Aku mendesah lagi. Bingung, antara mendekatinya atau hanya melihatnya dari tempatku berdiri ini. Jika aku mendekatinya aku harus menyiapkan sederet bahan obrolan yang bisa menarik perhatiannya, kalo tidak pasti aku akan diusirnya pergi. Tapi kalo aku tetap berdiri di sini aku bisa memperhatikan punggung itu sampai puas. Mengawasinya dalam diam.
Tapi akhirnya aku memilih opsi yang pertama. Meski dengan langkah ragu aku akhirnya mendekatinya.
"Kau di sini rupanya." Kalimat itu yang pertama meluncur dari bibirku.
Sepasang mata yang memerah itu menatapku sedikit kaget, juga sedikit kesal. Aku mencoba tersenyum untuk mencoba mencairkan suasana.
"Apa kau tak kesepian datang ke sini sendirian? Kau kan tau aku paling suka kalo diajak ke sini." Kataku sedikit merajuk.
Tetap tak ada respon, mata itu malah kembali diarahkan ke depan.
Aku mendesah berat lalu mengambil duduk di sebelahnya, di hamparan rumput yang hijau.
Hening beberapa detik, bahkan semilir angin yang menyapa kami berdua seperti alunan tembang surgawi yang memanjakan telinga kami.
Namanya Panji. Sebenarnya bukan nama baru apalagi asing, aku sudah mengenalnya lebih dari separuh umurku. Aku mengenalnya sebagai tetangga sekaligus teman sebaya kala ibu mengajakku pindah ke daerah ini 15 tahun lalu, usai perceraian dengan ayah terjadi. Di tempat baru ini Panji dan keluarganya seperti keluarga baru bagi kami. Kesimpulannya, laki-laki di sampingku ini tak hanya sebatas teman, tapi juga sudah seperti kakak laki-laki bagiku. Dan kami bahkan sering bertukar ibu. Istilahnya memang tak lazim, istilah kami yang menganggap ibuku juga ibunya, dan ibunya juga adalah ibuku.
Aku tak sadar tergelak mengingat semua itu.
"Apa ada yang lucu?" Tanyanya membuatku kaget.
"Hah?''
"Apa kau sedang menertawakan sesuatu?" Tanyanya lagi, dingin.
Aku hampir kesulitan bersikap.
Itulah Panji, jika dalam suasana begini, dia akan mudah tersinggung. Mudah berprasangka buruk. Sekalipun dengan aku.
"Apa kau ke sini memang mau mengolok-olokku karena ayah yang selama ini kubanggakan ternyata ketahuan berselingkuh?" Kali ini nada bicaranya tak hanya dingin, tapi juga sangat emosi.
"Tidak." Sangkalku segera.
Panji mendengus sebal, dan kembali menatap lurus ke depan. Aku mendesah lagi. Tapi kemudian tergelak lirih.
"Apalagi? Kau menertawakan ayahku yang mau menceraikan ibuku?" Suaranya meninggi, benar-benar sudah tersulut emosi.
"Hei, berhentilah berpikiran buruk pada orang-orang di sekitarmu!" Gusarku.
"Lalu kenapa sejak tadi kau tertawa terus?'' Desisnya menatapku lekat, seperti ingin menelanku mentah-mentah.
"Karena aku baru saja berfikir, kita sekarang punya nasib yang tak jauh beda." Jawabku.
Tatapan Panji meredup.
"Apa?"
"Ya, kita sekarang korban perceraian orang tua, bukankah ini takdir yang lucu?"
"Kau menyukainya?" Tudingnya sengit.
Aku terpaku sedetik, mencermati sinar mata yang ditunjukkan laki-laki yang secara tak sadar sangat kusayangi itu.
"Tidak." Jawabku tertahan, menahan sesak dadaku yang tiba-tiba menyerang, "aku tak sekejam itu sampai berharap kau bernasib sama seperti aku." Lanjutku menatap matanya nanar.
Tadi pagi, tiba-tiba Tante Nia, ibunya Panji mengejarku saat aku akan berangkat bekerja. Kentara sekali wajahnya menunjukkan bias kekhawatiran.
"Apa Panji menghubungimu, Ra?"
"Sejak kemarin dia belum menghubungiku, aku juga belum bertemu dia, Bu. Apa ada yang terjadi?"
Tante Nia terlihat makin gelisah, tangannya tak bisa diam.
"Bu, apa yang terjadi?" Kekhawatiranku ikut menyerang dengan tiba-tiba.
"Kemarin Panji bertengkar hebat dengan ayahnya,dan dia... dia tidak pulang. Ibu juga tidak bisa menghubunginya. Ibu kira dia menghubungimu."
"Bertengkar dengan om?" Tanyaku heran, karena itu sangat aneh terdengar. Karena bagi Panji, ayah adalah sosok panutan yang hampir tak ada cela. Paling tidak itu berlaku bagi Panji. Dan itulah yang sering membuatku iri pada Panji.
"Panji memergoki ayahnya..." Suara Tante Nia terpenggal, bias wajahnya menunjukkan sinar yang begitu riskan untuk kusebut. Malu.
Dan berbekal bias sinar di wajah itu, aku akhirnya memutuskan ijin untuk tidak masuk kerja. Puluhan kali aku menghubungi nomor ponsel Panji, tak ada jawaban. Kudatangi semua tempat yang biasa kami kunjungi, tak juga kutemukan dia. Sampai akhirnya aku teringat satu tempat dimana ketika dulu aku bersedih ketika mengingat ayah, Panji selalu membawaku ke situ. Di atas bukit pinggiran kota.
"Aku masih ingat dulu kau selalu bilang padaku, hadapi dengan senyuman. Karena hanya dengan senyuman semua akan jadi lebih ringan." Kataku, mengingat nasihat yang sering dilontarkan Panji dulu.
Panji malah tergelak.
''Apanya yang lucu?" Tanyaku heran.
"Dulu saat kau bersedih, aku kira cukup mengerti perasaanmu. Hingga dengan mudahnya mengucapkan kalimat itu." Katanya, "tapi ternyata itu cuma kalimat sialan yang susah untuk dipraktekkan."
Aku menatapnya tanpa kedip. Mungkin saat ini aku juga hanya merasa cukup mengerti perasaan Panji. Hanya merasa, benar tidaknya siapa yang tau?
"Kenapa waktu itu kau percaya dan menuruti omonganku? Bukankah itu konyol?" Tanyanya menatapku dengan percikan api protes.
Aku memutar posisi dudukku 45 derajat. Menyilangkan kakiku dan bertopang dagu menatapnya dengan senyum kecil.
"Nji, aku memang tak sepenuhnya tau perasaanmu tapi diantara siapapun aku mungkin yang jauh lebih mengerti posisimu saat ini." Kataku datar. Panji hanya diam meski tetap menatapku.
"Aku, di usia yang seharusnya sedang bangga-bangganya pada sosok ayah justru harus menghadapi kenyataan bahwa laki-laki yang paling kubanggakan itu malah meninggalkan aku dan ibu, demi wanita lain."
Mata memerah dihadapanku itu kini menatapku sayu, seperti ketika menghiburku kala aku bersedih. Tatapan yang paling aku sukai dari laki-laki tersayangku ini.
"Tapi, berkat kau dan ayahmu, aku tidak berubah menjadi wanita yang menyedihkan. Kebencian karena rasa kecewa itu tidak sampai menjadi kebencian obyektif."
Ya, untung setelah perceraian 15 tahun lalu itu, ibu buru-buru mengajakku pindah ke sini dan mempertemukan aku dengan keluarga Panji. Aku tak bisa bayangkan andai aku terus berkubang dalam kekecewaanku pada ayahku tanpa ada uluran tangan dari sosok yang serupa, mungkin aku akan menjadi wanita yang tak akan pernah percaya pada cinta selama hidupnya.
Perlahan Panji juga menggeser posisi duduknya, hingga kini kami berhadapan.
"Aku baru menyadari kemarin, ternyata kau jauh lebih hebat daripada aku, Ra." Akunya membuatku tertawa.
"Padahal sejak dulu kau selalu bilang aku gadis cengeng."
Panji ikut tertawa sebentar, lalu terdiam sebentar.
"Tapi kekecewaan itu benar-benar menyakitkan. Sangat menyakitkan."Katanya kembali sendu.
"Hmm... Begitulah takdir, kejam dan menyakitkan." Imbuhku.
"Tapi kenapa dia melakukannya setelah bersama wanita yang dicintainya selama 25 tahun? Bukankah jika itu cinta maka harus selalu bersama apapun keadaannya?"
Kuraih jemarinya, menggenggamnya lembut.
"Seperti angin, cinta itu seperti angin, Nji."
Panji menatapku tak mengerti.
"Datang, singgah, menetap, dan pergi, semua tidak bisa dikendalikan."
Panji melebarkan sedikit sudut bibirnya.
Ya, seperti angin yang berhembus ini, cinta ini pun membelaiku. Itulah mengapa aku membiarkannya menerpaku
"Sangat tidak adil gadis sepertimu tak mendapat cinta yang sempurna." Katanya seperti menggumam. Aku mendelik.
"Apa maksudmu tak mendapat cinta yang sempurna? Aku punya ibu yang sangat menyayangiku, punya Tante Nia yang juga menyayangiku, punya om Banu yang menganggapku seperti anak gadisnya, dan aku juga punya kau." Celotehku tanpa hambatan, membuat sudut bibirnya berubah menjadi senyum.
"Dengan kata lain, aku kehilangan satu tapi aku mendapat tiga, hebat kan?"
Tangan Panji terulur merapikan rambutku yang berderai.
Tapi, aku menyayangimu sebagai apa? Kau menyayangiku sebagai apa? Bathinku bingung.
Aku tergelak mendapati tangan kami ternyata masih bergandengan.
Takdir memang kejam dan menyakitkan.
"Kau tak malu dekat denganku?" Tanyanya tiba-tiba.
"Hah?"
Panji menunduk.
"Setelah ini kehidupan keluargaku akan berubah 180 derajat. Pujian akan sangat mungkin menjadi cemoohan." Desahnya makin menunduk.
"Apa menjadi korban perceraian adalah kesalahan kita? Apa menjadi korban perceraian adalah dosa?" Tanyaku mendikte.
Panji mendongak sedikit.
"Kita bahkan sama sekali tak punya hak memilih terlahir dari orang tua yang akan bercerai pada akhirnya." Ujarku, "kita mungkin hanya harus sedikit memahami mereka, kenapa mereka bercerai." Lanjutku sedikit serak, mengingat kembali ketika aku harus memahami keputusan orang tua diusia delapan tahun.
"Mungkin memang sudah tidak ada jalan selain itu."
Aku melebarkan sedikit bibirku mendengar ucapan Panji barusan.
Mungkin, mungkin juga karena itu yang terbaik dari semua pilihan yang ada.
"Terimakasih, Ra."
Aku sedikit kaget mendengar pernyataannya barusan. Kutatap Panji yang ternyata lebih dulu menatapku lekat.
''Untuk apa?"
"Tetap menerimaku meski aku sekarang berbeda."
Aku tergelak.
"Karena status 'korban perceraian' ?" Tebakku.
Kini giliran Panji yang tergelak.
"Kenapa aku mulai terbiasa dengan istilah ciptaanmu?"
Akhirnya kami sama-sama tertawa.
"Aku tiba-tiba lapar, ayo kita cari makan." Ajaknya seraya bangkit lebih dulu, lalu menarik tanganku untuk bangkit.
''Kau sudah merasa lebih baik?"
Panji mengangguk.
"Tentu saja, dan itu berkat kau."
Kudramatisir kekagetanku.
"Kalo begitu kau harus mentraktirku makanan yang enak." Tagihku.
Panji merangkul leherku,
"Oke, asal kau tetap disampingku seperti ini, apapun yang kau minta, aku kabulkan."
Aku tertawa.
"Oke, Om jin, apapun kau kabulkan kan? Deal!" Kuulurkan tanganku untuk berjabat.
Panji tersenyum dan menyambut uluran tanganku, kami berjabat tangan erat.
Ya, begitu lebih baik, Nji. Tersenyum. Karena kau yang mengajarkanku, senyuman akan membuat semua jadi lebih ringan.
Dan untuk istilah perasaanku pada laki-laki ini, mungkin itu kasih antara sahabat kecil. Mungkin juga sayang antara saudara meski bukan keluarga. Atau mungkin itu memang cinta yang terlambat kusadari keberadaannya. Seperti angin, biarlah itu seperti angin. Menentukan sendiri kemana arahnya.
*Dan cerita ini mengalir begitu saja, sampai bingung berfokus pada apa,
Hehehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar