Masih lekat mataku mengarah pada Evan yang duduk berselonjor didekat pintu masuk dapur. Tempat kerjaku sehari-hari. Bedanya kali ini suasana dapur sudah sepi, maklum ini sudah hampir tengah malam, akupun seharusnya sudah pulang meninggalkan tempat ini. Tapi gara-gara insiden tadi akhirnya aku kembali masuk lagi. Dan masuknya pun bersama Evan, anak pemilik restoran ini. Dengan wajah lebam pula.
Huuuhhh.... kenapa pula mereka berdua tadi bertemu diluar? Rutukku menyesali pertemuan antara Evan dan Giok tadi, karena ujung-ujungnya pasti baku hantam.
Aku mendengus jengkel.
Evan mendongak menatapku.
" Hei... kau mau disitu terus? Kenapa tak sedikitpun berniat mengobati lukaku?"
Aku tergelak tak percaya.
" Apa aku harus? Memang tadi kalian berkelahi aku yang menyuruh? Kalian sendiri kan yang mau adu jago? Kenapa tak di dalam ring tinju saja sekalian? Biar sekalian ada yang jadi juara? Laki-laki dimanapun sama saja." Kataku malah mengomel
" Kau ini..." Geram Evan tak jadi bangkit karena mungkin ngilu dirahangnya lebih dulu menyerang.
Aku tiba-tiba iba juga melihatnya sejak tadi menahan kesakitan. Bagaimanapun dia adalah laki-laki yang kucintai dan juga mencintaiku, Meski hubungan percintaan kami terlalu kebanyakan bumbu keegoisan.
" Perempuan dimanapun juga sama saja, tidak bisa menghargai padahal sudah dibela mati-matian"
" Aku tidak minta dibela dihadapan Giok. Biar saja dia mengkritikku. Toh aku juga tak akan jatuh oleh kritikan itu. Justru malah membuatku ingin terus lebih baik." Omelanku tetap berlanjut.
Kudatangi dia dengan kotak P3K dan sebuah baskom kecil berisi air hangat ditanganku.
" Apa begitu ya sikap meraih sebuah impian?" Tanyanya sedikit aneh, menurutku, karena jarang-jarang bahkan hampir tidak pernah Evan mengurusi impianku yang ingin menjadi chef yang diakui dunia.
" Kalau bisa, apapun akan aku lakukan untuk meraih mimpi itu. Itu adalah keinginan terakhir almarhum ayahku." Jawabku sembari membersihkan luka lebamnya dengan olesan air hangat.
" Dan impianku adalah bersamamu selamanya. Akupun akan melakukan apapun untuk meraih impian itu."
Aku tergelak dengan pengakuan naif Evan.
" Kenapa malah pasang wajah seperti itu? Apa kau masih tak percaya kalau aku bisa membahagiakanmu?" Desis Evan seperti tersindir dengan sudut bibirku yang terlalu melebar.
" Kata membahagiakan itu punya definisi yang luas. Dan aku bukan impian yang sebenarnya yang akan kau tuju."
" Maksudnya?" Tanya Evan tak mengerti, dicegahnya tanganku yang hendak megoleskan obat merah ke lukanya. Dia lebih tertarik dengan perkataanku.
Memang, mungkin terlalu kejam rasanya jika menganggap Evan sebagai pribadi tanpa tujuan hidup. Dia hanya anak orang kaya pada umumnya. Tuan muda yang angkuh, sombong, ceroboh dan semaunya sendiri. Mungkin karena masa depannya sudah terlihat, pewaris tunggal kekayaan orang tuanya, membuatnya tak penting memikirkan jalan impian.
" Kita memang sangat berbeda dalam memandang arti dari impian."
" Kau ini bicara apa? Kenapa suka sekali mempersulit semua hal?" Dengus Evan kesal.
Aku tak langung menjawab, kuoles dulu luka memarnya dengan obat merah.
" Karena di dunia ini memang tak segampang yang kau pikirkan, tuan muda. Kau dan aku memang terlahir dari keluarga yang berbeda. Sejak kecil aku sudah terbiasa menghadapi apapun dalam kondisi yang tidak mudah."
" Lalu apa kau pikir aku selama ini hidup dalam kemudahan?"
" Apa lagi, kau kan tuan muda." Tanggapku sedikt cetus, sambil mengoles obat merah dibekas lukanya yang lain.
Evan tergelak.
" Aku bahkan tak bisa membeli sebotol air mineral jika tanpa uang ayahku. Itu sangat menyedihkan." Katanya seperti menggerutu
" Tapi lebih menyedihkan lagi dia bahkan tak peduli apapun yang kubeli dari uangnya."
Aku terpaku, kuselesaikan lebih cepat kegiatanku mengolesi obat merah pada lukanya.
Evan menggeser tubuhnya menghadap tepat didepanku,
" Kau tau, sebenarnya kita punya satu persamaan. "
Kuarahkan pandanganku ke titik matanya.
" Kita sama-sama mengejar pengakuan."
" Maksudnya?"
" Selama ini dia tak pernah percaya kemampuanku, selalu meremehkan kalau aku bisa melakukan sesuatu. Tapi dia tak pernah memberi kesempatan."
" Itu yang membuatmu berbuat seenaknya, menghambur-hamburkan uangnya?"
" Mungkin itu memang terdengar kekanak-kanakan."
" Itu memang sangat kekanak-kanakan." Ralatku.
" Aku hanya ingin kemampuanku mendapat pengakuan, sama sepertimu yang mengejar pengakuan bakatmu"
Aku tiba-tiba rikuh terjebak di suasana tak biasa ini. Aku buru-buru bangkit, tapi tangan Evan lebih cepat menyambarku. Aku terduduk lagi secara paksa, tapi kali ini aku tertunduk.
" Kenapa kau ingin mengorbankan orang yang kau cintai demi impianmu, padahal aku siap mengorbankan apapun demi orang yang kucintai, demi kau!"
Sungguh, aku tak sadar kapan ini semakin mmburuk, tapi aku memang benar-benar terjebak semakin dalam. Harusnya aku bisa meraih mimpiku menjadi chef terkenal. Tapi gara-gara kisah cinta seperti cinderela ini aku setiap hari harus berhadapan dengan batu sandungan bernama Giok. Dan karena ini, jangankan jadi chef terbaik dari kota ini, jadi chef andalan di dalam restoran ini pun sepertinya sangat sulit. Bahkan bisa jadi mustahil.
" Van, aku..."
" Apa sebenarnya aku tak pernah jadi orang yang kau cintai?"
Detik itu juga mataku langsung mengarah padanya.
" Jangan menatapku begitu. Itu tatapan menyalahkan, seperti tatapan polisi pada penjahat yang baru tertangkap."
" Van..."
" Selama ini aku merasa hanya aku yang selalu berusaha agar kita tetap bersama, dan kau selalu sibuk dengan impianmu."
Dan entah kenapa aku merasa sedikit sakit mendengar tudingan itu. Benarkah aku memang pantas dihakimi begini?
" Bukankah memang ada benyak hal yang membuat kita tidak bisa bersama?" Tanyaku kemudian.
" Tak ada yag tak bisa jika mau berusaha. Kau hanya tak mau berusaha agar semua menjadi bisa." Evan melepas genggaman tangannya, lalu bangkit perlahan.
" Jika memang benar aku tidak pernah menjadi orang yang kau cintai. Dan membuatmu memilih mengejar mimpimu menjadi chef terkenal, jawabannya sangat sederhana."
Aku mendongak, menatapnya yang juga sedang melihatku dengan entah pandangan seperti apa.
" Kau tak pernah menjajarkanku dalam impianmu. Kau tak percaya bahwa aku pantas kau impikan." Lanjutnya dingin, membuatku hampir tak bisa bernafas.
Lalu kaki Evan perlahan beringsut pergi.
" Kau tau kenapa Giok selalu mencela setiap masakanku?" Tanyaku sebelum langkahnya benar-benar menjauh.
Evan berhenti. Tapi hanya diam.
" Karena dia tau kita punya hubungan. Karena dia memegang kartu As-ku."
" Apa untungnya dia tau kita pacaran?"
" Keuntungannya karena aku bisa merugi. " Jawabku menatapnya.
Evan menatapku tak mengerti.
" Dia bisa melaporkan hubungan kita pada pemilik restoran ini, ayahmu. Dan jika dia tau kita punya hubungan, dapat dipastikan aku harus mencopot celemek dan topi ini secepat mungkin. Dan aku harus mengemasi semua impianku. Mengertilah Van, kita tak mungkin berakhir bahagia. daripada akhirnya kita berdua menderita, lebih baik dari sekarang kita putuskan . Karena kalau semakin dalam, sakitnya pun makin hebat."
Evan kembali membalikkan tubuhnya, tapi tak langsung melangkah.
" Baiklah, jika memang aku terlalu banyak menghambat jalan impianmu, pergilah dulu mengejar impianmu. "
Aku sedih mendengar ucapan Evan. tapi... bukankah memang ini yang kuinginkan. Kembali fokus pada impian tanpa adanya nama Evan?
" Aku akan mnunggumu di garis finish. Dan pada saat itu, kau tak kan punya alasan untuk menghindari cinta kita" Kemudian Evan melangkah keluar dari tempat itu. Menyisakan dentuman kecil pada pintu didepan sana.
Tapi dentuman didalam dadaku tak hanya kecil, cukup membuat hatiku sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar