Rabu, 23 September 2015

Nightmare

Aku terpaku menatap setiap inchi sudut ruangan yang terbilang mewah ini. Dan yang paling membuatku tertegun tak percaya adalah bola kaca yang didalamnya sepasang kekasih yang sedang berciuman, yang jika posisinya dibalik maka akan ada salju menghujani keduanya.

Meski sudah cukup lama, aku masih ingat dengan jelas bola kaca itu 10 tahun lalu pernah kuhadiahkan pada Farah yang sangat menyukai salju kala itu dan sangat ingin berdiri diantara hujan salju. Tapi kenapa benda itu sekarang ada di sini, di apartemen milik Jihan?

Otakku berfikir keras, mengingat setiap detail kenangan selama dua bulan terakhir ini sejak kenal dan dekat dengan gadis glamour nan seksi bernama Jihan.
''Kenapa kau seperti tak suka melihatku? Apa dimatamu aku terlihat kurang menarik?" Tanyanya kala itu, di pertemuan kedua, di sebuah restoran hotel bintang lima. Waktu itu atasanku menjamuku karena aku telah berhasil memenangkan tender yag selama ini diincar oleh perusahaan. Dan aku benar-benar tak percaya 'teman wanita' atasanku adalah Jihan, gadis yang secara tak sengaja seminggu lalu ada di satu lift apartemen denganku.
"Hei... kau tak usah menggoda Raka, dia bukan laki-laki yang menyukai wanita berbaju seksi sepertimu." Sergah pak Anton, atasanku, seraya menyentil genit hidung jihan.
Aku gerah melihatnya,  dan saat menyadari arti tatapan mata Jihan kala itu....

"Sedang apa kau disini? Kenapa kau bisa masuk?" Tanya sebuah suara di belakangku.
Aku menoleh dan mendapati sesosok gadis berpakaian gaun seksi lagi mahal. Entah harus kupanggil siapa dia, Jihan ataukah Farah?
"Kau... " Suaraku terpenggal dengan sendirinya, kutelan dulu ludahku yang terasa menyangkut di kerongkongan. "Siapa sebenarnya kau?" Lanjutku hampir tak bersuara.
Jihan malah menyunggingkan senyum sinisnya.
"Memang siapa yang kau harapkan? Farah gadis lugu itu?" Tanyanya menohok hatiku.
"Kau... benar-benar Farah?"
Senyum sinis Jihan berubah jadi gelak tawa sombong.
"Kalo kau bukan Farah, lalu kenapa kau punya bola kaca itu?" Tanyaku menunjuk bola kaca di atas meja kecil disudut ruangan.
Jihan tetap bersikap tenang, bahkan seperti sedang menguji kesabaranku.
"Apa aku sama sekali tak mirip farah yang lugu itu?"

Aku termangu, kuamati lebih seksama gadis yang hanya berjarak kurang dari dua meter dari hadapanku itu. Dari awal aku memang merasa tak asing dengan tatapan mata itu, tapi aku tak mungkin menyangka Jihan adalah Farah. Mereka dua orang yang berbeda. Dari segi penampilan wajah, sampai cara berpakaian sangat bertolak belakang dengan kepribadian Farah. Jadi, mana mungkin gadis dihadapanku ini adalah Farah? Gadis baik nan lugu yang 10 tahun lalu sangat dekat denganku. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi urat nadiku. Tapi....
"Baru 10 tahun, tapi kau sudah tak bisa mengenaliku. Apa aku saja yang bisa mengenalimu sementara kau tak bisa mengenaliku?"
"Farah... jadi kau benar-benar.... " Ucapku terbata-bata, dengan langkah gemetar mendekatinya.
"Tunggu." Cegahnya pada langkahku, aku tak mengerti meski tetap berhenti.
"kapan kau mengenaliku sebagai Farah? Apa hanya karena bola kaca itu?" Lanjutnya telak.
Aku menunduk.
"Maaf, aku memang sedikit terlambat mengenalimu.''
Jihan tertawa.
"Sedikit kau bilang? Kau sangat  terlambat."
''Aku tau. Tapi kenapa kau sekarang begini, Far? Jangan menghancurkan diri bersama orang-orang bejat itu."
Jihan tertawa lagi.
"Kau yang pertama kalinya membuatku begini. Aku sudah hancur saat kau meninggalkanku dengan temanmu yang bejat itu!" Geram Jihan, sangat jauh dari Farah yang kukenal dulu.
"Aku tak pernah meninggalkanmu, apalagi meninggalkanmu padanya."
Farah tergelak sadis.
"Apa itu yang disebut alibi?"
"Aku tidak pernah meninggalkanmu, kumohon percayalah dan beri aku kesempatan untuk menjelaskannya." Suaraku meninggi, berharap Jihan tak terus-teruskan memojokkanku dengan kesalahan terfatal dimasa lalu.

Yang pasti aku tak pernah meninggalkan orang yang kucintai itu. Aku hanya menyuruhnya menunggu sebentar di tempat Doni saat aku hendak menghadiri interview tahap akhir. Tapi sekembalinya aku, yang kutemukan hanya kemarahan Farah. Kemarahan yang tak pernah kupahami, paling tidak sebelum hari ini. Dan ketika hari ini aku menyadari kesalahan yang telah kubuat, rasanya jauh lebih menyesakkan dadaku daripada penderitaan yang kujalani 10 tahun terakhir ini dalam pencariannya.
"Farah..." Desisku hendak menyentuhnya, tapi buru-buru tubuh  itu menghindar.
"Aku tak tau kalo akibatnya separah itu, aku tak pernah meninggalkanmu pada Doni, apalagi menjualmu. Tidak, Farah." Keluhku menahan tangis yang hampir sempurna menyerangku.
"Aku sudah tidak peduli semua itu. Sejak saat itu, aku hanya berjanji satu hal. Aku akan mengejarmu naik ke atas untuk menjatuhkanmu." Tegasnya penuh api kebencian di matanya."dan jangan panggil aku Farah. Aku sudah melupakan nama gadis lugu dan tak bisa apa-apa itu." Lanjutnya.
Kutatap lekat wajah penuh kemarahan dihadapanku itu. Rasa sesal dan bersalah menyerangku dari berbagai sudut. Harusnya dulu aku tak meninggalkannya pada Doni. Harusnya dulu benar-benar kutanyai apa yang sebenarnya terjadi. Harusnya aku tetap disampingnya sejak saat itu. Harusnya, harusnya, harusnya...
Mataku mengerjap seiring kesadaranku kembali. Kubuka perlahan mataku dan langsung kutemukan wajah cantik nan anggun dalam balutan jilbab syar'i.
"Apa kau mimpi buruk lagi?" Tanyanya.
Aku menarik nafas lega. Karena tenyata, sekali lagi itu semua hanya mimpi.
Aku tersenyum seraya menarik jemarinya yang salah satunya terhias cincin emas tiga gram, seperti yang melingkar pula di salah satu jariku.
"Pasti kau lupa lagi, tak baca do'a sebelum tidur." Selidiknya mengusap sedikit keringat di keningku.
"Tak apa, hanya mimpi. Yang penting semua baik-baik saja." Kataku meyakinkannya, juga diriku sendiri.
Senyum itu pun mengembang dengan manis dibibirnya, istriku, Farah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar