Kuhempaskan
tubuhku ke atas sofa yang sudah tak nyaman lagi. Benar, tak nyaman lagi. Karena
baru saja pantat menempel sofa sudah terasa ada yang mengganjal. Saat
kuperiksa, tanganku mendapati buku bacaan milik Namjoon hyung. Belum lagi di sandaran sofa tersampir baju dan jaket, entah
punya siapa.
Sejak
keputusan Bujangnim 2 minggu lalu
bahwa dorm sementara waktu tidak akan
ada orang asing, dorm berubah menjadi
seperti toko usai dijarah orang-orang anarkis. Semua tidak pada tempatnya,
semua merasa paling lelah dan tak sanggup memberesi barang-barangnya. Termasuk
aku.
Jangan tanya lelahnya kami
usai latihan. Belum lagi syuting film pendek, konser promo album, juga acara TV
dan radio yang wajib kami hadiri. Semua menguras tenaga.
“Bujangnim, kapan pengurus rumah
tangganya datang?!” teriak Suga Hyung bernada memprotes dari ujung anak tangga
sana. Lalu disusul gerutuannya yang sepertinya sedang mencari barangnya yang
hilang, atau mungkin cuma terselip entah dimana.
Sejak
kejadian 2 minggu lalu, saat pengurus rumah tangga dorm ketahuan men-stalker
rencana besar BigHit tentang album terbaru kami, Bujangnim langsung ambil keputusan memvakumkan dorm dari orang-orang asing. Apapun alasannya. Bahkan sampai pacar
Namjoon hyung dilarang kesini. Atau
anggota keluarga yang sesekali memang mampir kesini menjenguk kami pun tidak
diperbolehkan. Dorm mendadak seperti
tempat isolasi seluruh personil BTS. Dan yang terparah adalah kesemrawutan
kondisi didalam dorm ini. Baju-baju
berserakan seperti distrik cutting pabrik
konveksi. Potongan-potongan baju bisa dijumpai disemua sudut ruangan.
“Berhitunglah
sampai 100,” jawab Bujangnim sedikit
terkekeh.
“Yak, apa aku seperti anak SMA yang gagal
ujian matematika?” sungut Suga tersinggung.
“Bukan,
kau hanya dapat nilai sangat buruk di ujian etika berbahasa,” sahut JHope
seenaknya berjalan kearah dapur melewati Suga yang makin bersungut. Apalagi
disusul tawa para hyung lainnya yang
tersebar di seluruh sudut ruangan; Namjoon duduk berselonjor di sofa dekat
jendela; Jin yang sibuk entah mengeksekusi apa di balik meja pantry sana; V
yang asyik dengan ponselnya; dan sebentar lagi JHope yang bakal merusuh
kesibukan Jin di dapur. Aku sebagai maknae
hanya menikmati kekonyolan itu dengan sedikit senyum disini.
Tunggu,
dimana Jimin-ah?
“Bujangnim, ada yang mencari.”
Semua
mata langsung menatap kearah Jimin yang baru memasuki ruangan. Aku menelengkan
kepalaku sedikit. Ada seseorang dibelakang Jimin. Dahiku mengkerut. Jimin
dengan siapa? Kalimat itu yang kemudian seperti tornado menggulung-gulung
otakku. Tapi sebelum semua melumatkan akal warasku, Bujangnim angkat suara.
“Oh, annyeong, Ahjuma…” seru Bujangnim mendekati Jimin dengan langkah
lebar.
Ahjuma?
Aku yakin
tak hanya aku yang bingung dengan yang sedang terjadi. Seorang Ahjuma yang sebenarnya belum terlalu
pantas dipanggil Ahjuma
memperlihatkan dirinya. Jimin sendiri beringsut pergi menuju kearahku. Lalu
ikut menghempaskan tubuhnya di sampingku.
“Siapa, Hyung?” tanyaku langsung.
Jimin
hanya mengangkat bahu. “Dia datang membawa surat maklumat dari sebuah agen
ketenagakerjaan yang ditanda tangani Bujangnim.”
“Apa dia Ahjuma itu?” tanyaku lagi, tapi kali ini
sedikit mengambang.
Ahjuma yang baru saja bersalaman
sekaligus membungkuk dihadapan Bujangnim itu
memang belum begitu pantas dipanggil Ahjuma. Dialeknya pun terdengar sedikit
aneh.
“Semuanya,…”
Bujangnim membalikkan tubuhnya
menghadap kearah kami, “Perkenalkan ini Nita, pengurus dorm yang baru. Dia tenaga kerja dari Indonesia, jadi maklumi kalo
kurang bisa bahasa kita. Tapi dia sangat paham bahasa Inggris, jadi kalo dia
tidak paham dengan bahasa kita, pakailah bahasa Inggris, arrasseo?!” lanjut Bujangnim
memberi penjelasan.
Semua
bersorak gembira. Di pikiran kami pasti semua sama, akhirnya berakhir juga masa
kelam dorm yang berantakan. Tak akan
ada lagi kegiatan ekstrakulikuler dengan mesin cuci, setrika atau di dapur yang
hanya untuk membuat secangkir kopi atau memanggang sekeping roti.
Satu
persatu dari kami mendekat. Jimin lebih dulu bangkit dan menarik lenganku.
Membawaku setengah memaksa untuk ikut mendekat.
Dia
memang belum pantas dipanggil Ahjuma.
Harusnya diapnggil Nunna saja. Paling
umurnya belum ada 30 tahun. Owh, jadi seperti ini tampang eksotik orang
Indonesia yang terkenal itu? Kulitnya cukup gelap meski tak segelap kulit
orang-orang Indian sana. Tapi jika dibandingkan dengan kami memang seperti 1:7.
Cukup kontras.
Namjoon hyung yang memang paling fasih berbahasa
Inggris langsung angkat bicara seperti petugas interview. Dan memang Ahjuma ini sudah sefasih Namjoon hingga
melihat mereka melakukan sesi tanya jawab seperti menonton film holllywood.
“Hyung, emang bahasanya negara Indonesia
itu bahasa Inggris ya?” tanyaku berbisik di telinga Jimin, sambil tak lepas
mengamati gesture bibir Ahjuma itu
yang sesekali melebar membuat senyuman. Senyum yang manis tak kalah dengan
senyumnya Suga. Sikap yang menunjukkan dia ramah.
“Tidak,
cuma disana bahasa Inggris sudah menjadi bahasa pokok yang harus dipelajari
apalagi jika prospek kerja yang dituju luar negeri.”
Pikirku,
wah, hebat bener. Untuk menjadi tenaga kerja yang disini hanya sebagai pengurus
rumah tangga harus bisa menguasai bahasa internasional? Ckckck.
“Anggap
saja itu keuntungan kita, punya pengurus
dorm dengan bonus guru bahasa Inggris,” sela Suga terkekeh.
Aku cuma
nyengir mendengar selengek’an Suga yang emang menjadi ciri khasnya. Bukankah
Namjoon juga guru bahasa Inggris yang kompeten? Untuk apa ambil resiko belajar
dengan orang yang saat kita bicara bahasa ibu dia bisa saja salah mengerti
karena kurang menguasai pemahaman bahasa kita?
Ah,
apapun itulah, bagiku yang penting aku tak perlu kerja laundry saat badan sudah
letih. Dan ada banyak makanan yang bisa kumakan setiap saat. Terlebih saat
bangun pagi.
“Ucapkan
selamat tinggal untuk kkimbab-mu
dipagi hari, Kukki-ya,” Tiba-tiba Jin
sudah merangkulku dan mengacak-acak rambutku.
“Dan yang
terpenting, jangan menggigitku lagi kalo lapar, karena sekarang pasti akan
selalu ada makanan.” imbuh Jimin seperti menyinggungku.
Dan saat
aku nyengir menanggapi kasih sayang para hyungku
ini, kulihat sorot mata penuh kilauan yang hangat dari sepasang mata legam itu.
Alisnya cukup tebal untuk ukuran perempuan, dan masih asli. Hal yang sudah
langka ditemui di negara ini. Kecuali pada anak-anak dibawah 10 tahun.
Aku
sedikit bisa menangkap perbincangan antara Bujangnim,
Namjoon hyung dan Ahjuma baru itu. Tentang aturan dan apa
saja yang harus dikerjakannya. Dan singkat kata. Dalam sekejap seluruh ruangan
ini kembali ke bentuk yang seharusnya. Aku bisa kembali duduk dengan nyaman di
sofa.
“Tinggali
aku makanan di kulkas sebelum pulang.” Kataku dengan bahasa Inggris. Aku tak
begitu mahir bahasa Inggris jadi tadi aku ‘menata’nya dengan bantuan kamus.
“Ne. Ada gyeram jjim juga dakjjim, tinggal panasi sebentar di microwave. Ada pudding juga.
Buah juga sudah diiris. Semua ada di kulkas.”
Sial, aku
sudah susah payah pakai bahasa Inggris, kenapa dia malah menjawab dengan bahasa
Korea yang megap-megap?
“Maafkan
Kkuki, dia memang terkenal pencari makanan disini. Maklum, masih dalam masa
pertumbuhan.” Jin hyung tiba-tiba
sudah menjulang di ujung pantry sana menyesap sedikit lemon tea dalam
cangkirnya.
Aku
melotot kearah Hyung tertua kami itu. Tapi yang kulihat Ahjuma didepanku itu malah mengulum senyum. Seakan benar-benar paham
yang tadi Jin hyung katakan. Atau
mungkin memang sebenarnya dia paham betul dengan bahasa korea.
“Gwaenchanha, kalo di daerah saya di
Indonesia kami menyebutnya nyemego,”
katanya lebih dari kata berbahasa korea
“Nye…
apa?” Jin mendekat dengan pertanyaan semi penasaran campur heran dengan
penggunakan istilah yang masih asing itu.
“Nyemego, dari bahasa daerah saya
tinggal. Semacam… mudah lapar.”
Aku
melongo. Tak hanya karena penjelasannya tapi karena penggunaan kalimatnya yang
pas dan sesuai dengan EYD bahasa korea. Tawa Jin menghentikan semua ekspresiku.
Ini Ahjuma apa cuma pura-pura bilang gak
begitu menguasai bahasa Korea? Buktinya baru saja dia bisa ngomong dengan
lancar beberapa kalimat?
Dahiku mengerut
samar. Jangan-jangan Bujangnim tertipu
lagi seperti yang sudah-sudah. Sebelum kejadian pengurus dorm yang men-stalker
rencana kegiatan kami itu, sebenarnya sudah ada kejadian yang tak kalah membuat
kami ambil ‘kuda-kuda’. Seorang Ahjuma
berumur 40an. Tak satupun dari kami yang punya pikiran ada bahaya mengancam
saat Bujangnim menerima Cv pengurus dorm kala itu. Sampai seminggu
kemudian kami menyadari bahwa Ahjuma
itu punya anak gadis, dan dia seorang fans yang sudah mendekati obsesif. Tak
bisa dibayangkan apa aja yang akan terjadi andai hal itu tak segera diketahui.
Bukannya
negative thinking dengan Ahjuma ini,
hanya saja aku cukup punya kekhawatiran yang kata orang-orang biasa disebut
intuisi.
“Sudah
jam 9 malam, kalo begitu saya pamit pulang dulu,” katanya, kali ini memakai
bahasa Inggris.
Jin yang
sudah ada disampingku merangkul pundakku mengangguk dengan senyum kecil dan
cangkir yang diangkatnya sedikit.
“Yak, kau
tak punya sesuatu untuk diucapkan pada Ahjuma
sebelum dia pulang?” tanya Jin padaku meski matanya tak lepas memperhatikan Ahjuma yang melepas celemek dan
melipatnya lalu memasukkan ke dalam salah satu laci di pantry.
Aku
menatap Jin tak mengerti.
“Aisshh… jinjja, Ahjuma sudah
menyiapkanmu makanan tengah malam, dan kau tak punya satu kalimatpun untuk
diucapkan sebelum dia pulang?” Lanjutan suara Jin bernada tak percaya.
Aku
menatap Ahjuma yang sudah siap-siap
menenteng tasnya yang lebih mirip tas tempat keperluan bayi.
“Khamsahamnida, Ahjuma.” Kataku setengah
hati. Entah karena apa.
Dan Ahjuma menanggapi dnegan senyum tipis,
lalu ditundukkan kepalanya.
“Annyeonghi kaseyo…” lanjutku seiring Ahjuma melangkah menuju pintu keluar.
Tapi aku
masih bingung kenapa Jin menatapku seakan aku ini membuat kesalahan bessr yang
seharusnya harus segera mengejar .
“Wae guerae?”
Jin
menggeleng pelan, “Sepertinya kau juga perlu ikut ujian etika berbahasa,
seperti Suga. ”
Aku tak
paham dengan ucapan Jin hyung. Apalagi saat dia menepuk bahuku dan beringsut
pergi.
“Chukhae, Khukhi.” Sebelum tubuhnya
berbalik
Mwo?
Chukhae?
Selamat
untuk apa?
Kenapa
dengan keadaan ini? Apa yang salah? Apa salahku?
Iseng-iseng
aja buat fanfict BTS, saking terpesonanya sama the golden maknae Jeon Jungkook.
Tapi gak tau kenapa malah jadinya si ‘aku’ Jungkook sendiri. Whatever lah,
penting jadi, hehehe…
Judul
sengaja aku ambil dari judul-judul lagu mereka. Let Me Know sendiri aku ambil dari album kedua mereka Dark & Wild
Ditunggu
aja part selanjutnya, ok? Tto manayo…
BYL, 28 Nov’ 2016
Note:
Hyung =
panggilan kakak laki-laki(> laki-laki)
Bujangnim
= manajer
Annyeong
= sapaan hallo, apa khabar
Ahjuma =
panggilan kepada wanita yang sudah berumur (=tante)
Arrasseo
= mengerti, paham
Nunna =
panggilan kakak perempuan(> laki-laki)
Kkimbab =
nasi gulung
Gyerram
jjim = telur kukus ala korea
Dakjjim =
ayam sayur korea
Gwaenchanha
= tidak apa-apa, tak masalah
Aish
jinjja = Benar-benar… (bernada jengkel)
Khamsahamnida
= terimakasih (formal)
Annyeonghi
kaseyo = selamat jalan
Wae
geurae = kenapa ?
Chukhae =
selamat
Mwo = ada
apa?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar