Aku mendengus jengkel. Kuteguk lagi softdrink ditanganku.
Usahaku akhirnya berhasil mengakhiri kegiatannya menduakanku dengan note-3 nya. Lalu senyumnya mengembang tipis.
" Sibuk apa sih?" gerutuku cemberut
Al malah mencubit hidungku, kutepis tangannya dengan cemberut.
" Ada temen tanya soal pekerjaan masa g dijawab sih? kan kasihan dia-nya nunggu"
Aku tergelak,
" Aku dari tadi juga nunggu, kok kamu gak kasihan?!"
Al terpingkal-pingkal, aku makin geregetan dan melangkah pergi meninggalkannya,
" Hei...heii...." burunya menyambar tanganku
Aku tak langsung menoleh,
Lama-lama sikap Al memang terbilang menjengkelkan. Dibalik tampang cool nya itu ternyata dia juga menyimpan aura cassanova. Huuuuffttt.....!! Bahkan dia sendiri mengakui kalo dia selalu tak tega jika berhadapan dengan kaum hawa. Takut menyakiti hatinya, tapi tak sadar kalo semua sikapnya itu malah membuatku sakit.
" Oke, aku minta maaf kalo aku sangat keterlaluan. Aku cuma..."
" Sudahlah..." sergahku memotong ucapannya yang malah membuatku merasa bersalah
" Ayo kita pergi!" lanjutku menggandeng tangannya
Biarlahh... biar saja ini mengalir seperti air mengalir, aku lelah kalo harus melawan arus terus. Seperti aku menanggapi omongan Banyu saja, semua sudah ada yang tentukan akhirnya. Aku tak peduli mau Al playboy atau cuma sekedar terlalu baik dan perhatian dengan kaumku, yang penting apa yang ada dihadapanku aku hadapi. Tak banyak yang bisa menerima cita-citaku, dan Al selalu mendukungku untuk terus mengobarkan semangat pergi ke kanada.
" Kalo kamu tak nyaman dengan semua ini,kamu bisa meninggalkanku" ucap Al menghentikan langkahku, juga langkahnya. Kubalikkan tubuhku penuh mengahadapnya. Mata elangnya begitu tajam, seakan tak ada keraguan mengucap kata-kata tadi
" Maksudmu, kamu ingin kita putus?"
" Bukan itu, ini cuma kalo kamu....."
" Kenapa??!" kejarku membuatnya membisu dan meredupkan mata elangnya
Peerlahan kulepas genggaman tangannya. Sungguh, ini seperti de javu. Belum genap 5 bulan berlalu kejadian serupa begini terjadi. Saat hubunganku dengan Banyu dulu juga harus berakhir dengan alasan yang membuatku tergelak.
" Apa?!" desisku waktu itu, menatap Banyu lekat seakan ingin mencari kebenaran dalam raut wajah tampannya.
Banyu malah menundukkan wajahnya
" Makin hari aku makin merasa kau tak nyaman dengan hubungan ini, aku tak mau membebanimu."
Tak nyaman? Benarkah ini sebuah ketidaknyamanan? Tiap hari aku malah merasa punya semangat lebih menghadapi hari-hariku. Tapi kenapa Banyu malah menganggap aku tak nyaman menjalin hubungan dengannya?
" Aku juga tak mau menjadi penghalang langkah cita-citamu ke kanada"
Klop!!!
Itulah yang sudah sejak lama kutakutkan. Pasti alasan kanada punya andil besar.
Kesadaranku terseret oleh jemari Al yang perlahan merengkuh jemariku dengan hangat. Kutatap wajah setenang air telaga itu. Tak kupungkiri, kehadiran Al memang sangat berjasa bagiku. Karena dia aku bisa pelan-pelan membalut lukaku peninggalan Banyu. Tapi siapa yang nyana baru jalan 2 bulan luka yang mulai sembuh itu tergores lagi, lebih dalam dan lebih sakit rasanya.
***
" Apa????!!" desis Mika, bakso yang sudah hampir masuk kemulutnya terjatuh lagi ke mangkok. Matanya melotot tak percaya dengan yang baru kuucapkan tadi, kalo aku dan Alrial sekarang sudah berakhir. Mika cukup tau kisah liku kehidupan cintaku, mulai dari sendiri, sampai menjalin hubungan dengan Banyu, putus dengan Banyu, terpuruk berminggu-minggu, sampai akhirnya mendapat secercah lentera semangat saat mengenal Alrizal. Dan ternyata Mika masih beruntung setia mengikuti alur perjalanan cintaku sampai akhirnya jalinan cintaku dengan Al kandas.
Aku tersenyum tipis
" Kok kamu malah tersenyum sih Ai..." gerutu Mika seperti jengkel
" Lha emang aku musti gimana Ka?" tanyaku mengaduk-aduk somay ku, kulahap sebuah, kukunyah pelan-pelan, rasanya tak karuan, seperti perasaanku sekarang ini.
" Ini gak adil Ai. Dulu sama Banyu, dia seenaknya ninggal kamu, ya meski setelah itu dia seperti nyesel dan pengen balik lagi. Tapi sekarang masa begini lagi? Apanya yang salah sih Ai? Aku sudah berpikir Al begitu mencintaimu dan begitu bisa menenangkanmu, tapi....." cerocos Mika geregetan.
Aku cuma bisa mengangkat bahu sedikit sebagai tanggapan.
" Dia itu playboy..." kataku pelan, sedikit melucu, biar kekesalan Mika sedikit membuyar.
Mata Mika malah memicing.
" Ini benar-benar gak adil Ai,"
" Apapun adil jika menyangkut cinta Ka, "
" Ternyata semua cowok sama aja, sama-sama bulshitt, gk Banyu, gk Alrizal, gk Rhein, semua sama-sama srigala berbulu domba. Awalnya aja menyenangkan, membuat kita berbunga-bunga, menjanjikan pada kita manisnya cinta, tapi ujung-ujungnya nyakitin juga." cerocos Mika panjang lebar seperti sebuah orasi kekesalannya pada kaum adam.
Wajar saja, Mika juga baru saja dikhianati pacarnya si Rhein, yang gara-gara sedang naik daun jadi artis pendatang baru yang fans nya lagi membludak, lalu seenaknya saja mencampakkan pacar lamanya yang padahal ikut andil besar mengantarnya ke podium kesuksesan.
Aku tersenyum sambil menusukkan sebuah bakso dan menyuapkan ke bibir Mika yang masih super cemberut.
" Udah, makannya dihabisin dulu"
Mika melahap bakso yang kusodorkan tadi. Aku tertawa
" Kepergian mereka tak layak kita tangisi kan? Kalo mereka terlalu bodoh meninggalkan kita, maka kita harus cukup pintar melupakan mereka kan? Toh sudah ada contohnya,. si Banyu, dulu dia sendiri yang minta putus, tapi blum ada 2 bulan udah putus nyambung sama beberapa cewek, akhirnya berharap aku balik lagi ke dia. Percaya aku aja, suatu saat Rhein juga bakal berharap bisa balik ke kamu lagi kok"
Mika tergelak, " Dia kan lagi dia atas awan Ai, jadi mana mungkin mau memijak bumi demi aku." ucap Mika apatis
"hei...kamu lupa ya yang kamu bilang ke aku dulu? Jodoh kita tak kan tertukar, jadi lebih baik menunggu orang yang tepat daripada bersama orang yang salah. Matahari juga setiap hari sendirian, tapi dia tetap bersinar cerah sepanjang hari." Lanjutku mengenang semua nasihat-nasihat Mika dulu, waktu aku terpuruk kehilangan Banyu. Dan untuk sekarang aku tak akan mengulangi keterpurukan itu lagi.
Mika tersenyum manis.
Dalam hati aku pun tersenyum, dan aku bertekad, aku pasti bisa hadapi kesendirian ini. Hidupku baik-baik saja sebelum mereka datang, jadi aku yakin semua juga akan baik-baik saja kalo sekarang mereka memutuskan pergi meninggalkan hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar