaiki keadaan, Ta. Setiap hari aku bertarung dengan rasa ingin menyerah. Tapi aku mencoba tetap bertahan, berharap semua yang kulakukan tak ada yang sia-sia." lanjutnya meracau.  "impian yang kurangkai dengan penuh semangat, saat sudah bisa kugenggam erat harus aku lepaskan tanpa mampu kupertahankan, aku... " Bahu Kinanti sedikit gemetar mengucapkan kalimatnya kali ini, mau tak mau kuraih kembali jemarinya yang juga gemetar.
"Impian itu sudah lama berakhir, Ta. Jadi meski sekarang kau mendorongku sekuat tenaga tetap tak ada gunanya."
Kueratkan genggaman tanganku pada jemarinya yang masih gemetar.
"Aku yang dulu terlalu berambisi mengejar impian. Demi mendapatkan apa yang ada di depanku, aku melepaskan apa yang sudah kugenggam." Suaranya naik turun, kadang jelas kadang lirih gemetar. "Mungkin ini hukuman untuk ketamakanku." lanjutnya sedih.
"Maafkan aku."
Kinanti mendongak menatapku tak mengerti.
"Maafkan aku yang juga lebih sibuk mengejar impian hingga membuatmu harus sendirian saat menghadapi semua itu."
Kinanti tergelak mendengar lanjutan pengakuanku.
"Mana boleh aku menyalahkanmu untuk nasib burukku."
''Andai aku tak pernah menyerah untuk tetap ada disampingmu, kau tak mungkin seperti sekarang ini kan?" sergahku.
Kinanti tergelak lagi, meski kini terkesan getir. 
"Inilah yang namanya hidup, Ta... ''
"Karena itu... " sergahku lagi, menyela ucapannya, Kinanti menatapku tak mengerti. "Karena itu berbagilah." lanjutku membuatnya mengalihkan pandangannya dariku
Untuk kesekian kalinya Kinanti tergelak.
"Ibarat burung, kedua sayapku sudah patah, tak mungkin bisa terbang lagi. Lalu apa mungkin kau berharap aku bisa terbang bersamamu?" Pertanyaan yang Kinanti lontarkan lebih mirip sebuah keluhan.
Kulebarkan sudut bibirku, serasa ada secercah sinar harapan yang akan kuraih.
"Tidak perlu terbang jika tak mampu, berjalanpun tak apa asal bisa berdua." kataku, sedikit menggombal.
Kinanti menutupi wajahnya yang memias dengan sebelah tangannya. Senyumnya meski tak lebar mampu membuat pesona lesung pipitnya terlihat jelas.

Seperti katamu, Kin, inilah yang namanya hidup. Kadang ada semangat membara, keberuntungan, tapi kadang pula akan tiba masanya keterpurukan dan nasib buruk. Tapi jatuh bangunnya seseorang adalah proses hidup yang harus dilalui. Karena hanya dengan itu barulah bisa disebut hidup.






Don't give up, never give up
Rdb, 16/11/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar