Minggu, 02 Juli 2017

Ayah





 “Ling, mulai sekarang Ling hanya tinggal dengan Ibu, jangan nakal ya!”
Begitu pesan Ibu sore itu, dengan mata sembab berkaca-kaca. Tangannya yang selalu hangat membelai pipiku lembut. Bibirnya seperti dipaksanya untuk tersenyum, dan aku tau itu memang hanya dipaksakan agar terlihat sedang tersenyum. Seperti bentuk kekuatan saat sudah benar-benar ambruk. Dan aku tidak pernah suka saat Ibu melakukannya.

Aku melihat ada kesedihan yang coba Ibu tahan biar tidak meluap. Membuatku tak berani bertanya ada apa atau kenapa. Akhirnya aku hanya mengangguk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Tapi yang pasti sejak sore itu di usiaku menginjak tahun ke 5, dalam hari-hari di kehidupanku tak ada lagi satu wujud bahkan satu kata; Ayah.
Semuanya menghilang seperti tetes-tetes embun pagi di rerumputan saat terik mentari mulai menyinari seluruh penjuru bumi. 


Dan setelah 11 tahun berlalu hal itu tak pernah berubah. Tetap tak ada wujud dan kata itu melintas dalam kehidupanku. Meski sebenarnya dalam hati aku selalu bertanya, kenapa ayah tak lagi menjadi bagian hidupku? Apa yang terjadi, kenapa bisa sampai terjadi, atau adakah suatu hari kembali, hanya sebatas pertanyaan sisi hati pada sisi hati lainnya.
Aku seperti dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa yang sudah pergi tak usah diharapkan kembali karena tak mungkin akan kembali.

“Ling, apa impian terbesarmu?” tanya Pak Mus siang ini dalam kelas Sejarah yang baru berjalan setengah jam. Hari ini peajaran Sejarah membahas tentang mimpi-mimpi besar para tokoh-tokoh dunia sebelum mereka menjadi tokoh-tokoh dunia.

Aku Kalingga, salah satu siswa kelas 10 di sebuah SMA favorite di tempatku tinggal. Dan saat semua ABG seumuranku menikmati masa-masa indahnya menjadi ABG aku malah harus membagi waktu luangku diantara jam-jam sekolahku yang padat dan menguras energy. Aku tetap harus membantu perekonomian keluarga agar tidak macet. Terlebih biaya sekolah saat ini tak ada yang murah. Semua memakai uang.
Jadi anggap saja aku bukan gadis ABG normal seperti kebanyakan, yang punya waktu untuk memikirkan sedang menyukai siapa, nge-fans dengan artis yang mana, atau bahkan punya mimpi alay seperrti apa. Mimpiku setiap pagi hanya semoga hari ini semua berjalan lancar tak perlu ada kepala pusing karena ada kebutuhan mendadak yang mengharuskan otak bekerja 100% lebih keras untuk memenuhinya.

Aku tak tahu apa dengan pasti yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya Ayah dan Ibu tak lagi bersama. Aku ingat Ayah marah-marah mengemasi pakaiannya setelah saling berteriak dengan Ibu. Ayah keluar rumah dengan langkah lebar. Dan Ibu hanya menangis memelukku.
Ayah bahkan tak berpamitan padaku. Tak melihatku untuk terakhir kalinya. Akupun tak memanggil. Apalagi mengejar.

Semua Tanya dan protes hanya mampu bergemuruh di dalam hatiku. Bahkan ketika aku mulai sering mendengar omongan para tetangga tentang kabar Ayah aku hanya bisa diam menikmati gemuruh hatiku yang kian riuh meneriakkan kata Ayah.
“Kasihan kamu, Ling, Ayahmu memang gak bertanggungjawab banget.” Ucap Mamak Inah, tetangga sebelah rumah yang saat Ibu bekerja dan aku sendirian di rumah, beliau selalu mengajakku ke rumahnya. Memberiku makan bahkan kadang mengajakku pergi bersama beliau.

Kehidupanku sejak ayah pergi dari rumah sore itu memang terbilang sangat keras. Seharian aku tak pernah bertemu Ibu karena pekerjaan Ibu yang mengharuskannya pergi pagi pulang sore. Tak pernah ada yang istimewa di rumah. Aku dan Ibu hidup sangat sederhana, sangat apa adanya. Dan aku menyimpulkan itu semua karena Ayah yang pergi dari kehidupan kami. Mungkin kalau sore itu Ayah tak pergi dari rumah, mungkin cerita ini tak perlu terjadi. Mungkin aku tak perlu menjalani hidup yang serba keras dan melelahkan begini.

Lama-lama aku selalu merasa perih setiap kali mendengar satu kata itu. Aku selalu mencoba menghindarinya semampu yang kubisa. Aku selalu bermimpi satu kata itu menghilang dari pikiranku. Bahkan aku pernah bermimpi otakku kehilangan ingatan bahwa satu kata itu tak pernah tercipta di dunia ini. T            api aku sadar itu hanya mimpi alay seperti mimpi Kristin temanku yang bermimpi bisa jadi pacarnya salah satu idol Korea kesukaannya.

Aku tetap harus menghadapi perih itu saat dengan sengaja atau tanpa sengaja satu kata itu melintas.
“Ling, apa kamu tak pernah ingin bertemu Ayahmu?” Pernah Om Evo, seorang teman Ibu yang kadang-kadang datang berkunjung ke rumah, bertanya seperti itu.

Seingatku Om Evo sejak dulu sering datang ke rumah dan ngobrol panjang lebar dengan Ayah, atau terkadang pergi keluar dengan Ayah. Jadi aku berfikir, Om Evo adalah teman Ayah yang sudah akrab juga dengan Ibu. Om Evo sudah seperti salah satu keluargaku yang tak kutau asalnya.
Aku kelu saat itu. Hanya menatap wajah oriental Om Evo dalam-dalam. Om Evo yang selama ini care dengan aku dan Ibu. Om Evo yang selama ini selalu dating kerumah membawa secercah kebahagiaan dimata Ibu. Aku tahu Om Evo tak bermaksud membuat hatiku perih dengan melontarkan tanya itu. Karena tadi aku sempat perbincangannya dengan Ibu kalo Om Evo tau keberadaan Ayah yang katanya kini sudah sukses dengan keluarganya yang baru.

Ah, apa itu berarti Ayah sudah menggantikan posisi aku dan Ibu dalam hidupnya?
Aku merebak dan tetap kelu. Tapi di dalam sini kurasakan sebuah rasa yang makin bergelayut menjadi salah satu beban hidupku. Rasa yang pahit terasa tapi tetap kupertahankan untuk kurasa. Rasa yang membuatku ingin berteriak tapi bibirku kelu. Rasa yang membuatku membenci dan merindu secara bersamaan seperti saat langit menurunkan hujan bersamaan dengan matahari yang menggeliat dari mendungnya. Yang akhirnya menciptakan pelangi yang indah.

Lalu rasa apa yang bisa tercipta saat benciku merebak indah bercampur dengan rindu yang menggulung cukup kuat? Adakah juga bisa seindah pelangi? Kurasa tidak.
Apa aku salah jika aku membenci orang yang seharusnya aku hormati? Apa aku salah membenci ayahku? Ayah yang membuat hidupku tak sempurna. Masa kecilku yang seharusnya bahagia penuh kasih sayang orang tua, sepanjang waktu ditemani mereka, bisa bercanda dan bermanja dengan mereka tapi malah kuterima sebaliknya. Ayah meninggalkanku. Hampir setiap hari aku sendirian di rumah karena Ibu harus bekerja sampai sore. Dan Ibu terlalu letih untuk bisa bercanda denganku apalagi memanjakanku.

Dan masa remajaku yang seharusnya penuh dengan kebebasan berekspresi malah harus ikut membanting tulang agar beban yang Ibu pikul tak terlalu berat. Kusisihkan iriku yang kadang ingin ikut berkumpul bercanda dengan teman-teman sekolah di kafe atau di mall. Kubuta-tulikan diriku dari segala bentuk kegembiraan masa remaja  teman-temanku yang tanpa sengaja melintas di depan mataku.

Aku menyesal kenapa saat Om Evo menanyakan pertanyaan itu, aku malah diam tak menjawab. Aku nyaris marah pada mulutku yang tak kooperatif dengan isi hatiku yang sedang  bergolak ingin bertemu Ayah, meski mungkin setelah 11 tahun Ayah tak bisa mengenaliku dengan baik. Salah satu atau mungkin menjadi satu-satunya kesempatan yang kusia-siakan. Aku ingin sekali bertemu Ayah agar bisa bertanya kenapa sore itu harus pergi dan membuat hidupku menjadi sangat keras selama 11 tahun terakhir ini.

“Kalingga Astuti!”
Panggilan dari Pak Mus membuatku kembali tersadar dari alam khayalku tentang Ayah.Yang meski pahit, perih dan sesak kurasa tapi selalu membuatku tergoda untuk mengenangnya.
“Apa impian terbesarmu?” lanjut Pak Mus menatapku lekat seakan menunggu segera jawabanku. Dan semua mata di kelas ini sepertinya ikut-ikutan ingin tahu jawabannya. Mungkin bagi mereka—aku yang terlalu tak sempat bersosialisasi karena terlalu sibuk hingga selalu masuk akhir tapi keluar awal—mengetahui jawaban dariku atas pertanyaan tentang impian terbesar, adalah hal yang cukup menghebohkan dan sayang untuk dilewatkan..

Aku tak langsung menjawab. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru kelas seraya menata ritme detak jantungku sekaligus memompa teratur aliran oksigen ke pembuluh jantung. Tapi perlahan tapi pasti, hatiku malah merebak. Dadaku seperti sebuah balon yang terlalu kuat ditiup dan kalo terus-terusan akan meletus.

“Bertemu Ayah.” Jawabku akhirnya menatap Pak Mus, dengan suara yang menurutku bergetar.

Aku tak meminta pujian. Aku hanya tak sadar meneteskan air mataku saat mengucapkan dua kata itu dan tentu saja membuat semua orang terhipnotis bersimpati padaku.

Dan sekali lagi aku tak pernah minta pujian apalagi simpati yang berlebihan. Karena aku hanya ingin bertemu Ayah yang karena kepergiannya telah membuat alur kehidupanku menjadi seperti ini.


End


Rdb, 03/07/2017
Winarind@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar