Kamis, 24 September 2015

Faith

Wajah cantik Airis pemilik mata bulat indah itu sedikit melotot melihatku setelah kuajukan ajakan untuk keluar dari ruangan ini.
"Apa?" Tanyanya, seperti memintaku mengulangi ajakanku tadi.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, hanya denganmu saja." Kataku sekilas melirik ke arah Nara yang sepertinya lebih sibuk memperhatikan Ewin yang masih sibuk dengan pemeriksaannya dengan seorang dokter dan dua orang perawat.
"Tenang saja, aku tidak akan memakanmu." Kelakarku membuat Airis malah jengkel.
Tapi akhirnya aku berhasil mengajak Airis keluar dari ruangan itu, menuju taman rumah sakit dengan secangkir kopi di masing-masing tangan kami.
"Apa benar ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Airis penuh selidik.
Aku hanya tersenyum samar lalu meneguk kopi milikku.
Airis tergelak, "Kau membuatku keluar agar mereka bisa berdua saja kan?" Dengusnya jengkel.
"Ternyata kau cepat tanggap juga.''
Airis tergelak lagi.
"Mereka perlu waktu untuk bicara berdua saja."
"Aku penasaran soal hubunganmu dengan Nara. Kau yang terlalu mencintai dia atau kau yang terlalu bodoh hingga tak tau kau hanya dipakai untuk pelarian?" Gusarnya menatapku penuh dengan mata bulatnya.
"Aku memang mencintainya, tapi aku yakin dia tidak pernah menjadikanku pelarian."
Airis tertawa sumbang.
"Aku benar-benar bingung dengan kalian bertiga."
Aku meneguk kopiku lagi.
''Aku mengenal mereka berdua jauh sebelum aku mencintai Nara. Aku sempat melihat indahnya cinta mereka sebelum akhirnya hilang tak beraturan karena benturan keegoisan."
Airis menatapku tanpa kedip. Mungkin dia tak percaya aku masih bisa menerima semua hal yang terjadi antara Nara kekasihku dan Ewin, kekasihnya. Karena pada kenyataannya, Nara adalah kekasihku. Dan aku percaya dia mencintaiku, meski kadang Nara sendiri meragukannya.
''Aku bahkan tak yakin bisa mencintaimu, kenapa kau tetap bersikeras ada di sampingku?" Keluhnya kala itu.
Aku tersenyum mengenggam jemarinya yang gelisah.
"Kau bukannya tak yakin, kau hanya perlu waktu untuk meyakinkan hatimu untuk kumiliki." Kataku menatap wajahnya yang tersembunyi dalam gurat luka yang belum sembuh. "Dan aku masih sabar menunggu sampai kau yakin."
Airis tertawa lagi, dan berhasil menyeretku dari secuil kenangan bersama Nara.
"Meski aku tak mengenal Ewin secara menyeluruh, tapi aku sudah mengenalnya jauh sebelum kau ataupun Nara."
"Apa kau baru saja mengukur cinta dengan waktu? Sejak kapan cinta diukur dari berapa lama mengenalnya?" Tanyaku menatapnya penuh. "Bukankah dalamnya cinta itu lebih bisa diukur dari ketulusannya?"
"Jadi apa kau baru saja menyimpulkan kalo selama ini aku hanya memanfaatkan perpisahan antara Nara dan Ewin? Apa kau pikir Ewin tak mencintaiku? Hah!" Geram Airis.
Aku tak menjawab semua pertanyaan Airis yang penuh amarah.
Airis, dia memang jauh lebih mengenal Ewin daripada aku ataupun Nara. Dia datang dari masa lalu Ewin, lebih tepatnya teman kecil Ewin. Tapi menginjak dewasa Airis bersama keluarganya pindah ke Skotlandia. Baru setahun lalu, sebulan sebelum Ewin dan Nara berpisah Airis datang diantara mereka.
Meski aku tak bisa mengatakan Airis pemicu hancurnya hubungan indah keduanya, tapi aku juga tak bisa mengacuhkan sikap Airis yang terlalu mencolok selepas Nara dan Ewin berpisah. Bahkan kemudian tersiar kabar rencana pernikahan mereka yang akan diadakan di Skotlandia, meski semua harus tertunda ketika Ewin kecelakaan di tempat konstruksi dan mendapat luka yang cukup parah.
"Dia..., Ewin, Ewin baik-baik saja kan?" Kentara sekali suara Nara saat mendengar kabar Ewin mendapat kecelakaan di tempat kerja yang cukup serius.
Aku bingung menjawabnya. Kalo aku bilang Ewin baik-baik saja aku melihatnya sendiri keadaannya tadi yang jauh dari kata baik-baik saja. Tapi kalo aku bilang kondisinya cukup parah, aku takut Nara akan semakin histeris.
"Okan, jawab aku, luka Ewin tidak parah kan?" Kali ini suaranya lebih seperti membentakku.
Aku hanya mencoba tersenyum, seraya menggenggam tangannya.
Aku mendesah.
"Apa kau tau Ai, kadang kita harus berdamai dengan masa lalu agar kita bisa bahagia hari ini."
Airis seperti tak menggubris omonganku dan malah meneguk kopinya.
"Mereka berpisah bukan karena saling benci, jadi besar kemungkinan cinta itu tak mudah untuk hilang. Dan bisa dibuktikan pada keadaan seperti ini."
"Kenapa kau memberi jalan orang yang kau cintai meninggalkanmu? Apa itu yang kau sebut cinta?" Delik Airis.
"Lalu apa definisimu tentang cinta? Membenci masa lalunya? Bukankah aku tadi bilang kita harus berdamai dengan masa lalu agar bisa bahagia hari ini?" Sanggahku.
Airis tergelak.
" Jika itu cinta sejati, maka akan tertarik dengan sendirinya. Dan jangan pernah mengira kau bisa mengatur haluan cinta, karena kau tak akan bisa." Kataku lagi.
Airis menatapku lekat dan penuh selidik.
"Katakan sejujurnya padaku, apa maksud dari semua pembicaraan ini, Okan? Jangan bilang kau menyuruhku melepaskan Ewin agar bisa bersama lagi dengan Nara."
Aku diam, berharap Airis bisa mengerti yang kumaksud tanpa harus kujelaskan lagi.
"Apa kau juga bermaksud melepaskan Nara? Apa kau sudah gila?" Lanjut Airis meninggi.
"Karena itu cinta sejati... "
"Bullsit dengan cinta sejati. Aku tak akan melepaskan apalagi memberi kesempatan pada Nara untuk kembali lagi pada Ewin. Tak akan pernah, dengar itu!" Marahnya lalu beringsut pergi meninggalkanku pergi.
Aku mendesah berat. Dan memang berat memutuskan hal yang sama sekali bukan keinginan kita. Melihat bagaimana cemasnya wajah Nara juga melihat bagaimana damainya tatapan mata Ewin tadi, aku benar-benar tak bisa berbuat apapun selain pasrah dengan arus yang akan menghanyutkanku.

Sekembali aku ke ruang perawatan Ewin, Ewin sudah terlelap dan Nara berdiri sedikit jauh meski dengan mata yang tak pernah lepas dari tempat Ewin berbaring. Sejenak aku terdiam tak langsung masuk, mengamati dua orang yang meski saling cinta tapi seperti tak punya pilihan selain berpisah.
"Dia sudah tidur." Kataku pelan, dan hanya mendapat respon deheman pendek dari Nara.
"Aku...."
"Terimakasih." Sela Nara tiba-tiba. Aku refleks menatap pemilik wajah yang sangat kuimpikan bisa tulus mencintaiku itu.
"Untuk apa?"
Nara menatapku dengan senyum.
"Semuanya.'' Jawabnya membuatku tersenyum.
"Aku tidak bisa memaksamu melupakan masa lalumu atau sekedar menyuruhmu untuk tidak terikat lagi dengan masa lalumu. Aku hanya berharap berdamai dengan masa lalumu bisa membuatmu bahagia bersamaku.''
Nara menatapku lekat. Dan perlahan tatapan itu menjadi memburam.
"Kenapa kau selalu yakin kita bisa bahagia bersama?" Tanyanya serak.
Aku tersenyum dan merangkul pundaknya yang sedikit gemetar.
"Karena kita hanya bisa hidup dengan keyakinan." Jawabku yakin.
Dan dengan masih dalam rangkulanku, kami melangkah bersama keluar dari ruangan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar