Rabu, 09 Desember 2015

Nama : Ari (part 2)

Aku sedikit meringis menahan perih pipiku yang baru saja kutempeli kompres es. Meski pelan-pelan tetap saja masih perih. Kemarin sore aku nyaris bonyok jadi bulan-bulanan tiga security kantor yang lebih mirip preman pasar. Andai tak segera ada patroli polisi yang lewat, mungkin aku sekarang sudah opname di rumah sakit, atau lebih parah lagi sudah terkapar tak bernyawa dikerubuti lalat. Karena aku yakin sekali orang-orang seperti itu setelah menghabisi orang pasti mayatnya dibuang di tempat yang sulit ditemukan orang.

Aku mendesah. Gara-gara ini aku tak berani menunjukkan wajahku di hadapan papa. Bisa-bisa aku kena damprat dua kali plus diinterogasi seperti pelaku kejahatan berantai.

"Lihat Airin gak, Ri?" tanya Marvel yang baru saja datang menghampiri meja kantin yang sudah seperti kukusai sejak pertama kali masuk kampus ini.
"Mana gue tau, memang pernah gue jalan berdua dengan dia?" sungutku mendongak menatap Marvel. Dua bola mata Marvel seperti tak tenang mengedar ke segala penjuru ruangan.
"Aduh dia baik-baik saja gak ya? Ini nih gara-gara si Jihan yang kemanjaan, demam dikit aja suruh nungguin semalaman," gumam Marvel tak jelas.
"Hei, memang teman lu itu hanya Airin? Lu gak lihat keadaan gue yang bonyok begini? Paling gak tanya kenapa kek," lanjutku masih bersungut, makin kesal karena sepertinya di hati Marvel temannya hanya Airin.
kebangeten banget ya punya tiga sahabat saja satupun gak ada yang peduli. Haduh..,
Marvel akhirnya menatapku tiga detik.
"Emang wajah lu kenapa sampe kaya mangga mateng jatuh dari genteng gitu?"
Kuhindari sendiri kompres es yang terasa makin ngilu menyerang luka memarku sambil mendesis.
"Dikroyok orang."
Marvel langsung tertawa.
"Ari Anggoro dikroyok orang?" pekik Marvel terkesan didramatisir.
Aku hanya mendengus.
"Yang ngroyok gak tau ya kalo lu itu putra tunggal salah satu konglomerat di kota ini?"
"Gue lupa ngasih tulisan di jidat kalo gue ini anaknya Hadi Anggoro." 
Marvel makin terkekeh sebelum akhirnya hilang tersamar saat pandangannya mengarah ke pintu masuk kantin.
Tapi sebelum aku sempat mengikuti apa yang ditemukan pandangan Marvel, dengan kecepatan yang tak terduga sebuah tangan meraih gelas jus apel dihadapanku dan byuuurr...
"Heiii... !" teriakku spontan kaget campur marah, tapi ketika kutemukan pelaku penyiram jus apel ke mukaku itu aku sedikit terhenyak.
Apalagi saat menemukan sorot matanya yang menyala, bahkan mampu membakar habis kemarahanku yang tadi sempat tersulut.
"Rin, sudahlah, jangan begini, kita dengar dulu penjelasan Ari," lerai Kris yang sejak tadi memang memburu langkah Airin dari belakang.
Kutahan perih wajahku yang makin gak karuan karena ditambah guyuran jus apel tadi.
"Apa? Apa maksudmu pergi ke tempat itu? Apa?" geram Airin hendak mengeroyokku, tapi tangan Kris lebih dulu mencegah. Marvel pun buru-buru mendekat dan memeluk menenangkan Airin yang seperti kesetanan.
"Maafin gue Rin, tadi malam gue gak bisa ke rumah lu, Jihan sakit, mama papa pas keluar kota, maafin gue.., " ucap Marvel disela usahanya menenangkan Airin.
Aku melongo. Bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Jadi yang ngroyok lu itu orang-orangnya ayahnya Airin?" tanya Marvel dengan nada tak bersahabat.
Kuusap wajahku dengan tisu di meja.


Kemarin akhirnya setelah aksi investigasiku selama hampir dua minggu, aku menemukan siapa sebenarnya Ari, ayah Airin. Tanpa bantuan gadget apalagi google tentunya. Awalnya hanya ingin tahu saja, kenapa Airin begitu membenci ayahnya sampai-sampai dia juga membenciku yang hanya karena punya nama Ari, sama dengan nama depan ayahnya, Ari Baskoro.
Tapi saat aku tau ternyata ayah Airin seorang pemilik store refill printer terbesar di kota ini aku mulai bisa menebak alasan Airin membenci sang ayah. Mana ada putri pengusaha sukses malah bekerja paruh waktu di beberapa tempat demi membiayai kuliah manajemen hotelnya? Bahkan ibunya pun bekerja banting tulang di sebuah rumah makan. Kalau bukan ditinggalkan demi mengejar obsesi sendiri.

"Lu harusnya tanya dulu pada salah satu dari kami jika ingin tau siapa ayahnya Airin." Suara Kris menghentikan lamunanku.
Aku mendesah seraya kembali duduk. Kris pun ikut duduk, begitupun Airin yang tetap dalam dekapan Marvel. Mereka bahkan terlihat seperti sepasang saudara daripada sepasang kekasih. Aku tersenyum dalam hati.
"Tadi pagi gue buru-buru ke rumah, tapi kata Dito yang masih disana kalian sudah berangkat," ucap Marvel membenarkan rambut Airin yang memburai karena aksi anarkisnya tadi.
"Iya, tadi di jalan motor gue sempat mogok. Makanya malah lu duluan yang nyampe sini." Kris seperti menjawab pertanyaan Marvel tadi.
"Dito gak ada kuliah pagi jadi tadi gue suruh aja tetap tinggal sekalian bantu beres-beres."
Aku diam hanya mendengarkan percakapan yang tak begitu kupahami arah tujuannya.
"Hei, tuan muda, lu diam saja seperti tak merasa bersalah saja!" 
Aku menatap Marvel yang kembali marah padaku.
"Kalian ini apa-apaan sih? Kalian tidak lihat, gara-gara menemui ayahnya Airin gue malah babak belur begini."
"Lalu lu pikir itu tidak terjadi di rumah Airin?!" Intonasi suara Marvel meninggi, benar-benar emosi.
Aku mengernyit tak mengerti.



Dan bukan aku jika sanggup menahan rasa penasaran. Akhirnya aku lewatkan kuliah pagi ini dan meluncur ke rumah Airin yang jaraknya lebih dari sejam. Bahkan dengan Land rover range yang kukendarai nyaris kesulitan bergerak di jalan gang rumahnya. Meski akhirnya aku bisa juga menemukan rumah sangat sederhana yang cukup asri itu. Tapi sambutan Dito yang ternyata memang ada disitu membuatku sempat garuk-garuk kepala.
"Ngapain kesini? Muka lu kenapa kok bonyok semua gitu? Lha trus ngapain lu bawa mobil segede gini masuk ke jalan gang begini?" cerocos Dito seperti biasanya, memang pantas jika dia kuliah di ilmu komunikasi. Tempat calonnya para public relation.
"Ya mana gue tau kalo jalannya sempit gini?" kataku membela diri.
Dito mendesah,
"Tuh, depan sana ada lapangan, taruh sana aja mobilnya." Dito menunjuk ke arah depan, aku mengikuti.
"Kalo nanti mobil gue kenapa-napa gimana?"
"Resiko lah, siapa suruh bawa mobil?" Lalu Dito kembali masuk ke rumah tanpa menggubris kecemasanku.
Gimana gak cemas, ini mobil belum ada empat bulan. Hasil sogokan dari papa karena akhirnya aku setuju kuliah hukum untuk meneruskan bakat the big lier-nya yang selama ini dibanggakannya.
Dan dengan terpaksa aku tinggalkan mobil kesayanganku itu di sebuah tanah lapang yang tak mirip lapangan itu. Aku berjalan sedikit ragu memasuki area pekarangan rumah Airin. 


Miris. Ironis. Kata itu yang berseliweran di otakku. Kenapa istri dan putri seorang pengusaha sukses Ari Baskoro tinggal di tempat yang bisa ku kategorikan kumuh begini? Ya, meski sangat bersih dan terawat, tapi dengan dinding batako tanpa lapisan semen penghalus juga cat, dan lantai dari semen kasar yang bahkan lebih halus lantai pelataran kampus, ini tetaplah sangat aneh. 
Baru sampai di ambang pintu sudah bisa ku temukan Dito sibuk membenarkan buffet rotan yang sudah reyot. Kuedarkan pandanganku ke penjuru rumah.

Ini rumah baru diterpa angin puting beliung apa ya? bathinku menemukan kerusakan cukup parah di sana sini. Bahkan aku baru sadar kalo pintu dari triplek di sebelahku ini jebol.
"Jangan bengong saja di situ, bantuin apa kek, dari tadi gue beres-beres juga belum kelar juga nih," rutuk Dito seperti tau aku terbengong di depan pintu, meski tanpa menoleh dulu.
"Memang ini kenapa kok bisa begini, Dit?" tanyaku membantunya memegangi sisi lain buffet yang coba di tegakkan posisinya.
Dito tak langsung menjawab, malah seperti enggan menjawab.
"Kemarin malam ayahnya Airin dan orang-orangnya kesini dan mengobrak-abrik rumah ini."
Lemas.
Aku langsung terduduk dilantai.
Dito menatapku heran.
"Lu kenapa, Ri?"
Jadi itu maksud Marvel tadi mengatakan kalimat itu? 

"Ada siapa, Dit?"
Aku tergagap mendengar suara keibuan dari dalam kamar. Seraut wajah paruh baya berjalan tertatih berpegangan dinding.
"Bu, kenapa keluar kamar. Kaki ibu kan bengkak, tiduran saja di kamar." Dito buru-buru menghampiri wanita yang dipanggilnya 'ibu' itu.
"Capek, Dit, biasa kerja ini malah disuruh tiduran terus." seloroh beliau dengan suara lembut.
Dito memapah wanita itu duduk.
"Belum beres semua, Bu, jadi Dito pikir Ibu di dalam saja."
Sebuah belain tangan ibu mengelus rambut sedikit gondrong Dito. Kesiap iri sempat kurasa. Lama bahkan aku sampai lupa rasanya belain seperti itu.
"Itu siapa, Dit?" tanya beliau sedikit berbisik, melirikku dengan seulas senyum tipis.
" Oh, iya, sampai lupa, ini juga teman Airin di kampus Bu, namanya... Ari." Kalimat terakhir yang diucap Dito sedikit bergetar.
Mata teduh wanita yang ternyata ibunya Airin itu menatapku lembut.
"Kirain teman dekatnya Airin cuma kalian bertiga, ternyata masih ada lagi."
"Kita emang gak begitu dekat seperti mereka bertiga, tante," sergahku disusul tawa kecil yang juga dimiliki Airin.
"Gak usah panggil tante, panggil ibu saja seperti yang lain." ralat si ibu, disusul cekikian Dito.
"Ngapain kau kesini?"

Pasti tak hanya aku yang kaget dengan hardikan tak terduga itu. Enam pasang mata tepat menuju ke ambang pintu tempat Airin berdiri.
"Airin gak boleh begitu ah," Sergah Ibu.
"Bu, Ibu tau gak siapa dia?" geram Airin menunjuk ke arahku. Marah.
"Ibu tau, namanya Ari kan? Dia teman kuliahmu juga kan?"
"Bukan itu yang Airin maksud, Bu dia itu... "
"Ya, aku penyebab semua ini," sergahku tegas.
Semua bungkam, hanya menatapku dengan sinar yang tak sama. Lalu detik ke sekian terdengar gelak tawa sinis Airin.
"Gue hanya mencoba memperbaiki kesalahan yang sudah gue buat," sergahku mencoba membela diri.
"Dan dengan kesini tak akan mengubah apapun."
"Airin...!" desis ibu menatap Airin protes.
Dito buru-buru menengahi. Bangkit dan memberiku isyarat untuk mengikuti langkahnya.

Kami menuju tanah lapang tempat mobilku kuparkir tadi. Sebotol softdrink yang kubeli di warung kecil depan rumah Airin tadi kuteguk sedikit. Lalu kusodorkan sisanya ke Dito.
"Bertahun-tahun berteman dengan Airin, dia hanya minta satu hal pada kami," ucap Dito memecah kebisuan diantara kami.
Aku bersandar pada badan mobil, begitupun Dito.
"Jangan tanya atau mencari tau soal ayahnya." lanjut Dito tetap dengan nada suara tadi.
Kukernyitkan dahiku.
"Kenapa?"
Dito menatapku. Lalu mendesah.
"Kata Marvel, mamanya pernah cerita, kisah masa lalu antara Airin dan orang tuanya sangat pahit. Lebih baik tak perlu diingat jika sudah diputuskan untuk dilupakan." Kali ini Dito seperti berharap aku mengerti.
"Itulah kenapa, gue, Marvel dan Kris sangat menyayanginya."
Tanpa sadar aku tergelak lucu.
"Kalian bilang menyayanginya, tapi tak pernah peduli tentang masa lalunya."
"Kadang tidak peduli juga bentuk lain dari kepedulian."
Aku terngungu.
Benarkah? Dengan menuruti 'perintah'nya yang untuk tak bertanya atau mencari tau tentang ayahnya, mereka berarti sangat peduli pada Airin? Aneh.

Dari hasil investigasiku, Ari Baskoro adalah pemilik puluhan store refill printer yang merajai kota ini. Bahkan sudah menyeruak ke kota lain. Dan beristrikan seorang pemilik salon yang cukup terkenal. Tak satupun deretan kisah perjalanan kesuksesan seorang Ari Baskoro ada nama Airin atau ibunya. Jadi bisa dipastikan mereka sudah sangat lama berpisah.

Tapi, jika sudah sangat lama kenapa Airin tetap masih membenci ayahnya seperti itu? Jika memang kisah pahit masa lalu itu sudah dilupakan, kenapa hanya karena aku datang dan mengaku teman kuliah Airin, ayahnya langsung datang membuat keributan? Dan anehnya lagi, mereka tetap dalam satu kota.
Aku mendesah tak mengerti dengan pemikiranku yag terlalu mendetail ini.
"Sudah jadi nasibku punya nama Ari dan akan dibencinya seumur hidupnya." Aku meluapkan kekesalanku, mengingat tatapan mata Airin yang selalu menatapku nyalang.
Kali ini Dito yang tergelak, menertawakan keluhanku.
"Gue dengar lu dijuluki Marvel seperti Tao Ming tse."
Aku ikut tergelak lagi.
"Tak apa, toh yang memerankan tokoh itu juga tampan. Tak rugi dijuluki tokoh itu," sanggahku.
Yah, tak ada salahnya dijuluki tokoh Meteor Garden yang terkenal egois, anarkis, dan borjuis itu. Memang terkesan mirip denganku.
"Tapi Airin bukan Sancay, dia adalah cinderela. Gadis menyedihkan yang sebenarnya juga putri seorang bangsawan," imbuh Dito memperjelas.
"Bukannya lebih cocok dia jadi putri salju dan kalian bertiga para kurcacinya?" kelakarku disusul pelototan mata Dito
"Sudahlah, gue pulang aja, daripada kena damprat lagi dari si empunya rumah." Aku membuka pintu mobilku,
Tapi buru-buru tangan Dito menghalangi. Aku menoleh tak mengerti.
"Jangan lagi mencoba mencari tau siapa Ari Baskoro," pesan Dito. "karena akibatnya bukan hanya akan di wajahmu, tapi juga di hati Airin." lanjutnya membuatku tertegun cukup lama.

Aku mungkin harus mulai mengerem melampiaskan rasa penasaranku selama ini. Yah, kadang ketidak pedulian bisa menjadi satu bentuk kepedulian itu sendiri.
Maafkan aku, Airin.





Rdb, 09/12/2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar