Masih seperti dua jam
lalu sejak membalikkan tubuhnya dari TKP ditemukannya kerangka tubuh Dokter
Hasan, Saddham hanya diam dan nyaris tanpa ekspresi. Benar-benar sudah seperti
prajurit kalah perang yang sepanjang hidupnya meratapi nasib kenapa bisa kalah.
Lima menit lalu Dokter Wildan mengirim massenger padaku bahwa
kerangka korban sudah dibawa ke rumah sakit dan sedang menungguku karena selain
punya PR menyatukan kerangka tubuh Dokter Hasan, ada dua mayat lagi yang
menunggu untuk di otopsi.
"Kamu pergilah,
aku bukan anak kecil yang harus ditunggui. Aku baik-baik saja." Ucap
Saddham yang ternyata cukup memperhatikanku yang sejak tadi beberapa kali
memegang ponsel untuk membalas massengger dari Dokter Wildan.
"Besok saja aku
menyusul untuk mengambil hasil otopsi kalian." katanya menatapku dengan
pandangan yang nanar. Jauh sekali dari mata legam yang selama ini aku lihat.
Dia benar-benar makin mirip Song Jong Ki saat syuting adegan desperate-nya
di Innocent Man. Salah satu scene yang membuatku tak rela kenapa harus ada
laki-laki yang begitu hancur hanya karena cinta yang tak patut diperjuangkan.
Kini malah kulihat dalam nyata dalam konteks yang berbeda ala Saddham.
"Kamu mau
berendam air hangat? Akan kusiapkan." Aku bangkit tanpa meminta
persetujuannya dulu melangkah menuju kamar mandi dan mempersiapkan air hangat
dalam bathtub, seperti yang dilakukannya semalam untukku.
Paling tidak aku
menyediakan hal yang bisa membuatnya rileks sebelum kutinggalkan untuk kembali
bekerja.
Setelah persiapan
berendam selesai, yang sepertinya memang sering dilakukan Saddham—mungkin untuk
mengatasi rasa lelah dan jenuh usai bekerja—karena alat dan perlengkapan essense
aromateraphy sampai lilin aromateraphy sudah tersedia cukup banyak di
laci kamar mandi, aku keluar. Bersamaan dengan ponsel di kantong celanaku
bergetar. Tertera nomor Papa.
Ah, iya, aku sampai
sedikit lupa memikirkan nasib keluargaku. Pasti Mama dan Papa sudah sampai tadi
malam. Meski aku sudah meninggalkan pesan di messenger Papa
dan mungkin juga sudah ditambah dengan pernyataan Kak Madha, Papa tetaplah
orang tua yang selalu memantau keberadaan anak-anaknya.
"Iya,
assalamulaikum, Pa?" kataku pelan, tapi tetap saja mampu membuat Saddham
mendongak ke arahku.
"Benarkah? Arthur
sudah ditemukan? Alhamdulillah..." kali ini aku setengah tak sadar
setengah memekik saking leganya akhirnya keponakanku sudah ditemukan.
"Iya, Pa, nanti
Maya mampir. Maya juga sedang ditunggu senior Maya di rumah sakit. Hmm,
assalamualaikum." Dan saat kuakhiri pembicaraan aku disuguhi sepasang mata
yang menatapku lekat, membuatku salah tingkah.
"Pergilah."
Katanya
Aku tergelak,
"Itu terdengar seperti sedang mengusirku." Lirihku terkesan sedih,
tapi malah membuatnya gantian tergelak. Hal yang sejak tadi menghilang dari
wajahnya. "Airnya sudah siap, jadi berendamlah. Kita impas kan? Semalam
kamu yang menyiapkan untukku, sekarang gantian aku yang menyiapkannya
untukmu." Lanjutku lebih ringan.
Saddham mengangguk
pelan, "Terimakasih."
Rasanya memang berat
hati dan berat langkah memutuskan meninggalkannya dalam keadaan begini. Tapi
ada hal-hal yang juga membutuhkanku. Disitu aku merasa ingin menjadi amoeba
saja hingga bisa membelah diri biar sebelah ada disini dan sebelah lagi kembali
ke rumah sakit.
Kuperhatikan lagi
Saddham yang masih duduk terpekur di sofa sebelum aku benar-benar menutup pintu
apartemennya. Aku mendesah berat.
Owh, kenapa aku jadi
begitu peduli dan khawatir dengan Saddham?
***
Setelah taksi yang
kutumpangi berhenti aku langsung turun dan berlari memasuki gedung apartemen
megah itu. Tadi saat aku baru menyelesaikan mengotopsi mayat terakhir yang hari
ini mampir ke kamar mayat, Banyu tiba-tiba sudah menjulang di hadapanku dan
bilang kalo aku harus secepatnya kembali ke apartemen Saddham. Bahkan aku harus
meninggalkan Dokter Wildan yang masih belum menyelesaikan pekerjaannya dengan
kerangka tulang Dokter Hasan. Dokter Wildan mencoba memahami itu.
"Aku juga sudah
tak punya orang tua, tapi aku tak bisa mencoba membayangkan bagaimana rasanya
kehilangan orang tua dengan cara seperti ini. Yang pasti Saddham pasti sangat
terpukul. Dia pria yang baik, jadi pergilah! Dia jauh lebih
membutuhkanmu." Begitu kata Dokter Wildan saat kukatakan Saddham bisa saja
akan semakin merusak dirinya akibat depresi yang dialaminya.
Sejak Banyu menemuiku
di bangsal psikiatri untuk menemui Mama dan Papa yang menemani Arthur menjalani
terapi, aku menyuruh Banyu untuk menengok Saddham di apartemen. Aku hanya
khawatir Saddham terlalu memikirkan rasa menyesalnya yang telah membenci
Papanya selama belasan tahun dan membuatnya melakukan hal-hal diluar nalar.
Dan ternyata dugaanku
tak sepenuhnya salah. Kata Banyu, Saddham berendam selama berjam-jam dan bahkan
sempat menenggelamkan diri di bathtub.
Kutekan beberapa kali
tombol bel di depanku. Kuharap Saddham masih bisa mengajak tubuhnya untuk
menanggapi bunyi bel pintunya. Sebelum kutekan lagi bel di depanku, perlahan
pintu terbuka. Dan seraut wajah desperate Song Jong Ki KW
langsung menatapku malas.
"Kenapa datang
lagi?" tanyanya membalikkan tubuhnya, tapi masih bisa kucium aroma nikotin
menyeruak diantara suaranya. Bahkan dia hanya mengenakan bedrobe putih.
Itu berarti selama kepergianku setengah hari lebih dia tak melakukan apapun
selain mandi.
"Aku
mengkhawatirkanmu." Aku mengikuti langkahnya.
Saddham tergelak
disela langkah tak bersemangatnya, "Bukannya tadi pagi aku sudah bilang
kalo aku bukan anak kecil yang harus ditunggui?"
Aku terpaku dua detik
mendapati meja di depan tivi penuh dengan kaleng minuman soda. Berserakan
dimana-mana. Saddham menghempaskan tubuhnya ke sofa, tak jauh dibawah sofa
dekat meja ada asbak yang penuh dengan puntung rokok dan bahkan ada satu yang
masih mengepul tanda belum lama diletakkan disitu.
"Jadi seharian
ini yang kamu lakukan?" geramku.
Saddham acuh dan malah
meraih sebatang rokok didekatnya, korek api sudah dipegangnya lebih dulu.
Terpaksa aku mengambil rokok yang menyelip diantara bibirnya dan membuangnya
asal.
"Kenapa merusak
dirimu sendiri? Hah?" Kegeramanku sudah berubah menjadi marah.
Saddham tetap acuh
dengan amarahku. Kuhempaskan tubuhku tak jauh dari tempatnya duduk, lalu
kuputar pundaknya agar tubuhnya bisa lebih menghadapku.
"Apa begini,
Saddham yang kukenal selama ini? Aku memang tak tau rasanya kehilangan orang
tua, apalagi dengan cara yang tragis begini, tapi...." Belum sempat aku
menghabiskan ceramahku tiba-tiba saja Saddham membungkam bibirku dengan ciuman
yang kasar. Sekalipun saat ini dia hanya memiliki setengah tenaga dari
biasanya, tapi tetap saja aku kesulitan berontak meski aku masih berusaha
sekuat tenaga. Rasa pahit dari aroma nikotin membuatku makin berusaha
menjauhkan tubuhnya yang nyaris menghimpitku.
Dan pada akhirnya aku
mampu menghempaskan tubuhnya ke ujung sofa seiring aku berdiri menjauh.
"Aaaaakkhhhh...
kenapa kamu malah bertingkah seperti bajingan?!" Suaraku naik beberapa
oktaf meski belum bisa dikategorikan sebagai teriakan.
"Kalopun kamu
sudah tak menyayangi dirimu sendiri, paling tidak pikirkan satu hal. Diluar
sana, pembunuh Papamu masih berkeliaran dengan bebas. Dan akan sangat bahagia
jika kamu, satu-satunya orang yang seharusnya memikirkan cara untuk
memenjarakannya malah merusak dirimu sendiri dengan hal-hal tak berguna
begini!"
Yang ada Saddham malah
tergelak getir, seperti menahan tangis dan tawa secara bersamaan.
"11 tahun lebih
aku membencinya. Kalopun aku mengharapkan kedatangannya suatu saat, aku hanya
ingin mencaci dia sepuasnya karena telah menelantarkanku selama ini.
Tapi...mengetahui kalo ternyata..." Saddham seperti tak mampu meneruskan
ucapannnya.
Aku makin iba melihat
keadaan Saddham. Perlahan wajah itu menegak, mengambil nafas panjang.
"Kamu benar, May,
aku harus menemukan pelakunya." Saddham bangkit segera, membuatku sedikit
bernafas lega dan melebarkan garis bibirku. Tapi saat melihat Saddham meringis
kesakitan memegangi dadanya, aku berubah panic.
"Dham..."
Aku mendekat, wajahnya dengan ceoat berubah memucat dengan keringat dingin yang
mulai membasahi keningnya.
Saddham terlihat makin
menahan sakit pada dada yang dipeganginya. Dan sebelum aku sempat bertanya
apalagi melakukan apapun, tubuh Saddham malah perlahan meluruh jatuh.
"Dhaaam...
SADDHAM!!" Kali ini aku benar-benar berteriak.
***
Aku terdiam menatap
mata terkatup itu. Tetes cairan infus dan berbagai alat yang seperti berlomba
menghasilkan irama paling nyaring tetap kucoba kuacuhkan. Bahkan aku juga ingin
mengacuhkan beberapa sosok yang sejak kedatanganku dengan ambulance tadi sudah
berusaha mendekatiku. Aku bersyukur Banyu selalu disisiku hingga mereka hanya
berusaha tapi tak pernah berhasil mendekat. Banyu cukup ampuh menjadi bodyguard-ku.
Sejak dulu aku tak
begitu suka suasana ruang UGD, apalagi setelah memiliki kemampuan seperti ini.
Aku makin tak menyukai suasana mencekam ruang UGD. Tapi untuk memindahkan
Saddham ke ruang perawatan, asam lambungnya harus benar-benar stabil dulu.
Ya, tadi Saddham
mengalami lonjakan asam lambung. Perut yang kosong sejak pagi, dan hanya diisi
minuman berkarbonasi dan asupan nikotin membuat asam lambung meningkat cepat,
menstimulasi endapan asam lambungnya yang sudah-sudah. Untung semua belum
begitu parah. Setelah ini sepertinya aku perlu membimbingnya untuk melakukan
pola hidup yang lebih sehat.
Eh, apa tadi?
Membimbingnya? Siapa aku mau mengajukan diri untuk membimbingnya?
Mata yang terkatup
sejak di apartemen hingga hampir 2 jam itu akhirnya perlahan mengerjap, sedikit
mengerang mungkin karena masih merasakan sakit dan panas di dada dan
lambungnya.
"Akhirnya bangun
juga." Kataku datar, meski sebenarnya aku sangat bahagia melihat dia
siuman jika teringat bagaimana cemasku saat tadi dia tiba-tiba pingsan tadi.
"Aku dirumah
sakit ya?" tanyanya memegangi kepalanya.
"Hmm, tadi kamu
tiba-tiba pingsan.. Asam lambungmu meningkat drastis. Itu pasti gara-gara
kebanyakan rokok dan minuman soda."
Saddham malah seperti
menertawakan ucapanku. Padahal kupikir tak ada bagian yang lucu.
"Jadi mulai
sekarang, kurangi, kalo bisa jauhi dua hal itu!" tegasku, tak peduli
Saddham menatapku seperti protes. "Bukan karena aku peduli padamu, tapi
karena kamu harus tetap hidup untuk menemukan pembunuh Papamu."
Saddham malah
mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sepi beberapa detik. Aku mendesah
panjang.
"Berjanjilah
padaku satu hal." Saddham masih belum mengalihkan pandangannya meski aku
sudah mengawali untuk mengakhiri kesepian kami, "Berjanjilah kamu akan
hidup lebih baik, demi Papamu yang sangat bangga memiliki putra
sepertimu."
Akhirnya Saddham
mengarahkan pandangannya padaku lagi.
"Aku berjanji
pada diriku sendiri, akan mencari pelaku pembunuhan Papaku. Aku harus tau
kenapa dia melakukan hal sekeji itu pada Papaku. Karena yang kutau Papa bukan
orang yang jahat. Dia laki-laki yang baik."
Sial! Aku benar-benar
ikut terhanyut suasana melankolis ini. Melihat anak dan bapak yang begitu
saling menyayangi tapi terpisah sebuah dimensi yang membuat mereka tak bisa
mengungkapkan secara langsung rasa mereka. Tapi aku tau, baik Saddham maupun
Dokter Hasan—yang sejak tadi berdiri di sebelah ranjang Saddham, tepat di
depanku, sama-sama bisa bernafas lega setelah 11 tahun lebih terkungkung dalam
rasa yang tak seharusnya.
Aku tersenyum seraya
meraih jemari tangannya yang terbelit selang infus. Sekedar memberinya sebuah
kepercayaan diri.
"Owh, sudah siuman?"
Aku menoleh ke arah
suara itu, seorang perawat mendekat.
"Kita periksa
kondisinya dulu, baru diputuskan dipindah ke kamar perawatan atau disini
dulu." Perawat tadi mengambil alat pengukur tekana darah dan
memasangkannya ke lengan Saddham.
"Bisa langsung
pulang saja, Sus?"
Aku tergelak mendengar
pertanyaan Saddham yang sudah seperti rayuan maut untuk perawat muda nan anggun
itu. Ah, sesaat aku teringat Mbak Anggun, apa dia sudah siuman? Kenapa masalah
datang bersamaan begini?
"Kenapa
tertawa?" tanya Saddham menatapku heran.
"Menertawakanmu.
Karena kamu akan ditahan di sini paling tidak 2-3 hari."
"Apa harus selama
itu?"
"Ya makanya
jangan terlalu akrab sama nikotin, soda dan apapun yang enak tapi praktis. Yang
enak tapi praktis itu sudah pasti gak sehat." Kulipat kedua tanganku,
merasa puas bisa menceramahinya.
"Ck, dasar jiwa
dokter!" dengusnya membuat perawat yang sejak tadi memeriksa kondisi
Saddham tak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Oke, sudah cukup
stabil. Kami akan siapkan kamarnya dulu." Perawat tadi angkat bicara.
Aku bangkit dari
dudukku, "Oke kalo sudah dipindahkan aku bisa menemui Dokter Wildan
lagi."
"Meninggalkanku
sendirian?" Saddham seperti kaget.
Alisku bertaut,
"Kenapa jadi anak kecil? Bukannya sejak tadi pagi, kamu bilangnya bukan anak
kecil yang harus ditunggui? Waktu aku pergi tadi Dokter Wildan belum selesai.
Lagian kita juga masih dalam satu rumah sakit jadi kalo kamu tiba-tiba butuh
sesuatu bisa menghubungiku."
"Sengaja ya
membawaku ke sini? Biar gampang gitu?" selidik Saddham/
Aku meringis
membenarkan. Saddham tergelak lemah.
***
Pekerjaan mengotopsi
kerangka jenasah Dokter Hasan sudah selesai, Dokter Wildan juga sudah menulis
rinciannya. Semalaman kami menganalisa semuanya. Kedua tangan Dokter Hasan
dipotong dengan benda tajam yang besar, kemungkinan pisau besar atau sejenis
pedang. Yang pasti benda itu sangat tajam hingga hanya butuh satu sabetan saja
antara tulang belikat dan tulang humerus bisa terpotong dengan sempurna. Hampir
tak terlihat kerusakan pada tulang air mata, tulang rahang atas dan tulang
rahang atas. Padahal aku tau betul kalo kedua mata Dokter Hasan sudah tidak
ada. Lidahnya pun terpotong. Tapi tulang rusuk mengalami kerusakan yang parah,
menegaskan ucapan Banyu kala itu yang mengatakan jeroan Dokter Hasan yang diambil.
Kemungkinan jantung, hati dan ginjal. Anehnya kerusakan tulang rusuk sangatlah
rapi. Bukan seperti kerusakan yang jika dilakukan orang awam. Kerusakan itu
seperti dilakukan orang professional. Ini sudah seperti penculikan yang
disertai pengambilan organ tubuh untuk kemudian dijual ke black market.
Apa ini berarti Dokter
Hasan dibunuh oleh sesama dokter?
"Ayo kita temui
Saddham. Aku tak berani menyerahkan hasil otopsi ini sendirian tanpa
kamu." Dokter Wildan melangkah keluar dari ruang kerja kami.
"Kenapa?"
kernyitku tak mengerti.
Dokter Wildan
menatapku penuh arti, "Karena kalo nanti dia shock, ada kamu yang bisa
memberinya kekuatan."
Aku terbahak,
"Maksudnya?" Aku benar-benar tak mengerti maksud omongan seniorku
ini.
Dokter Wildan
melangkah lagi, "Aku sudah tau sejak melihat kalian berdua bersama pertama
kali. Kalian itu saling jatuh cinta, hanya tidak menyadarinya saja."
Glek!
Aku sampai terbatuk
dengan tebakan Dokter Wildan. Dan itu makin membuat dokter Wildan tersenyum
menggoda.
Bisa gila aku kalo
diperlakukan begini. Dan aku memilih berusaha mengacuhkannya saja. Toh, tak
akan ada gunanya aku mempercayai omongan Dokter Wildan. Aku tak mau kecewa
seperti saat aku menyangka perhatian-perhatian kecil Dokter Wildan waktu itu.
Tapi pada akhirnya kenyataan menunjukkan kalo Dokter Wildan sudah memiliki
orang yang sangat dicintainya.
Lalu Saddham? Siapa
yang tau kalo dia ternyata juga sudah punya orang yang dicintai? Kami
benar-benar dekat juga baru kemarin. Itupun karena insiden yang menimpa Mbak
Anggun dan Arthur. Itu juga karena kebetulan Saddham sedang bersamaku.
"Hei!"
Aku kaget dengan
seruan Dokter Wildan yang menatapku.
"Apa kita perlu
mencari buah tangan dulu?" lanjut Dokter Wildan bertanya.
Aku tergelak karena
ternyata kami sudah ada di depan pintu kamar perawatan Saddham.
"Apa Dokter
sengaja mengejekku?" sungutku tak suka, lalu membuka pintu kamar di depan
kami.
Langsung terlihat
Saddham duduk selonjoran di atas ranjang sedang menonton acara berita di tivi.
Wajahnya sudah terlihat lebih baik dari terakhir aku tinggal kemarin malam.
Pasti semalam dia bisa tidur dengan nyenyak meski mungkin dengan bantuan
sedikit obat tidur dalam obatnya. Jatah sarapannya sepertinya juga sudah
disantapnya.
"Selamat pagi,
kawan. Bagaimana kondisimu pagi ini." Sapa Dokter Wildan.
"Baik,
terimakasih sudah menyempatkan menjenguk." Saddham memiringkan kepalanya
melihat ke arahku.
"Kalian semalam
lembur?" tanyanya, matanya seperti focus ke arahku.
"Bagaimana bisa
tau?" selidik Dokter Wildan.
Aku menyadari sesuatu.
Bajuku. Ah, iya, aku masih memakai baju yang sama. Baju pemberian Saddham.
Celana jeans dan kaos panjang warna putih. Owh, ternyata aku bahkan belum
sempat mengganti bajuku selama 2 malam. Gila! Sudah seperti tentara yang sedang
perang saja.
"Kami tak bisa
menunda pekerjaan." Kataku, biar Dokter Wildan tak berfikir yang aneh-aneh
dan Saddham juga berhenti mencari tau.
"Ini hasil otopsi
kerangka Dokter Hasan." Dokter Wildan menyerahkan map yang sejak tadi
dibawanya.
Saddham menerima map itu
sedikt meragu, juga sedikit gemetar.
"Lebih baik baca
sendiri, aku tak sanggup menjelaskannya secara langsung padamu." Lanjut
Dokter Wildan memilih jalan aman.
Saat aku terlalu focus
memperhatikan Saddham yang sepertinya sedang sibuk bergelut dengan segala
perasaan yang menggulungnya, tiba-tiba...
"MAYA,
AWAAAASS....!!!"
Aku tersentak dengan
seruan keras suara Banyu yang entah dari sisi mana. Yang pasti aku merasa ada
sesuatu yang besar dan kuat dengan cepat menghantam tubuhku hingga aku
tersungkur jatuh ke lantai.
"May...!!"
Kini yang kudengar
seruan Dokter Wildan dan Saddham yang menanggapi keadaanku. Aku mendongak.
Dalam penglihatanku, Banyu seperti mencari sesuatu lalu dengan wajah yang masih
panic melihat ke arahku.
Apa itu tadi? Tanyaku pada Banyu.
"Kamu kenapa,
May?" Dokter Wildan membantuku berdiri, aku masih sempoyongan.
"Aku tak berani
mengejarnya, May, dia terlalu kuat dan cepat. Aku takut kalo aku pergi dia akan
datang lagi dan menyerangmu seperti tadi." Banyu masih celingukan dan
berwajah tegang.
"Mungkin kamu
kecapekan, May." Saddham turun dari ranjang, "Tiduran di sini
dulu."
"Eh, mana
bisa?" Aku berusaha menolak.
"Apanya yang tak
bisa? Lihat wajahmu jauh lebih pucat dari aku?" desis Saddham.
Dokter Wildan mengulum
senyum, "Sudah, nurut saja, kamu sepertinya memang kecapekan, May. Kapan
terakhir tidur? Sejak minggu siang kan kamu wara wiri tak karuan? Semalam malah
ikut lembur juga." Dokter Wildan membantuku melepas jas putihku dan
menuntunku naik ke ranjang. "Akan kuambilkan cairan infus." Imbuhnya
lagi lalu melangkah keluar dari kamar.
Aku terdiam,
memikirkan apa yang tadi menghantamku. Yang pasti itu termasuk makhluk absurd
sejenis Banyu. Tapi kenapa begitu kuat? Kenapa begitu mudah melukaiku?
"Lihat, menjaga
orang sakit kenapa malah kamu sendiri ikut sakit?" tanya Saddham seperti
marah.
Aku mendesah panjang,
"Aku tidak sakit." Aku berusaha bangkit. Tapi sebelah tangan Saddham
memegang dahiku cukup kuat hingga aku tak mampu melanjutkan usaha bangkitku.
"Kalo kamu
berusaha kabur, aku akan menyuruh Dokter Wildan mengikat kaki dan tanganmu juga
nanti!" Saddham seperti mengancam.
Aku mencebik. Tak lama
kemudian Dokter Wildan datang dengan cairan infus glukosa yang dijanjikannya
tadi.
"Kamu bisa
istirahat sebentar sambil menghabiskan infus ini."
"Tapi aku harus
ke rumah sakit Harapan, Dok, sejak kemarin aku belum melihat keadaan kakak
iparku." Dalihku mencoba menolak.
"Nanti saja
setelah kamu habiskan infus ini." Perintah Dokter Wildan seperti tak
terbantah, karena saat memberi perintah tangannya juga cekatan memasang jarum
infus ke punggung tanganku.
Aku mendesah berat.
"Kalo perlu ikat
saja tangan dan kakinya, Wil, siapa tau nanti dia mencoba kabur." Sela
Saddham membuat tak hanya Dokter Wildan, tapi Banyu pun sampai tergelak tak
percaya.
Kalo tak ingat sedang
sakit, pasti sudah aku tendang dengan kakiku yang bebas orang di sebelahku ini.
Tapi yang terjadi, rasa kantuk malah sepertinya terlalu cepat merasukiku.
Harusnya tadi kutanyakan pada Dokter Wildan berapa banyak dosis obat tidur yang
terkandung di cairan yang dipasangkan untukku tadi.
"Tenang, aku akan
menjagamu selama tidur." Masih sempat kudengar ucapan itu sebelum kantukku
benar-benar menguasaiku. Entah suara Banyu atau Saddham. Semua sudah tak ada
yang jelas.
***
Tangan kekar dan besar
itu masih kuat merangsek hendak mencekikku. Dan aku masih sekuat tenaga
melawan. Aku masih belum rela mati tercekik oleh orang yang bahkan tak bisa
kutau seperti apa wajahnya.
Kenapa bisa begini?
Siapa dia? Kenapa mau mencekik leherku? Apa salahku.
Tapi bukannya tadi aku
ada di rumah sakit? Tidur di ranjang Saddham dan dipasangi infus Dokter Wildan?
Lalu kenapa aku tiba-tiba seperti ada di ruangan tak jelas begini? Kenapa aku
tiba-tiba ada disini? Kalo ini cuma mimpi, kenapa rasanya begitu nyata? Dan
mungkin terlalu banyak memikirkan hal lain, pertahananku sedikit goyah.
"Aaakkkhhh...!!"
Pekikanku tercekat di ujung tenggorokan akibat dari cengkeraman kuat tangan
besar itu pada leherku.
Aku masih mencoba
berusaha mempertahankan diri. Kupukuli lengan besar berbalut baju hitam itu.
"JANGAN SAKITI,
MAYA!!!!" Seruan keras itu disertai tubuh Banyu yang merangsek diantara
tubuhku dan tubuh besar yang bahkan aku hanya setinggi dadanya saja.
Meski usaha Banyu tak
berhasil paling tidak tanganku lebih punya tambahan kekuatan untuk terus
mencoba berontak. Otakku teringat beberapa ayat Alquran dan aku mencoba
melafadzkannya. Diantara usaha Banyu yang terus mencoba melepaskan tangan besar
itu dari leherku, tanganku pun tak kalah berusahanya merenggangkan cengkeraman
itu dan berhasil.
Aku sampai bangkit
dari tidurku diiringi asupan oksigen yang kupaksa sedikit lebih banyak mengisi
kembali rongga paru-paruku setelah tadi sempat nyaris kehabisan. Aku bahkan
sampai terbatuk-batuk.
"May..."
Suara Saddham menyusul diantara deru nafas dan detak jantungku yang masih belum
bisa kukendalikan.
"Apa yang
terjadi? Aku meninggalkanmu ke kamar mandi tak lebih dari 5 menit."
Saddham heran dengan keadaanku yang sudah seperti mandi keringat, apalagi
dengan desah nafas yang seperti baru dikejar anjing.
Ternyata tadi cuma
mimpi, tapi kenapa begitu nyata? Bahkan leherku...
Kuraba leherku, sakit
itu masih sangat terasa.
"May, kenapa
leherku lebam begini?" Saddham ikut tertarik dengan keadaan leherku,
merabanya dengan mata kaget. "Apa tadi ada yang kesini?" Saddham
seakan bukan bertanya padaku, matanya celingukan ke segala penjuru kamar.
Apa yang dicari?
Bahkan pintu kamar juga tertutup. Tak ada siapa-siapa selain kami berdua di
ruangan ini. Juga Banyu yang tiba-tiba muncul di belakang Saddham dengan
keadaan yang hampir sama dengan keadaanku.
"Sori, aku tadi terkecoh
mengejarnya keluar. Harusnya aku sudah tau kalo itu hanya akal-akalannya
saja." Banyu juga seperti kesulitan mengembalikan keadaan normalnya.
"May...,
hei!" Saddham menyadari aku tak focus padannya.
Aku menatap Saddham
sebentar. Buru-buru tanganku melepas jarum infus di punggung tanganku. Saddham
kaget. Tak kupedulikan dan malah menyingkirkan tubuhnya sedikit agar aku bisa
turun dari ranjang.
"May, kamu mau
apa?"
"Ada yang aneh,
aku harus pergi." Kataku mencari sepatuku di bawah ranjang lalu segera
beringsut.
"Hei, hei, kamu
belum sembuh betul." Cegah Saddham mencekal pergelangan tanganku.
"Aku tidak sakit,
Dham."
"Bahkan lehermu
tiba-tiba jadi lebam begitu, kenapa masih bilang tidak sakit?'
Kutatap Saddham lekat,
matanya yang legam bening seperti menuntut untuk tunduk oleh perintahnya yang
bahkan tak perlu dikatakannya.
Aku mendesah. Tapi
kemudian pandanganku ke arah Banyu yang masih ada di belakang Saddham.
Menyadari itu, Saddham menoleh.
"May...!"
panggilnya setengah memprotes.
"Apa itu seperti
yang kupikirkan?"tanyaku tak sadar bertanya langsung, dan nyata.
Saddham kebingungan,
Banyu mengangguk pelan.
"Dia sangat
jahat. Dan yang pasti ada yang sudah lama mengendalikannya. Itu juga yang
membuatnya makin jahat. Makin haus mencelakai orang." Terang Banyu.
"Kenapa,
aku?" tanyaku bingung.
Ya, kenapa 'dia'
mencelakaiku? Apa salahku? Kalo itu Adrian yang—mungkin sampai pada
akhirnya—tak sepenuhnya puas saat Sachy akhirnya meminta maaf dan bahkan
mengganti rugi semua biaya operasi dan perawatan Adrian, masih bisa aku
maklumi. Tapi ini? Aku bahkan tak tau siapa 'dia'.
"Oke, kamu
berbaring saja dulu." Saddham menyadarkanku.
"Tidak, aku harus
pergi, Dham!" kulerai tangannya yang masih terbelit selang infus dan
bergegas melangkah.
"May, MAYA!"
Tak kugubris seruan
Saddham, aku harus mencari tau kenapa 'dia' sangat ingin mencelakaiku. Kenapa
dunia yang awalnya sudah sangat merepotkanku kini malah bisa mencelakaiku? Iya
kalo manusia yang mencelakai, aku bisa melaporkannya ke polisi. Lha kalo ini?
Polisi, TNI, atau bahkan Densus 88 pun tak bisa menolongku.
"Harusnya tadi
Wildan benar-benar mengikat tangan dan kakimu!" geram Saddham menghentikan
langkahku di koridor rumah sakit yang sedang ramai. Ini sudah beranjak siang
rupanya.
Aku mendesah,
"Dham, aku tidak sakit, oke?" tuntutku menatapnya lekat.
"Tidak,"
Mataku mengekor ke
arah lengan kirinya. "Infusmu kenapa dilepas?" tanyaku sedikit
meninggi.
"Infusmu juga
kamu lepas."
Aku tergelak.
"Dengar, Dham, ada yang aneh denganku sejak tadi, aku harus menemui
seseorang, aku..."
"Siapa?"
sela Saddham.
Aku terdiam.
Owh, iya, aku mau
menemui siapa? Tanyaku sendiri. Aku bahkan tak pernah tau kalo ada orang yang
bis atau tentang dunia perhantuan. Apa ustadz? Ah, jangan-jangan nanti aku
malah dikira yang tidak-tidak dan malah memasukkanku ke dalam daftar orang yang
harus segera dirukyah?
"Aku akan cari
tau lebih banyak soal ini. Kamu hanya harus selalu waspada. Jangan pernah
lengah, dia bisa menyerang kapan saja." Kata Banyu melerai kebengonganku.
Aku mendesah dan
memutuskan duduk di bangku tak jauh dari tempatku berdiri tadi. Kuraba leherku,
sedikit perih saat menyentuh bekas cekikan yang kata Saddham tadi terlihat
lebam.
"Ayo ke kantin."
Aku medongak mendengar
ajakan Saddham.
"Sepertinya kamu
juga butuh makan."
Aku melebarkan garis
bibirku lalu bangkit, "Hmm, aku memang sedikit lapar."
Kami berjalan
bersisihan menyusuri koridor rumah sakit yang dalam pandanganku jauh lebih
ramai dari yang terlihat. Mereka berkeliaran sambil mengamatiku dengan tatapan
yang beragam. Ingin tahu, menyapa sok akrab, kaget, sampai punya keinginan
mendekatiku. Tapi dari semua itu tak ada yang seperti 'dia' tadi.
"Sambil ceritakan
sedikit tentang dirimu yang lain." Pinta Saddham memasukkan tangannya ke
dalam saku seragam pasiennya.
Aku meliriknya dengan
alis menciut. Tapi yang ada sebelah tangan Saddham terulur, jari telunjuk dan
jari tengahnya ditempelkan diantara alisku.
"Jangan terlalu
banyak berfikir keras, nanti kulitmu cepat keriput."
Aku tak sadar langsung
tergelak mendengar lanjutan ucapannya. Hanya tergelak, tak mau berkomentar
apapun. Kami hanya meneruskan perjalanan ke kantin rumah sakit.
"Mau kutraktir
kopi?"
"Tidak ada kopi,
apalagi untukmu. Ingat lambungmu masih dalam masa pemulihan!"
"Ck, dasar jiwa
dokter!" Dengusnya.
Kali ini aku tak hanya
tergelak, tapi terbahak, bahkan aku sampai perlu membungkam mulutku agar tawaku
tak jadi polusi.
***
Demak, 26/08/2017
Winwin_Windarti
***
Demak, 26/08/2017
Winwin_Windarti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar