Sabtu, 02 Agustus 2014

Cinta ini (tak kan) membunuhku

Pyaaaaaaaaaaaaarrrrrr.............!!!
Gelas ditanganku terlepas, terberai, berantakan seperti hatiku saat mndengar amarah Pay, pujaan hatiku yang telah 3 tahun lebih kucintai dan kuhormati cintanya. Mata yang biasanya redup menenangkan itu kini berubah memerah, penuh amarah dan kekesalan
" Apa Pay?? Putus???!" desisku hampir tak terdengar, entah kemana perginya suaraku, mungkin tersangkut dikerongkongan, mungkin juga terlalap ketakutanku.
" Ya, kalo kau masih nekat memilih ikut latihan teater itu terus, lebih baik kita putus saja"
" Tapi kenapa? apa salah kalo aku ikut latihan teater di situ?"
"  Ya salah lah, karena perkumpulan itu kebanyakan beranggotakan laki-laki."
" Aku disitu mau latihan teater Pay...." desisku meyakinkan
Pay malah tersenyum sinis
Duh Gusti..... kenapa orang yang sangat kusayangi ini tak pernah mempercayaiku sedikitpun? Apa aku terlihat seperti tukang selingkuh?
Dan Pay tetap pada pendiriannya, membuatku bagai buah simalakama. Disatu sisi aku ingin membuktikan kesetiaanku pada belahan jiwaku itu, tapi disisi lain tuntutan jiwaku meraung-raung minta digapai.
Adalah impianku sejak kecil ingin menggeluti dunia teater, sampai-sampai aku rela jauh dari orang tuaku dan menjalani hidup di kota besar ini, kuliah sambil kerja part time di toko kue. Adalah sebuah dream come true bisa ikut bergabung di kelompok teater itu, dan sebuah kebanggaan tersendiri bisa tiap akhir pekan ikut latihan disitu. Dan sikap Pay yang melarangku ini benar-benar sebuah dinding penghalang yang kuat. Kenapa? Padahal Pay juga dulunya anggota teater, bahkan dulu dia yang mengenalkanku pada dunia teater, membuatku tergila-gila, selain juga tergila-gila dirinya.
Aku harus memilih!! Tekadku dalam hati
Bruaaakakkkk....!! Aku tersentak, kutatap pintu kontrakanku yang baru saja tertutup paksa, masih sempat sekilas kulihat sosok Pay sebelum hilang di balik pintu itu.
Aku mendesah berat,
Maafkan aku sayang.


***



" Kenapa?!" tanya Arga, teman kuliahku, yang mengenalkan aku pada kelompok teater ini. Alisnya terangkat sedikit menatapku, mungkin masih tak percaya saat aku cerita kalo pacarku Pay mengancam akan memutusku kalo aku masih ikut latihan teater disini.
Arga cukup mengenal Pay, mereka pernah tergabung dalam satu grup pentas saat SMA dulu, tapi setelah Pay bekerja, Pay jadi tidak bisa aktif di teater, perlahan tapi pasti dunia teater terlindas oleh dunia baru Pay. Tapi Arga malah menjadikan teater sebagai masa depannya, dan makin mendalami dunia itu.
" Dia cemburu" jawabku lirih, lagi menunduk.
Arga tergelak,
" Apa aku terlihat seperti tukang selingkuh Ga?" tanyaku menatap Arga, berharap ada jawaban yang bisa meyakinkanku kalo sangkaan Pay tak benar.
Arga malah tertawa lepas, sampai memegangi perutnya, aku berubah cemberut.
" Kalo kamu tukang selingkuh jangan lupa selingkuh sama aku juga ya..." ledeknya disela tawa
" Arga...!!!" geramku, dan tawa Arga makin menggelegar memenuhi ruang pentas yang masih sepi itu.
Apa iya aku harus melepaskan Pay, yang sudah 3 tahun lebih mendiami hatiku? Sungguh sangat sayang sekali, begitu banyak cerita manis dan pahit yang tercipta antara kami, sangat tidak adil jika harus kukorbankan demi cita-citaku.
Tapi..... apa iya juga aku harus mengubur impianku ini? Demi berdiri disini aku sampai rela bertengkar dengan ibu dan pergi dari rumah tanpa restu ibu.
" Mau jadi apa kamu? Pemain teater? apa itu Jess??!" desis ibu malam itu saat kuutarakan aku ingin melanjutkan kuliah seni teater.
" Aku menyukainya Bu,"
" Itu bukan masa depan Jess, yang ibu tau pemain teater itu miskin-miskin, tak ada yang bisa jadi kaya dengan berprofesi jadi pemain teater."
" Bukan uang yang kuutamakan Bu, ini soal panggilan jiwa"
Wanita setengah baya yang tetap cantik dan anggun itu tergelak, tapi aku tau beliau marah
" Ibu menyekolahkanmu untuk masa depan yang lebih baik Jess, bukan untuk sesuatu yang lucu yang kau namai 'panggilan jiwa' itu nak,"
" Buuu..." rajukku
" Tidak, ibu tidak setuju kau ambil jurusan itu. Jurusan apa itu, jurusan kok seni teater. Yang menguntungkan dan menjanjikan masa depan gemilang kan banyak, manajemen, akuntansi, kedokteran, atau hukum lah kalo tidak,"
" Aku mencintai seni bu.."
" Tidak, sekali ibu bilang tidak ya tidak, kalo kau masih nekat ambil jurusan itu, ibu tidak mau menanggung biaya kuliahmu. Lebih baik uang ibu simpan untuk biaya kuliah adikmu nanti" tegas ibu malam itu, dan alhasil aku harus putar otak untuk meraih mimpi itu. Dan sejak malam itu pun aku bertekad akan membuktikan pada ibu bahwa dunia teater tidak miskin, dunia teater juga bisa menghasilkan uang meski tak sebanyak yang lain.
" Oh, hai Jess...kok kamu sudah ada disini?!" tanya kak Gun, yang baru datang, kutangkap pertanyaannya benar- benar seperti orang bingung.
Aku ikut bingung.
" Tidak, aku kira kamu sama pacarmu tadi, di seberang jalan tadi." 
Tak sadar aku tergelak.
Baru 2 hari yang lalu dia mengancam putus dan mencurigaiku akan berselingkuh jika terus ikut latihan teater disini, dan hari ini dia sudah bersama wanita lain?
Terimakasih Tuhan, telah Kau tunjukkan sifat aslinya sebelum semua berjalan lebih jauh. Meski ini cukup menyakitkan, tapi ini lebih melegakan bagiku. Dan yang pasti aku tidak perlu menyesali hidupku dikemudian hari. 
" Kau tak apa-apa Jess?!" tanya Arga sedikit cemas,
Aku tersenyum lebar,
" Aku tak pernah sebaik ini Ga," kataku yakin, lalu bangkit dengan sebentuk semangat yang hebat.
" Ayo mulai latihan!" ajakku menepuk pundak Arga dan mendahului naik ke panggung
Maafkan aku cinta, aku mungkin memang mencintaimu, membutuhkanmu, dan punya impian bersamamu. Tapi sayang, cita-citaku ini lebih berarti. Karena cita-citaku tak pernah mencemburuiku, tak pernah mengekangku saat aku ingin mengepakkna sayapku mengarungi cakrawala yang indah, dan yang pasti cita-citaku tak pernah mengkhianatiku begini.
Sekali lagi maafkan aku cinta, kau tak bisa membunuhku, karena didalam cita-citaku banyak semangat yang mendukungku dan menjagaku agar tetap hidup




Teruntuk yang selalu optimis
mengikuti panggilan jiwa di monas
         -jienshoo            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar