Rabu, 09 Desember 2015

Teru Teru Bozu

Sejak kepindahanku ke sekolah di pinggiran kota ini dua bulan lalu, aku langsung tertarik dengan seorang siswi. Meski bukan termasuk dalam daerah teritorial mengajarku karena aku hanya mengajar kelas XII dan siswi itu ada di kelas  XI. Tapi entah kenapa mataku tak bisa lepas untuk memperhatikannya.

Dan sebenarnya perhatianku tak terfokus pada wajah manis gadis yang mengusik ingatanku pada sebuah wajah yang belum sepenuhnya kuingat, tapi lebih pada boneka teru teru bozu kecil yang digunakannya untuk gantungan tasnya, juga ponselnya.





"Kau mengenalnya?" Tanya Hikaru, sahabatku sekaligus dokter pribadiku.
Sejak kejadian kecelakaan yang menimpaku dua tahun lalu aku terpaksa menggunakan jasa Hikaru untuk selalu memantau kondisiku. Karena sampai saat ini, aku kehilangan beberapa ingatanku sebelum kecelakaan. Hikaru menyebutnya amnesia disosiatif, keadaan dimana otak dengan sengaja menolak mengingat beberapa kejadian. Dan mungkin itu sesuatu yang menyakitkan jika harus kuingat.
"Entahlah, aku hanya merasa tak asing dengan wajah itu. Juga teru teru bozu itu," jawabku seadanya.
"Teru teru bozu? Maksudmu boneka penangkal hujan?" Hikaru sedikit terperanjat.
"A-apa kau tau sesuatu, Hikaru-chan?" Aku tak kalah terperanjat.
Tapi reaksi Hikaru selanjutnya sangat membuatku kecewa. Hikaru mendesah.
"Entahlah," Jawab Hikaru mengangkat kedua bahunya.
"Aku mana tau apa yang terjadi padamu sebelum kecelakaan. Apalagi tentang kehidupan pribadimu," keluh Hikaru.

 Benar juga, Hikaru baru pulang dari studinya di Jerman beberapa hari sebelum kejadian kecelakaan itu. Pun begitu tak banyak yang tau tentang kehidupanku. Aku termasuk orang yang introvet. Sangat anti mengumbar masalah pribadiku sekalipun pada keluargaku. Apalagi sejak kuliah aku sudah tinggal sendiri jauh dari keluarga yang lain.
Aku mendesah.
"Yang kutau kau cukup menyukai hujan. Kau bahkan saat sekolah sangat suka bermain bola dibawah guyuran hujan," kenang Hikaru membuatku mengingat masa-masa sekolah dulu. "makanya aku sedikit heran kenapa kau malah punya chemistry saat melihat boneka teru teru bozu milik Misagi?" lanjut Hikaru seperti menggumam.
Aku kembali mendesah. Mendesah pasrah dengan ingatan yang bahkan tak mampu kuingat.
"Sebaiknya kau ajukan pindah saja dari sekolah itu," Ucapan Hikaru selanjutnya membuatku kembali terperanjat.
"Apa?"
Kali ini Hikaru yang mendesah sambil membenarkan posisi duduknya. Gerimis di luar kafe ini sepertinya menjadi pemandangan yang menariknya. Atau mungkin hanya mencoba mengalihkan perhatiannya dari reaksiku atas saran yang baru saja dilontarkannya.
"Apa benar penyakitku jika terlalu dipaksakan penyembuhannya akan malah berakibat buruk?" desisku minta penjelasan.
Hikaru menatapku perlahan, dengan sinar yang misterius. Mungkin itulah sinar mata khas seorang psikolog.
Sebenarnya sangat tidak adil, para psikolog mampu mengartikan setiap sinar mata pasiennya, tapi mereka malah punya sinar mata yang tak pernah bisa diartikan oleh orang lain.
"Amnesia disosiatif terjadi karena otakmu sendirilah yang menolak mengingat, jadi jika ada yang mencoba memaksamu mengingat apa yang otakmu lupakan, maka... "
Mataku menyipit. Penjelasan Hikaru tak selesai, atau mungkin memang sengaja tak diselesaikan.
"Ikuti saja saran doktermu, ini demi kebaikanmu juga," tegas Hikaru lalu bangkit meninggalkanku yang masih terbengong dengan saran yang lebih seperti perintah yang harus dilakukan.




***


Senyum itu terkesan sangat sinis, bahkan mampu membuatku bergidik.
"Amnesia disosiatif?" desis Misagi mengernyitkan dahinya setelah mendapat penjelasan atas keadaanku yang bertanya tentang alasannya menyukai boneka teru teru bozu yang selama ini mengganggu pikiranku.
"Hmm, dua tahun lalu aku mengalami kecelakaan dan setelah sadar ada beberapa ingatan yang tak bisa kuingat. Dokter menyebutnya amnesia disosiatif," paparku menjelaskan.
Akhirnya aku punya kesempatan berbicara langsung dengan Misagi, siswi kelas XI yang selama dua bulan ini menyita perhatianku tanpa kutau kenapa. Hujan sore ini yang mempertemukan kami di sebuah kafe.

Tapi aku kembali bingung dengan tanggapan sinis Misagi tentang rasa penasaranku pada boneka teru teru bozu miliknya, Seakan-akan hal itu begitu menyinggung perasaannya.
Mungkin benar saran Hikaru, aku harus menjauh dari sekolah ini, juga gadis ini. Karena akhir-akhir ini aku sering mengalami insomnia dan mimpi buruk yang tak jelas.

Tapi, pun begitu, ada sisi hati yang seperti berjalan diluar kendali otakku. Mungkin sejenis intuisi yang tetap bersikukuh untuk mencari tau kenapa aku sangat tertarik pada boneka teru teru bozu milik Misagi.
"Sangat tidak adil jika Sensei hanya mengalami amnesia, bahkan itu terkesan sangat merugikan Onee-chan," rutuknya.
"Onee-chan?" sergahku memburu.
Misagi tergelak dengan melengos menghindari tatapanku.
"Misagi, katakanlah semua yang kau ketahui. Aku benar-benar merasa punya ikatan pada boneka teru teru bozu, bahkan jika aku melihatmu aku... "
Ucapanku terpenggal oleh sinar mata Misagi padaku. Ada semacam api protes, kebencian, dan juga harapan.
"Apakah orang-orang disekitar Sensei benar-benar tak tahu kehidupan pribadi Sensei, atau mereka memang sengaja menyembunyikan itu dari Sensei?"
Pertanyaan Misagi membuatku makin bingung.
"Apa?"
"Apa anda masih menyukai hujan? Seharusnya anda membencinya setelah kejadian itu."
Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan ucapan Misagi. Tapi belum sempat aku memikirkan arti kalimat Misagi, gadis itu beranjak dari duduknya lalu beringsut pergi.
"Misagi, hei, kau mau kemana?" susulku mengejarnya yang keluar kafe.
"Hal yang awalnya kusukai kemudian jadi yang paling kubenci, hujan." gumamnya seraya membuka payungnya dan menerobos hujan.
''Beri aku penjelasan atas semua ucapanmu!" pintaku menjejeri langkahnya, meski harus sedikit terguyur hujan.
"Setelah dua tahun Sensei baru penasaran dengan ingatan yang hilang? Itu terlalu lamban, dan sangat tidak adil untuk onee-chan," dengusnya tanpa berhenti dan tanpa peduli denganku yang mengikutinya diantara hujan.
"Onee-chan, onee-chan... aku bahkan tak tau siapa itu onee-chan yang kau maksud!" protesku dengan nada meninggi, dan ternyata hal itu membuat langkah Misagi terhenti seraya menatapku geram.



Langkahku terhenti di ambang pintu rumah sakit. Misagi akhirnya ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
"Kenapa? Apa Sensei takut? Bukankah tadi Sensei bilang padaku untuk memberi penjelasan atas semua ucapanku?" desisnya sinis, seakan tau gejolak hatiku yang memang meradang karena terlalu takut dengan kenyataan yang mungkin akan jauh dari yang aku pikirkan selama ini.
Rumah sakit? Kenapa jawaban atas amnesia disosiatif-ku ada di sebuah rumah sakit di pinggiran kota ini?
"Jika Sensei takut, berbaliklah dan pulang. Bukankah selama ini Sensei baik-baik saja meski amnesia itu menutupi salah satu atau mungkin satu-satunya bagian penting dari kehidupan Sensei?" Kali ini kata-kata Misagi terkesan lebih bijak.
"Apa onee-chan yang kau maksud tadi ada di sini? Apa aku benar-benar mengenal onee-chan yang kau maksud?" tanyaku.
Misagi menatapku tanpa bicara. Tapi sinar matanya mengungkapkan banyak kata yang tak bisa kujabarkan sendiri.
Keraguanku bercampur dengan rasa penasaranku tentang siapa yang dimaksud Misagi sebagai 'Onee-chan'. Dan mungkin, semua hal memang butuh yang namanya pengorbanan. Untuk kali mungkin aku memang perlu mengeluarkan lebih banyak tenaga agar rahasia amnesia disosiatif yang selama ini menggerogoti kenanganku bisa terkuak.
Sedikit ragu aku mengangkat kakiku ke depan, mendekati Misagi. Lalu perlahan Misagi melanjutkan langkahnya menuju sebuah kamar perawatan. Membuka pintu kamar dihadapannya. Aku terpaku meski Misagi sudah melangkah masuk. Dalam pandanganku, aku melihat ada sesosok gadis terbaring di dalam sana dengan selang infus juga selang oksigen.
Misagi menatapku yang masih terpaku.
"Sensei tak ingin menemuinya?" tanyanya

Bahkan, sekeras apapun aku mencoba mengingat aku tak bisa ingat siapa sosok yang terbaring itu, dan apa hubungannya denganku. Apa yang kuderita benar- benar amnesia disosiatif atau memang aku tak punya ingatan tentang ini?
Aku memilih menyerah dan melangkah masuk, tapi baru tiba di ambang pintu mataku langsung melihat banyak boneka teru teru bozu tergantung di kaca jendela. Dan ada beberapa slide kenangan buram yang melintas.



Kuamati lebih detail wajah tanpa ekspresi yang terbaring itu.
"Michi-chan, sejak dua tahun lalu setelah keluar dari ruang operasi mengalami kondisi vegetatif persisten."
Aku melonggo tak mengerti mendengar penjelasan Misagi.
''Istilah singkatnya kematian otak."
"Kenapa?" tanyaku nyaris tak sadar, membuat Misagi langsung menatapku disusul senyum sinisnya. Lalu langkahnya menuju meja di samping ranjang Michi.
"Bacalah, beritanya hanya sempat dimuat di koran berita lokal, dalam kolom berita biasa saja," katanya lebih mirip perintah setelah melempar sebuah koran lokal, tepat di bawah kakiku.
Kupungut koran yang sedikit usang itu. Tertera tanggal 27 November 2013. Tepat sehari setelah kecelakaan yang menimpaku dua tahun lalu itu.
Aku tak begitu konsentrasi membaca kolom berita itu, karena perhatianku langsung terfokus pada namaku yang tertulis sebagai nama korban kecelakaan tunggal, yang disandingkan dengan nama Sinshiro Michi. Kutatap lagi wajah tanpa ekspresi yang terbaring itu.
"Sinshiro Michi?" gumamku mencoba menggali nama itu dalam kotak ingatanku.
"Aku tidak begitu ingat, tapi sore itu dia pamit padaku akan bertemu seseorang." Ucapan Misagi membuyarkan konsentrasiku. Kutatap Misagi.
"Dan aku yakin yang ditemuinya adalah anda, sensei." Kali ini Misagi menatapku dengan sinar yang lebih bersahabat.
Kembali kutatap wajah tanpa ekspresi Michi.
Bahkan, sekeras apapun aku mencoba mengingat wajah dan nama Sinshiro Michi, tetap aku tak bisa bertemu setitik cahayapun. Lagi-lagi aku mendesah pasrah.
"Jadi dulu saat kecelakaan kami ditemukan dalam satu mobil?" tanyaku.
Misagi membenarkan letak selimut kakak perempuannya.
"Aku tidak melihatnya sendiri, tapi anda ada di belakang kemudi, sementara Michi-san terlempar keluar dari mobil. Menurut hasil olah TKP, rem mobil anda rusak." papar Misagi membuatku tak sadar tergelak.

Aneh, aku bahkan tak tahu dengan persis apa yang terjadi kala itu, bahkan penyebab kecelakaan itu. Yang kutau menurut penuturan orang tuaku juga Hikaru, karena hujan dan jalanan licin mobil yang kukendarai selip dan menabrak pembatas jalan. Sudah, itu saja.
Aku melangkah mendekati ranjang itu. Kuperhatikan lebih seksama tiap inchi wajah terlelap itu. Ada semacam alunan tembang rinai hujan dari luar sana. Dan ada sebuah slide buram melintas. Tentang rinai hujan yang sama seperti di luar sana.
Tapi konsentrasiku langsung terbuyar saat ponselku berdering. Nama Hikaru terpampang sedang memanggil.
"Apa kau akan melewatkan sesi konselingmu lagi?" tanya Hikaru dari seberang.
"Kau bilang beberapa hari ini kau mengalami insomnia dan mimpi buruk kan?" Lanjutnya tetap bertanya.
Aku mendesah.
"Aku menemui kakaknya Misagi. Sinshiro Michi" kataku berat.
Sepi. Diseberang sana Hikaru seperti meninggalkan ponselnya yang sedang melakukan panggilan.
"Hikaru-chan?!" panggilku dengan kernyitan dahi
''Cepat kembali, kita perlu segera mengadakan konseling." tandasnya lalu menutup telepon.
Kupandangi ponselku yang baru terputus panggilan dengan Hikaru.
Dan kusadari sepasang mata sedang menatapku lain dari biasanya.
"Sensei bahkan tak mengingat apapun meski sudah bertemu Michi-chan." keluhnya.
"Hujan." Kali ini aku lebih mirip tak sadar menggumam.
"Sensei mengingat sesuatu?" pekik Misagi dengan raut gembira.

Ya, hujan, Slide yang sempat melintas tadi adalah sebuah rinai hujan.
Mungkinkah aku dan Michi pernah punya kenangan tersendiri dalam suasana hujan seperti sekarang ini?
Yah, mungkin.
Terlalu dini menyimpulkan hal itu karena ingatanku masih minim.




Note:
Onee-chan : panggilan untuk kakak perempuan kandung
...- chan : panggilan untuk orang yang sudah akrab (teman/ saudara)
Sensei : guru


Rdb, 9/12/2015

Dan.... mandeg dulu sampe disini,
Ntar biar ada Teru teru bozu part 2 aja ya, soale kalo dijadii satu scene-nya meloncat-loncat kaya kodok, xixixixi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar