Pandanganku pada hamparan air danau buatan di taman kota ini perlahan teralih ke sisi lain. Seraut wajah tampan dengan ditopang tubuh tinggi tegapnya berdiri tak jauh dari tempatku duduk dengan nafas yang memburu. Beberapa bulir keringat terlihat mewarnai wajah orientalnya yang khas, Rei.
Langkahnya mendekat, terlihat tangannya memegang sesuatu.
"Apa yang kau lakukan? Bukannya tadi aku sudah bilang untuk menungguku di sana? Kenapa malah berpindah ke sini." Desisnya seperti marah.
''Kau juga tak mau mendengarku tadi. Bukannya aku tadi bilang ini hanya luka kecil, kenapa tetap nekat repot-repot mencari obat?" Balasku.
Terlihat sekali Rei marah dengan sikapku. Dia duduk di sampingku seraya membuka botol antiseptik dan menuangkan ke kapas ditangan satunya.
"Ini hanya luka kecil, Rei." Desisku hendak menghindari kapas itu, tapi dengan cepat Rei menarik lenganku dan sedikit memaksa mengoleskan basahan antiseptik itu ke siku kiriku yang tadi terluka karena tersrempet pengendara motor.
"Sekalipun kecil, tapi ini juga perlu diobati."
Aku tergelak, membuat Rei langsung menatapku. Meski detik berikutnya sibuk mengolesi lagi lukaku.
"Kau mengkhawatirkan luka kecil yang akan hilang sakitnya beberapa jam kemudian, tapi dengan luka yang lebih besar kau malah tak pernah peduli." Ucapku sinis.
Rei, entah kusebut apa dia saat ini. Memang beberapa waktu lalu dia sempat menjadi pemilik hatiku, penjaga hatiku, bahkan juga penentram hatiku. Tapi kemudian aku merasa semua menjadi aneh setelah kedatangan Hiroyuki, sepupu Rei.
''Kenapa kau tak bilang kalo kau dan Hiroyuki sama-sama anggota klub Manga?"
Aku tergelak tak percaya.
"Aku juga mana tau kalo dia sepupumu."
"Tapi kau tau kan kalo dia menyukaimu?"
"Apa?"
Rei tersenyum getir.
"Kau tau itu kan?"
"Lalu apa masalahnya? Dia menyukaiku atau tidak, itu bukan urusanku!" Geramku bangkit.
"Tapi itu urusanku!" Rei ikut bangkit, amarahnya ikut meluap.
Kutatap Rei lebih seksama.
Apa ini? Semacam cinta segitiga kah? Aku dan Rei sama-sama saling mencintai, bahkan sudah terjadi jauh sebelum aku dan Hiroyuki tergabung dalam klub Manga di kampus. Lalu, kenapa Rei harus semarah itu?
"Kenapa?" Tanyaku, tak tahan menerka-nerka sendiri alasan Rei bisa semarah itu.
Tapi ternyata aku tak cukup mendapat apa yang aku harapkan.
"Aku menyayangi Hiroyuki layaknya adik kandungku, dia... jauh lebih penting dari apapun."
"Termasuk aku?" Susulku segera.
Rei menghindari tatapanku.
''Maaf, aku tak bisa melihat Hiroyuki terluka karena aku bersamamu."
Aku tergelak saat itu.
Dan saat ini pun, ketika mengingatnya aku masih tergelak tak percaya.
"Apa kau bermaksud minta maaf dan kembali padaku?" Tanyaku terang-terangan.
Rei tak langsung menjawab, dia seperti lebih sibuk memasang plester untuk menutupi lukaku.
"Apa kau akan memaafkanku?" Tanyanya sambil memberesi alat p3k-nya.
"Tidak."
Rei menatapku sebentar, lalu tertawa lirih.
"Apa tak ada cara agar kau mau memaafkanku?" Tanyanya lagi.
"Tidak usah memikirkannya, hatiku bukan termasuk hati malaikat yang dengan mudah memaafkan sebuah luka."
Kali ini Rei menatapku lekat, serius.
"Usagi, aku berharap kita bisa memulai semuanya dari awal lagi."
Kucondongkan kepalaku sedikit, agar pandangaku tepat di bola matanya. Sekedar memastikan yang diucapkannya barusan benar-benar serius.
"Apa? Kau bercanda?''
"Apa aku terlihat seperti bercanda?"
Aku tersenyum tipis.
''Tidak, itu memang bukan ekspresi bercandamu. Sama seperti waktu itu."
Rei menunduk, seperti terbebani dengan kalimat terakhirku.
"Aku tau aku sudah mengambil keputusan yang salah." Sesalnya
"Tak apa. Lagipula bukan kau yang menanggung akibatnya kan?"
Rei langsung menatapku, seakan bisa dengan mudah menangkap nada sarkastis dalam ucapanku barusan. Kutimpali tatapan itu dengan senyum tipis.
"Usagi, aku tau tak mudah melupakan luka itu, tapi paling tidak biarkan aku sekarang mencoba mengobatinya. Aku ingin bertanggungjawab atas penyembuhan luka itu."
Aku diam dengan setumpuk rasa yang tiba-tiba berjejalan di dadaku.
Kupungut kertas struk didekatku, mungkin struk pembelian milik Rei tadi dari apotik.
"Kau lihat kertas ini, Rei?" Tanyaku mengacungkan kertas struk itu.
Rei menatap tak mengerti. Kuremas kuat-kuat kertas itu, kemudian membukanya lagi.
"Sekalipun aku merapikan kertas yang sudah aku remas tadi, kertas ini tak mungkin bisa rapi seperti sebelum kuremas." Paparku menatapnya yang juga sedang menatapku lekat, "Seperti itulah hati, Rei. Sekali dia terluka, sekalipun luka itu telah sembuh, tetap tak akan bisa membuat hati itu seperti sebelum terluka."
Aku mendesah berat, dan memilih mengarahkan pandanganku ke depan lagi, ke hamparan air danau yang tenang.
Ya, luka itu terlalu dalam. Terlalu sulit untuk sembuh sekalipun Rei sendiri yang menawarkan penyembuhnya. Rei terlalu meremehkan perasaanku demi tanggungjawabnya pada Hiroyuki. Dan apa mungkin kami harus memulai lagi dari awal setelah Rei yakin kini Hiroyuki bisa baik-baik saja?
Aku bahkan tak bisa membedakan siapa diantara mereka berdua yang mempermainkan perasaanku. Hiroyuki dengan cintanya yang kekanak-kanakan, atau malah Rei yang terlalu bersikap dewasa? Aku mungkin hanya terlalu terluka dengan sikap mereka. Merasa harga diri diremehkan, cinta yang terasa dikesampingkan.
Aku tergelak tanpa suara.
"Bukankah seiring berjalannya waktu, luka itu bisa sembuh?" Tanya Rei, apatis.
"Ya, mungkin. Tapi meskipun luka itu sembuh tetap saja meninggalkan bekas. Di dunia ini apa ada luka yang sembuh tanpa bekas? Aku tak sanggup jika seumur hidup harus menanggung bekas itu, Rei."
"Sekarang Hiroyuki pasti bisa jauh lebih menerima, Usagi. Kita bisa... "
"Hiroyuki, Hiroyuki, Hiroyuki... kenapa semuanya selalu berhubungan dengan Hiroyuki? Kenapa aku harus peduli?" Geramku.
Rei termangu mendapati kemarahanku.
"Bahkan kau sampai tak peduli apa yang kurasakan saat kau mementingkan dia, apa itu pantas?"
"Maaf." Sergah Rei hendak meraih jemariku, tapi kutepis.
''Tidak, jangan minta maaf. Ini bukan salahmu. Ini salahku karena mencintai orang yang terlalu sayang pada sepupunya."
Rei menatapku nanar, seperti tak rela aku menyalahkan diri sendiri.
"Sekalipun banyak sekali luka, bukankah ini tetap cinta?" Tanya Rei
Aku diam.
Jika cinta adalah menahan derita, aku mungkin bukan pecinta yang bisa menahan derita itu lama-lama. Aku pecinta yang lebih memilih mengibarkan bendera putih sebelum hancur lebur. Ya, aku bukan orang yang berhati malaikat, yang bisa tetap berusaha terbang meski sayap-sayapnya terluka dan patah.
"Ya, ini cinta." Jawabku akhirnya, dan meskipun nada bicaraku terkesan dingin tapi senyum Rei mengembang.
"Tapi jika cinta berjalan dengan begitu banyak luka, bisakah bertahan lama?" Lanjutku membuat senyum Rei menghilang. Matanya nanar menatapku dengan sederet kata di ujung bibirnya.
"Mungkin kau bisa mencoba mengawalinya. Mungkin Hiroyuki kali ini juga bisa menerima keadaan kita. Tapi aku...'' Aku perlahan bangkit.
Ngilu di siku kiriku menjalar seperti perih di hatiku yang makin menyebar.
"Kau marah?" Desisnya ikut bangkit.
Aku tersenyum menatapnya.
"Andai aku bisa marah, mungkin perih ini bisa menghilang lebih cepat. Tapi ini... entahlah. Aku hanya sudah tak punya kekuatan mengikuti kemauan cinta ini."
"Kenapa pesimis?"
"Bukan pesimis, hanya... aku tak mau terlalu naif, Rei. Belajarlah untuk menerima kenyataan yang tak sesuai impian." Pesanku lalu beringsut.
"Jadi kau sedang balas dendam?" Tudingnya membuat langkah ketiga-ku tertahan.
"Ini bukan balas dendam, Rei. Ini tentang sebuah cara mengakhiri cinta yang sudah seharusnya berakhir." Ralatku, lalu melanjutkan lagi langkahmu meninggalkannya.
Masih sempat beberapa kali namaku bergema diantara derap langkahku. Meski sulit, ternyata bisa kuacuhkan. Aku terus melangkah meninggalkan tepi danau itu.
Ya, meski ini terkesan seperti balas dendam aku lebih suka menganggap ini sebuah konsistensi. Cinta yang pada awalnya tak mampu bertahan karena riak kecil, maka sampai kapanpun tak akan berani berlayar untuk bertarung dengan ombak yang besar.
Sebuah luka meskipun bisa sembuh seiring waktu berjalan, tapi tetap saja meninggalkan bekas. Jika begitu, apakah tidak terlalu kejam jika harus mencoba untuk memulainya lagi dengan resiko akan luka serupa di tempat yang sama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar