“Ling, mulai sekarang Ling hanya tinggal
dengan Ibu, jangan nakal ya!”
Begitu
pesan Ibu sore itu, dengan mata sembab berkaca-kaca. Tangannya yang selalu
hangat membelai pipiku lembut. Bibirnya seperti dipaksanya untuk tersenyum, dan
aku tau itu memang hanya dipaksakan agar terlihat sedang tersenyum. Seperti
bentuk kekuatan saat sudah benar-benar ambruk. Dan aku tidak pernah suka saat
Ibu melakukannya.
Aku
melihat ada kesedihan yang coba Ibu tahan biar tidak meluap. Membuatku tak
berani bertanya ada apa atau kenapa. Akhirnya aku hanya mengangguk tanpa
sepatah katapun keluar dari mulutku. Tapi yang pasti sejak sore itu di usiaku
menginjak tahun ke 5, dalam hari-hari di kehidupanku tak ada lagi satu wujud
bahkan satu kata; Ayah.
Semuanya
menghilang seperti tetes-tetes embun pagi di rerumputan saat terik mentari
mulai menyinari seluruh penjuru bumi.
Dan
setelah 11 tahun berlalu hal itu tak pernah berubah. Tetap tak ada wujud dan
kata itu melintas dalam kehidupanku. Meski sebenarnya dalam hati aku selalu
bertanya, kenapa ayah tak lagi menjadi bagian hidupku? Apa yang terjadi, kenapa
bisa sampai terjadi, atau adakah suatu hari kembali, hanya sebatas pertanyaan
sisi hati pada sisi hati lainnya.
Aku
seperti dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa yang sudah pergi tak usah
diharapkan kembali karena tak mungkin akan kembali.
“Ling,
apa impian terbesarmu?” tanya Pak Mus siang ini dalam kelas Sejarah yang baru
berjalan setengah jam. Hari ini peajaran Sejarah membahas tentang mimpi-mimpi
besar para tokoh-tokoh dunia sebelum mereka menjadi tokoh-tokoh dunia.
Aku
Kalingga, salah satu siswa kelas 10 di sebuah SMA favorite di tempatku tinggal.
Dan saat semua ABG seumuranku menikmati masa-masa indahnya menjadi ABG aku
malah harus membagi waktu luangku diantara jam-jam sekolahku yang padat dan
menguras energy. Aku tetap harus membantu perekonomian keluarga agar tidak
macet. Terlebih biaya sekolah saat ini tak ada yang murah. Semua memakai uang.
Jadi
anggap saja aku bukan gadis ABG normal seperti kebanyakan, yang punya waktu
untuk memikirkan sedang menyukai siapa, nge-fans dengan artis yang mana, atau
bahkan punya mimpi alay seperrti apa. Mimpiku setiap pagi hanya semoga hari ini
semua berjalan lancar tak perlu ada kepala pusing karena ada kebutuhan mendadak
yang mengharuskan otak bekerja 100% lebih keras untuk memenuhinya.
Aku
tak tahu apa dengan pasti yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya Ayah dan Ibu tak
lagi bersama. Aku ingat Ayah marah-marah mengemasi pakaiannya setelah saling
berteriak dengan Ibu. Ayah keluar rumah dengan langkah lebar. Dan Ibu hanya
menangis memelukku.
Ayah
bahkan tak berpamitan padaku. Tak melihatku untuk terakhir kalinya. Akupun tak
memanggil. Apalagi mengejar.
Semua
Tanya dan protes hanya mampu bergemuruh di dalam hatiku. Bahkan ketika aku
mulai sering mendengar omongan para tetangga tentang kabar Ayah aku hanya bisa
diam menikmati gemuruh hatiku yang kian riuh meneriakkan kata Ayah.
“Kasihan
kamu, Ling, Ayahmu memang gak bertanggungjawab banget.” Ucap Mamak Inah,
tetangga sebelah rumah yang saat Ibu bekerja dan aku sendirian di rumah, beliau
selalu mengajakku ke rumahnya. Memberiku makan bahkan kadang mengajakku pergi
bersama beliau.
Kehidupanku
sejak ayah pergi dari rumah sore itu memang terbilang sangat keras. Seharian
aku tak pernah bertemu Ibu karena pekerjaan Ibu yang mengharuskannya pergi pagi
pulang sore. Tak pernah ada yang istimewa di rumah. Aku dan Ibu hidup sangat
sederhana, sangat apa adanya. Dan aku menyimpulkan itu semua karena Ayah yang
pergi dari kehidupan kami. Mungkin kalau sore itu Ayah tak pergi dari rumah,
mungkin cerita ini tak perlu terjadi. Mungkin aku tak perlu menjalani hidup
yang serba keras dan melelahkan begini.
Lama-lama
aku selalu merasa perih setiap kali mendengar satu kata itu. Aku selalu mencoba
menghindarinya semampu yang kubisa. Aku selalu bermimpi satu kata itu
menghilang dari pikiranku. Bahkan aku pernah bermimpi otakku kehilangan ingatan
bahwa satu kata itu tak pernah tercipta di dunia ini. T api aku sadar itu hanya mimpi alay seperti mimpi Kristin
temanku yang bermimpi bisa jadi pacarnya salah satu idol Korea kesukaannya.
Aku
tetap harus menghadapi perih itu saat dengan sengaja atau tanpa sengaja satu
kata itu melintas.
“Ling,
apa kamu tak pernah ingin bertemu Ayahmu?” Pernah Om Evo, seorang teman Ibu
yang kadang-kadang datang berkunjung ke rumah, bertanya seperti itu.
Seingatku
Om Evo sejak dulu sering datang ke rumah dan ngobrol panjang lebar dengan Ayah,
atau terkadang pergi keluar dengan Ayah. Jadi aku berfikir, Om Evo adalah teman
Ayah yang sudah akrab juga dengan Ibu. Om Evo sudah seperti salah satu
keluargaku yang tak kutau asalnya.
Aku
kelu saat itu. Hanya menatap wajah oriental Om Evo dalam-dalam. Om Evo yang
selama ini care dengan aku dan Ibu. Om
Evo yang selama ini selalu dating kerumah membawa secercah kebahagiaan dimata
Ibu. Aku tahu Om Evo tak bermaksud membuat hatiku perih dengan melontarkan
tanya itu. Karena tadi aku sempat perbincangannya dengan Ibu kalo Om Evo tau
keberadaan Ayah yang katanya kini sudah sukses dengan keluarganya yang baru.
Ah,
apa itu berarti Ayah sudah menggantikan posisi aku dan Ibu dalam hidupnya?
Aku
merebak dan tetap kelu. Tapi di dalam sini kurasakan sebuah rasa yang makin
bergelayut menjadi salah satu beban hidupku. Rasa yang pahit terasa tapi tetap kupertahankan
untuk kurasa. Rasa yang membuatku ingin berteriak tapi bibirku kelu. Rasa yang
membuatku membenci dan merindu secara bersamaan seperti saat langit menurunkan
hujan bersamaan dengan matahari yang menggeliat dari mendungnya. Yang akhirnya
menciptakan pelangi yang indah.
Lalu
rasa apa yang bisa tercipta saat benciku merebak indah bercampur dengan rindu
yang menggulung cukup kuat? Adakah juga bisa seindah pelangi? Kurasa tidak.
Apa
aku salah jika aku membenci orang yang seharusnya aku hormati? Apa aku salah
membenci ayahku? Ayah yang membuat hidupku tak sempurna. Masa kecilku yang
seharusnya bahagia penuh kasih sayang orang tua, sepanjang waktu ditemani mereka,
bisa bercanda dan bermanja dengan mereka tapi malah kuterima sebaliknya. Ayah
meninggalkanku. Hampir setiap hari aku sendirian di rumah karena Ibu harus
bekerja sampai sore. Dan Ibu terlalu letih untuk bisa bercanda denganku apalagi
memanjakanku.
Dan
masa remajaku yang seharusnya penuh dengan kebebasan berekspresi malah harus
ikut membanting tulang agar beban yang Ibu pikul tak terlalu berat. Kusisihkan
iriku yang kadang ingin ikut berkumpul bercanda dengan teman-teman sekolah di
kafe atau di mall. Kubuta-tulikan diriku dari segala bentuk kegembiraan masa
remaja teman-temanku yang tanpa sengaja
melintas di depan mataku.
Aku
menyesal kenapa saat Om Evo menanyakan pertanyaan itu, aku malah diam tak
menjawab. Aku nyaris marah pada mulutku yang tak kooperatif dengan isi hatiku
yang sedang bergolak ingin bertemu Ayah,
meski mungkin setelah 11 tahun Ayah tak bisa mengenaliku dengan baik. Salah
satu atau mungkin menjadi satu-satunya kesempatan yang kusia-siakan. Aku ingin
sekali bertemu Ayah agar bisa bertanya kenapa sore itu harus pergi dan membuat
hidupku menjadi sangat keras selama 11 tahun terakhir ini.
“Kalingga
Astuti!”
Panggilan
dari Pak Mus membuatku kembali tersadar dari alam khayalku tentang Ayah.Yang
meski pahit, perih dan sesak kurasa tapi selalu membuatku tergoda untuk
mengenangnya.
“Apa
impian terbesarmu?” lanjut Pak Mus menatapku lekat seakan menunggu segera jawabanku.
Dan semua mata di kelas ini sepertinya ikut-ikutan ingin tahu jawabannya.
Mungkin bagi mereka—aku yang terlalu tak sempat bersosialisasi karena terlalu
sibuk hingga selalu masuk akhir tapi keluar awal—mengetahui jawaban dariku atas
pertanyaan tentang impian terbesar, adalah hal yang cukup menghebohkan dan
sayang untuk dilewatkan..
Aku
tak langsung menjawab. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru kelas seraya
menata ritme detak jantungku sekaligus memompa teratur aliran oksigen ke
pembuluh jantung. Tapi perlahan tapi pasti, hatiku malah merebak. Dadaku
seperti sebuah balon yang terlalu kuat ditiup dan kalo terus-terusan akan
meletus.
“Bertemu
Ayah.” Jawabku akhirnya menatap Pak Mus, dengan suara yang menurutku bergetar.
Aku
tak meminta pujian. Aku hanya tak sadar meneteskan air mataku saat mengucapkan
dua kata itu dan tentu saja membuat semua orang terhipnotis bersimpati padaku.
Dan
sekali lagi aku tak pernah minta pujian apalagi simpati yang berlebihan. Karena
aku hanya ingin bertemu Ayah yang karena kepergiannya telah membuat alur
kehidupanku menjadi seperti ini.
End
Rdb, 03/07/2017
Winarind@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar