" Liat apa kamu?" Tanya Jason stelah jengah ulahnya tak mendapat respon dari Dina.
" Kamu liat cewek tadi gak?" Tanya Dina tanpa menatap Jason, matanya malah sibuk celingukan.
" Cewek? Mana, cantik tidak?" Jason langsung antusias
" Ya cantik lah, rambut panjang, pake dress diatas lutut, dan pake high heels...itu...itu...." pekik Dina kegirangan
Jason mengikuti arah yang dituju Dina. Diujung jalan sana ada seorang gadis dengan dandanan feminim, sambil menenteng tas kerja, sedang terburu-buru rupanya. Kelihatan saat dia sedikit berlari menyeberang jalan saat lampu merah menyala.
" Kamu kenal dia?"
" Tidak"
Jason hampir terbatuk, es cream nya hampir tumpah, untung tangannya sigap dan langsung melahapnya.
" Lalu apa urusannya coba? Dasar aneh!" Sungut Jason kesal
" Aku cuma heran aja, kok bisa ya orang berjalan setengah berlari, padahal lagi pake highheels"
Untuk kedua kalinya Jason terbatuk, kali ini lebih parah. Dina menatap Jason heran
" Kamu kenapa? tersedak lalat ya?!" Tebak Dina seenaknya
Jason malah terbahak. Dina nyengir kuda melihat tingkah Jason yang mulai menyebalkan
" Norak tau!" Lalu Dina melangkah pergi
" Hei...semua ceewk didunia ini bisa berjalan setengah berlari meski pake highheels....semua, kecuali kamu!" Sindir Jason disela tawanya
Dina membalikkan tubuhnya, menatap Jason marah.
" Apa maksudmu?!"
" Ya, maksudku cuma kamu cewek yang gak bisa pake highheels!"
" eh..ehhh..ehh..." Protes Dina mendekat sambil tangannya menuding,
Jason malah terkekeh.
" Siapa yang bilang aku tak bisa pake highheels?"
" Ya kamu itu,coba liat mbk itu...." Jason menunjuk seorang wanita lewat, " Dia pake highheels kn? Dan mbk disana, dia juga pake highheels kan?"
Dina sempat terngungu.
" Cuma kamu status cewek tapi gak pernah bisa pake highheels, karena kamu cewek jadi-jadian.."
Buuuukkkkkk....
Tas sejak tadi tersampir dibahu Dina mendarat tepat mengenai wajah Jason. Membuat wajah Jason jadi merah padam
" Kalo ngomong jangan asal ya..!"
" Siapa yang asal? benar kan kalo kamu cewek jadi-jadian?"
Buukkkkk...
Lagi, tas itu melayang, kali ini mengenai bahu Jason
" Hei,...."
" Aku bukan cewek jadi-jadian tau!!"
Untuk ketiga kalinya tas itu hampir melayang lagi, tapi tangan Jason lebih sigap menangkisnya
" Gak ada cewek yang brutal kaya kamu. Cewek itu feminim, pake rok, pake make-up, juga pake highheels"
Dina terpekur.
" Masa sich?"
Jason tergelak. Dina masih terbengong, seperti memikirkan sesuatu yang serius. Jason paling tak suka kalo melihat tampang teman bertengkarnya itu seperti itu, cepat-cepat dirangkulnya pundak Dina
" Udah deeehh... gak usah bermimpi kaya mbak-mbak tadi, gak usah berpikir bisa dandan cantik kaya Lila atau Cindy. Kamu lebih manis seperti ini, kalo kamu bisa pake highheels bisa-bisa kota ini diguncang gempa 10 skala richter"
Cepat-cepat Dina melepas rangkulan Jason dan bertampang garang lagi. Jason malah tergelak. Dina cemberut.
" Oke kita taruhan" Tantang Dina serius. Jason mengernyitkan dahinya
" Taruhan? Taruhan apa?!"
" Taruhan kalo aku bisa pake highheels!"
Jason tersedak, terbatuk, lalu terbahak sejadi-jadinya.
" Aku serius Jason!!!!" Geram Dina.
Jason menatap teman sekelasnya yang lebih terlihat kawan bergelut itu, karena memang dalam setiap kesempatan ada saja yang diributkan keduanya. Adu mulut, adu tangan sudah menjadi menu utama setiap hari-hari mereka.
" Kamu serius?!" Jason masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dina yang terkenal cewek paling tomboy disekolah mengajaknya taruhan bahwa dia bisa pakai highheels? Andai sekolah mereka punya kebijakan membolehkan siswinya pake celana aja, pasti Dina gak akan pake rok kok. Kalo gak tomboy mana mungkin minggu lalu Dina menyanggupi tantangan Jason dan kawan-kawan yang mengerjainya untuk memanjat pohon jambu biji dibelakang ruang guru. Meski Dina berhasil tapi toh akhirnya Jason pun ikut terseret ke ruang konseling.
Jason tertawa tertahan
" Kamu ngajak taruhan bisa pake highheels?"
" Ya,kenapa? Takut?!"
" Aku? Takut? Oh, tentu tidak."
" Kalo begitu deal, kita taruhan dalam seminggu aku pasti bisa berjalan pake highheels!!" Ucap Dina mantap, mengulurkan tangannya untuk berjabatan
" Kalo gagal?!" Tanya Jason belum mau menjabat tangan Dina
Dina berfikir sejenak,
" Mmmm.... apa ya?"
" Kamu jadi pelayanku selama aku mau"
" Enak aja..."
" Eiittss....kamu sendiri yang ngajak taruhan"
Dina manyun sebentar, seperti berpikir.
" Okelah, siapa takut, tapi kalo kamu yang kalah kamu yang gantian jadi pelayanku lho ya,hahahaa...."
" Begitu kok mau jadi feminim" Protes Jason sinis
" Opss..." Spontan Dina menutup mulutnya dengan wajah malu
" Jasoonn...!!!"
Jason yang asyik bermain basket bersama Ken dan Ardi langsung menoleh mendengar suara kenes Lila diseberang lapangan. Lila gadis centil berambut sebahu lurus itu setengah berlari mendekati Jason
" Batalkan taruhan itu" Ucap Lila serius
" Taruhan?!" Kompak Ken dan Ardi
"Taruhan apa?"
" Pake berlagak lupa, taruhanmu sama Dina" Lila makin geram
" Ooo... soal taruhan itu?"
" Taruhan apa lagi Jas?!" Ken ingin tahu, begitupun Ardi
" Dina ngajak taruhan dia bisa pake highheels dalam seminggu ini"
Kedua pemuda disamping Jason sejenak melonggo tapi detik berikutnya tertawa terbahak-bahak
" Batalkan!!"
"Itu bukan kemauan aku nona cantik"
" Tapi taruhan itu benar-benar buat Dina aneh"
" Salah sendiri..."
" Jasoonnn....!!!!"
"Aku pasti bisa kok!"
Semua terdiam, menatap kedatangan Dina sekitar 2 meter dari mereka.
Jason manggut-manggut
" Aku salut dengan optimisme yang kamu miliki" Ucap Jason
" Apa itu kata lain dari kamu mulai takut kalah?" Selidik Dina mendekat
" Oh..tidak bisa.."
" Dina...sudahlah.." Lerai Lila
" Oh come on Lila, dukung aku dong, kamu kan temanku"
" Iya, tapi ini sangat mustahil. Mending aku suruh dukung kamu panjat pohon jambu lagi deh"
" Idiihh... Lila!" Sungut Dina, disusul tawa teman-teman semua
Jason tersenyum penuh arti,
Dibalik semua sikap jahilnya, sebenarnya Jason sayang sekali dengan gadis tomboy itu. Bagi Jason, Dina seperti matahari pagi dimusim semi, begitu cerah, begitu hangat dan selalu memberi semangat. Tak peduli dia bisa feminim atau tetap tomboy, tak peduli seminggu yang akan datang bisa berjalan dengan highheels atau tidak, tapi Jason ingin selalu bersama Dina. Jason tetap ingin setiap paginya selalu melihat wajah polos nan lucu itu. Jason tetap ingin hari-harinya terhiasi lengkingan suara dan tawa cemprengnya.
Hanya Jason tak pernah sadar kalo itu semua adalah cinta.
Randublatung, 30/08/'14
kisah manis di sekolah,