Minggu, 25 Oktober 2015

Salome

Tiba-tiba Andre lebih dulu meraih handphone yg tergeletak dimeja, sebelum tanganku sempat menyentuhnya. Lalu dering panggilan masuk itu terhenti.
"Ndre...," desisku saat dia kemudian menonaktifkan handphone itu.
"Hari ini saja Yas, aku mohon. Ijinkan aku bersamamu tanpa gangguan siapapun," pinta Andre berat, menatapku penuh harap.
Kunikmati mata indah yang selalu meneduhkanku itu. Empat tahun sudah Andre setia menemaniku meski saat dia butuh aku justru malah sibuk mengurusi orang lain. Pekerjaaanku sebagai konseling perkawinan ynag membuatku sering menduakan Andre dengan pasien-pasienku.
Aku tau Andre ingin meminta ganti rugi atas waktu bersama kami minggu lalu yang terganggu dengan kehadiran Salome.

Pagi itu, kami merencanakan akan jalan-jalan ke pantai berdua. Tapi baru juga aku terbangun hendak beres-beres rumah dulu, tiba-tiba Salome sudah berdiri dibalik pintu. Matanya sembab, begitu sendu.
"Sa..., ada apa?" tanyaku, kutuntun dia masuk bebarengan saat Andre keluar dari kamar. Kutatap Andre sekilas, tapi aku yakin saat itu Andre sudah tergores belati kekecewaan.
"Aku buatkan teh anget ya?" tawarku lirih sambil mendudukkannya ke sofa. Lalu aku berjalan ke dapur, Andre mengikutiku.
"Kenapa Salome?" tanyanya
"Mungkin dia bertengkar lagi dengan suaminya," kataku menerka, sambil sibuk menuang teh.
"Lalu kenapa dia kesini?"
Kutatap Andre, lalu tersenyum,
"Sayang, kami sudah berteman sangat akrab bahkan sudah seperti saudara. Aku juga seorang konsultan perkawinannya, jadi wajarlah dia menemuiku,"
"Tapi kita mau liburan Yas....!" ucapnya memelas seperti anak kecil.
Kusentuh kedua pipi suamiku itu.
"Ndre, apa kamu lebih suka aku jadi orang yang tega membiarkan temannya terpuruk? Kalo bukan aku, siapa lagi Ndre yang mau membantu Salome?" jelasku hati-hati.
Lama Andre terdiam.
"Oke, begini saja aku janji akan menggantinya minggu depan, gimana?" lanjutku mencairkan keegoisan Andre.
Andre menghela napas panjang.
Aku tersenyum mengecup pipinya.
"Itu baru lelakiku," pujiku membuatnya tersenyum getir.
Kucoba acuhkan itu dan berlalu membawa secangkir teh hangat ke ruang tamu.
Salome masih termangu seperti patung kayu.
"Minumlah, biar tubuhmu rada anget" kataku menyodorkan cangkir teh itu ke Salome.
Salome meneguk sedikit, hanya sedikit seakan-akan tenggorokannya begitu sulit menelan air teh itu.
"Keanu ingin cerai, Yas...," katanya parau, hampir tak terdengar.
Aku tersentak saat itu.
Dan untuk kedua kalinya aku tersentak saat tangan Andre meraih jemariku.
"Itu tadi dari Salome kan, Ndre?" tanyaku 
"Jangan kecewakan aku lagi Yas, aku takut," pinta Andre
Kutatap Andre lekat. Matanya sedikit memburam.

Duh Gusti, ampuni aku yang telah begitu jahat pada lelaki sebaik Andre. Ampuni aku yang begitu sering mengecewakan dia.
Andre memelukku.
"Jangan duakan aku terus Yas. Bukan hanya mereka, aku juga membutuhkanmu, Yas. Aku juga ingin mendapat perhatianmu,"
Air mataku meleleh,
Ya Allah, terimakasih. Terimakasih telah memberiku lelaki yang begitu arif dan menyayangiku tulus. Apa jadinya aku jika lelaki yang dipilihkan Tuhan macam Keanu, suami Salome? Tak berani aku membayangkannya. Pantas Salome selalu blak-blakan bilang iri padaku.

"Aku iri denganmu, Yas," akunya waktu itu membuatku tergelak.
"kau bercanda, Sa? Apa yang kau iri dari aku? Kau cantik, sukses, dan punya suami yang begitu waooww..., "
Yah! Aku memang pantas mewakili diri Keanu dengan kata waow. Wajah tampan, otak brilian, punya perusahaan besar. Kehidupan salome sudah sangat sempurna, apalagi ada malaikat kecil bernama Angel yang begitu lucu diantara mereka. Jadi pantaskah Salome malah iri padaku? Aku biasa-biasa saja, sejak sekolah aku selalu dibawah dia dalam segi apapun. Aku hanya bersuamikan pegawai biasa disebuah perusahaan, bahkan aku juga blum punya malaikat seperti Angel.
Salome tersenyum kecut.
"Waow-nya itu yang kemudian jadi masalah, Yas" katanya datar.
Kukernyitkan dahiku.
"Beruntungnya dirimu yang punya suami seperti Andre. Tulus dan penuh perhatian,"
Kata-kata Salome itu menyadarkanku betapa aku telah sering tidak mensyukuri titipan Allah untukku yang satu itu.
Kueratkan pelukanku, terasa begitu hangat.
"Maafkan aku, Ndre, aku janji hari ini tidak akan mengecewakanmu lagi," kataku masih dalam pelukannya.



***

Buru-buru aku turun dari taksi dan sedikit berlari memasuki rumah sakit. Tadi, tiba-tiba Andre menelpon dan menyuruhku ke rumah sakit.

"Yas, kau bisa ke rumah sakit sekarang juga?" perintah Andre dari seberang.
"Rumah sakit? Kau..., kau tidak apa-apa kan, sayang?" Aku langsung cemas.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Kau kesini saja dulu, kutunggu diruang UGD"
"Siapa yang sakit, Ndre?" Aku masih ngotot bertanya.
"Sudahlah kau kesini saja dulu!"
Lalu panggilan terputus,
Akupun buru-buru menuju rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Apa Andre mengalami kecelakaan? Apa Andre baik-baik saja?
Sebelum memasuki ruang UGD langkahku terhenti. Kulihat salome duduk terpekur di sebuah kursi disisi sebelah kiri pintu masuk UGD.
"Salome?" desisku.
Salome mendongak dan langsung tersenyum.
Kuhampiri Salome. Keadaannya jauh lebih berantakan dari kemarin. Wajahnya begitu pucat, mungkin sudah malas memulaskan make-up ke wajah cantiknya itu.
"Yas, kebetulan, aku memang menunggumu," katanya 
Aku duduk disampingnya.
"Kau baik-baik saja? Kau kelihatan tidak sehat. Kau pucat sekali."
Aku mulai cemas, apalagi saat kuraih jemarinya. Begitu dingin.
Tapi salome malah tersenyum.
"Sudahlah, jangan terlalu cemas begitu," kilahnya
Salome menunduk sejenak.
"Yasmin, terimakasih ya, selama ini kau sudah menjadi sahabat terbaikku. Aku beruntung memilikimu. Dan kau juga sangat beruntung memiliki Andre."
Aku tak mengerti arah bicara salome,
"Kau bertengkar lagi dengan Keanu, Sa?" tanyaku hati-hati.
Salome tersenyum lagi. Senyum itu beberapa minggu ini sangat langka tapi entah kenapa pagi ini dia begitu mudah mengukir senyum di bibirnya.
"Berjanjilah, Yas, jangan pernah kecewakan Andre saat dia membutuhkanmu. Karna saat itulah pembuktian cinta kita pada orang yg kita cintai."
Aku tersenyum,
"Tenang saja Sa, aku tak kan menyia-yiakan anugerah indah itu."
"Aku iri denganmu, Yas,"
Aku tergelak 
"Come on, jangan mulai lagi Sa," desisku.
Salome tergelak, dan tawanya itu terpotong oleh dering telpon dari ponselku.
"Ya Allah, aku sampai lupa, Andre menungguku di UGD," pekikku bangkit.
"Pergilah!" katanya.
"Apa kau tau apa yang terjadi, Sa?" selidikku.
"Yang pasti Andre-mu tidak apa-apa."
"Kalo begitu ayo kita kedalam," ajakku.
"Kau saja dulu, aku masih ingin disini,"
"Tapi kau sudah mulai sakit Sa,"
"Tak apa, sebentar lagi. Kau cepat temui Andre gih, dia pasti sudah cemas!"
Aku salah tingkah, "Oke, aku kedalam dulu ya"
Salome hanya tersenyum.
Aku bergegas pergi.
"Yasmin," panggilnya lagi.
Aku menoleh. Salome tersenyum lagi.
"Sekali lagi terimakasih ya,"
Aku tersenyum seraya mengangguk. Lalu aku sedikit berlari memasuki ruang UGD. Baru usai menutup pintu sudah bisa kulihat Andre berdiri di sudut ruangan. Hatiku bersorak lega melihat lelakiku itu baik-baik saja.
"Oh syukurlah sayang kau baik-baik saja," kataku berhambur memeluknya.
"Yas..., " suara Andre tercekat.
Kulepas pelukanku. Kulihat dengan jelas ada gurat kesedihan di mata indahnya.
"Yang tabah ya," katanya memegang kedua pipiku.
Aku malah jadi gemetar.
"Ada apa, Ndre?"
Sepertinya Andre butuh kekuatan penuh untuk menjelaskan, suaranya seperti tersangkut di tenggorokan.
"Yas..., Salome...., " lirih suara Andre.
"Oh ya, aku tadi bertemu Salome." potongku ceria
"Apa?!" Andre malah kaget
"Iya , aku ketemu Salome didepan situ. Sudah cukup lama aku tak lihat senyum manisnya dan tadi dia sering memperlihatkan itu, aku senang sekali..., " ceritaku antusias.
"Yasmin..., sadarlah!" desis Andre merengkuh pundakku kuat.
Dahiku mengernyit.
"Kenapa? Ada apa?!"
Andre malah menunduk. Sekian lama disini aku baru sadar tak jauh disampingku ada sesosok terbujur tertutup kain putih. Aku mengamatinya.
"Siapa itu, Ndre?" tanyaku makin gemetar.
Apa ini Angel? Ah bukan, Angel masih berumur 4 tahun, tak mungkin seperti ini. Lalu siapa? Keanu kah?
Aku langsung menatap Andre.
"Si-siapa itu, Ndre?"
Andre menunduk.
"Maafkan aku Yas, tak seharusnya kemarin aku egois. Aku memang membutuhkanmu tapi aku tak peduli kalo waktu itu ada yang jauh lebih membutuhkanmu.  Aku..., "
"Maksudnya apa ini, Ndre? Jangan buat aku bingung!" Aku mulai geram
"Yas, Salome..., " ucapan Andre tak tuntas, matanya memburam menatap sosok terbujur kaku tertutup kain putih itu.
"Tidak..., kau bercanda Ndre. Aku baru saja bertemu Salome didepan," kilahku.
Andre memelukku erat, tapi aku berontak dan melangkah ke arah mayat tertutup itu dan dengan kasar kubuka kain putih penutup jasad kaku itu.

Dan dunia seolah berhenti berputar, mataku menemukan wajah beku pucat pasi milik Salome.
"Tidak... ini tidak mungkin...."
Sebuah tangis pecah, kulihat sosok Keanu disudut ruangan terduduk dengan derai air mata. Kulihat sosok terbujur kaku itu lagi. Slide demi slide kejadian di depan ruang UGD tadi berseliweran di otakku. Dan aku makin kebingungan sendiri. Kakiku mulai lemas. Andre buru-buru mendekatiku. Masih sempat kudengar Andre menangkap tubuhku dan memanggilku dengan cemas, sebelum kurasakan semua begitu pekat.


Salome, subuh tadi ditemukan orang yang sedang jogging mengambang di danau ditengah taman kota, tempat favorite kami bertukar cerita. Mungkin masalahnya terlalu berat untuk dipikul sendiri. Kemarin Salome menelponku untuk mengurai ceritanya yang kembali bertengkar hebat dengan Keanu.
Sungguh, inikah akhir yg seharusnya? Apakah ini wujud kepasrahan seorang Salome menghadapi ironi hidupnya? Atau ini pelajaran agar Keanu sadar akan semua kesalahan-kesalahannya yang telah menyia-yiakan Salome selama ini?
Entahlah, ini semua adalah rencana Tuhan. Yang pasti, ini membuatku sadar bahwa mensyukuri adalah kunci kebahagiaan kita.



Randublatung,28/07/2014



Sabtu, 24 Oktober 2015

Impian sang Cinderella

         Masih lekat mataku mengarah pada Evan yang duduk berselonjor didekat pintu masuk dapur. Tempat kerjaku sehari-hari. Bedanya kali ini suasana dapur sudah sepi, maklum ini sudah hampir tengah malam, akupun seharusnya sudah pulang meninggalkan tempat ini. Tapi gara-gara insiden tadi akhirnya aku kembali masuk lagi. Dan masuknya pun bersama Evan, anak pemilik restoran ini. Dengan wajah lebam pula.
Huuuhhh.... kenapa pula mereka berdua tadi bertemu diluar? Rutukku menyesali pertemuan antara Evan dan Giok tadi, karena ujung-ujungnya pasti baku hantam.
Aku mendengus jengkel.
Evan mendongak menatapku.
" Hei... kau mau disitu terus? Kenapa tak sedikitpun berniat mengobati lukaku?"
Aku tergelak tak percaya.
" Apa aku harus? Memang tadi kalian berkelahi aku yang menyuruh? Kalian sendiri kan yang mau adu jago? Kenapa tak di dalam ring tinju saja sekalian? Biar sekalian ada yang jadi juara? Laki-laki dimanapun sama saja." Kataku malah mengomel
" Kau ini..." Geram Evan tak jadi bangkit karena mungkin ngilu dirahangnya lebih dulu menyerang. 
Aku tiba-tiba iba juga melihatnya sejak tadi menahan kesakitan. Bagaimanapun dia adalah laki-laki yang kucintai dan juga mencintaiku, Meski hubungan percintaan kami  terlalu kebanyakan bumbu keegoisan.
" Perempuan dimanapun juga sama saja, tidak bisa menghargai padahal sudah dibela mati-matian"
" Aku tidak minta dibela dihadapan Giok. Biar saja dia mengkritikku. Toh aku juga tak akan jatuh oleh kritikan itu. Justru malah membuatku ingin terus lebih baik." Omelanku tetap berlanjut.
Kudatangi dia dengan kotak P3K dan sebuah baskom kecil berisi air hangat ditanganku.
" Apa begitu ya sikap meraih sebuah impian?" Tanyanya sedikit aneh, menurutku, karena jarang-jarang bahkan hampir tidak pernah Evan mengurusi impianku yang ingin menjadi chef yang diakui dunia. 
" Kalau bisa, apapun akan aku lakukan untuk meraih mimpi itu. Itu adalah keinginan terakhir almarhum ayahku." Jawabku sembari membersihkan luka lebamnya dengan olesan air hangat.
" Dan impianku adalah bersamamu selamanya. Akupun akan melakukan apapun untuk meraih impian itu." 
Aku tergelak dengan pengakuan naif Evan.
" Kenapa malah pasang wajah seperti itu? Apa kau masih tak percaya kalau aku bisa membahagiakanmu?" Desis Evan seperti tersindir dengan sudut bibirku yang terlalu melebar.
" Kata membahagiakan itu punya definisi yang luas. Dan aku bukan impian yang sebenarnya yang akan kau tuju."
" Maksudnya?" Tanya Evan tak mengerti, dicegahnya tanganku yang hendak megoleskan obat merah ke lukanya. Dia lebih tertarik dengan perkataanku.

Memang, mungkin terlalu kejam rasanya jika menganggap Evan sebagai pribadi tanpa tujuan hidup. Dia hanya anak orang kaya pada umumnya. Tuan muda yang angkuh, sombong, ceroboh dan semaunya sendiri. Mungkin karena masa depannya sudah terlihat, pewaris tunggal kekayaan orang tuanya, membuatnya tak penting memikirkan jalan impian. 
" Kita memang sangat berbeda dalam memandang arti dari impian."
" Kau ini bicara apa? Kenapa suka sekali mempersulit semua hal?" Dengus Evan kesal.
Aku tak langung menjawab, kuoles dulu luka memarnya dengan obat merah.
" Karena di dunia ini memang tak segampang yang kau pikirkan, tuan muda. Kau dan aku memang terlahir dari keluarga yang berbeda. Sejak kecil aku sudah terbiasa menghadapi apapun dalam kondisi yang tidak mudah."
" Lalu apa kau pikir aku selama ini hidup dalam kemudahan?"
" Apa lagi, kau kan tuan muda." Tanggapku sedikt cetus, sambil mengoles obat merah dibekas lukanya yang lain.
Evan tergelak.
" Aku bahkan tak bisa membeli sebotol air mineral jika tanpa uang ayahku. Itu sangat menyedihkan." Katanya seperti menggerutu
" Tapi lebih menyedihkan lagi dia bahkan tak peduli apapun yang kubeli dari uangnya."
Aku terpaku, kuselesaikan lebih cepat kegiatanku mengolesi obat merah pada lukanya.
Evan menggeser tubuhnya menghadap tepat didepanku,
" Kau tau, sebenarnya kita punya satu persamaan. "
Kuarahkan pandanganku ke titik matanya.
" Kita sama-sama mengejar pengakuan."
" Maksudnya?"
" Selama ini dia tak pernah percaya kemampuanku, selalu meremehkan kalau aku bisa melakukan sesuatu. Tapi dia tak pernah memberi kesempatan."
" Itu yang membuatmu berbuat seenaknya, menghambur-hamburkan uangnya?"
" Mungkin itu memang terdengar kekanak-kanakan."
" Itu memang sangat kekanak-kanakan." Ralatku.
" Aku hanya ingin kemampuanku mendapat pengakuan, sama sepertimu yang mengejar pengakuan bakatmu"
Aku tiba-tiba rikuh terjebak di suasana tak biasa ini. Aku buru-buru bangkit, tapi tangan Evan lebih cepat menyambarku. Aku terduduk lagi secara paksa, tapi kali ini aku tertunduk.
" Kenapa kau ingin mengorbankan orang yang kau cintai demi impianmu, padahal aku siap mengorbankan apapun demi orang yang kucintai, demi kau!"

Sungguh, aku tak sadar kapan ini semakin mmburuk, tapi aku memang benar-benar terjebak semakin dalam. Harusnya aku bisa meraih mimpiku menjadi chef terkenal. Tapi gara-gara kisah cinta seperti cinderela ini aku setiap hari harus berhadapan dengan batu sandungan bernama Giok. Dan karena ini, jangankan jadi chef terbaik dari kota ini, jadi chef andalan di dalam restoran ini pun sepertinya sangat sulit. Bahkan bisa jadi mustahil.
" Van, aku..."
" Apa sebenarnya aku tak pernah jadi orang yang kau cintai?"
Detik itu juga mataku langsung mengarah padanya.
" Jangan menatapku begitu. Itu tatapan menyalahkan, seperti tatapan polisi pada penjahat yang baru tertangkap."
" Van..."
" Selama ini aku merasa hanya aku yang selalu berusaha agar kita tetap bersama, dan kau selalu sibuk dengan impianmu."
Dan entah kenapa aku merasa sedikit sakit mendengar tudingan itu. Benarkah aku memang pantas dihakimi begini?
" Bukankah memang ada benyak hal yang membuat kita tidak bisa bersama?" Tanyaku kemudian.
" Tak ada yag tak bisa jika mau berusaha. Kau hanya tak mau berusaha agar semua menjadi bisa." Evan melepas genggaman tangannya, lalu bangkit perlahan.
" Jika memang benar aku tidak pernah menjadi orang yang kau cintai. Dan membuatmu memilih mengejar mimpimu menjadi chef terkenal, jawabannya sangat sederhana."
Aku mendongak, menatapnya yang juga sedang melihatku dengan entah pandangan seperti apa.
" Kau tak pernah menjajarkanku dalam impianmu. Kau tak percaya bahwa aku pantas kau impikan." Lanjutnya dingin, membuatku hampir tak bisa bernafas.
Lalu kaki  Evan perlahan beringsut pergi.
" Kau tau kenapa Giok selalu mencela setiap masakanku?" Tanyaku sebelum langkahnya benar-benar menjauh.
 Evan berhenti. Tapi hanya diam.
" Karena dia tau kita punya hubungan. Karena dia memegang kartu As-ku."
" Apa untungnya dia tau kita pacaran?"
" Keuntungannya karena aku bisa merugi. " Jawabku menatapnya.
Evan menatapku tak mengerti.
" Dia bisa melaporkan hubungan kita pada pemilik restoran ini, ayahmu. Dan jika dia tau kita punya hubungan, dapat dipastikan aku harus mencopot celemek dan topi ini secepat mungkin. Dan aku harus mengemasi semua impianku. Mengertilah Van, kita tak mungkin berakhir bahagia. daripada akhirnya kita berdua menderita, lebih baik dari sekarang kita putuskan . Karena kalau semakin dalam, sakitnya pun makin hebat."
Evan kembali membalikkan tubuhnya, tapi tak langsung melangkah.
" Baiklah, jika memang aku terlalu banyak menghambat jalan impianmu, pergilah dulu mengejar impianmu. "
Aku sedih mendengar ucapan Evan. tapi... bukankah memang ini yang kuinginkan. Kembali fokus pada impian tanpa adanya nama Evan?
" Aku akan mnunggumu di garis finish. Dan pada saat itu, kau tak kan punya alasan untuk menghindari cinta kita" Kemudian Evan melangkah keluar dari tempat itu. Menyisakan dentuman kecil pada pintu didepan sana.
Tapi dentuman didalam dadaku tak hanya kecil, cukup membuat hatiku sakit.


Rabu, 21 Oktober 2015

Luka

Pandanganku pada hamparan air danau buatan di taman kota ini perlahan teralih ke sisi lain. Seraut wajah tampan dengan ditopang tubuh tinggi tegapnya berdiri tak jauh dari tempatku duduk dengan nafas yang memburu. Beberapa bulir keringat terlihat mewarnai wajah orientalnya yang khas, Rei.
Langkahnya mendekat, terlihat tangannya memegang sesuatu.
"Apa yang kau lakukan? Bukannya tadi aku sudah bilang untuk menungguku di sana? Kenapa malah berpindah ke sini." Desisnya seperti marah.
''Kau juga tak mau mendengarku tadi. Bukannya aku tadi bilang ini hanya luka kecil, kenapa tetap nekat repot-repot mencari obat?" Balasku.
Terlihat sekali Rei marah dengan sikapku. Dia duduk di sampingku seraya membuka botol antiseptik dan menuangkan ke kapas ditangan satunya.
"Ini hanya luka kecil, Rei." Desisku hendak menghindari kapas itu, tapi dengan cepat Rei menarik lenganku dan sedikit memaksa mengoleskan basahan antiseptik itu ke siku kiriku yang tadi terluka karena tersrempet pengendara motor.
"Sekalipun kecil, tapi ini juga perlu diobati."
Aku tergelak, membuat Rei langsung menatapku. Meski detik berikutnya sibuk mengolesi lagi lukaku.
"Kau mengkhawatirkan luka kecil yang akan hilang sakitnya beberapa jam kemudian, tapi dengan luka yang lebih besar kau malah tak pernah peduli." Ucapku sinis.

Rei, entah kusebut apa dia saat ini. Memang beberapa waktu lalu dia sempat menjadi pemilik hatiku, penjaga hatiku, bahkan juga penentram hatiku. Tapi kemudian aku merasa semua menjadi aneh setelah kedatangan Hiroyuki, sepupu Rei.
''Kenapa kau tak bilang kalo kau dan Hiroyuki sama-sama anggota klub Manga?"
Aku tergelak tak percaya.
"Aku juga mana tau kalo dia sepupumu."
"Tapi kau tau kan kalo dia menyukaimu?"
"Apa?"
Rei tersenyum getir.
"Kau tau itu kan?"
"Lalu apa masalahnya? Dia menyukaiku atau tidak, itu bukan urusanku!" Geramku bangkit.
"Tapi itu urusanku!" Rei ikut bangkit, amarahnya ikut meluap.
Kutatap Rei lebih seksama.
Apa ini? Semacam cinta segitiga kah? Aku dan Rei sama-sama saling mencintai, bahkan sudah terjadi jauh sebelum aku dan Hiroyuki tergabung dalam klub Manga di kampus. Lalu, kenapa Rei harus semarah itu?
"Kenapa?" Tanyaku, tak tahan menerka-nerka sendiri alasan Rei bisa semarah itu.
Tapi ternyata aku tak cukup mendapat apa yang aku harapkan.
"Aku menyayangi Hiroyuki layaknya adik kandungku, dia... jauh lebih penting dari apapun."
"Termasuk aku?" Susulku segera.
Rei menghindari tatapanku.
''Maaf, aku tak bisa melihat Hiroyuki terluka karena aku bersamamu."
Aku tergelak saat itu.
Dan saat ini pun, ketika mengingatnya aku masih tergelak tak percaya.

"Apa kau bermaksud minta maaf dan kembali padaku?" Tanyaku terang-terangan.
Rei tak langsung menjawab, dia seperti lebih sibuk memasang plester untuk menutupi lukaku.
"Apa kau akan memaafkanku?" Tanyanya sambil memberesi alat p3k-nya.
"Tidak."
Rei menatapku sebentar, lalu tertawa lirih.
"Apa tak ada cara agar kau mau memaafkanku?" Tanyanya lagi.
"Tidak usah memikirkannya, hatiku bukan termasuk hati malaikat yang dengan mudah memaafkan sebuah luka."
Kali ini Rei menatapku lekat, serius.
"Usagi, aku berharap kita bisa memulai semuanya dari awal lagi."
Kucondongkan kepalaku sedikit, agar pandangaku tepat di bola matanya. Sekedar memastikan yang diucapkannya barusan benar-benar serius.
"Apa? Kau bercanda?''
"Apa aku terlihat seperti bercanda?"
Aku tersenyum tipis.
''Tidak, itu memang bukan ekspresi bercandamu. Sama seperti waktu itu."
Rei menunduk, seperti terbebani dengan kalimat terakhirku.
"Aku tau aku sudah mengambil keputusan yang salah." Sesalnya
"Tak apa. Lagipula bukan kau yang menanggung akibatnya kan?"
Rei langsung menatapku, seakan bisa dengan mudah menangkap nada sarkastis dalam ucapanku barusan. Kutimpali tatapan itu dengan senyum tipis.
"Usagi, aku tau tak mudah melupakan luka itu, tapi paling tidak biarkan aku sekarang mencoba mengobatinya. Aku ingin bertanggungjawab atas penyembuhan luka itu."
Aku diam dengan setumpuk rasa yang tiba-tiba berjejalan di dadaku.
Kupungut kertas struk didekatku, mungkin struk pembelian milik Rei tadi dari apotik.
"Kau lihat kertas ini, Rei?" Tanyaku mengacungkan kertas struk itu.
Rei menatap tak mengerti. Kuremas kuat-kuat kertas itu, kemudian membukanya lagi.
"Sekalipun aku merapikan kertas yang sudah aku remas tadi, kertas ini tak mungkin bisa rapi seperti sebelum kuremas." Paparku menatapnya yang juga sedang menatapku lekat, "Seperti itulah hati, Rei. Sekali dia terluka, sekalipun luka itu telah sembuh, tetap tak akan bisa membuat hati itu seperti sebelum terluka."
Aku mendesah berat, dan memilih mengarahkan pandanganku ke depan lagi, ke hamparan air danau yang tenang.
Ya, luka itu terlalu dalam. Terlalu sulit untuk sembuh sekalipun Rei sendiri yang menawarkan penyembuhnya. Rei terlalu meremehkan perasaanku demi tanggungjawabnya pada Hiroyuki. Dan apa mungkin kami harus memulai lagi dari awal setelah Rei yakin kini Hiroyuki bisa baik-baik saja?
Aku bahkan tak bisa membedakan siapa diantara mereka berdua yang mempermainkan perasaanku. Hiroyuki dengan cintanya yang kekanak-kanakan, atau malah Rei yang terlalu bersikap dewasa? Aku mungkin hanya terlalu terluka dengan sikap mereka. Merasa harga diri diremehkan, cinta yang terasa dikesampingkan.
Aku tergelak tanpa suara.
"Bukankah seiring berjalannya waktu, luka itu bisa sembuh?" Tanya Rei, apatis.
"Ya, mungkin. Tapi meskipun luka itu sembuh tetap saja meninggalkan bekas. Di dunia ini apa ada luka yang sembuh tanpa bekas? Aku tak sanggup jika seumur hidup harus menanggung bekas itu, Rei."
"Sekarang Hiroyuki pasti bisa jauh lebih menerima, Usagi. Kita bisa... "
"Hiroyuki, Hiroyuki, Hiroyuki... kenapa semuanya selalu berhubungan dengan Hiroyuki? Kenapa aku harus peduli?" Geramku.
Rei termangu mendapati kemarahanku.
"Bahkan kau sampai tak peduli apa yang kurasakan saat kau mementingkan dia, apa itu pantas?"
"Maaf." Sergah Rei hendak meraih jemariku, tapi kutepis.
''Tidak, jangan minta maaf. Ini bukan salahmu. Ini salahku karena mencintai orang yang terlalu sayang pada sepupunya."
Rei menatapku nanar, seperti tak rela aku menyalahkan diri sendiri.
"Sekalipun banyak sekali luka, bukankah ini tetap cinta?" Tanya Rei
Aku diam.
Jika cinta adalah menahan derita, aku mungkin bukan pecinta yang bisa menahan derita itu lama-lama. Aku pecinta yang lebih memilih mengibarkan bendera putih sebelum hancur lebur. Ya, aku bukan orang yang berhati malaikat, yang bisa tetap berusaha terbang meski sayap-sayapnya terluka dan patah.
"Ya, ini cinta." Jawabku akhirnya, dan meskipun nada bicaraku terkesan dingin tapi senyum Rei mengembang.
"Tapi jika cinta berjalan dengan begitu banyak luka, bisakah bertahan lama?" Lanjutku membuat senyum Rei menghilang. Matanya nanar menatapku dengan sederet kata di ujung bibirnya.
"Mungkin kau bisa mencoba mengawalinya. Mungkin Hiroyuki kali ini juga bisa menerima keadaan kita. Tapi aku...'' Aku perlahan bangkit.
Ngilu di siku kiriku menjalar seperti perih di hatiku yang makin menyebar.
"Kau marah?" Desisnya ikut bangkit.
Aku tersenyum menatapnya.
"Andai aku bisa marah, mungkin perih ini bisa menghilang lebih cepat. Tapi ini... entahlah. Aku hanya sudah tak punya kekuatan mengikuti kemauan cinta ini."
"Kenapa pesimis?"
"Bukan pesimis, hanya... aku tak mau terlalu naif, Rei. Belajarlah untuk menerima kenyataan yang tak sesuai impian." Pesanku lalu beringsut.
"Jadi kau sedang balas dendam?" Tudingnya membuat langkah ketiga-ku tertahan.
"Ini bukan balas dendam, Rei. Ini tentang sebuah cara mengakhiri cinta yang sudah seharusnya berakhir." Ralatku, lalu melanjutkan lagi langkahmu meninggalkannya.

Masih sempat beberapa kali namaku bergema diantara derap langkahku. Meski sulit, ternyata bisa kuacuhkan. Aku terus melangkah meninggalkan tepi danau itu.
Ya, meski ini terkesan seperti balas dendam aku lebih suka menganggap ini sebuah konsistensi. Cinta yang pada awalnya tak mampu bertahan karena riak kecil, maka sampai kapanpun tak akan berani berlayar untuk bertarung dengan ombak yang besar.
Sebuah luka meskipun bisa sembuh seiring waktu berjalan, tapi tetap saja meninggalkan bekas. Jika begitu, apakah tidak terlalu kejam jika harus mencoba untuk memulainya lagi dengan resiko akan luka serupa di tempat yang sama?

Senin, 19 Oktober 2015

Like The Wind


Langkahku terhenti di radius 10 meter dari tempat seorang laki-laki duduk terdiam memandangi hamparan bangunan pemukiman di bawah sana. Aku mendesah, antara lega dan sedih. Lega karena pencarianku akan dia seharian ini akhirnya berakhir di sini, dan sedih karena ternyata aku menemukannya dalam keadaan tak baik. Jika aku lebih mendekat lagi, pasti aku akan menemukan gurat kemarahan yang gagal dipendamnya. Aku juga akan melihat bola matanya yang biasanya bening menjadi sedikit memerah. Lalu aku juga tak akan menemukan senyum di bibir tipisnya, sekalipun itu senyum yang dipaksakan.

Aku mendesah lagi. Bingung, antara mendekatinya atau hanya melihatnya dari tempatku berdiri ini. Jika aku mendekatinya aku harus menyiapkan sederet bahan obrolan yang bisa menarik perhatiannya, kalo tidak pasti aku akan diusirnya pergi. Tapi kalo aku tetap berdiri di sini aku bisa memperhatikan punggung itu sampai puas. Mengawasinya dalam diam.
Tapi akhirnya aku memilih opsi yang pertama. Meski dengan langkah ragu aku akhirnya mendekatinya.
"Kau di sini rupanya." Kalimat itu yang pertama meluncur dari bibirku.
Sepasang mata yang memerah itu menatapku sedikit kaget, juga sedikit kesal. Aku mencoba tersenyum untuk mencoba mencairkan suasana.
"Apa kau tak kesepian datang ke sini sendirian? Kau kan tau aku paling suka kalo diajak ke sini." Kataku sedikit merajuk.
Tetap tak ada respon, mata itu malah kembali diarahkan ke depan.
Aku mendesah berat lalu mengambil duduk di sebelahnya, di hamparan rumput yang hijau.
Hening beberapa detik, bahkan semilir angin yang menyapa kami berdua seperti alunan tembang surgawi yang memanjakan telinga kami.

Namanya Panji. Sebenarnya bukan nama baru apalagi asing, aku sudah mengenalnya lebih dari separuh umurku. Aku mengenalnya sebagai tetangga sekaligus teman sebaya kala ibu mengajakku pindah ke daerah ini 15 tahun lalu, usai perceraian dengan  ayah terjadi. Di tempat baru ini Panji dan keluarganya seperti keluarga baru bagi kami. Kesimpulannya, laki-laki di sampingku ini tak hanya sebatas teman, tapi juga sudah seperti kakak laki-laki bagiku. Dan kami bahkan sering bertukar ibu. Istilahnya memang tak lazim, istilah kami yang menganggap ibuku juga ibunya, dan ibunya juga adalah ibuku.
Aku tak sadar tergelak mengingat semua itu.
"Apa ada yang lucu?" Tanyanya membuatku kaget.
"Hah?''
"Apa kau sedang menertawakan sesuatu?" Tanyanya lagi, dingin.
Aku hampir kesulitan bersikap.
Itulah Panji, jika dalam suasana begini, dia akan mudah tersinggung. Mudah berprasangka buruk. Sekalipun dengan aku.
"Apa kau ke sini memang mau mengolok-olokku karena ayah yang selama ini kubanggakan ternyata ketahuan berselingkuh?" Kali ini nada bicaranya tak hanya dingin, tapi juga sangat emosi.
"Tidak." Sangkalku segera.
Panji mendengus sebal, dan kembali menatap lurus ke depan. Aku mendesah lagi. Tapi kemudian tergelak lirih.
"Apalagi? Kau menertawakan ayahku yang mau menceraikan ibuku?" Suaranya meninggi, benar-benar sudah tersulut emosi.
"Hei, berhentilah berpikiran buruk pada orang-orang di sekitarmu!" Gusarku.
"Lalu kenapa sejak tadi kau tertawa terus?'' Desisnya menatapku lekat, seperti ingin menelanku mentah-mentah.
"Karena aku baru saja berfikir, kita sekarang punya nasib yang tak jauh beda." Jawabku.
Tatapan Panji meredup.
"Apa?"
"Ya, kita sekarang korban perceraian orang tua, bukankah ini takdir yang lucu?"
"Kau menyukainya?" Tudingnya sengit.
Aku terpaku sedetik, mencermati sinar mata yang ditunjukkan laki-laki yang secara tak sadar sangat kusayangi itu.
"Tidak." Jawabku tertahan, menahan sesak dadaku yang tiba-tiba menyerang, "aku tak sekejam itu sampai berharap kau bernasib sama seperti aku." Lanjutku menatap matanya nanar.

Tadi pagi, tiba-tiba Tante Nia, ibunya Panji mengejarku saat aku akan berangkat bekerja. Kentara sekali wajahnya menunjukkan bias kekhawatiran.
"Apa Panji menghubungimu, Ra?"
"Sejak kemarin dia belum menghubungiku, aku juga belum bertemu dia, Bu. Apa ada yang terjadi?"
Tante Nia terlihat makin gelisah, tangannya tak bisa diam.
"Bu, apa yang terjadi?" Kekhawatiranku ikut menyerang dengan tiba-tiba.
"Kemarin Panji bertengkar hebat dengan ayahnya,dan dia... dia tidak pulang. Ibu juga tidak bisa menghubunginya. Ibu kira dia menghubungimu."
"Bertengkar dengan om?" Tanyaku heran, karena itu sangat aneh terdengar. Karena bagi Panji, ayah adalah sosok panutan yang hampir tak ada cela. Paling tidak itu berlaku bagi Panji. Dan itulah yang sering membuatku iri pada Panji.
"Panji memergoki ayahnya..." Suara Tante Nia terpenggal, bias wajahnya menunjukkan sinar yang begitu riskan untuk kusebut. Malu.
Dan berbekal bias sinar di wajah itu, aku akhirnya memutuskan ijin untuk  tidak masuk kerja. Puluhan kali aku menghubungi nomor ponsel Panji, tak ada jawaban. Kudatangi semua tempat yang biasa kami kunjungi, tak juga kutemukan dia. Sampai akhirnya aku teringat satu tempat dimana ketika dulu aku bersedih ketika mengingat ayah, Panji selalu membawaku ke situ. Di atas bukit pinggiran kota.

"Aku masih ingat dulu kau selalu bilang padaku, hadapi dengan senyuman. Karena hanya dengan senyuman semua akan jadi lebih ringan." Kataku, mengingat nasihat yang sering dilontarkan Panji dulu.
Panji malah tergelak.
''Apanya yang lucu?" Tanyaku heran.
"Dulu saat kau bersedih, aku kira cukup mengerti perasaanmu. Hingga dengan mudahnya mengucapkan kalimat itu." Katanya, "tapi ternyata itu cuma kalimat sialan yang susah untuk dipraktekkan."
Aku menatapnya tanpa kedip. Mungkin saat ini aku juga hanya merasa cukup mengerti perasaan Panji. Hanya merasa, benar tidaknya siapa yang tau?
"Kenapa waktu itu kau percaya dan menuruti omonganku? Bukankah itu konyol?" Tanyanya menatapku dengan percikan api protes.
Aku memutar posisi dudukku 45 derajat. Menyilangkan kakiku dan bertopang dagu menatapnya dengan senyum kecil.
"Nji, aku memang tak sepenuhnya tau perasaanmu tapi diantara siapapun aku mungkin yang jauh lebih mengerti posisimu saat ini." Kataku datar. Panji hanya diam meski tetap menatapku.
"Aku, di usia yang seharusnya sedang bangga-bangganya pada sosok ayah justru harus menghadapi kenyataan bahwa laki-laki yang paling kubanggakan itu malah meninggalkan aku dan ibu, demi wanita lain."
Mata memerah dihadapanku itu kini menatapku sayu, seperti ketika menghiburku kala aku bersedih. Tatapan yang paling aku sukai dari laki-laki tersayangku ini.
"Tapi, berkat kau dan ayahmu, aku tidak berubah menjadi wanita yang menyedihkan. Kebencian karena rasa kecewa itu tidak sampai menjadi kebencian obyektif."

Ya, untung setelah perceraian 15 tahun lalu itu, ibu buru-buru mengajakku pindah ke sini dan mempertemukan aku dengan keluarga Panji. Aku tak bisa bayangkan andai aku terus berkubang dalam kekecewaanku pada ayahku tanpa ada uluran tangan dari sosok yang serupa, mungkin aku akan menjadi wanita yang tak akan pernah percaya pada cinta selama hidupnya.
Perlahan Panji juga menggeser posisi duduknya, hingga kini kami berhadapan.
"Aku baru menyadari kemarin, ternyata kau jauh lebih hebat daripada aku, Ra." Akunya membuatku tertawa.
"Padahal sejak dulu kau selalu bilang aku gadis cengeng."
Panji ikut tertawa sebentar, lalu terdiam sebentar.
"Tapi kekecewaan itu benar-benar menyakitkan. Sangat menyakitkan."Katanya kembali sendu.
"Hmm... Begitulah takdir, kejam dan menyakitkan." Imbuhku.
"Tapi kenapa dia melakukannya setelah bersama wanita yang dicintainya selama 25 tahun? Bukankah jika itu cinta maka harus selalu bersama apapun keadaannya?"
Kuraih jemarinya, menggenggamnya lembut.
"Seperti angin, cinta itu seperti angin, Nji."
Panji menatapku tak mengerti.
"Datang, singgah, menetap, dan pergi, semua tidak bisa dikendalikan."
Panji melebarkan sedikit sudut bibirnya.
Ya, seperti angin yang berhembus ini, cinta ini pun membelaiku. Itulah mengapa aku membiarkannya menerpaku

"Sangat tidak adil gadis sepertimu tak mendapat cinta yang sempurna." Katanya seperti menggumam. Aku mendelik.
"Apa maksudmu tak mendapat cinta yang sempurna? Aku punya ibu yang sangat menyayangiku, punya Tante Nia yang juga menyayangiku, punya om Banu yang menganggapku seperti anak gadisnya, dan aku juga punya kau." Celotehku tanpa hambatan, membuat sudut bibirnya berubah menjadi senyum.
"Dengan kata lain, aku kehilangan satu tapi aku mendapat tiga, hebat kan?"
Tangan Panji terulur merapikan rambutku yang berderai.

Tapi, aku menyayangimu sebagai apa? Kau menyayangiku sebagai apa? Bathinku bingung.
Aku tergelak mendapati tangan kami ternyata masih bergandengan.
Takdir memang kejam dan menyakitkan.
"Kau tak malu dekat denganku?" Tanyanya tiba-tiba.
"Hah?"
Panji menunduk.
"Setelah ini kehidupan keluargaku akan berubah 180 derajat. Pujian akan sangat mungkin menjadi cemoohan." Desahnya makin menunduk.
"Apa menjadi korban perceraian adalah kesalahan kita? Apa menjadi korban perceraian adalah dosa?" Tanyaku mendikte.
Panji mendongak sedikit.
"Kita bahkan sama sekali tak punya hak memilih terlahir dari orang tua yang akan bercerai pada akhirnya." Ujarku, "kita mungkin hanya harus sedikit memahami mereka, kenapa mereka bercerai." Lanjutku sedikit serak, mengingat kembali ketika aku harus memahami keputusan orang tua diusia delapan tahun.
"Mungkin memang sudah tidak ada jalan selain itu."
Aku melebarkan sedikit bibirku mendengar ucapan Panji barusan.
Mungkin, mungkin juga karena itu yang terbaik dari semua pilihan yang ada.

"Terimakasih, Ra."
Aku sedikit kaget mendengar pernyataannya barusan. Kutatap Panji yang ternyata lebih dulu menatapku lekat.
''Untuk apa?"
"Tetap menerimaku meski aku sekarang berbeda."
Aku tergelak.
"Karena status 'korban perceraian' ?" Tebakku.
Kini giliran Panji yang tergelak.
"Kenapa aku mulai terbiasa dengan istilah ciptaanmu?"
Akhirnya kami sama-sama tertawa.
"Aku tiba-tiba lapar, ayo kita cari makan." Ajaknya seraya bangkit lebih dulu, lalu menarik tanganku untuk bangkit.
''Kau sudah merasa lebih baik?"
Panji mengangguk.
"Tentu saja, dan itu berkat kau."
Kudramatisir kekagetanku.
"Kalo begitu kau harus mentraktirku makanan yang enak." Tagihku.
Panji merangkul leherku,
"Oke, asal kau tetap disampingku seperti ini, apapun yang kau minta, aku kabulkan."
Aku tertawa.
"Oke, Om jin, apapun kau kabulkan kan? Deal!" Kuulurkan tanganku untuk berjabat.
Panji tersenyum dan menyambut uluran tanganku, kami berjabat tangan erat.

Ya, begitu lebih baik, Nji. Tersenyum. Karena kau yang mengajarkanku, senyuman akan membuat semua jadi lebih ringan.

Dan untuk istilah perasaanku pada laki-laki ini, mungkin itu kasih antara sahabat kecil. Mungkin juga sayang antara saudara meski bukan keluarga. Atau mungkin itu memang cinta yang terlambat kusadari keberadaannya. Seperti angin, biarlah itu seperti angin. Menentukan sendiri kemana arahnya.



*Dan cerita ini mengalir begitu saja, sampai bingung berfokus pada apa,
Hehehe...

Minggu, 11 Oktober 2015

Normal

Aku menegakkan punggungku maksimal. Semilir angin sore langsung menerpa wajahku, memberi kesejukan untuk pori-pori kulit wajahku yang sejak tadi sengaja kututupi dengan kertas map.

Entah sudah berapa lama aku berdiam diri di rooftop kantor tempatku bekerja. Yang pasti sejak istirahat makan siang tadi aku tak pernah kembali ke meja kerjaku. Dan mungkin besok aku akan dipanggil kepala divisiku untuk mendengarkan omelan panjangnya. Biarlah, aku tak begitu peduli itu karena aku terlalu fokus memikirkan ucapan Kendra tadi pagi.

"Berhentilah bersikap begini!" Desah Kendra lebih mirip sebuah bentakan, mencoba menghentikan tanganku yang sibuk menata kertas-kertas di map.
Aku menatapnya sekilas, tapi meski hanya sekilas aku bisa melihat dengan jelas sinar kemarahan menyala di kedua manik matanya yang legam.

Tapi..., marah? Kenapa Kendra marah? Apa mengetahui aku bisa tetap bersikap baik-baik saja meski kenyataannya luka lama itu menganga sangat lebar hingga kini, membuatnya marah? Atau karena kedatangan pelaku penoreh luka lamaku itu yang  membuatnya marah?
"Kalo kau ingin marah, marahlah! Kalo kau ingin memaki, memakilah! Kalo kau ingin lari, larilah! Itu terlihat lebih baik dan lebih normal sebagai seorang manusia." Geramnya tertahan.
"Kenapa aku harus marah? Kenapa aku harus memaki? Kenapa aku harus lari? Apa karena kedatangan Glenn?" Cetusku.

Perlahan genggaman tangannya di lenganku mengendur. Bibirnya sedikit bergetar.
"Apa karena aku tak terpengaruh dengan kedatangan Glenn, lalu aku terlihat tak normal? Apa aku harus terpuruk jatuh agar terlihat normal? Hah?!"
Kendra menatapku nanar.
"Aku tau sebesar apa luka itu, aku tau sepenting apa dia dulu, aku juga tau sekeras apa kau mencoba bertahan..."
"Kurasa kau tak cukup tau." Kilahku.

Glenn, nama itu sebenarnya sudah mendarah daging di tubuhku. Cintanya seperti sebuah cakrawala luas yang memayungi seluruh kehidupanku. Tapi, ternyata itu tetap bukan jaminan Tuhan merestui kami. Karena ternyata saat kami berencana menghalalkan cinta kami, badai gelombang itu menghantam kami. Dan kami saling melepas genggaman tangan.

Dan bohong namanya jika itu tak menyakitkan. Karena secara kasat mata pun itu adalah pukulan yang cukup berat. Tapi, karena aku ada diantara orang-orang yang selalu membuatku tersenyum, aku pun berusaha menyingkirkan kesedihan itu. Keluarga, teman-teman, dan juga Kendra.
Lalu setelah 3 tahun, Glenn kembali ke kota ini, bahkan ke kantor ini, apa aku perlu menunjukkan lagi kelukaan itu?

"Ternyata kau disini."
Aku sedikit kaget dengan suara barusan, buru-buru menoleh mencari pelakunya dan ternyata... Kendra.
"Kau tak akan bilang kalo seharian ada disini kan?'' Selidiknya mendekat.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan hanya mendesah seraya menatap matahari yang mulai kehilangan teriknya.
"Ada apa?" Kendra mendekat, dan duduk tepat di depanku.
"Tidak, aku hanya berfikir."
"Memikirkan apa?"
"Perkataanmu tadi pagi."
"Hah?" Kaget Kendra
Aku tersenyum.

Selama 3 tahun ini, Kendra sudah seperti penyelamatku. Mungkin tak apa jika tak ada dia, tapi karena ada dia aku bisa jadi setegar ini. Bisa melupakan bahkan menghapus perlahan rasa menyesakkan ketika mengingat nama Glenn.
"Menurut pandanganmu, apa benar aku terlihat tak normal? Apa aku terlalu memaksakan diri?" Tanyaku.
Kendra menatapku sedikit sayu. Lalu terdengar mendesah sedikit berat.
"Aku hanya khawatir kau terjebak dalam smile mask syndrome, dan aku takut akan berlanjut menjadi masked depression.''
Alisku mengkerut mendengar hipotesisnya. Lalu aku tergelak lirih.
"Aku tak paham apa itu Smile mask syndrome atau Masked depression, tapi apa ini hanya kekhawatiranmu atau memang kau sudah menangkap gejala itu didiriku?" Tanyaku lagi.
Kendra masih menatapku lekat, sama seperti biasanya jika sedang melakukan konseling padaku.
"Aku harap aku hanya terlalu khawatir." Katanya kemudian, menjawab pertanyaanku tadi. Aku mengangguk menyetujui.
"Sejak kejadian itu, sampai detik ini, suasana hatimu harus selalu kau tekan saat kau bekerja. Kau harus bisa tersenyum manis dan ramah, padahal bisa saja waktu itu hatimu sedang menangis sedih." Paparnya, "dan itu bisa jadi pemicu utama Smile mask syndrome." Lanjutnya.
Aku hanya ber'o' pendek, tanda mengerti.

Memang, pekerjaan resepsionis yang telah kulakoni sebelum perpisahanku dengan Glenn dulu, tetap bisa kujalankan dengan baik. Dan aku menganggapnya sebagai profesionalisme kerja.

Dan tentang ketegaranku awalnya aku memang merasa ini adalah hal yang sebenarnya. Aku kuat, aku tegar, aku bisa melewati semua rasa sakit di masa lalu itu. Lama-lama aku bahkan hampir tak merasakan rasa sakit itu lagi. Dan saat melihat kembalinya pelaku penoreh luka hatiku itu, Glenn, aku hanya merasa terguncang sebentar. Hanya sebentar.

Tapi, semua kecemasan yang diluapkan Kendra tadi pagi justru seperti sebuah siraman air garam di atas bekas luka yang ternyata belum sembuh betul. Aku jadi bertanya, benarkah selama ini aku kuat menanggung luka pengkhianatan Glenn waktu itu? Yah, aku meragukan semua yang selama ini aku percayai.

"Mungkin..." Kataku mengabur, "mungkin kau benar. Selama ini aku mungkin memang terlalu memaksakan diri. Tak menyuarakan apa yang seharusnya aku katakan dan malah mengatakan yang bukan suaraku." Lanjutku berat.
"Apa kau menyadarinya kini?" Tanyanya seperti mendikte agar aku jujur.
Aku diam sebentar, mendesah panjang dan menatapnya dengan sedikit sudut bibirku yang melebar.
"Apa itu juga tak normal?"
"Apa kau takut?" Sergahnya cepat.
Aku mendesah lagi.
Takut? Entahlah, apa ini yang disebut takut? Takut kalo hatiku merasakan kesakitan lagi seperti 3 tahun dulu?
"Ya, mungkin. Mungkin benar aku selama ini hanya pura-pura tegar agar aku bisa melewatinya lebih mudah." Jawabku bimbang, "tapi kebohongan itu terbongkar saat aku bersikeras meyakini bahwa kembalinya dia bukanlah apa-apa."
Kendra menggenggam jemariku perlahan.
"Tak apa, itu yang disebut Repetition compulsion, tekanan ynag disebabkan pengulangan peristiwa masa lalu yang menyakitkan." Jelasnya, "dalam hal ini, terjadi karena pertemuanmu kembali dengan Glenn."
"Lalu?"
"Mintalah bantuan. Bersuaralah. Ulurkan tanganmu agar ada yang membantumu melewati ini."
"Apa jika aku tak meminta bantuan, maka aku terlihat tak normal?"
"Tidak juga, tapi meminta bantuan pada orang lain itu jauh lebih terlihat normal. Menceritakan apa yang kamu rasakan adalah langkah awal kamu meminta bantuan pada orang lain." Sanggahnya ringan, membuatku tergelak.
"Jadi tunggu saja sampai aku datang meminta bantuan."
"Tidak." Sergahnya singkat, membuatku terhenyak, "Aku tak mau menunggu lagi, karena pada dasarnya kau sudah mengulurkan tanganmu padaku. Menyuarakan apa yang kamu takutkan, apa yang kamu rasakan, itu sebuah sinyal bahwa kamu minta bantuan."
Kudramatisir kekagetanku dengan ekspresi lucu.
"Benarkah? Oh, tentu saja, selama ini aku pasienmu kan?" Kataku membenarkan.
"Tapi sekarang aku bicara bukan sebagai terapismu."
Mataku memicing, Kendra menunduk, seperti memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya sebagai lanjutan. Perlahan Kendra menarik tanganku yang lain. Kini, kedua tanganku terengkuh jemarinya.
"Awalnya aku kira ini sebuah Countertransference syndrome." Ucap Kendra, lagi-lagi menyebut istilah psikologi yang tak begitu kumengerti, "semacam belitan emosional terapis kepada pasiennya, karena merasa pasien sangat membutuhkan terapis. Atau karena terapis terlalu bersimpati pada masalah pasien." Lanjutnya menjelaskan.

Kupandangi rengkuhan jemari Kendra pada kedua tanganku. Selama ini, kami memang terlalu dekat jika dilihat dari sudut pandang dokter dan pasiennya.
"Tapi semakin lama aku semakin menyadari itu bukan sekedar empati atau simpati."
Aku mendongak menatap wajah Kendra yang ternyata tengah menatapku.
"Itu adalah perasaan cinta." Tegasnya lirih.
Aku terpaku, waktu seakan ikut terhenti mendengar pernyataan Kendra tadi. Tapi, tanpa kusadari aku tergelak.
"Selama 3 tahun ini kau coba mengulurkan tanganmu padaku, aku hanya berharap saat aku meraihnya janganlah menghindarinya." Pintanya.
Aku menunduk lagi. Seraut wajah tampan Glenn melintas, menoreh sedikit luka lagi. Perih.
"Saat dia tak terlihat, semuanya terasa lebih mudah. Tapi saat aku melihatnya lagi, aku tau itu tak semudah yang kubayangkan. Aku takut, Ken." Keluhku tetap menunduk.

Kendra mempererat genggamannya, seakan memberi kekuatan untukku yang memang sedang kalut. Kutatap Kendra perlahan. Dan seketika senyum manisnya tergelar membuat wajahku memias.
"Apa ini normal?" Tanyaku serius, meski disela usahaku menekan pias wajahku.
"Ya, ini normal. Biasa terjadi pada semua manusia." Jawabnya masih dengan senyum yang belum dihilangkannya, seperti puas melihat wajahku yang merona karena malu.

Entah itu Smile mask syndrome, Masked depression atau malah Repetition compulsion, aku tak begitu peduli dengan yang sedang menimpaku. Mungkin aku memang sedikit terguncang dengan kedatangan pelaku penoreh lukaku itu. Mungkin memang akan jadi hari-hari yang berat untuk beberapa waktu. Tapi semua itu normal, seperti yang dikatakan Kendra tadi. Dan aku tak begitu peduli dengan yang menimpa Kendra. Mungkin dia memang mengalami Countertransference syndrome, tapi selama dia ada disampingku membantuku melewati semua kesakitan sama seperti 3 tahun terakhir ini, bukankah itu masih digolongkan normal?
Seperti aku, dia pun baru saja menyuarakan apa yang selama ini disimpannya dalam hati.



>Inspirasinya dari pengetahuan yang kudapat dari drakor It's okay that's love dan Dr. Frost.
Maaf kalo kurang benar, soalnya bukan jebolan khusus psikologi, hehehe