Sabtu, 30 Agustus 2014

HIGH HEELS

Dina terbengong, matanya mengekor mengikuti langkah cepat kaki seorang wanita yang baru melewatinya. Dina benar-benar konsentrasi penuh pada wanita itu sampai dia tak sadar atau mungkin tak peduli saat Jason berhasil melahap es krim corneto-nya.
" Liat apa kamu?" Tanya Jason stelah jengah ulahnya tak mendapat respon dari Dina.
" Kamu liat cewek tadi gak?" Tanya Dina tanpa menatap Jason, matanya malah sibuk celingukan.
" Cewek? Mana, cantik tidak?" Jason langsung antusias
" Ya cantik lah, rambut panjang, pake dress diatas lutut, dan pake high heels...itu...itu...." pekik Dina kegirangan
Jason mengikuti arah yang dituju Dina. Diujung jalan sana ada seorang gadis dengan dandanan feminim, sambil menenteng tas kerja, sedang terburu-buru rupanya. Kelihatan saat dia sedikit berlari menyeberang jalan saat lampu merah menyala.
" Kamu kenal dia?"
" Tidak" 
Jason hampir terbatuk, es cream nya hampir tumpah, untung tangannya sigap dan langsung melahapnya.
" Lalu apa urusannya coba? Dasar aneh!" Sungut Jason kesal
" Aku cuma heran aja, kok bisa ya orang berjalan setengah berlari, padahal lagi pake highheels"
Untuk kedua kalinya Jason terbatuk, kali ini lebih parah. Dina menatap Jason heran
" Kamu kenapa? tersedak lalat ya?!" Tebak Dina seenaknya
Jason malah terbahak. Dina nyengir kuda melihat tingkah Jason yang mulai menyebalkan
" Norak tau!" Lalu Dina melangkah pergi
" Hei...semua ceewk didunia ini bisa berjalan setengah berlari meski pake highheels....semua, kecuali kamu!" Sindir Jason disela tawanya
Dina membalikkan tubuhnya, menatap Jason marah.
" Apa maksudmu?!"
" Ya, maksudku cuma kamu cewek yang gak bisa pake highheels!"
" eh..ehhh..ehh..." Protes Dina mendekat sambil tangannya menuding,
Jason malah terkekeh.
" Siapa yang bilang aku tak bisa pake highheels?"
" Ya kamu itu,coba liat mbk itu...." Jason menunjuk seorang wanita lewat, " Dia pake highheels kn? Dan mbk disana, dia juga pake highheels kan?" 
Dina sempat terngungu.
" Cuma kamu status cewek tapi gak pernah bisa pake highheels, karena kamu cewek jadi-jadian.."
Buuuukkkkkk....
Tas sejak tadi tersampir dibahu Dina mendarat tepat mengenai wajah Jason. Membuat wajah Jason jadi merah padam
" Kalo ngomong jangan asal ya..!"
" Siapa yang asal? benar kan kalo kamu cewek jadi-jadian?"
Buukkkkk...
Lagi, tas itu melayang, kali ini mengenai bahu Jason
" Hei,...."
" Aku bukan cewek jadi-jadian tau!!"
Untuk ketiga kalinya tas itu hampir melayang lagi, tapi tangan Jason lebih sigap menangkisnya
" Gak ada cewek yang brutal kaya kamu. Cewek itu feminim, pake rok, pake make-up, juga pake highheels"
Dina terpekur.
" Masa sich?" 
Jason tergelak. Dina masih terbengong, seperti memikirkan sesuatu yang serius. Jason paling tak suka kalo melihat tampang teman bertengkarnya itu seperti itu, cepat-cepat dirangkulnya pundak Dina
" Udah deeehh... gak usah bermimpi kaya mbak-mbak tadi, gak usah berpikir bisa dandan cantik kaya Lila atau Cindy. Kamu lebih manis seperti ini, kalo kamu bisa pake highheels bisa-bisa kota ini diguncang gempa 10 skala richter"
Cepat-cepat Dina melepas rangkulan Jason dan bertampang garang lagi. Jason malah tergelak. Dina cemberut.
" Oke kita taruhan" Tantang Dina serius. Jason mengernyitkan dahinya
" Taruhan? Taruhan apa?!"
" Taruhan kalo aku bisa pake highheels!"
Jason tersedak, terbatuk, lalu terbahak sejadi-jadinya.
" Aku serius Jason!!!!" Geram Dina.
Jason menatap teman sekelasnya yang lebih terlihat kawan bergelut itu, karena memang dalam setiap kesempatan ada saja yang diributkan keduanya. Adu mulut, adu tangan sudah menjadi menu utama setiap hari-hari mereka.
" Kamu serius?!" Jason masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dina yang terkenal cewek paling tomboy disekolah mengajaknya taruhan bahwa dia bisa pakai highheels? Andai sekolah mereka punya kebijakan membolehkan siswinya pake celana aja, pasti Dina gak akan pake rok kok. Kalo gak tomboy mana mungkin minggu lalu Dina menyanggupi tantangan Jason dan kawan-kawan yang mengerjainya untuk memanjat pohon jambu biji dibelakang ruang guru. Meski Dina berhasil tapi toh akhirnya Jason pun ikut terseret ke ruang konseling.
Jason tertawa tertahan
" Kamu ngajak taruhan bisa pake highheels?"
" Ya,kenapa? Takut?!"
" Aku? Takut? Oh, tentu tidak."
" Kalo begitu deal, kita taruhan dalam seminggu aku pasti bisa berjalan pake highheels!!" Ucap Dina mantap, mengulurkan tangannya untuk berjabatan
" Kalo gagal?!" Tanya Jason belum mau menjabat tangan Dina
Dina berfikir sejenak,
" Mmmm.... apa ya?"
" Kamu jadi pelayanku selama aku mau"
" Enak aja..."
" Eiittss....kamu sendiri yang ngajak taruhan"
Dina manyun sebentar, seperti berpikir.
" Okelah, siapa takut, tapi kalo kamu yang kalah kamu yang gantian jadi pelayanku lho ya,hahahaa...."
" Begitu kok mau jadi feminim" Protes Jason sinis
" Opss..." Spontan Dina menutup mulutnya dengan wajah malu



" Jasoonn...!!!"
Jason yang asyik bermain basket bersama Ken dan Ardi langsung menoleh mendengar suara kenes Lila diseberang lapangan. Lila gadis centil berambut sebahu lurus itu setengah berlari mendekati Jason
" Batalkan taruhan itu" Ucap Lila serius
" Taruhan?!" Kompak Ken dan Ardi
"Taruhan apa?"
" Pake berlagak lupa, taruhanmu sama Dina" Lila makin geram
" Ooo... soal taruhan itu?"
" Taruhan apa lagi Jas?!" Ken ingin tahu, begitupun Ardi
" Dina ngajak taruhan dia bisa pake highheels dalam seminggu ini"
Kedua pemuda disamping Jason sejenak melonggo tapi detik berikutnya tertawa terbahak-bahak
" Batalkan!!"
"Itu bukan kemauan aku nona cantik"
" Tapi taruhan itu benar-benar buat Dina aneh"
" Salah sendiri..."
" Jasoonnn....!!!!"
"Aku pasti bisa kok!"
Semua terdiam, menatap kedatangan Dina sekitar 2 meter dari mereka.
Jason manggut-manggut
" Aku salut dengan optimisme yang kamu miliki" Ucap Jason
" Apa itu kata lain dari kamu mulai takut kalah?" Selidik Dina mendekat
" Oh..tidak bisa.."
" Dina...sudahlah.." Lerai Lila
" Oh come on Lila, dukung aku dong, kamu kan temanku"
" Iya, tapi ini sangat mustahil. Mending aku suruh dukung kamu panjat pohon jambu lagi deh"
" Idiihh... Lila!" Sungut Dina, disusul tawa teman-teman semua
 Jason tersenyum penuh arti,
Dibalik semua sikap jahilnya, sebenarnya Jason sayang sekali dengan gadis tomboy itu. Bagi Jason, Dina seperti matahari pagi dimusim semi, begitu cerah, begitu hangat dan selalu memberi semangat. Tak peduli dia bisa feminim atau tetap tomboy, tak peduli seminggu yang akan datang bisa berjalan dengan highheels atau tidak, tapi Jason ingin selalu bersama Dina. Jason tetap ingin setiap paginya selalu melihat wajah polos nan lucu itu. Jason tetap ingin hari-harinya terhiasi lengkingan suara dan tawa cemprengnya.
Hanya Jason tak pernah sadar kalo itu semua adalah cinta.



Randublatung, 30/08/'14
kisah manis di sekolah,





Jumat, 15 Agustus 2014

Menjemput Keajaiban

Aku termangu menatap nanar seorang gadis yang duduk bersimbuh memeluk lututnya ditepi pantai sana, sekitar 20 meter dari tempatku berdiri. Pandangan gadis itu menerawang lepas ke samudera. Tak peduli rambut sebahunya terburai dipermainkan angin laut siang ini.
Sudah hampir sejam aku menunggu disini, berharap gadis itu menyudahi 'semedi'nya dan mengetahui ada aku disini yang memperhatikannya. Tapi, entah untuk keberapa kalinya sepertinya harapan itu harus kubuang jauh-jauh. Karena gadis itu masih tetap setia menemani keheningan laut.
Kuhela nafas berat dan memutuskan untuk menyudahi ini, tapi saat aku membalikkan badan hampir saja aku memekik menemukan sosok Leo sudah menjulang dihadapanku dengan tatapan lekat.
" Sejak kapan kau disini?" 
" Yang pasti tak selama yang kau lakukan." Jawab Leo sedikit ketus
Aku tersenyum dan melangkah
" Kau mau kemana?" Tanyanya kemudian
" Ya pulanglah, sudah sore." Jawabku enteng seraya menaiki motorku dan memakai helm
" Lalu bagaimana dengan dia?" Lanjut Leo menunjuk ke arah tepi pantai
Tak jadi kustater motorku, aku termanggu.
" Kenapa kau seperti menjauhinya? Baru bulan lalu kau begitu semangat bilang padaku kalau kau ingin membantu dia mengobati luka hatinya peninggalan si brengsek Jason. Kau lupa itu?"
Aku menunduk mendengarkan hujatan dari Leo. Pantas kalau Leo mengatakan itu semua. Aku memang pernah berjanji pada Leo akan menemani Ellen, membantu menyembuhkan luka hati hadiah dari pacarnya yang meninggalkannya karena gadis lain.
" Mungkin kau cuma simpati saja, jangan sembrono.." Ucap Leo sore itu saat aku menceritakan niatku akan pindah kontrakan agar lebih dekat dengan Ellen.
" Tidak Le, aku memang mencintainya"
Leo mengernyitkan dahinya, mungkin karena tak percaya
" Sejak dulu." Lanjutku membuat Leo tergelak,
" Kau bercanda?"
" Tidak, aku serius. Aku memang mencintai Ellen sejak pertama kali Jason memperkenalkan Ellen pada kita"
" 3 tahun lalu?" Perjelas Leo mengingatkan tepatnya kejadian itu. Hari dimana aku pertama kalinya melihat sosok sederhana dengan tatapan yang lembut dan tawa yang polos milik Ellen.
Aku mengangguk.
" Gila, jadi selama ini kau diam-diam mencintai pacar orang?"
Aku tersenyum lagi seraya mencoba menyembunyikan pias pipiku.
" Jangan-jangan rasamu itu memang cuma simpati, bukan cinta." Tebak Leo menyeretku kembali ke alam sadar. Kata-kata itu seperti sebuah tuduhan.
" Aku...."
" Berarti benar?!" Leo ingin kepastian
" Tidak Le, aku cuma..."
" Cuma apa? Dia hampir setiap hari ada disitu, dan kau cuma disini. Keajaiban apa yang kau tunggu? Hah?!"
" Dia masih berharap Jason kembali."
" Lalu apa masalahnya? Jason sudah entah kemana bersama gadis lain."
Kutatap Ellen lagi. Begitu setianya gadis itu disitu. Apa yang ditunggunya? Keajaibankah seperti yang dibilang Leo tadi?
" Kalau menurutku kalian berdua itu seperti dua orang yang bodoh!"
Bodoh?! Leo yang sejak SD sampai kuliah kalau ada tugas selalu minta bantuan aku, sekarang bilang aku ini bodoh? Dan sangat aneh kalau Ellen disebut bodoh, dia gadis yang cemerlang, hanya dalam kehidupan cintanya saja dia menyedihkan.
" Aku bisa lihat binar mata Ellen saat bersamamu, dia juga bahagia kalau kau disampingnya"
" Tapi tempat ini adalah kenangannya bersama Jason, aku..."
" Jason lagi....Bulshitt dengan Jason! Cinta itu simple, kau bahagia bersamanya, kau bisa membahagiakannya, sudah, selebihnya jalani saja!"
Aku tercengang mendengar penuturan Leo, anak ini seumur-umur tak pernah menterjemaahkan yang namanya cinta, tapi kenapa kata-katanya tadi sangat masuk diakal?
" Kalau kau mencintanya, kau merasa bisa membahagiakannya, datangi dia, katakan itu padanya. Soal dia menerima atau tidak itu resiko. Jangan terlalu berharap keajaiban, keajaiban tak akan muncul tanpa usaha apapun. Kau pikir kau bisa merasakan ombak kalau kau tak mendekati pantai?"
Aku terngungu. Semua yang dikatakan Leo tak satupun salah. Ternyata aku memang bodoh!
Aku tersenyum menatap Leo, 
" Thanks guys, baru kali ini aku kalah darimu"
Leo terbahak, Kulepas helmku dan berlari kearah tepi pantai, ketempat dimana Ellen masih setia menunggu. Dan kali ini aku tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau toh ternyata Ellen masih setia menunggu Jason, paling tidak aku sudah berusaha meraih cinta itu. Karena benar yang dikatakan Leo tadi, jangan terlalu berharap keajaiban, keajaiban tak akan muncul tanpa usaha apapun.
Aku berlari penuh keyakinan menuju sebuah cinta yang penuh keajaiban itu. Langkahku terhenti tepat disamping Ellen. Menyadari kedatanganku Ellen mendongak dan menatapku.
Aku tersenyum, senyum yang memastikan bahwa aku bisa juga membahagiakan dia seperti yang pernah Jason lakukan; Senyum yang kupastikan tak kan lakukan hal serupa yang Jason lakukan saat melukai tatapan lembut itu.
" Sudah mulai petang, ayo kita pulang" Kataku mengulurkan tanganku ke arahnya.
 Dan keajaiban itu akhirnya ku jemput saat senyum manis Ellen menghiasi bibirnya, perlahan tangannya pun terulur, menyambut tanganku yang selama 3 tahun lebih ini tergenggam dibalik punggung keraguan.
Ellen bangkit dari duduknya dan kusambut tubuh mungil itu dalam pelukanku.
Sekali lagi Leo benar, cinta itu simple, kau bahagia bersamanya , kau bisa membahagiakannya, sudah, selebihnya jalani saja.




Randublatung, 16/08/2014

Sabtu, 09 Agustus 2014

BUKAN CINDERELA


Kututup buku paket Bahasa Inggrisku sedikit kasar, sedikit marah pula. Ah... bukan sedikit, tapi aku emang lagi marah. Dadaku seperti mau meledak rasanya. 
" Napa sih loe Jen, kok sewot sendiri? " Tanya Aurel seperti gemas liat wajahku yang kaya buah asem mentah, kecuutt banget.
Sekilas kulihat sosok arjunaku di tempat duduknya di pojok kiri sana, hanya sekilas melihatku dan asyik kembali dengan gadget nya, aku makin emosi.
" Ya, lagi sewot banget ini, sampe pengen makan orang!" geramku berlalu dengan nada jengkel. Keluar dari kelas yang hanya tinggal beberapa penghuninya, akibat jam kosong. Langkahku menuju kantin sekolah
Oke, mulai sekarang berhenti jadi pengemis cinta Jen.....!!! geramku membathin.
Sampai kapanpun manusia itu tak kan menganggapmu siapa-siapa, selain teman sekelas! Dasar bodoh!
Kuhempaskan tubuhku ke salah satu kursi kantin. Kupesan semangkok bakso dan es teh. Sembil menunggu pesanan kumainkan sendok dan garpu yang kupegangi. Teringat lagi wajah arjunaku itu, Han.
Aku mendesah berat. 
Mimpimu ketinggian Jen kalo mengharap orang setenar Han mencintaimu...! Rutukku sendiri yang benar-benar kesal karena berfikir terlalu naif tentang semua tatapan Han beberapa minggu ini. Saking geramnya sendok dan garpu ditanganku serasa mau kepatahkan
" Sejak kapan kau mau kaya Dedi corbuzier? " tanya Nafa sudah menjulang dihadapanku membawakan mangkok baksoku. Aku tak menjawab. Nafa ikut duduk di depanku, es teh pesananku datang bersama lemon tea milik Nafa.
 " Tadi Aurel bilang kalo kamu uring-uringan terus hari ini," Katanya seperti melapor
Tak kutanggapi omongan Nafa, aku malah sibuk melahap baksoku. Nafa dengan sabarnya menunggu jawaban yang masih kusimpan.
" Aku benci semua ini Naf," akuku akhirnya, sejenak menghentikan lahapan baksoku.
Nafa mendesah, " Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.... katanya patkai, hahahaa " 
"Gak lucu!" desisku melahap lagi sisa baksoku, tawa Nafa lenyap perlahan.
Kusudahi makanku, kuseruput es tehku. Nafa masih setia menantiku bicara. Aku tersenyum getir menyadari keadaanku selama ini.
" Sudah saatnya aku hentikan semua ini dan must go on. Aku muak berperan seperti pengemis cinta"
Han, dia sebenarnya baik, tapi mungkin aku yang terlalu naif, tak tau diri. Han sudah terlalu baik menolongku saat sepeda motor bututku mogok di derasnya hujan siang itu, menuntunkannya untukku sampai ke bengkel dan meminjamkan jaketnya untukku mengurangi dingin waktu itu. Harusnya aku tak perlu berfikir Han ada rasa padaku hanya berpatok itu. Mungkin saja dia kasihan melihat seorang wanita menuntun sepeda motor sendiri dalam derasnya hujan.
Aku tergelak malu, perasaaanku ini memang benar-benar memalukan. Jangankan pada orang lain, pada diri sendiriku saja aku sampai malu mengingat semuanya.
Sejak kejadian itu Han memang sering menyapaku, bahkan dengan setia mendengar keluh kesahku pada penantianku pada kepergian Joe, pacarku. Tapi tak seharusnya aku menyimpulkan Han ingin dekat denganku. Huuuffttt..... dasar bodoh!
" Lalu apa rencanamu?!" tanya Nafa seperti ingin ketegasan sikapku
Dari awal Nafa memang sudah wanti-wanti padaku agar jangan main hati dulu, akunya saja yang bandel,
" Aku akan menjauhinya" 
" Yakin bisa?! ragu Nafa menatapku penuh selidik
Sulit mungkin!
" Akan kucoba," kutatap Nafa lekat, " Tapi aku sudah yakin, aku bukan cinderela itu," lanjutku yakin meski dengan mata nanar.



Langkah pastiku ke arah perpustakaan tiba-tiba langsung kuputar 90 derajat saat aku menangkap sosok Han baru keluar dari dalam perpustakaan.
" Jeny...!!!" 
langkahku malah kian kupercepat saat kudengar suara Han setengah berteriak memanggilku.
Sialll.... kenapa pula sih ketemu dia? Rutukku
" Hei...heiii..." Desis Han saat berhasil menyambar tanganku
" Emang tampangku sekarang kaya hantu ya sampai harus dijauhi kaya gini?" lanjutnya seperti marah
" Oh, sori Han, aku tadi gak dengar kamu manggil, soalnya aku lagi buru-buru" Kilahku berbohong
" Bohong!!" Tandasnya menatapku lekat, kali ini aku yakin Han memang sedang marah.
Tapi marah untuk apa? Apa ruginya dia aku jauhi? oh,... come on, jangan buat aku kembali jadi orang naif Han... 3 hari ini rasanya sudah sangat berat banget usahaku.
" Liat aku Jen!" 
Aku diam, dan terus menunduk. Han tergelak
" Ini sebenarnya ada apa sih?"
" Gak ada apa-apa kok,"
" Kamu sudah baikan ya sama Joe?" tebak Han tiba-tiba.
Mau tak mau aku menatap Han 
" Apa? kenapa berfikir begitu?"
" Ya, siapa tau."
Aku menunduk lagi, 
Senbenarnya tidak, justru kabar Joe malah semakin tak jelas, no teleponnya tak aktif, BBM pun juga sudah tak aktif sejak kemarin, dan beberapa aplikasi lainnya pun tak ada yang bisa membuatku bisa mendapat kabarnya. Aku seperti tersingkir dari dunia barunya disana, dan aku mulai tidak lagi mempedulikan itu.
" Tidak." jawabku singkat.
" Lalu kenapa menjauhiku?"
" Itu perasaanmu saja,"
Han tergelak lagi
please... Han, pintaku membathin.
" Lalu bagaimana sebenarnya perasaanmu kalo ini hanya perasaanku saja?!"
Perasaanku? Aku tak tau bagaimana perasaanku, terlalu membingungkan jika mengeja satu persatu perasaan yang berkecamuk ini. Yang pasti aku tetap bertekad tak lagi berfikir aku seperti cinderela, terlalu naif!
Mungkin aku bisa saja berfikir lanjutan kejadian ini dengan pikiran naifku. Han akan mengungkapkan perasaannya dan memintaku untuk tidak lagi menjauhinya.
Aku tertawa dlm hati, nyadar dong Jen.....!!! Sisi bathinku yang lain menghardikku
Kamu itu siapa??? Cantikkah? Tentu tidak, bahkan bisa dibilang dibawah standart. Menarikkah? Juga tidak, karena tinggi semampai pun tidak, kulit putih muluspun tidak. Pantaskah jadi cinderela???
Tiba-tiba bel masuk berdering memecah perdebatan dalam hatiku
" Sudah bel, sebaiknya..."
" Jawab dulu pertanyaanku tadi Jen,..." Geramnya mempererat genggaman tangannya pada lenganku.
Kuberanikan diri menatap mata indah itu
Aku memang harus mengakhiri ini agar tak terus-terusan membelengguku.
" Aku bukan cinderala Han, tolong.... jangan buat aku berfikiran naif, aku,.... aku sudah cukup sakit dengan Joe, ijinkan aku mengobati luka ini..."Ucapku lirih, padahal dalam hati itu begitu ingin kuteriakkan dengan sekeras-kerasnya
Mata Han meredup, genggaman tangannya mengendur, kumanfaatkan untuk melepaskan diri, lalu aku beringsut
" Dengar Jen..." Katanya tiba-tiba, langkahku terhenti tapi aku tak menoleh,
" Semua wanita berhak jadi cinderala, itu tergantung kemauan dan keberanian hatinya" lanjutnya 
Aku mendesah.
Harusnya ini tak perlu terjadi, 
Ya Tuhan...aku benar-benar capek dengan semua ini!




RDB. 08/08/2014




Minggu, 03 Agustus 2014

UNTITLED

Aku terpaku, mulutku bungkam tak bicara, mataku lekat tak berkedip, nafasku serasa terhenti di satu titik nadi, tapi detak jantungku berdeegup sangat kencang seperti genderang mau perang-nya Dewa 19. Kuharap sosok tampan yang menjulang dihadapanku ini tidak sampai mendengarnya. 
" Hei...hallo...?!" ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya ke depan mukaku.
Aku tergagap, dan langsung saja wajahku memias menyadari aku telah kecolongan terpukau kedatangannya.
Dia, Nathan. Laki-laki tampan yang ditopang tubuh tinggi cungkringnya, kalo lihat dia, jadi ingat Hua zhe lei, anggota F4 di film Meteor Garden kesukaanku itu. Dia baik tapi juga lucu. Mungkin memang sebuah keberuntungan bisa dekat dan akrab dengan Nathan. 
" Kau terpukau ya sama ketampananku?" tanyanya blak-blakan,
Aku tercekat, tapi buru-buru kupicingkan mataku dan tergelak
" Ngomong apa kau ini" kilahku melangkah lagi " Aku tuh cuma kaget, tiba-tiba kau muncul lagi. kirain kau sudah hilang dibawa kabur kuntilanak" lanjutku
" kalo kuntilanaknya cantik juga gak apa-apa kok" sahutnya berjalan mundur mendahuluiku
" Dasar aneh !"
Nathan tergelak, aku tersenyum gembira menikmati moment itu
Ya Allah.... perasaan apa ini? Dia seenaknya datang dan pergi dari kehidupanku. Tapi kenapa aku masih berlapang hati menerimanya? Kenapa hati ini masih bersorak sorai kala dia muncul kembali dihadapanku, padahal kalo dia tiba-tiba menghilang, hidupku rasanya pekat tak bercahaya. Hatiku linglung tak berarah.
 Seperti yang terjadi sekitar sebulan lalu ketika tiba-tiba tak kudapati dia menjemputku berangkat kerja, tak kudapat balasan sms, bahkan saat kutelpon pun tak dapat jawaban. Dan aku makin kelabakan saat tak kutemui dia ditempat kerjanya, bahkan teman kerjanya tak ada yang tau kemana.
Dan sehari, dua hari, seminggu, dua minggu..... rasanya seperti siksaan bathinku. Aku benar-benar kesepian, benar-benar kehilangan. Padahal itu bukan yang pertama. Sejak mengenal dan akrab dengannya 2 tahun lalu, sudah 3 kali Nathan tiba-tiba raib bagai ditelan bumi. Dan saat dia kembali menemuiku, tak ada sedikitpun rasa bersalah diwajahnya
Ya Allah.... Perasaan macam apa ini? Kenapa begitu menentramkan jiwaku saat ada didekatku, dan begitu menyiksa seluruh hidupku saat dia menghindariku. Kenapa aku slalu memaafkan dan menerimanya? Kenapa pula tak pernah kupermasalahkan judul hubungan ini?
" Kita makan yuukk..,laper nih!" ajaknya tanpa permisi menyambar lenganku dan menyeretku masuk ke sebuah depot mie
" E..eee....apa-apaan nich?!" desisku setengah menolak,
Nathan malah merangkul pundakku kuat-kuat, seakan takut aku melarikan diri
" Udah, nurut aja, bawel amat sih jadi orang." Nathan mendudukkanku ke sebuah kursi di meja yang masih kosong.
" Aku laper banget, tadi pagi belum sempat sarapan" katanya menulis pesanan di nota yang tersedia di meja
"Ini sudah lewat jam makan siang"
" Ya itulah, makanya aku laper pake banget."
" Jangan dibiasakan, bisa tambah cungkring tuh badan, aku bakal lebih sering kehilanganmu karena seringnya kamu nanti kebawa angin"
Nathan tergelak menanggapi omonganmu.
Sungguh, aku tak ingin perasaan ini berakhir. 
Jangan menghilang lagi Nat, dengungku membathin. Yah, hanya berani membathin, karena melihat mata indahnya itu membuatku kehilangan keberanian mengucap semua yang ada di otakku.
Nathan memesan seporsi jumbo mie bakso. Dilahapnya pesanannya itu dengan nikmatnya, meski sesekali sambil melirikku dan hanya kutanggapi dengan senyum sambil menyeruput lemon tea-ku.



" Kenyang sudah...." Katanya sambil mengelus-elus perutnya yang mungkin kekenyangan.
Aku melirik sedikit mendongak, maklum tinggiku hanya cukup menjangkau pundaknya. 
" Makasih ya sudah menemaniku makan" lanjutnya membuatku sedikit kaget, tapi aku langsung tersenyum. Kami berjalan beriringan menyusuri trotoar menuju tempat kostku.
Jangankan cuma menemanimu makan Nat, Apapun aku mau asal judulnya menemanimu. Karena ada didekatmu membuatku tak kekurangan apapun.
Ya Allah.... kenapa aku ini??? desisku bingung dengan semua yang kurasakan. 
Bahkan, tak pernah sekalipun aku berniat menanyakan kemana dia, kenapa dia pergi, untuk apa dia kembali... Semua kesedihan selama kepergiannya seperti terbayar ketika menemukannya menjulang lagi dihadapanku, dengan wajah tanpa dosanya. Semua kegelisahan selama dia menghilang seakan tak ada artinya. Dan semua kubiarkan kembali seperti biasanya. Lalu apakah suatu saat dia akan menghilang lagi? Aku tak tau, dan aku tak pernah punya niat menuntutnya untuk tak pergi lagi.
" Nda..."
Panggilan itu begitu aneh terdengar. Begitu lirih seperti menanggung beban yang sangat berat dan menyiksa.
Aku menoleh, langkah kami terhenti. Nathan menatapku, tapi kemudian menunduk. Tapi masih sempat kulihat guratan kesedihan itu dimatanya
Apa Nathan akan pergi menghilang lagi? dengungku takut, amat takut.
" Maaf" kali ini suaranya tetap lirih,tetap dengan wajah menunduk dan menyembunyikan tatapannya.
" Untuk apa?"
"Untuk.... semua kepergian-kepergianku," perlahan mata itu menatapku,
Astagfirrullah......! Pekikku saat melihat mata itu sedikit memburam
" Nat..." Desisku.
" Aku bingung Nda, aku tak tau apa yang kurasakan selama ini. Aku tak tau dengan yang terjadi padaku. Semakin aku dekat denganmu aku makin takut, takut kehilangan, takut berakhir..."
Aku ternganga mendengar itu,
" Nat.."
" Awalnya kupikir perasaan itu tak nyata, hingga aku ingin membunuhnya. Aku mencoba menjauhimu, tapi semakin aku jauh aku makin takut. Dan akupun kembali lagi. Tapi lagi-lagi perasaan itu menghantuiku, aku tersiksa Nda, dan sepertinya tak ada yang mau menolongku." Aku Nathan membuatku kehilangan keberanian menanggapi semua itu
" Mungkin aku yang terlalu bodoh Nda, atau mungkin aku terlalu takut dengan kenyataan hidup. Tapi aku juga takut saat tak disampingmu. Maaf jika aku seenak hati datang dan pergi dari kehidupanmu. Aku hanya tak tau arah Nda, aku terlalu bingung dengan ini semua"
Sore ini adalah sore terindah yang pernah kurasakan, Nathan akhirnya mengungkapkan semua yang selama ini membelenggu otakku. Menjawab semua kepergian-kepergiannya. Dan apa aku peduli dengan permintaan maafnuya? Sama sekali tidak. Bagiku yang penting dia kembali lagi di kehidupanku.
Kuulurkan tanganku padanya, Nathan menatapku sayu,
" Tanganku akan selalu ada untukmu Nat, genggamlah jika kau takut dan bingung!" kataku dengan senyum.
Sedikit gemetar kulihat tangan lebarnya yang kekar kurus terulur menyambut tanganku, dan merengkuh jemari kecilku. Perlahan Nathan tersenyum.
Tuhan... aku menurut apa kehendakMu, aku tak peduli apa ini, aku juga tak peduli akan berakhir kapan ini, cepat atau malah untuk waktu yang sangat lama. Yang pasti aku menyukai perasaan ini, perasaan yang mengajarkanku akan arti penting sebuah keberadaan seseorang. Dan selamanya aku tak akan mempermasalahkan judul dari hubungan ini; cintakah,. persahabatankah, atau cuma sekedar memanfaatkan disaat butuh. Sungguh, aku tak mau peduli semua itu. Yang penting dia ada disisiku selama dia mau dan dia butuh. Takkan kulepas genggaman tangannya selama dia ingin menggenggamnya. 
Tuhan.... aku tak tau apa ini, biarlah tetap jadi kehendakMu apa namanya, toh itu hanya legalitas semu. Yang penting aku dan Nathan mengerti maksud dari semua yang Engkau hadirkan pada kami.




Randublatung,03/8/2014
welcome back,

Sabtu, 02 Agustus 2014

Cinta ini (tak kan) membunuhku

Pyaaaaaaaaaaaaarrrrrr.............!!!
Gelas ditanganku terlepas, terberai, berantakan seperti hatiku saat mndengar amarah Pay, pujaan hatiku yang telah 3 tahun lebih kucintai dan kuhormati cintanya. Mata yang biasanya redup menenangkan itu kini berubah memerah, penuh amarah dan kekesalan
" Apa Pay?? Putus???!" desisku hampir tak terdengar, entah kemana perginya suaraku, mungkin tersangkut dikerongkongan, mungkin juga terlalap ketakutanku.
" Ya, kalo kau masih nekat memilih ikut latihan teater itu terus, lebih baik kita putus saja"
" Tapi kenapa? apa salah kalo aku ikut latihan teater di situ?"
"  Ya salah lah, karena perkumpulan itu kebanyakan beranggotakan laki-laki."
" Aku disitu mau latihan teater Pay...." desisku meyakinkan
Pay malah tersenyum sinis
Duh Gusti..... kenapa orang yang sangat kusayangi ini tak pernah mempercayaiku sedikitpun? Apa aku terlihat seperti tukang selingkuh?
Dan Pay tetap pada pendiriannya, membuatku bagai buah simalakama. Disatu sisi aku ingin membuktikan kesetiaanku pada belahan jiwaku itu, tapi disisi lain tuntutan jiwaku meraung-raung minta digapai.
Adalah impianku sejak kecil ingin menggeluti dunia teater, sampai-sampai aku rela jauh dari orang tuaku dan menjalani hidup di kota besar ini, kuliah sambil kerja part time di toko kue. Adalah sebuah dream come true bisa ikut bergabung di kelompok teater itu, dan sebuah kebanggaan tersendiri bisa tiap akhir pekan ikut latihan disitu. Dan sikap Pay yang melarangku ini benar-benar sebuah dinding penghalang yang kuat. Kenapa? Padahal Pay juga dulunya anggota teater, bahkan dulu dia yang mengenalkanku pada dunia teater, membuatku tergila-gila, selain juga tergila-gila dirinya.
Aku harus memilih!! Tekadku dalam hati
Bruaaakakkkk....!! Aku tersentak, kutatap pintu kontrakanku yang baru saja tertutup paksa, masih sempat sekilas kulihat sosok Pay sebelum hilang di balik pintu itu.
Aku mendesah berat,
Maafkan aku sayang.


***



" Kenapa?!" tanya Arga, teman kuliahku, yang mengenalkan aku pada kelompok teater ini. Alisnya terangkat sedikit menatapku, mungkin masih tak percaya saat aku cerita kalo pacarku Pay mengancam akan memutusku kalo aku masih ikut latihan teater disini.
Arga cukup mengenal Pay, mereka pernah tergabung dalam satu grup pentas saat SMA dulu, tapi setelah Pay bekerja, Pay jadi tidak bisa aktif di teater, perlahan tapi pasti dunia teater terlindas oleh dunia baru Pay. Tapi Arga malah menjadikan teater sebagai masa depannya, dan makin mendalami dunia itu.
" Dia cemburu" jawabku lirih, lagi menunduk.
Arga tergelak,
" Apa aku terlihat seperti tukang selingkuh Ga?" tanyaku menatap Arga, berharap ada jawaban yang bisa meyakinkanku kalo sangkaan Pay tak benar.
Arga malah tertawa lepas, sampai memegangi perutnya, aku berubah cemberut.
" Kalo kamu tukang selingkuh jangan lupa selingkuh sama aku juga ya..." ledeknya disela tawa
" Arga...!!!" geramku, dan tawa Arga makin menggelegar memenuhi ruang pentas yang masih sepi itu.
Apa iya aku harus melepaskan Pay, yang sudah 3 tahun lebih mendiami hatiku? Sungguh sangat sayang sekali, begitu banyak cerita manis dan pahit yang tercipta antara kami, sangat tidak adil jika harus kukorbankan demi cita-citaku.
Tapi..... apa iya juga aku harus mengubur impianku ini? Demi berdiri disini aku sampai rela bertengkar dengan ibu dan pergi dari rumah tanpa restu ibu.
" Mau jadi apa kamu? Pemain teater? apa itu Jess??!" desis ibu malam itu saat kuutarakan aku ingin melanjutkan kuliah seni teater.
" Aku menyukainya Bu,"
" Itu bukan masa depan Jess, yang ibu tau pemain teater itu miskin-miskin, tak ada yang bisa jadi kaya dengan berprofesi jadi pemain teater."
" Bukan uang yang kuutamakan Bu, ini soal panggilan jiwa"
Wanita setengah baya yang tetap cantik dan anggun itu tergelak, tapi aku tau beliau marah
" Ibu menyekolahkanmu untuk masa depan yang lebih baik Jess, bukan untuk sesuatu yang lucu yang kau namai 'panggilan jiwa' itu nak,"
" Buuu..." rajukku
" Tidak, ibu tidak setuju kau ambil jurusan itu. Jurusan apa itu, jurusan kok seni teater. Yang menguntungkan dan menjanjikan masa depan gemilang kan banyak, manajemen, akuntansi, kedokteran, atau hukum lah kalo tidak,"
" Aku mencintai seni bu.."
" Tidak, sekali ibu bilang tidak ya tidak, kalo kau masih nekat ambil jurusan itu, ibu tidak mau menanggung biaya kuliahmu. Lebih baik uang ibu simpan untuk biaya kuliah adikmu nanti" tegas ibu malam itu, dan alhasil aku harus putar otak untuk meraih mimpi itu. Dan sejak malam itu pun aku bertekad akan membuktikan pada ibu bahwa dunia teater tidak miskin, dunia teater juga bisa menghasilkan uang meski tak sebanyak yang lain.
" Oh, hai Jess...kok kamu sudah ada disini?!" tanya kak Gun, yang baru datang, kutangkap pertanyaannya benar- benar seperti orang bingung.
Aku ikut bingung.
" Tidak, aku kira kamu sama pacarmu tadi, di seberang jalan tadi." 
Tak sadar aku tergelak.
Baru 2 hari yang lalu dia mengancam putus dan mencurigaiku akan berselingkuh jika terus ikut latihan teater disini, dan hari ini dia sudah bersama wanita lain?
Terimakasih Tuhan, telah Kau tunjukkan sifat aslinya sebelum semua berjalan lebih jauh. Meski ini cukup menyakitkan, tapi ini lebih melegakan bagiku. Dan yang pasti aku tidak perlu menyesali hidupku dikemudian hari. 
" Kau tak apa-apa Jess?!" tanya Arga sedikit cemas,
Aku tersenyum lebar,
" Aku tak pernah sebaik ini Ga," kataku yakin, lalu bangkit dengan sebentuk semangat yang hebat.
" Ayo mulai latihan!" ajakku menepuk pundak Arga dan mendahului naik ke panggung
Maafkan aku cinta, aku mungkin memang mencintaimu, membutuhkanmu, dan punya impian bersamamu. Tapi sayang, cita-citaku ini lebih berarti. Karena cita-citaku tak pernah mencemburuiku, tak pernah mengekangku saat aku ingin mengepakkna sayapku mengarungi cakrawala yang indah, dan yang pasti cita-citaku tak pernah mengkhianatiku begini.
Sekali lagi maafkan aku cinta, kau tak bisa membunuhku, karena didalam cita-citaku banyak semangat yang mendukungku dan menjagaku agar tetap hidup




Teruntuk yang selalu optimis
mengikuti panggilan jiwa di monas
         -jienshoo            

Jumat, 01 Agustus 2014

all by myself

Rambut lembut Alrizal yang sedikit panjang itu memburai dipermainkan angin sore ini. Sama halnya perasaanku yang seperti dipermainkan kediamannya. Tangannya malah sibuk mengutak-atik note-3 nya.
Aku mendengus jengkel. Kuteguk lagi softdrink ditanganku.
Usahaku akhirnya berhasil mengakhiri kegiatannya menduakanku dengan note-3 nya. Lalu senyumnya mengembang tipis.
" Sibuk apa sih?" gerutuku cemberut
Al malah mencubit hidungku, kutepis tangannya dengan cemberut.
" Ada temen tanya soal pekerjaan masa g dijawab sih? kan kasihan dia-nya nunggu"
Aku tergelak,
" Aku dari tadi juga nunggu, kok kamu gak kasihan?!"
Al terpingkal-pingkal, aku makin geregetan dan melangkah pergi meninggalkannya,
" Hei...heii...." burunya menyambar tanganku
Aku tak langsung menoleh, 
Lama-lama sikap Al memang terbilang menjengkelkan. Dibalik tampang cool nya itu ternyata dia juga menyimpan aura cassanova. Huuuuffttt.....!! Bahkan dia sendiri mengakui kalo dia selalu tak tega jika berhadapan dengan kaum hawa. Takut menyakiti hatinya, tapi tak sadar kalo semua sikapnya itu malah membuatku sakit.
" Oke, aku minta maaf kalo aku sangat keterlaluan. Aku cuma..."
" Sudahlah..." sergahku memotong ucapannya yang malah membuatku merasa bersalah
"  Ayo kita pergi!" lanjutku menggandeng tangannya
Biarlahh... biar saja ini mengalir seperti air mengalir, aku lelah kalo harus melawan arus terus. Seperti aku menanggapi omongan Banyu saja, semua sudah ada yang tentukan akhirnya. Aku tak peduli mau Al playboy atau cuma sekedar terlalu baik dan perhatian dengan kaumku, yang penting apa yang ada dihadapanku aku hadapi. Tak banyak yang bisa menerima cita-citaku, dan Al selalu mendukungku untuk terus mengobarkan semangat pergi ke kanada.
" Kalo kamu tak nyaman dengan semua ini,kamu bisa meninggalkanku" ucap Al menghentikan langkahku, juga langkahnya. Kubalikkan tubuhku penuh mengahadapnya. Mata elangnya begitu tajam, seakan tak ada keraguan mengucap kata-kata tadi
" Maksudmu, kamu ingin kita putus?" 
" Bukan itu, ini cuma kalo kamu....."
" Kenapa??!" kejarku membuatnya membisu dan meredupkan mata elangnya
Peerlahan kulepas genggaman tangannya. Sungguh, ini seperti de javu. Belum genap 5 bulan berlalu kejadian serupa begini terjadi. Saat hubunganku dengan Banyu dulu juga harus berakhir dengan alasan yang membuatku tergelak.
" Apa?!" desisku waktu itu, menatap Banyu lekat seakan ingin mencari kebenaran dalam raut wajah tampannya.
 Banyu malah menundukkan wajahnya
" Makin hari aku makin merasa kau tak nyaman dengan hubungan ini, aku tak mau membebanimu."
Tak nyaman? Benarkah ini sebuah ketidaknyamanan? Tiap hari aku malah merasa punya semangat lebih menghadapi hari-hariku. Tapi kenapa Banyu malah menganggap aku tak nyaman menjalin hubungan dengannya?
" Aku juga tak mau menjadi penghalang langkah cita-citamu ke kanada"
Klop!!!
Itulah yang sudah sejak lama kutakutkan. Pasti alasan kanada punya andil besar.
Kesadaranku terseret oleh jemari Al yang perlahan merengkuh jemariku dengan hangat. Kutatap wajah setenang air telaga itu. Tak kupungkiri, kehadiran Al memang sangat berjasa bagiku. Karena dia aku bisa pelan-pelan membalut lukaku peninggalan Banyu. Tapi siapa yang nyana baru jalan 2 bulan luka yang mulai sembuh itu tergores lagi, lebih dalam dan lebih sakit rasanya.


***


" Apa????!!" desis Mika, bakso yang sudah hampir masuk kemulutnya terjatuh lagi ke mangkok. Matanya melotot tak percaya dengan yang baru kuucapkan tadi, kalo aku dan Alrial sekarang sudah berakhir. Mika cukup tau kisah liku kehidupan cintaku, mulai dari sendiri, sampai menjalin hubungan dengan Banyu, putus dengan Banyu, terpuruk berminggu-minggu, sampai akhirnya mendapat secercah lentera semangat saat mengenal Alrizal. Dan ternyata Mika masih beruntung setia mengikuti alur perjalanan cintaku sampai akhirnya jalinan cintaku dengan Al kandas.
Aku tersenyum tipis
" Kok kamu malah tersenyum sih Ai..." gerutu Mika seperti jengkel
" Lha emang aku musti gimana Ka?" tanyaku mengaduk-aduk somay ku, kulahap sebuah, kukunyah pelan-pelan, rasanya tak karuan, seperti perasaanku sekarang ini.
" Ini gak adil Ai. Dulu sama Banyu, dia seenaknya ninggal kamu, ya meski setelah itu dia seperti nyesel dan pengen balik lagi. Tapi sekarang masa begini lagi? Apanya yang salah sih Ai? Aku sudah berpikir Al begitu mencintaimu dan begitu bisa menenangkanmu, tapi....." cerocos Mika geregetan.
Aku cuma bisa mengangkat bahu sedikit sebagai tanggapan.
" Dia itu playboy..." kataku pelan, sedikit melucu, biar kekesalan Mika sedikit membuyar.
Mata Mika malah memicing.
" Ini benar-benar gak adil Ai,"
" Apapun adil jika menyangkut cinta Ka, "
" Ternyata semua cowok sama aja, sama-sama bulshitt, gk Banyu, gk Alrizal, gk Rhein, semua sama-sama srigala berbulu domba. Awalnya aja menyenangkan, membuat kita berbunga-bunga, menjanjikan pada kita manisnya cinta, tapi ujung-ujungnya nyakitin juga." cerocos Mika panjang lebar seperti sebuah orasi kekesalannya pada kaum adam.
Wajar saja, Mika juga baru saja dikhianati pacarnya si Rhein, yang gara-gara sedang naik daun jadi artis pendatang baru yang fans nya lagi membludak, lalu seenaknya saja mencampakkan pacar lamanya yang padahal ikut andil besar mengantarnya ke podium kesuksesan.
Aku tersenyum sambil menusukkan sebuah bakso dan menyuapkan ke bibir Mika yang masih super cemberut.
" Udah, makannya dihabisin dulu" 
Mika melahap bakso yang kusodorkan tadi. Aku tertawa
" Kepergian mereka tak layak kita tangisi kan? Kalo mereka terlalu bodoh meninggalkan kita, maka kita harus cukup pintar melupakan mereka kan? Toh sudah ada contohnya,. si Banyu, dulu dia sendiri yang minta putus, tapi blum ada 2 bulan udah putus nyambung sama beberapa cewek, akhirnya berharap aku balik lagi ke dia. Percaya aku aja, suatu saat Rhein juga bakal berharap bisa balik ke kamu lagi kok"
Mika tergelak, " Dia kan lagi dia atas awan Ai, jadi mana mungkin mau memijak bumi demi aku." ucap Mika apatis
"hei...kamu lupa ya yang kamu bilang ke aku dulu? Jodoh kita tak kan tertukar, jadi lebih baik menunggu orang yang tepat daripada bersama orang yang salah. Matahari juga setiap hari sendirian, tapi dia tetap bersinar cerah sepanjang hari." Lanjutku mengenang semua nasihat-nasihat Mika dulu, waktu aku terpuruk kehilangan Banyu. Dan untuk sekarang aku tak akan mengulangi keterpurukan itu lagi.
Mika tersenyum manis. 
Dalam hati aku pun tersenyum, dan aku bertekad, aku pasti bisa hadapi kesendirian ini. Hidupku baik-baik saja sebelum mereka datang, jadi aku yakin semua juga akan baik-baik saja kalo sekarang mereka memutuskan pergi meninggalkan hidupku.