Aku mendesah saat menemukan seorang pria tampan lagi berpakaian necis duduk di sebuah bangku, sibuk dengan laptopnya. Disebelahnya juga ada beberapa tumpuk kertas. Kudekati pria itu.
" Kapan datangnya?" Tanyaku mengamati tumpukan kertas kerjanya berserakan memenuhi meja.
Pria tampan itu bernama Candra. Sangat pantas bernama Candra, karena dia sangat menawan. Kalo bukan teman sejak kecilku, aku mungkin bisa terpikat olehnya.
" Belum ada sejam." Jawabnya enteng.
Aku terbelalak.
" Apa? Kau disini hampir sejam hanya untuk menyelesaikan pekerjaanmu? Kau pikir ini coffeeshop-nya kakekmu?" Dengusku.
Candra malah menyeringai lucu.
" Jangan marah begitu, lagipula bossmu juga tak marah kan? Tenang saja, nanti aku pesan setelah Yuan datang." Katanya enteng dan bermaksud meneruskan pekerjaan mengetiknya.
Aku tergelak.
" Kau ini, sudah berlama-lama disini tanpa pesan apapun, pesannya pun menunggu pacar datang pula. Memang begitu ya aturannya orang pacaran? Ribet banget!"
Candra tak jadi mengetik dan mendesah berat sambil menatapku.
" Makanya cobalah pacaran, biar tau bagaimana itu dunia orang pacaran." Kali ini Candra seperti terang-terangan mengejekku.
Siap-siap kulempar lap yang sejak tadi kupegang, kalo Candra tak segera menutupi wajahnya dengan map disebelahnya. Aku mendesah dan ikut duduk.
Candra menatapku seperti menyelidik.
" Apa kau mau menghabiskan seluruh masa mudamu hanya dengan bekerja? Coba pikir, berapa pekerjaan part-time yang kau kerjakan setiap harinya?" Kali ini Candra seperti menceramahi.
" Setiap jamku sangat berharga, jadi untuk apa kuhabiskan hanya untuk mendengar kalimat-kalimat gombal dari seorang laki-laki? Lagipula, gajiku sangat jauh berbeda dengan gaji papamu. Gaji papamu sebulan bisa untuk hidup setahun, sedang gajiku sebulan akan habis dalam seminggu."
" Kalo gaji sebulan habis seminggu, lalu bagaimana kau membiayai 3 minggu lainnya?" Tanya Candra malah membuatku makin keki. Candra menanggapi muka masamku dengan tawa renyah.
Sejenak aku terdiam, dan Candra langsung menyadari itu. Aku mendesah.
" Aku selalu bertanya, kapan kemiskinanku berakhir. Sejak kecil ibu sudah bekerja sangat keras, bahkan aku pun juga memutuskan ikut melakukannya. Tapi kenapa tak juga berubah. Sementara kau, sejak kecil sudah hidup nyaman."
" Hei..." Gusar Candra seperti tak suka cara bicaraku.
Aku tersenyum.
" Bagaimana kuliahmu?"
" Lumayan. Kadang menyenangkan, kadang juga buat kepalaku pusing. Kadang aku ingin menyerah saja, dan bekerja begini saja." Keluhku
" Kau bilang ingin jadi seseorang yang lebih baik?"
Aku tersenyum lagi.
" Benar. Aku ingin jadi lebih baik. Saat aku menyelesaikan studyku aku akan melamar menjadi pegawai kantoran. Biar ibuku tak lagi menjadi OB."
Kali ini Candra yang tersenyum.
" Beritahu aku jika ada kesulitan." Katanya seperti meminta.
" Pasti. Aku punya siapa lagi yang bisa membantuku selain kau. Mahasiwa cerdas sekaligus manager sebuah perusahaan. Bukankah itu hebat?"
Kami tertawa bersama. Sejenak aku seperti terlupa akan kepenatan hidupku. Hanya saat bersama Candra aku bisa merasakan bernafas dan tertawa lepas begini.
" Kelak kalo sudah lulus, antar lamaran kerjamu ke kantorku."
Aku terdiam menatap Candra.
" Aku selalu merepotkanmu, Dra."
" Apanya yang merepotkan? Kan cuma merekomendasikanmu saja. Aku tak berwenang dalam perekrutan pegawai, jadi aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi seandainya akhirnya diterima, kan bagus?"
Aku mendesah berat dengan sedikit senyum.
" Dulu saat kita masih kecil, aku tahu kenapa tiap kali ibu mau diajak kumpul-kumpul bersama mama papamu, juga teman-temannya yang lain. Dia hanya berusaha mencari nafas dengan keluar sebentar dari kehidupannya yang keras. Seperti seekor lumba-lumba yang naik ke permukaan laut untuk mencari oksigen. Tapi akhirnya juga masuk lagi ke dalam laut. Meski lumba-lumba itu iri dengan makhluk mamalia lainnya yang bisa menghirup oksigen dengan bebas, tapi lumba-lumba itu tetap menyadari, lautan luas yang penuh dengan sesuatu yang berbeda jauh darinya, adalah dunianya."
Aku mendesah lagi, menatap Candra yang tanpa kata menatapku lekat.
" Begitu juga aku, Ndra." Lanjutku membuat matanya sedikit menyipit.
Candra, dia laki-laki terbaik yang pernah kukenal dan paling kupercaya dekat denganku. Meski hubungan kami tak lebih dari teman yang sudah saling mengenal sejak kecil, tapi aku tak pernah bisa menyangkal kalo aku merasa sangat nyaman saat dekat dengannya. Serasa semua keruwetan hidupku yang selalu mengekangku bisa terlepas saat bersamanya. Tapi aku akan selalu sadar, bahwa takdirku hanya akan menjadi teman Candra, tidak lebih.
" Setiap kali bersamamu, seperti sekarang ini, aku begitu nyaman. Terasa sangat bebas. Ya itu, seperti seekor lumba-lumba yang melompat muncul ke permukaan laut menghirup oksigen."
Candra tersenyum lebar.
" Jadi apa aku harus memanggilmu lumba-lumba manis yang tangguh?" Tanya Candra membuatku ikut tertawa.
Aku bangkit.
" Oke, lumba-lumba harus masuk lagi ke laut." Kataku melucu. Candra tergelak.
" Kenapa kalian kelihatan bahagia sekali? Apa kalian bermain dibelakangku?" Sungut Yuan yang tiba-tiba sudah menjulang tak jauh dari kami.
Candra tersenyum menanggapi sikap sengit Yuan.
" Bukan apa-apa..."
" Apa kau pikir sekarang aku sangat cantik?" Tanyaku tiba-tiba. Membuat Candra ataupun Yuan kaget.
" Aku tak pernah menganggapmu cantik, apalagi sangat cantik." Jawab Yuan masih tetap sengit.
" Lalu kenapa kau berfikir aku dan pacarmu bermain dibelakangmu?"
" Hei, kenapa kau mencoba menyulut api dengan bensin?" Sergah Candra merengut, membuatku menahan senyum.
" Kau pikir tempat ini apa? Ini bukan pom bensin tapi coffeeshop, kalo mau pesan ya pesan minuman, bukan bensin."
Candra memelototiku, aku hampir tak bisa menahan tawaku.
" Kau benar-benar menyebalkan. Aku benar-benar tak rela kau mengetahui semua tentang Candra, terlebih masa kecilnya." Sungut Yuan, makin geram.
Aku mengangkat kedua bahuku.
" Apa hebatnya tau masa kecil pacarmu itu? Dia itu super usil dan super ngeyel."
Candra mendesah berat.
" Sudah cukup, jangan mengatai pacarku seperti itu."
" Stop, kenapa sih kalian selalu bertengkar tiap kali bertemu?" Desis Candra menengahi.
" Karena aku tidak suka dia!"
" Aku juga tidak menyukaimu, sayangnya temanku yang tampan ini sangat menyukaimu, huufttt..." Timpalku mendramatisir.
Aku memang paling suka menggoda Yuan, yang memang terkenal anak manja itu. Tiba-tiba aku mendengar seruan boss dari belakang.
" Oh, boss memanggilku." Aku buru-buru beringsut.
" Kalo kalian tak juga memesan, sebaiknya pergi saja. Ini bukan tempat pacaran gratis seperti di taman, oke?" Kataku sebelum benar-benar beringsut.
" Hei...." Sergah Candra mengambang.
Aku tak lagi mempedulikan tatapan geram Candra, apalagi ocehan manja Yuan. Aku tersenyum kecil. Tapi kemudian mendesah.
Seperti lumba-lumba yang kuceritakan pada Candra tadi, sekarang lumba-lumba itu kembali ke dunia yang sebenarnya tak begitu disukainya. Aku menatap sayu dapur coffeeshop yang belum genap kumasuki itu. Tapi sudah kudengar perintah boss untuk mencuci cangkir dan piring yang menumpuk di wastafel. Kupandangi wastafel tak jauh dari tempatku berdiri. Kuletakkan lap ditanganku, dan menyisingkan lengan kemejaku.
Meski lumba-lumba tak menyukai dunia yang selama ini ditinggalinya, tapi lumba-lumba sadar, disinilah dia tinggal dan menjalani takdirnya. Jika lelah, sesekali mungkin keluar ke permukaan laut mencari oksigen. Hanya sesekali, dan sebentar.
Begitupun aku.
Senin, 20 April 2015
Sabtu, 18 April 2015
TENTANG SEBUAH AKHIR
Kusodorkan sebuah bungkusan cukup besar ke arah Frans. Seketika wajah kharismatik itu menunjukkan ekspresi kaget. Matanya memicing.
" Apa ini?"
" Aku gak bisa terima pemberianmu ini, Frans, maaf." Kataku lirih, lagi menunduk.
Frans tergelak.
" Kenapa?"
Aku sedikit gelisah menanggapi tatapan selidiknya.
" Aku... baju itu terlalu mahal, Frans. Dan aku tak biasa memakai wedges tinggi seperti itu."
Frans mendesah berat.
" Itu karena kau tak pernah mencoba membuka hatimu, meski cuma sedikit."
Aku menunduk.
" Aku pernah lihat kau memandangi baju ini lama sekali, makanya aku membelikannya. Aku hanya mencoba membuatmu bahagia, apa itu juga salah?"
" Frans, bukan seperti itu, aku hanya..."
" Menganggap semua orang yang mencintaimu sama seperti pacarmu yang telah mencampakkanmu itu, iya kan?" Sergah Frans sedikit meninggi.
Kutatap Frans dengan sisa keberanianku. Bagiku Frans memang penyangga ketika aku lelah meniti jalan ini sendirian. Tapi aku masih terlalu takut jika harus benar-benar bergantung padanya. Aku takut suatu saat penyangga itu akhirnya patah dan malah membuatku jatuh terpuruk. Seperti yang terjadi dengan Ariel dulu.
Kedatangan Frans, sekitar setahun setelah kepergian Ariel. Awalnya kami hanya teman nge-blog. Aku berbagi cerita-cerita fiksi dan puisiku, dan dia membantuku merealisasi hasil karyaku ke tangan redaksi penerbit.
" Cerpen-cerpenmu cukup bagus. Sangat sayang kalo hanya menumpuk di blogger, kenapa tak coba kirimkan ke redaksi majalah atau koran?" Kata Frans waktu itu, saat pertama kali kami akhirnya bertemu darat.
Aku tertawa.
" Itu cuma hobi. Aku sering menjadi pendengar cerita teman-teman, kadang juga karena liat film. Daripada menumpuk di otak malah bikin gak bisa tidur ya aku tulis saja di blog."
" Kalo hobi bisa menghasilkan uang, bukannya akan lebih bagus?" Timpal Frans.
Akhirnya aku 'membongkar' berkas-berkas cerpenku dan mulai mengirimkan ke beberapa redaksi rujukan dari Frans. Dan sekarang, aku bahkan sedang dalam proses pembuatan novel untuk sebuah penerbit. Dan aku tau, semua itu adalah berkat Frans. Dia yang dengan telaten menyemangati untuk terus maju. Bahwa melakukan pekerjaan yang kita sukai itu jauh lebih menyenangkan dari apapun.
" Kau selalu melakukan semuanya sesuai apa yang kau pikirkan. Sekali saja, pernahkah kau memikirkan apa yang diharapkan orang? Kau orang paling egois yang pernah kutemui."
Aku terpaku menerima penghakiman Frans.
Frans orangnya memang begitu, bahasa jawanya 'tanpo tedeng aling-aling'. Apapun yang ada dihati langsung diungkapkan. Aku memang suka keterbukaannya. Meski awalnya menyakitkan, tapi itu memang patut untuk dipikirkan. Aku memang terlalu egois. Tapi apakah sepenuhnya salah? Aku melakukan yang kuanggap seharusnya kulakukan. Aku lebih memikirkan orang lain, meski dengan caraku sendiri. Dan jika ini masih dianggap salah, lalu aku harus bersikap bagaimana?
Aku menunduk.
" Aku tau, lukamu dari pacarmu dulu terlalu menyakitkan. Bahkan bisa dibilang menjadi trauma tersendiri. Tapi apa harus begini? Kau jadi menutup diri pada semua orang. Mencurigai semua orang yang mendekatimu. Berhentilah melindungi dirimu dengan pertahanan konyolmu itu."
" Sudah, cukup!" Desisku tak tahan lagi dengan semua penghakiman itu.
" Kau terlalu berlebihan, Frans. Kau bahkan tak tau seperti apa sakit itu, jadi jangan merasa tau segalanya hingga seenaknya menghakimiku seperti itu." Lanjutku sedikit geram.
" Aku sudah melakukan yang aku pikir terbaik yang bisa kulakukan. Jika itu masih dianggap hal yang egois, oke, aku lebih baik diam saja. Biarkan saja semua terjadi tanpa campur tanganku. Beres kan?!"
Frans menatapku tanpa kedip.
" Sekarang aku tau kenapa pacarmu mencampakkanmu, padahal kau sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kalian." Katanya sinis.
Detik itu juga aku kaget, tapi detik berikutnya aku akhirnya tergelak.
" Kau memang lakukan yang terbaik untuk semua hal, tapi saat itu terjadi tak sesuai yang kau inginkan, kau mengacuhkannya. Kau mencampakkannya dengan sangat kejam. Seperti yang terjadi sekarang."
Aku benar-benar bingung dengan maksud Frans. Apa semua ini karena dia tersinggung aku menolaknya?
" Kau tau kenapa Tuhan meletakkan mata itu didepan? Karena kita harus menatap ke depan dan melanjutkan perjalanan hidup. Masa lalu bukan hal yang harus kita masalahkan terus, karena itu hanya akan mengikat langkah kita saat ingin melanjutkan perjalanan." Kenangku akan ucapannya beberapa waktu lalu, saat tanpa sengaja aku bertemu mantan pacarku itu dengan 'gadis barunya'.
" Kau mau bilang aku belum bisa move on kan? Gak usah muter-muter ngomongnya, langsung aja bilang begitu." Ucapku membuatnya tersenyum.
" Oke, aku memang masih belum bisa melupakan semua masa lalu menyakitkan itu. Aku hanya perlu waktu lebih lama untuk melupakan semua." Lanjutku mencoba membela diri.
Frans tersenyum lagi.
" Tak perlu melupakan semuanya. Kadangkala mengingat masa lalu itu juga tak mengapa, karena itu manusiawi. Tak perlu menguras semua tenagamu untuk melupakan masa lalu, takutnya tenagamu akan habis dan malah tak bisa melanjutkan hidupmu. Permudahlah yang bisa dipermudah, karena hidup ini tak ada yang mudah. Jadi jangan dipersulit lagi."
Aku tergelak lirih mengingat semua hal yang diucapkan Frans waktu itu.
Aku memang pernah pada suatu masa dimana aku begitu berusaha keras keluar dari masa laluku. Begitu berusaha hingga aku letih sendiri. Tapi aku akhirnya menyerah dan membiarkan masa lalu itu merantaiku, merajaiku. Dan inilah akhirnya, aku terlalu takut mempercayai sebuah hal bisa berakhir bahagia. Karena aku pernah merasakan yang awalnya sangat sempurna dan sangat bahagiapun, akhirnya berujung sangat menyakitkan. Apa itu kemudian bisa dicap tak normal? Aku hanya berusaha melindungi diriku yang pernah terluka untuk tak terluka lagi. Bukankah itu juga manusiawi?
" Sangat tidak adil jika kau berfikir semua orang yang mencintaimu, pada akhirnya akan menyakitimu. Sangat tidak adil jika kau memvonis semua kisah akhirnya tetap akan berakhir menyakitkan. Sebuah kisah berakhir bukan berarti akhir segalanya. Itu hanya sebuah kisah. Dan akhir sebuah kisah adalah awal untuk kisah yang baru. Begitu seterusnya." Papar Frans menjelaskan, tapi menurutku lagi-lagi berunsur menghakimiku.
Kugigit bibirku.
" Jadi berhentilah melindungi dirimu dengan pertahanan yang justru akan membuatmu makin terpuruk. Lihatlah kedepan, dan berjalanlah. Tak perlu memikirkan apa hasilnya nanti, karena semuanya sudah ditetapkanNya. Dan percayalah, itu akan terasa lebih mudah."
Aku mendesah panjang.
" Aku tak cukup paham dengan semua yang kau katakan, Frans." Kataku sembari bangkit.
" Aku pergi dulu."
" Itulah kau yang perlu kau ubah jika ingin hidup ini lebih mudah." Susul Frans sebelum aku berhasil mengangkat kakiku.
Kupicingkan mataku. Apalagi ini? Bathinku.
" Berhentilah melarikan diri, hadapilah apa yang sudah terjadi didepan mata. Lari tak akan menyelesaikan masalah, hanya menundanya selesai dengan menambah kadar akibat yang akan ditimbulkan. Apa begitu menakutkan mengakui bahwa aku mencintaimu? Aku bukan Ariel mantan pacarmu yang pernah sangat mencintaimu tapi kemudian mencampakkanmu. Aku adalah Frans, yang berharap bisa membantumu lepas dari ikatan masa lalumu dan menemanimu meneruskan perjalanan. Aku memang tak bisa menjanjikan ini pasti berakhir bahagia. Tapi aku akan berusaha agar tak berakhir menyakitkan. Dan aku perlu bantuanmu agar itu bisa terjadi." Ungkap Frans panjang lebar dan sangat tertata rapi.
" Mulailah dengan membuka hatimu, dan kau akan menyadari bahwa dalam hidup banyak kisah yang harus kita jalani dan menunggu untuk kita selesaikan. Bukan sendiri, tapi dengan orang lain. Karena itu lebih manusiawi. Dan berhentilah berfikir bahwa semua kisah yang meski awalnya indah akan berakhir sama saja, menyakitkan. Akhir bukan hak kita, itu mutlak hak Tuhan. Jadi berhentilah mengkhawatirkan sebuah akhir. Jalani saja sebaik mungkin, dan jika itu tetap berakhir tak menyenangkan, percayalah, itu yang terbaik menurutNya."
Aku tak mampu bereaksi untuk semua omongan Frans, meskipun itu hanya senyuman kecil.
" Aku tak pernah mengambil kembali apa yang sudah kuberikan pada orang lain, jadi jika kau tak mau menerima pemberianku itu, tinggalkan saja disini atau buang saja ditempat sampah. Beres kan?" Lalu Frans bangkit dan beringsut pergi tanpa mempedulikan apapun lagi.
Aku termangu tak bisa berpikir secepat langkah Frans yang meninggalkanku. Tapi, selepas kepergian pria yang mengaku mencintaiku dan berharap bisa membantuku lepas dari bayang-bayang Ariel itu aku kemudian berfikir, benarkah memang harus begitu? Hasil bukan yang utama, karena itu mutlak hak Sang Pencipta. Kita hanya perlu jalani prosesnya. Karena dengan begitu kita akan tau makna yang terkandung didalamnya. Benar kata Frans, hidup memang tak mudah, jadi tak perlu menambahinya dengan mempersulitnya.
Kutatap bungkusan diatas meja itu. Lalu aku tergelak.
Frans, orang itu ternyata memang benar-benar tau cara menghadapiku. Rutukku dalam hati
Tapi kemudian tak sadar aku tersenyum.
Akhirnya aku 'membongkar' berkas-berkas cerpenku dan mulai mengirimkan ke beberapa redaksi rujukan dari Frans. Dan sekarang, aku bahkan sedang dalam proses pembuatan novel untuk sebuah penerbit. Dan aku tau, semua itu adalah berkat Frans. Dia yang dengan telaten menyemangati untuk terus maju. Bahwa melakukan pekerjaan yang kita sukai itu jauh lebih menyenangkan dari apapun.
" Kau selalu melakukan semuanya sesuai apa yang kau pikirkan. Sekali saja, pernahkah kau memikirkan apa yang diharapkan orang? Kau orang paling egois yang pernah kutemui."
Aku terpaku menerima penghakiman Frans.
Frans orangnya memang begitu, bahasa jawanya 'tanpo tedeng aling-aling'. Apapun yang ada dihati langsung diungkapkan. Aku memang suka keterbukaannya. Meski awalnya menyakitkan, tapi itu memang patut untuk dipikirkan. Aku memang terlalu egois. Tapi apakah sepenuhnya salah? Aku melakukan yang kuanggap seharusnya kulakukan. Aku lebih memikirkan orang lain, meski dengan caraku sendiri. Dan jika ini masih dianggap salah, lalu aku harus bersikap bagaimana?
Aku menunduk.
" Aku tau, lukamu dari pacarmu dulu terlalu menyakitkan. Bahkan bisa dibilang menjadi trauma tersendiri. Tapi apa harus begini? Kau jadi menutup diri pada semua orang. Mencurigai semua orang yang mendekatimu. Berhentilah melindungi dirimu dengan pertahanan konyolmu itu."
" Sudah, cukup!" Desisku tak tahan lagi dengan semua penghakiman itu.
" Kau terlalu berlebihan, Frans. Kau bahkan tak tau seperti apa sakit itu, jadi jangan merasa tau segalanya hingga seenaknya menghakimiku seperti itu." Lanjutku sedikit geram.
" Aku sudah melakukan yang aku pikir terbaik yang bisa kulakukan. Jika itu masih dianggap hal yang egois, oke, aku lebih baik diam saja. Biarkan saja semua terjadi tanpa campur tanganku. Beres kan?!"
Frans menatapku tanpa kedip.
" Sekarang aku tau kenapa pacarmu mencampakkanmu, padahal kau sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kalian." Katanya sinis.
Detik itu juga aku kaget, tapi detik berikutnya aku akhirnya tergelak.
" Kau memang lakukan yang terbaik untuk semua hal, tapi saat itu terjadi tak sesuai yang kau inginkan, kau mengacuhkannya. Kau mencampakkannya dengan sangat kejam. Seperti yang terjadi sekarang."
Aku benar-benar bingung dengan maksud Frans. Apa semua ini karena dia tersinggung aku menolaknya?
" Kau tau kenapa Tuhan meletakkan mata itu didepan? Karena kita harus menatap ke depan dan melanjutkan perjalanan hidup. Masa lalu bukan hal yang harus kita masalahkan terus, karena itu hanya akan mengikat langkah kita saat ingin melanjutkan perjalanan." Kenangku akan ucapannya beberapa waktu lalu, saat tanpa sengaja aku bertemu mantan pacarku itu dengan 'gadis barunya'.
" Kau mau bilang aku belum bisa move on kan? Gak usah muter-muter ngomongnya, langsung aja bilang begitu." Ucapku membuatnya tersenyum.
" Oke, aku memang masih belum bisa melupakan semua masa lalu menyakitkan itu. Aku hanya perlu waktu lebih lama untuk melupakan semua." Lanjutku mencoba membela diri.
Frans tersenyum lagi.
" Tak perlu melupakan semuanya. Kadangkala mengingat masa lalu itu juga tak mengapa, karena itu manusiawi. Tak perlu menguras semua tenagamu untuk melupakan masa lalu, takutnya tenagamu akan habis dan malah tak bisa melanjutkan hidupmu. Permudahlah yang bisa dipermudah, karena hidup ini tak ada yang mudah. Jadi jangan dipersulit lagi."
Aku tergelak lirih mengingat semua hal yang diucapkan Frans waktu itu.
Aku memang pernah pada suatu masa dimana aku begitu berusaha keras keluar dari masa laluku. Begitu berusaha hingga aku letih sendiri. Tapi aku akhirnya menyerah dan membiarkan masa lalu itu merantaiku, merajaiku. Dan inilah akhirnya, aku terlalu takut mempercayai sebuah hal bisa berakhir bahagia. Karena aku pernah merasakan yang awalnya sangat sempurna dan sangat bahagiapun, akhirnya berujung sangat menyakitkan. Apa itu kemudian bisa dicap tak normal? Aku hanya berusaha melindungi diriku yang pernah terluka untuk tak terluka lagi. Bukankah itu juga manusiawi?
" Sangat tidak adil jika kau berfikir semua orang yang mencintaimu, pada akhirnya akan menyakitimu. Sangat tidak adil jika kau memvonis semua kisah akhirnya tetap akan berakhir menyakitkan. Sebuah kisah berakhir bukan berarti akhir segalanya. Itu hanya sebuah kisah. Dan akhir sebuah kisah adalah awal untuk kisah yang baru. Begitu seterusnya." Papar Frans menjelaskan, tapi menurutku lagi-lagi berunsur menghakimiku.
Kugigit bibirku.
" Jadi berhentilah melindungi dirimu dengan pertahanan yang justru akan membuatmu makin terpuruk. Lihatlah kedepan, dan berjalanlah. Tak perlu memikirkan apa hasilnya nanti, karena semuanya sudah ditetapkanNya. Dan percayalah, itu akan terasa lebih mudah."
Aku mendesah panjang.
" Aku tak cukup paham dengan semua yang kau katakan, Frans." Kataku sembari bangkit.
" Aku pergi dulu."
" Itulah kau yang perlu kau ubah jika ingin hidup ini lebih mudah." Susul Frans sebelum aku berhasil mengangkat kakiku.
Kupicingkan mataku. Apalagi ini? Bathinku.
" Berhentilah melarikan diri, hadapilah apa yang sudah terjadi didepan mata. Lari tak akan menyelesaikan masalah, hanya menundanya selesai dengan menambah kadar akibat yang akan ditimbulkan. Apa begitu menakutkan mengakui bahwa aku mencintaimu? Aku bukan Ariel mantan pacarmu yang pernah sangat mencintaimu tapi kemudian mencampakkanmu. Aku adalah Frans, yang berharap bisa membantumu lepas dari ikatan masa lalumu dan menemanimu meneruskan perjalanan. Aku memang tak bisa menjanjikan ini pasti berakhir bahagia. Tapi aku akan berusaha agar tak berakhir menyakitkan. Dan aku perlu bantuanmu agar itu bisa terjadi." Ungkap Frans panjang lebar dan sangat tertata rapi.
" Mulailah dengan membuka hatimu, dan kau akan menyadari bahwa dalam hidup banyak kisah yang harus kita jalani dan menunggu untuk kita selesaikan. Bukan sendiri, tapi dengan orang lain. Karena itu lebih manusiawi. Dan berhentilah berfikir bahwa semua kisah yang meski awalnya indah akan berakhir sama saja, menyakitkan. Akhir bukan hak kita, itu mutlak hak Tuhan. Jadi berhentilah mengkhawatirkan sebuah akhir. Jalani saja sebaik mungkin, dan jika itu tetap berakhir tak menyenangkan, percayalah, itu yang terbaik menurutNya."
Aku tak mampu bereaksi untuk semua omongan Frans, meskipun itu hanya senyuman kecil.
" Aku tak pernah mengambil kembali apa yang sudah kuberikan pada orang lain, jadi jika kau tak mau menerima pemberianku itu, tinggalkan saja disini atau buang saja ditempat sampah. Beres kan?" Lalu Frans bangkit dan beringsut pergi tanpa mempedulikan apapun lagi.
Aku termangu tak bisa berpikir secepat langkah Frans yang meninggalkanku. Tapi, selepas kepergian pria yang mengaku mencintaiku dan berharap bisa membantuku lepas dari bayang-bayang Ariel itu aku kemudian berfikir, benarkah memang harus begitu? Hasil bukan yang utama, karena itu mutlak hak Sang Pencipta. Kita hanya perlu jalani prosesnya. Karena dengan begitu kita akan tau makna yang terkandung didalamnya. Benar kata Frans, hidup memang tak mudah, jadi tak perlu menambahinya dengan mempersulitnya.
Kutatap bungkusan diatas meja itu. Lalu aku tergelak.
Frans, orang itu ternyata memang benar-benar tau cara menghadapiku. Rutukku dalam hati
Tapi kemudian tak sadar aku tersenyum.
Menyemangati diri,
#mesem_sithik
Rabu, 15 April 2015
REUNI
Lebih kurapatkan lagi sweater rajutku seraya menyilangkan kedua tanganku ke dada. Musim pancaroba benar-benar mengubah kota metropolitan ini menjadi seperti di tepi pantai. Sangat berangin. Dan cuaca seperti ini yang paling kubenci. Aku tak suka cuaca dingin, bahkan itu yang membuatku sangat bersyukur lahir dan tinggal di negara tropis ini. Tapi tiap kali negara tropis ini melewati musim pancaroba yang begitu berangin campur dingin. Aku berharap seharian bisa bekerja di dalam ruangan.
Aku mendesah lagi. Taksi yang sejak tadi kunanti, tak satupun ada yang lewat. Jam-jam seperti ini memang sudah jarang sopir taksi mencari penumpang. Aku mendesah lagi. Menyesal rasanya tadi sudah menolak tawaran Pay yang akan menjemput. Aku cuma bisa menggerutu dalam hati. Kuambil ponselku, mencari nomor telpon Pay, tapi.... aku urung. Kumasukkan lagi ponselku ke dalam tas.
" Kau bukan gadis manja, Anggun!" Desisku untuk diriku sendiri.
Akhirnya kuputuskan untuk berjalan sambil menunggu taksi lewat. Lagipula jadwal siaran radioku masih sejam lagi. Bahkan jika harus berjalan kaki sampai ke kantor radio tempatku kerja part-time itu masih akan belum telat.
Tiba-tiba langkahku terhalang oleh pejalan kaki. Aku ke kanan, dia juga ikut ke kanan. Aku ke kiri, dia juga ikut kekiri.
" Hei....!" Geramku akhirnya, sambil mendongak mencari tahu tampang pejalan kaki yang menjengkelkan ini.
Tapi aku terpaku menemukan pelaku penghadang jalanku ini. Dan senyum manisnya yang tergelar makin membuatku speechless.
" Apa kabar Anggun, lama tak jumpa." Sapa pria tampan yang ditopang tubuh tinggi tegapnya, juga dengan penampilan parlente-nya.
" Alan?" Desisku
" Kurasa begitu." Sahutnya enteng.
Aku tergelak, masih tak percaya.
" Kau benar-benar Alan? Temanku yang manis itu?"
" Apa kau bahagia? Kau terpesona melihatku?" Selorohnya percaya diri, tak pernah berubah masih seperti masa-masa SMA dulu.
Aku tertawa. Alan merentangkan tangannya, entah memamerkan penampilan atau berharap aku berhambur memeluknya. Tapi aku makin mempererat silangan tanganku didada, membuatnya berwajah masam. Aku tergelak.
" Kau masih saja temanku yang manis."Pujiku sambil mengulurkan tangan
" Dan kau makin cantik . " Sambutnya.
Tak bisa kusembunyikan pias merah jambu pipiku menerpaku meski tangannya yang menggenggam tanganku dingin. Sedingin es. Kuperhatikan wajahnya sekilas, sedikit pucat. Atau mungkin memang cuaca di Inggris membuat rona wajahnya terlihat lebih putih.
Alan, kami dulu sahabat semasa SMA. 3 tahun berturut-turut dia selalu sekelas bersamaku. Bahkan nomor absen kami pun bersebelahan. Dan dia selalu bersikeras duduk sebangku denganku. Tak ayal, seluruh warga sekolah menyangka kami pacaran. Alan tak pernah menyangkal itu. Tapi tidak bagiku. Karena bagiku, Alan adalah sahabat yang kusayangi, dan tak akan pernah berganti status menjadi pacar.
" Kita pacaran saja." Ungkapnya kala itu.
Aku langsung tergelak.
" Apanya yang lucu, Nggun? Kita sudah 2 tahun lebih bersahabat. Aku mencintaimu, dan aku juga tau kau juga begitu. Lalu apa salahnya kita pacaran?"
Kugeser posisi dudukku hingga berhadapan penuh dengan Alan.
" Alan, apa kau tau hubungan paling indah dan hangat didunia ini?" Tanyaku menatapnya lembut. Alan hanya mendesah.
" Persahabatan antara pria dan wanita yang tanpa dicampuri dengan perasaan untuk saling mengikat, apalagi memiliki. Jika kita saling mengikat, kita pasti akan kehilangan kebebasan kita. Dan jika kita saling memiliki, maka suatu saat juga akan berganti menjadi kehilangan. Aku tak menyukai semua itu, Al."
" Benarkah karena itu? Bukan karena aku beberapa bulan lebih muda darimu?" Tanyanya dingin.
Aku tercekat.
" Hei..." Kejut Alan melongok ke wajahku. Aku langsung tersadar dari lamunan usangku.
" Masih ada sedikit waktu. Bagaimana kalo minum kopi dulu dicoffee shop itu? Aku penasaran sekali dengan kabarmu 5 tahun ini" Ajakku menunjuk sebuah coffe shop tak jauh dari tempat kami berdiri.
" Kau punya janji?" Selidiknya.
" Bukan janji, tapi kerjaan. Jam 9 aku ada siaran disebuah station radio."
Alan tersenyum.
" Kau selalu membuatku kagum, Nggun. Disela-sela kesibukanmu di Gardener, kau juga masih juga menyempatkan diri menyalurkan hobi."
Aku tersenyum seraya meninju lengannya pelan. Kami beriringan memasuki coffe shop yang cukup sepi itu.
Baru sesaat duduk, seorang waiters mendekati kami, lalu menyodorkan buku pesanan padaku. Hanya padaku. Aku mendongak menatap Alan yang sepertinya tak menggubris telah diacuhkan pelayan coffee shop ini.
" Kau saja yang pesan, kan kau yang traktir." Selorohnya enteng.
Akupun tersenyum dan memesan 2 cangkir cappuccino.
" Dua?" Kernyit sang Waiters.
Aku mendongak menatapnya tak mengerti.
" Iya, dua, masa iya cuma pesen satu sih mbk?" Desisku sedikit jengkel.
Alan malah tertawa lirih.
Akhirnya waiters itu pun berlalu, meski dengan sedikit pandangan aneh memperhatikanku.
Aku mendesah.
" Sudah gak usah dipikirkan, mungkin saja dikiranya aku ini incredible man." Canda Alan.
Aku pun menyeringai palsu.
" Lucu sekali ya? Sudahlah." Leraiku.
" Kapan kau kembali dari Inggris? Bagaimana, gadis-gadis disana cantik-cantik kan?" Godaku.
Alan tergelak.
" Cantik. Tapi tak ada yang mengalahkan Anggunku." Bisiknya mencondongkan tubuhnya padaku.
Aku terdiam sejenak. Mataku terarah pada jemari tangan kananku. Disana tersemat sebuah cincin, yang baru resmi kupakai 2 bulan lalu, sebagai simbol bahwa aku resmi tunangan Pay.
" Aku tak bisa memikirkan gadis lain, selain kau, Nggun. Aku tau, meski kita berumur berapa tahun pun, aku tak akan bisa mengubah bahwa aku 3 bulan lebih muda darimu. Seperti perasaan itu yang juga tak bisa kuubah sampai kapanpun."
" Al..." Sergahku. " Aku sudah tunangan, dan... dua bulan lagi kami akan menikah." Lanjutku berat.
Alan terdiam tanpa kata. Tapi sinar matanya sudah cukup untuk mengatakan semua kekecewaannya.
" Maafkan aku Al,..."
Harusnya aku tak perlu mengatakan itu dihari pertemuan kami yang telah terpisah 5 tahun. Harusnya hari ini kubiarkan Alan bahagia bertemu denganku. Bathinku menyalahkan diriku sendiri.
Ahh... apa memang itu lebih baik? Bukankah sama saja aku sengaja akan membuat hatinya makin terluka kemudian hari? Bathinku lagi, bingung.
Alan tergelak menanggapi permintaan maafku tadi.
" Kau benar-benar orang yang berkomitmen tinggi, Nggun. Siapa pria beruntung itu?" Dikte Alan.
" Al..."
" Ah... siapapun dia, pasti umurnya lebih tua darimu, iya kan?"
Aku terhenyak mendengar pertanyaannya kali ini, yang lebih mirip tudingan. Aku menunduk.
" Al, dari dulu aku sudah bilang bahwa..."
" Hubungan terindah dan terhangat di dunia ini adalah persahabatan antara pria dan wanita. Aku masih menginggatnya, Nggun." Sela Alan
Cappuccino pesenanku akhirnya datang, Kugeser cangkir satunya ke tempat Alan tanpa mempedulikan pandangan aneh waiters.
" Sejak dulu aku selalu iri padamu, Nggun." Katanya lagi.
Kuaduk cappuccino dihadapanku dengan perasaan tak nyaman.
" Kenapa kau bisa selalu menganggapku hanya sahabat, sementara aku tak bisa. Kenapa kau bisa mencintai orang lain, sementara aku tak bisa. Kenapa..." Suara Alan hilang mengambang.
Kuletakkan sendok pengadukku, lalu mengangkat cangkirku. Menyeruputnya sedikit. Sekilas sempat kulihat 2 orang dibangku seberang sana sedang menatapku dengan tatapan yang membuatku sedikit risih. Lalu aku lebih mendongak, menoleh ke bangku dibelakangku yang dihuni 2 orang juga. Keduanya juga sesekali menatapku aneh, sambil berbisik-bisik tak mengerti. Aku tergelak heran.
" Aku pernah lewat akun Mario Teguh dan menemukan sebuah kalimat 'Duduk disebelahmu membuatku berbahagia dan sedih secara bersamaan, karena aku tau aku tak akan pernah memilikimu'."
Mataku tak lepas menatap wajah tampan tapi terlihat sangat sendu itu.
" Kau selalu membuatku merasa seperti orang jahat, Al." Keluhku.
Alan tersenyum.
" Ah... lagu ini...!!" Pekiknya lirih saat musik yang sejak tadi mewarnai suasana coffeeshop ini berganti mengalunkan sebuah lagu.
" Kae Sun - ship and the globe." Susulku menyebut nama dan judul lagu yang sedang mengalun manis.
Alan seperti terhanyut mendengar lagu itu.
" Aku sering memutar lagu ini sebagai lagu penutup acaraku."
Alan tersenyum.
" Aku suka lagu ini. .... i'm happy you know..." Katanya ikut berdendang.
Aku tersenyum melihatnya berubah begitu cepat. Selanjutnya kunikmati Alan yang seakan ingin menjadi Kae Sun. Begitu lincahnya menirukan setiap kata dalam lagu itu. Tak kupedulikan tatapan orang-orang di coffee shop yang menatapku sambil bisik-bisik tak jelas. Mungkin saja mereka iri melihatku dengan seorang pria tampan lagi manis.
" Kau bahagia kan?" Tanyanya.
Aku mengangguk dengan senyum lebar.
" I'm lost your smile...." Tirunya sambil melirik genit.
Aku tergelak.
" Cukup, Al, cukup...!" Pintaku menahan tawa " Aku tak mau orang-orang mengiramu gila." Lanjutku menyeruput lagi cappuccino-ku. Kulirik jam tanganku.
" Kau sudah mau pergi?" Tanyanya sedih, kentara sekali raut mukanya kembali sendu seperti tadi.
" Hmmm...setengah jam lagi acaraku dimulai." Kataku seraya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan meletakkannya di dekat cangkirku.
" Oh ya, ini kartu namaku. Kalo siang aku ada di Gardener, kalo malam aku ada stasiun radio itu." Kusodorkan sebuah kartu nama pada Alan. Tapi Alan hanya tersenyum menatapku, tanpa berniat menerimanya. Aku mendesah meletakkan kartu nama itu didepannya.
" Ingatlah aku selalu kalo mendengar lagu ini, Nggun. Karena hanya kau yang tau kalo aku bahagia karenamu." Ucap Alan sebelum lagu Ship and the Globe itu benar-benar berakhir.
" Kau tau kenapa bahagia itu sederhana? Karena aku tak pernah memperumitnya. Kau juga harus berbahagia, Nggun. Selamat atas pertunanganmu, lain waktu semoga kau bisa memperkenalkan laki-laki beruntung itu padaku."
Aku tersenyum getir.
" Baiklah, telpon aku ya!"
Alan mengangguk.
" Aku pergi dulu. Habiskan minumanmu sebelum dingin."
" Tentu."
" Bye..."
" Bye, senang bisa bertemu denganmu Anggun."
Aku menarik nafas berat, lalu membalikkan tubuhku meninggalkan sahabat termanisku itu.
Aku memang sedikit risih dengan tatapan semua pengunjung coffee shop juga beberapa waiters itu, tapi aku tak punya banyak waktu. Aku bergegas keluar. Aku harus segera mencari taksi. Sangat tidak memungkinkan untuk sekarang berjalan kaki sampai di sana. Aku akan telat siaran.
Kurapatkan sweater-ku dan berjalan sedikit lebar, sambil sesekali melongok ke jalan, siapa tau ada taksi lewat. Tiba-tiba selembar kertas menyangkut di kakiku.
" Aduuhh....angin pancaroba ini benar-benar membuatku jengkel." Gerutuku memungut kertas yang menyangkut langkahku. Selembar koran harian.
Aku mendesah. Mataku tertuju pada tong sampah ditepi jalan. Kulipat asal koran itu sambil mendekati tong sampah. Tapi saat tanganku hendak memasukkan kertas koran itu, mataku menangkap sesuatu. Sepertinya ada satu kata yang menarik hatiku. Kuamati lagi sebuah kolom berita.
"TABRAKAN BERUNTUN TEWASKAN PENGUSAHA MUDA"
JAKARTA- Kecelakaan beruntun di daerah bilangan slipi kemarin malam (13/04/2015) sekitar pukul 20.10WIB cukup membuat kemacetan lalu lintas. Kecelakaan ini mengakibatkan pengemudi mobil marcedes benz, Alan prambudi (24th), seorang pengusaha muda, tewas ditempat dengan luka.....
Aku tak mampu meneruskan membaca berita itu, entah apa saja yang beputar-putar di kepalaku. Puluhan fragmen kejadian bersama Alan tadi berhamburan menyeruak. Saat menjabat tangan Alan yang sedingin es, wajah pucat Alan, sikap aneh waiters coffeeshop, tatapan-tatapan aneh dan bisik-bisik para pengunjung coffeeshop, senyum manis Alan....
Aku limbung, kakiku serasa lemas, nafasku begitu berat. Tanganku berpegangan erat pada tiang tong sampah. Beberapa orang yang kebetulan lewat mendekat. Menanyakan keadaanku. Dan itu makin membuatku limbung. Dan sebelum semua terlihat makin pekat, masih sempat kulihat sosok dengan senyum manis tadi. Alan.
Yang terjadi, Alan meninggal dalam kecelakaan didepan Coffeeshop tempat tadi kami berbincang, kemarin malam. Dan entah apa maksudnya dia menemuiku lagi. Tapi mungkin, selamanya aku tak akan bisa melupakan Alan, sahabat manisku itu. Aku ingat betul ucapan terakhirnya, bahwa kebahagiaan itu sederhana, kalo kita tak memperumitnya. Aku mungkin hanya perlu mengenang sosok sahabat yang sangat kusayangi itu dalam hati. Selalu dan selalu. Dan benar saja, aku akan langsung teringat dia tiap kali mendengar lagu Kae Sun - Ship and The Globe,
Oceans apart and it's heavy on my heart
Roll and row but my rolling game to slow
I'm happy you know....
I'm spending my time watching the ship and the globe
Why beauty's in the simple things
Your sweetness and your elegance
I'm happy you know.....
Aku, juga akan bahagia, Al. Dan kau tahu itu.
Aku mendesah lagi. Taksi yang sejak tadi kunanti, tak satupun ada yang lewat. Jam-jam seperti ini memang sudah jarang sopir taksi mencari penumpang. Aku mendesah lagi. Menyesal rasanya tadi sudah menolak tawaran Pay yang akan menjemput. Aku cuma bisa menggerutu dalam hati. Kuambil ponselku, mencari nomor telpon Pay, tapi.... aku urung. Kumasukkan lagi ponselku ke dalam tas.
" Kau bukan gadis manja, Anggun!" Desisku untuk diriku sendiri.
Akhirnya kuputuskan untuk berjalan sambil menunggu taksi lewat. Lagipula jadwal siaran radioku masih sejam lagi. Bahkan jika harus berjalan kaki sampai ke kantor radio tempatku kerja part-time itu masih akan belum telat.
Tiba-tiba langkahku terhalang oleh pejalan kaki. Aku ke kanan, dia juga ikut ke kanan. Aku ke kiri, dia juga ikut kekiri.
" Hei....!" Geramku akhirnya, sambil mendongak mencari tahu tampang pejalan kaki yang menjengkelkan ini.
Tapi aku terpaku menemukan pelaku penghadang jalanku ini. Dan senyum manisnya yang tergelar makin membuatku speechless.
" Apa kabar Anggun, lama tak jumpa." Sapa pria tampan yang ditopang tubuh tinggi tegapnya, juga dengan penampilan parlente-nya.
" Alan?" Desisku
" Kurasa begitu." Sahutnya enteng.
Aku tergelak, masih tak percaya.
" Kau benar-benar Alan? Temanku yang manis itu?"
" Apa kau bahagia? Kau terpesona melihatku?" Selorohnya percaya diri, tak pernah berubah masih seperti masa-masa SMA dulu.
Aku tertawa. Alan merentangkan tangannya, entah memamerkan penampilan atau berharap aku berhambur memeluknya. Tapi aku makin mempererat silangan tanganku didada, membuatnya berwajah masam. Aku tergelak.
" Kau masih saja temanku yang manis."Pujiku sambil mengulurkan tangan
" Dan kau makin cantik . " Sambutnya.
Tak bisa kusembunyikan pias merah jambu pipiku menerpaku meski tangannya yang menggenggam tanganku dingin. Sedingin es. Kuperhatikan wajahnya sekilas, sedikit pucat. Atau mungkin memang cuaca di Inggris membuat rona wajahnya terlihat lebih putih.
Alan, kami dulu sahabat semasa SMA. 3 tahun berturut-turut dia selalu sekelas bersamaku. Bahkan nomor absen kami pun bersebelahan. Dan dia selalu bersikeras duduk sebangku denganku. Tak ayal, seluruh warga sekolah menyangka kami pacaran. Alan tak pernah menyangkal itu. Tapi tidak bagiku. Karena bagiku, Alan adalah sahabat yang kusayangi, dan tak akan pernah berganti status menjadi pacar.
" Kita pacaran saja." Ungkapnya kala itu.
Aku langsung tergelak.
" Apanya yang lucu, Nggun? Kita sudah 2 tahun lebih bersahabat. Aku mencintaimu, dan aku juga tau kau juga begitu. Lalu apa salahnya kita pacaran?"
Kugeser posisi dudukku hingga berhadapan penuh dengan Alan.
" Alan, apa kau tau hubungan paling indah dan hangat didunia ini?" Tanyaku menatapnya lembut. Alan hanya mendesah.
" Persahabatan antara pria dan wanita yang tanpa dicampuri dengan perasaan untuk saling mengikat, apalagi memiliki. Jika kita saling mengikat, kita pasti akan kehilangan kebebasan kita. Dan jika kita saling memiliki, maka suatu saat juga akan berganti menjadi kehilangan. Aku tak menyukai semua itu, Al."
" Benarkah karena itu? Bukan karena aku beberapa bulan lebih muda darimu?" Tanyanya dingin.
Aku tercekat.
" Hei..." Kejut Alan melongok ke wajahku. Aku langsung tersadar dari lamunan usangku.
" Masih ada sedikit waktu. Bagaimana kalo minum kopi dulu dicoffee shop itu? Aku penasaran sekali dengan kabarmu 5 tahun ini" Ajakku menunjuk sebuah coffe shop tak jauh dari tempat kami berdiri.
" Kau punya janji?" Selidiknya.
" Bukan janji, tapi kerjaan. Jam 9 aku ada siaran disebuah station radio."
Alan tersenyum.
" Kau selalu membuatku kagum, Nggun. Disela-sela kesibukanmu di Gardener, kau juga masih juga menyempatkan diri menyalurkan hobi."
Aku tersenyum seraya meninju lengannya pelan. Kami beriringan memasuki coffe shop yang cukup sepi itu.
Baru sesaat duduk, seorang waiters mendekati kami, lalu menyodorkan buku pesanan padaku. Hanya padaku. Aku mendongak menatap Alan yang sepertinya tak menggubris telah diacuhkan pelayan coffee shop ini.
" Kau saja yang pesan, kan kau yang traktir." Selorohnya enteng.
Akupun tersenyum dan memesan 2 cangkir cappuccino.
" Dua?" Kernyit sang Waiters.
Aku mendongak menatapnya tak mengerti.
" Iya, dua, masa iya cuma pesen satu sih mbk?" Desisku sedikit jengkel.
Alan malah tertawa lirih.
Akhirnya waiters itu pun berlalu, meski dengan sedikit pandangan aneh memperhatikanku.
Aku mendesah.
" Sudah gak usah dipikirkan, mungkin saja dikiranya aku ini incredible man." Canda Alan.
Aku pun menyeringai palsu.
" Lucu sekali ya? Sudahlah." Leraiku.
" Kapan kau kembali dari Inggris? Bagaimana, gadis-gadis disana cantik-cantik kan?" Godaku.
Alan tergelak.
" Cantik. Tapi tak ada yang mengalahkan Anggunku." Bisiknya mencondongkan tubuhnya padaku.
Aku terdiam sejenak. Mataku terarah pada jemari tangan kananku. Disana tersemat sebuah cincin, yang baru resmi kupakai 2 bulan lalu, sebagai simbol bahwa aku resmi tunangan Pay.
" Aku tak bisa memikirkan gadis lain, selain kau, Nggun. Aku tau, meski kita berumur berapa tahun pun, aku tak akan bisa mengubah bahwa aku 3 bulan lebih muda darimu. Seperti perasaan itu yang juga tak bisa kuubah sampai kapanpun."
" Al..." Sergahku. " Aku sudah tunangan, dan... dua bulan lagi kami akan menikah." Lanjutku berat.
Alan terdiam tanpa kata. Tapi sinar matanya sudah cukup untuk mengatakan semua kekecewaannya.
" Maafkan aku Al,..."
Harusnya aku tak perlu mengatakan itu dihari pertemuan kami yang telah terpisah 5 tahun. Harusnya hari ini kubiarkan Alan bahagia bertemu denganku. Bathinku menyalahkan diriku sendiri.
Ahh... apa memang itu lebih baik? Bukankah sama saja aku sengaja akan membuat hatinya makin terluka kemudian hari? Bathinku lagi, bingung.
Alan tergelak menanggapi permintaan maafku tadi.
" Kau benar-benar orang yang berkomitmen tinggi, Nggun. Siapa pria beruntung itu?" Dikte Alan.
" Al..."
" Ah... siapapun dia, pasti umurnya lebih tua darimu, iya kan?"
Aku terhenyak mendengar pertanyaannya kali ini, yang lebih mirip tudingan. Aku menunduk.
" Al, dari dulu aku sudah bilang bahwa..."
" Hubungan terindah dan terhangat di dunia ini adalah persahabatan antara pria dan wanita. Aku masih menginggatnya, Nggun." Sela Alan
Cappuccino pesenanku akhirnya datang, Kugeser cangkir satunya ke tempat Alan tanpa mempedulikan pandangan aneh waiters.
" Sejak dulu aku selalu iri padamu, Nggun." Katanya lagi.
Kuaduk cappuccino dihadapanku dengan perasaan tak nyaman.
" Kenapa kau bisa selalu menganggapku hanya sahabat, sementara aku tak bisa. Kenapa kau bisa mencintai orang lain, sementara aku tak bisa. Kenapa..." Suara Alan hilang mengambang.
Kuletakkan sendok pengadukku, lalu mengangkat cangkirku. Menyeruputnya sedikit. Sekilas sempat kulihat 2 orang dibangku seberang sana sedang menatapku dengan tatapan yang membuatku sedikit risih. Lalu aku lebih mendongak, menoleh ke bangku dibelakangku yang dihuni 2 orang juga. Keduanya juga sesekali menatapku aneh, sambil berbisik-bisik tak mengerti. Aku tergelak heran.
" Aku pernah lewat akun Mario Teguh dan menemukan sebuah kalimat 'Duduk disebelahmu membuatku berbahagia dan sedih secara bersamaan, karena aku tau aku tak akan pernah memilikimu'."
Mataku tak lepas menatap wajah tampan tapi terlihat sangat sendu itu.
" Kau selalu membuatku merasa seperti orang jahat, Al." Keluhku.
Alan tersenyum.
" Ah... lagu ini...!!" Pekiknya lirih saat musik yang sejak tadi mewarnai suasana coffeeshop ini berganti mengalunkan sebuah lagu.
" Kae Sun - ship and the globe." Susulku menyebut nama dan judul lagu yang sedang mengalun manis.
Alan seperti terhanyut mendengar lagu itu.
" Aku sering memutar lagu ini sebagai lagu penutup acaraku."
Alan tersenyum.
" Aku suka lagu ini. .... i'm happy you know..." Katanya ikut berdendang.
Aku tersenyum melihatnya berubah begitu cepat. Selanjutnya kunikmati Alan yang seakan ingin menjadi Kae Sun. Begitu lincahnya menirukan setiap kata dalam lagu itu. Tak kupedulikan tatapan orang-orang di coffee shop yang menatapku sambil bisik-bisik tak jelas. Mungkin saja mereka iri melihatku dengan seorang pria tampan lagi manis.
" Kau bahagia kan?" Tanyanya.
Aku mengangguk dengan senyum lebar.
" I'm lost your smile...." Tirunya sambil melirik genit.
Aku tergelak.
" Cukup, Al, cukup...!" Pintaku menahan tawa " Aku tak mau orang-orang mengiramu gila." Lanjutku menyeruput lagi cappuccino-ku. Kulirik jam tanganku.
" Kau sudah mau pergi?" Tanyanya sedih, kentara sekali raut mukanya kembali sendu seperti tadi.
" Hmmm...setengah jam lagi acaraku dimulai." Kataku seraya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan meletakkannya di dekat cangkirku.
" Oh ya, ini kartu namaku. Kalo siang aku ada di Gardener, kalo malam aku ada stasiun radio itu." Kusodorkan sebuah kartu nama pada Alan. Tapi Alan hanya tersenyum menatapku, tanpa berniat menerimanya. Aku mendesah meletakkan kartu nama itu didepannya.
" Ingatlah aku selalu kalo mendengar lagu ini, Nggun. Karena hanya kau yang tau kalo aku bahagia karenamu." Ucap Alan sebelum lagu Ship and the Globe itu benar-benar berakhir.
" Kau tau kenapa bahagia itu sederhana? Karena aku tak pernah memperumitnya. Kau juga harus berbahagia, Nggun. Selamat atas pertunanganmu, lain waktu semoga kau bisa memperkenalkan laki-laki beruntung itu padaku."
Aku tersenyum getir.
" Baiklah, telpon aku ya!"
Alan mengangguk.
" Aku pergi dulu. Habiskan minumanmu sebelum dingin."
" Tentu."
" Bye..."
" Bye, senang bisa bertemu denganmu Anggun."
Aku menarik nafas berat, lalu membalikkan tubuhku meninggalkan sahabat termanisku itu.
Aku memang sedikit risih dengan tatapan semua pengunjung coffee shop juga beberapa waiters itu, tapi aku tak punya banyak waktu. Aku bergegas keluar. Aku harus segera mencari taksi. Sangat tidak memungkinkan untuk sekarang berjalan kaki sampai di sana. Aku akan telat siaran.
Kurapatkan sweater-ku dan berjalan sedikit lebar, sambil sesekali melongok ke jalan, siapa tau ada taksi lewat. Tiba-tiba selembar kertas menyangkut di kakiku.
" Aduuhh....angin pancaroba ini benar-benar membuatku jengkel." Gerutuku memungut kertas yang menyangkut langkahku. Selembar koran harian.
Aku mendesah. Mataku tertuju pada tong sampah ditepi jalan. Kulipat asal koran itu sambil mendekati tong sampah. Tapi saat tanganku hendak memasukkan kertas koran itu, mataku menangkap sesuatu. Sepertinya ada satu kata yang menarik hatiku. Kuamati lagi sebuah kolom berita.
"TABRAKAN BERUNTUN TEWASKAN PENGUSAHA MUDA"
JAKARTA- Kecelakaan beruntun di daerah bilangan slipi kemarin malam (13/04/2015) sekitar pukul 20.10WIB cukup membuat kemacetan lalu lintas. Kecelakaan ini mengakibatkan pengemudi mobil marcedes benz, Alan prambudi (24th), seorang pengusaha muda, tewas ditempat dengan luka.....
Aku tak mampu meneruskan membaca berita itu, entah apa saja yang beputar-putar di kepalaku. Puluhan fragmen kejadian bersama Alan tadi berhamburan menyeruak. Saat menjabat tangan Alan yang sedingin es, wajah pucat Alan, sikap aneh waiters coffeeshop, tatapan-tatapan aneh dan bisik-bisik para pengunjung coffeeshop, senyum manis Alan....
Aku limbung, kakiku serasa lemas, nafasku begitu berat. Tanganku berpegangan erat pada tiang tong sampah. Beberapa orang yang kebetulan lewat mendekat. Menanyakan keadaanku. Dan itu makin membuatku limbung. Dan sebelum semua terlihat makin pekat, masih sempat kulihat sosok dengan senyum manis tadi. Alan.
Yang terjadi, Alan meninggal dalam kecelakaan didepan Coffeeshop tempat tadi kami berbincang, kemarin malam. Dan entah apa maksudnya dia menemuiku lagi. Tapi mungkin, selamanya aku tak akan bisa melupakan Alan, sahabat manisku itu. Aku ingat betul ucapan terakhirnya, bahwa kebahagiaan itu sederhana, kalo kita tak memperumitnya. Aku mungkin hanya perlu mengenang sosok sahabat yang sangat kusayangi itu dalam hati. Selalu dan selalu. Dan benar saja, aku akan langsung teringat dia tiap kali mendengar lagu Kae Sun - Ship and The Globe,
Oceans apart and it's heavy on my heart
Roll and row but my rolling game to slow
I'm happy you know....
I'm spending my time watching the ship and the globe
Why beauty's in the simple things
Your sweetness and your elegance
I'm happy you know.....
Aku, juga akan bahagia, Al. Dan kau tahu itu.
Selasa, 14 April 2015
EVERLASTING LOVE III
Malam belum lama merangkak, bahkan lembayung senja diufuk barat masih tersisa sedikit. Hanum masih terpaku ditempatnya berdiri, begitupun sosok tak jauh dihadapannya itu. Dunia sejenak seperti berhenti berotasi. Menunggu mereka berdua bergerak dulu.
Setengah jam lalu,
Hanum berjalan gontai tanpa semangat. Sedikit asa yang masih tersisa selama 5 tahun terakhir ini, telah ikut tergilas kenyataan yang 15 menit lalu lewat apa yang disaksikannya. Hanum memejamkan matanya menahan sesak dadanya yang seakan mau meledak.
Selama 5 tahun meninggalkan kota ini, akhirnya Hanum punya sedikit keberanian untuk menghadapi kenyataan hidup; bertemu Giok lagi. Meski Hanum tau tak banyak yang akan dia dapat, bahkan mungkin tak ada yang akan dia dapat selain kenyataan bahwa Giok tak seperti dulu lagi. Tapi ternyata kepedihan yang dibayangkannya selama ini jauh lebih menyesakkan saat benar-benar terjadi. Melihat Giok dengan bahagianya bercanda dengan seorang gadis kecil berusia 2 tahunan, sudah cukup sukses membuat nyali Hanum untuk bertemu Giok lagi, hancur berantakan tak bersisa.
Kau kelihatan bahagia sekali, Gi. Pasti hidupmu sekarang sudah sangat sempurna dengan adanya malaikat kecil tadi. Dengung Hanum pesimis.
Tuhan, jika memang kenyataannya begini, kenapa Kau biarkan aku sampai disini? Jika Giok bisa bahagia, kenapa Kau biarkan aku tetap terlarut dalam cinta tak bermakna itu? Jika ini tak baik untukku kenapa...
Ceracauan hati Hanum terputus saat tak sengaja dia hampir bertabrakan dengan pejalan kaki lainnya. Hanum bahkan sedikit terhuyung
" Oh..maaf, maaf...anda tidak apa-apa..."
" Oh...gak apa-apa kok, maaf tadi saya juga yang...." Ucapan Hanum mengambang saat menemukan wajah lawan bicaranya. Seorang laki-laki yang menenteng tas dan kresek. Laki-laki itupun terperangah untuk beberapa detik.
" Bi....Bim...Bimoo...??" Suara Hanum hampir tak jelas.
" Hanum? Ini benar Hanum kan?" Laki-laki yang dipanggil Bimo oleh Hanum juga tak cukup jelas mengeja nama Hanum.
Beberapa detik mereka tergelak tak percaya.
" Kau banyak berubah Num, sudah pantas menjadi Mangaka dari Jepang." Puji Bimo.
Hanum tergelak sambil melirik kesamping Bimo.
" Oh ya, kenalkan, ini istri dan anakku."
Hanum mendramatisir kekagetannya.
" Istri dan anakmu? Kapan menikahnya?"
Bimo tertawa.
" Kau pikir kau meninggalkan kami baru 2-3 bulan?"
Hanum tersenyum. Lalu diulurkan tangannya menyapa wanita cantik keibuan yang diperkenalkan Bimo sebagai istrinya.
" Jadi ini to mas yang namanya Hanum?" Seloroh wanita yang memperkenalkan diri bernama Esti.
Bimo hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum kecil. Lalu kuperhatikan gadis kecil dalam gendongan Esti. Dan tiba-tiba ingatannya tertuju pada kejadian tadi.
" Bim...ini bukannya anak yang bersama Giok tadi?"
Bimo terhenyak, saling pandang sebentar dengan Esti.
" Kau sudah bertemu Giok? Dimana?"
Hanum sedikit salah tingkah,
" Itu... tadi aku...aku mau ke kedai, tapi tak jadi. Aku lihat dia sudah bahagia dengan anaknya..."
" Anak? Siapa yang kau maksud?" Bimo heran.
Hanum menatap Bimo tak kalah heran.
" Tadi aku lihat dia menggendong anak kecil, seumuran anakmu ini."
Bimo tertawa, disusul Esti. Hanum melonggo tak mengerti.
" Sejak kapan Giok punya anak? Kalaupun dia menggendong anak kecil, ya anakku ini yang sering digendongnya" Ucap Bimo menjelaskan.
" Oh...jadi dia belum punya anak."
" Bagaimana mau punya anak."
" Kenapa? Dia tidak bercerai dengan Mawar kan?"
" Tidak."
Hanum mendesah lega.
" Bagaimana mau bercerai dengan Mawar, menikah saja tidak." Lanjut Bimo datar. Tapi sudah sangat sukses membuat Hanum terhenyak.
" Apa?"
" Ya."
" Kau bercanda kan, Bim?"
" Apa aku mirip orang bercanda?" Desis Bimo seperti geram.
Hanum tak mengerti dengan yang barusan didengarnya.
" Kalo mereka tak jadi menikah karena kau tak datang dan malah sudah lebih dulu terbang ke Jepang, ya memang itu alasannya. Sahabat yang kau anggap baik itu akhirnya benar-benar pantas disebut baik setelah menyadari bahwa sebenarnya dia tak seharusnya hadir diantara kau dan Giok." Lanjut Bimo. Hanum menatap Bimo dengan nanar.
" Mawar menolak menikah dengan Giok hari itu. Dan 5 tahun ini adalah masa-masa yang sangat sulit untuk Giok, Num. Tapi aku tau, dia berusaha tetap bertahan dan selalu berharap suatu saat kau kembali."
Mendengar penjelasan itu, Hanum tak punya pikiran lain selain ingin segera bertemu Giok. Detik-detik yang dilaluinya untuk sampai lagi ke kedai kopi milik Giok terasa jauh lebih lama dari 5 tahun yang telah dilaluinya di jepang selama ini.
" Akhirnya kau datang juga, Num." Ucap Giok memecah kesunyian dan menggembalikan Hanum ke alam sadarnya.
" Maaf, apa aku terlalu lama membuatmu menunggu?"
Giok tersenyum tipis.
" Yang penting kau sudah datang, tak masalah kapan itu. ''
" Maaf." Ucap Hanum lagi, dengan mata sedikit memburam mengamati sosok kesayangannya yang hanya berjarak 2 meter itu.
" Semua sudah digariskan oleh Yang Kuasa, Num. 5 tahun lalu kita memang sudah salah telah berfikir itulah akhir yang harus kita jalani. Tapi ternyata Tuhan tak berfikir begitu. Karena ternyata itu adalah awal dari kita yang lain."
Dan akhirnya Hanum tak mampu lagi membendung air matanya.
" Akulah yang bodoh, Gi. andai dulu aku tak pernah mengajak Mawar diantara kita , semua ini tak akan begini."
" Tidak, Num, semua sudah diatur oleh Tuhan. Justru Mawar-lah yang membuat kita sadar, bahwa kita memang saling mencintai." Aku Giok dengan langkah mendekati Hanum. Perlahan diusapnya air mata yang mewarnai pipi Hanum.
" Selama 5 tahun ini, apa kau baik-baik saja di Jepang?" Lanjut Giok bertanya.
Hanum meraih tangan Giok yang mengusap air matanya.
" Tak akan beda jauh dengan keadaanmu. Ada kalanya terpuruk karena menahan rasa ingin bertemu, ada kalanya begitu tegar karena harus bertahan untuk sebuah cinta yang perlu dijaga selamanya." Jawab Hanum dengn senyum.
" Apa kau sudah bisa memakai high heels?" Tanya Giok lagi sambil melirik kebawah, memperhatikan sepatu kets yang dikenakan Hanum.
" Kau melarangku memakainya, jadi kenapa aku harus belajar agar bisa memakainya? Lagipula setiap hal yang kau larang pasti alasannya untuk kebaikanku"
" Apa kau masih menekuni balerina? Bukankah kau ke Jepang karena tertarik Manga?"
Hanum tersenyum memperhatikan wajah dihadapannya dengan sinar bahagia.
" Aku bahkan bisa tetap menekuni keduanya dengan sangat baik. Sama seperti aku bisa berteman sekaligus mencintaimu." Aku Hanum dan langsung tersambut pelukan Giok.
Dan setelah 5 tahun akhirnya Hanum bisa meyakinkan dirinya, bahwa cinta yang dijaganya dalam hatinya selama ini tak pernah sia-sia.
" Sekarang, jangan harap aku akan melepaskanmu. Aku tak akan pernah mengijinkanmu pergi kemanapun, untuk alasan apapun." Ucap Giok, lebih seperti mengancam.
" Ternyata, setelah 5 tahun Giok tak pernah berubah, masih suka mengancamku seenaknya." Gerutu Hanum.
" Karena anak kecil sepertimu perlu juga diancam biar tidak bandel."
Hanum tergelak sambil mempererat pelukannya.
" Aku selalu merindukan aroma kopi buatanmu, Gi."
Perlahan Giok menjauhkan tubuh Hanum dari pelukannya.
" Sayang kedainya sudah tutup." Lanjut Hanum seperti mengeluh, menatap kedai kopi milik Giok yang sudah gelap dan terkunci.
Tiba-tiba Giok memukul dahi Hanum pelan. Spontan Hanum memekik sambil memegangi dahinya.
" Apanya yang sayang? Kedai ini milikku, kuncinya pun ada padaku. Aku tinggal membukanya dan mengajakmu masuk." Omel Giok.
Hanum melirik kearah Giok, lalu tersenyum meski dengan masih mengelus-elus dahinya.
" Kalo begitu kau harus membuatkanku kopi latte yang paling enak untukku."
Giok tersenyum.
'' Ok, tapi itu tidak gratis."
Hanum kaget.
" Kau harus membayarnya dengan seumur hidupmu. Bagaimana?" Tanya Giok mengulurkan tangannya.
Hanum tersenyum bahagia.
Kita, kadang berfikir tentang keputusan Tuhan dengan cara kita sendiri. Padahal seringkali sebenarnya yang kita jalankan itu bukanlah keputusan Tuhan, tapi apa yang kita harapkan terjadi. Rencana Tuhan lebih sempurna dari apa yang kita bayangkan, bahkan jika itu adalah kejadian yang tak pernah kita bayangkan. Selama itu cinta sejati, dia akan bersemayam dengan aman dalam hati. Karena cinta adalah sesuatu yang suci, dan hanya Yang Maha Suci lah yang mampu memasuki. Serumit apapun lika-likunya, jika Tuhan sudah memutuskan dengan siapa akhirnya, itulah yang akan jadi akhirnya. Kita hanya perlu meyakini, bahwa dalam cinta memang akan ada kekecewaaan, penderitaan hidup, pengkhianatan, keputusasaan, juga ketidakbahagiaan. Tapi dalam cinta juga ada kekuatan yang membuat kita melewati itu semua. Karena dengan begitulah baru bisa disebut cinta.
Setengah jam lalu,
Hanum berjalan gontai tanpa semangat. Sedikit asa yang masih tersisa selama 5 tahun terakhir ini, telah ikut tergilas kenyataan yang 15 menit lalu lewat apa yang disaksikannya. Hanum memejamkan matanya menahan sesak dadanya yang seakan mau meledak.
Selama 5 tahun meninggalkan kota ini, akhirnya Hanum punya sedikit keberanian untuk menghadapi kenyataan hidup; bertemu Giok lagi. Meski Hanum tau tak banyak yang akan dia dapat, bahkan mungkin tak ada yang akan dia dapat selain kenyataan bahwa Giok tak seperti dulu lagi. Tapi ternyata kepedihan yang dibayangkannya selama ini jauh lebih menyesakkan saat benar-benar terjadi. Melihat Giok dengan bahagianya bercanda dengan seorang gadis kecil berusia 2 tahunan, sudah cukup sukses membuat nyali Hanum untuk bertemu Giok lagi, hancur berantakan tak bersisa.
Kau kelihatan bahagia sekali, Gi. Pasti hidupmu sekarang sudah sangat sempurna dengan adanya malaikat kecil tadi. Dengung Hanum pesimis.
Tuhan, jika memang kenyataannya begini, kenapa Kau biarkan aku sampai disini? Jika Giok bisa bahagia, kenapa Kau biarkan aku tetap terlarut dalam cinta tak bermakna itu? Jika ini tak baik untukku kenapa...
Ceracauan hati Hanum terputus saat tak sengaja dia hampir bertabrakan dengan pejalan kaki lainnya. Hanum bahkan sedikit terhuyung
" Oh..maaf, maaf...anda tidak apa-apa..."
" Oh...gak apa-apa kok, maaf tadi saya juga yang...." Ucapan Hanum mengambang saat menemukan wajah lawan bicaranya. Seorang laki-laki yang menenteng tas dan kresek. Laki-laki itupun terperangah untuk beberapa detik.
" Bi....Bim...Bimoo...??" Suara Hanum hampir tak jelas.
" Hanum? Ini benar Hanum kan?" Laki-laki yang dipanggil Bimo oleh Hanum juga tak cukup jelas mengeja nama Hanum.
Beberapa detik mereka tergelak tak percaya.
" Kau banyak berubah Num, sudah pantas menjadi Mangaka dari Jepang." Puji Bimo.
Hanum tergelak sambil melirik kesamping Bimo.
" Oh ya, kenalkan, ini istri dan anakku."
Hanum mendramatisir kekagetannya.
" Istri dan anakmu? Kapan menikahnya?"
Bimo tertawa.
" Kau pikir kau meninggalkan kami baru 2-3 bulan?"
Hanum tersenyum. Lalu diulurkan tangannya menyapa wanita cantik keibuan yang diperkenalkan Bimo sebagai istrinya.
" Jadi ini to mas yang namanya Hanum?" Seloroh wanita yang memperkenalkan diri bernama Esti.
Bimo hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum kecil. Lalu kuperhatikan gadis kecil dalam gendongan Esti. Dan tiba-tiba ingatannya tertuju pada kejadian tadi.
" Bim...ini bukannya anak yang bersama Giok tadi?"
Bimo terhenyak, saling pandang sebentar dengan Esti.
" Kau sudah bertemu Giok? Dimana?"
Hanum sedikit salah tingkah,
" Itu... tadi aku...aku mau ke kedai, tapi tak jadi. Aku lihat dia sudah bahagia dengan anaknya..."
" Anak? Siapa yang kau maksud?" Bimo heran.
Hanum menatap Bimo tak kalah heran.
" Tadi aku lihat dia menggendong anak kecil, seumuran anakmu ini."
Bimo tertawa, disusul Esti. Hanum melonggo tak mengerti.
" Sejak kapan Giok punya anak? Kalaupun dia menggendong anak kecil, ya anakku ini yang sering digendongnya" Ucap Bimo menjelaskan.
" Oh...jadi dia belum punya anak."
" Bagaimana mau punya anak."
" Kenapa? Dia tidak bercerai dengan Mawar kan?"
" Tidak."
Hanum mendesah lega.
" Bagaimana mau bercerai dengan Mawar, menikah saja tidak." Lanjut Bimo datar. Tapi sudah sangat sukses membuat Hanum terhenyak.
" Apa?"
" Ya."
" Kau bercanda kan, Bim?"
" Apa aku mirip orang bercanda?" Desis Bimo seperti geram.
Hanum tak mengerti dengan yang barusan didengarnya.
" Kalo mereka tak jadi menikah karena kau tak datang dan malah sudah lebih dulu terbang ke Jepang, ya memang itu alasannya. Sahabat yang kau anggap baik itu akhirnya benar-benar pantas disebut baik setelah menyadari bahwa sebenarnya dia tak seharusnya hadir diantara kau dan Giok." Lanjut Bimo. Hanum menatap Bimo dengan nanar.
" Mawar menolak menikah dengan Giok hari itu. Dan 5 tahun ini adalah masa-masa yang sangat sulit untuk Giok, Num. Tapi aku tau, dia berusaha tetap bertahan dan selalu berharap suatu saat kau kembali."
Mendengar penjelasan itu, Hanum tak punya pikiran lain selain ingin segera bertemu Giok. Detik-detik yang dilaluinya untuk sampai lagi ke kedai kopi milik Giok terasa jauh lebih lama dari 5 tahun yang telah dilaluinya di jepang selama ini.
" Akhirnya kau datang juga, Num." Ucap Giok memecah kesunyian dan menggembalikan Hanum ke alam sadarnya.
" Maaf, apa aku terlalu lama membuatmu menunggu?"
Giok tersenyum tipis.
" Yang penting kau sudah datang, tak masalah kapan itu. ''
" Maaf." Ucap Hanum lagi, dengan mata sedikit memburam mengamati sosok kesayangannya yang hanya berjarak 2 meter itu.
" Semua sudah digariskan oleh Yang Kuasa, Num. 5 tahun lalu kita memang sudah salah telah berfikir itulah akhir yang harus kita jalani. Tapi ternyata Tuhan tak berfikir begitu. Karena ternyata itu adalah awal dari kita yang lain."
Dan akhirnya Hanum tak mampu lagi membendung air matanya.
" Akulah yang bodoh, Gi. andai dulu aku tak pernah mengajak Mawar diantara kita , semua ini tak akan begini."
" Tidak, Num, semua sudah diatur oleh Tuhan. Justru Mawar-lah yang membuat kita sadar, bahwa kita memang saling mencintai." Aku Giok dengan langkah mendekati Hanum. Perlahan diusapnya air mata yang mewarnai pipi Hanum.
" Selama 5 tahun ini, apa kau baik-baik saja di Jepang?" Lanjut Giok bertanya.
Hanum meraih tangan Giok yang mengusap air matanya.
" Tak akan beda jauh dengan keadaanmu. Ada kalanya terpuruk karena menahan rasa ingin bertemu, ada kalanya begitu tegar karena harus bertahan untuk sebuah cinta yang perlu dijaga selamanya." Jawab Hanum dengn senyum.
" Apa kau sudah bisa memakai high heels?" Tanya Giok lagi sambil melirik kebawah, memperhatikan sepatu kets yang dikenakan Hanum.
" Kau melarangku memakainya, jadi kenapa aku harus belajar agar bisa memakainya? Lagipula setiap hal yang kau larang pasti alasannya untuk kebaikanku"
" Apa kau masih menekuni balerina? Bukankah kau ke Jepang karena tertarik Manga?"
Hanum tersenyum memperhatikan wajah dihadapannya dengan sinar bahagia.
" Aku bahkan bisa tetap menekuni keduanya dengan sangat baik. Sama seperti aku bisa berteman sekaligus mencintaimu." Aku Hanum dan langsung tersambut pelukan Giok.
Dan setelah 5 tahun akhirnya Hanum bisa meyakinkan dirinya, bahwa cinta yang dijaganya dalam hatinya selama ini tak pernah sia-sia.
" Sekarang, jangan harap aku akan melepaskanmu. Aku tak akan pernah mengijinkanmu pergi kemanapun, untuk alasan apapun." Ucap Giok, lebih seperti mengancam.
" Ternyata, setelah 5 tahun Giok tak pernah berubah, masih suka mengancamku seenaknya." Gerutu Hanum.
" Karena anak kecil sepertimu perlu juga diancam biar tidak bandel."
Hanum tergelak sambil mempererat pelukannya.
" Aku selalu merindukan aroma kopi buatanmu, Gi."
Perlahan Giok menjauhkan tubuh Hanum dari pelukannya.
" Sayang kedainya sudah tutup." Lanjut Hanum seperti mengeluh, menatap kedai kopi milik Giok yang sudah gelap dan terkunci.
Tiba-tiba Giok memukul dahi Hanum pelan. Spontan Hanum memekik sambil memegangi dahinya.
" Apanya yang sayang? Kedai ini milikku, kuncinya pun ada padaku. Aku tinggal membukanya dan mengajakmu masuk." Omel Giok.
Hanum melirik kearah Giok, lalu tersenyum meski dengan masih mengelus-elus dahinya.
" Kalo begitu kau harus membuatkanku kopi latte yang paling enak untukku."
Giok tersenyum.
'' Ok, tapi itu tidak gratis."
Hanum kaget.
" Kau harus membayarnya dengan seumur hidupmu. Bagaimana?" Tanya Giok mengulurkan tangannya.
Hanum tersenyum bahagia.
Kita, kadang berfikir tentang keputusan Tuhan dengan cara kita sendiri. Padahal seringkali sebenarnya yang kita jalankan itu bukanlah keputusan Tuhan, tapi apa yang kita harapkan terjadi. Rencana Tuhan lebih sempurna dari apa yang kita bayangkan, bahkan jika itu adalah kejadian yang tak pernah kita bayangkan. Selama itu cinta sejati, dia akan bersemayam dengan aman dalam hati. Karena cinta adalah sesuatu yang suci, dan hanya Yang Maha Suci lah yang mampu memasuki. Serumit apapun lika-likunya, jika Tuhan sudah memutuskan dengan siapa akhirnya, itulah yang akan jadi akhirnya. Kita hanya perlu meyakini, bahwa dalam cinta memang akan ada kekecewaaan, penderitaan hidup, pengkhianatan, keputusasaan, juga ketidakbahagiaan. Tapi dalam cinta juga ada kekuatan yang membuat kita melewati itu semua. Karena dengan begitulah baru bisa disebut cinta.
PAINFUL LOVE
Aku berjongkok ikut memunguti pecahan kaca meja dan vas bunga yang berserakan di ruang tamu rumah Ainun seperti yang dilakukan Ainun.
" Tidak usah, akan aku bersihkan sendiri." Ucap Ainun mencegahku mengikuti apa yang dilakukannya.
" Tidak apa-apa, aku tak bisa membiarkanmu membersihkan ini sendirian." Jawabku datar, tetap memunguti pecahan kaca dihadapanku.
Ainun mendesah.
" Maaf ya, baru pertama kesini, kau sudah melihat kekacauan keluargaku."
Kali ini aku mendongak menatap Ainun yang tertunduk lesu. Mungkin meratapi kejadian memilukan tadi. Atau mungkin merasa malu karena hal seperti itu juga aku saksikan. Atau mungkin... Entahlah, aku memang tak pandai menerka apa yang diekspresikan wajah seseorang. Tapi paling tidak sekarang aku tau mengapa Ainun selalu bilang benci pada semua laki-laki.
" Aku benci laki-laki." Katanya waktu itu, saat merias wajahku untuk acara syuting sebuah iklan.
" Semua laki-laki?" Tanyaku mengerutkan dahi.
" Ya."
" Termasuk aku?" Tanyaku lagi.
Sedetik Ainun menghentikan polesan blush on dipipiku,
" Ya."
" Kalo kau membenciku kenapa kau mau menjadi penata riasku?" Protesku menepis tangannya.
Ainun mendesah
" Aku tak pernah membawa perasaanku pada pekerjaan. Kerja ya kerja." Katanya enteng, bermaksud meneruskan pekerjaannya. Tapi gelak tawaku yang angkuh membuatnya urung.
" Jadi setiap hari sedekat ini denganku hatimu tak pernah merasakan hal aneh?"
Ainun malah tersenyum sinis.
" Kau memang artis, tampan, kaya, dan pasti banyak yang mengelu-elukanmu. Tapi maaf, aku tidak akan ikut masuk dalam daftar penggemarmu."
Aku tergelak, sedikit tersinggung. Baru kali ini ada gadis begini sombong padaku.
" Periksakan dirimu ke psikiater, sepertinya kau punya masalah serius. Anti pria, mungkin itu semacam kanker. Jadi kau harus cepat-cepat mengobatinya."
Ainun menyelesaikan pekerjaannya pada wajahku dan mulai memberesi peralatan make-upnya.
" Kalo ada yang harus berkunjung ke psikiater itu bukan aku, tapi kau. Kau merasa matahari mengitarimu ya? Kau memang artis booming dan tampan, tapi kau bukan anak dewa, kau tetap manusia. Ingat itu." Ungkapnya benar-benar berani.
" Tapi aku bukan manusia biasa." Tegasku juga cetus tapi terkesan mengejeknya.
Aku sangat heran dengan penata riasku kali ini, apa manajerku mendapatkannya dari dalam gua di atas gunung pedalaman sana?
Ainun malah tersenyum.
" Manusia tetaplah manusia, dia tak akan jadi malaikat ataupun dewa."
Kalo saat itu aku tau alasan Ainun sangat membenci laki-laki, aku tak akan memelototinya marah. Hal yang kulihat tadi, saat ibunya dihajar oleh ayahnya dan Ainun begitu berapi-api menghentikannya, cukup memberiku jawaban bahwa dimata Ainun laki-laki pantas untuk dibenci.
" Bagaimana ibumu? Apa benar tak perlu dibawa ke rumah sakit?" Tanyaku seraya ikut bangkit setelah memungut pecahan kaca terakhir.
" Tidak apa-apa. Ibuku orang yang kuat, paling tidak selama 20 tahun terakhir ini." Katanya, tapi terdengar sinis.
" Tapi aku membenci itu." Lanjutnya apatis seraya berlalu membawa pecahan kaca itu keluar.
Aku mendesah mengamati seluruh ruangan ini. Tak banyak yang menarik. Hanya kursi dan meja sederhana, bahkan sekarang kaca mejanya juga sudah pecah. Dan di atas buffet dipojok ruangan ada sebuah bingkai foto usang tergantung. Kusebut usang karena aku mengenali 2 orang didalamnya. Ayah dan ibu Ainun jauh lebih muda dari yang terlihat tadi. Dan gadis kecil itu pasti Ainun. Dan mereka terlihat bahagia. Jauh berbeda dengan yang terlihat sekarang.
Ainun duduk dikursi didepanku dengan pandangan letih.
" Sekali saja, aku kadang ingin berteriak pada ibuku, bahwa ibu bodoh. Bodoh karena selalu diam saja saat orang yang dicintainya menyakitinya lahir bathin. Bodoh karena tetap bertahan meski semuanya sangat menyakitkan. Tapi tiap kali melihat wajah menyedihkan itu aku tak pernah tega. Aku pasti akan membuatnya makin menyedihkan jika aku mengatakan itu." Ungkap Ainun lirih.
Perlahan aku ikut duduk disebelahnya.
" Akhirnya aku hanya bisa membenci ayahku. Membencinya tiap kali memukuli ibu. Dan tanpa sadar, kebencian itu sudah menutupi seluruh hatiku. Saat aku tersadar, aku membenci semua orang bernama 'laki-laki'." Lanjut Ainun.
" Kurasa aku jatuh cinta padamu." Ungkapku waktu itu, usai Ainun menyelesaikan pekerjaannya di kamar gantiku.
Plaakkk!!!
Tamparan cukup keras langsung mendarat dipipiku yang baru beberapa menit lalu dimake-upnya. Ainun tersenyum sinis.
" Selama ini kau pasti sangat mudah sekali mengatakan cinta pada semua gadis, karena kau juga bisa dengan mudah meninggalkan mereka kan?"
" Aku tak pernah meninggalkan mereka. Mereka yang menyatakan cinta padaku, aku menerimanya, dan setelah mereka bosan, mereka yang meninggalkanku."
Kali ini Ainun tertawa sinis.
" Kau tahu ada peribahasa 'lempar batu sembunyi tangan'?"
" Aku tau, tapi aku tak pernah melempar batu, apalagi menyembunyikan tangan."
" Ouw.... sepertinya kau pantas mendapat julukan 'innocent man'"
Aku tersenyum kecil.
" Kenapa tersenyum?" Tanya Ainun.
" Tidak, aku hanya teringat saat kau mengataiku innocent man. Pasti saat itu kebencianmu padaku makin besar."
Ainun melirikku sebentar, lalu tersenyum.
" Sangat, sangat besar." Akunya.
" Dan sampai sekarang apa belum berubah?"
Ainun kini menatapku lekat. Tapi mulutnya bungkam tak menjawab.
" Dulu aku menganggap kau gadis biasa yang sangat sombong. Tak hanya kepala batu, tapi juga berhati batu. Aku awalnya juga kesal padamu, tapi lama-lama penasaran."
Tatapan Ainun menyipit. Dahinya berkerut. Aku tersenyum.
" Bukan menyombong, aku adalah artis muda yang cukup tenar, sangat tampan, macho, dan didukung latar belakang orang tua yang sudah terkenal. Jadi aku pikir tak akan ada yang membenciku. dari anak balita sampai ibu-ibu yang sudah paruh baya pasti masuk daftar penggemarku."
Ainun tergelak mendengar penjelasanku.
" Tapi kau, penata riasku, yang setiap hari menatap wajahku yang hanyaberjarak beberapa inchi, malah bilang sangat membenciku. Itu benar-benar membuatku penasaran."
" Jadi saat kau bilang 'kurasa aku jatuh cinta padamu' waktu itu, sama artinya ' aku penasaran padamu'?" Tuding Ainun dengan tatapan berbeda.
" Apa tidak lebih baik kau mengartikan rasa penasaranku menumbuhkan rasa cinta padamu?"
Ainun melengos dengan tawa mengejek.
" Aku juga akan tertawa. Tapi menertawakan latar belakang kita yang kebetulan hampir sama." Lanjutku membuatnya terdiam.
Mungkin hampir semua orang di negeri ini tau latar belakang keluargaku seperti apa. Papaku yang 'mencampakkan' mamaku tanpa menceraikannya sampai hampir sepuluh tahun. Dan mamaku yang terlihat begitu tegar meneruskan hidupnya meski kehilangan semua 'hartanya'. Bahkan aku dan adik-adikku pun terlihat tumbuh dengan sangat mewah dan baik. Dan luka didalamnya, semua dengan rapi tersembunyi. Luka mama, lukaku, juga luka adik-adikku. Semua dengan sangat sempurna ditutupi oleh sang diktator itu. Dan aku merasa, ayahnya Ainun tak jauh beda dengan orang yang paling kubenci itu. Melukai orang-orang yang mencintainya dengan cinta itu sendiri.
" Apa kau masih tak percaya kalo aku benar-benar jatuh cinta padamu?" Tanyaku lebih seperti merajuk.
" Tidak. Kau terlalu berbahaya untuk dicintai. Lebih kasarnya, kau tak pantas dicintai."
" Kata-kata itu kejam sekali. Aku sudah bilang, mereka yang datang padaku, menyatakan cinta padaku..."
" Dan kau tak tega menolaknya, dan menerimanya?"
" Mau bagaimana lagi, aku laki-laki gentle."
Ainun tergelak lagi, lalu bangkit.
" Hei, laki-laki gentle, ini sudah malam, pulanglah, dilingkungan sini pasti juga banyak penggemarmu, aku tak mau nanti mereka berbondong-bondong kesini. Aku tak suka kehebohan semacam itu."
Aku mendesah berat seraya bangkit.
" Nun, kita tumbuh dengan luka dari orang-orang yang kita cintai. Dan aku yakin, kau dan juga aku, jauh lebih mengerti arti dari mencintai daripada mereka yang selalu hidup baik-baik saja." Kataku menatap Ainun, berharap mampu mengalahkan tatapan matanya yang tajam itu.
" Seiring aku dewasa dan melalui cinta-cinta itu, aku pun mulai mengerti, kenapa mamaku hanya diam diperlakukan tak adil oleh papaku. Dengan itulah akhirnya aku mengerti apa itu mencintai, seperti sekarang aku mencintaimu. Dan kau, lama-lama juga akan mengerti kenapa ibumu diam saja diperlakukan tak adil oleh ayahmu. Kenapa tetap bertahan dalam cinta yang selalu menyakitinya. Dan saat kau mengerti, kau juga akan menemukan bagaimana caranya untuk mencintai. Dan aku akan menunggunya." Lanjutku beringsut pergi.
Dan Ainun masih terpaku ditempat menatap kepergianku. Aku begitu mengharapkan hati yang hampir membatu oleh kebencian itu bisa perlahan mencair oleh semua kata-kata yang kuungkapkan tadi. Aku sangat yakin, hidup yang dilalui Ainun jauh lebih berat dari yang kulalui. Dia tak hanya berjalan tanpa cinta yang utuh, tapi juga menyeret sebongkah kebencian yang terus bertambah setiap harinya. Dan aku tau, itu sangat menyakitkan.
" Tidak usah, akan aku bersihkan sendiri." Ucap Ainun mencegahku mengikuti apa yang dilakukannya.
" Tidak apa-apa, aku tak bisa membiarkanmu membersihkan ini sendirian." Jawabku datar, tetap memunguti pecahan kaca dihadapanku.
Ainun mendesah.
" Maaf ya, baru pertama kesini, kau sudah melihat kekacauan keluargaku."
Kali ini aku mendongak menatap Ainun yang tertunduk lesu. Mungkin meratapi kejadian memilukan tadi. Atau mungkin merasa malu karena hal seperti itu juga aku saksikan. Atau mungkin... Entahlah, aku memang tak pandai menerka apa yang diekspresikan wajah seseorang. Tapi paling tidak sekarang aku tau mengapa Ainun selalu bilang benci pada semua laki-laki.
" Aku benci laki-laki." Katanya waktu itu, saat merias wajahku untuk acara syuting sebuah iklan.
" Semua laki-laki?" Tanyaku mengerutkan dahi.
" Ya."
" Termasuk aku?" Tanyaku lagi.
Sedetik Ainun menghentikan polesan blush on dipipiku,
" Ya."
" Kalo kau membenciku kenapa kau mau menjadi penata riasku?" Protesku menepis tangannya.
Ainun mendesah
" Aku tak pernah membawa perasaanku pada pekerjaan. Kerja ya kerja." Katanya enteng, bermaksud meneruskan pekerjaannya. Tapi gelak tawaku yang angkuh membuatnya urung.
" Jadi setiap hari sedekat ini denganku hatimu tak pernah merasakan hal aneh?"
Ainun malah tersenyum sinis.
" Kau memang artis, tampan, kaya, dan pasti banyak yang mengelu-elukanmu. Tapi maaf, aku tidak akan ikut masuk dalam daftar penggemarmu."
Aku tergelak, sedikit tersinggung. Baru kali ini ada gadis begini sombong padaku.
" Periksakan dirimu ke psikiater, sepertinya kau punya masalah serius. Anti pria, mungkin itu semacam kanker. Jadi kau harus cepat-cepat mengobatinya."
Ainun menyelesaikan pekerjaannya pada wajahku dan mulai memberesi peralatan make-upnya.
" Kalo ada yang harus berkunjung ke psikiater itu bukan aku, tapi kau. Kau merasa matahari mengitarimu ya? Kau memang artis booming dan tampan, tapi kau bukan anak dewa, kau tetap manusia. Ingat itu." Ungkapnya benar-benar berani.
" Tapi aku bukan manusia biasa." Tegasku juga cetus tapi terkesan mengejeknya.
Aku sangat heran dengan penata riasku kali ini, apa manajerku mendapatkannya dari dalam gua di atas gunung pedalaman sana?
Ainun malah tersenyum.
" Manusia tetaplah manusia, dia tak akan jadi malaikat ataupun dewa."
Kalo saat itu aku tau alasan Ainun sangat membenci laki-laki, aku tak akan memelototinya marah. Hal yang kulihat tadi, saat ibunya dihajar oleh ayahnya dan Ainun begitu berapi-api menghentikannya, cukup memberiku jawaban bahwa dimata Ainun laki-laki pantas untuk dibenci.
" Bagaimana ibumu? Apa benar tak perlu dibawa ke rumah sakit?" Tanyaku seraya ikut bangkit setelah memungut pecahan kaca terakhir.
" Tidak apa-apa. Ibuku orang yang kuat, paling tidak selama 20 tahun terakhir ini." Katanya, tapi terdengar sinis.
" Tapi aku membenci itu." Lanjutnya apatis seraya berlalu membawa pecahan kaca itu keluar.
Aku mendesah mengamati seluruh ruangan ini. Tak banyak yang menarik. Hanya kursi dan meja sederhana, bahkan sekarang kaca mejanya juga sudah pecah. Dan di atas buffet dipojok ruangan ada sebuah bingkai foto usang tergantung. Kusebut usang karena aku mengenali 2 orang didalamnya. Ayah dan ibu Ainun jauh lebih muda dari yang terlihat tadi. Dan gadis kecil itu pasti Ainun. Dan mereka terlihat bahagia. Jauh berbeda dengan yang terlihat sekarang.
Ainun duduk dikursi didepanku dengan pandangan letih.
" Sekali saja, aku kadang ingin berteriak pada ibuku, bahwa ibu bodoh. Bodoh karena selalu diam saja saat orang yang dicintainya menyakitinya lahir bathin. Bodoh karena tetap bertahan meski semuanya sangat menyakitkan. Tapi tiap kali melihat wajah menyedihkan itu aku tak pernah tega. Aku pasti akan membuatnya makin menyedihkan jika aku mengatakan itu." Ungkap Ainun lirih.
Perlahan aku ikut duduk disebelahnya.
" Akhirnya aku hanya bisa membenci ayahku. Membencinya tiap kali memukuli ibu. Dan tanpa sadar, kebencian itu sudah menutupi seluruh hatiku. Saat aku tersadar, aku membenci semua orang bernama 'laki-laki'." Lanjut Ainun.
" Kurasa aku jatuh cinta padamu." Ungkapku waktu itu, usai Ainun menyelesaikan pekerjaannya di kamar gantiku.
Plaakkk!!!
Tamparan cukup keras langsung mendarat dipipiku yang baru beberapa menit lalu dimake-upnya. Ainun tersenyum sinis.
" Selama ini kau pasti sangat mudah sekali mengatakan cinta pada semua gadis, karena kau juga bisa dengan mudah meninggalkan mereka kan?"
" Aku tak pernah meninggalkan mereka. Mereka yang menyatakan cinta padaku, aku menerimanya, dan setelah mereka bosan, mereka yang meninggalkanku."
Kali ini Ainun tertawa sinis.
" Kau tahu ada peribahasa 'lempar batu sembunyi tangan'?"
" Aku tau, tapi aku tak pernah melempar batu, apalagi menyembunyikan tangan."
" Ouw.... sepertinya kau pantas mendapat julukan 'innocent man'"
Aku tersenyum kecil.
" Kenapa tersenyum?" Tanya Ainun.
" Tidak, aku hanya teringat saat kau mengataiku innocent man. Pasti saat itu kebencianmu padaku makin besar."
Ainun melirikku sebentar, lalu tersenyum.
" Sangat, sangat besar." Akunya.
" Dan sampai sekarang apa belum berubah?"
Ainun kini menatapku lekat. Tapi mulutnya bungkam tak menjawab.
" Dulu aku menganggap kau gadis biasa yang sangat sombong. Tak hanya kepala batu, tapi juga berhati batu. Aku awalnya juga kesal padamu, tapi lama-lama penasaran."
Tatapan Ainun menyipit. Dahinya berkerut. Aku tersenyum.
" Bukan menyombong, aku adalah artis muda yang cukup tenar, sangat tampan, macho, dan didukung latar belakang orang tua yang sudah terkenal. Jadi aku pikir tak akan ada yang membenciku. dari anak balita sampai ibu-ibu yang sudah paruh baya pasti masuk daftar penggemarku."
Ainun tergelak mendengar penjelasanku.
" Tapi kau, penata riasku, yang setiap hari menatap wajahku yang hanyaberjarak beberapa inchi, malah bilang sangat membenciku. Itu benar-benar membuatku penasaran."
" Jadi saat kau bilang 'kurasa aku jatuh cinta padamu' waktu itu, sama artinya ' aku penasaran padamu'?" Tuding Ainun dengan tatapan berbeda.
" Apa tidak lebih baik kau mengartikan rasa penasaranku menumbuhkan rasa cinta padamu?"
Ainun melengos dengan tawa mengejek.
" Aku juga akan tertawa. Tapi menertawakan latar belakang kita yang kebetulan hampir sama." Lanjutku membuatnya terdiam.
Mungkin hampir semua orang di negeri ini tau latar belakang keluargaku seperti apa. Papaku yang 'mencampakkan' mamaku tanpa menceraikannya sampai hampir sepuluh tahun. Dan mamaku yang terlihat begitu tegar meneruskan hidupnya meski kehilangan semua 'hartanya'. Bahkan aku dan adik-adikku pun terlihat tumbuh dengan sangat mewah dan baik. Dan luka didalamnya, semua dengan rapi tersembunyi. Luka mama, lukaku, juga luka adik-adikku. Semua dengan sangat sempurna ditutupi oleh sang diktator itu. Dan aku merasa, ayahnya Ainun tak jauh beda dengan orang yang paling kubenci itu. Melukai orang-orang yang mencintainya dengan cinta itu sendiri.
" Apa kau masih tak percaya kalo aku benar-benar jatuh cinta padamu?" Tanyaku lebih seperti merajuk.
" Tidak. Kau terlalu berbahaya untuk dicintai. Lebih kasarnya, kau tak pantas dicintai."
" Kata-kata itu kejam sekali. Aku sudah bilang, mereka yang datang padaku, menyatakan cinta padaku..."
" Dan kau tak tega menolaknya, dan menerimanya?"
" Mau bagaimana lagi, aku laki-laki gentle."
Ainun tergelak lagi, lalu bangkit.
" Hei, laki-laki gentle, ini sudah malam, pulanglah, dilingkungan sini pasti juga banyak penggemarmu, aku tak mau nanti mereka berbondong-bondong kesini. Aku tak suka kehebohan semacam itu."
Aku mendesah berat seraya bangkit.
" Nun, kita tumbuh dengan luka dari orang-orang yang kita cintai. Dan aku yakin, kau dan juga aku, jauh lebih mengerti arti dari mencintai daripada mereka yang selalu hidup baik-baik saja." Kataku menatap Ainun, berharap mampu mengalahkan tatapan matanya yang tajam itu.
" Seiring aku dewasa dan melalui cinta-cinta itu, aku pun mulai mengerti, kenapa mamaku hanya diam diperlakukan tak adil oleh papaku. Dengan itulah akhirnya aku mengerti apa itu mencintai, seperti sekarang aku mencintaimu. Dan kau, lama-lama juga akan mengerti kenapa ibumu diam saja diperlakukan tak adil oleh ayahmu. Kenapa tetap bertahan dalam cinta yang selalu menyakitinya. Dan saat kau mengerti, kau juga akan menemukan bagaimana caranya untuk mencintai. Dan aku akan menunggunya." Lanjutku beringsut pergi.
Dan Ainun masih terpaku ditempat menatap kepergianku. Aku begitu mengharapkan hati yang hampir membatu oleh kebencian itu bisa perlahan mencair oleh semua kata-kata yang kuungkapkan tadi. Aku sangat yakin, hidup yang dilalui Ainun jauh lebih berat dari yang kulalui. Dia tak hanya berjalan tanpa cinta yang utuh, tapi juga menyeret sebongkah kebencian yang terus bertambah setiap harinya. Dan aku tau, itu sangat menyakitkan.
ELEGI
Setelah Airin dan Luna bisa terusir oleh Hanif, sudut ruangan yang sejak tadi dipakai untuk 'tempat persembunyian' Gladys itu kembali sunyi. Hanif malah lebih sibuk memperhatikan sahabatnya yang seperti sibuk juga menata hatinya.
" Aku tadi sempat memperhatikannya." Ucap Gladys tiba-tiba, memecah kesunyian.
Hanif tersenyum masam.
" Akhirnya, hari yang selama ini tak pernah kau tunggu, datang juga." Tanggap Hanif datar. Tapi cukup membuat suasana hati Gladys kembali memanas.
Tapi bukan Hanif namanya kalo tak bisa meredam amarah Gladys. Hanya dengan senyum jailnya yang seakan tak mempedulikan apa yang dialami Gladys, pasti akan menghentikan semuanya. Gladys mendesah.
" Kukira dia sangat cantik dan anggun, ternyata...."
" Memang kau berharap dia seperti apa? Cantik seperti artis? Glamour?"
Gladys tergelak lirih.
" Tidak, dia memang sangat sesuai dengan selera Leon."
Hanif mengernyitkan dahinya.
Jujur, kalo soal selera Leon, Hanif memang tak cukup tau. Hanif hanya sebatas tau tentang perasaan Gladys pada laki-laki bermasa depan cerah bernama Leon itu. Hanif memang sahabat Gladys sejak 5 tahun terakhir ini, tapi tidak untuk Leon yang menurut cerita Gladys telah memiliki hatinya sejak mereka masih belum cukup mengerti apa itu cinta. Dan hari ini, diacara anniversary pertama pasangan romantis Lucky dan Kirana, teman mereka, akhirnya Gladys bertemu dengan gadis pilihan Leon. Gadis yang telah 'merampas' kesempatan Gladys untuk bersama Leon.
" Kalian sedang apa disini?"
Hanif dan Gladys sama-sama terkejut mendengar sapaan itu. Sontak Gladys berdiri dengan gugup.
" Oh, hai, Leon, apa kabar?" Sapa Gladys canggung.
Hanif ikut bangkit, berdiri sedikit lebih didepan Gladys, mengulurkan tangannya pada Leon.
" Leon kan? Kita beberapa kali sudah pernah bertemu."
Leon menyambut uluran tangan itu dengan senyum lebar.
" Ya, aku ingat, kau yang sering bersama Gladys kan?" Ucap Leon seperti basa-basi, lalu matanya tertuju pada Gladys
" Ohya, Dys, ini Citra, tunanganku." Kali ini Leon memperkenalkan sosok disebelahnya.
Entah perasaan apa saja yang kini berkecamuk didalam hati Gladys, yang pasti sangat membuat Gladys sesak nafas sampai tak mampu mengulurkan tangannya. Dan untuk hal-hal seperti ini Hanif cukup tau apa yang harus dilakukan. Buru-buru Hanif menyambut uluran tangan gadis yang terbilang terlalu 'sederhana' untuk pria semewah Leon. Usai berjabatan, tangan Hanif lalu kebelakang meraih tangan Gladys yang gemetaran. Menggenggamnya erat-erat.
" Hei, kau tak lihat ada yang mau berkenalan denganmu." Bisik Hanif sedikit menyenggol tubuh Gladys.
Dan genggaman tangan Hanif dibelakang punggungnya ternyata cukup bisa memberi kekuatan pada Gladys untuk menyambut uluran tangan itu. Dan meski sedikit kaku, sebuah senyum akhirnya juga bisa tersungging di bibir Gladys.
" Kita bisa lanjutkan ngobrolnya sambil makan, bagaimana?" Ajak Leon.
" Oh, tentu, kalian duluan saja, kami pasti menyusul." Sahut Hanif cepat.
Dan sebelum Leon berlalu sambil menggandeng tangan Citra, sempat tersungging senyum manis untuk anak manusia yang hampir roboh disebelah Hanif ini. Setelah langkah mereka sedikit menjauh Gladys dan Hanif hampir bersamaan menghela nafas lega.
" Kau baik-baik saja?" Tanya Hanif melirik pada Gladys yang seperti belum sepenuhnya kembali.
" Apa aku harus menjawabnya?" Tanya Gladys, serak.
" Apa pria itu yang kau bilang 'cinta sejati' mu?" Tanya Hanif setelah Leon pamit pergi, awal pertemuan Hanif dengan Leon, suatu siang saat Hanif dan Gladys istirahat makan.
Dan Gladys hanya tersenyum malu, tapi terlihat sekali hatinya seringan kapas. Dan tatapan matanya begitu indah hingga membuat Hanif takjub. Itukah tatapan penuh cinta?
" Apa dia tau?" Tanya Hanif lagi.
Gladys masih memamerkan senyumnya, seraya menggeleng malu.
" Lalu kau kira dia akan tau kalo kau tak memberitahukannya? Kau pikir dia peramal? Bisa membaca pikiran orang lain?" Sungut Hanif kesal, tapi Gladys tetap senyum-senyum.
" Katanya, kalo itu cinta sejati, maka akan tertarik sendiri."
" Yang benar, kalo dia tak tau kau mencintainya, dia akan mencintai orang lain."
Gladys manyun.
Dan ternyata, omongan Hanif waktu itu benar. Hanif tergelak sedih.
Dan saat Hanif hendak melepas genggaman tangannya pada tangan Gladys, buru-buru Gladys mencegah.
" Jangan, Han, aku mohon!" Sergah Gladys lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Dan lagi-lagi Gladys juga melarang saat Hanif hendak menghadap ke arahnya.
" Bolehkan aku pinjam punggungmu? Sebentar saja! Juga jangan melihatku!" Lanjut Gladys menunduk menyembunyikan pandangannya.
Hanif menurut.
" Kenapa tak pinjam dada dan tanganku sekalian?" Tawar Hanif seperti mencoba mencairkan suasana hati Gladys.
Gladys tak menggubris candaan Hanif. Disandarkan kepalanya ke punggung Hanif, dengan tangan masih tergenggam erat jemari Hanif.
Dan saat-saat semacam ini yang paling membuat Hanif tak bisa mengacuhkan Gladys, meski dihati Gladys hanya ada nama Leon. Padahal sebenarnya jauh didalam hati Hanif sangat menantikan saat-saat semacam ini. Saat-saat dimana Gladys terpuruk oleh Leon. Dan untuk itu, harusnya Hanif saat ini bahagia. Tapi kenyataannya Hanif malah merasakan juga kesakitan itu.
Entah harus disebut apa perasaan yang Hanif alami selama ini. Dulu, awal-awalnya Hanif kira hanya sebatas perasaan simpati dan belas kasihan karena terlalu sering dan kebetulannya Hanif mendapati Gladys yang perlu bantuan setelah berhadapan dengan Leon, pria yang telah 'dinobatkan' Gladys sebagai cinta sejatinya. Tapi seiring berjalannya waktu, Hanif malah terjebak dalam perasaan yang tak bernama ini. Perasaan yang begitu menyenangkan ketika melihat senyum lebar itu. Perasaan yang begitu membuat Hanif ketagihan saat bisa tertawa bersamanya. Perasaan yang bahkan bisa membuat dada Hanif sesak dan sakit ketika menemukannya seperti ini.
" Apa kau percaya takdir, Han?" Tanya Gladys masih dengan kepala bersandar di punggung Hanif.
Hanif hanya berdehem singkat. Tetap tak merubah posisinya seperti permintaan Gladys tadi.
" Dulu kukira takdir itu erat hubungannya dengan jodoh. Jika dia sudah ditakdirkan menjadi jodoh kita, maka pasti akhirnya akan bersama kita. Tapi sepertinya aku salah." Lanjut Gladys lirih.
Hanif menarik nafas berat.
" Jodoh dan takdir memang ada dijalan yang sama, tapi mereka punya langkah yang berbeda. Kita tak bisa memaksakan sebuah jodoh, tapi kita bisa menentukan takdir. Apa yang kita lakukan dulu dan sekarang, adalah takdir untuk kita esok." Tanya Hanif.
Diam, Gladys hanya mempererat genggaman tangannya.
" Sudahlah, ayo kita gabung dengan yang lainnya." Ajak Hnaif akhirnya.
" Selama belasan tahun mengenalnya..." Tiba-tiba Gladys bicara, membuat Hanif urung bergerak. Menanti ungkapan hatinya lagi.
" Ini pertama kalinya dia memperkenalkan seseorang padaku." Lanjutnya, akhirnya.
" Rasanya aku tak sanggup lagi jika harus bersikap seperti tak ada apa-apa."
Hanif mendesah.
" Aku pernah dengar sebuah kalimat, mencintai adalah nama lain dari menahan derita. Saat kita mencintai seseorang maka kita juga akan merasakan penderitaan yang sebanding. Dengan kata lain, jika kau mencintai dia kau juga harus bersiap suatu saat menderita karena dia. Semakin kau mencintainya, maka semakin menderita kau nantinya."
Gladys menjauhkan kepalanya dari punggung Hanif. Lalu terdengar Gladys tergelak lirih. Hanif perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Gladys, dengan tangan yang masih saling menggenggam.
" Jadi maksudmu, aku memang harus menderita begini karena mencintai dia?"
" Cinta adalah anugerah, jika keduanya saling menyambut, saling memiliki. Tapi jika itu hanya cinta sepihak, maka itu akan menjadi mata pisau yang akan melukai pemiliknya. Sakit."
Diam. Gladys tak menyahut.
Dan dalam hati Hanif kesakitan itu kian meraja. Semua yang dikatakan pada Gladys, sebenarnya adalah lebih pantas untuk dirinya sendiri. Bagaimana cinta yang dimilikinya 5 tahun terakhir ini memang telah menjadi mata pisau yang melukai hatinya. Mencintai itu memang menyakitkan, tapi sayangnya, tak ada yang bisa menghentikan lajunya. Bagi Gladys, mendapati penderitaan cintanya pada Leon masih bisa tertolong oleh Hanif. Lalu bagaimana dengan Hanif sendiri? Siapa yang akan menolongnya? Sementara Gladys tak pernah tau atau mungkin tak pernah peduli dengan cinta yang dimilikinya selama ini. Bukankah ini lebih tragis?!
Hanif tertawa pelan. Menertawakan keadaannya selama ini yang ternyata begitu tragis, dan baru disadarinya sekarang. Dulu Hanif yang memarahi Gladys karena tak pernah mau mengatakan perasaannya pada Leon yang sangat dicintainya. Tapi Hanif malah membiarkan dirinya yang juga membiarkan cintanya tak diketahui Gladys.
Hanif menatap kedua tangan mereka yang masih bergandengan.
" Jangan lepaskan tanganku, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu."
Gladys menatap Hanif.
" Dan jangan menatapku begitu. Atau aku akan marah." Lanjut Hanif membuat Gladys tergelak.
Hanif tersenyum.
Biarlah berjalan seperti ini dulu, Bathin Hanif pada dirinya sendiri.
Lalu mereka keluar dari 'tempat persembunyian' mereka. Tetap bergandengan tangan. Dan Hanif sudah bahagia dengan semua itu. Cinta memang menahan derita, tapi bagi sebagian 'orang bodoh', melihat orang yang dicintai bahagia, adalah sudah cukup membahagiakan.
" Aku tadi sempat memperhatikannya." Ucap Gladys tiba-tiba, memecah kesunyian.
Hanif tersenyum masam.
" Akhirnya, hari yang selama ini tak pernah kau tunggu, datang juga." Tanggap Hanif datar. Tapi cukup membuat suasana hati Gladys kembali memanas.
Tapi bukan Hanif namanya kalo tak bisa meredam amarah Gladys. Hanya dengan senyum jailnya yang seakan tak mempedulikan apa yang dialami Gladys, pasti akan menghentikan semuanya. Gladys mendesah.
" Kukira dia sangat cantik dan anggun, ternyata...."
" Memang kau berharap dia seperti apa? Cantik seperti artis? Glamour?"
Gladys tergelak lirih.
" Tidak, dia memang sangat sesuai dengan selera Leon."
Hanif mengernyitkan dahinya.
Jujur, kalo soal selera Leon, Hanif memang tak cukup tau. Hanif hanya sebatas tau tentang perasaan Gladys pada laki-laki bermasa depan cerah bernama Leon itu. Hanif memang sahabat Gladys sejak 5 tahun terakhir ini, tapi tidak untuk Leon yang menurut cerita Gladys telah memiliki hatinya sejak mereka masih belum cukup mengerti apa itu cinta. Dan hari ini, diacara anniversary pertama pasangan romantis Lucky dan Kirana, teman mereka, akhirnya Gladys bertemu dengan gadis pilihan Leon. Gadis yang telah 'merampas' kesempatan Gladys untuk bersama Leon.
" Kalian sedang apa disini?"
Hanif dan Gladys sama-sama terkejut mendengar sapaan itu. Sontak Gladys berdiri dengan gugup.
" Oh, hai, Leon, apa kabar?" Sapa Gladys canggung.
Hanif ikut bangkit, berdiri sedikit lebih didepan Gladys, mengulurkan tangannya pada Leon.
" Leon kan? Kita beberapa kali sudah pernah bertemu."
Leon menyambut uluran tangan itu dengan senyum lebar.
" Ya, aku ingat, kau yang sering bersama Gladys kan?" Ucap Leon seperti basa-basi, lalu matanya tertuju pada Gladys
" Ohya, Dys, ini Citra, tunanganku." Kali ini Leon memperkenalkan sosok disebelahnya.
Entah perasaan apa saja yang kini berkecamuk didalam hati Gladys, yang pasti sangat membuat Gladys sesak nafas sampai tak mampu mengulurkan tangannya. Dan untuk hal-hal seperti ini Hanif cukup tau apa yang harus dilakukan. Buru-buru Hanif menyambut uluran tangan gadis yang terbilang terlalu 'sederhana' untuk pria semewah Leon. Usai berjabatan, tangan Hanif lalu kebelakang meraih tangan Gladys yang gemetaran. Menggenggamnya erat-erat.
" Hei, kau tak lihat ada yang mau berkenalan denganmu." Bisik Hanif sedikit menyenggol tubuh Gladys.
Dan genggaman tangan Hanif dibelakang punggungnya ternyata cukup bisa memberi kekuatan pada Gladys untuk menyambut uluran tangan itu. Dan meski sedikit kaku, sebuah senyum akhirnya juga bisa tersungging di bibir Gladys.
" Kita bisa lanjutkan ngobrolnya sambil makan, bagaimana?" Ajak Leon.
" Oh, tentu, kalian duluan saja, kami pasti menyusul." Sahut Hanif cepat.
Dan sebelum Leon berlalu sambil menggandeng tangan Citra, sempat tersungging senyum manis untuk anak manusia yang hampir roboh disebelah Hanif ini. Setelah langkah mereka sedikit menjauh Gladys dan Hanif hampir bersamaan menghela nafas lega.
" Kau baik-baik saja?" Tanya Hanif melirik pada Gladys yang seperti belum sepenuhnya kembali.
" Apa aku harus menjawabnya?" Tanya Gladys, serak.
" Apa pria itu yang kau bilang 'cinta sejati' mu?" Tanya Hanif setelah Leon pamit pergi, awal pertemuan Hanif dengan Leon, suatu siang saat Hanif dan Gladys istirahat makan.
Dan Gladys hanya tersenyum malu, tapi terlihat sekali hatinya seringan kapas. Dan tatapan matanya begitu indah hingga membuat Hanif takjub. Itukah tatapan penuh cinta?
" Apa dia tau?" Tanya Hanif lagi.
Gladys masih memamerkan senyumnya, seraya menggeleng malu.
" Lalu kau kira dia akan tau kalo kau tak memberitahukannya? Kau pikir dia peramal? Bisa membaca pikiran orang lain?" Sungut Hanif kesal, tapi Gladys tetap senyum-senyum.
" Katanya, kalo itu cinta sejati, maka akan tertarik sendiri."
" Yang benar, kalo dia tak tau kau mencintainya, dia akan mencintai orang lain."
Gladys manyun.
Dan ternyata, omongan Hanif waktu itu benar. Hanif tergelak sedih.
Dan saat Hanif hendak melepas genggaman tangannya pada tangan Gladys, buru-buru Gladys mencegah.
" Jangan, Han, aku mohon!" Sergah Gladys lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Dan lagi-lagi Gladys juga melarang saat Hanif hendak menghadap ke arahnya.
" Bolehkan aku pinjam punggungmu? Sebentar saja! Juga jangan melihatku!" Lanjut Gladys menunduk menyembunyikan pandangannya.
Hanif menurut.
" Kenapa tak pinjam dada dan tanganku sekalian?" Tawar Hanif seperti mencoba mencairkan suasana hati Gladys.
Gladys tak menggubris candaan Hanif. Disandarkan kepalanya ke punggung Hanif, dengan tangan masih tergenggam erat jemari Hanif.
Dan saat-saat semacam ini yang paling membuat Hanif tak bisa mengacuhkan Gladys, meski dihati Gladys hanya ada nama Leon. Padahal sebenarnya jauh didalam hati Hanif sangat menantikan saat-saat semacam ini. Saat-saat dimana Gladys terpuruk oleh Leon. Dan untuk itu, harusnya Hanif saat ini bahagia. Tapi kenyataannya Hanif malah merasakan juga kesakitan itu.
Entah harus disebut apa perasaan yang Hanif alami selama ini. Dulu, awal-awalnya Hanif kira hanya sebatas perasaan simpati dan belas kasihan karena terlalu sering dan kebetulannya Hanif mendapati Gladys yang perlu bantuan setelah berhadapan dengan Leon, pria yang telah 'dinobatkan' Gladys sebagai cinta sejatinya. Tapi seiring berjalannya waktu, Hanif malah terjebak dalam perasaan yang tak bernama ini. Perasaan yang begitu menyenangkan ketika melihat senyum lebar itu. Perasaan yang begitu membuat Hanif ketagihan saat bisa tertawa bersamanya. Perasaan yang bahkan bisa membuat dada Hanif sesak dan sakit ketika menemukannya seperti ini.
" Apa kau percaya takdir, Han?" Tanya Gladys masih dengan kepala bersandar di punggung Hanif.
Hanif hanya berdehem singkat. Tetap tak merubah posisinya seperti permintaan Gladys tadi.
" Dulu kukira takdir itu erat hubungannya dengan jodoh. Jika dia sudah ditakdirkan menjadi jodoh kita, maka pasti akhirnya akan bersama kita. Tapi sepertinya aku salah." Lanjut Gladys lirih.
Hanif menarik nafas berat.
" Jodoh dan takdir memang ada dijalan yang sama, tapi mereka punya langkah yang berbeda. Kita tak bisa memaksakan sebuah jodoh, tapi kita bisa menentukan takdir. Apa yang kita lakukan dulu dan sekarang, adalah takdir untuk kita esok." Tanya Hanif.
Diam, Gladys hanya mempererat genggaman tangannya.
" Sudahlah, ayo kita gabung dengan yang lainnya." Ajak Hnaif akhirnya.
" Selama belasan tahun mengenalnya..." Tiba-tiba Gladys bicara, membuat Hanif urung bergerak. Menanti ungkapan hatinya lagi.
" Ini pertama kalinya dia memperkenalkan seseorang padaku." Lanjutnya, akhirnya.
" Rasanya aku tak sanggup lagi jika harus bersikap seperti tak ada apa-apa."
Hanif mendesah.
" Aku pernah dengar sebuah kalimat, mencintai adalah nama lain dari menahan derita. Saat kita mencintai seseorang maka kita juga akan merasakan penderitaan yang sebanding. Dengan kata lain, jika kau mencintai dia kau juga harus bersiap suatu saat menderita karena dia. Semakin kau mencintainya, maka semakin menderita kau nantinya."
Gladys menjauhkan kepalanya dari punggung Hanif. Lalu terdengar Gladys tergelak lirih. Hanif perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Gladys, dengan tangan yang masih saling menggenggam.
" Jadi maksudmu, aku memang harus menderita begini karena mencintai dia?"
" Cinta adalah anugerah, jika keduanya saling menyambut, saling memiliki. Tapi jika itu hanya cinta sepihak, maka itu akan menjadi mata pisau yang akan melukai pemiliknya. Sakit."
Diam. Gladys tak menyahut.
Dan dalam hati Hanif kesakitan itu kian meraja. Semua yang dikatakan pada Gladys, sebenarnya adalah lebih pantas untuk dirinya sendiri. Bagaimana cinta yang dimilikinya 5 tahun terakhir ini memang telah menjadi mata pisau yang melukai hatinya. Mencintai itu memang menyakitkan, tapi sayangnya, tak ada yang bisa menghentikan lajunya. Bagi Gladys, mendapati penderitaan cintanya pada Leon masih bisa tertolong oleh Hanif. Lalu bagaimana dengan Hanif sendiri? Siapa yang akan menolongnya? Sementara Gladys tak pernah tau atau mungkin tak pernah peduli dengan cinta yang dimilikinya selama ini. Bukankah ini lebih tragis?!
Hanif tertawa pelan. Menertawakan keadaannya selama ini yang ternyata begitu tragis, dan baru disadarinya sekarang. Dulu Hanif yang memarahi Gladys karena tak pernah mau mengatakan perasaannya pada Leon yang sangat dicintainya. Tapi Hanif malah membiarkan dirinya yang juga membiarkan cintanya tak diketahui Gladys.
Hanif menatap kedua tangan mereka yang masih bergandengan.
" Jangan lepaskan tanganku, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu."
Gladys menatap Hanif.
" Dan jangan menatapku begitu. Atau aku akan marah." Lanjut Hanif membuat Gladys tergelak.
Hanif tersenyum.
Biarlah berjalan seperti ini dulu, Bathin Hanif pada dirinya sendiri.
Lalu mereka keluar dari 'tempat persembunyian' mereka. Tetap bergandengan tangan. Dan Hanif sudah bahagia dengan semua itu. Cinta memang menahan derita, tapi bagi sebagian 'orang bodoh', melihat orang yang dicintai bahagia, adalah sudah cukup membahagiakan.
Rabu, 01 April 2015
EVERLASTING LOVE II
Giok menatap nanar Hanum yang duduk terpekur dilantai memegangi lututnya disudut rooftop kedai kopi miliknya. Setengah jam lalu, Bimo menelepon Giok karena sejak datang ke kedai sore tadi, Hanum ada di rooftop dan tak bicara apapun.
Giok belum melangkahkan kakinya, masih terpaku di anak tangga terakhir menuju rooftop.
Siang tadi, sekitar 6 jam lalu, di toko gaun pengantin.
" Kau masih kuat berapa lama?" Tanya Giok.
Hanum berdehem tak mengerti seraya menatap Giok, sahabat sekaligus 'kakak' kesayangannya.
" Kau masih kuat berapa lama melalui semua ini? Setiap waktu kesakitan ini akan terus bertambah, makin menyakitkan. Apa kau benar-benar sanggup?"Lanjut Giok tak mengedipkan matanya sedikitpun.
Sementara Hanum nampak mulai gelisah. Tapi, seperti biasa, diacuhkan itu dan tersenyum lagi.
" Apa kau kurang kerjaan hingga menawarkan diri mengurusi persiapan pernikahan kami? Bukankah lebih baik kau di sanggar baletmu, mempersiapkan pertunjukan bulan depan? Apa kau sudah tak punya ide membuat sketsa manga untuk kau kirim ke redaksi penerbit? Apa kau tak bisa membantu Bimo di kedai..."
" Apa aku juga tak boleh membantu persiapan pernikahanmu? Kita sahabat, Mawar juga sahabatku, jadi..." Hanum menunduk tak jadi melanjutkan sanggahannya.
" Sampai kapan kau terus-terusan menyiksaku begini? Apa memang ini tujuanmu? Membuatku selalu merasa bersalah karena menyetujui pernikahan ini? Jawab, Num!!" Desis Giok tertahan.
" Gi, pelankan suaramu, nanti ada yang dengar." Pinta Hanum cemas.
Giok tergelak sinis.
" Kenapa? Kau takut orang-orang tau bahwa sebenarnya aku tak menyukai pernikahan ini? Kau takut kalau sebenarnya diantara kita ada yang seharusnya terjadi? Kenapa takut? Toh, kalau ketahuan, pihak yang paling dirugikan adalah aku, bukan kau, Num."
" Giok....!!!"
Giok mendesah. Dalam hatinya berkecamuk penyesalan yang sangat hebat.
" Datang-datang wajahnya terlihat sangat sedih, bahkan matanya sembab. Waktu aku tanya, diam saja, malah jalan ke atas seperti orang linglung." Lapor Bimo saat Giok sampai setelah ditelponnya. Karena kedai sudah akan ditutup, tapi Hanum tetap tak mau beranjak dari sudut rooftop.
Giok membuka pintu rooftop bebarengan Hanum yang akhirnya bangkit dari duduknya. Sekilas Hanum kaget mendapati kedatangan Giok.
Sembari melangkah mendekat, Giok melepas jaketnya.
" Kau pikir badanmu terbuat dari baja, berjam-jam di rooftop di cuaca berangin begini." Omel Giok sambil memakaikan jaketnya.
" Gi, aku tadi baru mau masuk, beneran." Ucap Hanum mencoba membela diri.
Usai memakaikan jaket ke Hanum, Giok pun menggandeng tangan Hanum untuk masuk.
" Gi, aku tadi benar-benar sudah mau masuk." Ulang Hanum masih mencoba meredam amarah diwajah Giok. Tapi Giok tetap menggandeng Hanum masuk dengan ekspresi yang belum berubah.
" Giok....!" Geram Hanum meninggi.
Dan langkah mereka terhenti tepat dibalik pintu, Hanum di tangga pertama, dan Giok ditangga dibawahnya.
Hening beberapa detik. Hanum menunduk mendapati tatapan mata tajam Giok.
" Maaf." Desah Giok kemudian.
" Aku sudah tau kalo semua ini cukup berat untuk kau pikul sendiri, tapi tadi aku malah menambahi dengan memarahimu."
Hanum tersenyum, sangat tahu yang dimaksud Giok pasti adalah kejadian tadi saat di toko gaun pengantin.
" Tak perlu minta maaf, Gi. Bukan kau yang salah. Aku yang salah."
Giok mendesah
" Bahkan kau pun menyalahkan dirimu sendiri, apa itu adil untukmu?" Keluh Giok melepas genggaman tangannya lalu melangkah menuruni anak tangga.
" Gi, ini semua memang salahku. Coba kalo dulu aku tak bersikap sok tau memperkenalkan kalian. Tak bersikap sok baik dengan mendukung kalian, tak memperkenalkan Mawar sama Ibu Andin." Sanggah Hanum menyusul langkah Giok.
Giok berhenti mendadak dan hendak membalikkan tubuhnya, tapi karena Hanum mengikuti Giok tanpa perhitungan akhirnya tubuh mungil Hanum menubruk Giok. Tapi tak sampai 2 detik, Hanum buru-buru mundur 2 langkah. Giok tergelak tertahan.
" Kau ini manusia apa sih?"
" Hah?!" Kernyit Hanum.
" Tubuh dan mentalmu itu berbanding terbalik. Didepanku kau bersikap begini, tapi dibelakangku kau bersikap lain. "
Hanum menggaruk-garuk lehernya yang mungkin tak gatal.
" Kalo bukan Bimo yang cemas melihatmu datang kesini seperti zombi aku mungkin menganggap hatimu benar-benar sudah membatu. Kenapa sekarang kau berakting didepanku, Num?! Dulu kau selalu jujur padaku." Kali ini ucapan Giok lebih mirip sebuah protes.
Hanum manyun sambil menunduk sedikit menghindari tatapan Giok.
" Apa sebaiknya aku batalkan pernikahan ini?"
Hanum mendongak kaget.
" Kau gila ya, Gi...!"
" Aku memang sudah gila, Num. Tiap hari melihatmu berpura-pura tak terjadi apa-apa, berpura-pura tetap tersenyum. Jika aku bukan orang yang sudah menyayangimu sejak kita masih belum masuk SD, aku mungkin bisa bersikap masa bodoh. Tapi aku ini Giok, Num!!" Intonasi suara Giok makin meninggi.
Hanum menunduk lagi. Hening beberapa detik.
" Tenang saja Gi, ini akan segera berakhir kok, tak sampai bulan depan aku akan ke Jepang, menyusul papa." Lapor Hanum pelan dan hati-hati.
Giok menjulurkan tangannya ke dahi Hanum, membuat Hanum mendongak lagi.
" Kau sakit ya?!" Tanya Giok ketus.
" Tidak." Hanum menggeleng.
" Lalu kenapa kau bilang mau menyusul papamu ke Jepang? Apa kau pikir aku sudah lupa bagaimana kau membenci papamu? Hah?!
Hanum manyun lagi, seraya melangkah mendekati dispenser air, mengambil sebuah gelas dan menekan tombol dispenser.
" Mau benci seperti apa dia tetap papaku." Sanggah Hanum seraya meneguk setengah gelas air ditangannya
" Lama-lama aku juga mempertimbangkan rayuan papa soal manga yang akan bisa kupelajari lebih baik lagi disana. Aku ingin jadi mangaka yang sesungguhnya."
Giok tergelak mendengar angan-angan Hanum yang terlalu klise itu.
" Jadi dari balet kau ingin berpindah ke manga? Apa ini tidak terlalu terkesan klise?"
Hanum meletakkan gelas ditangannya, sekarang dia beringsut ke arah dapur.
" Apanya yang klise, Gi? Sejak kecil aku kan memang sudah suka dengan anime jepang, justru balet adalah hal yang kemudian baru dikenalkan mama." Hanum tetap dengan entengnya menyanggah.
" Jadi itu alasanmu ngotot ikut membantu persiapan pernikahan kami? Karena kau merasa tak enak hati?"
Hanum diam. Digigit pelan bibirnya.
" Aku akan berusaha cari penerbangan setelah acara pernikahanmu. Jadi aku akan tetap bisa menghadiri pernikahan kalian." Ucap Hanum akhirnya, dengan senyum.
Giok merasa benar-benar ingin marah. Bahkan rencana sebesar inipun Hanum sudah tak merundingkan dengannya. Giok mendesah berat.
" Tidak perlu. Kalo mau pergi, pergilah secepatnya. Tak perlu menunggu pernikahan atau apapun." Ketus Giok dingin.
Hanum tertunduk sedih. Hatinya benar-benar sedih telah mengatakan rencana kepergiannya ke Jepang. Tapi tiba-tiba terdengar suara lucu memecah kebekuan mereka. Giok kaget. Hanum memegangi perutnya sambil meringgis.
" Aku lapar..."
Mau tak mau Giok pun tergelak. Membuat bibir Hanum kian lebar meringgis. Giok mendekat,
" Kalo kau pergi ke Jepang, aku takut tak ada yang mengurusmu dengan baik disana, Num."
Hanum tertawa
" Aku bukan anak kecil lagi, Gi. " Sergah Hnaum cepat, membuat mata Giok memicing.
"Oke, didepanmu aku tetap anak kecil, tapi kalo di Jepang aku sudah bukan anak kecil lagi kan?" Lanjut Hanum enteng, membuat Giok gemas dan memukul dahinya. Hanum tertawa lagi.
" Ayo kita makan."
" Sudah tak ada apa-apa disini."
" Aku traktir makan diluar, anggap saja sebagai bayaran menemaniku hari ini." Ajak Giok membenarkan jaketnya yang menutupi tubuh Hanum.
Hanum tertawa girang. Giok tersenyum.
Mungkin, kalo akhirnya memang harus seperti ini, Giok mau tak mau merelakan semuanya. Meski memang tak sesulit masa-masa yang dilalui Hanum, tapi masa-masa yang dilalui Giok pun tak akan mudah. Kadang Giok ingin pergi saja dengan Hanum. Kemana saja asal bersama Hanum. Tapi apa itu sebuah penyelesaian yang benar-benar baik? Jika akhirnya tetap seperti ini pihak yang terluka paling tidak hanya Giok dan Hanum. Tapi jika saat ini harus memaksakan diri berakhir lebih adil bagi jalinan kasih yang sudah mendarah daging ini, pasti akan banyak sekali yang terluka. Dan apakah berbahagia diatas rasa kecewa dan kesakitan banyak orang bisa disebut cinta yang sebenarnya? Dan mungkin tak hanya bagi Hanum, bagi Giok pun, menjaga cinta itu tetap abadi di sudut hati yang tak tersentuh oleh apapun, adalah sudah lebih dari cukup. Cinta itu tak hanya memiliki; melepaskan kadang juga nama lain dari cinta.
Giok belum melangkahkan kakinya, masih terpaku di anak tangga terakhir menuju rooftop.
Siang tadi, sekitar 6 jam lalu, di toko gaun pengantin.
" Kau masih kuat berapa lama?" Tanya Giok.
Hanum berdehem tak mengerti seraya menatap Giok, sahabat sekaligus 'kakak' kesayangannya.
" Kau masih kuat berapa lama melalui semua ini? Setiap waktu kesakitan ini akan terus bertambah, makin menyakitkan. Apa kau benar-benar sanggup?"Lanjut Giok tak mengedipkan matanya sedikitpun.
Sementara Hanum nampak mulai gelisah. Tapi, seperti biasa, diacuhkan itu dan tersenyum lagi.
" Apa kau kurang kerjaan hingga menawarkan diri mengurusi persiapan pernikahan kami? Bukankah lebih baik kau di sanggar baletmu, mempersiapkan pertunjukan bulan depan? Apa kau sudah tak punya ide membuat sketsa manga untuk kau kirim ke redaksi penerbit? Apa kau tak bisa membantu Bimo di kedai..."
" Apa aku juga tak boleh membantu persiapan pernikahanmu? Kita sahabat, Mawar juga sahabatku, jadi..." Hanum menunduk tak jadi melanjutkan sanggahannya.
" Sampai kapan kau terus-terusan menyiksaku begini? Apa memang ini tujuanmu? Membuatku selalu merasa bersalah karena menyetujui pernikahan ini? Jawab, Num!!" Desis Giok tertahan.
" Gi, pelankan suaramu, nanti ada yang dengar." Pinta Hanum cemas.
Giok tergelak sinis.
" Kenapa? Kau takut orang-orang tau bahwa sebenarnya aku tak menyukai pernikahan ini? Kau takut kalau sebenarnya diantara kita ada yang seharusnya terjadi? Kenapa takut? Toh, kalau ketahuan, pihak yang paling dirugikan adalah aku, bukan kau, Num."
" Giok....!!!"
Giok mendesah. Dalam hatinya berkecamuk penyesalan yang sangat hebat.
" Datang-datang wajahnya terlihat sangat sedih, bahkan matanya sembab. Waktu aku tanya, diam saja, malah jalan ke atas seperti orang linglung." Lapor Bimo saat Giok sampai setelah ditelponnya. Karena kedai sudah akan ditutup, tapi Hanum tetap tak mau beranjak dari sudut rooftop.
Giok membuka pintu rooftop bebarengan Hanum yang akhirnya bangkit dari duduknya. Sekilas Hanum kaget mendapati kedatangan Giok.
Sembari melangkah mendekat, Giok melepas jaketnya.
" Kau pikir badanmu terbuat dari baja, berjam-jam di rooftop di cuaca berangin begini." Omel Giok sambil memakaikan jaketnya.
" Gi, aku tadi baru mau masuk, beneran." Ucap Hanum mencoba membela diri.
Usai memakaikan jaket ke Hanum, Giok pun menggandeng tangan Hanum untuk masuk.
" Gi, aku tadi benar-benar sudah mau masuk." Ulang Hanum masih mencoba meredam amarah diwajah Giok. Tapi Giok tetap menggandeng Hanum masuk dengan ekspresi yang belum berubah.
" Giok....!" Geram Hanum meninggi.
Dan langkah mereka terhenti tepat dibalik pintu, Hanum di tangga pertama, dan Giok ditangga dibawahnya.
Hening beberapa detik. Hanum menunduk mendapati tatapan mata tajam Giok.
" Maaf." Desah Giok kemudian.
" Aku sudah tau kalo semua ini cukup berat untuk kau pikul sendiri, tapi tadi aku malah menambahi dengan memarahimu."
Hanum tersenyum, sangat tahu yang dimaksud Giok pasti adalah kejadian tadi saat di toko gaun pengantin.
" Tak perlu minta maaf, Gi. Bukan kau yang salah. Aku yang salah."
Giok mendesah
" Bahkan kau pun menyalahkan dirimu sendiri, apa itu adil untukmu?" Keluh Giok melepas genggaman tangannya lalu melangkah menuruni anak tangga.
" Gi, ini semua memang salahku. Coba kalo dulu aku tak bersikap sok tau memperkenalkan kalian. Tak bersikap sok baik dengan mendukung kalian, tak memperkenalkan Mawar sama Ibu Andin." Sanggah Hanum menyusul langkah Giok.
Giok berhenti mendadak dan hendak membalikkan tubuhnya, tapi karena Hanum mengikuti Giok tanpa perhitungan akhirnya tubuh mungil Hanum menubruk Giok. Tapi tak sampai 2 detik, Hanum buru-buru mundur 2 langkah. Giok tergelak tertahan.
" Kau ini manusia apa sih?"
" Hah?!" Kernyit Hanum.
" Tubuh dan mentalmu itu berbanding terbalik. Didepanku kau bersikap begini, tapi dibelakangku kau bersikap lain. "
Hanum menggaruk-garuk lehernya yang mungkin tak gatal.
" Kalo bukan Bimo yang cemas melihatmu datang kesini seperti zombi aku mungkin menganggap hatimu benar-benar sudah membatu. Kenapa sekarang kau berakting didepanku, Num?! Dulu kau selalu jujur padaku." Kali ini ucapan Giok lebih mirip sebuah protes.
Hanum manyun sambil menunduk sedikit menghindari tatapan Giok.
" Apa sebaiknya aku batalkan pernikahan ini?"
Hanum mendongak kaget.
" Kau gila ya, Gi...!"
" Aku memang sudah gila, Num. Tiap hari melihatmu berpura-pura tak terjadi apa-apa, berpura-pura tetap tersenyum. Jika aku bukan orang yang sudah menyayangimu sejak kita masih belum masuk SD, aku mungkin bisa bersikap masa bodoh. Tapi aku ini Giok, Num!!" Intonasi suara Giok makin meninggi.
Hanum menunduk lagi. Hening beberapa detik.
" Tenang saja Gi, ini akan segera berakhir kok, tak sampai bulan depan aku akan ke Jepang, menyusul papa." Lapor Hanum pelan dan hati-hati.
Giok menjulurkan tangannya ke dahi Hanum, membuat Hanum mendongak lagi.
" Kau sakit ya?!" Tanya Giok ketus.
" Tidak." Hanum menggeleng.
" Lalu kenapa kau bilang mau menyusul papamu ke Jepang? Apa kau pikir aku sudah lupa bagaimana kau membenci papamu? Hah?!
Hanum manyun lagi, seraya melangkah mendekati dispenser air, mengambil sebuah gelas dan menekan tombol dispenser.
" Mau benci seperti apa dia tetap papaku." Sanggah Hanum seraya meneguk setengah gelas air ditangannya
" Lama-lama aku juga mempertimbangkan rayuan papa soal manga yang akan bisa kupelajari lebih baik lagi disana. Aku ingin jadi mangaka yang sesungguhnya."
Giok tergelak mendengar angan-angan Hanum yang terlalu klise itu.
" Jadi dari balet kau ingin berpindah ke manga? Apa ini tidak terlalu terkesan klise?"
Hanum meletakkan gelas ditangannya, sekarang dia beringsut ke arah dapur.
" Apanya yang klise, Gi? Sejak kecil aku kan memang sudah suka dengan anime jepang, justru balet adalah hal yang kemudian baru dikenalkan mama." Hanum tetap dengan entengnya menyanggah.
" Jadi itu alasanmu ngotot ikut membantu persiapan pernikahan kami? Karena kau merasa tak enak hati?"
Hanum diam. Digigit pelan bibirnya.
" Aku akan berusaha cari penerbangan setelah acara pernikahanmu. Jadi aku akan tetap bisa menghadiri pernikahan kalian." Ucap Hanum akhirnya, dengan senyum.
Giok merasa benar-benar ingin marah. Bahkan rencana sebesar inipun Hanum sudah tak merundingkan dengannya. Giok mendesah berat.
" Tidak perlu. Kalo mau pergi, pergilah secepatnya. Tak perlu menunggu pernikahan atau apapun." Ketus Giok dingin.
Hanum tertunduk sedih. Hatinya benar-benar sedih telah mengatakan rencana kepergiannya ke Jepang. Tapi tiba-tiba terdengar suara lucu memecah kebekuan mereka. Giok kaget. Hanum memegangi perutnya sambil meringgis.
" Aku lapar..."
Mau tak mau Giok pun tergelak. Membuat bibir Hanum kian lebar meringgis. Giok mendekat,
" Kalo kau pergi ke Jepang, aku takut tak ada yang mengurusmu dengan baik disana, Num."
Hanum tertawa
" Aku bukan anak kecil lagi, Gi. " Sergah Hnaum cepat, membuat mata Giok memicing.
"Oke, didepanmu aku tetap anak kecil, tapi kalo di Jepang aku sudah bukan anak kecil lagi kan?" Lanjut Hanum enteng, membuat Giok gemas dan memukul dahinya. Hanum tertawa lagi.
" Ayo kita makan."
" Sudah tak ada apa-apa disini."
" Aku traktir makan diluar, anggap saja sebagai bayaran menemaniku hari ini." Ajak Giok membenarkan jaketnya yang menutupi tubuh Hanum.
Hanum tertawa girang. Giok tersenyum.
Mungkin, kalo akhirnya memang harus seperti ini, Giok mau tak mau merelakan semuanya. Meski memang tak sesulit masa-masa yang dilalui Hanum, tapi masa-masa yang dilalui Giok pun tak akan mudah. Kadang Giok ingin pergi saja dengan Hanum. Kemana saja asal bersama Hanum. Tapi apa itu sebuah penyelesaian yang benar-benar baik? Jika akhirnya tetap seperti ini pihak yang terluka paling tidak hanya Giok dan Hanum. Tapi jika saat ini harus memaksakan diri berakhir lebih adil bagi jalinan kasih yang sudah mendarah daging ini, pasti akan banyak sekali yang terluka. Dan apakah berbahagia diatas rasa kecewa dan kesakitan banyak orang bisa disebut cinta yang sebenarnya? Dan mungkin tak hanya bagi Hanum, bagi Giok pun, menjaga cinta itu tetap abadi di sudut hati yang tak tersentuh oleh apapun, adalah sudah lebih dari cukup. Cinta itu tak hanya memiliki; melepaskan kadang juga nama lain dari cinta.
Langganan:
Komentar (Atom)