Kamis, 24 Desember 2015

Teru Teru Bozu 2

"Kenapa menemuinya?" geram Hikaru menatapku lekat, saat aku datang ke kantor konselingnya usai mengunjungi Michi tadi.
Kentara sekali kalo lulusan  s2 dari salah satu universitas yang cukup terkenal di Jerman itu menunjukkan kemarahannya pada orang yang tak seharusnya. Aku pasiennya.

Tapi, kenapa Hikaru menjadi begitu marah hanya karena aku menemui Misagi yang kemudian mempertemukanku dengan tokoh utama teru teru bozu, Sinshiro Michi ? Sosok yang selama ini menjadi misteri tersendiri dalam memoriku yang belum sepenuhnya kembali.
Apa benar Michi adalah potongan puzzle yang hilang itu?

"Aku hanya ingin mencoba mengingat apa yang selama ini terlupa."
"Iya tapi bukan dengan menemuinya." Dan intonasi suara Hikaru makin meninggi.
Aku mengerutkan dahiku maksimal. Aneh.
Tapi kemudian Hikaru menghela nafas panjang.
"Maaf," pintanya menjauh dariku.

Apa benar penyakit amnesia disosiatif bisa berakibat buruk pada otak si penderita jika dipaksakan untuk mengingat? Tapi, aku ingin. Aku benar-benar ingin mengingat memoriku yang menghilang itu. Dan kenapa Hikaru yang notabene adalah dokter kejiwaanku malah melarangku menemui Michi?


Dan ketidak mengertianku makin menjadi saat di lain hari secara tak sengaja aku memergoki Hikaru keluar dari rumah sakit tempat Michi selama ini dirawat. Aku buru-buru turun dari mobilku dan mengejar langkah Hikaru yang sedikit tergesa menuju mobilnya terparkir, cukup jauh dari mobilku tadi.
Tanganku menyusul secepat mungkin ketika Hikaru membuka pintu mobilnya, dan kututup dengan kasar. Hikaru menatapku kaget.
"Kaget?" desisku dengan marah.
"Kau... " Mulut Hikaru sampe menganga saking kagetnya.
"Bukan kebetulan kan kau ke rumah sakit ini saat Michi juga dirawat disini?" tanyaku sinis.

Jelas, sangat jelas terlihat kecemasan yang dipancarkan oleh raut muka dan tatapan Hikaru. Bahkan gerak tubuhnya pun kentara sekali bahwa dia berusaha mati-matian menenangkan diri.
"Beri aku satu penjelasan yang meyakinkan, kenapa kau ada di rumah sakit ini!" seruku lebih menyerupai perintah.

Hikaru, dia sudah seperti saudara laki-lakiku. Sejak SMP orang tuaku sudah jatuh cinta dengan kecerdasan Hikaru yang saat itu telah menjadi yatim piatu. Dan dengan alasan itulah kemudian orang tuaku akhirnya membiayai sekolah Hikaru. Dan kebanggaan orang tuaku kian membabi buta kala Hikaru diterima di universitas bergengsi di kota Tokyo. Tak hanya itu, dia bahkan melanjutkan S2nya di Jerman dengan jalur beasiswa.
Sementara aku? Aku hanya menekuni bakat mengajarku yang menurutku sangat menyenangkan berkomunikasi dengan junior.

Itulah awal 'api dalam sekam' antara aku dan Hikaru. Disatu sisi aku memang tidak ada alasan membenci Hikaru. Dia baik, dan karena dia, aku justru bisa terbebas dari kekangan impian orang tuaku. Karena Hikaru sudah memenuhi impian orang tuaku, aku bisa dengan leluasa menapaki impianku sendiri. Tapi disisi lain, jujur aku kadang dihinggapi rasa cemburu. Hikaru seperti telah merebut orang tuaku.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Hikaru mencoba menjelaskan.
"Lalu seperti apa yang kau pikirkan?" todongku balik, dengan kilatan api kemarahan yang hampir tak bisa kuredam.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Hah?!" Intonasi suaraku makin mengeras, sekaras kepalan tanganku yang sudah tak sabar menunggu giliran melayang ke tubuh Hikaru.
Langkahku maju mendekati Hikaru yang sibuk menghindari tatapan tajamku. Spontan Hikaru mengikuti gerakan kakiku, mundur agar tetap terjaga jarak denganku.
"Kau melarangku menemui Michi karena kau mengenalnya kan? Kau tadi menemuinya kan?"
Aku terus mendekat, dan Hikaru terus memundurkan langkahnya hingga tak sadar kami sudah di jalur jalanana rumah sakit.
Tiba-tiba sebuah mobil datang tanpa kami sadari, atau mungkin terlambat kami sadari. Kemarahanku yang mendidih di ubun-ubun membuatku terlambat merespon.
"Awaaasss...!" pekik Hikaru mendorong tubuhku menjauh dari tengah jalan, sementara dia malah terlempar berguling mencoba menghindari moncong sedan metalik itu.

Tubuhku tersungkur menghantam badan belakang mobil Hikaru seiring kesadaranku yang perlahan berangsur kembali setelah mendengar decitan ban akibat rem yang mendadak. Tapi yang terjadi kemudian, aku terpaku memikirkan kembali kejadian spontan yang hanya berlangsung tak lebih dari dua detik itu.
Beberapa fragmen tak begitu jelas berseliweran seperti lalu lalang kendaraan di jalan luar rumah sakit sana. Awalnya tak begitu jelas tapi lama-lama makin jelas.

"Kenapa selalu kau? Hah?" bentakku dalam ingatan yang makin seperti pemutaran kembali film usang. Dan sosok yang menjadi korban bentakanku adalah Hikaru dengan seorang gadis berdiri di sebelahnya. Keduanya berwajah gelisah, seperti hendak menjelaskan sesuatu yang bahkan tak ingin kudengar.
Dan tampilan fragmen selanjutnya aku tengah mencengkeram kemudi mobilku dengan mata memerah menahan amarah. Mataku tertuju pada dua orang ditrotoar jalan sana. Berjalan beriringan dengan sebuah payung yang melindungi mereka dari rintik hujan. Kuinjak pedal gas kuat-kuat hingga menimbulkan suara meraung sebelum akhirnya mobilku melesat ke arah dua orang di depan sana. Tak ayal dua orang itu yang tak lain adalah Hikaru dan Michi tersentak kaget, Michi mendorong tubuh Hikaru menjauh, sementara tubuh Michi menghantam badan mobilku. Mobilku pun ikut oleng.

"Ryu-chan... !!"
Setengah tak sadar aku mendengar panggilan Hikaru disusul kedatangannya yang berhambur mendapatiku seperti orang linglung.
Panggilan yang hampir serupa dengan yang sedang terputar di rekaman otakku. Panggilan kaget campur...
Aku limbung. Sigap Hikaru menangkap tubuhku.
"Ryu-chan, kau tak apa-apa?"
Mendadak kepalaku serasa berat. Sakit. Mungkin karena ingatan-ingatan mengerikan itu. Kupandangi Hikaru yang cemas, melebihi kecemasanku akan apa yang terjadi pada diriku.
"Ryu-chan... "
Masih sempat kudengar panggilan cemas Hikaru, sebelum kesakitan kepalaku makin menghebat dan merenggut kesadaranku.




Kesadaranku kembali terkumpul seiring denyut nyeri di kepalaku terasa. Mataku mengerjap untuk terbuka.
''Kau sadar? Apa yang kau rasakan?" Buru sebuah suara menyerukan pertanyaan. Hikaru.
Kutatap wajah yang masih sarat kecemasan itu sedikit memicing.

Potongan puzzle yang menghilang selama 2 tahun itu sudah ketemu. Sekarang papan puzzle itu telah sempurna, dan membentuk ingatan yang gamplang untuk kucerna. Mengerikan. Hanya satu kata itu yang mampu mewakili ribuan fragmen ingatan itu.
"Apa yang kau rasakan?" Lagi, Hikaru menayakan keadaanku.

Tiba-tiba aku seperti sosok antagonis menjijikkan. Seperti seorang durhaka yang pantas dicerca.
"Apa yang kau lakukan?" desisku membuat kesiap diwajahnya.
"Ryu-chan, ini... "
"Aku yang menyebabkan Michi seperti itu, aku hampir membunuhmu, tapi kenapa kau masih baik padaku? Kenapa?" geramku lebih pada penyesalan akan apa yang sudah kuperbuat.
Hikaru menunduk.
"Apa kau mengingat sesuatu?" tanyanya terkesan mencemaskan hal yang tak kumengerti.
"Aku mengingat semuanya," jawabku meralat dugaannya,
Wajah Hikaru kembali tegak, kesiap itu kentara lagi merona diwajahnya
"Kenapa kau tutupi semuanya?"
Hikaru menunduk lagi, "Aku terpaksa. Aku harus menyelamatkanmu."

Apa? Menyelamatkanku? Alasan itu terdengar seperti sebuah kewajiban yang harus dipikul Hikaru meski dia di posisi 'korban'. Aku hendak merebut Michi yang sebenarnya kekasihnya sejak masih kuliah di Tokyo dulu. Aku bahkan berniat menabraknya saat melihatnya berjalan berdua dengan Michi. Aku juga telah membuat kekasihnya koma selama dua tahun. Tapi kenapa dia malah seperti punya kewajiban menyelamatkanku? Sebegitu jahatkah aku jadi orang?

"Nasib baik memihakku saat kau amnesia disosiatif dan Michi mengalami vegetatif otak. Aku merasa hanya jalan ini yang bisa kutempuh. Retrograde amnesia. Aku berusaha menanamkan ingatan bahwa hari itu kau kecelakaan dengan Michi."
Aku mengatupkan bibirku mendengar penjelasan Hikaru.
"Dan kau membuatku menjadi orang paling jahat."
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu."
Aku bangkit. Meski sedikit terhuyung aku memaksa, bahkan kusingkirkan tangan Hikaru yang mencegahku turun dari atas ranjang.
"Istirahatlah dulu,"
"Berhentilah mengasihaniku!" tegasku lemah, tapi kemudian aku urung bangkit. Tubuhku terasa tanpa tulang penopang. Lemas. Aku mendesah. Hikaru pun terdengar ikut mendesah.
Kesunyian  melingkupi ruangan ini. Antara aku dan Hikaru memang dekat, tapi tak dipungkiri ada jurang lebar dan dalam membentang. Aku merasa Hikaru telah mengambil apa yang tak menjadi haknya, dan Hikaru seperti merasa sangat bersalah padaku hingga seperti harus selalu mengalah padaku.
"Ternyata, aku sendirilah penyebab semua ini." keluhku hampir tak terdengar.

Aku me-replay kembali semua hal yang telah kulakukan selama ini. Sebelum kejadian di parkiran di rumah sakit tadi, aku merasa aku adalah korban yang sangat menyedihkan. Aku amnesia, kehilangan beberapa potongan penting memoriku. Aku bahkan sempat menjejali seluruh otakku dengan persepsi bahwa Hikaru adalah mutlak perebut semua milikku, orang tuaku dan Michi.
Jadi, dibawah rintik hujan dan lindungan payung dengan gantungan boneka teru teru bozu kecil sore itu, orang yang ditemui Sinshiro Michi bukanlah aku, tapi Hikaru.

Mungkin itulah kenapa Hikaru selalu melindungi satu sisi memoriku. Berharap itu tertidur selama mungkin. Meski bukan itu harapan yang sama untuk 'tidurnya' kekasihnya Michi.

"Itu bukan salahmu, itu sudah takdir." kata Hikaru memecah kesunyian.






Rdb, 24/12/2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar