Sabtu, 09 Agustus 2014

BUKAN CINDERELA


Kututup buku paket Bahasa Inggrisku sedikit kasar, sedikit marah pula. Ah... bukan sedikit, tapi aku emang lagi marah. Dadaku seperti mau meledak rasanya. 
" Napa sih loe Jen, kok sewot sendiri? " Tanya Aurel seperti gemas liat wajahku yang kaya buah asem mentah, kecuutt banget.
Sekilas kulihat sosok arjunaku di tempat duduknya di pojok kiri sana, hanya sekilas melihatku dan asyik kembali dengan gadget nya, aku makin emosi.
" Ya, lagi sewot banget ini, sampe pengen makan orang!" geramku berlalu dengan nada jengkel. Keluar dari kelas yang hanya tinggal beberapa penghuninya, akibat jam kosong. Langkahku menuju kantin sekolah
Oke, mulai sekarang berhenti jadi pengemis cinta Jen.....!!! geramku membathin.
Sampai kapanpun manusia itu tak kan menganggapmu siapa-siapa, selain teman sekelas! Dasar bodoh!
Kuhempaskan tubuhku ke salah satu kursi kantin. Kupesan semangkok bakso dan es teh. Sembil menunggu pesanan kumainkan sendok dan garpu yang kupegangi. Teringat lagi wajah arjunaku itu, Han.
Aku mendesah berat. 
Mimpimu ketinggian Jen kalo mengharap orang setenar Han mencintaimu...! Rutukku sendiri yang benar-benar kesal karena berfikir terlalu naif tentang semua tatapan Han beberapa minggu ini. Saking geramnya sendok dan garpu ditanganku serasa mau kepatahkan
" Sejak kapan kau mau kaya Dedi corbuzier? " tanya Nafa sudah menjulang dihadapanku membawakan mangkok baksoku. Aku tak menjawab. Nafa ikut duduk di depanku, es teh pesananku datang bersama lemon tea milik Nafa.
 " Tadi Aurel bilang kalo kamu uring-uringan terus hari ini," Katanya seperti melapor
Tak kutanggapi omongan Nafa, aku malah sibuk melahap baksoku. Nafa dengan sabarnya menunggu jawaban yang masih kusimpan.
" Aku benci semua ini Naf," akuku akhirnya, sejenak menghentikan lahapan baksoku.
Nafa mendesah, " Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.... katanya patkai, hahahaa " 
"Gak lucu!" desisku melahap lagi sisa baksoku, tawa Nafa lenyap perlahan.
Kusudahi makanku, kuseruput es tehku. Nafa masih setia menantiku bicara. Aku tersenyum getir menyadari keadaanku selama ini.
" Sudah saatnya aku hentikan semua ini dan must go on. Aku muak berperan seperti pengemis cinta"
Han, dia sebenarnya baik, tapi mungkin aku yang terlalu naif, tak tau diri. Han sudah terlalu baik menolongku saat sepeda motor bututku mogok di derasnya hujan siang itu, menuntunkannya untukku sampai ke bengkel dan meminjamkan jaketnya untukku mengurangi dingin waktu itu. Harusnya aku tak perlu berfikir Han ada rasa padaku hanya berpatok itu. Mungkin saja dia kasihan melihat seorang wanita menuntun sepeda motor sendiri dalam derasnya hujan.
Aku tergelak malu, perasaaanku ini memang benar-benar memalukan. Jangankan pada orang lain, pada diri sendiriku saja aku sampai malu mengingat semuanya.
Sejak kejadian itu Han memang sering menyapaku, bahkan dengan setia mendengar keluh kesahku pada penantianku pada kepergian Joe, pacarku. Tapi tak seharusnya aku menyimpulkan Han ingin dekat denganku. Huuuffttt..... dasar bodoh!
" Lalu apa rencanamu?!" tanya Nafa seperti ingin ketegasan sikapku
Dari awal Nafa memang sudah wanti-wanti padaku agar jangan main hati dulu, akunya saja yang bandel,
" Aku akan menjauhinya" 
" Yakin bisa?! ragu Nafa menatapku penuh selidik
Sulit mungkin!
" Akan kucoba," kutatap Nafa lekat, " Tapi aku sudah yakin, aku bukan cinderela itu," lanjutku yakin meski dengan mata nanar.



Langkah pastiku ke arah perpustakaan tiba-tiba langsung kuputar 90 derajat saat aku menangkap sosok Han baru keluar dari dalam perpustakaan.
" Jeny...!!!" 
langkahku malah kian kupercepat saat kudengar suara Han setengah berteriak memanggilku.
Sialll.... kenapa pula sih ketemu dia? Rutukku
" Hei...heiii..." Desis Han saat berhasil menyambar tanganku
" Emang tampangku sekarang kaya hantu ya sampai harus dijauhi kaya gini?" lanjutnya seperti marah
" Oh, sori Han, aku tadi gak dengar kamu manggil, soalnya aku lagi buru-buru" Kilahku berbohong
" Bohong!!" Tandasnya menatapku lekat, kali ini aku yakin Han memang sedang marah.
Tapi marah untuk apa? Apa ruginya dia aku jauhi? oh,... come on, jangan buat aku kembali jadi orang naif Han... 3 hari ini rasanya sudah sangat berat banget usahaku.
" Liat aku Jen!" 
Aku diam, dan terus menunduk. Han tergelak
" Ini sebenarnya ada apa sih?"
" Gak ada apa-apa kok,"
" Kamu sudah baikan ya sama Joe?" tebak Han tiba-tiba.
Mau tak mau aku menatap Han 
" Apa? kenapa berfikir begitu?"
" Ya, siapa tau."
Aku menunduk lagi, 
Senbenarnya tidak, justru kabar Joe malah semakin tak jelas, no teleponnya tak aktif, BBM pun juga sudah tak aktif sejak kemarin, dan beberapa aplikasi lainnya pun tak ada yang bisa membuatku bisa mendapat kabarnya. Aku seperti tersingkir dari dunia barunya disana, dan aku mulai tidak lagi mempedulikan itu.
" Tidak." jawabku singkat.
" Lalu kenapa menjauhiku?"
" Itu perasaanmu saja,"
Han tergelak lagi
please... Han, pintaku membathin.
" Lalu bagaimana sebenarnya perasaanmu kalo ini hanya perasaanku saja?!"
Perasaanku? Aku tak tau bagaimana perasaanku, terlalu membingungkan jika mengeja satu persatu perasaan yang berkecamuk ini. Yang pasti aku tetap bertekad tak lagi berfikir aku seperti cinderela, terlalu naif!
Mungkin aku bisa saja berfikir lanjutan kejadian ini dengan pikiran naifku. Han akan mengungkapkan perasaannya dan memintaku untuk tidak lagi menjauhinya.
Aku tertawa dlm hati, nyadar dong Jen.....!!! Sisi bathinku yang lain menghardikku
Kamu itu siapa??? Cantikkah? Tentu tidak, bahkan bisa dibilang dibawah standart. Menarikkah? Juga tidak, karena tinggi semampai pun tidak, kulit putih muluspun tidak. Pantaskah jadi cinderela???
Tiba-tiba bel masuk berdering memecah perdebatan dalam hatiku
" Sudah bel, sebaiknya..."
" Jawab dulu pertanyaanku tadi Jen,..." Geramnya mempererat genggaman tangannya pada lenganku.
Kuberanikan diri menatap mata indah itu
Aku memang harus mengakhiri ini agar tak terus-terusan membelengguku.
" Aku bukan cinderala Han, tolong.... jangan buat aku berfikiran naif, aku,.... aku sudah cukup sakit dengan Joe, ijinkan aku mengobati luka ini..."Ucapku lirih, padahal dalam hati itu begitu ingin kuteriakkan dengan sekeras-kerasnya
Mata Han meredup, genggaman tangannya mengendur, kumanfaatkan untuk melepaskan diri, lalu aku beringsut
" Dengar Jen..." Katanya tiba-tiba, langkahku terhenti tapi aku tak menoleh,
" Semua wanita berhak jadi cinderala, itu tergantung kemauan dan keberanian hatinya" lanjutnya 
Aku mendesah.
Harusnya ini tak perlu terjadi, 
Ya Tuhan...aku benar-benar capek dengan semua ini!




RDB. 08/08/2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar