"Kenapa harus ke Bougenvilla sih Syll? Itu villa kan jarang banget didatangi, tempatnya jauh dari yang lain pula," desah Mama pagi tadi, waktu aku mengutarakan niatku untuk pergi ke villa milik Om Bram, adik Mama yang memang terkenal lebih kaya.
"Sylla butuh refreshing Ma, kalo gak, nanti novel Sylla gak kelar-kelar. Ini Sylla benar-benar kering ide. Tak paksain malah stress sendiri," alibiku, sambil memilih-milih baju yang akan kubawa.
"Gano ikut gak?" tanya mama lagi.
Kulirik mama sedikit, memastikan itu pertanyaan tulus apa cuma jebakan.
"Gak lah Ma, dia kan kerja, apalagi dia masih nyelesaiin proyek desain interior di salah satu pelanggan," jawabku.
"Trus nanti kesananya juga sendirian? Gak ada yang nganter?"
Aku mendesah karena merasa Mama mulai kambuh cerewetnya, dan segala kecemasannya yang malah meresahkanku.
Dan akhirnya siangnya Mama melepasku pergi ke Bougenvilla yang terletak di puncak. Ya, meski terlihat sekali sedikit berat hati. Akupun tersenyum penuh kepastian bahwa tak akan ada yang terjadi, kecuali aku kembali mendapatkan ide cerita untuk novel yang sedang kugarap.
Kulaju mobilku menuju Bougenvilla, villa yang seingatku dulu dipenuhi dengan bunga-bunga bougenville beraneka warna. Dulu waktu masih kecil aku sering diajak keluarga kesana saat acara liburan bersama. Dan itu sudah sekitar 10 tahun yang lalu.Untung sekarang ada teknologi navigasi, jadi aku tetap bisa menuju kesana meski sepanjang jalan suasananya sudah sangat jauh berbeda dengan yang dulu kuingat.
Setelah lebih dari 3 jam memacu mobilku, aku pun sampai di pelataran villa dengan bangunan bergaya Belanda dengan pohon bougenville disana sini. Dari pohonnya yang sudah kokoh dan besar, sudah bisa dipastikan pohon-pohon yang berbunga meriah meski tanpa aroma wangi itu usianya menandingi usiaku. Itulah mengapa villa ini dikenal dengan Bougenvilla.
Kujajakkan kakiku, dan langsung kuhirup udara segar di seantero lingkungan ini. Kupandangi menyeluruh villa ini. Dan baru terhenti saat kudengar beberapa derap langkah bergegas mendekatiku.
"Neng Sylla, lama tak jumpa, Neng udah besar, cantik pula,"
seloroh sebuah suara parau di belakangku, aku menoleh dan menemukan sepasang laki-laki dan perempuan tua. Aku tersenyum pada pengurus villa itu.
"Mang Udin dan Bik Ipah, apa kabar? Iya, udah lama aku gak kesini. Sibuk sekolah, habis itu sibuk kerja, hehe," kataku disela senyum lebarku.
"Neng Sylla sendirian?" tanya Bik Ipah.
"Iya Bik, aku kesini mau refreshing biar dapat ide lagi. Kalo rame-rame malah kacau nanti," kelakarku.
Mang Udin membawa barang bawaanku dan akupun di persilahkan Bik Ipah masuk ke dalam villa. Sepanjang menuju pintu masuk, aku berdecak kagum dengan meriahnya bunga bougenville yang beraneka warna. Terbayang beberapa hari ini aku akan kembali merasakan otakku yang segar dan tersambung lagi untuk membuat ide cerita.
Selepas mandi sore akupun bergegas keluar villa, menyapa pohon-pohon tua bougenville yang sejak awal menggodaku dengan bunga-bunganya yang semarak. Disela keasyikanku menyapa tiap-tiap tangkai bunga tak berbau itu aku merasa ada sepasang mata yang seperti mengintaiku dari balik pintu pagar yang ditumbuhi berbagai bunga menjalar yang entah apa namanya. Aku refleks menoleh, celingukan mencari. Tapi nihil. Tak ada siapapun, atau bahkan apapun. Kucoba acuhkan dan mengangkat bahuku. Dan kembali kunikmati pesona bunga-bunga bougenville itu.
Malamnya aku terjaga dari ketiduranku di depan laptopku yang masih menyala. Sambil mengerjap-ngerjapkan mataku agar segera tersadar, kulihat tanda jam di laptopku, menunjukkan pukul 00:05. Lalu kuingat-ingat penyebab aku terjaga tadi. Dahiku sedikit mengernyit, dan mendadak tengkukku merinding. Seingatku tadi ada yang menepuk bahuku. Aku menoleh segera, tak ada siapa-siapa di belakangku. Kamar yang kutempati ini tak ada siapapun kecuali aku.
Ah, mungkin cuma perasaanmu saja, Syll! sergahku menenangkan diri. Akupun bangkit berniat mengambil air minum di dapur. Sambil membawa cangkir kopi yang sudah dingin karena sudah berjam-jam.
Villa ini memang cukup besar dengan kamar-kamar besar yang banyak berjajar di satu lorong. Aku sengaja mengambil kamar yang paling dekat dengan tangga ke bawah. Lorong kamar terkesan senyap meski diterangi lampu disetiap pintu kamar. Tengkukku kembali meregang.
Ish...apaan sih ini? Kenapa aku jadi penakut gini? geramku kesal dengan ketakutan yang tak beralasan ini.
Akupun menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Kunyalakan saklar lampu dapur dan membuka pintu kulkas. Kuambil botol air yang berjajar di pintu kulkas, kuraih gelas yang tadi kuambil dari rak, kutuangkan airnya penuh segelas. Kuteguk sedikit sambil bermaksud kembali ke kamar. Tapi sontak aku terlonjak kaget, bahkan tersedak dengan air yang belum sepenuhnya masuk ke kerongkongan.
"Mang Udin, Bik Ipah... bikin kaget saja" desisku lega, karena ternyata dihadapanku adalah pasangan suami istri pengurus villa ini yang sudah bekerja puluhan tahun.
"Belum tidur Neng?" tanya Mang Udin melepas kopyahnya juga meletakkan parang besarnya yang sepertinya tak pernah lupa dibawa.
"Terbangun Mang, tadi ketiduran pas nulis," jawabku sambil membenarkan letak cincin pemberian Gano dua bulan lalu.
Akhirnya aku menarik sebuah kursi di meja makan dapur itu. Mang Udin dan Bik Ipah ikut duduk dihadapanku.
"Mang Udin dan Bik Ipah kok masih ada disini? Gak pulang ke pavillium?" tanyaku kemudian, karena seingatku dua pengurus villa ini tinggalnya di pavillium belakang bangunan utama villa ini.
"Karena Neng disini sendirian tadi Bik Ipah aku ajak ikut ronda sekitar villa, siapa tau Neng Sylla belum tidur dan butuh kami," papar Mang Udin.
"Neng Sylla gak takut sendirian bermalam disini?" tanya Bik Ipah dan langsung disambut tepukan refleks ke pundaknya oleh Mang Udin. Aku tersenyum melihat tingkah mereka.
"Emangnya disini ada yang menakutkan ya Bik?" tanyaku, dan malah membuat wajah yang keriput dengan balutan makromah itu menunduk.
"Gak usah dengerin Bik Ipah, Neng, dia ini emang penakut. Padahal tinggal disini udah puluhan tahun. Hanya saja... "
Dahiku mengernyit saat Mang Udin menghentikan ucapannya.
"Hanya saja apa Mang?" serbuku tak sabar karena di dera penasaran.
"Karena villa ini sudah sangat jarang dikunjungi, pak Bram berencana menjualnya. Kalo tak laku-laku maka akan di renovasi menjadi lebih besar agar bisa disewakan kalo pas musim liburan. Kalo itu terjadi, sudah pasti pohon-pohon bougenville itu akan ditebang," ucap Mang Udin sedih.
Aku cukup mengerti perasaan mereka. Puluhan tahun mereka merawat villa ini seperti rumah mereka sendiri. Bahkan pohon-pohon tua bougennville itu konon katanya mereka pula yang menanamnya.
" Oh... gitu ya ceritanya. Pantesan pas aku minta ijin kesini, Om Bram sempat tidak mengijinkan. Tapi karena rayuanku di waktu yang tidak tepat, akhirnya dikasih ijin," ceritaku ringan.
Bik Ipah tersenyum samar.
"Neng Sylla sepertinya suka sekali disini."
Akupun tersenyum.
"Iya Bik, udah lama gak ngrasain suasana begini," ungkapku.
Tiba-tiba kurasakan ponsel di saku baju tidurku bergetar, kuambil dan tertera nama Gano di layar ponsel sedang memanggil. Aku baru ingat tadi habis isya Gano sms tapi tak kubalas karena aku sedang fokus menulis.
"Sayang maaf ya, aku lupa bales smsmu tadi... " rajukku segera agar Gano tak bisa melanjutkan protesannya yang mengetahui aku pergi sendiri ke villa.
"Kenapa tak bilang kalo mau berangkat ke villa hari ini? Sendirian pula," gerutu Gano dari seberang.
"Tuh, mulai deh cemasnya keluar. Gak mama gak pacar sama aja suka cemas berlebihan," timpalku tak kalah menggerutu.
"Aku kesini mau nyari ide cerita, kenapa semua malah pada heboh? Lagian aku pergi ke villanya Om Bram, bukan ke sarang penyamun."
"Iya, tapi disana kau kan sendirian sayang... " suara Gano melunak.
"Oke, aku nyusul kesana ya."
"Besok pagi aja, bahaya nyetir ke sini malam-malam.''
Terdengar Gano mendesah.
"Oke, besok pagi-pagi aku sampai sana."
"Hmm, tenang aja, ini aku juga ditemani pengurus villa kok, jadi..." Tiba-tiba telepon terputus, kuperhatikan ponselku.
"Yah...low bat lagi," dengusku menyadari ponselku kehabisan baterai.
"Rencana mau sampai kapan Neng Sylla disini?" tanya Mang Udin memecah konsentrasiku pada ponselku.
"Oh, entahlah Mang, belum tau sampai kapan. Maunya sih rada lama disini. Kalo perlu sampai nyelesaiin novelnya."
''Neng Sylla buat novel apa? Horor ya?" sahut Bik Ipah.
Aku tertawa kecil.
"Gak Bik, novelku aliran psikologi dan roman."
"Gak tertarik buat novel horor Neng?" kali ini Mang Udin yang menyahut.
Kuteguk lagi air dalam gelas ditanganku.
"Niat sih ada, tapi belum kepikiran idenya.''
"Kalo gitu, Neng Sylla pernah dengar cerita orang bunian gak?"
Aku berfikir sejenak. Sepertinya pernah dengar istilah itu, tapi belum begitu faham.
"Kalo gak salah itu sejenis mitos dari daerah sumatera kan Mang?" tebakku
"Tepatnya dari daerah minangkabau, Neng."
"Oh, kok Mang Udin tahu?"
Mang Udin mengulum senyum.
"Mang Udin sebenarnya orang minang, Neng. Karena bersikeras nikah sama Bik Ipah, Mang Udin diusir dari kampung dan tidak boleh kembali ke sana. Lalu Mang Udin ketemu pak Bram dan memberi kami pekerjaan ngurus villa ini," cerita Mang Udin sesekali melirik Bik Ipah yang terlihat samar tersenyum simpul.
"Ohya? Baru tau aku Mang. Trus, dari dulu sampe sekarang ini gak pernah pulang kampung?" tanyaku mulai penasaran dengan cerita hidup Mang Udin yang ternyata seperti cerita novel.
Mang Udin tersenyum kecut.
"Pernah Mang Udin pulang, tapi... " cerita Mang Udin terpenggal begitu saja, membuat alisku kembali mengkerut. Kutatap Bik Ipah, berharap mendapat lanjutan penjelasan, tapi sepertinya wanita sederhana itu juga tak punya niat bicara.
Aku tersenyum sedikit terpaksa, sebelum kemudian memutuskan kembali ke kamar dengan secangkir kopi lagi.
Udara tengah malam, apalagi di daerah puncak seperti ini memang membuat bulu kuduk gampang berdiri. Kurapatkan sweaterku seraya menyeruput sedikit kopi yang masih panas ini.
Mataku mengerjap mencoba menghindari kesilauan yang menyerang mataku. Perlahan kesadaranku berangsur pulih, disela kurasakan tubuhku yang merasakan kehangatan. Aku sedikit terkejut mendapati diriku di atas rumput dibawah pohon bougenvile halaman depan villa. Kucoba mengingat-ingat lagi, berharap ingat bagian kenapa aku bisa ada disini padahal terakhir kuingat tadi malam sehabis ngobrol dengan Mang Udin dan Bik Ipah aku kembali ke kamar untuk meneruskan menggarap novelku.
Tapi ingatanku seperti terkunci, aku tak bisa mengingat apapun dan malah membuat kepalaku pening.
Kuedarkan pandanganku, dan dahiku mengernyit saat mataku samar-samar melihat sosok di teras sana. Sosok yang sepertinya sangat kukenal meski melihatnya dari belakang; Gano.
Senyumku langsung mengembang akhirnya bisa melihat sosok pujaan hatiku itu. Aku melangkah lebar mendekatinya, tapi baru tiga langkah aku terhenti menyadari selain mobil Gano masih ada sebuah mobil polisi dan ambulance ada diluar pagar villa ini.
"A-ada apa ini?"
Dan sebelum keherananku terjawab, aku kembali dibuat tak mengerti saat petugas berseragam putih-putih keluar dari dalam villa dengan sebuah tandu. Gano terseok mendekati tandu itu.
"Gano? Sayang?" panggilku terbata-bata, lagi lirih.
Aku benar-benar tak mengerti siapa yang terbujur di atas tandu itu, yang pasti Gano bahkan menangisinya.
"Gano? Aku disini, kenapa menangis? Gano... "
"Neng Sylla!" tegur suara Mang Udin dari arah belakangku. Aku menoleh dan mendapati Mang Udin dan Bik Ipah dengan keadaan yang membuatku mengernyitkan dahi. Tapi sedikit ku kesampingkan keadaan mereka karena aku lebih penasaran dengan yang sedang terjadi saat ini.
"Mang, apa yang terjadi? Kenapa ada itu? Itu, itu siapa?" tanyaku memburu.
Mang Udin tersenyum diantara wajah pucatnya. Dan membuatku makin merasa ganjil. Belum lagi tangis Gano yang makin histeris. Aku menoleh cepat seiring tandu itu dibawa pergi menjauh dari Gano. Dan entah apa yang kemudian menyerangku saat sebelah tangan mayat dalam tandu itu menjuntai memperlihatkan hal yang tanpa bertanya pun sudah kutau jawabannya. Sebuah cincin yang sama yang kumiliki menghiasi jari manisku.
Apa ini? Hanya kata-kata itu yang berputar-putar memenuhi isi otakku.
"Itu adalah mayat Neng Sylla," ucap Mang Udin seperti bukan sebuah jawaban, tapi lebih condong pada penegasan.
Kutatap Mang Udin perlahan, dan kunci ingatanku tadi seakan terbuka. Ingatanku akan kejadian tadi malam setelah kembali ke kamar terputar dengan gamplang slide demi slide.
Mang Udin mengetuk pintu kamar, dan saat kubuka terlihat jelas kilatan parang ditangannya. Dan sebelum aku sempat menanyakan apa yang terjadi, Mang Udin lebih dulu melayangkan parang besar itu ke tubuhku. Satu sabetan saja sudah melumpuhkanku bersimbah darah meski tak langsung mematikanku.
Di sisa kesadaranku yang tinggal sedikit, masih kuingat mata nyalang Mang Udin menatapku dengan senyum kemenangan.
Aku sontak gemetar mengingat semua kejadian tadi malam, langkahku mundur terhuyung. Dan sekali lagi kulihat mata nyalang dan senyum kemenangan Mang Udin saat kusadari dadaku berlumuran darah segar.
"Selamat datang di bougenvilla yang sebenarnya, Neng Sylla. Selamat datang di bunian," ucap Mang Udin ramah.
Kakiku langsung lemas, aku jatuh terduduk. Kupandangi Gano yang berusaha berdiri dibantu seorang anggota polisi, sambil terus memanggil namaku seiring mobil ambulance merangkak pergi.
"Kalian ini apa?" tanyaku pada dua orang dihadapanku yang sepertinya tak peduli dengan keadaanku.
"Neng sekarang seperti kami, bukan lagi seperti orang-orang itu," jawab Mang Udin enteng.
Tangisku pecah.
"Bukankah Neng Sylla sendiri yang bilang senang tinggal disini?" timpal Bik Ipah.
Aku menjerit histeris.
Tapi apapun yang kulakukan tak akan merubah apapun. Aku sekarang ada di sini, di bunian bougenvilla. Berbeda dengan dunia yang tadi malam kutinggali.
*Inspirasi film 'Bunian'
saking penasarannya sama kebenaran tentang dunia bunian
Randublatung, 11/11/2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar