Kuseruput lemon tea didepanku sedikit. Rasa
asamnya yang berbalut manis langsung menyeruak memenuhi rongga kerongkonganku.
Hampir serupa dengan semua ulasan Tarinda tadi pagi, yang langsung meracuni
seluruh relung hatiku.
Fuiihhhh….. aku benar-benar merasa stok
kesabaranku mulai menipis.
"Kamu benar tak mau pesan spagetti
disini? Spagettinya mantap lho, spagetti ditempat mas Fajar aja kalah jauh.
" Cerocos Ersan.
Aku menggeleng pelan sambil menyeruput lagi
lemon tea ku, dengan perasaan yang masih campur aduk. Wajah Tarinda masih
berlalu lalang di otakku.
" 2
tahun lebih kami pacaran. Ersan tau semua kesukaanku, lemon tea, spagetti,
Padi,.."
Selebihnya
kata-kata Tarinda seperti mengambang tak jelas kudengar.
Yang
buat aku heran kenapa semua kesukaan Tarinda sama persis dengan kesukaanku?
Siapa itu Tarinda, bahkan aku baru kenal namanya 10 menit yang lalu saat dia
mendatangi tempatku duduk dibangku taman
ini. Yang mengaku mantan pacar Ersan.
Aku tergelak mengingat kejadian itu. Ternyata selama ini aku memang terlalu naif pada Ersan, blesteran jawa-sunda itu yang 2 bulan ini memang terlalu dekat denganku. Padahal kami bersama hanya karena pekerjaan yang harus kami selesaikan. Selebihnya, aku hanya sebatas kenal namanya sebagai salah satu karyawan bertalenta sejak pertama masuk di perusahaan ini.
Ersan, pria jangkung yang sudah mirip
artis-artis korea yang langsing semampai dan begitu lookable. Kulitnya terbilang cukup bersih terawat. Bahkan jika
dibandingkan dengan kulitku yang kecoklatan, aku kalah jauh. Hidungnya mancung,
matanya punya pesona yang bagiku cukup memikat para wanita. Buktinya tak
sedikit aku mendengar yang jatuh cinta dengannya. Bahkan ada yang terang-terangan
iri dneganku karena bisa dekat dengannya. Rambutnya lembut tergerai indah meski
belum bisa dikategorikan gondrong. Dan tongkrongannya yang seperti mengadopsi
tongkrongan pemain sinetron Anak Jalanan di tivi itu, makin banyak membuat para
kaum hawa terpukau.
Oke, awalnya aku memang cukup berbangga bisa
dekat dengannya diluar ada pekerjaan dari kantor yang memang mengharuskan kami setiap
hari selalu berinteraksi. Dia bahkan menambahkan jam diluar kantor untuk akrab
denganku. Mulai dari makan siang bersama, pulang bersama, bahkan ini yang kedua
kalinya dia mengajakku nongkrong di café langgannannya. Katanya selain menunya
enak, disini setiap malam selalu ada life konser penyanyi-penyanyi underground
yang bertalenta emas.
" Kamu kenapa sih, Di?" Tanya Ersan
mulai risi dengan sikapku yang lebih banyak diam.
Aku memang terkenal banyak omong dan supel.
Mungkin itulah yang membuatku bisa beradaptasi dengan cukup cepat pada semua
aspek masyarakat di perusahaan ini. Bahkan Ersan yang katanya termasuk dalam
kasta ‘sulit dipahami’ pun hanya butuh beberapa hari mampu kutaklukkan dan kami
menjadi akrab. Hingga memudahkan pekerjaan kami yang mungkin tinggal beberapa
hari lagi selesai. Jadi wajar kalo kemudian aku lebih banyak diam membuatnya
heran. Bahkan aku bisa membahas tingkah-tingkah orang-orang di sekitar kami
yang kemudian kubuat menjadi analisa yang absurd dan konyol. Itu salah satu hal
yang sejak dulu kulakukan sebagai ‘pelarian’ agar tak terjebak dengan koalisi antara
hati dan khayalan yang biasanya menghasilkan sesuatu yang menakutkan yang biasa
mereka sebut dengan jatuh cinta.
Aku bukannya Philophobia, aku hanya malas menghabiskan waktu dan tenagaku apalagi
sampai air mataku saat pada waktunya semua fase bunga-bunga cinta berubah
menjadi menyakitkan. Hidupku terlalu berharga untuk hal-hal semacam itu.
Terserah orang nmenyebutku bagaimana. Bahkan aku tak peduli jika kemudian
teman-temanku mengira kau masih trauma dengan cinta monyet masa SMAku yang
kandas karena pria yang kusukai tak mau berbalik menyukaiku karena aku kurang
punya ‘nama’ di sekolah.
Kutatap Ersan sebentar, lalu pura-pura lebih
sibuk mengaduk-aduk lemon tea.
" Aneh tau, biasanya cerewet banget, tapi
ini malah__"
" Tadi pagi aku ketemu Tarinda."
Selaku dingin, menghentikan ucapan Ersan. Aku mendongak dan menemukan Ersan
menatapku lekat dengan sinar yang menurutku begitu aneh.
“Owh,”
Aku tergelak samar.
Owh? Tanggapan macam apa itu?
" Apa kalian akan balikan?" Tanyaku
sedikit menahan nafas.
" Tidak." Jawab Ersan singkat dan acuh,
" Kenapa?"
" Penting ya untuk aku jawab?"
Intonasi Ersan jadi sedikit naik,
" Gak juga sih, cuma Tarinda kan cantik,
baik, sopan, dan yang pasti dia sudah mengenalmu dengan baik." Lanjutku,
kali ini sedikit menahan sesak dadaku.
" Trus?" Sungut Ersan.
"
Dulu, saking ngefansnya aku sama band Padi, Tiap Padi konser Ersan sampai
bela-belain mengajukan diri meliput. Biar dapat foto eksklusif untuk aku."
Kenang Tarinda
Trus,
apa kaitannya denganku coba? Itu kan masa lalu kalian. Dengusku membathin
jengkel.
"
Ohya?" Tanggapku sedikit malas,
"
Bahkan kalo bisa Ersan selalu mencari kesempatan emas agar mereka mau foto
denganku." Tarinda tetap antusias bercerita. " Ersan memang yang
peling mengerti aku"
Kulirik
sedikit ke arah raut muka Tarinda yang cukup berubah drastis.
" Kenapa kalian berpisah?" Tanyaku
datar.
Dan ekspresi yang ditunjukkkan Ersan sangat
berbeda dengan raut muka Tarinda tadi pagi.
“Aku
sudah sangat mengecewakannya. Dia sudah berulang kali memohon agar aku tidak menerima
tawaran ke Paris itu. Tapi… Paris adalah impianku sejak terjun di dunia model,
jadi aku tak mungkin mengacuhkannya saat kesempatan itu datang. Meski Ersan
kecewa, tapi aku yakin dia bisa memaklumi itu.” Ulas Tarinda dengan ekspresi
wajah yang berubah-ubah. Sudah mirip dengan pendongeng di Taman bermain
anak-anak dekat rumahku.
“Jadi
setelah aku sukses aku kembali, kuharap 2 tahun tak terlalu lama untuk Ersan
menungguku.” Kali ini Tarinda seperti berharap penuh akan hati yang sudah 2 tahun ditinggalkannya masih dengan
lapang dada menerima kembalinya dia.
" Apa itu penting untuk kamu tau?"
Desis Ersan ketus.
Kuhindari tatapan geram yang tak kusukai
itu.
Awal bekerja bersama dengan Ersan banyak hal
yang kubuktikan kebenarannya tentang berita tentangnya yang sudah cukup kenyang
kudengar dari berbagai mulut. Ersan yang judes, Ersan yang angkuh, Ersan yang
tak suka dengan alasan, dan Ersan yang nyaris tak mengenal apa itu senyum
apalagi tawa.
" Tidak juga, aku hanya heran saja. Kalau
kalian putus karena kamu tak mencintainya lagi, tak mungkin kamu meratapinya selama
ini." Dengusku kesal, entah kesal karena apa. Mungkin sisi nurani sedikit
tersinggung karena ternyata Ersan mau dekat dan baik padaku karena aku punya
banyak kesamaan dengan wanita yang dicintainya di masa lalu.
" Hei___" Sergah Ersan
" Dan___" Kuangkat tanganku
mencegahnya bicara "___kalo Tarinda yang tak mencintaimu lagi, kenapa juga
dia masih mengingat semua kenangan kalian?"
Ersan menatap lekat ke arahku, membuatku
tiba-tiba rikuh.
" Percintaan tak segampang itu Di. Kamu gak
akan mengerti."
Aku tergelak.
Oke, aku memang masih nol besar soal
percintaan. Aku tak pernah berpacaran sampai berumur hampir 25 tahun ini,
istilah kasarnya. Aku terlalu menjaga jarak dengan kawasan yang disebut cinta.
Bukan soal aku tak punya pengalaman dalam cinta. Aku memang sejak dulu tak suka
berurusan dengan yang namanya cinta.
Hingga saat kemudian dekat dengan Ersan aku
seperti melupakan kebiasaanku yang tak suka berurusan dengan yang namanya hati.
Aku mencoba bermain hati dengan pria ini.
Aku lupa dengan komitmen dan persepsiku yang sudah sejak dulu kupercayai
bahwa bermain hati itu hanya akan banyak menguras tenaga dan air mata.
"
Aku ingin kembali pada Ersan."
Statemen
lugas tadi pagi itu benar-benar seperti asamnya rasa lemon tanpa campuran gula.
"
Aku sadar aku pernah mengecewakannya karena meninggalkannya disini demi
karierku, tapi kemudian aku sadar bahwa aku salah, karena tak ada yang bisa
mengerti aku sebaik Ersan."
Dan curahan hati Tarinda tadi pagi
menyadarkanku bahwa mungkin selama ini aku terlalu naif pada semua sikap Ersan.
Mungkin saja dia melihat sosok Tarinda dalam kesukaanku. Bodohnya aku. Naifnya
pikiranku yang berfikir Ersan benar-benar jatuh cinta denganku.
Tapi.....Kenapa Ersan seperti tak suka dengan
kepulangan Tarinda? Apa karena aku?
Heiii.....???! Hardikku sendiri, dan itu
membuatku spontan tergelak bodoh.
Aku siap-siap beranjak.
" Kamu mau kemana? Kamu marah dengan
sikap dan kata-kataku tadi?" Berondong Ersan seperti usaha mencegahku pergi.
Aku diam sebentar, lalu mendesah meletakkan
tasku lagi.
Ersan memang terkenal dengan mulut pedasnya.
Ibaratnya dia jarang bicara, jarang berkomentar dengan apapun, tapi sekali
ngomong kebanyakan akan membuat orang tersinggung, sakit hati, dan menyesal
bicara dengannya. Meski dari semua reaksi itu tak ada yang dipedulikan Ersan.
" Dengar Er, aku masih tak mengerti
alasan Tarinda menemuiku. Dia cerita semua kenangan kalian, dan dia juga
katakan padaku tentang niat dia yang ingin kembali padamu. Aku benar-benar tak mau
peduli itu semua." Geramku,
Ersan menatapku lekat, dengan sinar yang tak
bisa kuterka mengartikan apa.
" Aku hanya tak suka aku dilibatkan dalam
masalah kalian. Aku malah sadar satu hal, kalo aku
ini hanya kamu jadikan
bayang-bayang Tarinda karena kesukaan kami yang sama. Dan aku benar-benar tak
menyukainya." Lanjutku makin geram.
" Dian, aku...." Susul Ersan, tapi
kemudian suaranya menghilang begitu saja.
Aku merasa ada perasaan aneh yang ingin
diungkapkan Ersan, sangat aneh. Bahkan aku tak mengenali namanya.
" Aku tak mungkin lagi bersama
Tarinda." Lanjut Ersan sedikit lirih sedikit menunduk.
2 bulan dekat dengan Ersan ternyata tak cukup
membuatku mengerti jalan pikirannya, meski hanya sedikit saja. Ersan
memang pribadi yang misterius, tak banyak bicara. Tapi aku tak menyangka banyak
sisi hatinya yang tak terjamah oleh orang lain.
Dia memang kupikir sudah menjadi pribadi yang
menyenangkan saat kami sedang ngobrol, entah membahas pekerjaan atau sedang
bicara yang lain. Tapi saat sendiri, dia kembali menjadi Ersan yang sebenarnya.
Dia dengan dunianya yang tak pernah terjamah dan diperbolehkan dijamah
siapapun.
" Er, aku tak pernah ingin jadi orang
ketiga diantara kalian. Aku hanya orang baru yang tak sengaja lewat dalam
kehidupanmu. Aku tak pernah sengaja punya kesukaan yang sama persis dengan
Tarinda. Maaf kalo semua tentang aku mengingatkanmu pada Tarinda, aku
benar-benar___"
" Dian, ini bukan tentang dia."
Sergah Ersan dengan intonasi yang tinggi.
Mataku pun lekat menghujam pandangannya yang
juga menatapku lekat. Menyiratkan ketidaksukaannya, entah pada apa.
" Aku juga tak pernah berharap kau punya
kesukaan yang sama dengan dia. Awalnya aku juga tak bisa terima itu. Tapi
percayalah, semua ini bukan tentang dia. Aku merasa nyaman dekat denganmu juga
bukan karena kamu juga menyukai lemon tea. spagetti, bahkan juga bukan karena
kau fans Padi. Bukan, Di." Aku Ersan dengan suara tertahan.
Aku tergelak sedikit tak percaya, karena
selama ini seperti dipermainkan kehidupan. Aku tiba-tiba menjadi benci dengan
ksukaanku selama ini. Lemon tea yang kusukai karena bagiku rasanya yang nyaris
sama dengan rasa kehidupan yang penuh asam-manis tapi secara keseluruhan sangat
menyegarkan untuk dinikmati; Spaggeti yang kusukai karena aku memang menyukai
rasanya ketimbang rasa mie kebanyakan; dan Padi, aku menyukai band senior itu
karena lirik-lirik lagunya yang terkesan tidak bertele-tele dan mereka punya
filosofi yang unik dengan nama band-nya yang begitu sederhana.
Aku tak pernah menyangka semua kesukaanku itu
juga milik seorang Tarinda yang sangat dicintai Ersan meski di masa lalu. Andai
aku tau Ersan punya chemistry dengan
semua itu aku tak mungkin akan menunjukkannya pada Ersan, bahkan kalo perlu aku
tak perlu mengakrabkan diri terlalu akrab dengannya biar dia tak perlu tau apapun
tentang kesukaanku itu. Biar dia tetap menjadi sosok yang dingin dan tak
terjamah seperti kodratnya. Dan biar aku juga tetap pada posisi tak ingin
bermain hati.
" Di...Kamu tau kan makna dari
namamu?"
Aku mengerutkan dahi.
" Dian artinya cahaya, lentera, dan kamu,
kehadiranmu seperti cahaya untuk duniaku. Aku memang terpuruk dengan kepergian
Tarinda dulu. Dan memang terlalu lama meratapi semuanya di sudut duniaku yang
gelap. Tapi sapaanmu 2 bulan lalu itu menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tidak
hanya pada Tarinda. Apa aku salah?" Lanjut Ersan membuatku terbengong tak
bisa berfikir.
" Kamu tak merasa ini terlalu konyol?"
Tanyaku akhirnya
Ersan tak menjawab, hanya mendesah panjang.
" Tarinda meninggalkanku karena ingin menjadi
model terkenal. Dia bahkan tak peduli perasaanku waktu itu. Dia hanya peduli kebahagiaannya
saat mendapat kesempatan itu. Baginya cinta hanya selingan, tak begitu penting.
Apa aku harus menerima lagi orang yang sudah meninggalkanku? Yang
menganggapku tak begitu penting?"
" Lalu kenapa aku? Apa karena kami punya
banyak kesamaan?"
" Tidak."
" Lalu?"
" Apa itu penting?"
" Cukup penting, paling tidak bagiku.
Karena aku tak mau dianggap seperti bayang-bayang Tarinda."
" Harus berapa kali lagi kubilang, ini
bukan tentang dia, Di!"
Aku diam. Menikmati sisa kemarahan Ersan yang
tadi sempat membuyar.
" Kenapa begitu banyak hal yang kamu
sembunyikan dalam hidupmu, Er? Kenapa banyak sudut dalam kehidupanmu yang
begitu tak terjamah orang lain? Aku bahkan lebih bisa memahami Tarinda yang
baru kukenal tadi pagi daripada kamu yang sudah 2 bulan akrab denganku.”
Apa aku mengeluh? Rasanya menggelikan
mengeluhkan hal ini dihadapan Ersan ketika aku sendiri berfikir tak mau
berharap apapun tentang keakraban kami selama 2 bulan ini.
Selamat, Dian, kamu sudah secara sengaja
bermain hati saat kamu benar-benar berteriak ingin menjauhinya.
" Kadang ada beberapa hal yang tak perlu
dijelaskan dengan kata-kata yang jelas. Karena semua bisa diperjelas seiring
berjalannya waktu. Untuk saat ini kamu hanya cukup tau, kamu jauh lebih berarti
untuk hidupku daripada Tarinda. Dia hanya masa lalu. Dan kamu, aku ingin kamu
jadi masa depanku."
Tak sadar aku tersenyum mendengar penuturan
Ersan barusan.
Oh, hati, bisakah kamu tak mempermainkanku?
'' Tak apa kan kalo masa depan yang akan kita
tuju belum begitu jelas?'' Tanyanya seperti takut sebuah keraguan melandaku.
Aku nyaris tersenyum setuju, sebelum kemudian
wajah cantik Tarinda melintas.
Kembali menjelaskan tentang kesukaanku dan
kesukaan Tarinda yang sama.
" Lalu Tarinda?" Tanyaku membuat
raut muka Ersan sedikit memburam.
" Dia yang memutuskan meninggalkanku ,
aku tak punya kewajiban memikirkan bagaimana dia selanjutnya."
" Kamu kejam sekali."
" Apanya yang kejam?" Ersan tak
mengerti dengan tuduhanku.
" Tak peduli Tarinda."
Ersan tergelak, "Aku bukan Tuhan
yang harus selalu peduli perasaan semua orang. Aku juga punya kehidupan yang
tak mungkin dipikirkan orang lain. Hidup itu memang penuh keegoisan Di."
Aku termangu lagi. Tapi kali ini lebih lama.
Banyak hal yang tak kumengerti dari Ersan.
Aku mengerti Ersan kecewa dengan sikap Tarinda
dulu yang meninggalkannya karena lebih mementingkan karier. Tapi benarkah Ersan
benar-benar sudah melupakan Tarinda? Bahkan sejak bersamaku setiap kali sampai
pada kesukaanku, dia selalu berbinar. Ada kebahagiaan tersendiri akan tiga hal
yang sangat berkaitan erat dengan Tarinda. Dan sejak tadi pagi—yang mungkin
akan menjadi seterusnya—hal itu akan sangat membuatku tersinggung jika masih
tetap bersikeras bersama Ersan.
" Er, aku__" Kutata hatiku sejenak
"aku tak bisa." Lanjutku bangkit.
Ersan sontak kaget.
" Maaf, tapi kamu sendiri kan yang
bilang, percintaan tak segampang itu. Aku tak mempermasalahkan masa depan yang
akan kita tuju belum jelas, karena memang tak ada yang tau apa yang akan
terjadi nanti. Tapi aku justru takut tak bisa memahamimu sampai kapanpun.
"Aku
bahkan tak mampu memahami apa artiku yang sebenarnya bagimu.''
Sepi beberapa detik, mungkin Ersan sedang
menggerutu dalam hati.
" Tarinda yang merasa sangat memahami
dirimu pun akhirnya menyerah, meski dengan jalan yang terpilih. Yang tak bisa
kamu terima. Sedang aku, sedikitpun aku tak bisa memahamimu Er. Aku tak mau
memaksakan diriku mencoba memahami banyak sisi hidupmu yang kamu rahasiakan, karena
aku tau pada akhirnya aku pun pasti menyerah seperti Tarinda. Aku ataupun
Tarinda, bukan orang yang kamu percaya boleh memasuki duniamu yang sangat
istimewa itu Er."
Ersan tergelak sinis
" Ini tidak adil Di. "
"Maksudmu aku kejam?" Ralatku, "Bukan maksudku membuat karma untukmu Er. Tidak, itu bukan hakku, karena aku
hanya manusia bukan Tuhan. Aku hanya tak punya kewajiban memikirkan perasaan
orang lain sememntara aku mengorbankan perasaanku. Bukankah katamu hidup itu
penuh dengan keegoisan? Cinta memang bukan sebuah penjelasan tapi saat cinta
terlalu menjadi misteri yang ada malah kebingungan. Proses memang penting tapi
tujuan tak kalah penting. Apa jadinya kita berjalan jika tak jelas maksud dan
tujuannya?"
Bungkam, Ersan tak menanggapi semua
'ceramahku' yang sebagian besar sebenarnya berasal dari ucapannya sendiri.
Aku tak suka bermain hati, apalagi pada hati
yang terlalu banyak misteri.
Aku perlahan beringsut meninggalkan tempat itu
tanpa berkata lagi pada Ersan yang seperti sibuk menelaah semua kata-kataku.
Mungkin aku memang terlalu kejam,
biarlah. Tapi kadang memang ada beberapa
hal yang tak perlu penjelasan karena seiring waktu berjalan akan menjadi jelas
dengan sendirinya. Kelak Ersan akan tau kenapa aku bersikap begini. Tapi yang
pasti aku menolak semua ini bukan karena kedatangan Tarinda. Kedatangan
perempuan cantik itu hanya sesuatu yang memperjelas alasanku untuk tetap tak
main-main mencoba bermain hati. Aku belum siap merasakan patah hati.
Seperti halnya lemon tea, asam yang bercampur
manis, manis yang terbalut asam. Mungkin begitulah sebenarnya jabaran dari
percintaan. Tapi aku tak suka bermain hati apalagi cinta.
Winwin_Windarti
Revisi "Bukan Tentang Dia"
Smg, 24/07/2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar