Sabtu, 03 Desember 2016
Unsimple Love
Gerakan tanganku menyapukan kuas cat air ke atas permukaan kertas di hadapanku langsung terhenti saat suara pintu terbuka.
Itu pasti Cinta. Bathinku menebak, dengan seulas senyum di ujung bibir.
18 tahun sudah berlalu sejak pertemuan pertama kali dengan sosok bernama Cinta itu. Sosok yang awalnya begitu mengkerut tiap kali menemukan tatapan dinginku, hingga sampai insiden dia jatuh berguling dari atas tangga lantai 2, kini sudah menjelma menajdi sosok yang begitu aku sayangi. Juga kagumi.
Gadis kecil yang dulu cengeng dan penakut itu kini telah menjelma menjadi pengacara hebat dan sukses. Bakat 'silat lidah' Papa di pengadilan justru malah mengalir di darahnya. Sungguh lucu memang. Saat anak-anak kandung Papa malah menekuni profesi yang jauh dari bakat asli sang induk, orang yang tak punya setetes pun darah Papa malah yang mewarisinya.
Aku menoleh mengikuti sosok bertubuh semampai dengan balutan outfit kerja celana panjang khaky dengan atasan kemeja peach berhias renda bagian depan ditutupi blazer warna senada. Terlihat begitu... Perfect!
Tapi...
Kuperhatikan lebih detail air mukanya yang sempat terlihat sebelum dia mendekati kulkas, membukanya lalu mengambil teko kaca kecil berisi jus jeruk yang dibuatnya tadi pagi.
Masam. Lebih masam dari dua minggu lalu, saat pulang dari sidang dan kliennya sudah lebih dulu diintimidasi hingga akhirnya membuatnya kalah dan harus meneerima keputusan pengadilan yang sudah pasti merugikan sekali kliennya.
Ada apa dia? Apa yang terjadi?
Kuletakkan kuas ditanganku ke sisi jejeran cat air tak jauh dari tempatku duduk. Lalu aku bangkit dan mendekatinya yang sudah duduk terpekur menekuk lututnya di sofa besar yang biasa dipakainya untuk menungguiku melukis sembari dia bermain dengan ipad-nya. Tapi kini dia tercenung dengan gelas dalam dekapannya.
Kutarik sebuah kursi dan menempatkannya tepat dihadapan Cinta. Masih tak ada reaksi. Seakan-akan saat ini jiwa Cinta bukan berada di raganya. Tapi kucoba untuk menunggunya bereaksi, seperti kalo dia sabar menungguiku melukis. Tapi sampai menit berlalu, tak ada yang berubah. Aku mendesah.
"So?" Kataku akhirnya, berhasil membuatnya menyadari bahwa sejak tadi ada aku dihadapannya. Matanya mendongak sedikit.
"Ya udahlah kalo gak mau cerita," Aku siap-siap bangkit.
"Kak... " sergahnya memburu lenganku.
Kusergap wajahnya, dan aku sempat terhenyak mendapati kedua matanya memerah, menahan tangis. Sebegitu beratkah masalah kali ini? Bukankah 3 tahun berkecimpung dalam dunia hukum yang penuh intrik seharusnya sudah bisa membuatnya terbiasa? Masalah seperti apa yang bisa membuatnya sampai seperti ini?
"Ada apa?" Kini aku memilih berjongkok tepat dihadapannya, menggengam erat jemarinya yang dingin. Entah karena reaksi kimia tubuhnya akan masalahnya yang mungkin sangat berat, atau mungkin hanya karena baru saja memegang gelas berisi jus jeruk dingin.
Cinta mendesah panjang, lagi berat.
"Kak, apa aku salah melarang Rizsaya pacaran dengan Arthur?" tanyanya sedikit terbata-bata.
Alisku mengkerut.
Arthur? Siapa itu Arthur?
Bukan salah Cinta atau malah Rizsaya aku tak mengenal nama yang sepertinya sudah akrab bagi Cinta. Sebagai kakak laki-laki untuk dua adiknya yang ditugasi menjaga selama mereka jauh dari sarang induk, aku memang tak begitu bertanggungjawab. Oke, memang lebih spesifiknya kalo soal Rizsaya. Aku memang tak begitu tahu detail soal Rizsaya. Tidak seperti kalo dengan Cinta. Apa aku pilih kasih? Mungkin iya, sedikit. Tapi mau bagaimana lagi? Meski hubunganku dengan Rizsaya harusnya jauh lebih erat karena ada satu aliran darah kami yang masih sama, tapi tetap saja aku lebih punya chemistry dengan Cinta.
Rizsaya, dia adik tiriku yang baru beberapa bulan lalu kuliah di Cyber Security Computer di Binus. Buah perkawinan Papaku dan ibunya Cinta 18 tahun lalu. Dia yang menyatukan kami, aku-Cinta-juga Kak Abimanyu menjadi saudara. Dia gadis yang cantik, cerdas, tapi kegemarannya pada komputer sejak kecil membuatnya sedikit introvet. Ibu bilang Rizsaya memang cocok menjadi adikku yang notabene memang terkenal malas bicara. Dia hanya dekat dengan Cinta. Mungkin karena sama-sama perempuan, atau memang tak ingin dekat dengan aku apalagi kak Abimanyu karena perbedaan umur kami yang terlalu jauh.
"Apa Arthur itu tidak baik?"
Cinta menggeleng pelan. "Bukan begitu,"
"Apa... "
"Dia anaknya ayahku," selanya sebelum aku mampu menyelesaikan dugaan keduaku.
Dan aku langsung bungkam.
Dalam diam aku mencoba menelaah ucapan Cinta tadi.
Apa itu artinya Arthur yang dimaksudnya tadi adalah adik tirinya? Sama seperti dia dengan Rizsaya? Sama seperti aku-dan juga Kak Abim- dengan Rizsaya? Apa penjabaranku ini membingungkan? Kuharap tak lebih membingungkan pikiran kami yang selama ini terjebak dalam situasi ini. Dari 4 bersaudara di keluarga Hadi Prawiro, hanya aku dan kak Abim yang silsilahnya tidak rumit. Kak Abim, aku, Cinta, dan Rizsaya jika diibaratkan tali maka seperti tali yang melilit tumpang tindih satu sama lain. Dan jika kemudian dalam jalur Cinta ditambahi dengan Arthur, anak dari ayah kandung Cinta dengan wanita lain, lalu apa tidak akan bertambah semrawut? Apalagi jika kemudian Rizsaya dan Arthur pacaran.
Aku medesah berat. Tapi saat menatap kedua mata yang mengembun itu, aku tau beban yang sedang ditanggungnya saat ini ratusan kali lebih berat.
"Jadi Arthur itu... Bagaimana Aya bisa kenal dengan Arthur?"
Nah, inilah kelemahanku. Aku paling buruk dalam hal menata bahasa. Ibarat apoteker, aku sering melakukan salah meracik obat meski sudah ada resepnya.
Kenapa pula aku harus menanyakan bagaimana kedua anak muda itu bertemu? Tidak adakah pertanyaan lain yang lebih konyol?
Aku menggerutu dalam hati.
"Mereka satu kampus."
Kuamati detail raut muka adik kesayanganku itu. Selama mengenalnya, aku belum pernah melihatnya se-desperate ini. Bahkan ekspresinya saat ini jauh lebih parah dibandingkan dengan kekalutannya saat ibu dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan Rizsaya.
Kueratkan genggamanku pada jemarinya.
"Meski aku tak mengakuinya, dia tetap adikku. Kami punya nama belakang yang sama. Dan Aya... " Hanya air mata yang kemudian meneruskan ucapannya kali ini.
Aku setengah bangkit dan menarik tubuh itu ke dalam pelukanku. Semoga pelukanku bisa cukup menenangkannya.
"Nanti... " ucapanku terpenggal oleh suara handle pintu yang terbuka. Perlahan Cinta menjauhkan tubuhnya. Kembali bersandar dalam punggung sofa.
Suara detak flatshoes terdengar memecah kesunyian sisi lain ruangan ini. Suara itu makin dekat tapi kemudian berbelok menuju anak tangga.
"Rizsaya," panggilku mencoba sedatar mungkin. Tapi tanpa perlu mengubah posisi tubuhku sedikitpun.
Detak sepatu itu berhenti sejenak sebelum kemudian terdengar lagi. Mendekat ke sini. Dan saat berhenti disatu titik yang cukup dekat dengan tempatku juga tempat Cinta berada, sebuah ekspresi gelak tawa singkat terdengar menyusul.
"And then?" tanyanya, seperti sudah tau aku juga akan mengadilinya atas perihal yang berhubungan dengan tokoh bernama Arthur.
Aku bangkit dan menatap Rizsaya.
Seperti baru tersadar akan waktu yang berjalan terlalu cepat. Perasaan baru kemarin kami bertiga-aku, Cinta, juga kak Abim- berkumpul takjub memperhatikan sosok mungilnya dalam gendongan papa. Kenapa sekarang sudah menjulang dengan tinggi badan yang sudah lebih dari 150cm dengan balutan baju trendy-casual? Cantik pula.
"Bisakah kau berfikir sedikit dewasa dengan sedikit memahami keadaan yang ada?"
Rizsaya malah tergelak dengan pertanyaanku.
Apa kata-kataku salah lagi? Kurasa tidak. Lalu apa yang salah?
"Kalian orang dewasa terlalu aneh. Sebentar menyuruh kami dewasa, sebentar mengingatkan kalo kami masih kecil." ucapnya seperti menggerutu, "Dan sebenarnya keadaan yang mana yang perlu ekstra dipahami? Soal mbak Cinta yang masih belum melupakan luka masa lalunya?"
Aku tersentak kaget, sama seperti Cinta.
"Cinta itu sederhana, kenapa malah dibuat rumit? Kalo dua orang bisa nyaman dan bahagia ketika bersama, ya udah, apalagi?" Kali ini kalimatnya diucapkan sangat antusias, seperti seorang orator sebuah demo kemanusiaan kepada penjahat besar.
Benarkah sosok dihadapanku ini Rizsaya, gadis 18 tahun lebih 3 bulan? Kenapa dia begitu fasih dalam hal percintaan? Bukankah selama masa sekolahnya dia bukan semacam playgirl yang punya daftar panjang nama-nama mantan pacarnya? Atau aku saja yang tak tau?
Perlahan kudengar Cinta bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan tempatnya. Tanpa sepatah katapun. Akupun masih terlalu fokus mengadili adik kecilku ini.
"Mungkin itu sebabnya kalian, juga kak Abim masih melajang sampai kini."
Aku langsung tergelak.
Anak ini, benar-benar...
Tapi, oke, aku akui kata-katanya tadi benar. Paling tidak bagiku. Bagiku cinta itu tak semudah penjabaran dari jutaan orang. Cinta tidak hanya soal rasa yang sama lalu bergandengan tangan selamanya. Karena kenyataannya cintaku terlalu erat melilit pada satu nama; Cinta.
Mungkin itu pula yang terjadi pada kak Abim. Cintanya juga salah kaprah malah tertuju pada ibu. Ya, meski aku tak pernah mendengar langsung pernyataan kak Abim, tapi aku bisa melihat kalo kak Abim terpikat pada ibu sejak insiden jatuhnya Cinta dulu. Dan mungkin itulah yang membuat kak Abim akhirnya 'mengasingkan diri' di Papua sana. Bergabung dalam koloni para pekerja Freeport.
"Gadis kecil," prologku mendekat perlahan, sekilas kulihat Cinta berdiri mematung di depan kulkas.
"Oke, kita pakai filosofi cintamu; cinta itu sederhana. Jadi saat kau dan Arthur itu saling jatuh cinta, nyaman dan bahagia saat bersama, sudah, semua beres. Untuk apa memikirkan hal lain yang tak penting."
Rizsaya manggut-manggut dengan wajah yang optimis.
"Ya, lagipula antara kami gak ada hubungan darah."
"Bingo!" sahutku cepat membuat dahinya yang tertutup poni langsung mengerut.
"Jadi kalo tak ada hubungan darah, tak ada yang perlu dimasalahkan?"
"Apalagi? Aku dan Arthur tidak ada hubungan apapun, selain mbak Cinta... " Rizsaya seperti riskan melanjutkan kalimatnya.
"Dengar, Kak Wisa dan mbak Cinta juga gak ada hubungan darah, jadi kami juga..."
"Kak...!!!" Hardikan itu cukup menyita perhatian Cinta disana. Membuatnya berbalik dan menatap ke arah kami.
"Kenapa? Bukankah kami juga gak ada hubungan darah?"
"Tapi kalian berdua kakak tiriku?!" Intonasi suara Rizsaya masih tinggi.
"Seperti kau dan Arthur yang sama-sama adik tirinya perempuan disana itu?" tanyaku menoleh sebentar ke arah Cinta.
Dan saat aku kembali menatap ke arah Rizsaya, wajah gadis cantik itu masam. Kulumat jarak diantara kami. Aku kini berdiri tepat didepannya, Tak lebih dari 10 centi. Jarang-jarang bahkan sepertinya memang tak pernah aku berhadapan sedekat ini dengan dia. Dalam keadaan serius pula.
"Sebagai kakak," Aku memegang kedua bahunya, mencengkeramnya lembut, "Maaf jika selama ini tidak begitu memperhatikanmu, tapi kak Wisa hanya tak ingin keadaan kita jadi semakin rumit. Coba telpon kak Abim, dia pasti juga sependapat dengan kak Wisa dan mbak Cinta."
Dan sebuah senyum asimetris yang akhirnya menanggapi omonganku.
"Sepertinya aku juga akan memutuskan melajang sampai tua seperti kalian bertiga!" dengusnya beringsut paksa membuat cengkeraman tanganku pada bahunya terlepas begitu saja.
Aku terpaku. Sama seperti Cinta yang tetap terpaku ditempatnya sana.
Ini seperti sebuah kutukan. 4 bersaudara yang tergabung dalam silsilah keluarga Hadi Prawiro terjebak dalam cinta yang tak pernah sederhana. Cinta yang tak hanya bisa dijelaskan bertemu, berjalan bersama, lalu berakhir sederhana. Tak ada yang sederhana, paling tidak dalam dunia kami.
Percayalah, cinta tak pernah selalu sesederhana yang kita kira. Dia cukup rumit untuk hanya dipahami kedatangannya.
Lalu apa selamanya kami akan selalu ada dalam labirin cinta yang rumit ini?
BYL, 03 Nov' 2016
Win@rinda
Ini adalah lanjutan cerita antara dua judul cerita [My Sweety Mom & Forgive And Forget) yang sebenarnya tidak ada hubungannya. Aneh saja tiba-tiba saja aku berpikir menuangkan dua cerita ini kedalam satu wadah yang sama. Semoga kolaborasi ini cukup 'nikmat' untuk dibaca. Terimakasih....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar