Minggu, 27 September 2015

Love Next Door

Impian. Sama seperti orang lain akupun memiliki itu. Ingin mencoba lagi menjalin simpul-simpul cinta dan menjadikannya sebuah mahakarya yang indah. Tapi entah kenapa langkahku seperti terbelenggu. Ada jurang di depanku yang tak bisa kulangkahi, pun aku tak bisa menemukan jembatan agar bisa menyeberangi jurang itu. Aku terpaku disitu.
Yang menjadi pertanyaan, apa sebenarnya yang membelengguku? Jurang apa yang membuatku tak bisa melanjutkan langkahku?
"Masa lalu." Tandas Mia, satu-satunya wanita yang dekat denganku lima tahun terakhir ini.
Tapi entah harus kusebut apa dia. Desainer cantik itu lebih seperti ibuku yang tak pernah bosan mendengar semua keluh kesahku. Dan kemudian memberi solusi terbaik. Aku hanya merasa nyaman ada bersamanya, dan dia tak sekalipun menampik kedatanganku. Sekalipun itu hari libur, ataupun tengah malam.
Aku menatap wajah teduhnya yang juga sedang menatapku.
"Hah?!" Kagetku sangat terlambat.
Mia tersenyum, "Selama kau masih terikat masa lalu itu, jangan terlalu berharap kau bisa melangkah jauh." Jelasnya.
Aku tersenyum samar.
Tak ada yang sangat tau masa laluku melebihi Mia. Tentang sebuah nama yang merajai kehidupanku sebelum lima tahun yang lalu. Hanna. Tentang bagaimana besar dan agungnya rasa cintaku pada Hanna, yang kemudian menjadi samudera kepedihan karena pengkhianatan Hanna yang tak bisa kumengerti hingga hari ini.
"Sederhana saja, jika kau masih berdiri di depan pintu yang sudah lama tertutup, bagaimana kau bisa menemukan pintu lain untuk kau buka?"
Kukernyitkan dahiku mendengar hipotesis Mia. Tapi detik berikutnya aku tergelak.
"Bagaimana jika aku tidak bisa menemukan pintu lain padahal aku sudah meninggalkan pintu lama itu?" Tanyaku
Mia tak menjawab, membuatku menatapnya kembali. Yang ternyata mata itu tengah menatapku tanpa kedip.
"Begitu indahkah pintu itu hingga setelah bertahun-tahun kau tetap tak rela meninggalkannya? Hingga kau masih saja ragu bahwa akan ada pintu lain yang menunggu untuk kau buka?" Keluh Mia sedih.
Aku langsung tertunduk, merasa bersalah dengan semua kata-kata Mia barusan.
"Maaf." Pintaku lirih.
"Kenapa minta maaf? Apa telah melakukan kesalahan padaku? Tidak kan? Lalu kenapa kau minta maaf?"
"Berhentilah membuatku merasa bersalah, Mia!" Sergahku sedikit geram.
Mia tercekat. tapi kemudian senyum kecutnya tersungging. Membuatku jadi serba salah.
Aku tau selama ini aku seakan mengabaikan perasaan Mia padaku. Aku tau Mia tak hanya setia menemaniku menangani masalah-masalah yang sering datang padaku. Aku tau Mia juga ingin mengganti pintu lama Hanna yang enggan kutinggalkan itu. Tapi siapa yang bisa mengatur arus perasaan? Sekeras apapun aku mencoba mengganti kedudukan Hanna dihatiku dengan nama Mia, tetap saja aku tak bisa. Itu adalah perjuangan yang sangat melelahkan, dan aku hampir menyerah. Atau mungkin, sudah pasrah.
"Bodoh." Desis Mia lirih, tapi kesannya sangat menyakitkan.
Aku mendesah berat.
"Ya, aku memang bodoh. Tetap mengingat masa lalu itu dan tak mempedulikan semua perasaanmu."
"Bukan kau, tapi aku yang bodoh." Sanggah Mia, membuatku menatapnya, "jelas-jelas aku sudah tau kalo kau tak pernah berhasil melupakan pintu itu, tapi tetap saja aku menunggu hari dimana kau mau meninggalkan pintu itu." Lanjut Mia dengan serentetan tawa lirih.
"Mia, aku tau perasaanmu..." Pengakuanku terpenggal oleh gelak tawa Mia yang terkesan menyindir.
"Tak usah berpura-pura kau tau perasaanku, Kun. Karena aku tau kau tak pernah tau dan tak pernah mau tau perasaanku." Sanggahan Mia benar-benar menambah debit rasa bersalahku pada wanita cantik dihadapanku ini.
Aku menunduk sedih.

"Apa benar kau sangat mencintaiku?" Tanya Hanna sambil menatapku dengan senyum. Yah, ingatanku pada kenangan masa lalu bersama Hanna kembali menyerang.
"Apa kau masih ragu? Apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu?" Desisku, sebenarnya sedikit kesal tapi entah kenapa semua luntur oleh senyum manis Hanna.
"Menderitalah karena aku, sebesar apa kau menderita sebesar itu pula cintamu padaku." Ungkapnya dengan nada datar.
Aku tergelak mendengar jawaban tak masuk akal Hanna.
"Apa kau percaya bahwa mencintai seseorang itu menahan derita? Semakin kau mencintainya maka akan semakin menderita." Papar Hanna enteng.
"Benarkah?" Kernyitku.
Senyum manis Hanna kembali tergelar.
"Jadi, kalo aku semakin mencintaimu maka aku akan semakin menderita, begitu?" Tanyaku dengan gelak tawa, "tapi kenapa aku justru sangat bahagia?" Lanjutku heran.
"Itu karena ini baru setengah perjalanan, setiap kisah yang berawal pasti ada akhirnya. Begitu seterusnya, dan seterusnya... " Jawaban Hanna malah seperti melenceng dari topik aslinya.

Tapi setelah kejadian pengkhianatan Hanna pada cintaku terjadi, barulah aku membenarkan semua analisa Hanna waktu itu. Benar, mencintai itu menahan derita dan jika semakin besar kadar cinta, maka akan semakin menyakitkan penderitaan itu. Yang membuatku makin hancur, kenapa Hanna seperti memang sengaja memberitahukan itu padahal tau betul aku sangat mencintainya? Apa terlalu mencintai itu semacam kesalahan atau bahkan dosa?
"Apa benar kau sangat mencintaiku?" Tanyaku pada Mia, menjiplak pertanyaan Hanna kala itu yang baru saja kukenang.
Tapi pertanyaanku tak serta merta dijawab Mia, seperti yang kulakukan dulu. Mia malah tertawa lirih.
"Apa itu penting untuk kau ketahui sementara kau tak pernah peduli sebesar apa aku mencintaimu." Timpal Mia terkesan sinis.
Aku menatap Mia sedih. Apalagi saat menyadari Mia mendesah berat, seperti begitu menderita dengan keadaan ini.
"Aku ataupun kau sebenarnya ada dalam situasi yang tak jauh beda. Sama-sama terikat dengan cinta yang menyakitkan. Sama -sama kesulitan melepaskan diri meski punya keinginan." Ucap Mia terkesan datar tapi cukup kuat menohok ulu hatiku.
Mia kemudian menatapku, lalu seulas senyum tipis tergelar.
"Sekalipun kita percaya akan ada cinta lain yang menunggu di pintu berikutnya, tapi bukan perkara gampang mengangkat kaki ini untuk melangkah pergi dari depan pintu itu kan?" Ucap Mia lagi.
Benar, cinta ini memang benar-benar menyakitkan. Tapi sesakit apapun penderitaan yang ditimbulkan cinta itu, tetap tak seburuk yang dibayangkan. Tapi semua ini tak hanya tentang perasaan. Ini juga pilihan yang kita pilih sendiri, meski tak berarti kita memilihnya dengan senang hati. Karena dalam setiap pilihan itu ada konsekuensi yang harus dijalani. Rasa sakit yang menyakitkan.

Sama seperti Mia, aku pun percaya akan adanya cinta lain yang menunggu di pintu berikutnya. Cinta yang akan membantu kita membalut luka dari dentuman pintu cinta sebelumnya. Tapi semua butuh waktu. Dan aku tak yakin waktu yang kubutuhkan akan sama dengan waktu yang dimiliki Mia untukku.
"Maafkan aku, Mia, kau pasti juga tau seberat apa penderitaan ini." Keluhku lirih.
Terdengar Mia mendesah panjang.
"Ya, aku tau. Kita memang berada dalam situasi yang tak mungkin jatuh cinta atau melepaskan cinta." Sahut Mia berat, lalu berlalu dengan langkah sedih.

Dan disudut ruangan, di samping jendela besar, sosok yang sejak tadi memang ada disitu kini tersenyum kecewa dengan gelengan kepala pelan. Seakan tak percaya aku telah melukai Mia lagi.
Aku menatapnya dengan mata memburam
"Kenapa kau meninggalkanku? Kau telah mengkhianatiku karena lebih dulu meninggalkan dunia ini, Hanna." Keluhku, dan bulir-bulir air mata mengalir begitu saja melewati pipiku.

Kamis, 24 September 2015

Sebuah Luka, Sebuah Karma

Matahari masih belum sepenuhnya tenggelam. Semburat warna jingga di ufuk barat menjadi goresan cakrawala yang indah. Kuteguk lagi softdrink di tanganku. Lalu mendesah. Disusul gelak pendek dari pria di sebelahku. Mas Gatra. Salah satu pengacara terhebat di firma hukum milik keluargaku. Dia juga yang mengajariku banyak hal sejak papa mengakrabkanku pada dunia hukum.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kupikir papamu akan membiusmu dan mengirimmu ke luar negeri." Katanya ringan, seraya menatapku dengan senyum yang begitu akrab di bibirnya. 

Mas Gatra memang orang yang ramah dan solider. Pun kariernya sudah jauh sekali di atasku, dia tak pernah berubah. Tetap low profile. Mungkin itulah yang membuatku menjadikannya panutan, daripada papaku sendiri yang lebih terkesan otoriter dan arogan.
Aku tersenyum samar.
"Bukankah kau sendiri yang menjuluki belut listrik? Kau yang paling tau sepak terjangku setiap kabur dari kekangan papaku kan?"
Mas Gatra tergelak, ikut meneguk softdrinknya. Lalu diam beberapa menit.
"Kidung juga kebingungan mencarimu. Kau harus segera menemuinya." Kali ini ucapannya terkesan lebih serius.

Aku melempar pandanganku ke semburat jingga si senja seraya meneguk lagi softdrink ditanganku. Tapi, untuk menelan softdrink itu rasanya sedikit sulit. Mungkinkah karena tersebut nama Kidung tadi?
Nama itu. Gadis manis mungil yang tingginya pun hanya mencapai dadaku itu, entahlah... Aku kesulitan berfikir karena terlalu banyaknya hal yang kufikirkan tiap kali mengingat apalagi jika bertemu dengannya.
"Aku tau, aku sudah menemuinya." Kataku serak dan berat. Berat menahan rasa sakit yang menyerang dadaku.
"Apa kau akhirnya memberitahu dia? Tentang dirimu yang sebenarnya, tentang siapa ayahmu, dan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya?"
Sakit. Entah kenapa rasa sakit itu kian terasa mendengar semua pertanyaan dari mas Gatra. Bahkan menelan ludahku pun terasa seperti menelan duri-duri.
"Tidak, tapi dia sudah tau." Sanggahku tetap serak dan berat.

Kidung, gadis manis yang lincah itu aku mengenalnya dua bulan terakhir belakangan ini. Dia seorang mahasiswa tingkat akhir yang menyiapkan bahan skripsinya. Dia terjun langsung masuk ke firma keluargaku demi melakukan surveinya. Tapi selama itu pula aku menyembunyikan fakta bahwa ternyata Kidung juga tercatat dalam catatan hitam masa lalu papa.
Aku dalam dilema. Disatu sisi aku terlanjur jatuh cinta pada Kidung, tapi  disisi lain aku mendengar langsung dari bibir Kidung bahwa dia sangat membenci seseorang yang dulu telah menghancurkan kerja keras ayahnya bahkan sampai membuat ayahnya meninggal. Dan seseorang itu adalah papaku.
Saat mengetahui masa lalu keluargaku dan keluarga Kidung berkaitan erat, aku sering berfikir, jika pada akhirnya aku ditakdirkan jatuh cinta padanya, mengapa aku malah dilahirkan di keluarga yang menghancurkan keluarganya? Kenapa aku harus menyandang nama Wibowo dibelakang namaku? Kenapa harus gadis yang memikat hatiku itu yang menjadi putri dari korban ketamakan papaku?
"Seberapa banyak dia tau tentang dirimu yang sebenarnya?" Delik Mas Gatra menggusur lamunanku tentang Kidung. Aku diam.

Teringat mata teduh itu kemarin saat aku menunggunya di depan rumah sederhananya. Tanpa dendam, tapi juga seperti hampa cinta.
"Kau terlihat kurusan." Selidik Kidung mengamatiku dengan teliti sebelum kembali melangkah membuka pintu rumahnya.
"Benarkah? Mungkin karena aku jarang makan." Jawabku asal, meski memang itu kenyataannya.
"Kenapa?" Tanya Kidung menatapku dengan mata memicing.
"Tak ada selera makan."
Kidung tergelak memegang daun pintu, menungguku masuk.
"Manusia hanya kuat 4 hari kalo tidak makan, tapi sebelum hari ke empat, menjelang hari ke tiga, manusia sudah tak punya tenaga untuk berdiri." Kali ini Kidung lebih mirip menceramahiku.
Aku melangkah memasuki rumah sederhananya. Ini kedua kalinya aku bertandang ke rumah Kidung. Dengan suasana hati yang sangat jauh berbeda.
"Karena sudah kesini, aku akan memasak sesuatu yang bisa kau makan."
"Tidak perlu." Sergahku langsung disambut tatapan matanya yang bening.
Dan rasa sakit yang hebat tiba-tiba menyerang dadaku, membuatku hampir tak bisa bernafas. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa mata bening itu telah 10 tahun lebih menderita oleh perbuatan papaku sendiri.
"Hei, bukankah selama ini kau yang sering cerewet padaku agar tak lupa mengisi perut, hah?!" Gusarnya melipat tangannya ke dada.
Aku menghindari tatapan itu.
"Semua orang itu punya masalah, tapi seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, tetap tidak boleh tidak makan. Kalo tak makan, apa bisa menghadapi masalah? Yang ada masalah makin berat." Lanjutnya makin mengomel.
Dan semua sikapnya itu jauh dari perkiraanku. Membuatku makin merasa bersalah.
Aku mendesah panjang
"Aku juga penasaran seberapa banyak dia tahu tentang siapa aku yang sebenarnya." Gumamku mengambang. "tapi anehnya, dia bahkan tak sekalipun bertanya 'kenapa', tentang semua kebohonganku selama ini." Lanjutku.
Ya, selama ini aku memang merahasiakan siapa sebenarnya aku di hadapan Kidung. Aku memperkenalkan diri sebagai pengacara amatir di firma hukum itu. Aku bahkan tak menambahkan nama Wibowo di belakang namaku.
Tapi benar kata pepatah 'serapat apapun bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga'. Dan beberapa hari lalu, saat papaku melakukan konferensi pers sebagai kandidat calon ketua MA yang baru ternyata namaku ikut tersebut. Kidung yang saat itu kebetulan ada didekatku hanya menatapku diam dengan berbagai dugaan yang meracuni otakku.
"Kau... sangat menyayangi Kidung kan?" Tanya Mas Gatra, untuk kedua kalinya menyeretku dari lamunan.
Aku mendesah, tak berniat menjawab pertanyaan menyesakkan itu. Kudengar Mas Gatra tertawa lirih.
"Kau sangat menyayanginya, itulah kenapa kau sangat takut mengatakan yang sebenarnya pada Kidung. Begitu pun aku."
"Kenapa ya kita bertiga terbelit di dalam takdir yang aneh?" Gumamku menatap cakrawala yang kian suram, senja benar-benar telah sempurna.
"apa Tuhan memang sengaja mengirimmu sebagai pemersatu kami ketika kebencian harus menjadi pemisah?" Lanjutku disambut tawa Mas Gatra yang menurutku terdengar sangat aneh.
"Kenapa? Ada yang lucu? Apa masalah ini bagimu pantas untuk ditertawakan?" Kali ini aku sedikit kesal.
"Kenapa? Apa kau tak merasa takdir kita memang sedikit menggelikan? Aku secara tak sadar membantu papamu menghancurkan hidup keluarga Kidung, dan karena rasa bersalahku selama 10 tahun lebih diam-diam membiayai hidupnya, bahkan sampai mau menjadikannya sarjana hukum." Papar Mas Gatra. "dan kau, dengan sendirinya akhirnya mendekati korban dari kerakusan papamu. Bahkan kemudian jatuh cinta padanya. Apa menurutmu itu kurang lucu?" Lanjut Mas Gatra bertanya.
Aku diam sebentar.
"Cinta yang di mulai dari sebuah kebencian, apa akan berakhir tragis, Mas?" Aku malah mengajukan pertanyaan lain.
Mas Gatra diam, menatap ufuk barat yang sudah sempurna gelap dengan hiasan sebuah bintang kejora.
"Saat menemui Kidung, apa dia menanyakan sesuatu?" Tanya Mas Gatra datar meski terkesan sangat serius.
Aku meneguk sisa softdrink-ku seraya menata dulu suasana hatiku yang semrawut karena harus mengingat kembali kejadian kemarin.

Bahkan, sebelum akhirnya aku memutuskan menemui Kidung, aku sudah lebih dulu menyiapkan segala kemungkinan terburuk sekalipun. Aku berjanji akan menjawab semua hal yang akan dia tanyakan. Aku akan terima semua kemarahan bahkan makian jika itu bisa membuatnya puas.
Tapi, ketika aku melihatnya pulang. Aku malah menemukan senyum kecilnya. Meski sedikit dipaksakan, tapi aku tau senyum itu sebuah kesungguhan bahwa dia tetap menerimaku. Dan selama dua jam di rumahnya, aku bahkan tak sekalipun mendengarnya bertanya 'kenapa'. 
Dan itu membuatku makin merasa bersalah padanya.
Aku menarik nafas panjang.
"Tidak, tak satupun pertanyaan dia tanyakan. Dan itu membuatku bertanya-tanya, benarkah dia baik-baik saja?"
Mas Gatra menepuk pundakku pelan.
"Dia akan baik-baik saja. Percayalah, dia bukan gadis lemah." Ujar Mas Gatra meyakinkanku tapi itu malah membuatku tertawa.
"Aku terus bertanya, kenapa aku harus terlahir dengan nama belakang Wibowo."
"Kau sedang mengeluh?" Selidik Mas Gatra.
Kujawab dengan helaan nafas berat. Mas Gatra merangkulku 'bak seorang kakak menggamit adik kecilnya. "kau tau, tak seorangpun di dunia ini yang terlahir dengan memilih orang tuanya. Karena orang tua bukan pilihan, tapi pemberian. Jika kau merasa semua ini harus berakhir bahagia, maka berusahalah agar bisa berakhir bahagia." Lanjut Mas Gatra pasti.
Kutatap Mas Gatra dalam suasana temaram yang telah menyelubungi seluruh alam. Ada senyum kepastian disana. Kepastian yang mungkin meyakinkanku bahwa ada akhir yang harus kuusahakan untuk terjadi; bahagia.
Mungkin memang tidak mudah, tapi mungkin memang langkah pertama aku harus menemui Kidung lagi untuk memperkenalkan diriku yang sebenarnya.
Aku bangkit.
"Aku akan menemuinya." Kataku tegas.
Dan senyum Mas Gatra tergelar dalam remangnya pandanganku akan malam yang sudah menjelma.



"Apa ini?'' Tanya Kidung tak mengerti saat kusodori KTP milikku.
Aku menarik nafas sebentar.
"Selama ini kau hanya tau namaku Danish kan? Aku terlalu pengecut untuk berkata jujur bahwa namaku..."
"Itu sudah cukup." Sergah Kidung cepat, dan tegas.
Aku menatapnya lekat, pun ia menatapku tanpa kedip.
"Bagiku sudah cukup mengenalmu sebagai seseorang bernama Danish." Kata Kidung lagi.
Apa ini? Kidung bahkan tak peduli bahwa namaku Danish Wibowo? Kidung tak peduli aku putra dari orang yang telah menghancurkan seluruh keluarganya?
"Kau tak marah?" Tanyaku tak yakin.
Kidung menunduk dengan seulas senyum yang masih sempat kunikmati.
"Jujur saja, sebenarnya saat baru mngetahuinya aku begitu marah, begitu kecewa." Akunya terkesan dingin.
Aku terpaku mendengar pengakuannya.
"Kenapa harus kau yang disebut sebagai putra kandidat ketua MA itu? Kenapa aku harus mendengarnya dari media saat hampir setiap hari aku bertemu denganmu?" Lanjutnya membuatku tertunduk.
"Tapi... ketika aku mendengar kau menghilang bahkan kau tak bisa dihubungi oleh siapapun, aku merasa aneh." Kidung berhenti sejenak, menarik nafas pendek. "aku mencemaskanmu. Aku..."
Aku mendongak mengamati perubahan mimik wajahnya. Lalu tiba-tiba Kidung mendongak dengan senyum kecil.
"Dan aku merasa lega waktu kemarin menemukanmu menungguku di depan rumahku."
"Kau mencemaskanku?" Tanyaku
"Hmm..."
"Kau senang melihatku kemarin?"
"Hmm..."
"Kau tak membenciku?"
Kidung menghela nafas pendek.
"Aku membenci perbuatan papamu di masa lalu, tapi aku..." Suara Kidung menghilang membuat dahiku berkerut, "aku percaya kau berbeda dengan papamu. Itulah sebabnya aku tak punya hak membencimu juga." Lanjutnya dengan seulas senyum.
Dan entah kenapa aku juga ikut tersenyum. Bahkan rasa sesak yang selama ini menghimpitku perlahan menghilang.

Mungkin inilah yang dimaksud oleh mas Gatra tentang mengusahakan akhir yang bahagia. Mungkin aku harus mulai berfikir, meski itu adalah kesalahan papaku, itu adalah kesalahan papaku. Ada kalanya aku akan merasa sangat bersalah pada korban dan keluarganya, tapi siapa orang di dunia ini yang tak pantas bahagia? Sekalipun aku putra seorang 'pembunuh', sekalipun aku merasa ikut menanggung dosa itu, tapi bukan berarti aku harus menerima akibatnya kan?
Mungkin, aku hanya perlu membuat pelaku mengakui kesalahannya, dan akan ada yang mengurus untuk semua balasannya.
Kutatap Kidung lagi, senyumnya terlihat jelas memastikan semua akan baik-baik saja. Dan aku bernafas dengan lega. Menyisihkan dosa dan karma yang ditinggalkan oleh papa.

Faith

Wajah cantik Airis pemilik mata bulat indah itu sedikit melotot melihatku setelah kuajukan ajakan untuk keluar dari ruangan ini.
"Apa?" Tanyanya, seperti memintaku mengulangi ajakanku tadi.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, hanya denganmu saja." Kataku sekilas melirik ke arah Nara yang sepertinya lebih sibuk memperhatikan Ewin yang masih sibuk dengan pemeriksaannya dengan seorang dokter dan dua orang perawat.
"Tenang saja, aku tidak akan memakanmu." Kelakarku membuat Airis malah jengkel.
Tapi akhirnya aku berhasil mengajak Airis keluar dari ruangan itu, menuju taman rumah sakit dengan secangkir kopi di masing-masing tangan kami.
"Apa benar ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Airis penuh selidik.
Aku hanya tersenyum samar lalu meneguk kopi milikku.
Airis tergelak, "Kau membuatku keluar agar mereka bisa berdua saja kan?" Dengusnya jengkel.
"Ternyata kau cepat tanggap juga.''
Airis tergelak lagi.
"Mereka perlu waktu untuk bicara berdua saja."
"Aku penasaran soal hubunganmu dengan Nara. Kau yang terlalu mencintai dia atau kau yang terlalu bodoh hingga tak tau kau hanya dipakai untuk pelarian?" Gusarnya menatapku penuh dengan mata bulatnya.
"Aku memang mencintainya, tapi aku yakin dia tidak pernah menjadikanku pelarian."
Airis tertawa sumbang.
"Aku benar-benar bingung dengan kalian bertiga."
Aku meneguk kopiku lagi.
''Aku mengenal mereka berdua jauh sebelum aku mencintai Nara. Aku sempat melihat indahnya cinta mereka sebelum akhirnya hilang tak beraturan karena benturan keegoisan."
Airis menatapku tanpa kedip. Mungkin dia tak percaya aku masih bisa menerima semua hal yang terjadi antara Nara kekasihku dan Ewin, kekasihnya. Karena pada kenyataannya, Nara adalah kekasihku. Dan aku percaya dia mencintaiku, meski kadang Nara sendiri meragukannya.
''Aku bahkan tak yakin bisa mencintaimu, kenapa kau tetap bersikeras ada di sampingku?" Keluhnya kala itu.
Aku tersenyum mengenggam jemarinya yang gelisah.
"Kau bukannya tak yakin, kau hanya perlu waktu untuk meyakinkan hatimu untuk kumiliki." Kataku menatap wajahnya yang tersembunyi dalam gurat luka yang belum sembuh. "Dan aku masih sabar menunggu sampai kau yakin."
Airis tertawa lagi, dan berhasil menyeretku dari secuil kenangan bersama Nara.
"Meski aku tak mengenal Ewin secara menyeluruh, tapi aku sudah mengenalnya jauh sebelum kau ataupun Nara."
"Apa kau baru saja mengukur cinta dengan waktu? Sejak kapan cinta diukur dari berapa lama mengenalnya?" Tanyaku menatapnya penuh. "Bukankah dalamnya cinta itu lebih bisa diukur dari ketulusannya?"
"Jadi apa kau baru saja menyimpulkan kalo selama ini aku hanya memanfaatkan perpisahan antara Nara dan Ewin? Apa kau pikir Ewin tak mencintaiku? Hah!" Geram Airis.
Aku tak menjawab semua pertanyaan Airis yang penuh amarah.
Airis, dia memang jauh lebih mengenal Ewin daripada aku ataupun Nara. Dia datang dari masa lalu Ewin, lebih tepatnya teman kecil Ewin. Tapi menginjak dewasa Airis bersama keluarganya pindah ke Skotlandia. Baru setahun lalu, sebulan sebelum Ewin dan Nara berpisah Airis datang diantara mereka.
Meski aku tak bisa mengatakan Airis pemicu hancurnya hubungan indah keduanya, tapi aku juga tak bisa mengacuhkan sikap Airis yang terlalu mencolok selepas Nara dan Ewin berpisah. Bahkan kemudian tersiar kabar rencana pernikahan mereka yang akan diadakan di Skotlandia, meski semua harus tertunda ketika Ewin kecelakaan di tempat konstruksi dan mendapat luka yang cukup parah.
"Dia..., Ewin, Ewin baik-baik saja kan?" Kentara sekali suara Nara saat mendengar kabar Ewin mendapat kecelakaan di tempat kerja yang cukup serius.
Aku bingung menjawabnya. Kalo aku bilang Ewin baik-baik saja aku melihatnya sendiri keadaannya tadi yang jauh dari kata baik-baik saja. Tapi kalo aku bilang kondisinya cukup parah, aku takut Nara akan semakin histeris.
"Okan, jawab aku, luka Ewin tidak parah kan?" Kali ini suaranya lebih seperti membentakku.
Aku hanya mencoba tersenyum, seraya menggenggam tangannya.
Aku mendesah.
"Apa kau tau Ai, kadang kita harus berdamai dengan masa lalu agar kita bisa bahagia hari ini."
Airis seperti tak menggubris omonganku dan malah meneguk kopinya.
"Mereka berpisah bukan karena saling benci, jadi besar kemungkinan cinta itu tak mudah untuk hilang. Dan bisa dibuktikan pada keadaan seperti ini."
"Kenapa kau memberi jalan orang yang kau cintai meninggalkanmu? Apa itu yang kau sebut cinta?" Delik Airis.
"Lalu apa definisimu tentang cinta? Membenci masa lalunya? Bukankah aku tadi bilang kita harus berdamai dengan masa lalu agar bisa bahagia hari ini?" Sanggahku.
Airis tergelak.
" Jika itu cinta sejati, maka akan tertarik dengan sendirinya. Dan jangan pernah mengira kau bisa mengatur haluan cinta, karena kau tak akan bisa." Kataku lagi.
Airis menatapku lekat dan penuh selidik.
"Katakan sejujurnya padaku, apa maksud dari semua pembicaraan ini, Okan? Jangan bilang kau menyuruhku melepaskan Ewin agar bisa bersama lagi dengan Nara."
Aku diam, berharap Airis bisa mengerti yang kumaksud tanpa harus kujelaskan lagi.
"Apa kau juga bermaksud melepaskan Nara? Apa kau sudah gila?" Lanjut Airis meninggi.
"Karena itu cinta sejati... "
"Bullsit dengan cinta sejati. Aku tak akan melepaskan apalagi memberi kesempatan pada Nara untuk kembali lagi pada Ewin. Tak akan pernah, dengar itu!" Marahnya lalu beringsut pergi meninggalkanku pergi.
Aku mendesah berat. Dan memang berat memutuskan hal yang sama sekali bukan keinginan kita. Melihat bagaimana cemasnya wajah Nara juga melihat bagaimana damainya tatapan mata Ewin tadi, aku benar-benar tak bisa berbuat apapun selain pasrah dengan arus yang akan menghanyutkanku.

Sekembali aku ke ruang perawatan Ewin, Ewin sudah terlelap dan Nara berdiri sedikit jauh meski dengan mata yang tak pernah lepas dari tempat Ewin berbaring. Sejenak aku terdiam tak langsung masuk, mengamati dua orang yang meski saling cinta tapi seperti tak punya pilihan selain berpisah.
"Dia sudah tidur." Kataku pelan, dan hanya mendapat respon deheman pendek dari Nara.
"Aku...."
"Terimakasih." Sela Nara tiba-tiba. Aku refleks menatap pemilik wajah yang sangat kuimpikan bisa tulus mencintaiku itu.
"Untuk apa?"
Nara menatapku dengan senyum.
"Semuanya.'' Jawabnya membuatku tersenyum.
"Aku tidak bisa memaksamu melupakan masa lalumu atau sekedar menyuruhmu untuk tidak terikat lagi dengan masa lalumu. Aku hanya berharap berdamai dengan masa lalumu bisa membuatmu bahagia bersamaku.''
Nara menatapku lekat. Dan perlahan tatapan itu menjadi memburam.
"Kenapa kau selalu yakin kita bisa bahagia bersama?" Tanyanya serak.
Aku tersenyum dan merangkul pundaknya yang sedikit gemetar.
"Karena kita hanya bisa hidup dengan keyakinan." Jawabku yakin.
Dan dengan masih dalam rangkulanku, kami melangkah bersama keluar dari ruangan itu.

Rabu, 23 September 2015

Nightmare

Aku terpaku menatap setiap inchi sudut ruangan yang terbilang mewah ini. Dan yang paling membuatku tertegun tak percaya adalah bola kaca yang didalamnya sepasang kekasih yang sedang berciuman, yang jika posisinya dibalik maka akan ada salju menghujani keduanya.

Meski sudah cukup lama, aku masih ingat dengan jelas bola kaca itu 10 tahun lalu pernah kuhadiahkan pada Farah yang sangat menyukai salju kala itu dan sangat ingin berdiri diantara hujan salju. Tapi kenapa benda itu sekarang ada di sini, di apartemen milik Jihan?

Otakku berfikir keras, mengingat setiap detail kenangan selama dua bulan terakhir ini sejak kenal dan dekat dengan gadis glamour nan seksi bernama Jihan.
''Kenapa kau seperti tak suka melihatku? Apa dimatamu aku terlihat kurang menarik?" Tanyanya kala itu, di pertemuan kedua, di sebuah restoran hotel bintang lima. Waktu itu atasanku menjamuku karena aku telah berhasil memenangkan tender yag selama ini diincar oleh perusahaan. Dan aku benar-benar tak percaya 'teman wanita' atasanku adalah Jihan, gadis yang secara tak sengaja seminggu lalu ada di satu lift apartemen denganku.
"Hei... kau tak usah menggoda Raka, dia bukan laki-laki yang menyukai wanita berbaju seksi sepertimu." Sergah pak Anton, atasanku, seraya menyentil genit hidung jihan.
Aku gerah melihatnya,  dan saat menyadari arti tatapan mata Jihan kala itu....

"Sedang apa kau disini? Kenapa kau bisa masuk?" Tanya sebuah suara di belakangku.
Aku menoleh dan mendapati sesosok gadis berpakaian gaun seksi lagi mahal. Entah harus kupanggil siapa dia, Jihan ataukah Farah?
"Kau... " Suaraku terpenggal dengan sendirinya, kutelan dulu ludahku yang terasa menyangkut di kerongkongan. "Siapa sebenarnya kau?" Lanjutku hampir tak bersuara.
Jihan malah menyunggingkan senyum sinisnya.
"Memang siapa yang kau harapkan? Farah gadis lugu itu?" Tanyanya menohok hatiku.
"Kau... benar-benar Farah?"
Senyum sinis Jihan berubah jadi gelak tawa sombong.
"Kalo kau bukan Farah, lalu kenapa kau punya bola kaca itu?" Tanyaku menunjuk bola kaca di atas meja kecil disudut ruangan.
Jihan tetap bersikap tenang, bahkan seperti sedang menguji kesabaranku.
"Apa aku sama sekali tak mirip farah yang lugu itu?"

Aku termangu, kuamati lebih seksama gadis yang hanya berjarak kurang dari dua meter dari hadapanku itu. Dari awal aku memang merasa tak asing dengan tatapan mata itu, tapi aku tak mungkin menyangka Jihan adalah Farah. Mereka dua orang yang berbeda. Dari segi penampilan wajah, sampai cara berpakaian sangat bertolak belakang dengan kepribadian Farah. Jadi, mana mungkin gadis dihadapanku ini adalah Farah? Gadis baik nan lugu yang 10 tahun lalu sangat dekat denganku. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi urat nadiku. Tapi....
"Baru 10 tahun, tapi kau sudah tak bisa mengenaliku. Apa aku saja yang bisa mengenalimu sementara kau tak bisa mengenaliku?"
"Farah... jadi kau benar-benar.... " Ucapku terbata-bata, dengan langkah gemetar mendekatinya.
"Tunggu." Cegahnya pada langkahku, aku tak mengerti meski tetap berhenti.
"kapan kau mengenaliku sebagai Farah? Apa hanya karena bola kaca itu?" Lanjutnya telak.
Aku menunduk.
"Maaf, aku memang sedikit terlambat mengenalimu.''
Jihan tertawa.
"Sedikit kau bilang? Kau sangat  terlambat."
''Aku tau. Tapi kenapa kau sekarang begini, Far? Jangan menghancurkan diri bersama orang-orang bejat itu."
Jihan tertawa lagi.
"Kau yang pertama kalinya membuatku begini. Aku sudah hancur saat kau meninggalkanku dengan temanmu yang bejat itu!" Geram Jihan, sangat jauh dari Farah yang kukenal dulu.
"Aku tak pernah meninggalkanmu, apalagi meninggalkanmu padanya."
Farah tergelak sadis.
"Apa itu yang disebut alibi?"
"Aku tidak pernah meninggalkanmu, kumohon percayalah dan beri aku kesempatan untuk menjelaskannya." Suaraku meninggi, berharap Jihan tak terus-teruskan memojokkanku dengan kesalahan terfatal dimasa lalu.

Yang pasti aku tak pernah meninggalkan orang yang kucintai itu. Aku hanya menyuruhnya menunggu sebentar di tempat Doni saat aku hendak menghadiri interview tahap akhir. Tapi sekembalinya aku, yang kutemukan hanya kemarahan Farah. Kemarahan yang tak pernah kupahami, paling tidak sebelum hari ini. Dan ketika hari ini aku menyadari kesalahan yang telah kubuat, rasanya jauh lebih menyesakkan dadaku daripada penderitaan yang kujalani 10 tahun terakhir ini dalam pencariannya.
"Farah..." Desisku hendak menyentuhnya, tapi buru-buru tubuh  itu menghindar.
"Aku tak tau kalo akibatnya separah itu, aku tak pernah meninggalkanmu pada Doni, apalagi menjualmu. Tidak, Farah." Keluhku menahan tangis yang hampir sempurna menyerangku.
"Aku sudah tidak peduli semua itu. Sejak saat itu, aku hanya berjanji satu hal. Aku akan mengejarmu naik ke atas untuk menjatuhkanmu." Tegasnya penuh api kebencian di matanya."dan jangan panggil aku Farah. Aku sudah melupakan nama gadis lugu dan tak bisa apa-apa itu." Lanjutnya.
Kutatap lekat wajah penuh kemarahan dihadapanku itu. Rasa sesal dan bersalah menyerangku dari berbagai sudut. Harusnya dulu aku tak meninggalkannya pada Doni. Harusnya dulu benar-benar kutanyai apa yang sebenarnya terjadi. Harusnya aku tetap disampingnya sejak saat itu. Harusnya, harusnya, harusnya...
Mataku mengerjap seiring kesadaranku kembali. Kubuka perlahan mataku dan langsung kutemukan wajah cantik nan anggun dalam balutan jilbab syar'i.
"Apa kau mimpi buruk lagi?" Tanyanya.
Aku menarik nafas lega. Karena tenyata, sekali lagi itu semua hanya mimpi.
Aku tersenyum seraya menarik jemarinya yang salah satunya terhias cincin emas tiga gram, seperti yang melingkar pula di salah satu jariku.
"Pasti kau lupa lagi, tak baca do'a sebelum tidur." Selidiknya mengusap sedikit keringat di keningku.
"Tak apa, hanya mimpi. Yang penting semua baik-baik saja." Kataku meyakinkannya, juga diriku sendiri.
Senyum itu pun mengembang dengan manis dibibirnya, istriku, Farah.

Senin, 14 September 2015

Segitiga Cinta

Sesekali aku melirik ke arah Alung yang sibuk mengedit naskah cerpen yang tadi pagi baru disetorkan oleh salah satu siswa. Usai pulang sekolah nanti mading sudah harus di pasang jadi hari ini semua pengurus mading lembur sedikit. Makanya kumanfaatkan Alung untuk membantu mengedit EYD bagian cerpen. Sekalian agar dia makin tau tentang dunia sastra yang katanya ingin dipelajarinya.

Tiba-tiba sebuah tangan menarikku, sebenarnya lebih ke arti menyeret. Aku sedikit gelagapan mengikuti langkah penyeretku itu; Kenzo.
" Ini apaan sih? Kaya scene film mafia aja." Rutukku sedikit kudramatisir.
Tapi wajah serius Kenzo membuatku urung melanjutkan skenario drama lainnya.
" Ada apa?" Tanyaku heran.
" Ada apa? Kau bawa berandal itu masuk kesini, masih bisa tanya 'ada apa'?" Geram Kenzo dengan suara tertahan, seperti takut didengar orang lain.
" Berandal? Siapa maksudmu?"
Kenzo menggerakkan kepalanya sedikit ke arah tempat Alung.
" Alung?"
Kenzo mengangguk.
" Kenapa kau menyebutnya berandal? Dia datang bersamaku, dia sengaja kusuruh membantu mengedit EYD cerpen."
" Kenapa mempercayakan hal itu padanya? Harusnya kau tak percayakan edit EYD padanya. Bahkan jika itu hanya memasang di papan mading, kau tak perlu mempercayakan  padanya." Cerocos Kenzo dengan kekesalan yang masih tak kupahami.
" Memang apa salahnya kalo Alung tertarik sastra? Apa mading ini sudah mulai memberlakukan diskriminasi dalam penerimaan anggotanya?" Aku juga mulai ikut kesal dengan sikap Kenzo yang mulai arogan.
Kenzo mendesah berat.
" Bukan begitu, Yung... Tapi Alung itu trouble maker. Apa aku perlu bawakan catatan dari ruang BP sebagai buktinya?"
" Kenapa kau malah seperti tukang vonis? Alung memang bukan siswa teladan, tapi di dunia sastra yang dibutuhkan adalah bakat dan minat." Geramku tak terbendung
" Kenapa kau selalu membela berandal itu?"
" Dan kenapa selalu menyebutnya berandal? Namanya Alung, apa aku perlu tunjukkan kartu pelajarnya?" Suaraku makin meninggi, penuh emosi menatap lekat mata sipit Kenzo yang sebenarnya pesona yang paling kusukai dari rekan setiaku menggurus mading  selama ini.
" Hei."
Kemarahan antara aku dan Kenzo terpenggal oleh teguran singkat itu. Kami sama-sama menoleh ke arah Alung.
" Kalian sedang membicarakanku, tapi kenapa begitu keras sekali? Aku mendengarnya sangat jelas tiap katanya, bukankah itu sangat tidak sopan?" Ujar Alung melipat tangannya ke dada, menatap kami. 
Aku menunduk malu, sementara Kenzo berlalu masih dengan wajah kesal.


Dua jam setelah kejadian di ruang mading tadi,

Aku duduk berselonjor seraya mengamati papan mading minggu ini yang baru selesai kupasang bersama Alung. Biasanya, setiap minggu Kenzo-lah yang memasangnya. Tapi karena kejadian tadi, dia enggan kembali ke ruang mading. Pun kutelpon, tak ada respon darinya.
" Kenapa? Apa ada yang salah pada penempatannya?" Tanya Alung yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Aku menoleh seiring tersodor sebotol teh dan senyum manisnya.
'' Tidak, ini sudah sempurna kok." Jawabku sambil menerima teh botol itu. Kusedot sedikit isinya.
" Kalian pacaran ya?"
Aku tersedak dengan pertanyaan Alung selanjutnya.
" Siapa?" Tanyaku balik, menatapnya dengan dahi berkerut.
" Kau dan Kenzo." Jawabnya enteng, meneguk teh botolnya.
" Dari sikapnya yang tak suka melihatku dekat denganmu, kelihatan sekali dia cemburu."
Aku langsung tergelak.
" Kami berteman sejak SMP, dan itu karena kami sama-sama pecinta sastra. Dan itulah yang membuat kami selalu bekerja sama mengelola mading sekolah." Paparku.
" Benarkah?"
Kukerutkan lagi dahiku untuk pertanyaan Alung kali ini. Mata itu... Buru-buru aku menghindari mata indah itu.
Apa kau tak pernah tau bahwa aku ini mencintaimu, Lung?
Duh...Gusti, benarkah ini cinta? Meski semua orang memvonis sekalipun hanya sebagai teman kau tak baik untukku, tapi kenapa aku begitu nyaman disisimu? Apa aku tak bisa memilih bersama orang yang membuatku bahagia?
" Maaf kalo aku datang tiba-tiba di antara kalian." 
Aku tergelak.
" Kau ini bicara apa sih, Lung."

Alung, dia memang baru-baru ini hadir di hari-hariku. Dia setingkat lebih senior dariku. Tapi meski sebagai senoir di sekolah ini, Alung memang terkenal sebagai trouble maker. Hampir semua pelanggaran tercatat atas namanya di buku BP. Beberapa kali tak sengaja bertemu di pintu gerbang sekolah saat pulang sekolah, membuatku jatuh cinta padanya. Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi, bukankah cinta itu sendiri memang aneh?
" Antara aku dan Kenzo tidak ada hubungan special, kami hanya teman dan rekan kerja di mading. Selain hubungan itu, tidak ada." Perjelasku, berharap Alung menyadari bahwa Kenzo bukan halangan untuk perasaan yang sedang terjadi saat ini.
Alung tersenyum meneguk lagi teh botolnya.
" Andai itu benar."
Aku bangkit dengan kesal.
" Kau ini apa-apaan sih ? Kenapa kau tak percaya kalo aku dan Kenzo tak pacaran?"
" Tapi Kenzo mencintaimu. Kau pura-pura tak mengetahuinya atau benar-benar tak menyadarinya?"
" Iya, tapi aku tak pernah punya perasaan pada Kenzo, karena yng aku cintai itu kau...." Suara memburuku langsug lenyap dalam bungkaman tanganku sendiri. Aku keceplosan. Aku menunduk malu. Aku lalu pura-pura sibuk menyedot teh botolku.
Alung bangkit seraya mendesah berat. Hatiku jadi berdebar, berbagai dugaan bermunculan mengotori pikiranku. Kedua kakiku gemetar merasakan langkah Alung yang mendekat.
" Lembayung, mungkin memang salahku jika akhirnya kau sampai mencintaiku, tapi..."
" Tapi apa?" Tanyaku spontan, menatapnya cepat. Tapi sedetik kemudian aku menunduk lagi. Malu.
" Sori, aku tak bisa, Yung."
Deg. 
Kalo Alung tak mencintaiku, kenapa dia selama ini mendekatiku bahkan samapai mengusulkan ikut dalam kegiatan mading yang kukelola? Lalu apa artinya dia suka berlama-lama denganku bahkan saat aku sibuk sendiri dengan dengan Kenzo, dia sering mencariku? Apa arti dari semua itu, jika pada akhirnya dia tak bisa menerima cintaku?
" Oh, jadi kau sudah punya pacar ya?" Tebakku sedikit serak.
" Tidak, bukan begitu, aku..."
Tiba-tiba saja Alung menjadi serba salah. 
" Sori, Yung...''
Aku tersenyum kecut.
" Tidak, jangan minta maaf lagi Lung, kalo pun akhirnya aku jatuh cinta padamu itu pasti karena aku terlalu GR dengan semua sikap-sikapmu." Ucapku menahan sesak dadaku.
"Harusnya aku tidak sembarangan menyimpulkan yang belum pasti." Lanjutku berbau sesal.
" Aku mencintai orang lain, sori."
Sakit.
Cinta yang kukira akan bersambut bahagia ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Dan keindahan yang diperlihatkannya selama ini, ternyata semua semu.
" Aku tak bisa bilang apa-apa, hanya, semoga dia juga mencintaimu. Karena ternyata cinta tak bersambut itu sangat tidak nyaman." Ujarku, kali ini dengan sederet gelak tawa kamuflase.
Alung tertunduk, seperti tak suka dengan semburat warna wajahku.
" Sori, tak seharusnya aku memanfaatkanmu untuk mendekati dia." Sesal Alung terasa berat sekali diucapkan.
Dia? Jadi selama ini Alung hanya memanfaatkanku agar bisa dekat dengan dia? Dia, dia siapa? Gisell, Aiko, apa malah Jessica? Bathinku.
Tapi, dia bahkan tak pernah menunjukkan sikap apapun pada salah satu dari mereka. Lanjutku bingung.
" Dia?" Akhirnya aku meluapkan rasa penasaranku itu pada satu kata tertahan barusan.
Alung menunduk lagi. Seperti sedang bersiap-siap membacakan sebuah keputusan pengadilan cintaku. Kugenggam erat-erat botol teh ditanganku.
Tenang, Lembayung, kau pasti kuat menghadapi semua ini. Kataku menyemangati diri sendiri.
" Aku sebenarnya mencintai Kenzo."
Pyaaarrr....
Botol teh ditanganku terlepas, pecah berserakan bersama air teh yang tersisa di antara kakiku. Mulutku mengatup saking tak percayanya.
" Apa?" Desisku lirih lagi berat, berharap Alung mau menjelaskan agar lebih mudah kupahami.
" Ya, aku mendekatimu hanya karena aku ingin bersama Kenzo. Yang kusukai adalah Kenzo, bukan kau, Lembayung."
Dan kali ini, sepertinya aku sudah cukup paham dengan pernyataan pemuda tampan dan macho yang telah menjeratku itu. Pernyataan bahwa dia mencintai Kenzo, rekan madingku selama ini.
Aku tergelak tak sadar, seiring beberapa bulir air mata menyapa pipiku. Dan rasanya jauh lebih sakit dari yang kuduga.