Senin, 12 Desember 2016

Boy In Luv











Aneh.
          
          Itu  yang kurasakan pagi ini.
          
          Oke, mungkin karena aku sedang menikmati Dakjjim buatan ahjuma, jadi wajar aku kemudian teringat dia. Tapi, apa iya harus sampai seperti ini? Kenapa bayangan ahjuma yang kata bujangnim bernama Nita itu begitu jelas terlihat. Aku seperti terserang semacam delusi dadakan. Tapi apa iya sehebat ini? Bahkan, padahal baru kemarin  dia ada disini.
          
           Apa karena makanan yang kumakan ini?
           
           Kuperhatikan dakjjim dalam mangkok dihadapanku. Ini sama seperti dakjjim kebanyakan. Hanya berisi sayuran dan daging ayam. Bumbunya pun tak ada yang special. Rasanya tak istimewa meski bisa dikategorikan enak. Jadi apa yang salah? Atau… jangan-jangan Ahjuma memasukkan semacam jouju dalam makanan ini?

          Tunggu, Jouju? Yang benar saja. 

          Aku tergelak sendiri.

          Yak, Jungkook-ssi!”

          Selanjutnya aku tersentak kaget mendengar teguran cukup lantang dari ujung meja makan sana. Hampir saja aku melonjak berdiri.

          JHope hyung menatapku dengan kerutan dahi juga tatapan aneh.

          Mwo?” tanyaku tak kalah heran menaggapi sikap hyung-ku yang memang terkenal paling rajin bangun pagi, selain aku yang memang lebih dulu kelaparan setelah tertidur malam.

          Mwo? Kau pagi-pagi dengan piyama yang tak karuan begitu senyum-senyum sendiri di depan mangkok dakjjim, dan kau masih tanya ‘Mwo’?” desisnya benar-benar tak percaya.

          Aku terpaku. Antara membenarkan juga bingung kenapa membenarkan pertanyaan JHope hyung tadi. Apanya yang benar?

          Ani,” jawabku akhirnya pura-pura fokus menikmati lagi makananku.

          Dan gelak tawa JHope menanggapi. Masih dengan rasa penasaran yang menyengat.

          “ Sepertinya ada yang tidak beres denganmu, Khuki.” Akhirnya JHope berlalu menuju kulkas, masih dengan sisa penasarannya yang sepertinya diacuhkan.

          Aku kembali meneruskan makan pagiku. Ini beda dengan sarapan. Kalo sarapan berarti semua orang berkumpul dimeja makan ini menikmati makanan yang sama. Dan kalo ini kusebut makan pagi, makan sebelum sarapan yang tentu saja tanpa teman dan dengan makanan seadanya. Yang penting bisa mengganjal perutku yang memang entah kenapa selalu cepat lapar.

          Dan pada suapan terakhir dakjjim-ku Bujangnim datang sudah dengan setelan baju kerjanya; celana khaki hitam dan kemeja warna abu-abu juga dengan syal krem melingkari lehernya.

          Tumben formal, biasanya Bujangnim pakai jeans dan kaos panjang ditumpuk sweater rajut. Pikirku mengomentari penampilan Bujangnim Sejin yang sedikit beda. Jangan-jangan Bujangnim begini karena kehadiran Ahjuma?

          Eh, apa ini? Kenapa malah nyambungnya ke Ahjuma?

          “Jungkook-ah, kau sedang makan apa?” tanyanya menuang sedikit air di teko ke dalam gelas.

          Dakjjim.”

          “Kalo begitu sarapan nanti kau hanya boleh makan buah dan jus.”

          Aisshh… yang benar saja, Ahjusshi?” protesku seiring Jin dan Jimin hyung mendekati meja makan, menyapa Bujangnim.

          “Tentu  saja benar, aku dibayar Big Hit untuk mengawasi semua kegiatan kalian, Termasuk makanan yang kalian makan. Dan kau member paling banyak jatah makannya… “


          “Aku… “ Aku tak sanggup menyela.

          “Kalo kau kubiarkan makan terus bisa-bisa kau berubah menjadi Park Jae Sang, si Oppa Gangnam Style itu.”

          Aku langsung tersedak. Benar-benar tersedak oleh makanan yang baru saja akan masuk kerongkonganku. Jimin Hyung mendekat dengan gelas berisi air, menyodorkannya padaku. Kuteguk langsung berharap bisa menghentikan batuk tersedakku.

          Benar-benar nih Bujangnim, masa gara-gara aku makan dakjjim pagi hari langsung mengataiku bakal seperti Oppa Gangnam style yang ber-size XXL itu?

          Bujangnim, jangan terlalu keras pada Khuki, dia memang masih masa pertumbuhan jadi wajar kalo porsi makannya lebih banyak,” ucap Jin Hyung seperti mencoba membelaku.

          “Terlebih dari kamu kan, Kim Seok Jin, perbanyak porsi makanmu biar tubuhmu lebih berisi! Suka  masak tapi makannya susah.”

          Jin Hyung langsung merengut, pasti dia sedikit menyesal tadi membelaku karena pada akhirnya dia sendiri yang terkena teguran. Semacam senjata makan tuan.

           “Bukannya Suga yang susah makannya?” dengus Jin masih merengut.

         “Pagi, Bujangnim… “ sapa Suga Hyung yang datang bersama Namjoong Hyung yang sama-sama seperti masih setengah sadar. Berjalan dengan sempoyongan seperti baru saja pulang pesta soju.

         “Hmm, pagi juga kalian. Oke, hari ini kita ada syuting video klip, jam 9 kita berangkat. Jadi sadarkan diri kalian, dan berkemaslah!” perintah Bujangnim seperti komandan peleton tentara.

         Aku melirik jam tanganku, baru jam 07:25, masih ada banyak waktu untuk bersiap.

         “Mana V?” tanya Bujangnim celingukan ke seantereo dapur.

         “Masih dikamar.” Sahut Jimin, teman sekamarnya.

         “Masih ditempat tidur tepatnya, iya kan?” Nada suara Bujangnim terkesan sinis.

         Suga hanya menggaruk kulit kepalanya, seakan cuek dengan kekesalan Bujangnim karena setiap hari Taehyung-lah yang selalu terlambat bangun. Atau lebih tepatnya harus diseret turun dari tempat tidur  oleh Bujangnim dulu baru akan melek matanya.

         “ Aku yakin anak itu menderita dysania,” gerutu Bujangnim melangkah menuju anak tangga lantai dua.

         Yak, Hyung, tak baik menyangka orang seperti itu. Taehyung hanya suka begadang sampai malam, makannya susah bangun pagi.” Kali ini JHope hyung yang menyahut.

         Tauk tuh Bujangnim, apa-apa dianggap aneh. Emang dia tak aneh menganggap orang bisa berubah seperti si Oppa Gangnam Style hanya karena pagi-pagi makan dakjjim, atau menyangka orang terkena  dysania, penyakit susah meninggalkan tempat tidurnya dipagi hari hanya karena memang susah bangun pagi?

         “Kenapa tak sekalian menyangka Khuki menderita SRED?” lanjut Namjoon hyung cukup keras.

         “Apa itu?” tanya Suga mencoba membuka matanya lebar-lebar menatap Namjoon yang berkacak pinggang di sebelahnya dengan amarah yang dibuat-buat.

         Sleep Related Eating Disorder.”

         Suga melongo mendapati penjelasan yang didapatnya.

         “Apalah Hyung, aku tak cukup mampu mengikuti pengetahuanmu.” Aku bangkit membawa mangkok bekas tempat dakjjim tadi ke wastafel. Seiring pintu samping yang langsung menuju luar rumah terbuka. Ahjuma sudah datang. Tepat jam 07: 30.

         “Annyeonghaseyo… “ sapanya menganggukkan kepalanya kepada kami. Hampir serempak kamipun membalas.

         Dan untuk beberapa sepersekian detik. Aku terpaku, mataku terkunci ke arahnya.

         Ahjuma yang belum pantas dipanggil ahjuma. Penampilannya memang terkesan penampilan wanita dewasa, tapi aku selalu merasa wajahnya tak setua penampilan apalagi umurnya yang kata Namjoon hyung sudah 31 tahun.

         Tanpa sengaja tatapanku tertangkap pandangan matanya. Aku tak sempat mengelak. Membuatku jadi salah tingkah.

         “Dowadeulilgayo, Jungkook-ssi?” tanyanya membuatku tersadar dengan apa yang sedang melandaku barusan.

         “Oh, eh, tidak. Tidak ada.” Ke-gelagapanku membuat beberapa pasang mata menatapku aneh. Terlebih pandangan Jimin yang menurutku terlalu riskan jika diperlihatkan di public begini.

         Untung ‘ketegangan’ itu hanya berlangsung sebentar dan langsung memuai dengan kedatangan Bujangnim yang mendorong-dorong pelan tubuh V yang memang masih sangat malas berjalan atau sekedar membuka kedua matanya.

         “Kau kejam sekali padaku, Hyung, aku bilang 5 menit saja.” Gerutu V

         “Kita harus siap keluar sarang jam 9. Jadi sekarang semua pergi mandi sana!” perintah Bujangnim mulai keras.

         “Kamar mandi di dorm ini Cuma ada 5, kami bertujuh,” Kali ini V protes.

         “Kalian tahu yang namanya gantian kan?”

         Hampir semua dari kami mendengus jengkel. Jimin dan Suga bergegas naik lagi ke lantai 2. Jin pun menyusul naik. JHope melangkah kearah toilet dekat ruang tengah.

         “Hyung, aku dulu ya yang mandi?” saranku pada Namjoon hyung, teman sekamarku.

         “Aku paling tak sabar menunggu kau mandi, Khuki, biar aku dulu. AKu akan mandi super cepat.” Namjoon bergegas melangkah cepat mendahului langkahku yang bahkan baru dua kali langkah.

         “Jungkook-ah, masih ada satu kamar mandi di belakang, mau mandi bersamaku?” ajak V hyung tanpa dosa.

         Yak, Hyung?!” desisku dengan amarah yang nyaris meluap andai tak segera kudengar cekikik yang sengaja ditahan itu.

         Ahjuma yang berdiri kurang dari 2 meter dari tempatku berdiri, terlihat menutupi mulutnya dengan tangan kanannya.

         Ahjuma, kau benar-benar mengerti apa yang diucapkan Taehyung tadi?” tanya Bujangnim tak percaya.

         Ahjuma hanya mengangguk kecil, masih dengan menahan tawa berlalu menuju kulkas dan membukanya.

         Nah, aneh kan? Bilangnya hanya sedikit saja tau bahasa korea, lalu kenapa bisa mengerti yang V hyung katakan tadi? Alisku mengkerut nyaris bersatu saking kerasnya aku memikirkan itu.

         “Jadi bagaimana, Khuki-ya?” tanya V lagi, sudah menyampirkan handuk di pundaknya.

         “Shiro!” dengusku kesal.

         V dan Bujangnim spontan terbahak melihat ekspresiku. Kadang benar-benar menyebalkan menjadi orang termuda disini. Selalu dianggap anak kecil dan menjadi sasaran empuk pem-bully-an.

         V melenggang dengan santainya menuju kamar mandi terakhir di dorm ini yang berada di sebelah dapur ini.

         Ahjuma, buatkan 2 cangkir teh chamomile.”

         Perintah itu langsung dikerjakan Ahjuma tanpa bertanya lagi. Lalu Bujangnim mengisyaratkan aku untuk duduk disebelahnya.

         “Dengar Jungkook-ah, mereka bukan sedang membully, mereka hanya terlalu sayang karena memiliki dongsaeng sepertimu,”

         Aku pasang wajah merengut lagi.

         “Duduklah dulu sambil menunggu mereka selesai mandi.”

         Aku menurut dan berjalan mendekati meja makan lagi. Menyusul Ahjuma mendekat dengan 2 cangkir dalam nampan kecil. Uap mengepul di atas cangkir itu. Begitu harum.

         Celakanya aku tak hanya berfokus pada teh yang dibawa Ahjuma. Tapi aku juga melirik ke wajah teduh itu. Wajah yang selalu aku yakini belum pantas dipanggil Ahjuma.

         Aigooo… sebenarnya apa yang terjadi denganku?



BYL, 12 Des’ 2016




Ternyata adalah kesalahan besar membuat setting FF di dorm. Karena harus tau semua tentang semua member, gak fokus pada satu karakter yang dilakonkan. Huffttt... 
*Mencari alibi kenapa nglanjutin ceritanya megap-megap,
xixixixi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar