Sabtu, 26 Agustus 2017

Dunia Maya- Part 11



Masih seperti dua jam lalu sejak membalikkan tubuhnya dari TKP ditemukannya kerangka tubuh Dokter Hasan, Saddham hanya diam dan nyaris tanpa ekspresi. Benar-benar sudah seperti prajurit kalah perang yang sepanjang hidupnya meratapi nasib kenapa bisa kalah. Lima menit lalu Dokter Wildan mengirim massenger padaku bahwa kerangka korban sudah dibawa ke rumah sakit dan sedang menungguku karena selain punya PR menyatukan kerangka tubuh Dokter Hasan, ada dua mayat lagi yang menunggu untuk di otopsi.
"Kamu pergilah, aku bukan anak kecil yang harus ditunggui. Aku baik-baik saja." Ucap Saddham yang ternyata cukup memperhatikanku yang sejak tadi beberapa kali memegang ponsel untuk membalas massengger dari Dokter Wildan.
"Besok saja aku menyusul untuk mengambil hasil otopsi kalian." katanya menatapku dengan pandangan yang nanar. Jauh sekali dari mata legam yang selama ini aku lihat. Dia benar-benar makin mirip Song Jong Ki saat syuting adegan desperate-nya di Innocent Man. Salah satu scene yang membuatku tak rela kenapa harus ada laki-laki yang begitu hancur hanya karena cinta yang tak patut diperjuangkan. Kini malah kulihat dalam nyata  dalam konteks yang berbeda ala Saddham.
"Kamu mau berendam air hangat? Akan kusiapkan." Aku bangkit tanpa meminta persetujuannya dulu melangkah menuju kamar mandi dan mempersiapkan air hangat dalam bathtub, seperti yang dilakukannya semalam untukku.
Paling tidak aku menyediakan hal yang bisa membuatnya rileks sebelum kutinggalkan untuk kembali bekerja.
Setelah persiapan berendam selesai, yang sepertinya memang sering dilakukan Saddham—mungkin untuk mengatasi rasa lelah dan jenuh usai bekerja—karena alat dan perlengkapan essense aromateraphy sampai lilin aromateraphy sudah tersedia cukup banyak di laci kamar mandi, aku keluar. Bersamaan dengan ponsel di kantong celanaku bergetar. Tertera nomor Papa.
Ah, iya, aku sampai sedikit lupa memikirkan nasib keluargaku. Pasti Mama dan Papa sudah sampai tadi malam. Meski aku sudah meninggalkan pesan di messenger Papa dan mungkin juga sudah ditambah dengan pernyataan Kak Madha, Papa tetaplah orang tua yang selalu memantau keberadaan anak-anaknya.
"Iya, assalamulaikum, Pa?" kataku pelan, tapi tetap saja mampu membuat Saddham mendongak ke arahku.
"Benarkah? Arthur sudah ditemukan? Alhamdulillah..." kali ini aku setengah tak sadar setengah memekik saking leganya akhirnya keponakanku sudah ditemukan.
"Iya, Pa, nanti Maya mampir. Maya juga sedang ditunggu senior Maya di rumah sakit. Hmm, assalamualaikum." Dan saat kuakhiri pembicaraan aku disuguhi sepasang mata yang menatapku lekat, membuatku salah tingkah.
"Pergilah." Katanya
Aku tergelak, "Itu terdengar seperti sedang mengusirku." Lirihku terkesan sedih, tapi malah membuatnya gantian tergelak. Hal yang sejak tadi menghilang dari wajahnya. "Airnya sudah siap, jadi berendamlah. Kita impas kan? Semalam kamu yang menyiapkan untukku, sekarang gantian aku yang menyiapkannya untukmu." Lanjutku lebih ringan.
Saddham mengangguk pelan, "Terimakasih."
Rasanya memang berat hati dan berat langkah memutuskan meninggalkannya dalam keadaan begini. Tapi ada hal-hal yang juga membutuhkanku. Disitu aku merasa ingin menjadi amoeba saja hingga bisa membelah diri biar sebelah ada disini dan sebelah lagi kembali ke rumah sakit.
Kuperhatikan lagi Saddham yang masih duduk terpekur di sofa sebelum aku benar-benar menutup pintu apartemennya. Aku mendesah berat.
Owh, kenapa aku jadi begitu peduli dan khawatir dengan Saddham?
***
Setelah taksi yang kutumpangi berhenti aku langsung turun dan berlari memasuki gedung apartemen megah itu. Tadi saat aku baru menyelesaikan mengotopsi mayat terakhir yang hari ini mampir ke kamar mayat, Banyu tiba-tiba sudah menjulang di hadapanku dan bilang kalo aku harus secepatnya kembali ke apartemen Saddham. Bahkan aku harus meninggalkan Dokter Wildan yang masih belum menyelesaikan pekerjaannya dengan kerangka tulang Dokter Hasan. Dokter Wildan mencoba memahami itu.
"Aku juga sudah tak punya orang tua, tapi aku tak bisa mencoba membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang tua dengan cara seperti ini. Yang pasti Saddham pasti sangat terpukul. Dia pria yang baik, jadi pergilah! Dia jauh lebih membutuhkanmu." Begitu kata Dokter Wildan saat kukatakan Saddham bisa saja akan semakin merusak dirinya akibat depresi yang dialaminya.
Sejak Banyu menemuiku di bangsal psikiatri untuk menemui Mama dan Papa yang menemani Arthur menjalani terapi, aku menyuruh Banyu untuk menengok Saddham di apartemen. Aku hanya khawatir Saddham terlalu memikirkan rasa menyesalnya yang telah membenci Papanya selama belasan tahun dan membuatnya melakukan hal-hal diluar nalar.
Dan ternyata dugaanku tak sepenuhnya salah. Kata Banyu, Saddham berendam selama berjam-jam dan bahkan sempat menenggelamkan diri di bathtub.
Kutekan beberapa kali tombol bel di depanku. Kuharap Saddham masih bisa mengajak tubuhnya untuk menanggapi bunyi bel pintunya. Sebelum kutekan lagi bel di depanku, perlahan pintu terbuka. Dan seraut wajah desperate Song Jong Ki KW langsung menatapku malas.
"Kenapa datang lagi?" tanyanya membalikkan tubuhnya, tapi masih bisa kucium aroma nikotin menyeruak diantara suaranya. Bahkan dia hanya mengenakan bedrobe putih. Itu berarti selama kepergianku setengah hari lebih dia tak melakukan apapun selain mandi.
"Aku mengkhawatirkanmu." Aku mengikuti langkahnya.
Saddham tergelak disela langkah tak bersemangatnya, "Bukannya tadi pagi aku sudah bilang kalo aku bukan anak kecil yang harus ditunggui?"
Aku terpaku dua detik mendapati meja di depan tivi penuh dengan kaleng minuman soda. Berserakan dimana-mana. Saddham menghempaskan tubuhnya ke sofa, tak jauh dibawah sofa dekat meja ada asbak yang penuh dengan puntung rokok dan bahkan ada satu yang masih mengepul tanda belum lama diletakkan disitu.
"Jadi seharian ini yang kamu lakukan?" geramku.
Saddham acuh dan malah meraih sebatang rokok didekatnya, korek api sudah dipegangnya lebih dulu. Terpaksa aku mengambil rokok yang menyelip diantara bibirnya dan membuangnya asal.
"Kenapa merusak dirimu sendiri? Hah?" Kegeramanku sudah berubah menjadi marah.
Saddham tetap acuh dengan amarahku. Kuhempaskan tubuhku tak jauh dari tempatnya duduk, lalu kuputar pundaknya agar tubuhnya bisa lebih menghadapku.
"Apa begini, Saddham yang kukenal selama ini? Aku memang tak tau rasanya kehilangan orang tua, apalagi dengan cara yang tragis begini, tapi...." Belum sempat aku menghabiskan ceramahku tiba-tiba saja Saddham membungkam bibirku dengan ciuman yang kasar. Sekalipun saat ini dia hanya memiliki setengah tenaga dari biasanya, tapi tetap saja aku kesulitan berontak meski aku masih berusaha sekuat tenaga. Rasa pahit dari aroma nikotin membuatku makin berusaha menjauhkan tubuhnya yang nyaris menghimpitku.
Dan pada akhirnya aku mampu menghempaskan tubuhnya ke ujung sofa seiring aku berdiri menjauh.
"Aaaaakkhhhh... kenapa kamu malah bertingkah seperti bajingan?!" Suaraku naik beberapa oktaf meski belum bisa dikategorikan sebagai teriakan.
"Kalopun kamu sudah tak menyayangi dirimu sendiri, paling tidak pikirkan satu hal. Diluar sana, pembunuh Papamu masih berkeliaran dengan bebas. Dan akan sangat bahagia jika kamu, satu-satunya orang yang seharusnya memikirkan cara untuk memenjarakannya malah merusak dirimu sendiri dengan hal-hal tak berguna begini!"
Yang ada Saddham malah tergelak getir, seperti menahan tangis dan tawa secara bersamaan.
"11 tahun lebih aku membencinya. Kalopun aku mengharapkan kedatangannya suatu saat, aku hanya ingin mencaci dia sepuasnya karena telah menelantarkanku selama ini. Tapi...mengetahui kalo ternyata..." Saddham seperti tak mampu meneruskan ucapannnya.
Aku makin iba melihat keadaan Saddham. Perlahan wajah itu menegak, mengambil nafas panjang.
"Kamu benar, May, aku harus menemukan pelakunya." Saddham bangkit segera, membuatku sedikit bernafas lega dan melebarkan garis bibirku. Tapi saat melihat Saddham meringis kesakitan memegangi dadanya, aku berubah panic.
"Dham..." Aku mendekat, wajahnya dengan ceoat berubah memucat dengan keringat dingin yang mulai membasahi keningnya.
Saddham terlihat makin menahan sakit pada dada yang dipeganginya. Dan sebelum aku sempat bertanya apalagi melakukan apapun, tubuh Saddham malah perlahan meluruh jatuh.
"Dhaaam... SADDHAM!!" Kali ini aku benar-benar berteriak.
***
Aku terdiam menatap mata terkatup itu. Tetes cairan infus dan berbagai alat yang seperti berlomba menghasilkan irama paling nyaring tetap kucoba kuacuhkan. Bahkan aku juga ingin mengacuhkan beberapa sosok yang sejak kedatanganku dengan ambulance tadi sudah berusaha mendekatiku. Aku bersyukur Banyu selalu disisiku hingga mereka hanya berusaha tapi tak pernah berhasil mendekat. Banyu cukup ampuh menjadi bodyguard-ku.
Sejak dulu aku tak begitu suka suasana ruang UGD, apalagi setelah memiliki kemampuan seperti ini. Aku makin tak menyukai suasana mencekam ruang UGD. Tapi untuk memindahkan Saddham ke ruang perawatan, asam lambungnya harus benar-benar stabil dulu.
Ya, tadi Saddham mengalami lonjakan asam lambung. Perut yang kosong sejak pagi, dan hanya diisi minuman berkarbonasi dan asupan nikotin membuat asam lambung meningkat cepat, menstimulasi endapan asam lambungnya yang sudah-sudah. Untung semua belum begitu parah. Setelah ini sepertinya aku perlu membimbingnya untuk melakukan pola hidup yang lebih sehat.
Eh, apa tadi? Membimbingnya? Siapa aku mau mengajukan diri untuk membimbingnya?
Mata yang terkatup sejak di apartemen hingga hampir 2 jam itu akhirnya perlahan mengerjap, sedikit mengerang mungkin karena masih merasakan sakit dan panas di dada dan lambungnya.
"Akhirnya bangun juga." Kataku datar, meski sebenarnya aku sangat bahagia melihat dia siuman jika teringat bagaimana cemasku saat tadi dia tiba-tiba pingsan tadi.
"Aku dirumah sakit ya?" tanyanya memegangi kepalanya.
"Hmm, tadi kamu tiba-tiba pingsan.. Asam lambungmu meningkat drastis. Itu pasti gara-gara kebanyakan rokok dan minuman soda."
Saddham malah seperti menertawakan ucapanku. Padahal kupikir tak ada bagian yang lucu.
"Jadi mulai sekarang, kurangi, kalo bisa jauhi dua hal itu!" tegasku, tak peduli Saddham menatapku seperti protes. "Bukan karena aku peduli padamu, tapi karena kamu harus tetap hidup untuk menemukan pembunuh Papamu."
Saddham malah mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sepi beberapa detik. Aku mendesah panjang.
"Berjanjilah padaku satu hal." Saddham masih belum mengalihkan pandangannya meski aku sudah mengawali untuk mengakhiri kesepian kami, "Berjanjilah kamu akan hidup lebih baik, demi Papamu yang sangat bangga memiliki putra sepertimu."
Akhirnya Saddham mengarahkan pandangannya padaku lagi.
"Aku berjanji pada diriku sendiri, akan mencari pelaku pembunuhan Papaku. Aku harus tau kenapa dia melakukan hal sekeji itu pada Papaku. Karena yang kutau Papa bukan orang yang jahat. Dia laki-laki yang baik."
Sial! Aku benar-benar ikut terhanyut suasana melankolis ini. Melihat anak dan bapak yang begitu saling menyayangi tapi terpisah sebuah dimensi yang membuat mereka tak bisa mengungkapkan secara langsung rasa mereka. Tapi aku tau, baik Saddham maupun Dokter Hasan—yang sejak tadi berdiri di sebelah ranjang Saddham, tepat di depanku, sama-sama bisa bernafas lega setelah 11 tahun lebih terkungkung dalam rasa yang tak seharusnya.
Aku tersenyum seraya meraih jemari tangannya yang terbelit selang infus. Sekedar memberinya sebuah kepercayaan diri.
"Owh, sudah siuman?"
Aku menoleh ke arah suara itu, seorang perawat mendekat.
"Kita periksa kondisinya dulu, baru diputuskan dipindah ke kamar perawatan atau disini dulu." Perawat tadi mengambil alat pengukur tekana darah dan memasangkannya ke lengan Saddham.
"Bisa langsung pulang saja, Sus?"
Aku tergelak mendengar pertanyaan Saddham yang sudah seperti rayuan maut untuk perawat muda nan anggun itu. Ah, sesaat aku teringat Mbak Anggun, apa dia sudah siuman? Kenapa masalah datang bersamaan begini?
"Kenapa tertawa?" tanya Saddham menatapku heran.
"Menertawakanmu. Karena kamu akan ditahan di sini paling tidak 2-3 hari."
"Apa harus selama itu?"
"Ya makanya jangan terlalu akrab sama nikotin, soda dan apapun yang enak tapi praktis. Yang enak tapi praktis itu sudah pasti gak sehat." Kulipat kedua tanganku, merasa puas bisa menceramahinya.
"Ck, dasar jiwa dokter!" dengusnya membuat perawat yang sejak tadi memeriksa kondisi Saddham tak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Oke, sudah cukup stabil. Kami akan siapkan kamarnya dulu." Perawat tadi angkat bicara.
Aku bangkit dari dudukku, "Oke kalo sudah dipindahkan aku bisa menemui Dokter Wildan lagi."
"Meninggalkanku sendirian?" Saddham seperti kaget.
Alisku bertaut, "Kenapa jadi anak kecil? Bukannya sejak tadi pagi, kamu bilangnya bukan anak kecil yang harus ditunggui? Waktu aku pergi tadi Dokter Wildan belum selesai. Lagian kita juga masih dalam satu rumah sakit jadi kalo kamu tiba-tiba butuh sesuatu bisa menghubungiku."
"Sengaja ya membawaku ke sini? Biar gampang gitu?" selidik Saddham/
Aku meringis membenarkan. Saddham tergelak lemah.
***
Pekerjaan mengotopsi kerangka jenasah Dokter Hasan sudah selesai, Dokter Wildan juga sudah menulis rinciannya. Semalaman kami menganalisa semuanya. Kedua tangan Dokter Hasan dipotong dengan benda tajam yang besar, kemungkinan pisau besar atau sejenis pedang. Yang pasti benda itu sangat tajam hingga hanya butuh satu sabetan saja antara tulang belikat dan tulang humerus bisa terpotong dengan sempurna. Hampir tak terlihat kerusakan pada tulang air mata, tulang rahang atas dan tulang rahang atas. Padahal aku tau betul kalo kedua mata Dokter Hasan sudah tidak ada. Lidahnya pun terpotong. Tapi tulang rusuk mengalami kerusakan yang parah, menegaskan ucapan Banyu kala itu yang mengatakan jeroan Dokter Hasan yang diambil. Kemungkinan jantung, hati dan ginjal. Anehnya kerusakan tulang rusuk sangatlah rapi. Bukan seperti kerusakan yang jika dilakukan orang awam. Kerusakan itu seperti dilakukan orang professional. Ini sudah seperti penculikan yang disertai pengambilan organ tubuh untuk kemudian dijual ke black market.
Apa ini berarti Dokter Hasan dibunuh oleh sesama dokter?
"Ayo kita temui Saddham. Aku tak berani menyerahkan hasil otopsi ini sendirian tanpa kamu." Dokter Wildan melangkah keluar dari ruang kerja kami.
"Kenapa?" kernyitku tak mengerti.
Dokter Wildan menatapku penuh arti, "Karena kalo nanti dia shock, ada kamu yang bisa memberinya kekuatan."
Aku terbahak, "Maksudnya?" Aku benar-benar tak mengerti maksud omongan seniorku ini.
Dokter Wildan melangkah lagi, "Aku sudah tau sejak melihat kalian berdua bersama pertama kali. Kalian itu saling jatuh cinta, hanya tidak menyadarinya saja."
Glek!
Aku sampai terbatuk dengan tebakan Dokter Wildan. Dan itu makin membuat dokter Wildan tersenyum menggoda.
Bisa gila aku kalo diperlakukan begini. Dan aku memilih berusaha mengacuhkannya saja. Toh, tak akan ada gunanya aku mempercayai omongan Dokter Wildan. Aku tak mau kecewa seperti saat aku menyangka perhatian-perhatian kecil Dokter Wildan waktu itu. Tapi pada akhirnya kenyataan menunjukkan kalo Dokter Wildan sudah memiliki orang yang sangat dicintainya.
Lalu Saddham? Siapa yang tau kalo dia ternyata juga sudah punya orang yang dicintai? Kami benar-benar dekat juga baru kemarin. Itupun karena insiden yang menimpa Mbak Anggun dan Arthur. Itu juga karena kebetulan Saddham sedang bersamaku.
"Hei!"
Aku kaget dengan seruan Dokter Wildan yang menatapku.
"Apa kita perlu mencari buah tangan dulu?" lanjut Dokter Wildan bertanya.
Aku tergelak karena ternyata kami sudah ada di depan pintu kamar perawatan Saddham.
"Apa Dokter sengaja mengejekku?" sungutku tak suka, lalu membuka pintu kamar di depan kami.
Langsung terlihat Saddham duduk selonjoran di atas ranjang sedang menonton acara berita di tivi. Wajahnya sudah terlihat lebih baik dari terakhir aku tinggal kemarin malam. Pasti semalam dia bisa tidur dengan nyenyak meski mungkin dengan bantuan sedikit obat tidur dalam obatnya. Jatah sarapannya sepertinya juga sudah disantapnya.
"Selamat pagi, kawan. Bagaimana kondisimu pagi ini." Sapa Dokter Wildan.
"Baik, terimakasih sudah menyempatkan menjenguk." Saddham memiringkan kepalanya melihat ke arahku.
"Kalian semalam lembur?" tanyanya, matanya seperti focus ke arahku.
"Bagaimana bisa tau?" selidik Dokter Wildan.
Aku menyadari sesuatu. Bajuku. Ah, iya, aku masih memakai baju yang sama. Baju pemberian Saddham. Celana jeans dan kaos panjang warna putih. Owh, ternyata aku bahkan belum sempat mengganti bajuku selama 2 malam. Gila! Sudah seperti tentara yang sedang perang saja.
"Kami tak bisa menunda pekerjaan." Kataku, biar Dokter Wildan tak berfikir yang aneh-aneh dan Saddham juga berhenti mencari tau.
"Ini hasil otopsi kerangka Dokter Hasan." Dokter Wildan menyerahkan map yang sejak tadi dibawanya.
Saddham menerima map itu sedikt meragu, juga sedikit gemetar.
"Lebih baik baca sendiri, aku tak sanggup menjelaskannya secara langsung padamu." Lanjut Dokter Wildan memilih jalan aman.
Saat aku terlalu focus memperhatikan Saddham yang sepertinya sedang sibuk bergelut dengan segala perasaan yang menggulungnya, tiba-tiba...
"MAYA, AWAAAASS....!!!"
Aku tersentak dengan seruan keras suara Banyu yang entah dari sisi mana. Yang pasti aku merasa ada sesuatu yang besar dan kuat dengan cepat menghantam tubuhku hingga aku tersungkur jatuh ke lantai.
"May...!!"
Kini yang kudengar seruan Dokter Wildan dan Saddham yang menanggapi keadaanku. Aku mendongak. Dalam penglihatanku, Banyu seperti mencari sesuatu lalu dengan wajah yang masih panic melihat ke arahku.
Apa itu tadi? Tanyaku pada Banyu.
"Kamu kenapa, May?" Dokter Wildan membantuku berdiri, aku masih sempoyongan.
"Aku tak berani mengejarnya, May, dia terlalu kuat dan cepat. Aku takut kalo aku pergi dia akan datang lagi dan menyerangmu seperti tadi." Banyu masih celingukan dan berwajah tegang.
"Mungkin kamu kecapekan, May." Saddham turun dari ranjang, "Tiduran di sini dulu."
"Eh, mana bisa?" Aku berusaha menolak.
"Apanya yang tak bisa? Lihat wajahmu jauh lebih pucat dari aku?" desis Saddham.
Dokter Wildan mengulum senyum, "Sudah, nurut saja, kamu sepertinya memang kecapekan, May. Kapan terakhir tidur? Sejak minggu siang kan kamu wara wiri tak karuan? Semalam malah ikut lembur juga." Dokter Wildan membantuku melepas jas putihku dan menuntunku naik ke ranjang. "Akan kuambilkan cairan infus." Imbuhnya lagi lalu melangkah keluar dari kamar.
Aku terdiam, memikirkan apa yang tadi menghantamku. Yang pasti itu termasuk makhluk absurd sejenis Banyu. Tapi kenapa begitu kuat? Kenapa begitu mudah melukaiku?
"Lihat, menjaga orang sakit kenapa malah kamu sendiri ikut sakit?" tanya Saddham seperti marah.
Aku mendesah panjang, "Aku tidak sakit." Aku berusaha bangkit. Tapi sebelah tangan Saddham memegang dahiku cukup kuat hingga aku tak mampu melanjutkan usaha bangkitku.
"Kalo kamu berusaha kabur, aku akan menyuruh Dokter Wildan mengikat kaki dan tanganmu juga nanti!" Saddham seperti mengancam.
Aku mencebik. Tak lama kemudian Dokter Wildan datang dengan cairan infus glukosa yang dijanjikannya tadi.
"Kamu bisa istirahat sebentar sambil menghabiskan infus ini."
"Tapi aku harus ke rumah sakit Harapan, Dok, sejak kemarin aku belum melihat keadaan kakak iparku." Dalihku mencoba menolak.
"Nanti saja setelah kamu habiskan infus ini." Perintah Dokter Wildan seperti tak terbantah, karena saat memberi perintah tangannya juga cekatan memasang jarum infus ke punggung tanganku.
Aku mendesah berat.
"Kalo perlu ikat saja tangan dan kakinya, Wil, siapa tau nanti dia mencoba kabur." Sela Saddham membuat tak hanya Dokter Wildan, tapi Banyu pun sampai tergelak tak percaya.
Kalo tak ingat sedang sakit, pasti sudah aku tendang dengan kakiku yang bebas orang di sebelahku ini. Tapi yang terjadi, rasa kantuk malah sepertinya terlalu cepat merasukiku. Harusnya tadi kutanyakan pada Dokter Wildan berapa banyak dosis obat tidur yang terkandung di cairan yang dipasangkan untukku tadi.
"Tenang, aku akan menjagamu selama tidur." Masih sempat kudengar ucapan itu sebelum kantukku benar-benar menguasaiku. Entah suara Banyu atau Saddham. Semua sudah tak ada yang jelas.
***
Tangan kekar dan besar itu masih kuat merangsek hendak mencekikku. Dan aku masih sekuat tenaga melawan. Aku masih belum rela mati tercekik oleh orang yang bahkan tak bisa kutau seperti apa wajahnya.
Kenapa bisa begini? Siapa dia? Kenapa mau mencekik leherku? Apa salahku.
Tapi bukannya tadi aku ada di rumah sakit? Tidur di ranjang Saddham dan dipasangi infus Dokter Wildan? Lalu kenapa aku tiba-tiba seperti ada di ruangan tak jelas begini? Kenapa aku tiba-tiba ada disini? Kalo ini cuma mimpi, kenapa rasanya begitu nyata? Dan mungkin terlalu banyak memikirkan hal lain, pertahananku sedikit goyah.
"Aaakkkhhh...!!" Pekikanku tercekat di ujung tenggorokan akibat dari cengkeraman kuat tangan besar itu pada leherku.
Aku masih mencoba berusaha mempertahankan diri. Kupukuli lengan besar berbalut baju hitam itu.
"JANGAN SAKITI, MAYA!!!!" Seruan keras itu disertai tubuh Banyu yang merangsek diantara tubuhku dan tubuh besar yang bahkan aku hanya setinggi dadanya saja.
Meski usaha Banyu tak berhasil paling tidak tanganku lebih punya tambahan kekuatan untuk terus mencoba berontak. Otakku teringat beberapa ayat Alquran dan aku mencoba melafadzkannya. Diantara usaha Banyu yang terus mencoba melepaskan tangan besar itu dari leherku, tanganku pun tak kalah berusahanya merenggangkan cengkeraman itu dan berhasil.
Aku sampai bangkit dari tidurku diiringi asupan oksigen yang kupaksa sedikit lebih banyak mengisi kembali rongga paru-paruku setelah tadi sempat nyaris kehabisan. Aku bahkan sampai terbatuk-batuk.
"May..." Suara Saddham menyusul diantara deru nafas dan detak jantungku yang masih belum bisa kukendalikan.
"Apa yang terjadi? Aku meninggalkanmu ke kamar mandi tak lebih dari 5 menit." Saddham heran dengan keadaanku yang sudah seperti mandi keringat, apalagi dengan desah nafas yang seperti baru dikejar anjing.
Ternyata tadi cuma mimpi, tapi kenapa begitu nyata? Bahkan leherku...
Kuraba leherku, sakit itu masih sangat terasa.
"May, kenapa leherku lebam begini?" Saddham ikut tertarik dengan keadaan leherku, merabanya dengan mata kaget. "Apa tadi ada yang kesini?" Saddham seakan bukan bertanya padaku, matanya celingukan ke segala penjuru kamar.
Apa yang dicari? Bahkan pintu kamar juga tertutup. Tak ada siapa-siapa selain kami berdua di ruangan ini. Juga Banyu yang tiba-tiba muncul di belakang Saddham dengan keadaan yang hampir sama dengan keadaanku.
"Sori, aku tadi terkecoh mengejarnya keluar. Harusnya aku sudah tau kalo itu hanya akal-akalannya saja." Banyu juga seperti kesulitan mengembalikan keadaan normalnya.
"May..., hei!" Saddham menyadari aku tak focus padannya.
Aku menatap Saddham sebentar. Buru-buru tanganku melepas jarum infus di punggung tanganku. Saddham kaget. Tak kupedulikan dan malah menyingkirkan tubuhnya sedikit agar aku bisa turun dari ranjang.
"May, kamu mau apa?"
"Ada yang aneh, aku harus pergi." Kataku mencari sepatuku di bawah ranjang lalu segera beringsut.
"Hei, hei, kamu belum sembuh betul." Cegah Saddham mencekal pergelangan tanganku.
"Aku tidak sakit, Dham."
"Bahkan lehermu tiba-tiba jadi lebam begitu, kenapa masih bilang tidak sakit?'
Kutatap Saddham lekat, matanya yang legam bening seperti menuntut untuk tunduk oleh perintahnya yang bahkan tak perlu dikatakannya.
Aku mendesah. Tapi kemudian pandanganku ke arah Banyu yang masih ada di belakang Saddham. Menyadari itu, Saddham menoleh.
"May...!" panggilnya setengah memprotes.
"Apa itu seperti yang kupikirkan?"tanyaku tak sadar bertanya langsung, dan nyata.
Saddham kebingungan, Banyu mengangguk pelan.
"Dia sangat jahat. Dan yang pasti ada yang sudah lama mengendalikannya. Itu juga yang membuatnya makin jahat. Makin haus mencelakai orang." Terang Banyu.
"Kenapa, aku?" tanyaku bingung.
Ya, kenapa 'dia' mencelakaiku? Apa salahku? Kalo itu Adrian yang—mungkin sampai pada akhirnya—tak sepenuhnya puas saat Sachy akhirnya meminta maaf dan bahkan mengganti rugi semua biaya operasi dan perawatan Adrian, masih bisa aku maklumi. Tapi ini? Aku bahkan tak tau siapa 'dia'.
"Oke, kamu berbaring saja dulu." Saddham menyadarkanku.
"Tidak, aku harus pergi, Dham!" kulerai tangannya yang masih terbelit selang infus dan bergegas melangkah.
"May, MAYA!"
Tak kugubris seruan Saddham, aku harus mencari tau kenapa 'dia' sangat ingin mencelakaiku. Kenapa dunia yang awalnya sudah sangat merepotkanku kini malah bisa mencelakaiku? Iya kalo manusia yang mencelakai, aku bisa melaporkannya ke polisi. Lha kalo ini? Polisi, TNI, atau bahkan Densus 88 pun tak bisa menolongku.
"Harusnya tadi Wildan benar-benar mengikat tangan dan kakimu!" geram Saddham menghentikan langkahku di koridor rumah sakit yang sedang ramai. Ini sudah beranjak siang rupanya.
Aku mendesah, "Dham, aku tidak sakit, oke?" tuntutku menatapnya lekat.
"Tidak,"
Mataku mengekor ke arah lengan kirinya. "Infusmu kenapa dilepas?" tanyaku sedikit meninggi.
"Infusmu juga kamu lepas."
Aku tergelak. "Dengar, Dham, ada yang aneh denganku sejak tadi, aku harus menemui seseorang, aku..."
"Siapa?" sela Saddham.
Aku terdiam.
Owh, iya, aku mau menemui siapa? Tanyaku sendiri. Aku bahkan tak pernah tau kalo ada orang yang bis atau tentang dunia perhantuan. Apa ustadz? Ah, jangan-jangan nanti aku malah dikira yang tidak-tidak dan malah memasukkanku ke dalam daftar orang yang harus segera dirukyah?
"Aku akan cari tau lebih banyak soal ini. Kamu hanya harus selalu waspada. Jangan pernah lengah, dia bisa menyerang kapan saja." Kata Banyu melerai kebengonganku.
Aku mendesah dan memutuskan duduk di bangku tak jauh dari tempatku berdiri tadi. Kuraba leherku, sedikit perih saat menyentuh bekas cekikan yang kata Saddham tadi terlihat lebam.
"Ayo ke kantin."
Aku medongak mendengar ajakan Saddham.
"Sepertinya kamu juga butuh makan."
Aku melebarkan garis bibirku lalu bangkit, "Hmm, aku memang sedikit lapar."
Kami berjalan bersisihan menyusuri koridor rumah sakit yang dalam pandanganku jauh lebih ramai dari yang terlihat. Mereka berkeliaran sambil mengamatiku dengan tatapan yang beragam. Ingin tahu, menyapa sok akrab, kaget, sampai punya keinginan mendekatiku. Tapi dari semua itu tak ada yang seperti 'dia' tadi.
"Sambil ceritakan sedikit tentang dirimu yang lain." Pinta Saddham memasukkan tangannya ke dalam saku seragam pasiennya.
Aku meliriknya dengan alis menciut. Tapi yang ada sebelah tangan Saddham terulur, jari telunjuk dan jari tengahnya ditempelkan diantara alisku.
"Jangan terlalu banyak berfikir keras, nanti kulitmu cepat keriput."
Aku tak sadar langsung tergelak mendengar lanjutan ucapannya. Hanya tergelak, tak mau berkomentar apapun. Kami hanya meneruskan perjalanan ke kantin rumah sakit.
"Mau kutraktir kopi?"
"Tidak ada kopi, apalagi untukmu. Ingat lambungmu masih dalam masa pemulihan!"
"Ck, dasar jiwa dokter!" Dengusnya.
Kali ini aku tak hanya tergelak, tapi terbahak, bahkan aku sampai perlu membungkam mulutku agar tawaku tak jadi polusi.
***


Demak, 26/08/2017
Winwin_Windarti










Tidak ada komentar:

Posting Komentar