Minggu, 03 Agustus 2014

UNTITLED

Aku terpaku, mulutku bungkam tak bicara, mataku lekat tak berkedip, nafasku serasa terhenti di satu titik nadi, tapi detak jantungku berdeegup sangat kencang seperti genderang mau perang-nya Dewa 19. Kuharap sosok tampan yang menjulang dihadapanku ini tidak sampai mendengarnya. 
" Hei...hallo...?!" ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya ke depan mukaku.
Aku tergagap, dan langsung saja wajahku memias menyadari aku telah kecolongan terpukau kedatangannya.
Dia, Nathan. Laki-laki tampan yang ditopang tubuh tinggi cungkringnya, kalo lihat dia, jadi ingat Hua zhe lei, anggota F4 di film Meteor Garden kesukaanku itu. Dia baik tapi juga lucu. Mungkin memang sebuah keberuntungan bisa dekat dan akrab dengan Nathan. 
" Kau terpukau ya sama ketampananku?" tanyanya blak-blakan,
Aku tercekat, tapi buru-buru kupicingkan mataku dan tergelak
" Ngomong apa kau ini" kilahku melangkah lagi " Aku tuh cuma kaget, tiba-tiba kau muncul lagi. kirain kau sudah hilang dibawa kabur kuntilanak" lanjutku
" kalo kuntilanaknya cantik juga gak apa-apa kok" sahutnya berjalan mundur mendahuluiku
" Dasar aneh !"
Nathan tergelak, aku tersenyum gembira menikmati moment itu
Ya Allah.... perasaan apa ini? Dia seenaknya datang dan pergi dari kehidupanku. Tapi kenapa aku masih berlapang hati menerimanya? Kenapa hati ini masih bersorak sorai kala dia muncul kembali dihadapanku, padahal kalo dia tiba-tiba menghilang, hidupku rasanya pekat tak bercahaya. Hatiku linglung tak berarah.
 Seperti yang terjadi sekitar sebulan lalu ketika tiba-tiba tak kudapati dia menjemputku berangkat kerja, tak kudapat balasan sms, bahkan saat kutelpon pun tak dapat jawaban. Dan aku makin kelabakan saat tak kutemui dia ditempat kerjanya, bahkan teman kerjanya tak ada yang tau kemana.
Dan sehari, dua hari, seminggu, dua minggu..... rasanya seperti siksaan bathinku. Aku benar-benar kesepian, benar-benar kehilangan. Padahal itu bukan yang pertama. Sejak mengenal dan akrab dengannya 2 tahun lalu, sudah 3 kali Nathan tiba-tiba raib bagai ditelan bumi. Dan saat dia kembali menemuiku, tak ada sedikitpun rasa bersalah diwajahnya
Ya Allah.... Perasaan macam apa ini? Kenapa begitu menentramkan jiwaku saat ada didekatku, dan begitu menyiksa seluruh hidupku saat dia menghindariku. Kenapa aku slalu memaafkan dan menerimanya? Kenapa pula tak pernah kupermasalahkan judul hubungan ini?
" Kita makan yuukk..,laper nih!" ajaknya tanpa permisi menyambar lenganku dan menyeretku masuk ke sebuah depot mie
" E..eee....apa-apaan nich?!" desisku setengah menolak,
Nathan malah merangkul pundakku kuat-kuat, seakan takut aku melarikan diri
" Udah, nurut aja, bawel amat sih jadi orang." Nathan mendudukkanku ke sebuah kursi di meja yang masih kosong.
" Aku laper banget, tadi pagi belum sempat sarapan" katanya menulis pesanan di nota yang tersedia di meja
"Ini sudah lewat jam makan siang"
" Ya itulah, makanya aku laper pake banget."
" Jangan dibiasakan, bisa tambah cungkring tuh badan, aku bakal lebih sering kehilanganmu karena seringnya kamu nanti kebawa angin"
Nathan tergelak menanggapi omonganmu.
Sungguh, aku tak ingin perasaan ini berakhir. 
Jangan menghilang lagi Nat, dengungku membathin. Yah, hanya berani membathin, karena melihat mata indahnya itu membuatku kehilangan keberanian mengucap semua yang ada di otakku.
Nathan memesan seporsi jumbo mie bakso. Dilahapnya pesanannya itu dengan nikmatnya, meski sesekali sambil melirikku dan hanya kutanggapi dengan senyum sambil menyeruput lemon tea-ku.



" Kenyang sudah...." Katanya sambil mengelus-elus perutnya yang mungkin kekenyangan.
Aku melirik sedikit mendongak, maklum tinggiku hanya cukup menjangkau pundaknya. 
" Makasih ya sudah menemaniku makan" lanjutnya membuatku sedikit kaget, tapi aku langsung tersenyum. Kami berjalan beriringan menyusuri trotoar menuju tempat kostku.
Jangankan cuma menemanimu makan Nat, Apapun aku mau asal judulnya menemanimu. Karena ada didekatmu membuatku tak kekurangan apapun.
Ya Allah.... kenapa aku ini??? desisku bingung dengan semua yang kurasakan. 
Bahkan, tak pernah sekalipun aku berniat menanyakan kemana dia, kenapa dia pergi, untuk apa dia kembali... Semua kesedihan selama kepergiannya seperti terbayar ketika menemukannya menjulang lagi dihadapanku, dengan wajah tanpa dosanya. Semua kegelisahan selama dia menghilang seakan tak ada artinya. Dan semua kubiarkan kembali seperti biasanya. Lalu apakah suatu saat dia akan menghilang lagi? Aku tak tau, dan aku tak pernah punya niat menuntutnya untuk tak pergi lagi.
" Nda..."
Panggilan itu begitu aneh terdengar. Begitu lirih seperti menanggung beban yang sangat berat dan menyiksa.
Aku menoleh, langkah kami terhenti. Nathan menatapku, tapi kemudian menunduk. Tapi masih sempat kulihat guratan kesedihan itu dimatanya
Apa Nathan akan pergi menghilang lagi? dengungku takut, amat takut.
" Maaf" kali ini suaranya tetap lirih,tetap dengan wajah menunduk dan menyembunyikan tatapannya.
" Untuk apa?"
"Untuk.... semua kepergian-kepergianku," perlahan mata itu menatapku,
Astagfirrullah......! Pekikku saat melihat mata itu sedikit memburam
" Nat..." Desisku.
" Aku bingung Nda, aku tak tau apa yang kurasakan selama ini. Aku tak tau dengan yang terjadi padaku. Semakin aku dekat denganmu aku makin takut, takut kehilangan, takut berakhir..."
Aku ternganga mendengar itu,
" Nat.."
" Awalnya kupikir perasaan itu tak nyata, hingga aku ingin membunuhnya. Aku mencoba menjauhimu, tapi semakin aku jauh aku makin takut. Dan akupun kembali lagi. Tapi lagi-lagi perasaan itu menghantuiku, aku tersiksa Nda, dan sepertinya tak ada yang mau menolongku." Aku Nathan membuatku kehilangan keberanian menanggapi semua itu
" Mungkin aku yang terlalu bodoh Nda, atau mungkin aku terlalu takut dengan kenyataan hidup. Tapi aku juga takut saat tak disampingmu. Maaf jika aku seenak hati datang dan pergi dari kehidupanmu. Aku hanya tak tau arah Nda, aku terlalu bingung dengan ini semua"
Sore ini adalah sore terindah yang pernah kurasakan, Nathan akhirnya mengungkapkan semua yang selama ini membelenggu otakku. Menjawab semua kepergian-kepergiannya. Dan apa aku peduli dengan permintaan maafnuya? Sama sekali tidak. Bagiku yang penting dia kembali lagi di kehidupanku.
Kuulurkan tanganku padanya, Nathan menatapku sayu,
" Tanganku akan selalu ada untukmu Nat, genggamlah jika kau takut dan bingung!" kataku dengan senyum.
Sedikit gemetar kulihat tangan lebarnya yang kekar kurus terulur menyambut tanganku, dan merengkuh jemari kecilku. Perlahan Nathan tersenyum.
Tuhan... aku menurut apa kehendakMu, aku tak peduli apa ini, aku juga tak peduli akan berakhir kapan ini, cepat atau malah untuk waktu yang sangat lama. Yang pasti aku menyukai perasaan ini, perasaan yang mengajarkanku akan arti penting sebuah keberadaan seseorang. Dan selamanya aku tak akan mempermasalahkan judul dari hubungan ini; cintakah,. persahabatankah, atau cuma sekedar memanfaatkan disaat butuh. Sungguh, aku tak mau peduli semua itu. Yang penting dia ada disisiku selama dia mau dan dia butuh. Takkan kulepas genggaman tangannya selama dia ingin menggenggamnya. 
Tuhan.... aku tak tau apa ini, biarlah tetap jadi kehendakMu apa namanya, toh itu hanya legalitas semu. Yang penting aku dan Nathan mengerti maksud dari semua yang Engkau hadirkan pada kami.




Randublatung,03/8/2014
welcome back,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar