Jumat, 25 Desember 2015

Nama : Ari, (un)Ending

Tiga pasang mata di depanku yang lagi asyik duduk di anak tangga pintu masuk kampus menatapku tak percaya. Aku pura-pura tak mengerti tentang ketidak percayaan mereka. Padahal aku tau betul kalo ini semua karena kedatanganku dengan Airin.
Airin yang langsung duduk di samping Marvel pun terkesan cuek.

"Kalian beneran datang bareng?" tanya Kris menatapku dan Airin bergantian.
"Kenapa tadi tak menjemputku? Tega ya... " dengus Airin terkesan menyalahkan, meski sambil mengambil beberapa kripik singkong yang dipegang Marvel, Juga tak mempedulikan tanya Kris tadi.
"Ya mau gimana lagi, tadi pas mau berangkat ada yang telpon sambil ngancam untuk gak jemput lu." jawab Marvel masih menatapku.
Spontan wajahku memias karena ketahuan dan tak mungkin mengelak lagi.
"Hei, gue kan tadi bilangnya gak usah jemput Airin, kebetulan gue ketemu dia di pinggir jalan. Jadi ya, gue ajak bareng sekalian." ucapku sedikit kikuk. Semoga saja alasan itu cukup meyakinkan.
"Oya???" Koor ketiganya serempak, lalu disusul senyum dan tawa mereka.
"Perasaan tadi lu bilangnya, awas kalo sampe jemput Airin," imbuh Marvel disusul gelak tawa lagi.
Tiba-tiba Airin bangkit.
"Ck, kalian berisik! Yang pasti besok kalo gak jemput bilang lebih awal biar aku bisa berangkat lebih pagi naik angkot!" tukas Airin lebih difokuskan pada Marvel.
Marvel hanya mampu garuk-garuk kepala, semacam rasa menyesal. Dan aku melihat itu dengan iri.
Oh My God, iri? Menggelikan. Apa sebenarnya yang terjadi padaku akhir-akhir ini? Kenapa hampir semua yang kulakukan terasa aneh dan sulit dinalar? Terlebih jika menyangkut Airin.
"Gue salah, please... forgive me!!!" pinta Marvel memegang kedua telinganya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Mata bening yang dipayungi alis indah itu masih menatap Marvel marah. Tapi kenapa hal itu tetap terlihat menarik bagiku?
Gila, gila, gila... benar-benar ada yang tak beres dengan otakku ini.

Tapi, mungkin memang benar, aku jatuh cinta pada Airin.
Kaget? pasti. Aku bahkan belum sepenuhnya mempercayai ini. Tapi dilihat dari kegilaan-kegilaanku beberapa hari ini tanpa bantuan alat pendeteksi kebohongan atau malah suntikan amytal bisa aku simpulkan sendiri ini memang tingkah konyolku.

"Kau?" desis Airin sedikit bernada alto.
Aku yang dengan lagak santainya duduk di salah satu bangku sebuah depot mie ayam-bakso hanya tersenyum ringan.
"Ngapain kesini?" lanjut Airin masih meninggi.
"Ya makanlah, masak kesini mau tidur?"
Airin tergelak sinis.
"Kau mau menunjukkan betapa tebalnya dompetmu?"
Aku terdiam sejenak, lalu merogoh saku celanaku. Kubuka dompetku.
"Dompet gue tak begitu tebal. hanya berisi beberapa kartu kredit." kataku menunjukkan isi dompetku yang hanya berisi tiga lembar uang seratus ribuan dan beberapa kartu kredit dan kartu identitas.
"Maaf, tuan muda, disini bukan restoran bintang lima yang pembayarannya pakai kartu kredit. Disini bayarnya kontan!" geram Airin tertahan.
Aku segera mengambil tiga lembar uang seratus ribuan tadi dan meletakkannya di meja.
"Ini masih cukup kan untuk membayar makanan gue nanti?" tanyaku
Airin malah kembali tergelak lalu berbalik melangkah meninggalkanku. Dan aku tersenyum puas.


Lain hari aku tetap masih berulah aneh. Aku sendiri saja menyadari aku aneh, apalagi orang lain.
"Kau lagi?" rutuk Airin benar-benar kesal mendapatiku kembali ada di tempat kerjanya yang lain. Sebuah warung tenda pinggir jalan.
Aku hanya nyengir.
"Apa lagi ini? Seorang tuan muda duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan? Apa ini semacam pencitraan untuk mendongkrak popularitas di mata masyarakat menengah ke bawah?"
"Hei... " gusarku.
Aku memang tuan muda dari seorang pengacara terkenal. Tapi apa aku bangga? Tidak. Papaku terlalu sibuk membangun citra baiknya pada semua lapisan masyarakat, tapi malah seperti melupakan bagaimana caranya membangun citra baik dengan putra tunggalnya. Apa aku benci? Tentu saja. Aku membenci semua yang berhubungan dengan papaku, bahkan mendalami ilmu hukum selama ini hanya setengah hati.
"Gue cuma mau makan," kataku sedikit memelas.
Tapi ketika kulihat lagi menu yang terjejer di hadapanku aku sedikit kesulitan menelan ludahku. Apa itu pecel lele? Benarkah ikan bersungut itu aman dimakan? Lalu, sate jeroan? Aku sampai bergidik melihatnya. Itu sarang berbagai macam penyakit, kenapa malah dibuat makanan?
"Gue mau kepiting aja." pesanku akhirnya.
Paling tidak kepiting juga ada di laut, jadi pasti rasanya tak akan beda jauh dengan lobster atau sebangsanya.
Dalam hitungan menit seporsi kepiting rebus terhidang di hadapanku. Dahiku sedikit mengkerut.
"Kenapa? Kaget penyajiannya tidak seperti di restoran mewah?" sindir Airin.
Aku mendongak menatap Airin. Mata indah itu tetap menatapku sengit. Seolah-olah sinar mata itu sudah paten untukku.

Apa hanya karena namaku Ari kau begitu membenciku, Rin? Apa karena keadaanku yang menjadi tuan muda lalu membuatmu makin membenciku? Apa itu salahku? Apa itu inginku? Tidak, semua itu diluar kehendakku. Bahkan jika kemudian aku malah jatuh cinta denganmu... itu juga diluar kehendakku.
Aku mendesah seiring tangan Kris menlingkar dileherku.
"Bro, sepertinya lu terlalu menghayati julukan Tao Ming Tse yang Marvel berikan ke elu."
Kutatap Kris segera. Menyembul sedikit senyum diselingi gigi gingsulnya yang ikut pamer.
"Iya juga sih, gue sampe seperti melihat Meteor Garden versi indonesia," Marvel menambahi, meski akibatnya sebuah kaki menginjak kakinya. Marvel hanya meringis menatap Airin yang makin geram.
"Rin, apa sampe segitunya lu benci Ari?" tanya Dito meninggalkan sebentar bacaan bukunya.
"Ya." mantap Airin melirik sengit ke arahku.
"Hei... " Kris buru-buru mencegahku berdiri dengan mempererat rangkulannya.
"Dan jangan pernah sekali-kali membawa odong-odongmu masuk ke gang rumahku."
"Apa?"
Kris masih menang atas rangkulannya di leherku.
"Itu mobil Land rover range!" sanggahku, tak rela mobil kesayanganku disamakan dengan odong-odong.
"So?"
Nih cewek, beneran deh, unik. Saat hampir bahkan semua cewek pasti terpikat dengan semua yang kumiliki, kenapa dia malah sedikitpun tak peduli?
Suara cekikik dari tiga serangkai itu menggema.
"Gak habis pikir, kenapa bisa sampe punya teman kaya dia." gerutu Airin dengan wajah masam.
Cekikik tadi malah semakin membesar menjadi tawa, bahkan Dito sampe terpingkal.
"Teman?" desisku mengerutkan kedua alisku hingga hampir bertaut. "Lu tadi bilang apa? Teman?" imbuhku masih menunjukkan ketidak percayaanku.
Wajah Airin makin memerah menahan amarah. Sebelah kakinya berdecak kesal.
"Lu denger juga kan Kris? Dia tadi bilang gue temannya."
"Mungkin karena tadi lu jemput dia kali', motornya lu kasih jampi-jampi ya?" tuding Kris malah mengikuti kegilaanku.
"Aiiisshhh... norak!" Lalu langkah Airin menjauh, masih dengan nada jengkel.
Aku tak bisa menahan senyumku lagi.
"Dito, masuk ke kelas gak? Tuh, dosenmu udah jalan." teriak Airin di jarak 10 meter, dengan semburat kemarahan yang terbias ke arahku.
"Iya, iya... " Dito berlari menyusul langkah Airin.
Fakultas Airin dan Dito memang bersebelahan, jadi mereka sering masuk dan keluar kelas bersama.
"Gue juga mau masuk bro, dosen makul pagi ini rada primitif soalnya." Kris melepas rangkulan tangannya seraya bangkit menenteng tas ranselnya.
"Lu gak masuk Vel?" tanyanya kemudian.
"Jam kosong kayaknya, tadi Nita bilang gitu sambil bawa tugas dari dosen, disuruh nyari materi di perpus." jawab Marvel masih dengan santainya mengganyang kripik singkongnya.
"Ya udah, gue duluan ya," pamit Kris melangkah ke arah serupa yang dituju Airin dan Dito tadi, meski kemudian nanti dia berbelok di tikungan depan sana.
Kami mengangkat tangan sebelah, mengantar kepergian Kris. Lalu mata Marvel menatapku. Kunyahan kripik singkongnya terhenti.
" Kenapa?" tanyaku heran, karena tatapan Marvel sarat menyelidik. Seperti menatap seorang pelaku kejahatan berpenyakit mental yang bisa menipu semua orang dengan kelainannya.
"Lu beneran jadi suka sama Airin?" tanyanya, mengabaikan tanyaku tadi.

Aneh, ada sedikit kesan cemburu yng kutangkap, tapi ada juga sebuah pendiktean seseorang yang jauh lebih ke arah otoriter. Berhak untuk bertanya, atau malah berhak untuk melarang suka.
"Kenapa?" ulangku untuk satu kata tadi.
Marvel mendesah panjang, kembali menatap ke  depan.
"Lu gak cemburu kan?" todongku.
"Lu beneran suka dia atau karena masih penasaran soal hubungan Airin dengan bokapnya?" Lagi, pertanyaan dibalas pertanyaan.
Aku berfikir sejenak. Kutatap Marvel lagi, yang masih tajam menatapku sambil menunggu jawaban dariku.
"Sebenarnya hubungan lu sama Airin itu konsepnya gimana sih?" tanyaku keki.

Jujur, sejak awal mengenal mereka aku bingung dengan hubungan Marvel dan Airin. Dibilang pacaran, tapi mereka bukan sepasang kekasih. Dibilang saudara, mereka tak ada ikatan keluarga selain ibu mereka yang berkawan karib. Dibilang cuma sahabat, justru ini yang paling meragukan. Jaman sekarang, di usia seperti ini, masih ada cowok & cewek yang murni bersahabat?

"Jika memang lu suka dia... " Suara Marvel menghentikan kesibukanku menganalisis keadaan. "Dan jika lu bisa mendapatkannya nanti, gue cuma pesan satu hal."
Mataku menyipit.
Apa ini semacam mandat dari seorang pemilik sah kepada pihak peminta?
"Jangan pernah tinggalkan dia demi orang lain."
Dan kerutan di jidatku akibat menyipitnya mataku tadi kian menebal.

Jangan pernah tinggalkan dia demi orang lain? Apa ini jawaban sebenarnya kenapa Airin bisa begitu membenci ayahnya? Ditinggalkan karena orang lain?

"Menurut lu, apa dia bisa jatuh cinta sama gue? Secara dia kan benci banget sama gue. Cuma masalah sepele pula." tanyaku, lebih mengarah pada keluhan.
Marvel tertawa lirih, membuat mataku memicing lagi.
"Lu kira ada cewek yang bisa bertahan dengan tingkah-tingkah gila lu itu? Cewek sinting mungkin iya."
"Lha dia emang gak sinting?"
" Hei..." protes Marvel tak suka.
Aku terkekeh. "Apa namanya coba kalo gak sinting? Mana ada orang benci orang gara-gara namanya sama dengan nama orang yang dibencinya?"
"Lha lu itu, jauh lebih sinting malah."
Sisa tawaku di bibir langsung menghilang.
"Lu cakep. tajir, calon pengacara pula, kok bisa-bisanya suka sama cewek sinting?"
Glek!
Aku serasa di skak mat oleh pertanyaan Marvel tadi.
Aku tersenyum malu. Marvel menyikutku dengan sederet senyum ringan.
"Gue akan berusaha,'' kataku lirih, menghentikan adegan senyum berjamaah kami. Mengembalikan ke keadaaan yang lebih serius.
Marvel menatapku penuh makna. Aku sedikit terhenyak mendapatinya. Tapi hanya sebentar Marvel memberiku kesempatan menikmati sinar matanya yang aneh itu, karena kemudian ditatapnya lurus pemandangan gedung kampus di depan sana.
Sebegitu besarkah tanggungjawab Marvel pada Airin? Hingga untuk mencegah terulangnya luka masa lalu itu pun seperti harus diusahakannya mati-matian.

"Tapi benarkah jurang antara ayah dan anak itu tak bisa dilalui?" tanyaku kemudian, membuat dua mata tak lebar itu menatapku lagi. Kali ini dengan sinar yang berbeda lagi.
"Lu gak merasa kalo lu juga punya jurang yang lebar dengan bokap lu?"
Lagi,
Aku di skak mat pertanyaan dari Marvel. Aku menunduk sedikit, menghindari tatap menghunus itu.
"Kenapa malah bawa masalah gue?" kelitku serak.
Marvel tergelak.
"Lu curang ya, lu pengen tau banget apa yang terjadi pada Airin dan bokapnya. Tapi giliran orang menyinggung apa yang terjadi pada lu dan bokap lu, lu menghindar."

Aku diam.
Karena memang lebih baik diam. Percuma mengungkapkan jabaran masalahku dengan satu-satunya anggota keluargaku yang saat ini entah ada di mana itu. Lebih dari 10 tahun hidupku memang kukurung dalam kebencian pada papaku sendiri. Setelah sukses 'membunuh' wanita yang paling kusayangi dengan segala ambisinya itu, aku pun kemudian serasa dicekik perlahan-lahan. Dengan sesuatu yang sama pula. Ambisi.
Aku mendesah.

"Apa ini semacam takdir? Gue dan Airin. Sama-sama punya sisi gelap dengan orang yang seharusnya dihormati." gumamku setengah tak sadar.
Marvel tak menyahut, hanya terdengar mendesah perlahan. Aku tergelak sendiri. Sebentuk wajah Airin yang akhir-akhir ini sering muncul seperti semacam delusi, kembali beerkelebat di hadapanku.




Rdb, 24/12/2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar