Minggu, 29 Oktober 2017

Kawin Kontrak



Eksan menyodorkan secarik kertas ke hadapan Tantri. Sebuah cek. Tantri mengambil kertas itu dan memandanginya dengan kerutan di dahinya yang terpayungi jilbab hitam sebagian. Ekspresinya bukan langsung bersorak girang seperti kebanyakan orang yang menerima cek, tapi lebih pada berfikir dulu, meneliti dulu, seakan-akan butuh beberapa menit untuk merealisasi apa ekspresi selanjutnya yang akan dimunculkannya.
"1 milyar, langsung bisa kamu cairkan atau ditransfer ke rekening pribadimu." Eksan menjelaskan diantara kegiatannya memberesi kertas cek dan bolpointnya, dimasukkan kembali ke dalam tas kerjanya. Lalu mengangkat cangkir kopinya.
Tantri terlihat makin serius meneliti secarik kertas persegi panjang itu.
"1 milyar itu berarti seribu juta kan? Berarti nolnya ada berapa ya?" Pertanyaan lugu Tantri berakibat Eksan tersedak kopi yang baru disesapnya. Untung saja tidak sampai muncrat.
"Yak, kamu ini lulusan apa sih, 1 milyar saja nolnya gak tau?" desis Eksan kesal.
Tantri mengedikkan bahunya cuek, "Bukannya gak tau."
"Trus?"

"Gak ingat."
Eksan sampai ingin menyiramkan isi cangkirnya pada wanita yang baru ditemuinya sejam lalu itu di sebuah taman sudut kota.
"Maklum, aku baru kali ini liat angka duit semilyar." lanjut Tantri tetap cuek.
Eksan mendesah dengan setengah tergelak, disesapnya lagi kopinya.

Sejam lalu Eksan dan Tantri tak sengaja bertemu di sebuah bangku taman sudut kota...
Eksan mengendurkan dasinya yang serasa mencekik lehernya. Dihempaskan tubuhnya pada sebuah bangku taman. Jadwal kunjungan ke beberapa pabrik seperti yang diperintahkan mamanya tadi pagi sungguh membuat Eksan ingin menenggelamkan diri ke danau di tengah taman itu. Makanya setelah keluar dari pabrik terakhir, Eksan menyuruh sopirnya untuk menurunkannya di luar taman ini. Dan sopirnya disuruh pulang saja.
"Tapi, Pak..." Sopirnya yang umurnya sebenarnya sebaya dengan Eksan hendak membantah.
"Kalo sampai rumah, dan Ibu suri tanya, bilang aku sedang ingin bertemu orang dan gak ingin diganggu. Beres kan?"
Si sopir mengangguk ragu. Dan saat mobil Marcedes metalik itu merayap lagi, Eksan baru menyadari kalo tas kerjanya masih ditentengnya.
"Aiishh... ini kenapa tadi kamu ikut sih?" bentaknya pada tas yang diangkatnya.
Bisa saja Eksan melemparkan tasnya ke semak-semak. Tapi Eksan teringat kalo di dalam tasnya ada beberap dokumen penting yang besok pagi pasti ditanyakan Mamanya. AKhirnya Eksan melangkah masuk ke taman menenteng tas kerja. Sudah mirip banget eksekutif muda yang baru pulang kantor.
Sore hari taman memang tepat sekali untuk bersantai. Banyak anak-anak dan orang-orang yang melepas penat atau sekedar jalan-jalan menunggu malam. Dan Eksan selalu suka berjalan-jalan di taman jam-jam seperti ini. Mengamati orang-orang dengan ekspresi yang beragam dan membayangkan kehidupan mereka yang sudah pasti berbeda dengan kehidupannya.
Eksan, dia putra tunggal seorang pengusaha sukses Arini Widyayanti. Mungkin banyak yang mengenal wanita tangguh itu. Terlebih di kalangan pebisnis di negeri ini. Benar, Eksan adalah putra tunggal seorang pengusaha wanita tersukses di negeri ini. Memiliki lebih dari 6 pabrik garmen dan makanan kaleng. Juga beberapa supermall dan puluhan usaha lainnya. Mungkin saking workholic-nya, sejak Papa Eksan meninggal saat Eksan baru menginjak SD, Arini tak pernah menikah lagi.
Dan meski Eksan tak se-workholic mamanya, tapi Eksan menjadi pribadi yang juga malas menikah. Jadi saat Mamanya mendesak untuk segera mencari pasangan karena umur Eksan sudah lebih dari 30 tahun, Eksan menjadi lebih malas pulang ke rumah.
"Mama gak peduli perempuan seperti apa pilihanmu. Yang penting kamu mencintainya. Mama gak akan menjodohkanmu dengan anak-anak relasi Mama. Mama gak butuh merger atau akuisisi seperti yang banyak pengusaha lakukan. Itu karena Mama sayang kamu, Eksaaann..."
Itu ceramah Arini kepada putranya beberapa hari lalu saat mereka makan malam. Dan Eksan malah sibuk menyesapi cangkang-cangkang lobster. Dan itu membuat sang Mama marah.
Eksan mendesah, nyaris meluruhkan tubuhnya penuh. Disandarkan kepalanya ke sandaran bangku. Menatap langit sore yang indah.

"Sebenarnya dulu Eksan punya pacar."
Ingatan Eksan kembali mengembara.
"Benarkah?" pekik sang Mama setengah histeris. Seakan-akan pernyataan itu sebuah titik terang kalo kisah percintaan putranya pernah terjadi. Sudah seperti sebuah keajaiban dunia.
Eksan memang terkesan seperti malas berhubungan dengan yang namanya perempuan. Temannya semua laki-laki, meski dia yakin dia bukan gay atau punya tanda-tanda menjadi gay. Mungkin karena teman-temannya juga tak ada yang punya kelainan gender. Eksan hanya malas berhubungan dengan kaum hawa. Karena baginya, satu wanita dalam hidupnya saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.
Arini memang workholic, tapi sejak dulu selalu punya waktu untuk putra tunggalnya.  Itu yang membuat Eksan seperti selalu terikat  Mamanya.
"Tapi itu dulu, sekitar 7 tahun lalu, waktu Eksan masih kuliah. Dan Eksan bahkan lupa namanya."
Plaaakkk..
Arini memukul tangan putranya sedikit keras, membuat Eksan memekik.
"Maa... sakit!"
"Kamu ya, masa punya pacar sampai lupa namanya?"
Eksan nyengir seraya mengelus-elus tangannya yang baru menjadi korban pemukulan.
"Sebenarnnya bukan pacar sih, ya... kalo dianggap pacar, ya kaya pacar semalam lah. Lagian itu juga pas Eksan dipaksa ikut Mama ke daerah mana itu, yang banyak hutan jatinya?"
"Blora?"
"Apalah namanya, pokoknya selang beberapa bulan aku tanya kenalanku yang disana, katanya dia sudah menikah dan sedang hamil."
Arini tersedak air yang baru diminumnya.
"Hamil?"
Eksan manatap ekspresi Mamanya. Eksan tau sudah salah mengarang cerita fiksi di hadapan Mamanya.
"Jangan-jangan itu anakmu, San?"
Kini Eksan yang tersedak, bahkan Eksan tidak sedang minum atau makan apapun.
"Maa... "
"Katamu tadi dia cuma pacar semalam kan? Waktu itu kamu juga bercinta dengannya kan?"
Eksan menelan saliva-nya sedikit kesulitan.
Mampus gue!

Eksan mendesah lagi.
Akibat cerita fiksi yang diceritakan pada Mamanya secara tak berencana, akhirnya Eksan malah dipaksa Mamanya untuk mencari wanita itu dan memastikan anak itu cucunya atau tidak.
Susah memang kalo punya Mama yang sudah ingin punya Mantu dan cucu.
Kenapa sih Mama gak menjodohkanku dengan anaknya siapa pilihannya gitu? Kenapa malah buat aku susah begini?
Eksan menegakkan tubuhnya saat seorang wanita melewatinya dan duduk di bangku sebelahnya. Rok panjang, kaos panjang, jilbab besar.
Sudah seperti dandanan teroris, pikir Eksan saat matanya sempat mengikuti pergerakan wanita yang tangannya sedang memegang ponsel.
"Mbaaak... aku mana punya duit segitu? Lagian jatah bulanan udah aku tambahi, udah aku transfer kan? Ini ada juga cuma cukup untuk biayaku sebulan disini."
Eksan mencoba acuh dengan suara sedikit meninggi wanita itu. Dan kembali merebahkan kepalanya pada sandaran bangku, lalu memejamkan matanya.
"Iya... aku tau mbak, tapi... ini Kia bahkan minta tas baru juga aku janjiin bulan depan."
Eksan masih bisa mendengar percakapan wanita itu dengan seseorang di ponselnya yang dipanggilnya 'mbak' itu.
"Masa iya, aku perlu cari suami kaya raya biar hutang-hutang di rumah lunas?"
Mata Eksan langsung membelalak. Untung dia masih bisa menahan tubuhnya tak terlonjak. Lalu samar-samar Eksan mendengar suara isak. Eksan belum merubah posisinya, hanya menoleh sedikit ke arah wanita dibangku sebelah. Benar, kini wanita itu menutupi wajahnya. Sedang terisak lirih. Akhirnya Eksan menegakkan tubuhnya sempurna. Dirogohnya saku celananya, lalu dikeluarkannya bersama sebuah sapu tangan.
"Ambilah!" Ucap Eksan menyodorkan sapu tangannya ke arah wanita itu.
Perlahan wanita itu mendongak dan menatap Eksan dengan sisa air matanya.
Wajah natural tanpa maskara, eye shadow, eye liner, atau blush on. Jadi biarpun berlinang air mata gak akan seberantakan wajah wanita yang bermake-up lengkap.
"Terimakasih." katanya menerima sapu tangan itu dan dibuatnya untuk mengusap sisa-sisa air matanya.
Eksan masih diam-diam mengamati wanita disebelahnya ini. Lalu mendadak muncul sebuah ide. Ide gila mungkin.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Eksan sok baik, sok akrab pula.
Padahal sebenarnya Eksan sangat dingin dengan yang namanya wanita. Kalo tak begitu, mana mungkin sampai tersiar khabar kalo ternyata dia seorang gay. Untung Eksan tak menggubris itu. Teman-temannya pun malah menertawakannya karena mereka tak pernah merasa diri mereka gay, terlebih menganggap Eksan gay. Eksan hanya tak suka bercinta. Itu saja. Mereka lebih suka menyindir Eksan sebagai biksu. Dan Eksan juga tak peduli sindiran itu.
Wanita yang kalo dilihat lewat mata laki-laki terbilang pas-pasan itu malah tergelak.
Ya, benar, sangat standar. Wajah tak jelek, tapi juga tak cantik. Mungkin dimata Eksan nilai plusnya karena wanita ini bisa terlihat seperti ini meski tanpa make-up. Berbeda dengan perempuan metropolitan pada umumnya yang kecantikannya meningkat 90% karena make-up. Kalo tak bermake-up mereka kebanyakan sangat jauh dari standar.
Penampilannya pun jauh banget dari standarisasi wanita kekinian. Kalo pun kini banyak perempuan kekinian memakai hijab, style busana mereka pun sangat beragam. Ada yang pake cardigan, bolero, atau apalah itu namanya. Tapi wanita di sebelah Eksan ini sangat simple banget. Rok panjang polos, kaos panjang biasa, dan jilbab besarnya juga biasa.
"Tidak, terimakasih. Ini saja sudah cukup." Wanita yang ditaksir Eksan umurnya sudah lebih dari 25 tahun itu tersenyum kecil memperlihatkan sapu tangan pemberiannya tadi.
"Eksan." Kini Eksan mengulurkan tangannya, mengawali perkenalan.
Wanita itu sedikit meragu, meski akhirnya menyambut uluran tangan Eksan. "Tantri."

Dan.... akhirnya dikafe inilah kemudian mereka berdua. Setelah secara to the point Eksan mengatakan maksud dan tujuannya.
"Jadi ini maksudnya, kamu mengajakku kawin kontrak?" tanya Tantri meletakkan kembali selembar cek yang sepertinya sudah puas ditelitinya.
"Semacam itulah. Kamu hanya perlu berperan sebagai pacarku dulu yang aku bahkan lupa namanya. Kukenalkan pada Mamaku. Kalo Mamaku langsung menyuruhku menikah, maka kita menikah. Setelah 6 bulan, kita bercerai. Kamu lanjutkan kehidupanmu, aku juga akan kembali pada kehidupanku. Simpel kan?" Eksan memaparkan semudah mungkin untuk dipahami.
"Aku punya anak."
Eksan berfikir dua detik.
"Owh, itu malah bagus."
Tantri mengerutkan dahinya.
"Menurut cerita yang kuceritakan pada Mamaku, pacarku itu sedang hamil dan Mamaku mengira itu adalah anakku."
Tawa Tantri meledak. "Maksudmu, anakku disini juga ikut berperan?"
Eksan mengangguk, "Anggap aja dia anakku. Lima tahun? Enam tahun?"
"Lima setengah."
"Perfect!"
Mata Tantri menyipit. Memandang Eksan sebagai orang yang kurang waras. Apa iya ada orang yang dengan mudah diajak berkoalisi hanya karena kepentingan yang serba kebetulan saling berhubungan? Berani membayar orang satu milyar hanya untuk jadi pacarnya? Jaman sekarang, sejuta pun bisa untuk menyuruh orang membunuh orang lain. Ini kenapa uang semilyar hanya dipakai untuk menyuruh orang menjadi pacarnya, kalo perlu istrinya untuk jangka 6 bulan saja?
"Kamu gila ya?" desis Tantri.
Eksan tergelak, "Apanya yang aneh? Dalam hal ini kita semua diuntungkan. Aku paling tidak akan terbebas dari kejaran Mama yang menyuruhku menikah selama 6-7 bulan. Dan kamu dapat uang satu milyar. Lebih untung daripada harus nyari suami kaya raya dulu kan?"
Tantri sedikit kaget mendengar kalimat terakhir itu. Ada sedikit bias malu menyergap pipinya. Apalagi ditambah tatapan Eksan yang terkesan begitu menyindir.
"Oke, deal." Tantri mengulurkan tangannya.
Kini Eksan yang terhenyak.
"Kenapa? Meragu?"
Eksan malah tergelak. " ternyata wanita sama saja, semua matre, mata duitan."
Tantri ketularan tergelak. "Semua kan? Jadi kenapa kaget kalo aku juga termasuk? Lagipula kamu sendiri yang mengajak membuat kesepakatan ini. Hanya wanita bodoh yang tak butuh uang karena sekarang apa-apa perlu uang."
Eksan mencoba mengacuhkan itu. Benar juga kata temannya, kalo wanita didebat dengan 1 kalimat, dia akan membalasnya 10 kalimat. Itu juga salah satu alasan Eksan menjauhi makhluk bernama wanita.
Wajah tertutup jilbab hitam itu meletakkan tangannya ke meja. Menjauhkan cangkir tehnya ke samping. Lalu menatap Eksan lekat.
"Dengar, saat ini, aku benar-benar butuh yang namanya uang. Aku punya 5 kakak yang sudah berkeluarga, tapi semuanya sedang kesulitan. Aku juga punya anak perempuan yang bahkan harus kutitipkan pada salah satu kakakku karena aku harus mencari uang."
"Lalu suamimu?" tanya Eksan sedikit ragu. Hal yang sejak tadi terlupa untuk dipikirkan Eksan. Bagaimana kalo Tantri masih punya suami? Sama saja dia mencari gara-gara dengan rumah tangga orang.
Tantri menunduk sedikit. "Sejak setahun lalu dia kabur dengan pacar lamanya, akhirnya aku menceraikan diri darinya."
Eksan terdiam beberapa detik meresapi kalimat Tantri yang terkesan angkuh meski kenyataannya rapuh.
"Jadi___"Tantri mengangkat wajahnya lagi, menatap Eksan dengan sinar keyakinan, "___tak ada salahnya kan aku menerima kesepakatan gila ini? Daripada aku gila mendengar keluhan para kakakku, juga mencoba mencukupi kebutuhanku yang makin menggila, aku lebih baik seperti ini kan? Dapat semilyar hanya dengan berperan sebagai istri orang selama 6 bulan." Tantri mengibaskan kertas ceknya tadi.
Mungkin bagi Eksan ini cukup beresiko kalo sampai Mamanya tau sudah dibohonginya. Eksan bukan bermaksud menguasai kekayaan mamanya, yang kata mamanya akan dilimpahkan padanya kalo mau menikah. Eksan hanya tak rela kalo sampai hasil kerja keras mamanya selama hidupnya malah dimanfaatkan orang-orang serakah macam om dan tantenya. Dan dengan memilih Tantri sebagai partner untuk misi ini memang sudah pas.
Tantri, jika Eksan lihat secara sekilas, adalah wanita yang polos. Dia mungkin matre, tergoda uang semilyar meski harus kawin kontrak dengan orang yang baru dikenalnya, tapi perlu digaris bawahi kalo dia tergoda uang untuk membereskan masalah keuangan keluarganya. Jadi ini cukup berbeda jika disamakan dengan wanita-wanita pada umumnya yang memang nyata-nyata matre. Yang bahkan rela menjadi simpanan para pengusaha untuk memenuhi hasrat seks juga hasrat berbelanja.
Eksan  disadarkan tatapan Tantri yang mendesak untuk segera menyambut uluran tangannya. Eksan mendesah panjang dan akhirnya mengangkat tangan kanannya. Mereka pun berjabat tangan.
"Oke, deal!" ucap mereka bersamaan.
Dan terjadilah kesepakatan itu.
***



“Ini duit apaan, Tan?” tanya Mbak Mia di seberang telpon, saat Tantri menelpon dan mengabari sudah mentransferkan uang sebesar 50 juta ke rekeningnya.
“Udah, gak usah banyak tanya, pokoknya sekarang beresi semua hutang-hutang Mbak Mia.” Tandas Tantri setengah jengkel karena merasa serba salah menghadapi kakaknya yang terlalu banyak terlilit hutang hingga membuat Tantri selama ini sering dikejar-kejar dimintai pertolongan untuk mencarikannya pinjaman.
“Ya gak bisa begitu dong, Tan. Ini duitnya banyak banget lho.”
“Utang Mbak Mia juga banyak kan?”
Diam. Tak ada sahutan.
“Pokoknya beresi semua hutang-hutang yang ada, aku mau menelpon Mbak Upik. Assalamuallaikum.” Lalu Tantri menutup pembicaraan.
Eksan yang sejak tadi memperhatikan itu kemudian mendorongkan sebotol air mineral ke arah Tantri.
“Minumlah dulu, sudah hampir sejam kamu menelpon kesana kemari seperti pekerja yang dikejar deadline.”gusar Eksan yang memang tak pernah suka melihat orang yang sibuk sendiri.
“Aku sudah cerita kan kalo punya 5 saudara yang semuanya sedang dalam kesulitan finasial?” Tantri mencoba membuka tutup pintu air mineralnya, tapi mungkin karena tangannya yang cukup berkeringat, menjadi sangat kesulitan.
Eksan menegakkan duduknya lagi dan meminta kembali botol minuman itu. “Iya… tapi aku tak menyangka hutang saudaramu itu banyak-banyak.” Sekali putar Eksan berhasil membuka tutup botol minuman itu dan kembali menyodorkan ke Tantri.
“Namanya juga orang kecil, adat gali lubang tutup empang, sampai kemudian lama-lama semua berlubang dan jadilah danau yang sangat luas.”
Eksan tertawa mendengar perumpamaan yang dipakai Tantri untuk mengungkapkan tentang hutang. Tak sadar Eksan memperhatikan Tantri yang sedang menikmati setiap tegukan air dalam botol yang dipegangnya. Dan Eksan sempat tergagap saat Tantri kembali menatapnya.
“Besok kita temui Mamaku.” Ucapan Eksan seperti sebuah putusan.
Tantri tersedak, sampai terbatuk-batuk. Eksan geleng-geleng kepala dan menyodorkan boks tisu ke arah Tantri.
“Kenapa? Takut?” selidik Eksan, cukup takut juga kalo kemudian Tantri ciut nyali dan membatalkan perjanjian lalu kabur. Tapi Eksan juga tak mau ambil pusing kalo sampai Tantri melanggar perjanjian yang ada apalagi uang sudah ditransfer dan bahkan beberapa sudah digunakan Tantri. Dan Eksan bukan orang bodoh sehingga surat perjanjian yang mereka tanda tangani kemarin dibawah materai, jadi Eksan bisa dengan mudah menyeret Tantri ke kantor polisi atas kasus penipuan dan penggelapan uang.
Tantri meneguk lagi air dalam botol.
“Mama kamu gak suka makan orang, kan?”
“Kamu pikir Mamaku orang barbar yang kanibal?” sungut Eksan tak suka dengan pemakaian kata-kata Tantri.
Tantri menutup botol minumnya dan meletakkannya ke meja.
“Kalo begitu tak ada yang perlu ditakutkan. Kalo mau, sekarang pun tak apa-apa.”
Eksan  tergelak tak percaya melihat reaksi Tantri yang seakan benar-benar tak punya rasa takut. Padahal dilihat dari segi apapun Tantri itu bukan sosok yang pemberani. Tantri terkesan sosok keibuan yang lemah lembut apalagi ditunjang dengan cara berpakaiannya yang serba feminim.
“Besok saja. Besok tunggu aku di depan cafĂ© ini jam 1 siang.” Eksan siap-siap bangkit.
“Jam 1 aku masih kerja.”
“Memang kerja dimana?”
“Pabrik dekat sini. Bitratrex
Eksan tergelak, “Jadi kamu salah satu karyawan Bitratrex.?”
Tantri menatap Eksan dengan kerutan di dahi.
“Itu pabrik milik keluargaku, berhenti saja.”
“Kenapa harus berhenti?”
“Karena besok kamu harus menemuiku di sini jam 1 siang.”
Tantri diam sebentar lalu mengangkat bahu carefree. “Oke.”
Eksan tergelak mendapat raeksi sederhana itu.
“Kenapa? Kamu tadi menyuruhku berhenti kan? Lagipula kamu sudah memberiku uang yang banyak yang bahkan tak bisa aku kumpulkan meski 10 tahun bekerja.” Jawab Tantri enteng.
“Aku seperti sedang berbicara dengan daua orang berbeda watak secara bergantian.”
“Apa kamu pikir aku ini bipolar?” Tantri mencibir kesal.
“Bukan, kalo bipolar lebih ekstrem, aku hanya merasa terbohongi dengan penampilanmu kemarin.”
Tantri terbahak. “Don’t judge the book by its cover, because you never will get the chance to find out what lies within it.”
Eksan terperangah mendengar ucapan Tantri, dia benar-benar seperti telah dibodohi. Sejak awal Eksan sudah berfikir Tantri itu hanya wanita biasa dengan kepintaran yang standar. Tapi ini, dia bahkan dengan fasihnya menggurui Eksan yang pernah 3,5 tahun kuliah manajemen di Inggris layaknya Mario Teguh yang sedang memberi petuah di acara talk show yang diampunya yang pernah membooming sebelum inspirator itu terjun bebas akibat kesalahan masa lalunya yang tiba-tiba mencuat tanpa diundang.
“Apa? Apa aku tak boleh berbicara seperti itu?”
“Apa pendidikan terakhirmu?”
Tantri tergelak, seperti benar-benar tau kalo ada aura menyindir pada pertanyaan Eksan barusan.
“Aku memang bukan sarjana sepertimu, Tuan, tapi aku tak sedungu yang kamu pikirkan. Jangan salahkan aku yang tak sebodoh yang kamu pikirkan, salahkan saja dirimu yang menganggapku bodoh.”
Skak!
Sial, umpat Eksan.
Eksan merasa benar-benar sudah dibodohi. Eksan mengira Tantri hanya wanita yang terlalu peduli pada saudara-saudaranya yang terlilit hutang sehingga mau mengorbankan dirinya dalam sebuah perjanjian kawin kontrak dengan imbalan 1 milyar. Ya, hanya sebatas itu. Eksan tak menyangka Tantri juga cukup terpelajar. Mungkin Tantri memang wanita pintar yang tak mampu menjadi terpelajar hanya keberuntungan tak mau berpihak padanya.
“Pernah lihat filmnya Julia Roberts yang Erin Brockovich?” tanya Tantri membuat dahi Eksan mengkerut.
Apalagi ini?
“Janda gila itu?” tanya Eksan sedikit sarkas. Eksan tau tokoh film yang dimaksud Tantri. Janda yang serba memaksakan diri menghadapi hidup yang sebenarnya sudah jauh dari kemampuan dan pengetahuannya.
“Kenapa menjulukinya janda gila? Dia itu hebat, mampu memecahkan masalah besar yang nyaris tak ada yang berani menyelesaikannya. Dia juga mampu menghidupi ketiga anaknya dengan segala kekurangannya.”
Ya, Eksan mengakui film yang diambil dari kisah nyata itu. Kadang Eksan bahkan ingin menjadi sutradara saja dan mengangkat kisah perjuangan dan ambisi Mamanya. Hanya ingin melihat apa filmnya itu bisa se-booming film itu hanya karena itu diambil dari kisah nyata.
“Jangan bilang kalo kamu mengidolakannya.”
“Sayangnya, ya.”
Eksan tergelak sambil melengos.
Bagus, sepertinya Eksan benar-benar akan membuat film yang mengangkat kisah perjalanan hidup Mamanya. Siapa tau wanita dihadapannya ini juga akan mengidolakan Mamanya.
“Waktu itu aku baru umur belasan, tapi saat melihat film itu di tivi aku seperti seorang anak laki-laki umur 7 tahun yang menonton film Transformer pertama kalinya.”
Kini Eksan tak hanya tergelak, tapi juga terbahak. Sampai menyita beberapa pengunjung kafe, meski hanya beberapa detik.
“ Aku juga suka saat Julia Robert saat dia main Runaway Bride serasi banget sama Richard Gerre yang udah kelihatan matang.”
“Sekalian saja suka dia pas main Pretty Woman, saat itu Richard Gerre pas keren-kerennya.”
“Aku juga liat yang itu. Meski pas film itu booming aku belum lahir.”
“Sejak kecil sepertinya kamu sudah salah tontonan.” Tebak Eksan.
“Yes, I guess that. Bahkan aku masih ingat aku masih awal-awal masuk SD saat tak sengaja menemukan kaset CD lagunya Guns ‘n Roses di koleksi CDnya kakak temanku. Dan saat kami menontonnya aku langsung jatuh cinta dengan Axl.”
Eksan terpingkal kali ini. “Mendengar ceritamu dan melihat penampilanmu sekarang aku punya kesimpulan yang pas untukmu, kamu seperti seorang gadis tomboy yang bengal yang pada akhirnya bertobat dan memilih mengenakan hijab.”
“Kenapa tak sekalian saja mengumpamakan aku seperti Lady Gaga yang bertobat dan mengganti bikini dressnya dengan gamis panjang dan hijab syar’i?”
Eksan terpingkal lagi.
Siang itu mereka habiskan di sudut kafe dengan cerita masing-masing yang mengalir apa adanya layaknya air mengalir di sungai yang jernih.
Tantri percaya, Tuhan sudah mulai merealisasi rencanaNYA atas hidupnya yang berliku. Dan Eksan percaya, ini akan menjadi kisah yang menarik untuk hidupnya yang selama ini terlalu flat dirasa. Dan satu lagi, Eksan tau kalo wanita dihadapannya ini tidak bodoh.
***


“Gugup?” tanya Eksan saat akhirnya dia memberhentikan mobilnya di sebuah parkiran restoran Jepang, tempat dimana sang Ibu suri ingin bertemu dengan wanita yang dibicarakan putra tunggalnya kemarin malam, yang akan diperkenalkan sebagai calon mantunya.
Tantri menghela nafas panjang, dia makin kelihatan ayu dengan balutan gamis berbahan kaos variasi layer dengan kombinasi list berwarna abu-abu. Pulasan make-up yang sederhana makin menegaskan kalo Tantri bisa bersaing dengan gadis metropolitan pada umumnya.
“Oke, siap.” Katanya mantap.
Eksan tersenyum lalu mendahului membuka pintu. Tantri bukan wanita manja yang menunggu untuk dibukakan pintu. Tapi kain gamisnya yang cukup lebar dan high heels-nya yang meski hanya 7 centi tapi sudah nyaris membuat Tantri nyaris terpeleset.
“Kenapa sih tadi tak pakai sandal flat saja? Aku paling benci pake heels,  bahkan sekalipun itu wedges.” Gerutu Tantri membenarkan posisi berdirinya sebelum menyusul langkah Eksan.
“Dunia yang akan kamu tempati menuntutmu untuk terlihat lebih elegan. Dan salah satu point penting terlihat elegan adalah alas kaki yang meninggi.” Ceramah Eksan tetap melangkah masuk ke restoran bergaya jepang asli.
Tantri mendesis, “Penting banget ya? Apa seperti Axl Guns ‘n Roses dengan gitar akustiknya? Jika Axl tanpa gitar kan udah kaya model iklan shampoo.”
Eksan berusaha keras menahan tawanya agar tidak muncrat. Ternyata ‘rekan bisnis’nya ini pintar sekali berparodi.
Layaknya restoran-restoran jepang pada umunya restoran ini juga bersekat-sekat dengan sekat dari dinding kertas yang menurut Tantri sudah seperti rumah kardus. Sudah dapat dibayangkan nanti dia akan duduk di bawah seperti duduk di thasyadud awal dalam sholat. Kalo dalam sholat paling lama beberapa menit saja, bahkan kadang kurang dari semenit. Tapi ini nanti pas akan lama. Tantri merutuk dalam hati. Kenapa Mamanya Eksan tak sekalian mengajak mereka bertemu di angkringan lesehan saja? Duduknya bisa lebih rileks.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan seorang pelayan yang sudah siap membukakan pintu.
“Mama kamu orangnya bagaimana?” bisik Tantri gugup.
“Tenang, Mamaku bukan orang barbar yang suka makan orang.” Eksan juga berbisik, dengan sederet senyum yang masih berusaha ditahannya.
Tantri nyengir sebal. Dan saat pintu dibuka langsung terlihat oleh Tantri seorang wanita anggun dengan rambut kecoklatan tertata sanggul modern yang apik. Tubuh sedikit gempalnya yang singset terbalut baju berwaran hijau lumut dengan hiasan bordiran kekuningan yang berkilau. Mungkin itu yang disebut baju sutra bersulam benang emas.
Pasti harganya bisa puluhan juta, pikir Tantri.
Seulas senyum tercetak di bibir manis berpoleskan lipstick warna merah tua. Membuat Tantri mau tak mau membalasnya meski sedikit canggung.
Bagi Tantri ini seperti de javu saat pertama kalinya dia dulu diajak bertemu dengan ibu mertuanya. Dulu.
Tatapan mata Eksan menyadarkan Tantri untuk mengikuti langkah Eksan masuk ke dalam bilik bersekat dinding kertas bergambar rumpun bambu khas etnik jepang.
“Jadi ini calon mantu Mama, San?”
Glek.
Tantri menelan salivanya sedikit tersendat. Antara gugup dan merasa bersalah. Wanita di hadapannya itu benar-benar berharap putranya membawakan calon mantu idamannya. Tapi siapa yang tahu kalo ternyata yang dikenalkannya hanya seorang wanita yang disewanya untuk menjadi istri kontraknya selama 6 bulan dengan imbalan 1 milyar?
“Mama terlalu to the point deh.” Gusar Eksan tak suka, memprotes.
Wanita itu tersenyum anggun. Sungguh, sedikitpun tatapan matanya tak pernah bergeser dari Tantri. Dan itu membuat Tantri makin gugup.
“Maa.. jangan dipelototin terus gitu, dia itu manusia bukan produk sampel yang mau diluncurin.” Lagi-lagi Eksan memprotes tindakan Mamanya.
“Ih.. kamu bawel amat sih, San. Wajar dong Mama liatin wanita pertama yang kamu kenalin ke Mama.” Si Mama juga memprotes, “Catet, ini pertama kalinya lho Mama menyaksikan kamu datang sama seorang gadis.”
Eksan berdehem menginterupsi, “Dia bukan gadis, Ma. Dia janda dengan seorang putri.”
Kalimat interupsi itu sukses membuat Tantri menunduk sangat dalam. Kalo perlu Tantri ingin menyembunyikan kepalanya ke ketiaknya seperti seekor kucing peliharaan Kia di rumah.
“Gak usah diperjelas gitu Mama juga udah tau. Ini kamu kok gak bisa jaga perasaan perempuan sih?” Lalu sebelah tangan terawat dengan sebuah gelang giok warna hijau terulur ke bahu Tantri. “Dimaklumi ya kelakuannya Eksan, dia memang nol besar kalo soal urusan perempuan.” Katanya lembut, dengan tatapan yang akhirnya membuat Tantri kembali mendongak.
Dan Tantri makin merasa bersalah. Satu doa Tantri. Semoga mereka tidak kuwalat karena telah membohongi wanita sebaik ini.
***


Eksan masih mencoba mencari celah untuk bisa memperhatikan seraut wajah manis yang malah selalu berusaha bersembunyi dibalik kerudung ibunya meski sepasang mata legamnya yang bulat sesekali mencuri pandang.
“Kelakuanmu sama saja dengan Mamamu kemarin.”
Eksan seketika menegakkan pandangannya searah dengan tatapan protes Tantri.
“Itu membuatnya takut.” Imbuh Tantri masih bernada sama.
“Tidak ada mirip-miripnya denganmu.”
“Memang tidak, dia mirip bapaknya.” Tantri lalu mengajak gadis kecil itu keluar dari ‘tempat persembunyiannya’.
“Kia, kenalin, ini om Eksan.”
Eksan siap-siap pasang muka ramah dan membungkuk mensejajarkan tinggi badan gadis berkuncir dua yang masih takut-takut malu itu.
“Kia, mau gak kalo om jadi Papanya Kia?” tanya Eksan ringan.
Tapi Kia langsung menggeleng, sebelah tangannya menarik-narik jilbab ibunya.
“Ibu, Omnya kaya Om Billy yang matanya suka dibikin item itu ya?” celetuk Kia sedikit lirih, tapi Eksan cukup jelas mendengarnya hingga membuatnya mengerutkan dahi.
“Siapa?” tanya Eksan menatap Tantri yang berusaha menahan senyum.
“Eh, iya, ya, Kia… Ibu juga baru nyadar, kaya Om Billy kalo pas gak pake item-item di kelopak matanya.”
Eksan makin bingung dengan kedua Ibu-anak ini. Tantri malah mengajak putrinya duduk yang seperti makin penasaran dengan Eksan. Kelihatan sekali dengan mata bulatnya yang hampir tanpa jeda melepaskan diri dari inspeksinya menjelajah seluruh penampilan Eksan.
“Pacar kamu?” tanya Eksan ikut duduk, masih penasaran dengan ‘Om Billy’ yang mereka maksud tadi.
“Billy Joe Amstrong, Green Day.” Jawab Tantri meralat.
Eksan kaget. Menatap gadis yang bahkan belum genap 6 tahun yang kini menikmati semangkok strawberry snowflake milkshake sherbert yang oleh Tantri tadi langsung diringkas dengan sebutan es salju strawberry.
“Apalagi? Kaget juga anakku kenal Billy Amstrong?” Kini Tantri mengambil selembar tisu dan melap sudut bibir anaknya yang sedikit belepotan.
“Dia baru 5,5 tahun kan?”
Sumpah, Eksan sepertinya sejak sekarang harus banyak-banyak mengkonsumsi Maxx Omega3 atau Alerten Q100 agar jantungku lebih kuat. Ini Ibu dan Anak memang berbakat sekali membuat orang jantungan.
“Dia terlalu menyukai lagu ‘Wake Me Up When September Ends’. Dia bahkan nyaris hafal liriknya meski banyak yang masih keliru pengucapannya.” Papar Tantri tanpa ada aura menyombong.
Eksan diam memperhatikan lahapnya Kia menikmati sesuatu yang mungkin jarang sekali dinikmatinya. Bagi Eksan, lagunya Green Day yang sangat booming tahun 2004 itu juga sempat membuatnya teringat Papanya. Apalagi lagu itu katanya juga buah inspirasi Billy Amstrong karena teringat akan ayahnya yang sudah meninggal saat usianya baru 10 tahun. Dan bagi bocah sekecil Kia sungguh terlalu cepat kalo bisa mengerti akan chemistry lagu itu dengan sosok berlabel ‘ayah’.
“Apa tak terlalu dini kalo dia sudah tau lagu-lagu semacam itu?” tanya Eksan lagi disela adukan sedotan pada Caramel macchiato miliknya.
“Sudah terlanjur. Peninggalan bapaknya dulu. Waktu usianya baru 3 tahun sudah sering diajak nyanyi lagu-lagu begituan sambil gitaran.” Tantri seperti setengah acuh mengatakan secuil kenangan yang mungkin sedikit membuatnya jengah
Eksan terdiam sebentar. Dari kalimat yang diucapkan Tantri tadi, dia mencoba membayangkan betapa bahagianya keluarga yang sempat dimiliki Tantri. Betapa sempurnanya hubungannya dengan suaminya. Tapi kenapa kemudian bisa berakhir? Kenapa pada akhirnya Tantri harus menanggung beban hidup yang berat?
Bahkan melihat gadis kecil bernama lengkap Zakia Permata Hati itu sudah pasti tak hanya Tantri, tapi pasti bapaknya juga sangat bahagia dengan kehadirannya. Apalagi Kia bisa tumbuh menjadi gadis kecil yang begitu mempesona. Dari segi fisik juga psikis. Lalu kenapa pada akhirnya bapaknya tetap tega meninggalkannya? Apa memang cinta hanya seperti itu?

Benar-benar sulit dimengerti.


Demak, 29/10/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar