Kamis, 01 Desember 2016

Chagiya... [Turn Back]





..................
The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geulkka
Hagopeun mal, nohchyeobeolin mal
Gobaeghal tejiman jom eosaeghajiman
Geunyang deul-eoyo i'll sing for you, sing for you...

(Sing For You, EXO)






Aku terpaku di depan pintu, tanganku masih mengambang di udara, tak jadi menyentuh papan tombol memasukkan digit-digit password yang meski sudah kucoba lupakan, tetap melekat di otakku.

Aku sedikit berjingkat. Seperti baru tersadar akan sebuah hipnotis kuat yang beberapa lama mengukungku. Aku bahkan tak sadar sejak kapan ada di sini lagi. Di tempat penuh aroma Gendhis yang seharusnya kulupakan. Seingatku terakhir kali aku ada di tempat syuting, menyelesaikan beberapa scene sebagai sang psikopat Lee Jong Young.

Lalu, kenapa aku ada disini? Naik apa aku kesini? Apa ada yang tau aku akan kesini? Apa di bawah tadi ada yang melihatku aku kesini?
Aku tergelak dengan kelinglunganku. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja tersadar saat sudah berada di depan pintu apartemen ini tetap terasa menggelikan. Aku benar-benar sudah gila. Kurasa jauh lebih gila dari sosok Lee Jong Young yang kuperankan. Gila karena tergila-gila pada putra psikiaternya. Terobsesi, lebih tepatnya. Sementara aku, sudah benar-benar gila karena sudah sangat tergila-gila dengan Gendhis.

Perlahan garis bibirku menciut lagi, kembali seperti semula. Hatiku bergolak seperti ombak bergemuruh menuju pantai. Memburu tanpa ada jeda yang bisa diminta.

Awalnya aku mengira aku terlalu membekas waktu bermain di It's Okay That's Love. Hingga aku merasa aku juga mengalami skizofernia ringan. Aku sering melihat sosok Gendhis. Begitu nyata dan begitu hidup. Dan jika aku sampai berani membuka pintu di hadapanku ini, maka akan kurasakan aroma Gendhis 'bak badai topan menerjangku. Serasa menjadi Edward 'Twilight' kala merasakan aroma tubuh Bella; membuat ketagihan padahal sebenarnya menyiksa jiwa dan raga. Semua menyeruak mencoba mencabik-cabik kesadaranku dan menyeretku dalam dunia imajinasi yang tak pernah mampu kuelak.
 
Aku nyaris meluruh di depan pintu andai aku tak segera sadar diri kalo aku saat ini tetap sebagai public figur. Untuk tersungkur jatuh paling tidak aku harus menekan beberapa digit password dan masuk ke dalam. Seperti biasanya.

Ya, seperti biasanya. Yang sudah-sudah. Selama setahun terakhir ini.
Setiap tiba di apartemen yang bahkan tak pernah kugeser sedikitpun barang-barangnya agar tetap seperti saat ditinggal Gendhis dulu, atau bahkan tak pernah kuganti password pintu masuknya, aku memang lebih banyak hanya meluruh dibalik pintu masuk. Menerawang menatap seantereo ruangan sambil menikmati kepedihan yang menelusup seraya membiarkan halusinasi sosok Gendhis berlalu lalang di depan mataku.

Aku hampir selalu bertanya pada In Sung hyung saat diajaknya keluar minum. Tentang skizofernia. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku tahan. Aku tak mau aku benar-benar dianggap gila.
Dan pada akhirnya semua hanya mengendap disini.

Kurenggangkan dulu jari-jari tangan kananku. Serasa mau adu panco dengan taruhan kesempatan hidup dan mati rasanya, tiap kali memencet tombol-tombol disisi pintu itu.

1-2-3-4-5-6 digit tombol sudah aku tekan. 101793. Bulan, tanggal, dan tahun kelahiran Gendhis.
Ah, Gendhis lagi.
Sepertinya keluar nanti aku memang harus mengganti password pintu masuk itu. HARUS!

Kutarik handle pintu dihadapanku. Tubuhku sedikit kuseret melewati pintu yang kubuka tak lebih dari 10 centi itu. Aroma Gendhis langsung menyeruak indra penciumanku.

Aneh, biasanya tak sekuat ini. Pikirku.

Mataku sedikit memicing dengan alis tebalku yang bertaut menyatu.
Didepan sepatu Converse yang kupakai, hanya berjarak tak lebih dari lima centi, ada sepatu boots dengan ujung atas berhias bulu-bulu lembut. Sudah memasuki musim dingin jadi wajar style sepatu seperti ini muncul lagi.

Tapi tunggu, sepatu siapa ini? Bagaimana dia bisa masuk? Mau apa dia masuk kesini?
Belum selesai rasa penasaranku, aku seperti tersengat aliran listrik beberapa ratus amphere,.
Di depan itu...

"Oh, annyeong, Oppa, sudah datang?" sapanya melepas celemek sambil berjalan dengan senyum menuju ke arahku.

Demi langit dan bumi, kenapa halusinasi itu terlihat sangat nyata?
Lihat Omma, kali ini dia begitu nyata.  Dan aroma tubuhnya makin kuat.
Oh... tidak, benarkah aku mulai terserang skizofernia????

Darahku membeku. Benar-benar sosok didepanku seperti nyata. Inikah yang dirasakan Jang Jae Yeol ketika menghadapi sosok Han Kangwoo selama 3 tahun? Sungguh suatu penyiksaan yang nyata. Dan senyumnya itu...

"Kau tampak kurusan, Oppa..." katanya meyisakan semburat sendu pada wajahnya.

Kali ini halusinasi sosok Gendhis sedikit berbeda. Wajahnya sedikit lebih bermake-up. Rambutnya tergerai sebahu, begitu lembut seperti baru saja tadi pagi selesai creambath. Pipi gembilnya, oh... aku rindu sekali pipi itu.

"Oppa..." Suara Gendhis kali ini seperti semacam usaha penyadaran diri.
Menyadarkanku kah? Dari apa? Bukankah ini semua hanya halusinasi yang jauh lebih indah kalo tetap dibiarkan?

"Neo-reul geuriwo, chagiya..."

Gendhis tersenyum getir, tangan kananya terulur hendak menyentuh wajahku. Spontan aku mundur dan langsung saja tubuhku menghantam daun pintu. Dan pyaarrr.....

Aku seperti tersadar. Benar-benar tersadar bahwa ini semua...

"Maldo andwae... " Aku menggeleng pelan.

"Oppa, mianhae... " pintanya memelas dengan pandangan tertunduk.

Aku masih perlu kesadaran lagi agar bisa mempercayai yang sedang berlangsung ini.
Benarkah ini bukan mimpi? Benarkah ini tak hanya halusinasi seperti yang kusangka? Dia Gendhis? Benar-benar Gendhis?

Dan semua pertanyaan yang menjejali otakku seketika terjawab saat sosok dihadapanku itu berhambur memelukku. Yah, memelukku. Aku benar-benar bisa merasakan aroma tubuhnya melilitku. Aku benar-benar bisa merasakan hangat temperatur tubuhnya menyusupi pori-pori kulitku.

Untuk sekitar 3 detik aku terpaku. Sungguh, aku benar-benar butuh lebih banyak waktu untuk menerima semua ini.

"Bogoshipo, Oppa." akunya mengeratkan pelukannya yang bahkan belum aku balas.

Kuhela nafas, serasa baru saja mendapatkan lagi udara setelah sekian lama terjebak dalam ruangan kedap udara. Kedua tanganku pun merengkuh tubuh Gendhis. Memeluknya seerat mungkin, bahkan bisa saja meremukkan tulang-tulangnya.

"Gomawo, chagiya, gomawo, karena telah kembali."

Gendhis melepas pelukannya, dan mau tak mau aku juga harus melepas lilitan tanganku pada tubuhnya. Matanya sedikit sembab oleh air mata yang masih tersisa di pipi tapi tangannya malah terulur menyentuh kedua pipiku. Senyum tipis membuat pipi gembilnya terangkat. Momen dari semua kharisma darinya yang selalu kurindukan.

"Mianhae, Oppa,"

"Jangan minta maaf lagi, kau kembali sudah cukup untukku." sergahku mulai tak suka dengan kalimat apologinya.

Tapi, kenapa Gendhis bisa ada disini? Kenapa dia bisa kembali lagi kesini? Tak mungkin kan dia pinjam pintu ajaibnya Doraemon? Ah, sudahlah, semua itu bisa aku tanyakan nanti.

"Oppa, sekarang aku bisa memenuhi keinginan terbesarmu." katanya dengan wajah yang sudah berubah ceria. Gendhis memang jagonya mengubah 'paksa' aura wajahnya.

"Kau mau pindah kewarganegaraan?" Hanya itu yang terlintas di otakku saat itu.

"Aiishh, bukaann... " Wajahnya kini cemberut, membuat pipi gembilnya makin menggemaskan.

Mau tak mau aku tertawa. Benar-benar tertawa ungkapan bahagia. Hal yang nyaris tak pernah tercipta di bibirku selama setahun belakangan ini. Kulingkarkan kedua tanganku pada pinggang rampingnya yang terbalut baju berbahan rajut lembut.

"Masih mau mengajakku keluar jalan-jalan?" tanyanya.

Aku termangu detik itu juga.
Aaahh... impian itu... ternyata Gendhis juga memperhatikan impian sederhana tapi mustahil itu. Dulu. Tapi jika sekarang dia 'menantang' berarti bukan hal mustahil lagi.

Aku tersenyum dan langsung disambutnya dengan senyum pula.

"Tapi sebelum itu, ayo kita makan dulu. Aku buatkan spagetti tadi, Oppa masih suka spagetti kan?" Gendhis beringsut memaksa melepaskan diri dari lilitan tanganku dan menggandengku masuk.

Sedikit tergesa aku mengikuti langkahnya, bahkan aku tak sempat memakai alas kaki. Tapi siapa yang peduli?

"Tentu saja masih,"
Dan tentunya, aku masih mencintaimu, chagiya...

 
END




BYL, 02 Des' 2016



Satu kalimat, Maaf kalo endingnya rada garing. Kurang bisa greget kalo buat happy ending. Kapan-kapan direvisi lagi deh kalo ada waktu.  Hehehe









1 komentar: