Sudah hampir sejam aku menunggu disini, berharap gadis itu menyudahi 'semedi'nya dan mengetahui ada aku disini yang memperhatikannya. Tapi, entah untuk keberapa kalinya sepertinya harapan itu harus kubuang jauh-jauh. Karena gadis itu masih tetap setia menemani keheningan laut.
Kuhela nafas berat dan memutuskan untuk menyudahi ini, tapi saat aku membalikkan badan hampir saja aku memekik menemukan sosok Leo sudah menjulang dihadapanku dengan tatapan lekat.
" Sejak kapan kau disini?"
" Yang pasti tak selama yang kau lakukan." Jawab Leo sedikit ketus
Aku tersenyum dan melangkah
" Kau mau kemana?" Tanyanya kemudian
" Ya pulanglah, sudah sore." Jawabku enteng seraya menaiki motorku dan memakai helm
" Lalu bagaimana dengan dia?" Lanjut Leo menunjuk ke arah tepi pantai
Tak jadi kustater motorku, aku termanggu.
" Kenapa kau seperti menjauhinya? Baru bulan lalu kau begitu semangat bilang padaku kalau kau ingin membantu dia mengobati luka hatinya peninggalan si brengsek Jason. Kau lupa itu?"
Aku menunduk mendengarkan hujatan dari Leo. Pantas kalau Leo mengatakan itu semua. Aku memang pernah berjanji pada Leo akan menemani Ellen, membantu menyembuhkan luka hati hadiah dari pacarnya yang meninggalkannya karena gadis lain.
" Mungkin kau cuma simpati saja, jangan sembrono.." Ucap Leo sore itu saat aku menceritakan niatku akan pindah kontrakan agar lebih dekat dengan Ellen.
" Tidak Le, aku memang mencintainya"
Leo mengernyitkan dahinya, mungkin karena tak percaya
" Sejak dulu." Lanjutku membuat Leo tergelak,
" Kau bercanda?"
" Tidak, aku serius. Aku memang mencintai Ellen sejak pertama kali Jason memperkenalkan Ellen pada kita"
" 3 tahun lalu?" Perjelas Leo mengingatkan tepatnya kejadian itu. Hari dimana aku pertama kalinya melihat sosok sederhana dengan tatapan yang lembut dan tawa yang polos milik Ellen.
Aku mengangguk.
" Gila, jadi selama ini kau diam-diam mencintai pacar orang?"
Aku tersenyum lagi seraya mencoba menyembunyikan pias pipiku.
" Jangan-jangan rasamu itu memang cuma simpati, bukan cinta." Tebak Leo menyeretku kembali ke alam sadar. Kata-kata itu seperti sebuah tuduhan.
" Aku...."
" Berarti benar?!" Leo ingin kepastian
" Tidak Le, aku cuma..."
" Cuma apa? Dia hampir setiap hari ada disitu, dan kau cuma disini. Keajaiban apa yang kau tunggu? Hah?!"
" Dia masih berharap Jason kembali."
" Lalu apa masalahnya? Jason sudah entah kemana bersama gadis lain."
Kutatap Ellen lagi. Begitu setianya gadis itu disitu. Apa yang ditunggunya? Keajaibankah seperti yang dibilang Leo tadi?
" Kalau menurutku kalian berdua itu seperti dua orang yang bodoh!"
Bodoh?! Leo yang sejak SD sampai kuliah kalau ada tugas selalu minta bantuan aku, sekarang bilang aku ini bodoh? Dan sangat aneh kalau Ellen disebut bodoh, dia gadis yang cemerlang, hanya dalam kehidupan cintanya saja dia menyedihkan.
" Aku bisa lihat binar mata Ellen saat bersamamu, dia juga bahagia kalau kau disampingnya"
" Tapi tempat ini adalah kenangannya bersama Jason, aku..."
" Jason lagi....Bulshitt dengan Jason! Cinta itu simple, kau bahagia bersamanya, kau bisa membahagiakannya, sudah, selebihnya jalani saja!"
Aku tercengang mendengar penuturan Leo, anak ini seumur-umur tak pernah menterjemaahkan yang namanya cinta, tapi kenapa kata-katanya tadi sangat masuk diakal?
" Kalau kau mencintanya, kau merasa bisa membahagiakannya, datangi dia, katakan itu padanya. Soal dia menerima atau tidak itu resiko. Jangan terlalu berharap keajaiban, keajaiban tak akan muncul tanpa usaha apapun. Kau pikir kau bisa merasakan ombak kalau kau tak mendekati pantai?"
Aku terngungu. Semua yang dikatakan Leo tak satupun salah. Ternyata aku memang bodoh!
Aku tersenyum menatap Leo,
" Thanks guys, baru kali ini aku kalah darimu"
Leo terbahak, Kulepas helmku dan berlari kearah tepi pantai, ketempat dimana Ellen masih setia menunggu. Dan kali ini aku tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau toh ternyata Ellen masih setia menunggu Jason, paling tidak aku sudah berusaha meraih cinta itu. Karena benar yang dikatakan Leo tadi, jangan terlalu berharap keajaiban, keajaiban tak akan muncul tanpa usaha apapun.
Aku berlari penuh keyakinan menuju sebuah cinta yang penuh keajaiban itu. Langkahku terhenti tepat disamping Ellen. Menyadari kedatanganku Ellen mendongak dan menatapku.
Aku tersenyum, senyum yang memastikan bahwa aku bisa juga membahagiakan dia seperti yang pernah Jason lakukan; Senyum yang kupastikan tak kan lakukan hal serupa yang Jason lakukan saat melukai tatapan lembut itu.
" Sudah mulai petang, ayo kita pulang" Kataku mengulurkan tanganku ke arahnya.
Dan keajaiban itu akhirnya ku jemput saat senyum manis Ellen menghiasi bibirnya, perlahan tangannya pun terulur, menyambut tanganku yang selama 3 tahun lebih ini tergenggam dibalik punggung keraguan.
Ellen bangkit dari duduknya dan kusambut tubuh mungil itu dalam pelukanku.
Sekali lagi Leo benar, cinta itu simple, kau bahagia bersamanya , kau bisa membahagiakannya, sudah, selebihnya jalani saja.
Randublatung, 16/08/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar