Aku diam dengan bibir mencebik menatapmu
sedikit jengkel. Dan kamu yang tahu aku sedang kesal malah tersenyum.
Seakan-akan kekesalanku ini adalah hiburan tersendiri untukmu yang baru saja
datang bahkan masih memakai seragam kerja dengan tulisan besar di bagian
punggungnya, “Sahabat Mekanik”.
“Udah, gak usah cemberut gitu. Jelek ah!”
katamu dengan mengacak-acak rambut sebahuku yang baru keramas dan belum kering betul.
Setelah itu kamu beranjak menuju dapur.
Bagaimana tak kesal coba? Datang-datang
langsung mensabotase laptop yang kebetulan tak kumatikan karena pikirku hanya
kutinggal memasak nasi sebentar di magig com. Dan parahnya lagi seenaknya men-share ulang sebuah poster event yang
kemarin ikut nyelip di dinding kronologi akun facebookku hasil tag seorang teman.
“Apa salahnya sih, Di, kan DL-nya juga masih
rada lama. Unik pula temanya, daun dan petrichor.” Serumu dari dapur,
sepertinya kamu sedang butuh makan. Sayang, hanya ada lauk yang tadi kubeli
saat pulang kerja. Nasinya baru masuk magig com beberapa menit lalu.
“Yang suka begituan kan Abang, bukan aku.”
Bibiku masih belum puas menggerucut.
Benar-benar mengesalkan kamu hari ini. Kenapa
menyuruhku melakukan hal yang tak kusukai? Kalau aku tertarik dengan poster
event cerpen yang diselenggarakan sebuah
penerbit indie itu, aku sudah ikut sejak melihatnya kemarin-kemarin. Tapi ini
temanya “Daun dan Petrichor”. Oke kalau daun masih bisa aku tolerir, tapi petrichor?
Itu berkaitan erat dengan hujan. Hal yang tidak pernah aku sukai. Dan
sepertinya kamu sudah mengetahuinya. Kita kan sudah saling mengenal 2 tahun
lebih.
Luis Gani. Itu nama yang kamu sebutkan saat pertama kali kita bertemu dulu. Sosok yang sangat baik, ramah, dan yang pasti sang
penolongku yang tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Meski ada
kalanya—seperti saat ini—kamu sangat menyebalkan dan ingin sekali kumarahi.
Tapi aku tak mau menjadi orang yang tak tahu diri dan tak tahu terimakasih.
Rumah yang kutempati dengan nyaman ini adalah rumahmu. Laptop yang selama ini
kupakai untuk mengembangkan hobiku hingga bisa menjadi kerja sampingan yang
menyenangkan, juga milikmu. Bahkan pekerjaanku yang menjadi pendapatan utama
hidupku, meski hanya sebagai seorang cleaning
service di tempat kerjamu, juga karena bantuanmu saat mendapatkannya. Jadi,
beginilah aku kalau kesal dengan tingkahmu. Kesal sendiri.
“Ya, sekali-kali gantilah genre ceritamu itu.
Abang kadang juga ngeri kalo baca naskahmu. Masa cakep-cakep tega bunuh orang
tuanya sendiri gara-gara cewek?” Kamu kembali dengan semangkok soto ayam yang
rencananya mau kupakai untuk makan malam nanti. Mengomentari salah satu tokoh
dalam novel yang sedang kuselesaikan diwaktu luang.
“Ya, namanya juga punya gangguan mental.” Sanggahku
mengembalikan layar laptopku ke file Ms. Word yang memang sejak sepulang kerja
tadi kugeluti demi meneruskan kisah si tuan muda manis yang terlalu mencintai
seorang gadis.
Kamu ikut duduk di sebelahku, “Nah itu,
kebanyakan buat tokoh-tokoh dengan gangguan mental jangan-jangan kamu nanti
jadi salah satu kaya mereka. Kan nanti Abang jadi gak punya Diandra yang imut.”
Aku melirik judes ke arahmu yang masih saja tak
bosan tersenyum. Dan aku diam tak berkutik menyadari senyummu itulah yang
selama ini menemaniku saat aku merasa sebatang kara dan tak tahu harus kemana.
