Lamunan panjangku langsung terbuyar saat sebuah mobil Ford warna gelap berhenti tepat di tepi jalan, berjarak tak lebih 3 meter dari tempatku duduk terpekur di anak tangga ini sejak petang tadi. Mungkin sudah 4 atau malah hampir 5 jam lamanya. Kakiku meski terbungkus kaos kaki dan sepatu kets kain rasanya sudah sekitar sejam lalu terserang kebekuan. Jari-jari tanganku malah sudah kesemutan atau mungkin kedinginan sampai mati rasa.
Anak tangga pintu masuk tempatku duduk memang sedikit terlindung cahaya, hingga tak begitu mencolok terlihat dari tepi jalan yang memang mulai sepi.
Seseorang keluar dari mobil itu. Sebuah kaki jenjang berbalut sepatu Converse semi kulit terlihat menapak tanah. Terdengar terjadi sedikit perbincangan. Pengemudi mobil sepertinya enggan melepasnya pulang. Lalu disusul tawa lirih dan beberapa kalimat menenangkan. Kuperhatikan semua itu dengan cukup jelas. Sekaligus cukup menyakitkan.
Akhirnya setelah beberapa menit mobil itu akhirnya merayap pergi juga. Masih sempat terdengar ucapan selamat tinggal sekaligus lambaian tangan darinya. Dia, yang kutunggu kepulangannya sejak petang tadi; Dyllan.
Dyllan. Aku mengenal cowok super metroseksual itu dalam acara ulang tahun pertama anaknya Nita & Hasan, temanku SMU. Dia yang macho dan seperti cowok metroseksual kebanyakan, dia sangat memperhatikan penampilannya. Sebenarnya bukan itu yang membuatku kemudian mencoba dekat dengannya. Ini soal curhat Nita dulu. Sudah lebih mirip konsultasi malahan.
"Dia... " Cerita Nita terpenggal begitu saja, seperti takut campur malu, ragu campur tak kuat memendam.
Lalu jemari Nita merengkuh kelima jemariku.
"Kris, kamu kan dokter, pasti tau caranya nyembuhin dia. Kasihan emaknya, dijodohin malah marah-marah. Tapi kalo disuruh nyari sendiri, ngenalinnya malah... "Lalu desahan panjang menyertai ucapan Nita yang belum selesai itu.
Dyllan.
Awalnya niatku memang hanya ingin mengembalikannya agar menjadi normal lagi, sekalian untuk 'bahan' penelitian tesis untuk kuajukan pada Profesor Angga. Tapi seiring bersamanya, aku... jatuh cinta!
Oke, awalnya aku anggapitu hanya reaksi Countertransference. Keadaan dimana aku terjebak dalam rasa simpati yang berlebihan, yang 'diharamkan' oleh para terapis kepada pasiennya karena sangat mempengaruhi pandangan obyektif terapis. Tapi...
"Kinan?"
Aku spontan mendongak memburai sisa lamuananku saat panggilan itu terdengar. Seraut wajah tampan dengan alis tebal dan derai rambut lembut sedikit gondrong itu menatapku tak percaya. Aku tersenyum tipis.
"Ngapain disini?"
Aku sedikit terluka mendengar pertanyaannya kali ini. Begitu angkuh dan seakan tak peduli berapa lama aku duduk di anak tangga pintu masuk rumahnya. Tapi... kalo dilihat dari apa yang kuperbuat dan telah diketahuinya seminggu lalu itu, kurasa wajar saja sikapnya begitu culas padaku.
"Jadi dimatamu selama ini aku hanya sebatas kelinci percobaan?" desisnya kala itu, disore hari menjelang senja. Setelan kemeja biru tua bergaris vertikal disisi depan melingkari bagian kancing membuatnya tetap fresh meski aku yakin baru pulang kerja. Bagian lengannya yang tergulung sesiku membuatnya makin maskulin.
"Apa?" tanyaku tak mengerti.
Tiba-tiba Dyllan datang ke Panti rehabilitasi dengan pertanyaan yang seperti lebih menuntut penegasan, bukan sekedar jawaban yang berunsur penyangkalan. Wajahnya pun jauh dari aura rindu setelah dua hari tak bertemu karena Dyllan tugas keluar kota.
Dyllan tergelak angkuh, "Jangan berlagak bodoh di depanku, Nan, aku tau kamu ngerti yang aku maksud. Aku hanya bahan hipotesis-mu kan? Hanya kelinci percobaanmu kan? Apa dimata kalian orang-orang sepertiku ini gila, tak normal, hah?" geramnya dengan urat leher yang menegang.
Intinya, Dyllan benar-benar dalam kondisi marah hebat.
Oke, aku gak bisa pura-pura gak mudeng dengan keadaan ini. Dia tahu selama ini aku mendekatinya untuk tesisku tentang perilaku menyimpang. Kebetulan saat ini masalah semacam ini sedang jadi trending topic karena kasus kematian seorang wanita ditangan sahabatnya sendiri beberapa bulan lalu itu.
"Pulanglah, ini sudah larut. " Dyllan setengah acuh mengucapkan kalimat yang lebih ke arah 'pengusiran' secara halus itu.
Aku mendesah berat. Sosok yang dua bulan terakhir ini begitu akrab di hari-hariku itu melangkah menaiki anak tangga empat tingkat dengan langkah ringan.
"Lan,... " desisku menyambar lengannya, "Maaf!" lanjutku mempererat cengkeraman kelima jemariku di lengannya, berharap dia bisa merasakan tanganku sedingin air es.
Dyllan malah tergelak.
Sungguh, terlepas dari analisa yang dibebankan padaku oleh Professor Angga, aku... tak pernah menganggap Dyllan tak normal apalagi gila. Aku punya keyakinan penuh dia pasti bisa sembuh dan kembali seperti orang lain. Hanya saja, pekerjaan tetap pekerjaan meski disisi lain terselip perasaan yang sebenarnya.
Aku benar-benar jatuh cinta dengan Dyllan. Tentunya tanpa peduli situasi dan kondisi yang ada.
"Ada hal-hal yang tidak bisa selesai hanya dengan maaf, Nan,"
"Aku tau kamu marah sekali padaku," Aku mencoba bangkit dengan kedua kaki yang kesemutan dan mati rasa. Untung tanganku masih erat menggenggam jemari Dyllan, jadi bisa kugunakan untuk pegangan saat bangkit.
"Syukurlah kamu tau kalo aku marah. Ya, aku marah, Nan! Kamu pikir aku tak punya perasaan? Aku bahkan sudah berniat untuk benar-benar meninggalkan semua itu. Tapi... " Dyllan menepis cengkeraman tanganku.
"Lan, dengar dulu semuanya." Aku mencoba meraih lagi jemarinya, tapi segera ditepis Dyllan.
"Tidak perlu!" sengitnya, dengan seulas senyum sinis, "Aku menyukai duniaku yang tak menyukai omong kosong, juga menyukai mereka yang tak pernah munafik."
Aku memejamkan mataku. Bukan hanya sedih mendengar 'kembali'nya dia ke dunia yang hampir bisa kujauhkan darinya, tapi juga karena mataku yang sedikit berkunang-kunang dan tubuhku yang terasa menggigil. Sekitarku seperti terjadi gempa berkekuatan rendah. Beberapa terasa oleng. Tapi tetap kucoba bertahan. Aku harus menyelesaikan kemarahan Dyllan. Aku sudah tak sanggup menanggung rasa bersalah ini.
"Taksi!!"
Mataku terbuka lagi saat Dyllan berteriak memanggil sebuah taksi yang lewat.
"Aku tak bisa mengantarmu karena mobilku ada di kantor, pulanglah dengan taksi itu!" katanya datar, lalu melangkah menuju taksi yang baru saja mendekat.
"Pak, antar dia ke apartemen Royal Springhill Kemayoran," Dyllan melongok ke arah kemudi taksi seraya mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Setelah itu dia berbalik dan berjalan melewatiku. Membuka pintu rumahnya dan menutupnya segera. Sedikitpun tak menoleh ke arahku.
Dan yang kurasakan duniaku semakin diguncang gempa yang makin bertambah skala richter-nya. Semakin menggigil. Detak jantungku terasa kian melemah Masih sempat kudengar sopir taksi itu memanggilku sebelum kemudian rasanya semua gelap. Pekat.
**
Mataku mengerjap. Lampu benderang langsung menyambut penglihatanku yang baru separuh sadar. Suara EGC menjadi irama khas yang bahkan tanpa mencari tau lagi, aku bisa tau dimana aku sekarang. UGD.
Kepalaku berat. Sangat berat. Kuputuskan untuk tak jadi membuka mataku lebih sempurna. Kuangkat tanganku, bermaksud mengurut keningku yang pening saat merasakan ternyata tanganku terlilit selang infus. Aku mendengus dalam hati. Yang benar saja, aku sampai diinfus? Separah itukah aku tadi? Belum lagi aku merasakan seluruh tubuhku tertutup selimut. Hangat sih, cukup manjur membuat kondisi tubuhku yang sepertinya terkena hipotermia.
"Kinan, Kinan... kamu baik-baik saja kan?" buru sebuah suara disela sentuhan lembut dua buah telapak tangan menepuk-nepuk pelan pipiku.
Mimpikah aku? Benarkah aku belum benar-benar pulih dari alam bawah sadarku? Kenapa suara Dyllan ada disini?
Aku mengerang. Berharap ilusi yang menyerangku sangat nyata itu bisa segera pergi.
"Kinan, buka matamu biar aku tau kamu baik-baik saja!"
Hangat. Itu yang kurasakan pada pipiku yang sejak tadi ditepuk-tepuk pelan oleh tangan itu. Sedetik aku menikmati itu, tapi kemudian aku sadar, ini bukan mimpi, Buru-buru aku membuka mataku. Dan, taraaaaaaaa... seraut wajah tampan Dyllan tepat ada didepan mataku. Terlalu dekat malah, hingga membuatku cukup bisa merasakan desah nafasnya yang memburu. Entah karena apa.
"Syukurlah akhirnya kamu membuka mata,"
Kutarik tanganku yang terasa kesemutan di dalam selimut.
"Aku terkena hipotermia ya?" tanyaku mencoba bangkit, tapi langsung ditahan kedua bahuku oleh Dyllan.
"Ya itu tau. Tapi sebagai dokter harusnya kamu menyadari gejalanya, kenapa malah sampai pingsan? Emang kamu nunggu aku diluar berapa jam?" desisnya menatapku seperti marah.
"Kamu kenapa bisa disini? Bukannya kamu udah masuk rumah?" tanyaku mengabaikan pertanyaannya.
Dyllan mendengus sedikit kesal.
"Iya... gimana gak buka pintu lagi, wong sopir taksinya gedor-gedor pintu terus." Kali ini suaranya seperti merajuk.
Aku tersenyum kecil.
Ternyata Dyllan tetap masih peduli padaku.
"Hei, Kinan, udaranya lagi gak bersahabat banget, harusnya sebagai dokter kamu tuh ngerti kalo gak baik lama-lama di luar rumah. Lha kamu, malah berjam-jam nunggu orang pulang kerja. Coba kalo sopir taksinya gak bener, pasti kamu bakal dibawa kabur, dijual, Mau?!"
Aku tersenyum lagi.
"Ini hari apa toh kok seorang Dyllan Susetyo jadi banyak banget ngomongnya?" godaku.
Belum sempat Dyllan melotot, seorang suster jaga mendekat dengan map.
"Anda sudah sadar? Saya cek dulu kondisinya, " Suster jaga itu buru-buru mengeluarkan tensimeter.
"Ah, gak usah Sus, saya baik-baik saja kok." tolakku,
"Kinan..." Mata Dyllan akhirnya melotot juga kearahku.
"Beneran, Dyllan, masa kamu gak percaya aku sih?"
"Gak! Gak bakal percaya kamu, buktinya kamu juga sampai terkena hipotermia gara-gara gak bisa mikir apa akibatnya terlalu lama di luar ruamh saat udara dingin."
Aku menunduk malu mendengar analisis sederhana Dyllan. Apalagi suster tadi masih disitu dan menahan senyumnya. Mungkin baru kali ini dengar ada seorang dokter dimarahi pacarnya yang justru bukan seorang dokter.
"Tapi setelah itu pulang ya, aku paling males suasana UGD," tawarku akhirnya.
Dyllan malah tergelak, "Kamu ini dokter, masa bisa ngomong gitu?" ucap Dyllan seraya mengisyaratkan suster tadi memulai pekerjaannya.
"Ya itu sebabnya aku memilih jadi psikolog, kerja di panti rehabilitas. Bukan jadi dokter apalah yag kerja di rumah sakit apalagi UGD." sanggahku membiarkan lengan kiriku dipasangi tensimeter digital. Hal yang setiap hari kulakukan pada pasien-pasienku di panti rehabilitasi, tapi ternyata masih merasa aneh saat itu dilakukan sendiri pada diriku sendiri.
"Curang!" culas Dyllan membuatku meringis, juga akhirnya menyadari sejak tadi Dyllan berpenampilan seperti apa.
Tunggu, Dyllan hanya memakai kaos singlet dan celana kerjanya tadi? Ada apa ini? Ini nggak Dyllan banget! Mana mungkin keluar rumah hanya memakai kaos singlet?
"Kamu... kenapa cuma pakai kaos dalem?" tanyaku tak mampu membendung rasa heranku.
Dyllan melirik tubuh atasnya yang hanya terbalut kaos singlet warna putih, memperlihatkan sedikit 'kemolekan' tubuhnya.
"Akhirnya kamu tanya juga soal ini," katanya seperti menggerutu.
"Kamu tau, aku baru saja mau mandi waktu sopir taksi itu gedor-gedor pintu seperti orang gila. Pas aku buka, katanya kamu pingsan. Aku panik. Aku mana ada waktu ganti baju lagi. Andai pintu rumahku kuncinya tidak otomatis pasti udah ada maling yang masuk sekarang." Nah, kalo kali ini benar-benar menggerutu.
''Oh, so sweet... "
Dyllan nyengir kuda.
Dan, aku juga sempat heran, kemana amarah yang sempat terlihat dimata Dyllan sebelum masuk ke rumah tadi itu?
Kuraih jemarinya, menggenggamnya lembut. Dyllan menatapku nyaris tanpa ekspresi. Ah, sepertinya aku tak cukup benar. Ternyata sikap Dyllan tadi hanya karena masih ada orang lain.
"Aku benar-benar minta maaf,"
Sepi, tak ada respon untuk pemintaan maafku tadi.
"Hei, apa aku perlu hipotermia sampai pingsan lagi trus dibawa kabur sopir taksi tak bertanggungjawab, baru kamu maafkan?" kataku memiringkan kepalaku 'mendesak' agar melihat wajah tampannya yang seperti menahan amarah. Padahal aku tau itu tidak benar.
"Omongan apa itu? Kalo gak bisa bercanda gak usah bercanda. Gak lucu!" Dyllan bahkan tak peduli ada senyum yang tertahan diujung bibir suster yang masih sibuk mencatat hasil pemeriksaannya pada kondisiku.
"Siapa yang bercanda, itu tadi ancaman."
Dyllan kembali membulatkan matanya sampai seperti mau meloncat keluar. Kunikmati pemandangan itu dengan seulas senyum dan genggaman tanganku lebih erat pada jemarinya.
"Tolong infusnya ditunggu sampai habis, setelah itu anda baru boleh pulang." Kini suster yang sejak tadi hanya sebagai penonton angkat bicara merusak suasana. Sekaligus menyadarkanku bahwa sejak tadi memang ada orang ke-3 diantara kami.
Kulirik ke arah kantong infus glukosa NaCl yang tergantung disebelahku. Masih tersisa seperempat isinya. Jadi mungkin masih sekitar sejam aku tertahan disini.
Yang benar saja, sejam tiduran di ranjang UGD? Mimpi apa aku kemarin?
Kemudian mataku tertuju pada Dyllan yang sepertinya sibuk sendiri dengan keadaan disekitarku. Sudah seperti dokter coas yang sok sibuk dan sok tau apa-apa yang sedang terjadi. Aku tersenyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Aku malah melebarkan senyumku, dengan pandangan yang kubuat sedikit nakal. Dan Dyllan seperti tau tujuan pandangan mataku.
"Hei, pasien UGD, pandanganmu tidak sopan!" hardiknya melipat kedua tangannya menutupi tubuh bagian depannya
"Ada pemandangan bagus di depan mata, mubazir dilewatkan. Apalagi kalo sampai dihabiskan yang lain." timpalku asal.
Tapi sepertinya Dyllan sedang tak mau menanggapi candaanku dan malah seperti sibuk dengan ponselnya. Mengecek pesan masuk mungkin.
''Lan... "
"Hmm..." Dyllan tetap tak berganti aktivitas.
Aku mendesah.
Mungkin Dyllan memang belum sepenuhnya memaafkanku. Aku maklum, karena aku tau kadang ada beberapa luka yang tak bisa sembuh hanya dengan 1 kata 'maaf' saja.
Ini konsekuensi yang harus kuterima.
"Aku akan batalkan tesisku."
Dan akhirnya ada hal yang bisa membuatnya meninggalkan perhatiannya pada layar ponsel itu. Dyllan menatapku dengan ekspresi yang campur aduk.
"Sepertinya kerja di panti rehabilitasi menarik juga daripada mendirikan klinik konseling."
Sempurna.
Kini perhatian Dyllan sepenuhnya tertuju padaku.
"Apa maksudmu?"
"Aku lebih menginginkanmu daripada SK klinik konseling itu," akuku berharap Dyllan benar-benar mempercayai.
"Aku benar-benar mencintaimu, Lan, jadi maafkanlah aku."
Dyllan mendesah berat dengan bibir yang seperti dipaksanya melebar.
Dyllan belum memaafkanku.
"Aku urus administrasi dulu, jadi nanti kita bisa langsung pulang kalo infusnya habis," katanya kemudian dan beringsut pergi dengan gejolak rasa dalam dirinya.
Antara memaafkanku, atau membiarkan ini berjalan lebih dulu.
Kuantar kepergian sosok terseksi di UGD saat ini menuju pintu keluar ruang UGD. Mataku memburam. Ternyata mengobati luka diri sendiri itu tak semudah menangani para pasien RSJ yang mengamuk.
Aku mendesah pasrah.
byl, 11 des' 2016
win@rinda
Biar rada berkurang tumpukan draft-nya,
Iseng-iseng aja nulis ini. Gak jelas mau cerita apa, sekedar ngikuti kemauan otak, hehehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar