Jumat, 25 Desember 2015

Nama : Ari, (un)Ending

Tiga pasang mata di depanku yang lagi asyik duduk di anak tangga pintu masuk kampus menatapku tak percaya. Aku pura-pura tak mengerti tentang ketidak percayaan mereka. Padahal aku tau betul kalo ini semua karena kedatanganku dengan Airin.
Airin yang langsung duduk di samping Marvel pun terkesan cuek.

"Kalian beneran datang bareng?" tanya Kris menatapku dan Airin bergantian.
"Kenapa tadi tak menjemputku? Tega ya... " dengus Airin terkesan menyalahkan, meski sambil mengambil beberapa kripik singkong yang dipegang Marvel, Juga tak mempedulikan tanya Kris tadi.
"Ya mau gimana lagi, tadi pas mau berangkat ada yang telpon sambil ngancam untuk gak jemput lu." jawab Marvel masih menatapku.
Spontan wajahku memias karena ketahuan dan tak mungkin mengelak lagi.
"Hei, gue kan tadi bilangnya gak usah jemput Airin, kebetulan gue ketemu dia di pinggir jalan. Jadi ya, gue ajak bareng sekalian." ucapku sedikit kikuk. Semoga saja alasan itu cukup meyakinkan.
"Oya???" Koor ketiganya serempak, lalu disusul senyum dan tawa mereka.
"Perasaan tadi lu bilangnya, awas kalo sampe jemput Airin," imbuh Marvel disusul gelak tawa lagi.
Tiba-tiba Airin bangkit.
"Ck, kalian berisik! Yang pasti besok kalo gak jemput bilang lebih awal biar aku bisa berangkat lebih pagi naik angkot!" tukas Airin lebih difokuskan pada Marvel.
Marvel hanya mampu garuk-garuk kepala, semacam rasa menyesal. Dan aku melihat itu dengan iri.
Oh My God, iri? Menggelikan. Apa sebenarnya yang terjadi padaku akhir-akhir ini? Kenapa hampir semua yang kulakukan terasa aneh dan sulit dinalar? Terlebih jika menyangkut Airin.
"Gue salah, please... forgive me!!!" pinta Marvel memegang kedua telinganya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Mata bening yang dipayungi alis indah itu masih menatap Marvel marah. Tapi kenapa hal itu tetap terlihat menarik bagiku?
Gila, gila, gila... benar-benar ada yang tak beres dengan otakku ini.

Tapi, mungkin memang benar, aku jatuh cinta pada Airin.
Kaget? pasti. Aku bahkan belum sepenuhnya mempercayai ini. Tapi dilihat dari kegilaan-kegilaanku beberapa hari ini tanpa bantuan alat pendeteksi kebohongan atau malah suntikan amytal bisa aku simpulkan sendiri ini memang tingkah konyolku.

"Kau?" desis Airin sedikit bernada alto.
Aku yang dengan lagak santainya duduk di salah satu bangku sebuah depot mie ayam-bakso hanya tersenyum ringan.
"Ngapain kesini?" lanjut Airin masih meninggi.
"Ya makanlah, masak kesini mau tidur?"
Airin tergelak sinis.
"Kau mau menunjukkan betapa tebalnya dompetmu?"
Aku terdiam sejenak, lalu merogoh saku celanaku. Kubuka dompetku.
"Dompet gue tak begitu tebal. hanya berisi beberapa kartu kredit." kataku menunjukkan isi dompetku yang hanya berisi tiga lembar uang seratus ribuan dan beberapa kartu kredit dan kartu identitas.
"Maaf, tuan muda, disini bukan restoran bintang lima yang pembayarannya pakai kartu kredit. Disini bayarnya kontan!" geram Airin tertahan.
Aku segera mengambil tiga lembar uang seratus ribuan tadi dan meletakkannya di meja.
"Ini masih cukup kan untuk membayar makanan gue nanti?" tanyaku
Airin malah kembali tergelak lalu berbalik melangkah meninggalkanku. Dan aku tersenyum puas.


Lain hari aku tetap masih berulah aneh. Aku sendiri saja menyadari aku aneh, apalagi orang lain.
"Kau lagi?" rutuk Airin benar-benar kesal mendapatiku kembali ada di tempat kerjanya yang lain. Sebuah warung tenda pinggir jalan.
Aku hanya nyengir.
"Apa lagi ini? Seorang tuan muda duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan? Apa ini semacam pencitraan untuk mendongkrak popularitas di mata masyarakat menengah ke bawah?"
"Hei... " gusarku.
Aku memang tuan muda dari seorang pengacara terkenal. Tapi apa aku bangga? Tidak. Papaku terlalu sibuk membangun citra baiknya pada semua lapisan masyarakat, tapi malah seperti melupakan bagaimana caranya membangun citra baik dengan putra tunggalnya. Apa aku benci? Tentu saja. Aku membenci semua yang berhubungan dengan papaku, bahkan mendalami ilmu hukum selama ini hanya setengah hati.
"Gue cuma mau makan," kataku sedikit memelas.
Tapi ketika kulihat lagi menu yang terjejer di hadapanku aku sedikit kesulitan menelan ludahku. Apa itu pecel lele? Benarkah ikan bersungut itu aman dimakan? Lalu, sate jeroan? Aku sampai bergidik melihatnya. Itu sarang berbagai macam penyakit, kenapa malah dibuat makanan?
"Gue mau kepiting aja." pesanku akhirnya.
Paling tidak kepiting juga ada di laut, jadi pasti rasanya tak akan beda jauh dengan lobster atau sebangsanya.
Dalam hitungan menit seporsi kepiting rebus terhidang di hadapanku. Dahiku sedikit mengkerut.
"Kenapa? Kaget penyajiannya tidak seperti di restoran mewah?" sindir Airin.
Aku mendongak menatap Airin. Mata indah itu tetap menatapku sengit. Seolah-olah sinar mata itu sudah paten untukku.

Apa hanya karena namaku Ari kau begitu membenciku, Rin? Apa karena keadaanku yang menjadi tuan muda lalu membuatmu makin membenciku? Apa itu salahku? Apa itu inginku? Tidak, semua itu diluar kehendakku. Bahkan jika kemudian aku malah jatuh cinta denganmu... itu juga diluar kehendakku.
Aku mendesah seiring tangan Kris menlingkar dileherku.
"Bro, sepertinya lu terlalu menghayati julukan Tao Ming Tse yang Marvel berikan ke elu."
Kutatap Kris segera. Menyembul sedikit senyum diselingi gigi gingsulnya yang ikut pamer.
"Iya juga sih, gue sampe seperti melihat Meteor Garden versi indonesia," Marvel menambahi, meski akibatnya sebuah kaki menginjak kakinya. Marvel hanya meringis menatap Airin yang makin geram.
"Rin, apa sampe segitunya lu benci Ari?" tanya Dito meninggalkan sebentar bacaan bukunya.
"Ya." mantap Airin melirik sengit ke arahku.
"Hei... " Kris buru-buru mencegahku berdiri dengan mempererat rangkulannya.
"Dan jangan pernah sekali-kali membawa odong-odongmu masuk ke gang rumahku."
"Apa?"
Kris masih menang atas rangkulannya di leherku.
"Itu mobil Land rover range!" sanggahku, tak rela mobil kesayanganku disamakan dengan odong-odong.
"So?"
Nih cewek, beneran deh, unik. Saat hampir bahkan semua cewek pasti terpikat dengan semua yang kumiliki, kenapa dia malah sedikitpun tak peduli?
Suara cekikik dari tiga serangkai itu menggema.
"Gak habis pikir, kenapa bisa sampe punya teman kaya dia." gerutu Airin dengan wajah masam.
Cekikik tadi malah semakin membesar menjadi tawa, bahkan Dito sampe terpingkal.
"Teman?" desisku mengerutkan kedua alisku hingga hampir bertaut. "Lu tadi bilang apa? Teman?" imbuhku masih menunjukkan ketidak percayaanku.
Wajah Airin makin memerah menahan amarah. Sebelah kakinya berdecak kesal.
"Lu denger juga kan Kris? Dia tadi bilang gue temannya."
"Mungkin karena tadi lu jemput dia kali', motornya lu kasih jampi-jampi ya?" tuding Kris malah mengikuti kegilaanku.
"Aiiisshhh... norak!" Lalu langkah Airin menjauh, masih dengan nada jengkel.
Aku tak bisa menahan senyumku lagi.
"Dito, masuk ke kelas gak? Tuh, dosenmu udah jalan." teriak Airin di jarak 10 meter, dengan semburat kemarahan yang terbias ke arahku.
"Iya, iya... " Dito berlari menyusul langkah Airin.
Fakultas Airin dan Dito memang bersebelahan, jadi mereka sering masuk dan keluar kelas bersama.
"Gue juga mau masuk bro, dosen makul pagi ini rada primitif soalnya." Kris melepas rangkulan tangannya seraya bangkit menenteng tas ranselnya.
"Lu gak masuk Vel?" tanyanya kemudian.
"Jam kosong kayaknya, tadi Nita bilang gitu sambil bawa tugas dari dosen, disuruh nyari materi di perpus." jawab Marvel masih dengan santainya mengganyang kripik singkongnya.
"Ya udah, gue duluan ya," pamit Kris melangkah ke arah serupa yang dituju Airin dan Dito tadi, meski kemudian nanti dia berbelok di tikungan depan sana.
Kami mengangkat tangan sebelah, mengantar kepergian Kris. Lalu mata Marvel menatapku. Kunyahan kripik singkongnya terhenti.
" Kenapa?" tanyaku heran, karena tatapan Marvel sarat menyelidik. Seperti menatap seorang pelaku kejahatan berpenyakit mental yang bisa menipu semua orang dengan kelainannya.
"Lu beneran jadi suka sama Airin?" tanyanya, mengabaikan tanyaku tadi.

Aneh, ada sedikit kesan cemburu yng kutangkap, tapi ada juga sebuah pendiktean seseorang yang jauh lebih ke arah otoriter. Berhak untuk bertanya, atau malah berhak untuk melarang suka.
"Kenapa?" ulangku untuk satu kata tadi.
Marvel mendesah panjang, kembali menatap ke  depan.
"Lu gak cemburu kan?" todongku.
"Lu beneran suka dia atau karena masih penasaran soal hubungan Airin dengan bokapnya?" Lagi, pertanyaan dibalas pertanyaan.
Aku berfikir sejenak. Kutatap Marvel lagi, yang masih tajam menatapku sambil menunggu jawaban dariku.
"Sebenarnya hubungan lu sama Airin itu konsepnya gimana sih?" tanyaku keki.

Jujur, sejak awal mengenal mereka aku bingung dengan hubungan Marvel dan Airin. Dibilang pacaran, tapi mereka bukan sepasang kekasih. Dibilang saudara, mereka tak ada ikatan keluarga selain ibu mereka yang berkawan karib. Dibilang cuma sahabat, justru ini yang paling meragukan. Jaman sekarang, di usia seperti ini, masih ada cowok & cewek yang murni bersahabat?

"Jika memang lu suka dia... " Suara Marvel menghentikan kesibukanku menganalisis keadaan. "Dan jika lu bisa mendapatkannya nanti, gue cuma pesan satu hal."
Mataku menyipit.
Apa ini semacam mandat dari seorang pemilik sah kepada pihak peminta?
"Jangan pernah tinggalkan dia demi orang lain."
Dan kerutan di jidatku akibat menyipitnya mataku tadi kian menebal.

Jangan pernah tinggalkan dia demi orang lain? Apa ini jawaban sebenarnya kenapa Airin bisa begitu membenci ayahnya? Ditinggalkan karena orang lain?

"Menurut lu, apa dia bisa jatuh cinta sama gue? Secara dia kan benci banget sama gue. Cuma masalah sepele pula." tanyaku, lebih mengarah pada keluhan.
Marvel tertawa lirih, membuat mataku memicing lagi.
"Lu kira ada cewek yang bisa bertahan dengan tingkah-tingkah gila lu itu? Cewek sinting mungkin iya."
"Lha dia emang gak sinting?"
" Hei..." protes Marvel tak suka.
Aku terkekeh. "Apa namanya coba kalo gak sinting? Mana ada orang benci orang gara-gara namanya sama dengan nama orang yang dibencinya?"
"Lha lu itu, jauh lebih sinting malah."
Sisa tawaku di bibir langsung menghilang.
"Lu cakep. tajir, calon pengacara pula, kok bisa-bisanya suka sama cewek sinting?"
Glek!
Aku serasa di skak mat oleh pertanyaan Marvel tadi.
Aku tersenyum malu. Marvel menyikutku dengan sederet senyum ringan.
"Gue akan berusaha,'' kataku lirih, menghentikan adegan senyum berjamaah kami. Mengembalikan ke keadaaan yang lebih serius.
Marvel menatapku penuh makna. Aku sedikit terhenyak mendapatinya. Tapi hanya sebentar Marvel memberiku kesempatan menikmati sinar matanya yang aneh itu, karena kemudian ditatapnya lurus pemandangan gedung kampus di depan sana.
Sebegitu besarkah tanggungjawab Marvel pada Airin? Hingga untuk mencegah terulangnya luka masa lalu itu pun seperti harus diusahakannya mati-matian.

"Tapi benarkah jurang antara ayah dan anak itu tak bisa dilalui?" tanyaku kemudian, membuat dua mata tak lebar itu menatapku lagi. Kali ini dengan sinar yang berbeda lagi.
"Lu gak merasa kalo lu juga punya jurang yang lebar dengan bokap lu?"
Lagi,
Aku di skak mat pertanyaan dari Marvel. Aku menunduk sedikit, menghindari tatap menghunus itu.
"Kenapa malah bawa masalah gue?" kelitku serak.
Marvel tergelak.
"Lu curang ya, lu pengen tau banget apa yang terjadi pada Airin dan bokapnya. Tapi giliran orang menyinggung apa yang terjadi pada lu dan bokap lu, lu menghindar."

Aku diam.
Karena memang lebih baik diam. Percuma mengungkapkan jabaran masalahku dengan satu-satunya anggota keluargaku yang saat ini entah ada di mana itu. Lebih dari 10 tahun hidupku memang kukurung dalam kebencian pada papaku sendiri. Setelah sukses 'membunuh' wanita yang paling kusayangi dengan segala ambisinya itu, aku pun kemudian serasa dicekik perlahan-lahan. Dengan sesuatu yang sama pula. Ambisi.
Aku mendesah.

"Apa ini semacam takdir? Gue dan Airin. Sama-sama punya sisi gelap dengan orang yang seharusnya dihormati." gumamku setengah tak sadar.
Marvel tak menyahut, hanya terdengar mendesah perlahan. Aku tergelak sendiri. Sebentuk wajah Airin yang akhir-akhir ini sering muncul seperti semacam delusi, kembali beerkelebat di hadapanku.




Rdb, 24/12/2015




Kamis, 24 Desember 2015

Teru Teru Bozu 2

"Kenapa menemuinya?" geram Hikaru menatapku lekat, saat aku datang ke kantor konselingnya usai mengunjungi Michi tadi.
Kentara sekali kalo lulusan  s2 dari salah satu universitas yang cukup terkenal di Jerman itu menunjukkan kemarahannya pada orang yang tak seharusnya. Aku pasiennya.

Tapi, kenapa Hikaru menjadi begitu marah hanya karena aku menemui Misagi yang kemudian mempertemukanku dengan tokoh utama teru teru bozu, Sinshiro Michi ? Sosok yang selama ini menjadi misteri tersendiri dalam memoriku yang belum sepenuhnya kembali.
Apa benar Michi adalah potongan puzzle yang hilang itu?

"Aku hanya ingin mencoba mengingat apa yang selama ini terlupa."
"Iya tapi bukan dengan menemuinya." Dan intonasi suara Hikaru makin meninggi.
Aku mengerutkan dahiku maksimal. Aneh.
Tapi kemudian Hikaru menghela nafas panjang.
"Maaf," pintanya menjauh dariku.

Apa benar penyakit amnesia disosiatif bisa berakibat buruk pada otak si penderita jika dipaksakan untuk mengingat? Tapi, aku ingin. Aku benar-benar ingin mengingat memoriku yang menghilang itu. Dan kenapa Hikaru yang notabene adalah dokter kejiwaanku malah melarangku menemui Michi?


Dan ketidak mengertianku makin menjadi saat di lain hari secara tak sengaja aku memergoki Hikaru keluar dari rumah sakit tempat Michi selama ini dirawat. Aku buru-buru turun dari mobilku dan mengejar langkah Hikaru yang sedikit tergesa menuju mobilnya terparkir, cukup jauh dari mobilku tadi.
Tanganku menyusul secepat mungkin ketika Hikaru membuka pintu mobilnya, dan kututup dengan kasar. Hikaru menatapku kaget.
"Kaget?" desisku dengan marah.
"Kau... " Mulut Hikaru sampe menganga saking kagetnya.
"Bukan kebetulan kan kau ke rumah sakit ini saat Michi juga dirawat disini?" tanyaku sinis.

Jelas, sangat jelas terlihat kecemasan yang dipancarkan oleh raut muka dan tatapan Hikaru. Bahkan gerak tubuhnya pun kentara sekali bahwa dia berusaha mati-matian menenangkan diri.
"Beri aku satu penjelasan yang meyakinkan, kenapa kau ada di rumah sakit ini!" seruku lebih menyerupai perintah.

Hikaru, dia sudah seperti saudara laki-lakiku. Sejak SMP orang tuaku sudah jatuh cinta dengan kecerdasan Hikaru yang saat itu telah menjadi yatim piatu. Dan dengan alasan itulah kemudian orang tuaku akhirnya membiayai sekolah Hikaru. Dan kebanggaan orang tuaku kian membabi buta kala Hikaru diterima di universitas bergengsi di kota Tokyo. Tak hanya itu, dia bahkan melanjutkan S2nya di Jerman dengan jalur beasiswa.
Sementara aku? Aku hanya menekuni bakat mengajarku yang menurutku sangat menyenangkan berkomunikasi dengan junior.

Itulah awal 'api dalam sekam' antara aku dan Hikaru. Disatu sisi aku memang tidak ada alasan membenci Hikaru. Dia baik, dan karena dia, aku justru bisa terbebas dari kekangan impian orang tuaku. Karena Hikaru sudah memenuhi impian orang tuaku, aku bisa dengan leluasa menapaki impianku sendiri. Tapi disisi lain, jujur aku kadang dihinggapi rasa cemburu. Hikaru seperti telah merebut orang tuaku.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Hikaru mencoba menjelaskan.
"Lalu seperti apa yang kau pikirkan?" todongku balik, dengan kilatan api kemarahan yang hampir tak bisa kuredam.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Hah?!" Intonasi suaraku makin mengeras, sekaras kepalan tanganku yang sudah tak sabar menunggu giliran melayang ke tubuh Hikaru.
Langkahku maju mendekati Hikaru yang sibuk menghindari tatapan tajamku. Spontan Hikaru mengikuti gerakan kakiku, mundur agar tetap terjaga jarak denganku.
"Kau melarangku menemui Michi karena kau mengenalnya kan? Kau tadi menemuinya kan?"
Aku terus mendekat, dan Hikaru terus memundurkan langkahnya hingga tak sadar kami sudah di jalur jalanana rumah sakit.
Tiba-tiba sebuah mobil datang tanpa kami sadari, atau mungkin terlambat kami sadari. Kemarahanku yang mendidih di ubun-ubun membuatku terlambat merespon.
"Awaaasss...!" pekik Hikaru mendorong tubuhku menjauh dari tengah jalan, sementara dia malah terlempar berguling mencoba menghindari moncong sedan metalik itu.

Tubuhku tersungkur menghantam badan belakang mobil Hikaru seiring kesadaranku yang perlahan berangsur kembali setelah mendengar decitan ban akibat rem yang mendadak. Tapi yang terjadi kemudian, aku terpaku memikirkan kembali kejadian spontan yang hanya berlangsung tak lebih dari dua detik itu.
Beberapa fragmen tak begitu jelas berseliweran seperti lalu lalang kendaraan di jalan luar rumah sakit sana. Awalnya tak begitu jelas tapi lama-lama makin jelas.

"Kenapa selalu kau? Hah?" bentakku dalam ingatan yang makin seperti pemutaran kembali film usang. Dan sosok yang menjadi korban bentakanku adalah Hikaru dengan seorang gadis berdiri di sebelahnya. Keduanya berwajah gelisah, seperti hendak menjelaskan sesuatu yang bahkan tak ingin kudengar.
Dan tampilan fragmen selanjutnya aku tengah mencengkeram kemudi mobilku dengan mata memerah menahan amarah. Mataku tertuju pada dua orang ditrotoar jalan sana. Berjalan beriringan dengan sebuah payung yang melindungi mereka dari rintik hujan. Kuinjak pedal gas kuat-kuat hingga menimbulkan suara meraung sebelum akhirnya mobilku melesat ke arah dua orang di depan sana. Tak ayal dua orang itu yang tak lain adalah Hikaru dan Michi tersentak kaget, Michi mendorong tubuh Hikaru menjauh, sementara tubuh Michi menghantam badan mobilku. Mobilku pun ikut oleng.

"Ryu-chan... !!"
Setengah tak sadar aku mendengar panggilan Hikaru disusul kedatangannya yang berhambur mendapatiku seperti orang linglung.
Panggilan yang hampir serupa dengan yang sedang terputar di rekaman otakku. Panggilan kaget campur...
Aku limbung. Sigap Hikaru menangkap tubuhku.
"Ryu-chan, kau tak apa-apa?"
Mendadak kepalaku serasa berat. Sakit. Mungkin karena ingatan-ingatan mengerikan itu. Kupandangi Hikaru yang cemas, melebihi kecemasanku akan apa yang terjadi pada diriku.
"Ryu-chan... "
Masih sempat kudengar panggilan cemas Hikaru, sebelum kesakitan kepalaku makin menghebat dan merenggut kesadaranku.




Kesadaranku kembali terkumpul seiring denyut nyeri di kepalaku terasa. Mataku mengerjap untuk terbuka.
''Kau sadar? Apa yang kau rasakan?" Buru sebuah suara menyerukan pertanyaan. Hikaru.
Kutatap wajah yang masih sarat kecemasan itu sedikit memicing.

Potongan puzzle yang menghilang selama 2 tahun itu sudah ketemu. Sekarang papan puzzle itu telah sempurna, dan membentuk ingatan yang gamplang untuk kucerna. Mengerikan. Hanya satu kata itu yang mampu mewakili ribuan fragmen ingatan itu.
"Apa yang kau rasakan?" Lagi, Hikaru menayakan keadaanku.

Tiba-tiba aku seperti sosok antagonis menjijikkan. Seperti seorang durhaka yang pantas dicerca.
"Apa yang kau lakukan?" desisku membuat kesiap diwajahnya.
"Ryu-chan, ini... "
"Aku yang menyebabkan Michi seperti itu, aku hampir membunuhmu, tapi kenapa kau masih baik padaku? Kenapa?" geramku lebih pada penyesalan akan apa yang sudah kuperbuat.
Hikaru menunduk.
"Apa kau mengingat sesuatu?" tanyanya terkesan mencemaskan hal yang tak kumengerti.
"Aku mengingat semuanya," jawabku meralat dugaannya,
Wajah Hikaru kembali tegak, kesiap itu kentara lagi merona diwajahnya
"Kenapa kau tutupi semuanya?"
Hikaru menunduk lagi, "Aku terpaksa. Aku harus menyelamatkanmu."

Apa? Menyelamatkanku? Alasan itu terdengar seperti sebuah kewajiban yang harus dipikul Hikaru meski dia di posisi 'korban'. Aku hendak merebut Michi yang sebenarnya kekasihnya sejak masih kuliah di Tokyo dulu. Aku bahkan berniat menabraknya saat melihatnya berjalan berdua dengan Michi. Aku juga telah membuat kekasihnya koma selama dua tahun. Tapi kenapa dia malah seperti punya kewajiban menyelamatkanku? Sebegitu jahatkah aku jadi orang?

"Nasib baik memihakku saat kau amnesia disosiatif dan Michi mengalami vegetatif otak. Aku merasa hanya jalan ini yang bisa kutempuh. Retrograde amnesia. Aku berusaha menanamkan ingatan bahwa hari itu kau kecelakaan dengan Michi."
Aku mengatupkan bibirku mendengar penjelasan Hikaru.
"Dan kau membuatku menjadi orang paling jahat."
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu."
Aku bangkit. Meski sedikit terhuyung aku memaksa, bahkan kusingkirkan tangan Hikaru yang mencegahku turun dari atas ranjang.
"Istirahatlah dulu,"
"Berhentilah mengasihaniku!" tegasku lemah, tapi kemudian aku urung bangkit. Tubuhku terasa tanpa tulang penopang. Lemas. Aku mendesah. Hikaru pun terdengar ikut mendesah.
Kesunyian  melingkupi ruangan ini. Antara aku dan Hikaru memang dekat, tapi tak dipungkiri ada jurang lebar dan dalam membentang. Aku merasa Hikaru telah mengambil apa yang tak menjadi haknya, dan Hikaru seperti merasa sangat bersalah padaku hingga seperti harus selalu mengalah padaku.
"Ternyata, aku sendirilah penyebab semua ini." keluhku hampir tak terdengar.

Aku me-replay kembali semua hal yang telah kulakukan selama ini. Sebelum kejadian di parkiran di rumah sakit tadi, aku merasa aku adalah korban yang sangat menyedihkan. Aku amnesia, kehilangan beberapa potongan penting memoriku. Aku bahkan sempat menjejali seluruh otakku dengan persepsi bahwa Hikaru adalah mutlak perebut semua milikku, orang tuaku dan Michi.
Jadi, dibawah rintik hujan dan lindungan payung dengan gantungan boneka teru teru bozu kecil sore itu, orang yang ditemui Sinshiro Michi bukanlah aku, tapi Hikaru.

Mungkin itulah kenapa Hikaru selalu melindungi satu sisi memoriku. Berharap itu tertidur selama mungkin. Meski bukan itu harapan yang sama untuk 'tidurnya' kekasihnya Michi.

"Itu bukan salahmu, itu sudah takdir." kata Hikaru memecah kesunyian.






Rdb, 24/12/2015


Rabu, 09 Desember 2015

Nama : Ari (part 2)

Aku sedikit meringis menahan perih pipiku yang baru saja kutempeli kompres es. Meski pelan-pelan tetap saja masih perih. Kemarin sore aku nyaris bonyok jadi bulan-bulanan tiga security kantor yang lebih mirip preman pasar. Andai tak segera ada patroli polisi yang lewat, mungkin aku sekarang sudah opname di rumah sakit, atau lebih parah lagi sudah terkapar tak bernyawa dikerubuti lalat. Karena aku yakin sekali orang-orang seperti itu setelah menghabisi orang pasti mayatnya dibuang di tempat yang sulit ditemukan orang.

Aku mendesah. Gara-gara ini aku tak berani menunjukkan wajahku di hadapan papa. Bisa-bisa aku kena damprat dua kali plus diinterogasi seperti pelaku kejahatan berantai.

"Lihat Airin gak, Ri?" tanya Marvel yang baru saja datang menghampiri meja kantin yang sudah seperti kukusai sejak pertama kali masuk kampus ini.
"Mana gue tau, memang pernah gue jalan berdua dengan dia?" sungutku mendongak menatap Marvel. Dua bola mata Marvel seperti tak tenang mengedar ke segala penjuru ruangan.
"Aduh dia baik-baik saja gak ya? Ini nih gara-gara si Jihan yang kemanjaan, demam dikit aja suruh nungguin semalaman," gumam Marvel tak jelas.
"Hei, memang teman lu itu hanya Airin? Lu gak lihat keadaan gue yang bonyok begini? Paling gak tanya kenapa kek," lanjutku masih bersungut, makin kesal karena sepertinya di hati Marvel temannya hanya Airin.
kebangeten banget ya punya tiga sahabat saja satupun gak ada yang peduli. Haduh..,
Marvel akhirnya menatapku tiga detik.
"Emang wajah lu kenapa sampe kaya mangga mateng jatuh dari genteng gitu?"
Kuhindari sendiri kompres es yang terasa makin ngilu menyerang luka memarku sambil mendesis.
"Dikroyok orang."
Marvel langsung tertawa.
"Ari Anggoro dikroyok orang?" pekik Marvel terkesan didramatisir.
Aku hanya mendengus.
"Yang ngroyok gak tau ya kalo lu itu putra tunggal salah satu konglomerat di kota ini?"
"Gue lupa ngasih tulisan di jidat kalo gue ini anaknya Hadi Anggoro." 
Marvel makin terkekeh sebelum akhirnya hilang tersamar saat pandangannya mengarah ke pintu masuk kantin.
Tapi sebelum aku sempat mengikuti apa yang ditemukan pandangan Marvel, dengan kecepatan yang tak terduga sebuah tangan meraih gelas jus apel dihadapanku dan byuuurr...
"Heiii... !" teriakku spontan kaget campur marah, tapi ketika kutemukan pelaku penyiram jus apel ke mukaku itu aku sedikit terhenyak.
Apalagi saat menemukan sorot matanya yang menyala, bahkan mampu membakar habis kemarahanku yang tadi sempat tersulut.
"Rin, sudahlah, jangan begini, kita dengar dulu penjelasan Ari," lerai Kris yang sejak tadi memang memburu langkah Airin dari belakang.
Kutahan perih wajahku yang makin gak karuan karena ditambah guyuran jus apel tadi.
"Apa? Apa maksudmu pergi ke tempat itu? Apa?" geram Airin hendak mengeroyokku, tapi tangan Kris lebih dulu mencegah. Marvel pun buru-buru mendekat dan memeluk menenangkan Airin yang seperti kesetanan.
"Maafin gue Rin, tadi malam gue gak bisa ke rumah lu, Jihan sakit, mama papa pas keluar kota, maafin gue.., " ucap Marvel disela usahanya menenangkan Airin.
Aku melongo. Bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Jadi yang ngroyok lu itu orang-orangnya ayahnya Airin?" tanya Marvel dengan nada tak bersahabat.
Kuusap wajahku dengan tisu di meja.


Kemarin akhirnya setelah aksi investigasiku selama hampir dua minggu, aku menemukan siapa sebenarnya Ari, ayah Airin. Tanpa bantuan gadget apalagi google tentunya. Awalnya hanya ingin tahu saja, kenapa Airin begitu membenci ayahnya sampai-sampai dia juga membenciku yang hanya karena punya nama Ari, sama dengan nama depan ayahnya, Ari Baskoro.
Tapi saat aku tau ternyata ayah Airin seorang pemilik store refill printer terbesar di kota ini aku mulai bisa menebak alasan Airin membenci sang ayah. Mana ada putri pengusaha sukses malah bekerja paruh waktu di beberapa tempat demi membiayai kuliah manajemen hotelnya? Bahkan ibunya pun bekerja banting tulang di sebuah rumah makan. Kalau bukan ditinggalkan demi mengejar obsesi sendiri.

"Lu harusnya tanya dulu pada salah satu dari kami jika ingin tau siapa ayahnya Airin." Suara Kris menghentikan lamunanku.
Aku mendesah seraya kembali duduk. Kris pun ikut duduk, begitupun Airin yang tetap dalam dekapan Marvel. Mereka bahkan terlihat seperti sepasang saudara daripada sepasang kekasih. Aku tersenyum dalam hati.
"Tadi pagi gue buru-buru ke rumah, tapi kata Dito yang masih disana kalian sudah berangkat," ucap Marvel membenarkan rambut Airin yang memburai karena aksi anarkisnya tadi.
"Iya, tadi di jalan motor gue sempat mogok. Makanya malah lu duluan yang nyampe sini." Kris seperti menjawab pertanyaan Marvel tadi.
"Dito gak ada kuliah pagi jadi tadi gue suruh aja tetap tinggal sekalian bantu beres-beres."
Aku diam hanya mendengarkan percakapan yang tak begitu kupahami arah tujuannya.
"Hei, tuan muda, lu diam saja seperti tak merasa bersalah saja!" 
Aku menatap Marvel yang kembali marah padaku.
"Kalian ini apa-apaan sih? Kalian tidak lihat, gara-gara menemui ayahnya Airin gue malah babak belur begini."
"Lalu lu pikir itu tidak terjadi di rumah Airin?!" Intonasi suara Marvel meninggi, benar-benar emosi.
Aku mengernyit tak mengerti.



Dan bukan aku jika sanggup menahan rasa penasaran. Akhirnya aku lewatkan kuliah pagi ini dan meluncur ke rumah Airin yang jaraknya lebih dari sejam. Bahkan dengan Land rover range yang kukendarai nyaris kesulitan bergerak di jalan gang rumahnya. Meski akhirnya aku bisa juga menemukan rumah sangat sederhana yang cukup asri itu. Tapi sambutan Dito yang ternyata memang ada disitu membuatku sempat garuk-garuk kepala.
"Ngapain kesini? Muka lu kenapa kok bonyok semua gitu? Lha trus ngapain lu bawa mobil segede gini masuk ke jalan gang begini?" cerocos Dito seperti biasanya, memang pantas jika dia kuliah di ilmu komunikasi. Tempat calonnya para public relation.
"Ya mana gue tau kalo jalannya sempit gini?" kataku membela diri.
Dito mendesah,
"Tuh, depan sana ada lapangan, taruh sana aja mobilnya." Dito menunjuk ke arah depan, aku mengikuti.
"Kalo nanti mobil gue kenapa-napa gimana?"
"Resiko lah, siapa suruh bawa mobil?" Lalu Dito kembali masuk ke rumah tanpa menggubris kecemasanku.
Gimana gak cemas, ini mobil belum ada empat bulan. Hasil sogokan dari papa karena akhirnya aku setuju kuliah hukum untuk meneruskan bakat the big lier-nya yang selama ini dibanggakannya.
Dan dengan terpaksa aku tinggalkan mobil kesayanganku itu di sebuah tanah lapang yang tak mirip lapangan itu. Aku berjalan sedikit ragu memasuki area pekarangan rumah Airin. 


Miris. Ironis. Kata itu yang berseliweran di otakku. Kenapa istri dan putri seorang pengusaha sukses Ari Baskoro tinggal di tempat yang bisa ku kategorikan kumuh begini? Ya, meski sangat bersih dan terawat, tapi dengan dinding batako tanpa lapisan semen penghalus juga cat, dan lantai dari semen kasar yang bahkan lebih halus lantai pelataran kampus, ini tetaplah sangat aneh. 
Baru sampai di ambang pintu sudah bisa ku temukan Dito sibuk membenarkan buffet rotan yang sudah reyot. Kuedarkan pandanganku ke penjuru rumah.

Ini rumah baru diterpa angin puting beliung apa ya? bathinku menemukan kerusakan cukup parah di sana sini. Bahkan aku baru sadar kalo pintu dari triplek di sebelahku ini jebol.
"Jangan bengong saja di situ, bantuin apa kek, dari tadi gue beres-beres juga belum kelar juga nih," rutuk Dito seperti tau aku terbengong di depan pintu, meski tanpa menoleh dulu.
"Memang ini kenapa kok bisa begini, Dit?" tanyaku membantunya memegangi sisi lain buffet yang coba di tegakkan posisinya.
Dito tak langsung menjawab, malah seperti enggan menjawab.
"Kemarin malam ayahnya Airin dan orang-orangnya kesini dan mengobrak-abrik rumah ini."
Lemas.
Aku langsung terduduk dilantai.
Dito menatapku heran.
"Lu kenapa, Ri?"
Jadi itu maksud Marvel tadi mengatakan kalimat itu? 

"Ada siapa, Dit?"
Aku tergagap mendengar suara keibuan dari dalam kamar. Seraut wajah paruh baya berjalan tertatih berpegangan dinding.
"Bu, kenapa keluar kamar. Kaki ibu kan bengkak, tiduran saja di kamar." Dito buru-buru menghampiri wanita yang dipanggilnya 'ibu' itu.
"Capek, Dit, biasa kerja ini malah disuruh tiduran terus." seloroh beliau dengan suara lembut.
Dito memapah wanita itu duduk.
"Belum beres semua, Bu, jadi Dito pikir Ibu di dalam saja."
Sebuah belain tangan ibu mengelus rambut sedikit gondrong Dito. Kesiap iri sempat kurasa. Lama bahkan aku sampai lupa rasanya belain seperti itu.
"Itu siapa, Dit?" tanya beliau sedikit berbisik, melirikku dengan seulas senyum tipis.
" Oh, iya, sampai lupa, ini juga teman Airin di kampus Bu, namanya... Ari." Kalimat terakhir yang diucap Dito sedikit bergetar.
Mata teduh wanita yang ternyata ibunya Airin itu menatapku lembut.
"Kirain teman dekatnya Airin cuma kalian bertiga, ternyata masih ada lagi."
"Kita emang gak begitu dekat seperti mereka bertiga, tante," sergahku disusul tawa kecil yang juga dimiliki Airin.
"Gak usah panggil tante, panggil ibu saja seperti yang lain." ralat si ibu, disusul cekikian Dito.
"Ngapain kau kesini?"

Pasti tak hanya aku yang kaget dengan hardikan tak terduga itu. Enam pasang mata tepat menuju ke ambang pintu tempat Airin berdiri.
"Airin gak boleh begitu ah," Sergah Ibu.
"Bu, Ibu tau gak siapa dia?" geram Airin menunjuk ke arahku. Marah.
"Ibu tau, namanya Ari kan? Dia teman kuliahmu juga kan?"
"Bukan itu yang Airin maksud, Bu dia itu... "
"Ya, aku penyebab semua ini," sergahku tegas.
Semua bungkam, hanya menatapku dengan sinar yang tak sama. Lalu detik ke sekian terdengar gelak tawa sinis Airin.
"Gue hanya mencoba memperbaiki kesalahan yang sudah gue buat," sergahku mencoba membela diri.
"Dan dengan kesini tak akan mengubah apapun."
"Airin...!" desis ibu menatap Airin protes.
Dito buru-buru menengahi. Bangkit dan memberiku isyarat untuk mengikuti langkahnya.

Kami menuju tanah lapang tempat mobilku kuparkir tadi. Sebotol softdrink yang kubeli di warung kecil depan rumah Airin tadi kuteguk sedikit. Lalu kusodorkan sisanya ke Dito.
"Bertahun-tahun berteman dengan Airin, dia hanya minta satu hal pada kami," ucap Dito memecah kebisuan diantara kami.
Aku bersandar pada badan mobil, begitupun Dito.
"Jangan tanya atau mencari tau soal ayahnya." lanjut Dito tetap dengan nada suara tadi.
Kukernyitkan dahiku.
"Kenapa?"
Dito menatapku. Lalu mendesah.
"Kata Marvel, mamanya pernah cerita, kisah masa lalu antara Airin dan orang tuanya sangat pahit. Lebih baik tak perlu diingat jika sudah diputuskan untuk dilupakan." Kali ini Dito seperti berharap aku mengerti.
"Itulah kenapa, gue, Marvel dan Kris sangat menyayanginya."
Tanpa sadar aku tergelak lucu.
"Kalian bilang menyayanginya, tapi tak pernah peduli tentang masa lalunya."
"Kadang tidak peduli juga bentuk lain dari kepedulian."
Aku terngungu.
Benarkah? Dengan menuruti 'perintah'nya yang untuk tak bertanya atau mencari tau tentang ayahnya, mereka berarti sangat peduli pada Airin? Aneh.

Dari hasil investigasiku, Ari Baskoro adalah pemilik puluhan store refill printer yang merajai kota ini. Bahkan sudah menyeruak ke kota lain. Dan beristrikan seorang pemilik salon yang cukup terkenal. Tak satupun deretan kisah perjalanan kesuksesan seorang Ari Baskoro ada nama Airin atau ibunya. Jadi bisa dipastikan mereka sudah sangat lama berpisah.

Tapi, jika sudah sangat lama kenapa Airin tetap masih membenci ayahnya seperti itu? Jika memang kisah pahit masa lalu itu sudah dilupakan, kenapa hanya karena aku datang dan mengaku teman kuliah Airin, ayahnya langsung datang membuat keributan? Dan anehnya lagi, mereka tetap dalam satu kota.
Aku mendesah tak mengerti dengan pemikiranku yag terlalu mendetail ini.
"Sudah jadi nasibku punya nama Ari dan akan dibencinya seumur hidupnya." Aku meluapkan kekesalanku, mengingat tatapan mata Airin yang selalu menatapku nyalang.
Kali ini Dito yang tergelak, menertawakan keluhanku.
"Gue dengar lu dijuluki Marvel seperti Tao Ming tse."
Aku ikut tergelak lagi.
"Tak apa, toh yang memerankan tokoh itu juga tampan. Tak rugi dijuluki tokoh itu," sanggahku.
Yah, tak ada salahnya dijuluki tokoh Meteor Garden yang terkenal egois, anarkis, dan borjuis itu. Memang terkesan mirip denganku.
"Tapi Airin bukan Sancay, dia adalah cinderela. Gadis menyedihkan yang sebenarnya juga putri seorang bangsawan," imbuh Dito memperjelas.
"Bukannya lebih cocok dia jadi putri salju dan kalian bertiga para kurcacinya?" kelakarku disusul pelototan mata Dito
"Sudahlah, gue pulang aja, daripada kena damprat lagi dari si empunya rumah." Aku membuka pintu mobilku,
Tapi buru-buru tangan Dito menghalangi. Aku menoleh tak mengerti.
"Jangan lagi mencoba mencari tau siapa Ari Baskoro," pesan Dito. "karena akibatnya bukan hanya akan di wajahmu, tapi juga di hati Airin." lanjutnya membuatku tertegun cukup lama.

Aku mungkin harus mulai mengerem melampiaskan rasa penasaranku selama ini. Yah, kadang ketidak pedulian bisa menjadi satu bentuk kepedulian itu sendiri.
Maafkan aku, Airin.





Rdb, 09/12/2015


Teru Teru Bozu

Sejak kepindahanku ke sekolah di pinggiran kota ini dua bulan lalu, aku langsung tertarik dengan seorang siswi. Meski bukan termasuk dalam daerah teritorial mengajarku karena aku hanya mengajar kelas XII dan siswi itu ada di kelas  XI. Tapi entah kenapa mataku tak bisa lepas untuk memperhatikannya.

Dan sebenarnya perhatianku tak terfokus pada wajah manis gadis yang mengusik ingatanku pada sebuah wajah yang belum sepenuhnya kuingat, tapi lebih pada boneka teru teru bozu kecil yang digunakannya untuk gantungan tasnya, juga ponselnya.





"Kau mengenalnya?" Tanya Hikaru, sahabatku sekaligus dokter pribadiku.
Sejak kejadian kecelakaan yang menimpaku dua tahun lalu aku terpaksa menggunakan jasa Hikaru untuk selalu memantau kondisiku. Karena sampai saat ini, aku kehilangan beberapa ingatanku sebelum kecelakaan. Hikaru menyebutnya amnesia disosiatif, keadaan dimana otak dengan sengaja menolak mengingat beberapa kejadian. Dan mungkin itu sesuatu yang menyakitkan jika harus kuingat.
"Entahlah, aku hanya merasa tak asing dengan wajah itu. Juga teru teru bozu itu," jawabku seadanya.
"Teru teru bozu? Maksudmu boneka penangkal hujan?" Hikaru sedikit terperanjat.
"A-apa kau tau sesuatu, Hikaru-chan?" Aku tak kalah terperanjat.
Tapi reaksi Hikaru selanjutnya sangat membuatku kecewa. Hikaru mendesah.
"Entahlah," Jawab Hikaru mengangkat kedua bahunya.
"Aku mana tau apa yang terjadi padamu sebelum kecelakaan. Apalagi tentang kehidupan pribadimu," keluh Hikaru.

 Benar juga, Hikaru baru pulang dari studinya di Jerman beberapa hari sebelum kejadian kecelakaan itu. Pun begitu tak banyak yang tau tentang kehidupanku. Aku termasuk orang yang introvet. Sangat anti mengumbar masalah pribadiku sekalipun pada keluargaku. Apalagi sejak kuliah aku sudah tinggal sendiri jauh dari keluarga yang lain.
Aku mendesah.
"Yang kutau kau cukup menyukai hujan. Kau bahkan saat sekolah sangat suka bermain bola dibawah guyuran hujan," kenang Hikaru membuatku mengingat masa-masa sekolah dulu. "makanya aku sedikit heran kenapa kau malah punya chemistry saat melihat boneka teru teru bozu milik Misagi?" lanjut Hikaru seperti menggumam.
Aku kembali mendesah. Mendesah pasrah dengan ingatan yang bahkan tak mampu kuingat.
"Sebaiknya kau ajukan pindah saja dari sekolah itu," Ucapan Hikaru selanjutnya membuatku kembali terperanjat.
"Apa?"
Kali ini Hikaru yang mendesah sambil membenarkan posisi duduknya. Gerimis di luar kafe ini sepertinya menjadi pemandangan yang menariknya. Atau mungkin hanya mencoba mengalihkan perhatiannya dari reaksiku atas saran yang baru saja dilontarkannya.
"Apa benar penyakitku jika terlalu dipaksakan penyembuhannya akan malah berakibat buruk?" desisku minta penjelasan.
Hikaru menatapku perlahan, dengan sinar yang misterius. Mungkin itulah sinar mata khas seorang psikolog.
Sebenarnya sangat tidak adil, para psikolog mampu mengartikan setiap sinar mata pasiennya, tapi mereka malah punya sinar mata yang tak pernah bisa diartikan oleh orang lain.
"Amnesia disosiatif terjadi karena otakmu sendirilah yang menolak mengingat, jadi jika ada yang mencoba memaksamu mengingat apa yang otakmu lupakan, maka... "
Mataku menyipit. Penjelasan Hikaru tak selesai, atau mungkin memang sengaja tak diselesaikan.
"Ikuti saja saran doktermu, ini demi kebaikanmu juga," tegas Hikaru lalu bangkit meninggalkanku yang masih terbengong dengan saran yang lebih seperti perintah yang harus dilakukan.




***


Senyum itu terkesan sangat sinis, bahkan mampu membuatku bergidik.
"Amnesia disosiatif?" desis Misagi mengernyitkan dahinya setelah mendapat penjelasan atas keadaanku yang bertanya tentang alasannya menyukai boneka teru teru bozu yang selama ini mengganggu pikiranku.
"Hmm, dua tahun lalu aku mengalami kecelakaan dan setelah sadar ada beberapa ingatan yang tak bisa kuingat. Dokter menyebutnya amnesia disosiatif," paparku menjelaskan.
Akhirnya aku punya kesempatan berbicara langsung dengan Misagi, siswi kelas XI yang selama dua bulan ini menyita perhatianku tanpa kutau kenapa. Hujan sore ini yang mempertemukan kami di sebuah kafe.

Tapi aku kembali bingung dengan tanggapan sinis Misagi tentang rasa penasaranku pada boneka teru teru bozu miliknya, Seakan-akan hal itu begitu menyinggung perasaannya.
Mungkin benar saran Hikaru, aku harus menjauh dari sekolah ini, juga gadis ini. Karena akhir-akhir ini aku sering mengalami insomnia dan mimpi buruk yang tak jelas.

Tapi, pun begitu, ada sisi hati yang seperti berjalan diluar kendali otakku. Mungkin sejenis intuisi yang tetap bersikukuh untuk mencari tau kenapa aku sangat tertarik pada boneka teru teru bozu milik Misagi.
"Sangat tidak adil jika Sensei hanya mengalami amnesia, bahkan itu terkesan sangat merugikan Onee-chan," rutuknya.
"Onee-chan?" sergahku memburu.
Misagi tergelak dengan melengos menghindari tatapanku.
"Misagi, katakanlah semua yang kau ketahui. Aku benar-benar merasa punya ikatan pada boneka teru teru bozu, bahkan jika aku melihatmu aku... "
Ucapanku terpenggal oleh sinar mata Misagi padaku. Ada semacam api protes, kebencian, dan juga harapan.
"Apakah orang-orang disekitar Sensei benar-benar tak tahu kehidupan pribadi Sensei, atau mereka memang sengaja menyembunyikan itu dari Sensei?"
Pertanyaan Misagi membuatku makin bingung.
"Apa?"
"Apa anda masih menyukai hujan? Seharusnya anda membencinya setelah kejadian itu."
Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan ucapan Misagi. Tapi belum sempat aku memikirkan arti kalimat Misagi, gadis itu beranjak dari duduknya lalu beringsut pergi.
"Misagi, hei, kau mau kemana?" susulku mengejarnya yang keluar kafe.
"Hal yang awalnya kusukai kemudian jadi yang paling kubenci, hujan." gumamnya seraya membuka payungnya dan menerobos hujan.
''Beri aku penjelasan atas semua ucapanmu!" pintaku menjejeri langkahnya, meski harus sedikit terguyur hujan.
"Setelah dua tahun Sensei baru penasaran dengan ingatan yang hilang? Itu terlalu lamban, dan sangat tidak adil untuk onee-chan," dengusnya tanpa berhenti dan tanpa peduli denganku yang mengikutinya diantara hujan.
"Onee-chan, onee-chan... aku bahkan tak tau siapa itu onee-chan yang kau maksud!" protesku dengan nada meninggi, dan ternyata hal itu membuat langkah Misagi terhenti seraya menatapku geram.



Langkahku terhenti di ambang pintu rumah sakit. Misagi akhirnya ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
"Kenapa? Apa Sensei takut? Bukankah tadi Sensei bilang padaku untuk memberi penjelasan atas semua ucapanku?" desisnya sinis, seakan tau gejolak hatiku yang memang meradang karena terlalu takut dengan kenyataan yang mungkin akan jauh dari yang aku pikirkan selama ini.
Rumah sakit? Kenapa jawaban atas amnesia disosiatif-ku ada di sebuah rumah sakit di pinggiran kota ini?
"Jika Sensei takut, berbaliklah dan pulang. Bukankah selama ini Sensei baik-baik saja meski amnesia itu menutupi salah satu atau mungkin satu-satunya bagian penting dari kehidupan Sensei?" Kali ini kata-kata Misagi terkesan lebih bijak.
"Apa onee-chan yang kau maksud tadi ada di sini? Apa aku benar-benar mengenal onee-chan yang kau maksud?" tanyaku.
Misagi menatapku tanpa bicara. Tapi sinar matanya mengungkapkan banyak kata yang tak bisa kujabarkan sendiri.
Keraguanku bercampur dengan rasa penasaranku tentang siapa yang dimaksud Misagi sebagai 'Onee-chan'. Dan mungkin, semua hal memang butuh yang namanya pengorbanan. Untuk kali mungkin aku memang perlu mengeluarkan lebih banyak tenaga agar rahasia amnesia disosiatif yang selama ini menggerogoti kenanganku bisa terkuak.
Sedikit ragu aku mengangkat kakiku ke depan, mendekati Misagi. Lalu perlahan Misagi melanjutkan langkahnya menuju sebuah kamar perawatan. Membuka pintu kamar dihadapannya. Aku terpaku meski Misagi sudah melangkah masuk. Dalam pandanganku, aku melihat ada sesosok gadis terbaring di dalam sana dengan selang infus juga selang oksigen.
Misagi menatapku yang masih terpaku.
"Sensei tak ingin menemuinya?" tanyanya

Bahkan, sekeras apapun aku mencoba mengingat aku tak bisa ingat siapa sosok yang terbaring itu, dan apa hubungannya denganku. Apa yang kuderita benar- benar amnesia disosiatif atau memang aku tak punya ingatan tentang ini?
Aku memilih menyerah dan melangkah masuk, tapi baru tiba di ambang pintu mataku langsung melihat banyak boneka teru teru bozu tergantung di kaca jendela. Dan ada beberapa slide kenangan buram yang melintas.



Kuamati lebih detail wajah tanpa ekspresi yang terbaring itu.
"Michi-chan, sejak dua tahun lalu setelah keluar dari ruang operasi mengalami kondisi vegetatif persisten."
Aku melonggo tak mengerti mendengar penjelasan Misagi.
''Istilah singkatnya kematian otak."
"Kenapa?" tanyaku nyaris tak sadar, membuat Misagi langsung menatapku disusul senyum sinisnya. Lalu langkahnya menuju meja di samping ranjang Michi.
"Bacalah, beritanya hanya sempat dimuat di koran berita lokal, dalam kolom berita biasa saja," katanya lebih mirip perintah setelah melempar sebuah koran lokal, tepat di bawah kakiku.
Kupungut koran yang sedikit usang itu. Tertera tanggal 27 November 2013. Tepat sehari setelah kecelakaan yang menimpaku dua tahun lalu itu.
Aku tak begitu konsentrasi membaca kolom berita itu, karena perhatianku langsung terfokus pada namaku yang tertulis sebagai nama korban kecelakaan tunggal, yang disandingkan dengan nama Sinshiro Michi. Kutatap lagi wajah tanpa ekspresi yang terbaring itu.
"Sinshiro Michi?" gumamku mencoba menggali nama itu dalam kotak ingatanku.
"Aku tidak begitu ingat, tapi sore itu dia pamit padaku akan bertemu seseorang." Ucapan Misagi membuyarkan konsentrasiku. Kutatap Misagi.
"Dan aku yakin yang ditemuinya adalah anda, sensei." Kali ini Misagi menatapku dengan sinar yang lebih bersahabat.
Kembali kutatap wajah tanpa ekspresi Michi.
Bahkan, sekeras apapun aku mencoba mengingat wajah dan nama Sinshiro Michi, tetap aku tak bisa bertemu setitik cahayapun. Lagi-lagi aku mendesah pasrah.
"Jadi dulu saat kecelakaan kami ditemukan dalam satu mobil?" tanyaku.
Misagi membenarkan letak selimut kakak perempuannya.
"Aku tidak melihatnya sendiri, tapi anda ada di belakang kemudi, sementara Michi-san terlempar keluar dari mobil. Menurut hasil olah TKP, rem mobil anda rusak." papar Misagi membuatku tak sadar tergelak.

Aneh, aku bahkan tak tahu dengan persis apa yang terjadi kala itu, bahkan penyebab kecelakaan itu. Yang kutau menurut penuturan orang tuaku juga Hikaru, karena hujan dan jalanan licin mobil yang kukendarai selip dan menabrak pembatas jalan. Sudah, itu saja.
Aku melangkah mendekati ranjang itu. Kuperhatikan lebih seksama tiap inchi wajah terlelap itu. Ada semacam alunan tembang rinai hujan dari luar sana. Dan ada sebuah slide buram melintas. Tentang rinai hujan yang sama seperti di luar sana.
Tapi konsentrasiku langsung terbuyar saat ponselku berdering. Nama Hikaru terpampang sedang memanggil.
"Apa kau akan melewatkan sesi konselingmu lagi?" tanya Hikaru dari seberang.
"Kau bilang beberapa hari ini kau mengalami insomnia dan mimpi buruk kan?" Lanjutnya tetap bertanya.
Aku mendesah.
"Aku menemui kakaknya Misagi. Sinshiro Michi" kataku berat.
Sepi. Diseberang sana Hikaru seperti meninggalkan ponselnya yang sedang melakukan panggilan.
"Hikaru-chan?!" panggilku dengan kernyitan dahi
''Cepat kembali, kita perlu segera mengadakan konseling." tandasnya lalu menutup telepon.
Kupandangi ponselku yang baru terputus panggilan dengan Hikaru.
Dan kusadari sepasang mata sedang menatapku lain dari biasanya.
"Sensei bahkan tak mengingat apapun meski sudah bertemu Michi-chan." keluhnya.
"Hujan." Kali ini aku lebih mirip tak sadar menggumam.
"Sensei mengingat sesuatu?" pekik Misagi dengan raut gembira.

Ya, hujan, Slide yang sempat melintas tadi adalah sebuah rinai hujan.
Mungkinkah aku dan Michi pernah punya kenangan tersendiri dalam suasana hujan seperti sekarang ini?
Yah, mungkin.
Terlalu dini menyimpulkan hal itu karena ingatanku masih minim.




Note:
Onee-chan : panggilan untuk kakak perempuan kandung
...- chan : panggilan untuk orang yang sudah akrab (teman/ saudara)
Sensei : guru


Rdb, 9/12/2015

Dan.... mandeg dulu sampe disini,
Ntar biar ada Teru teru bozu part 2 aja ya, soale kalo dijadii satu scene-nya meloncat-loncat kaya kodok, xixixixi

Senin, 16 November 2015

Don't Give Up

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, jarum jam sudah bergeser di angka sepuluh. Artinya aku sudah disini sudah sepuluh menit lebih. Kuarahkan pandanganku ke pintu masuk mini mall dan ternyata belum ada tanda-tanda kedatangan orang yang sejak tadi kutunggu. Kinanti.

Kemarin aku tak sengaja bertemu dengan Kinanti di perempatan jalan saat lampu merah. Dia dengan sepeda motor butut dan seabrek belanjaan sayuran di tengah terik matahari yang hampir mencapai klimaksnya. Tapi seperti apapun penampilan Kinanti aku akan tetap mengenalinya. Karena kurasa lesung pipit di pipi kiri dan tahi lalat di pipi kanan tak banyak yang bisa memilikinya sekaligus.
"Kinanti?" pekikku membuka kaca helmku pada sosok wanita di sebelahku.
Yang kupanggil Kinanti pun menoleh, lalu ikut membuka kaca helmnya. Matanya memicing seakan mewakili otaknya yang berfikir mengingatku. Memang hampir empat tahun kami sudah tak bertemu atau sekedar bertukar sapa.
"Kau sudah tak ingat aku?" tanyaku tak percaya
Mata panda itu makin memicing, membuatku mau tak mau tersenyum. 
"Aku Hata, Kin.., " desisku setengah gemas.
"Hata? Serius?" Kinanti malah yang tak percaya dengan pernyataanku.
Terpaksa kulepas helmku agar lebih meyakinkan. Dan disambut dengan gelak tawa Kinanti yang sangat, sangat kurindukan.
"Whoah... sungguh keajaiban kita bisa bertemu, disini pula," komentarnya.
Kami terpaksa meminggirkan dulu motor beda jaman kami. Kuamati barang bawaan Kinanti.
"Kau belanja segini banyak?"
"Oh, ini. Aku kerja."
"Kerja?" desisku, sedikit menahan sesak nafas.
Kinanti mengulum senyum, lalu dia menulis sesuatu di sebuah kertas.
"Ini nomor telponku, kalo ada waktu yang tepat kita bisa ketemu lagi." katanya menyerahkan sobekan kertas bertuliskan 12 nomor padaku.
"Aku tak bisa lama-lama disini." Kinanti menstater motor bututnya.
Aku masih melongo memandangi kertas di tanganku.
''Aku duluan ya,"
''Eh, tunggu... "
Kinanti tak menggubris panggilanku dan terus saja menjalankan motornya.
Aku tersenyum mengingat kejadian kemarin itu, 
"Memikirkan apa?''
Sontak aku terlonjak kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, saat aku mendongak mencari pelaku penanya yang ada malah wajah heran Kinanti menanggapi kekagetanku yang memang terkesan overdosis.
Aku mendesah, seiring Kinanti duduk di bangku di hadapanku. Kugeser sebotol minuman dingin yang mulai tak dingin ke arahnya.
"Kau telat, aku hampir jamuran menunggu disini." dengusku seperti kesal, padahal aku sangat lega akhirnya melihat lagi sosok itu.
Kinanti tertawa lirih, mengacuhkan kekesalan yang kutunjukkan. Sekaligus memamerkan lesung pipitnya yang selalu memikatku.
"Iya maaf, aku tadi harus menyelesaikan dulu pekerjaanku," 
"Memang kau kerja apa?"
"Di warung makan."
Aku terdiam mendengar jawaban Kinanti. Dan tak lama Kinanti menyadari kekagetanku yang kutunjukkan dalam diam itu.
"Kenapa? Jangan terlalu kaget begitu," desisnya meneguk minuman botol di tangannya.

Kinanti yang kukenal dulu adalah seorang lulusan FK terbaik, seorang residen tercakap di sebuah rumah sakit ternama. Saat itu kami masih sering berkomunikasi. Tapi karena perbedaan mencolok profesi yang kami geluti kami jadi sulit berkomunikasi dan harus merelakan keakraban yang sebenarnya sudah terjalin sejak masih SMA. Kubiarkan Kinanti menggeluti dunia medisnya yang begitu menjanjikan, sementara aku berpetualang ke berbagai tempat mencari sumber minyak yang menjadi kebanggaanku sejak terlahir di kota minyak ini.

Tapi apa ini? Harusnya Kinanti telah melewati masa residennya dan menuju arah menjadi dokter spesialis. Kenapa ini malah kerja di warung makan? Apa karena kasus yang sempat kudengar itu?
"Kinanti jadi korban seniornya," ujar Gea, sahabat sekaligus tetanggaku yang kebetulan berprofesi sebagai apoteker di rumah sakit yang sama yang ditempati Kinanti.
"Maksudnya?"
"Pasien yang di operasinya meninggal, dan Kinanti yang saat itu bertugas sebagai asisten dituding sebagi penyebab kematian." perjelas Gea.
"Lalu?"
"Entahlah, aku tak tau nasib dia selanjutnya. Aku sibuk mengurus kepindahanku ke rumah sakit lain."
Aku terpaku.

"Kau ngambek? Kenapa umur segini masih suka ngambek?" gerutunya
Mataku menatap secara detail penampilan Kinanti. Awalnya Kinanti terkesan acuh dan lebih memilih menikmati minumannya, tapi lama-lama dia terlihat jengah.
"Hei, kau tau kan menatap orang seperti itu sangat tidak sopan?" dengusnya meletakkan botol minumannya.
Kurendahkan pandanganku. Terdengar Kinanti mendesah.
"Aku memang tak cukup tau masalahnya, tapi benarkah karena itu sekarang kau begini?" tanyaku hati-hati.
Kinanti tak langsung menjawab. Diamnya membuat dadaku terasa penuh dengan beban yang tak kutau bernama apa.
"Harus bagaimana lagi." Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibirnya, membuatku tergelak.
"Apakah ini Kinanti yang kukenal sejak aku berumur 16 tahun?"
Diam, Kinanti kembali mengunci mulutnya.
"Dokter adalah impianmu sejak kau memutuskan masuk ke jurusan IPA."
"Sudah tidak lagi," sergahnya membuatku tergelak.

Baru empat tahun ternyata mampu membuat Kinanti yang kukenal menjadi orang asing. Hanya wajah, lesung pipit dan tahi lalat itu yang tak berubah dan membuatku yakin sosok dihadapanku ini adalah Kinanti yang sejak SMA membuatku jatuh cinta dengan semangat gigihnya dalam mempertahankan kelangsungan hidup impiannya.

''Bahkan ijin lisensiku juga dicabut. Apa masih berguna memegang impian itu?" katanya seperti mengeluh.
"Kenapa menyerah segampang itu? Sekalipun harus merangkak kau tetap tak boleh berhenti."
Kinanti menatapku sedih. Dan membuatku nyaris tak kuasa menikmati sinar mata panda itu.
"Kadang menyerah bisa menjadi pilihan terbaik,"
Aku tergelak.
"Apa yang kau maksud menyerah seperti ini? Sangat konyol seorang lulusan FK terbaik malah bekerja di warung makan."
"Aku juga lopper koran kalo pagi, malamnya aku kebagian sift menjaga loket karcis Tol."
Aku mencondongkan tubuhku ke arahnya.
"Haruskah sejelas itu kau jabarkan pekerjaanmu? Kenapa, agar kau terlihat lebih menyedihkan di mataku?" desisku marah.
Kinanti menunduk menghindari tatapan marahku. 
"Harusnya kau mencari keadilan itu agar impianmu bisa kau pertahankan. Jangan hanya sandungan kecil kau langsung menyerah begini?"
Kinanti mendesah.
"Pihak keluarga pasien juga menuntutku. Meski aku berhasil lepas dari tuntutan, tapi ijin lisensiku sudah dicabut, tak satupun rumah sakit yang mau menerimaku," cerita Kinanti, masih dengan menunduk.
"Aku merasa semua pintu tertutup untukku. Bahkan keluargaku... "
Aku kembali diserang perasan yang tak kutau namanya itu, yang pasti sangat menyiksaku di bagian ulu hati.
"Aku menyerah untuk bisa bertahan hidup, Ta."
Suara serak Kinanti membuatku tak mampu lagi menahan sesak dadaku. Kuhela nafas berat.
"Maaf," pintaku lirih, juga berat. "pasti ini berat sekali untuk kau lalui sendiri."
Kinanti melebarkan sudut bibirnya, hingga lesung pipit itu terlihat kian jelas.
"Sejak pertama bertemu, kita adalah dua orang yag punya jalan impian yang berbeda, Ta.''
''Dan itulah yang membuat kita kesulitan berjalan bersama, begitu kan?" sergahku melanjutkan kalimatnya. Kalimat andalan yang selalu dilontarkannya sejak dulu setiap kali aku meminta kesediaannya menitipkan hatinya padaku.
Kinanti tergelak lirih.
"Bisakah kau juga menyerah dari kalimat itu?" todongku menghilangkan bibirnya yang melebar.
Kinanti membisu lagi, tak mempedulikan aku yang menanti reaksinya. Malah sibuk memutar-mutar botol minuman di tangannya.
"Kau tak lelah hidup seperti ini, Kin?" tanyaku kemudian.
Kinanti mendesah.
Aku mencoba membayangkan keseharian Kinanti dari jabaran pekerjaan yang dilakoninya. Usai subuh harus berkeliling mengantar koran, lalu seharian sibuk di warung makan, bahkan malamnya masih harus menjaga loket karcis jalan Tol. Pantas saja penampilannya sangat semrawut dan kusut.
Meski bagiku itu tak mengurangi rasa memikat hatiku, tapi... aku merasa hidup Kinanti pasti sangat melelahkan.
"Aku mulai terbiasa hidup keras begini, Ta."
Kutatap lekat wajahnya. Lalu perlahan tanganku terlulur meraih jemarinya.
"Bagilah sedikit beban itu padaku, Kin!" pintaku sedikit pesimis.
Lama Kinanti membiarkanku menunggu jawaban dan hanya memamerkan sinar mata pandanya.
"Bisakah kau yang menyerah saja dari kalimat ini, Ta?" Akhirnya kalimat itu yang diucapkannya.
Aku tergelak seiring tanganku melepas jemarinya. Meski penolakan ini bukan yang pertama kalinya, tapi entah kenapa tetap saja rasanya sama seperti pertama kali, saat acara malam perpisahan SMA dulu.
"Dulu karena jalan impian kita yang terlalu berbeda, sekarang apalagi?" gusarku tak terima penolakannya.
"Sekarang aku hanya pekerja serabutan."
Aku tergelak mendengar alasan konyolnya.
''Apa aku perlu menjadi pekerja lopper koran, pegawai warung makan dan penjaga loket karcis jalan Tol agar tak ada alasan lagi?"
"Hata... !" desisnya tak suka. 
Hening kemudian, aku ataupun Kinanti sibuk dengan gejolak yang melanda pada diri masing-masing.
"Kin, untuk berjalan bersama dua orang tak perlu harus lebih dulu memiliki impian yang sama. Mereka hanya perlu bergandengan tangan dan percaya jalan impian bisa ditempuh berdua,'' kataku membuka keheningan.
Kinanti mengalihkan kegelisahannya dengan meneguk lagi minuman botolnya.
"Lihatlah dirimu sekarang, ini bukan Kinanti yang seharusnya. Jangan terus-terusan menyiksa dirimu seperti ini, Kin."
"Lalu aku harus bagaimana?" desisnya marah, dengan intonasi suara meninggi.
Kilatan emosi matanya terlihat dengan jelas.
"Segala cara sudah kucoba untuk memperbaiki keadaan, Ta. Setiap hari aku bertarung dengan rasa ingin menyerah. Tapi aku mencoba tetap bertahan, berharap semua yang kulakukan tak ada yang sia-sia." lanjutnya meracau.  "impian yang kurangkai dengan penuh semangat, saat sudah bisa kugenggam erat harus aku lepaskan tanpa mampu kupertahankan, aku... " Bahu Kinanti sedikit gemetar mengucapkan kalimatnya kali ini, mau tak mau kuraih kembali jemarinya yang juga gemetar.
"Impian itu sudah lama berakhir, Ta. Jadi meski sekarang kau mendorongku sekuat tenaga tetap tak ada gunanya."
Kueratkan genggaman tanganku pada jemarinya yang masih gemetar.
"Aku yang dulu terlalu berambisi mengejar impian. Demi mendapatkan apa yang ada di depanku, aku melepaskan apa yang sudah kugenggam." Suaranya naik turun, kadang jelas kadang lirih gemetar. "Mungkin ini hukuman untuk ketamakanku." lanjutnya sedih.
"Maafkan aku."
Kinanti mendongak menatapku tak mengerti.
"Maafkan aku yang juga lebih sibuk mengejar impian hingga membuatmu harus sendirian saat menghadapi semua itu."
Kinanti tergelak mendengar lanjutan pengakuanku.
"Mana boleh aku menyalahkanmu untuk nasib burukku."
''Andai aku tak pernah menyerah untuk tetap ada disampingmu, kau tak mungkin seperti sekarang ini kan?" sergahku.
Kinanti tergelak lagi, meski kini terkesan getir. 
"Inilah yang namanya hidup, Ta... ''
"Karena itu... " sergahku lagi, menyela ucapannya, Kinanti menatapku tak mengerti. "Karena itu berbagilah." lanjutku membuatnya mengalihkan pandangannya dariku
Untuk kesekian kalinya Kinanti tergelak.
"Ibarat burung, kedua sayapku sudah patah, tak mungkin bisa terbang lagi. Lalu apa mungkin kau berharap aku bisa terbang bersamamu?" Pertanyaan yang Kinanti lontarkan lebih mirip sebuah keluhan.
Kulebarkan sudut bibirku, serasa ada secercah sinar harapan yang akan kuraih.
"Tidak perlu terbang jika tak mampu, berjalanpun tak apa asal bisa berdua." kataku, sedikit menggombal.
Kinanti menutupi wajahnya yang memias dengan sebelah tangannya. Senyumnya meski tak lebar mampu membuat pesona lesung pipitnya terlihat jelas.

Seperti katamu, Kin, inilah yang namanya hidup. Kadang ada semangat membara, keberuntungan, tapi kadang pula akan tiba masanya keterpurukan dan nasib buruk. Tapi jatuh bangunnya seseorang adalah proses hidup yang harus dilalui. Karena hanya dengan itu barulah bisa disebut hidup.






Don't give up, never give up
Rdb, 16/11/2015