“Aku tuh gak bisa buat cerita yang mellow,
Bang. Emang bisa tema petrichor dibuat genre psiko? Gak ‘kan?” Aku masih
mencoba mengelak menuruti permintaanmu.
Anggap saja aku membenci hujan dan petrichor.
Karena jika dua hal itu melintas dalam hidupku, sontak saja membuatmu nelangsa.
Dua hal itu yang mengiringiku saat Ayah dan Ibuku direnggut dariku. Usai pemakaman
Ayah dulu, hujan awal musim penghujan tiba-tiba turun dan membuat aroma
petrichor menyeruak sempurna. Dan itu awal mula aku membenci aroma petrichor
yang sebenarnya pernah sangat aku kagumi.
Dan aku kehilangan Ibu juga saat hujan di awal
musim penghujan. Hujan yang disertai angin cukup kencang hingga mampu
menggugurkan daun-daun pepohonan yang saat itu menjadi tempat Ibu tergeletak
tak berdaya akibat tabrak lari. Usiaku saat itu masih terlalu labil untuk
memikirkan hal lain selain menangis histeris diantara hujan dan daun-daun yang
berjatuhan. Dan sekali lagi, aroma petrichor menyengat mengiringiku mendapat
status baru dalam hidupku; sebatang kara.
Jadi, bagaimana bisa kamu menyuruhku membuat
sebuah cerita romantis dengan tema daun dan petrichor? Karena semua cerita
diantara dua hal itu adalah hal yang menyedihkan.
Kamu mendesah panjang meletakkan mangkok soto
ditanganmu. Lalu kedua tanganmu merengkuh pundakku hingga membuatku terpaksa
menghadapmu sempurna.
Luis Gani, usia kita terpaut lebih dari 5 tahun
tapi mungkin karena status kita yang sama-sama sebatang kara-lah yang membuat
kita bisa langsung cocok sejak awal. Kita saling mengisi, saling melengkapi,
saling menemani, dan saling menjaga. Aku nyaris tak memikirkan apa arti aku
bagimu. Hanya orang yang perlu kamu beri tempat tinggal hingga kamu sendiri
rela tinggal di mess pabrik. Hanya orang
yang perlu kamu bantu mendapatkan pekerjaan agar tak terlalu merasa menyusahkanmu
terus. Atau memang hanya orang yang perlu kamu kasihani karena terlihat sangat
menyedihkan bagi seorang gadis lulusan SMP yang sebatang kara, tak punya tempat
tinggal apalagi penghasilan. Yang pasti aku sangat bersyukur Tuhan
mempertemukanku denganmu waktu itu. Punya tempat untuk ditinggali, punya
pekerjaan dan juga bisa meraih impianku mengikuti KEJAR PAKET C, sebagai
pengganti aku tak bisa meneruskan sekolah SMA. Aku mensyukuri tiap hal yang
terjadi denganmu.
Dan aku masih ingat betul sore itu di sebuah
halte bus saat angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun dari pohon akasia
di pinggir jalan dan hujan awal musim yang…
Aku sedikit tersentak. Mataku membulat menatap
wajahmu yang masih setia memperhatikanku dengan detail. Seperti ada tali
penghubung yang membuatku teringat awal kami bertemu dulu dengan dua hal yang
menjadi tema dari pembicaraan kami sejak
tadi. Daun dan petrichor.
“Apa cuma Abang yang masih ingat betul awal
kita ketemu dulu? Sore dengan mendung tebal dan gerimis yang makin deras, lalu
angin yang mampu membuat daun-daun yang menguning di pohon sebelah halte berguguran seperti musim gugur
di luar negeri? Lalu seiring gerimis yang berubah menjadi hujan membuat aroma
petrichor tercium. Kamu udah gak ingat itu, Di?” Kini tanyamu seperti sebuah
teguran, tuduhan, atau entahlah… yang pasti aku bisa menangkap semburat
kekecewaan dalam suaramu.
Aku menunduk gelisah, merasa bersalah, “Mmm…
aku, aku…”
Dan kedua tanganmu yang memegang bahuku menjadi
menguat, seperti menyuruhku fokus menatapmu.
“Berhentilah membenci hujan, daun-daun yang
berguguran, dan aroma petrichor. Meski Abang tau semua itu mengingatkanmu saat
kehilangan kedua orang tuamu. Tapi pasti Tuhan memang sengaja mempertemukan kita
dulu dalam suasana yang kamu benci, biar seiring berjalannya waktu kamu bisa
mengerti tak semua yang membuatmu bersedih harus selalu kamu benci.”
Aku tertunduk lagi.
“Ya, kecuali kamu menyesal ketemu Abang.” Dan
lanjutan kalimatmu disertai pelepasan rengkuhan kedua tanganmu pada pundakku
membuatku menatapmu lagi dengan gelengan kepala tanda protes.
Kamu tersenyum, kini sebelah tanganmu terulur
ke puncak kepalaku dan menepuk pelan, “Abang menyayangimu, Di. Jadi, sotonya
Abang makan ya? Laper.”
Aku mendengus kesal lagi, kamu malah tertawa
mengangkat kembali mangkok soto yang tadi sempat kamu taruh.
“Ngomongnya suka gak nyambung.” Aku beringsut
menghadap ke arah layar laptop lagi, tapi sayup-sayup kudengar suara gemerisik
dedaunan dari pohon kresen di belakang rumah membuatku tercenung beberapa
detik.
“Bang…” panggilku makin menajamkan indra
pendengaranku.
“Hmm.” Kamu masih sibuk menghabiskan soto dalam
mangkok.
Lama-lama aku tak hanya mendengar suara
gemerisik daun tapi juga merasakan ada suara tetes-tetes air diatas genteng.
“Bang, hujan ya? Jemuranku…” Aku bermaksud
buru-buru bangkit, tapi karena mungkin terlalu terburu-buru aku malah
tersandung kakimu.
Duuukkk.
Aku sedikit memekik saat tubuhku kembali
terduduk bahkan nyaris pada posisi tersungkur.
“Di…, hati-hati dong!” Kamu meletakkan mangkok
ditanganmu dan beralih membantuku untuk kembali menegakkan tubuhku. Air hujan
di luar semkain jelas tertangkap oleh mataku dari balik kaca jendela tak jauh
dari tempat kami.
“Jemuranku kehujanan.” Aku bangkit segera dan
bergegas menuju arah pintu belakang rumah.
Tapi, sampai di depan pintu penghubung menuju
area sepetak belakang rumah yang difungsikan untuk menjemur baju dan sebagian
di hiasi berbagai tanaman dan bunga yang sesekali masih kurawat, aku terdiam.
Daun-daun dari pohon kresen yang menguning
jatuh satu-satu mengiringi tetesan air langit yang makin deras. Dan perlahan
aku bisa mencium aroma petrichor yang selama ini nyaris tak pernah kugubris
keberadaannya.
“Momen yang sempurna, ‘kan?” tanyamu tiba-tiba
sudah berdiri tepat di belakangku, merengkuh sebelah pundakku lembut.
Tak sadar aku tersenyum sendiri. Ini pertama
kalinya aku kembali merasakan rasa yang lain mendapati daun berguguran, hujan
dan aroma petrichor secara bersamaan begini. Bukan rasa yang nelangsa apalagi
muak. Apa ini karena kamu?
“Tapi jemuranku kehujanan.”
Kamu tergelak merapatkan diri padaku, “Biar
saja, nanti aku bantu mencucinya lagi.”
Kini aku yang tergelak.
“Apa kita angkat saja, sambil hujan-hujan?”
tawarmu.
Aku berdecak singkat, “Hujan pertama, tak baik untuk kesehatan, bisa
jadi termasuk hujan asam.”
“Ck__" Kini kamu gantian berdecak singkat, "__kamu kebanyakan teori, Di, yuk!!”
Aku menjerit saat tanganmu dengan kuat
mendorong tubuhku keluar dari pintu. Yang kudengar kamu malah tertawa seperti
mengiringi irama tetes air hujan yang makin deras.
“Abaaanggg…!!” decakku kesal.
Dan sebelum kekesalanku meluap seperti air
hujan yang makin deras mengguyur, kamu memelukku erat. Seerat aroma petrichor
menyeruak indra penciumanku. Memelukku bersama kenangan tentang mereka.
Demak, 06.09.2017
Winwin_Windarti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar