Senin, 12 Desember 2016

Boy In Luv











Aneh.
          
          Itu  yang kurasakan pagi ini.
          
          Oke, mungkin karena aku sedang menikmati Dakjjim buatan ahjuma, jadi wajar aku kemudian teringat dia. Tapi, apa iya harus sampai seperti ini? Kenapa bayangan ahjuma yang kata bujangnim bernama Nita itu begitu jelas terlihat. Aku seperti terserang semacam delusi dadakan. Tapi apa iya sehebat ini? Bahkan, padahal baru kemarin  dia ada disini.
          
           Apa karena makanan yang kumakan ini?
           
           Kuperhatikan dakjjim dalam mangkok dihadapanku. Ini sama seperti dakjjim kebanyakan. Hanya berisi sayuran dan daging ayam. Bumbunya pun tak ada yang special. Rasanya tak istimewa meski bisa dikategorikan enak. Jadi apa yang salah? Atau… jangan-jangan Ahjuma memasukkan semacam jouju dalam makanan ini?

          Tunggu, Jouju? Yang benar saja. 

          Aku tergelak sendiri.

          Yak, Jungkook-ssi!”

          Selanjutnya aku tersentak kaget mendengar teguran cukup lantang dari ujung meja makan sana. Hampir saja aku melonjak berdiri.

          JHope hyung menatapku dengan kerutan dahi juga tatapan aneh.

          Mwo?” tanyaku tak kalah heran menaggapi sikap hyung-ku yang memang terkenal paling rajin bangun pagi, selain aku yang memang lebih dulu kelaparan setelah tertidur malam.

          Mwo? Kau pagi-pagi dengan piyama yang tak karuan begitu senyum-senyum sendiri di depan mangkok dakjjim, dan kau masih tanya ‘Mwo’?” desisnya benar-benar tak percaya.

          Aku terpaku. Antara membenarkan juga bingung kenapa membenarkan pertanyaan JHope hyung tadi. Apanya yang benar?

          Ani,” jawabku akhirnya pura-pura fokus menikmati lagi makananku.

          Dan gelak tawa JHope menanggapi. Masih dengan rasa penasaran yang menyengat.

          “ Sepertinya ada yang tidak beres denganmu, Khuki.” Akhirnya JHope berlalu menuju kulkas, masih dengan sisa penasarannya yang sepertinya diacuhkan.

          Aku kembali meneruskan makan pagiku. Ini beda dengan sarapan. Kalo sarapan berarti semua orang berkumpul dimeja makan ini menikmati makanan yang sama. Dan kalo ini kusebut makan pagi, makan sebelum sarapan yang tentu saja tanpa teman dan dengan makanan seadanya. Yang penting bisa mengganjal perutku yang memang entah kenapa selalu cepat lapar.

          Dan pada suapan terakhir dakjjim-ku Bujangnim datang sudah dengan setelan baju kerjanya; celana khaki hitam dan kemeja warna abu-abu juga dengan syal krem melingkari lehernya.

          Tumben formal, biasanya Bujangnim pakai jeans dan kaos panjang ditumpuk sweater rajut. Pikirku mengomentari penampilan Bujangnim Sejin yang sedikit beda. Jangan-jangan Bujangnim begini karena kehadiran Ahjuma?

          Eh, apa ini? Kenapa malah nyambungnya ke Ahjuma?

          “Jungkook-ah, kau sedang makan apa?” tanyanya menuang sedikit air di teko ke dalam gelas.

          Dakjjim.”

          “Kalo begitu sarapan nanti kau hanya boleh makan buah dan jus.”

          Aisshh… yang benar saja, Ahjusshi?” protesku seiring Jin dan Jimin hyung mendekati meja makan, menyapa Bujangnim.

          “Tentu  saja benar, aku dibayar Big Hit untuk mengawasi semua kegiatan kalian, Termasuk makanan yang kalian makan. Dan kau member paling banyak jatah makannya… “


          “Aku… “ Aku tak sanggup menyela.

          “Kalo kau kubiarkan makan terus bisa-bisa kau berubah menjadi Park Jae Sang, si Oppa Gangnam Style itu.”

          Aku langsung tersedak. Benar-benar tersedak oleh makanan yang baru saja akan masuk kerongkonganku. Jimin Hyung mendekat dengan gelas berisi air, menyodorkannya padaku. Kuteguk langsung berharap bisa menghentikan batuk tersedakku.

          Benar-benar nih Bujangnim, masa gara-gara aku makan dakjjim pagi hari langsung mengataiku bakal seperti Oppa Gangnam style yang ber-size XXL itu?

          Bujangnim, jangan terlalu keras pada Khuki, dia memang masih masa pertumbuhan jadi wajar kalo porsi makannya lebih banyak,” ucap Jin Hyung seperti mencoba membelaku.

          “Terlebih dari kamu kan, Kim Seok Jin, perbanyak porsi makanmu biar tubuhmu lebih berisi! Suka  masak tapi makannya susah.”

          Jin Hyung langsung merengut, pasti dia sedikit menyesal tadi membelaku karena pada akhirnya dia sendiri yang terkena teguran. Semacam senjata makan tuan.

           “Bukannya Suga yang susah makannya?” dengus Jin masih merengut.

         “Pagi, Bujangnim… “ sapa Suga Hyung yang datang bersama Namjoong Hyung yang sama-sama seperti masih setengah sadar. Berjalan dengan sempoyongan seperti baru saja pulang pesta soju.

         “Hmm, pagi juga kalian. Oke, hari ini kita ada syuting video klip, jam 9 kita berangkat. Jadi sadarkan diri kalian, dan berkemaslah!” perintah Bujangnim seperti komandan peleton tentara.

         Aku melirik jam tanganku, baru jam 07:25, masih ada banyak waktu untuk bersiap.

         “Mana V?” tanya Bujangnim celingukan ke seantereo dapur.

         “Masih dikamar.” Sahut Jimin, teman sekamarnya.

         “Masih ditempat tidur tepatnya, iya kan?” Nada suara Bujangnim terkesan sinis.

         Suga hanya menggaruk kulit kepalanya, seakan cuek dengan kekesalan Bujangnim karena setiap hari Taehyung-lah yang selalu terlambat bangun. Atau lebih tepatnya harus diseret turun dari tempat tidur  oleh Bujangnim dulu baru akan melek matanya.

         “ Aku yakin anak itu menderita dysania,” gerutu Bujangnim melangkah menuju anak tangga lantai dua.

         Yak, Hyung, tak baik menyangka orang seperti itu. Taehyung hanya suka begadang sampai malam, makannya susah bangun pagi.” Kali ini JHope hyung yang menyahut.

         Tauk tuh Bujangnim, apa-apa dianggap aneh. Emang dia tak aneh menganggap orang bisa berubah seperti si Oppa Gangnam Style hanya karena pagi-pagi makan dakjjim, atau menyangka orang terkena  dysania, penyakit susah meninggalkan tempat tidurnya dipagi hari hanya karena memang susah bangun pagi?

         “Kenapa tak sekalian menyangka Khuki menderita SRED?” lanjut Namjoon hyung cukup keras.

         “Apa itu?” tanya Suga mencoba membuka matanya lebar-lebar menatap Namjoon yang berkacak pinggang di sebelahnya dengan amarah yang dibuat-buat.

         Sleep Related Eating Disorder.”

         Suga melongo mendapati penjelasan yang didapatnya.

         “Apalah Hyung, aku tak cukup mampu mengikuti pengetahuanmu.” Aku bangkit membawa mangkok bekas tempat dakjjim tadi ke wastafel. Seiring pintu samping yang langsung menuju luar rumah terbuka. Ahjuma sudah datang. Tepat jam 07: 30.

         “Annyeonghaseyo… “ sapanya menganggukkan kepalanya kepada kami. Hampir serempak kamipun membalas.

         Dan untuk beberapa sepersekian detik. Aku terpaku, mataku terkunci ke arahnya.

         Ahjuma yang belum pantas dipanggil ahjuma. Penampilannya memang terkesan penampilan wanita dewasa, tapi aku selalu merasa wajahnya tak setua penampilan apalagi umurnya yang kata Namjoon hyung sudah 31 tahun.

         Tanpa sengaja tatapanku tertangkap pandangan matanya. Aku tak sempat mengelak. Membuatku jadi salah tingkah.

         “Dowadeulilgayo, Jungkook-ssi?” tanyanya membuatku tersadar dengan apa yang sedang melandaku barusan.

         “Oh, eh, tidak. Tidak ada.” Ke-gelagapanku membuat beberapa pasang mata menatapku aneh. Terlebih pandangan Jimin yang menurutku terlalu riskan jika diperlihatkan di public begini.

         Untung ‘ketegangan’ itu hanya berlangsung sebentar dan langsung memuai dengan kedatangan Bujangnim yang mendorong-dorong pelan tubuh V yang memang masih sangat malas berjalan atau sekedar membuka kedua matanya.

         “Kau kejam sekali padaku, Hyung, aku bilang 5 menit saja.” Gerutu V

         “Kita harus siap keluar sarang jam 9. Jadi sekarang semua pergi mandi sana!” perintah Bujangnim mulai keras.

         “Kamar mandi di dorm ini Cuma ada 5, kami bertujuh,” Kali ini V protes.

         “Kalian tahu yang namanya gantian kan?”

         Hampir semua dari kami mendengus jengkel. Jimin dan Suga bergegas naik lagi ke lantai 2. Jin pun menyusul naik. JHope melangkah kearah toilet dekat ruang tengah.

         “Hyung, aku dulu ya yang mandi?” saranku pada Namjoon hyung, teman sekamarku.

         “Aku paling tak sabar menunggu kau mandi, Khuki, biar aku dulu. AKu akan mandi super cepat.” Namjoon bergegas melangkah cepat mendahului langkahku yang bahkan baru dua kali langkah.

         “Jungkook-ah, masih ada satu kamar mandi di belakang, mau mandi bersamaku?” ajak V hyung tanpa dosa.

         Yak, Hyung?!” desisku dengan amarah yang nyaris meluap andai tak segera kudengar cekikik yang sengaja ditahan itu.

         Ahjuma yang berdiri kurang dari 2 meter dari tempatku berdiri, terlihat menutupi mulutnya dengan tangan kanannya.

         Ahjuma, kau benar-benar mengerti apa yang diucapkan Taehyung tadi?” tanya Bujangnim tak percaya.

         Ahjuma hanya mengangguk kecil, masih dengan menahan tawa berlalu menuju kulkas dan membukanya.

         Nah, aneh kan? Bilangnya hanya sedikit saja tau bahasa korea, lalu kenapa bisa mengerti yang V hyung katakan tadi? Alisku mengkerut nyaris bersatu saking kerasnya aku memikirkan itu.

         “Jadi bagaimana, Khuki-ya?” tanya V lagi, sudah menyampirkan handuk di pundaknya.

         “Shiro!” dengusku kesal.

         V dan Bujangnim spontan terbahak melihat ekspresiku. Kadang benar-benar menyebalkan menjadi orang termuda disini. Selalu dianggap anak kecil dan menjadi sasaran empuk pem-bully-an.

         V melenggang dengan santainya menuju kamar mandi terakhir di dorm ini yang berada di sebelah dapur ini.

         Ahjuma, buatkan 2 cangkir teh chamomile.”

         Perintah itu langsung dikerjakan Ahjuma tanpa bertanya lagi. Lalu Bujangnim mengisyaratkan aku untuk duduk disebelahnya.

         “Dengar Jungkook-ah, mereka bukan sedang membully, mereka hanya terlalu sayang karena memiliki dongsaeng sepertimu,”

         Aku pasang wajah merengut lagi.

         “Duduklah dulu sambil menunggu mereka selesai mandi.”

         Aku menurut dan berjalan mendekati meja makan lagi. Menyusul Ahjuma mendekat dengan 2 cangkir dalam nampan kecil. Uap mengepul di atas cangkir itu. Begitu harum.

         Celakanya aku tak hanya berfokus pada teh yang dibawa Ahjuma. Tapi aku juga melirik ke wajah teduh itu. Wajah yang selalu aku yakini belum pantas dipanggil Ahjuma.

         Aigooo… sebenarnya apa yang terjadi denganku?



BYL, 12 Des’ 2016




Ternyata adalah kesalahan besar membuat setting FF di dorm. Karena harus tau semua tentang semua member, gak fokus pada satu karakter yang dilakonkan. Huffttt... 
*Mencari alibi kenapa nglanjutin ceritanya megap-megap,
xixixixi...

Sabtu, 10 Desember 2016

... And I Love You




Lamunan panjangku langsung terbuyar saat sebuah mobil Ford warna gelap berhenti tepat di tepi jalan, berjarak tak lebih 3 meter dari tempatku duduk terpekur di anak tangga ini sejak petang tadi. Mungkin sudah 4 atau malah hampir 5 jam lamanya. Kakiku meski terbungkus kaos kaki dan sepatu kets kain rasanya sudah sekitar sejam lalu terserang kebekuan. Jari-jari tanganku malah sudah kesemutan atau mungkin kedinginan sampai mati rasa.

Anak tangga pintu masuk tempatku duduk memang sedikit terlindung cahaya, hingga tak begitu mencolok terlihat dari tepi jalan yang memang mulai sepi.

Seseorang keluar dari mobil itu. Sebuah kaki jenjang berbalut sepatu Converse semi kulit terlihat menapak tanah. Terdengar terjadi sedikit perbincangan. Pengemudi mobil sepertinya enggan melepasnya pulang. Lalu disusul tawa lirih dan beberapa kalimat menenangkan. Kuperhatikan semua itu dengan cukup jelas. Sekaligus cukup menyakitkan.

Akhirnya setelah beberapa menit mobil itu akhirnya merayap pergi juga. Masih sempat terdengar ucapan selamat tinggal sekaligus lambaian tangan darinya. Dia, yang kutunggu kepulangannya sejak petang tadi; Dyllan.

Dyllan. Aku mengenal cowok super metroseksual itu dalam acara ulang tahun pertama anaknya Nita & Hasan, temanku SMU. Dia yang macho dan seperti cowok metroseksual kebanyakan, dia sangat memperhatikan penampilannya. Sebenarnya bukan itu yang membuatku kemudian mencoba dekat dengannya. Ini soal curhat Nita dulu. Sudah lebih mirip konsultasi malahan.

"Dia... " Cerita Nita terpenggal begitu saja, seperti takut campur malu, ragu campur tak kuat memendam.
Lalu jemari Nita merengkuh kelima jemariku.

"Kris, kamu kan dokter, pasti tau caranya nyembuhin dia. Kasihan emaknya, dijodohin malah marah-marah. Tapi kalo disuruh nyari sendiri, ngenalinnya malah... "Lalu desahan panjang menyertai ucapan Nita yang belum selesai itu.

Dyllan.
Awalnya niatku memang hanya ingin mengembalikannya agar menjadi normal lagi, sekalian untuk 'bahan' penelitian tesis untuk kuajukan pada Profesor Angga. Tapi seiring bersamanya, aku... jatuh cinta!
Oke, awalnya aku anggapitu hanya reaksi Countertransference. Keadaan dimana aku terjebak dalam rasa simpati yang berlebihan, yang 'diharamkan' oleh para terapis kepada pasiennya karena sangat mempengaruhi pandangan obyektif terapis. Tapi...

"Kinan?"

Aku spontan mendongak memburai sisa lamuananku saat panggilan itu terdengar. Seraut wajah tampan dengan alis tebal dan derai rambut lembut sedikit gondrong itu menatapku tak percaya. Aku tersenyum tipis.

"Ngapain disini?"

Aku sedikit terluka mendengar pertanyaannya kali ini. Begitu angkuh dan seakan tak peduli  berapa lama aku duduk di anak tangga pintu masuk rumahnya. Tapi... kalo dilihat dari apa yang kuperbuat dan telah diketahuinya seminggu lalu itu, kurasa wajar saja sikapnya begitu culas padaku.


"Jadi dimatamu selama ini aku hanya sebatas kelinci percobaan?" desisnya kala itu, disore hari menjelang senja. Setelan kemeja biru tua bergaris vertikal disisi depan melingkari bagian kancing membuatnya tetap fresh meski aku yakin baru pulang kerja. Bagian lengannya yang tergulung sesiku membuatnya makin maskulin.

"Apa?" tanyaku tak mengerti.

Tiba-tiba Dyllan datang ke Panti rehabilitasi dengan pertanyaan yang seperti lebih menuntut penegasan, bukan sekedar jawaban yang berunsur penyangkalan. Wajahnya pun jauh dari aura rindu setelah dua hari tak bertemu karena Dyllan tugas keluar kota.

Dyllan tergelak angkuh, "Jangan berlagak bodoh di depanku, Nan, aku tau kamu ngerti yang aku maksud. Aku hanya bahan hipotesis-mu kan? Hanya kelinci percobaanmu kan? Apa dimata kalian orang-orang sepertiku ini gila, tak normal, hah?" geramnya dengan urat leher yang menegang.


Intinya, Dyllan benar-benar dalam kondisi marah hebat.
Oke, aku gak bisa pura-pura gak mudeng dengan keadaan ini. Dia tahu selama ini aku mendekatinya untuk tesisku tentang perilaku menyimpang. Kebetulan saat ini masalah semacam ini sedang jadi trending topic karena kasus kematian seorang wanita ditangan sahabatnya sendiri beberapa bulan lalu itu.

"Pulanglah, ini sudah larut. " Dyllan setengah acuh mengucapkan kalimat yang lebih ke arah 'pengusiran' secara halus itu.

Aku mendesah berat. Sosok yang dua bulan terakhir ini begitu akrab di hari-hariku itu melangkah menaiki anak tangga empat tingkat dengan langkah ringan.

"Lan,... " desisku menyambar lengannya, "Maaf!" lanjutku mempererat cengkeraman kelima jemariku di lengannya, berharap dia bisa merasakan tanganku sedingin air es.

Dyllan malah tergelak.

Sungguh, terlepas dari analisa yang dibebankan padaku oleh Professor Angga, aku... tak pernah menganggap Dyllan tak normal apalagi gila. Aku punya keyakinan penuh dia pasti bisa sembuh dan kembali seperti orang lain. Hanya saja, pekerjaan tetap pekerjaan meski disisi lain terselip perasaan yang sebenarnya.
Aku benar-benar jatuh cinta dengan Dyllan. Tentunya tanpa peduli situasi dan kondisi yang ada.

"Ada hal-hal yang tidak bisa selesai hanya dengan maaf, Nan,"

"Aku tau kamu marah sekali padaku," Aku mencoba bangkit dengan kedua kaki yang kesemutan dan mati rasa. Untung tanganku masih erat menggenggam jemari Dyllan, jadi bisa kugunakan untuk pegangan saat bangkit.

"Syukurlah kamu tau kalo aku marah. Ya, aku marah, Nan! Kamu pikir aku tak punya perasaan? Aku bahkan sudah berniat untuk benar-benar meninggalkan semua itu. Tapi... " Dyllan menepis cengkeraman tanganku.

"Lan, dengar dulu semuanya." Aku mencoba meraih lagi jemarinya, tapi segera ditepis Dyllan.

"Tidak perlu!" sengitnya, dengan seulas senyum sinis, "Aku menyukai duniaku yang tak menyukai omong kosong, juga menyukai mereka yang tak pernah munafik."

Aku memejamkan mataku. Bukan hanya sedih mendengar 'kembali'nya dia ke dunia yang hampir bisa kujauhkan darinya, tapi juga karena mataku yang sedikit berkunang-kunang dan tubuhku yang terasa menggigil. Sekitarku seperti terjadi gempa berkekuatan rendah. Beberapa terasa oleng. Tapi tetap kucoba bertahan. Aku harus menyelesaikan kemarahan Dyllan. Aku sudah tak sanggup menanggung rasa bersalah ini.

"Taksi!!"

Mataku terbuka lagi saat Dyllan berteriak memanggil sebuah taksi yang lewat.

"Aku tak bisa mengantarmu karena mobilku ada di kantor, pulanglah dengan taksi itu!" katanya datar, lalu melangkah menuju taksi yang baru saja mendekat.

"Pak, antar dia ke apartemen Royal Springhill Kemayoran," Dyllan melongok ke arah kemudi taksi seraya mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Setelah itu dia berbalik dan berjalan melewatiku. Membuka pintu rumahnya dan menutupnya segera. Sedikitpun tak menoleh ke arahku.

Dan yang kurasakan duniaku semakin diguncang gempa yang makin bertambah skala richter-nya. Semakin menggigil. Detak jantungku terasa kian melemah Masih sempat kudengar sopir taksi itu memanggilku sebelum kemudian rasanya semua gelap. Pekat.



**


Mataku mengerjap. Lampu benderang langsung menyambut penglihatanku yang baru separuh sadar. Suara EGC menjadi irama khas yang bahkan tanpa mencari tau lagi, aku bisa tau dimana aku sekarang. UGD.

Kepalaku berat. Sangat berat. Kuputuskan untuk tak jadi membuka mataku lebih sempurna. Kuangkat tanganku, bermaksud mengurut keningku yang pening saat merasakan ternyata tanganku terlilit selang infus. Aku mendengus dalam hati. Yang benar saja, aku sampai diinfus? Separah itukah aku tadi? Belum lagi aku merasakan seluruh tubuhku tertutup selimut. Hangat sih, cukup manjur membuat kondisi tubuhku yang sepertinya terkena hipotermia.

"Kinan, Kinan... kamu baik-baik saja kan?" buru sebuah suara disela sentuhan lembut dua buah telapak tangan menepuk-nepuk pelan pipiku.

Mimpikah aku? Benarkah aku belum benar-benar pulih dari alam bawah sadarku? Kenapa suara Dyllan ada disini?
Aku mengerang. Berharap ilusi yang menyerangku sangat nyata itu bisa segera pergi.

"Kinan, buka matamu biar aku tau kamu baik-baik saja!"

Hangat. Itu yang kurasakan pada pipiku yang sejak tadi ditepuk-tepuk pelan oleh tangan itu. Sedetik aku menikmati itu, tapi kemudian aku sadar, ini bukan mimpi, Buru-buru aku membuka mataku. Dan, taraaaaaaaa... seraut wajah tampan Dyllan tepat ada didepan mataku. Terlalu dekat malah, hingga membuatku cukup bisa merasakan desah nafasnya yang memburu. Entah karena apa.

"Syukurlah akhirnya kamu membuka mata,"

Kutarik tanganku yang terasa kesemutan di dalam selimut.

"Aku terkena hipotermia ya?" tanyaku mencoba bangkit, tapi langsung ditahan kedua bahuku oleh Dyllan.

"Ya itu tau. Tapi sebagai dokter harusnya kamu menyadari gejalanya, kenapa malah sampai pingsan? Emang kamu nunggu aku diluar berapa jam?" desisnya menatapku seperti marah.

"Kamu kenapa bisa disini? Bukannya kamu udah masuk rumah?" tanyaku mengabaikan pertanyaannya.

Dyllan mendengus sedikit kesal.

"Iya... gimana gak buka pintu lagi, wong sopir taksinya gedor-gedor pintu terus." Kali ini suaranya seperti merajuk.

Aku tersenyum kecil.
Ternyata Dyllan tetap masih peduli padaku.

"Hei, Kinan, udaranya lagi gak bersahabat banget, harusnya sebagai dokter kamu tuh ngerti kalo gak baik lama-lama di luar rumah. Lha kamu, malah berjam-jam nunggu orang pulang kerja. Coba kalo sopir taksinya gak bener, pasti kamu bakal dibawa kabur, dijual, Mau?!"

Aku tersenyum lagi.

"Ini hari apa toh kok seorang Dyllan Susetyo jadi banyak banget ngomongnya?" godaku.

Belum sempat Dyllan melotot, seorang suster jaga mendekat dengan map.

"Anda sudah sadar? Saya cek dulu kondisinya, " Suster jaga itu buru-buru mengeluarkan tensimeter.

"Ah, gak usah Sus, saya baik-baik saja kok." tolakku,

"Kinan..." Mata Dyllan akhirnya melotot juga kearahku.

"Beneran, Dyllan, masa kamu gak percaya aku sih?"

"Gak! Gak bakal percaya kamu, buktinya kamu juga sampai terkena hipotermia gara-gara gak bisa mikir apa akibatnya terlalu lama di luar ruamh saat udara dingin."

Aku menunduk malu mendengar analisis sederhana Dyllan. Apalagi suster tadi masih disitu dan menahan senyumnya. Mungkin baru kali ini dengar ada seorang dokter dimarahi pacarnya yang justru bukan seorang dokter.

"Tapi setelah itu pulang ya, aku paling males suasana UGD," tawarku akhirnya.

Dyllan malah tergelak, "Kamu ini dokter, masa bisa ngomong gitu?" ucap Dyllan seraya mengisyaratkan suster tadi memulai pekerjaannya.

"Ya itu sebabnya aku memilih jadi psikolog, kerja di panti rehabilitas. Bukan jadi dokter apalah yag kerja di rumah sakit apalagi UGD." sanggahku membiarkan lengan kiriku dipasangi tensimeter digital. Hal yang setiap hari kulakukan pada pasien-pasienku di panti rehabilitasi, tapi ternyata masih merasa aneh saat itu dilakukan sendiri pada diriku sendiri.

"Curang!" culas Dyllan membuatku meringis, juga akhirnya menyadari sejak tadi Dyllan berpenampilan seperti apa.

Tunggu, Dyllan hanya memakai kaos singlet dan celana kerjanya tadi? Ada apa ini? Ini nggak Dyllan banget! Mana mungkin keluar rumah hanya memakai kaos singlet?

"Kamu... kenapa cuma pakai kaos dalem?" tanyaku tak mampu membendung rasa heranku.

Dyllan melirik tubuh atasnya yang hanya terbalut kaos singlet warna putih, memperlihatkan sedikit 'kemolekan' tubuhnya.

"Akhirnya kamu tanya juga soal ini," katanya seperti menggerutu.

"Kamu tau, aku baru saja mau mandi waktu sopir taksi itu gedor-gedor pintu seperti orang gila. Pas aku buka, katanya kamu pingsan. Aku panik. Aku mana ada waktu ganti baju lagi. Andai pintu rumahku kuncinya tidak otomatis pasti udah ada maling yang masuk sekarang." Nah, kalo kali ini benar-benar menggerutu.

''Oh, so sweet... "

Dyllan nyengir kuda.
Dan, aku juga sempat heran, kemana amarah yang sempat terlihat dimata Dyllan sebelum masuk ke rumah tadi itu?

Kuraih jemarinya, menggenggamnya lembut. Dyllan menatapku nyaris tanpa ekspresi. Ah, sepertinya aku tak cukup benar. Ternyata sikap Dyllan tadi hanya karena masih ada orang lain.

"Aku benar-benar minta maaf,"

Sepi, tak ada respon untuk pemintaan maafku tadi.

"Hei, apa aku perlu hipotermia sampai pingsan lagi trus dibawa kabur sopir taksi tak bertanggungjawab, baru kamu maafkan?" kataku memiringkan kepalaku 'mendesak' agar melihat wajah tampannya yang seperti menahan amarah. Padahal aku tau itu tidak benar.

"Omongan apa itu? Kalo gak bisa bercanda gak usah bercanda. Gak lucu!" Dyllan bahkan tak peduli ada senyum yang tertahan diujung bibir suster yang masih sibuk mencatat hasil pemeriksaannya pada kondisiku.

"Siapa yang bercanda, itu tadi ancaman."

 Dyllan kembali membulatkan matanya sampai seperti mau meloncat keluar. Kunikmati pemandangan itu dengan seulas senyum dan genggaman tanganku lebih erat pada jemarinya.

"Tolong infusnya ditunggu sampai habis, setelah itu anda baru boleh pulang." Kini suster yang sejak tadi hanya sebagai penonton angkat bicara merusak suasana. Sekaligus menyadarkanku bahwa sejak tadi memang ada orang ke-3 diantara kami.

Kulirik ke arah kantong infus  glukosa NaCl yang tergantung disebelahku. Masih tersisa seperempat isinya. Jadi mungkin masih sekitar sejam aku tertahan disini.

Yang benar saja, sejam tiduran di ranjang UGD? Mimpi apa aku kemarin?
Kemudian mataku tertuju pada Dyllan yang sepertinya sibuk sendiri dengan keadaan disekitarku. Sudah seperti dokter coas yang sok sibuk dan sok tau apa-apa yang sedang terjadi. Aku tersenyum sendiri.

"Kenapa senyum-senyum sendiri?"

Aku malah melebarkan senyumku, dengan pandangan yang kubuat sedikit nakal. Dan Dyllan seperti tau tujuan pandangan mataku.

"Hei, pasien UGD, pandanganmu tidak sopan!" hardiknya melipat kedua tangannya menutupi tubuh bagian depannya

"Ada pemandangan bagus di depan mata, mubazir dilewatkan. Apalagi kalo sampai dihabiskan yang lain." timpalku asal.

Tapi sepertinya Dyllan sedang tak mau menanggapi candaanku dan malah seperti sibuk dengan ponselnya. Mengecek pesan masuk mungkin.

''Lan... "

"Hmm..." Dyllan tetap tak berganti aktivitas.

Aku mendesah.
Mungkin Dyllan memang belum sepenuhnya memaafkanku. Aku maklum, karena aku tau kadang ada beberapa luka yang tak bisa sembuh hanya dengan 1 kata 'maaf' saja.
Ini konsekuensi yang harus kuterima.

"Aku akan batalkan tesisku."

Dan akhirnya ada hal yang bisa membuatnya meninggalkan perhatiannya pada layar ponsel itu. Dyllan menatapku dengan ekspresi yang campur aduk.

"Sepertinya kerja di panti rehabilitasi menarik juga daripada mendirikan klinik konseling."

Sempurna.
Kini perhatian Dyllan sepenuhnya tertuju padaku.

"Apa maksudmu?"

"Aku lebih menginginkanmu daripada SK klinik konseling itu," akuku berharap Dyllan benar-benar mempercayai.

"Aku benar-benar mencintaimu, Lan, jadi maafkanlah aku."

Dyllan mendesah berat dengan bibir yang seperti dipaksanya melebar.

Dyllan belum memaafkanku.

"Aku urus administrasi dulu, jadi nanti kita bisa langsung pulang kalo infusnya habis," katanya kemudian dan beringsut pergi dengan gejolak rasa dalam dirinya.

Antara memaafkanku, atau membiarkan ini berjalan lebih dulu.

Kuantar kepergian sosok terseksi di UGD saat ini menuju pintu keluar ruang UGD. Mataku memburam. Ternyata mengobati luka diri sendiri itu tak semudah menangani para pasien RSJ yang mengamuk.

Aku mendesah pasrah.



byl, 11 des' 2016
win@rinda





Biar rada berkurang tumpukan draft-nya,
Iseng-iseng aja nulis ini. Gak jelas mau cerita apa, sekedar ngikuti kemauan otak, hehehe

Sabtu, 03 Desember 2016

Unsimple Love



Gerakan tanganku menyapukan kuas cat air ke atas permukaan kertas di hadapanku langsung terhenti saat suara pintu terbuka.

Itu pasti Cinta. Bathinku menebak, dengan seulas senyum di ujung bibir.

18 tahun sudah berlalu sejak pertemuan pertama kali dengan sosok bernama Cinta itu. Sosok yang awalnya begitu mengkerut tiap kali menemukan tatapan dinginku, hingga sampai insiden dia jatuh berguling dari atas tangga lantai 2, kini sudah menjelma menajdi sosok yang begitu aku sayangi. Juga kagumi.

Gadis kecil yang dulu cengeng dan penakut itu kini telah menjelma menjadi pengacara hebat dan sukses. Bakat 'silat lidah' Papa di pengadilan justru malah mengalir di darahnya. Sungguh lucu memang. Saat anak-anak kandung Papa malah menekuni profesi yang jauh dari bakat asli sang induk, orang yang tak punya setetes pun darah Papa malah yang mewarisinya.

Aku menoleh mengikuti sosok bertubuh semampai dengan balutan outfit kerja celana panjang khaky dengan atasan kemeja peach berhias renda bagian depan ditutupi blazer warna senada. Terlihat begitu... Perfect!

Tapi...
Kuperhatikan lebih detail air mukanya yang sempat terlihat sebelum dia mendekati kulkas, membukanya lalu mengambil teko kaca kecil berisi jus jeruk yang dibuatnya tadi pagi.

Masam. Lebih masam dari dua minggu lalu, saat pulang dari sidang dan kliennya sudah lebih dulu diintimidasi hingga akhirnya membuatnya kalah dan harus meneerima keputusan pengadilan yang sudah pasti merugikan sekali kliennya.

Ada apa dia? Apa yang terjadi?

Kuletakkan kuas ditanganku ke sisi jejeran cat air tak jauh dari tempatku duduk. Lalu aku bangkit dan mendekatinya yang sudah duduk terpekur menekuk lututnya di sofa besar yang biasa dipakainya untuk menungguiku melukis sembari dia bermain dengan ipad-nya. Tapi kini dia tercenung dengan gelas dalam dekapannya.

Kutarik sebuah kursi dan menempatkannya tepat dihadapan Cinta. Masih tak ada reaksi. Seakan-akan saat ini jiwa Cinta bukan berada di raganya. Tapi kucoba untuk menunggunya bereaksi, seperti kalo dia sabar menungguiku melukis. Tapi sampai menit berlalu, tak ada yang berubah. Aku mendesah.

"So?" Kataku akhirnya, berhasil membuatnya menyadari bahwa sejak tadi ada aku dihadapannya. Matanya mendongak sedikit.

"Ya udahlah kalo gak mau cerita," Aku siap-siap bangkit.

"Kak... " sergahnya memburu lenganku.

Kusergap wajahnya, dan aku sempat terhenyak mendapati kedua matanya memerah, menahan tangis. Sebegitu beratkah masalah kali ini? Bukankah 3 tahun berkecimpung dalam dunia hukum yang penuh intrik seharusnya sudah bisa membuatnya terbiasa? Masalah seperti apa yang bisa membuatnya sampai seperti ini?

"Ada apa?" Kini aku memilih berjongkok tepat dihadapannya, menggengam erat jemarinya yang dingin. Entah karena reaksi kimia tubuhnya akan masalahnya yang mungkin sangat berat, atau mungkin hanya karena baru saja memegang gelas berisi jus jeruk dingin.

Cinta mendesah panjang, lagi berat.

"Kak, apa aku salah melarang Rizsaya pacaran dengan Arthur?" tanyanya sedikit terbata-bata.

Alisku mengkerut.
Arthur? Siapa itu Arthur?
Bukan salah Cinta atau malah Rizsaya aku tak mengenal nama yang sepertinya sudah akrab bagi Cinta. Sebagai kakak laki-laki untuk dua adiknya yang ditugasi menjaga selama mereka jauh dari sarang induk, aku memang tak begitu bertanggungjawab. Oke, memang lebih spesifiknya kalo soal Rizsaya. Aku memang tak begitu tahu detail soal Rizsaya. Tidak seperti kalo dengan Cinta. Apa aku pilih kasih? Mungkin iya, sedikit. Tapi mau bagaimana lagi? Meski hubunganku dengan Rizsaya harusnya jauh lebih erat karena ada satu aliran darah kami yang masih sama, tapi tetap saja aku lebih punya chemistry dengan Cinta.

Rizsaya, dia adik tiriku yang baru beberapa bulan lalu kuliah di Cyber Security Computer di Binus. Buah perkawinan Papaku dan ibunya Cinta 18 tahun lalu. Dia yang menyatukan kami, aku-Cinta-juga Kak Abimanyu menjadi saudara. Dia gadis yang cantik, cerdas, tapi kegemarannya pada komputer sejak kecil membuatnya sedikit introvet. Ibu bilang Rizsaya memang cocok menjadi adikku yang notabene memang terkenal malas bicara. Dia hanya dekat dengan Cinta. Mungkin karena sama-sama perempuan, atau memang tak ingin dekat dengan aku apalagi kak Abimanyu karena perbedaan umur kami yang terlalu jauh.

"Apa Arthur itu tidak baik?"

Cinta menggeleng pelan. "Bukan begitu,"

"Apa... "

"Dia anaknya ayahku," selanya sebelum aku mampu menyelesaikan dugaan keduaku.
Dan aku langsung bungkam.

Dalam diam aku mencoba menelaah ucapan Cinta tadi.
Apa itu artinya Arthur yang dimaksudnya tadi adalah adik tirinya? Sama seperti dia dengan Rizsaya? Sama seperti aku-dan juga Kak Abim- dengan Rizsaya? Apa penjabaranku ini membingungkan? Kuharap tak lebih membingungkan pikiran kami yang selama ini terjebak dalam situasi ini. Dari 4 bersaudara di keluarga Hadi Prawiro, hanya aku dan kak Abim yang silsilahnya tidak rumit. Kak Abim, aku, Cinta, dan Rizsaya jika diibaratkan tali maka seperti tali yang melilit tumpang tindih satu sama lain. Dan jika kemudian dalam jalur Cinta ditambahi dengan Arthur, anak dari ayah kandung Cinta dengan wanita lain, lalu apa tidak akan bertambah semrawut? Apalagi jika kemudian Rizsaya dan Arthur pacaran.

Aku medesah berat. Tapi saat menatap kedua mata yang mengembun itu, aku tau beban yang sedang ditanggungnya saat ini ratusan kali lebih berat.

"Jadi Arthur itu... Bagaimana Aya bisa kenal dengan Arthur?"

Nah, inilah kelemahanku. Aku paling buruk dalam hal menata bahasa. Ibarat apoteker, aku sering melakukan  salah meracik obat meski sudah ada resepnya.
Kenapa pula aku harus menanyakan bagaimana kedua anak muda itu bertemu? Tidak adakah pertanyaan lain yang lebih konyol?
Aku menggerutu dalam hati.


"Mereka satu kampus."

Kuamati detail raut muka adik kesayanganku itu. Selama mengenalnya, aku belum pernah melihatnya se-desperate ini. Bahkan ekspresinya saat ini jauh lebih parah dibandingkan dengan kekalutannya saat ibu dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan Rizsaya.

Kueratkan genggamanku pada jemarinya.

"Meski aku tak mengakuinya, dia tetap adikku. Kami punya nama belakang yang sama. Dan Aya... " Hanya air mata yang kemudian meneruskan ucapannya kali ini.

Aku setengah bangkit dan menarik tubuh itu ke dalam pelukanku. Semoga pelukanku bisa cukup menenangkannya.

"Nanti... " ucapanku terpenggal oleh suara handle pintu yang terbuka. Perlahan Cinta menjauhkan tubuhnya. Kembali bersandar dalam punggung sofa.

Suara detak flatshoes terdengar memecah kesunyian sisi lain ruangan ini. Suara itu makin dekat tapi kemudian berbelok menuju anak tangga.

"Rizsaya," panggilku mencoba sedatar mungkin. Tapi tanpa perlu mengubah posisi tubuhku sedikitpun.

Detak sepatu itu berhenti sejenak sebelum kemudian terdengar lagi. Mendekat ke sini. Dan saat berhenti disatu titik yang cukup dekat dengan tempatku juga tempat Cinta berada, sebuah ekspresi gelak tawa singkat terdengar menyusul.

"And then?" tanyanya, seperti sudah tau aku juga akan mengadilinya atas perihal yang berhubungan dengan tokoh bernama Arthur.

Aku bangkit dan menatap Rizsaya.
Seperti baru tersadar akan waktu yang berjalan terlalu cepat. Perasaan baru kemarin kami bertiga-aku, Cinta, juga kak Abim- berkumpul takjub memperhatikan sosok mungilnya dalam gendongan papa. Kenapa sekarang sudah menjulang dengan tinggi badan yang sudah lebih dari 150cm dengan balutan baju trendy-casual? Cantik pula.

"Bisakah kau berfikir sedikit dewasa dengan sedikit memahami keadaan yang ada?"

Rizsaya malah tergelak dengan pertanyaanku.
Apa kata-kataku salah lagi? Kurasa tidak. Lalu apa yang salah?

"Kalian orang dewasa terlalu aneh. Sebentar menyuruh kami dewasa, sebentar mengingatkan kalo kami masih kecil." ucapnya seperti menggerutu, "Dan sebenarnya keadaan yang mana yang perlu ekstra dipahami? Soal mbak Cinta yang masih belum melupakan luka masa lalunya?"

Aku tersentak kaget, sama seperti Cinta.

"Cinta itu sederhana, kenapa malah dibuat rumit? Kalo dua orang bisa nyaman dan bahagia ketika bersama, ya udah, apalagi?" Kali ini kalimatnya diucapkan sangat antusias, seperti seorang orator sebuah demo kemanusiaan kepada penjahat besar.

Benarkah sosok dihadapanku ini Rizsaya, gadis 18 tahun lebih 3 bulan? Kenapa dia begitu fasih dalam hal percintaan? Bukankah selama masa sekolahnya dia bukan semacam playgirl yang punya daftar panjang nama-nama mantan pacarnya? Atau aku saja yang tak tau?

Perlahan kudengar Cinta bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan tempatnya. Tanpa sepatah katapun. Akupun masih terlalu fokus mengadili adik kecilku ini.

"Mungkin itu sebabnya kalian, juga kak Abim masih melajang sampai kini."

Aku langsung tergelak.
Anak ini, benar-benar...

Tapi, oke, aku akui kata-katanya tadi benar. Paling tidak bagiku. Bagiku cinta itu tak semudah penjabaran dari jutaan orang. Cinta tidak hanya soal rasa yang sama lalu bergandengan tangan selamanya. Karena kenyataannya cintaku terlalu erat melilit pada satu nama; Cinta.
Mungkin itu pula yang terjadi pada kak Abim. Cintanya juga salah kaprah malah tertuju pada ibu. Ya, meski aku tak pernah mendengar langsung pernyataan kak Abim, tapi aku bisa melihat kalo kak Abim terpikat pada ibu sejak insiden jatuhnya Cinta dulu. Dan mungkin itulah yang membuat kak Abim akhirnya 'mengasingkan diri' di Papua sana. Bergabung dalam koloni para pekerja Freeport.

"Gadis kecil," prologku mendekat perlahan, sekilas kulihat Cinta berdiri mematung di depan kulkas.
"Oke, kita pakai filosofi cintamu; cinta itu sederhana. Jadi saat kau dan Arthur itu saling jatuh cinta, nyaman dan bahagia saat bersama, sudah, semua beres. Untuk apa memikirkan hal lain yang tak penting."

Rizsaya manggut-manggut dengan wajah yang optimis.

"Ya, lagipula antara kami gak ada hubungan darah."

"Bingo!" sahutku cepat membuat dahinya yang tertutup poni langsung mengerut.

"Jadi kalo tak ada hubungan darah, tak ada yang perlu dimasalahkan?"

"Apalagi? Aku dan Arthur tidak ada hubungan apapun, selain mbak Cinta... " Rizsaya seperti riskan melanjutkan kalimatnya.

"Dengar, Kak Wisa dan mbak Cinta juga gak ada hubungan darah, jadi kami juga..."

"Kak...!!!" Hardikan itu cukup menyita perhatian Cinta disana. Membuatnya berbalik dan menatap ke arah kami.

"Kenapa? Bukankah kami juga gak ada hubungan darah?"

"Tapi kalian berdua kakak tiriku?!" Intonasi suara Rizsaya masih tinggi.

"Seperti kau dan Arthur yang sama-sama adik tirinya perempuan disana itu?" tanyaku menoleh sebentar ke arah Cinta.

Dan saat aku kembali menatap ke arah Rizsaya, wajah gadis cantik itu masam. Kulumat jarak diantara kami. Aku kini berdiri tepat didepannya, Tak lebih dari 10 centi. Jarang-jarang bahkan sepertinya memang tak pernah aku berhadapan sedekat ini dengan dia. Dalam keadaan serius pula.

"Sebagai kakak," Aku memegang kedua bahunya, mencengkeramnya lembut, "Maaf jika selama ini tidak begitu memperhatikanmu, tapi kak Wisa hanya tak ingin keadaan kita jadi semakin rumit. Coba telpon kak Abim, dia pasti juga sependapat dengan kak Wisa dan mbak Cinta."

Dan sebuah senyum asimetris yang akhirnya menanggapi omonganku.

"Sepertinya aku juga akan memutuskan melajang sampai tua seperti kalian bertiga!" dengusnya beringsut paksa membuat cengkeraman tanganku pada bahunya terlepas begitu saja.

Aku terpaku. Sama seperti Cinta yang tetap terpaku ditempatnya sana.

Ini seperti sebuah kutukan. 4 bersaudara yang tergabung dalam silsilah keluarga Hadi Prawiro terjebak dalam cinta yang tak pernah sederhana. Cinta yang tak hanya bisa dijelaskan bertemu, berjalan bersama, lalu berakhir sederhana. Tak ada yang sederhana, paling tidak dalam dunia kami.

Percayalah, cinta tak pernah selalu sesederhana yang kita kira. Dia cukup rumit untuk hanya dipahami kedatangannya.
Lalu apa selamanya kami akan selalu ada dalam labirin cinta yang rumit ini?



BYL, 03 Nov' 2016
Win@rinda







Ini adalah lanjutan cerita antara dua judul cerita [My Sweety Mom & Forgive And Forget) yang sebenarnya tidak ada hubungannya. Aneh saja tiba-tiba saja aku berpikir menuangkan dua cerita ini kedalam satu wadah yang sama. Semoga kolaborasi ini cukup 'nikmat' untuk dibaca. Terimakasih....


Kamis, 01 Desember 2016

Chagiya... [Turn Back]





..................
The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geulkka
Hagopeun mal, nohchyeobeolin mal
Gobaeghal tejiman jom eosaeghajiman
Geunyang deul-eoyo i'll sing for you, sing for you...

(Sing For You, EXO)






Aku terpaku di depan pintu, tanganku masih mengambang di udara, tak jadi menyentuh papan tombol memasukkan digit-digit password yang meski sudah kucoba lupakan, tetap melekat di otakku.

Aku sedikit berjingkat. Seperti baru tersadar akan sebuah hipnotis kuat yang beberapa lama mengukungku. Aku bahkan tak sadar sejak kapan ada di sini lagi. Di tempat penuh aroma Gendhis yang seharusnya kulupakan. Seingatku terakhir kali aku ada di tempat syuting, menyelesaikan beberapa scene sebagai sang psikopat Lee Jong Young.

Lalu, kenapa aku ada disini? Naik apa aku kesini? Apa ada yang tau aku akan kesini? Apa di bawah tadi ada yang melihatku aku kesini?
Aku tergelak dengan kelinglunganku. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja tersadar saat sudah berada di depan pintu apartemen ini tetap terasa menggelikan. Aku benar-benar sudah gila. Kurasa jauh lebih gila dari sosok Lee Jong Young yang kuperankan. Gila karena tergila-gila pada putra psikiaternya. Terobsesi, lebih tepatnya. Sementara aku, sudah benar-benar gila karena sudah sangat tergila-gila dengan Gendhis.

Perlahan garis bibirku menciut lagi, kembali seperti semula. Hatiku bergolak seperti ombak bergemuruh menuju pantai. Memburu tanpa ada jeda yang bisa diminta.

Awalnya aku mengira aku terlalu membekas waktu bermain di It's Okay That's Love. Hingga aku merasa aku juga mengalami skizofernia ringan. Aku sering melihat sosok Gendhis. Begitu nyata dan begitu hidup. Dan jika aku sampai berani membuka pintu di hadapanku ini, maka akan kurasakan aroma Gendhis 'bak badai topan menerjangku. Serasa menjadi Edward 'Twilight' kala merasakan aroma tubuh Bella; membuat ketagihan padahal sebenarnya menyiksa jiwa dan raga. Semua menyeruak mencoba mencabik-cabik kesadaranku dan menyeretku dalam dunia imajinasi yang tak pernah mampu kuelak.
 
Aku nyaris meluruh di depan pintu andai aku tak segera sadar diri kalo aku saat ini tetap sebagai public figur. Untuk tersungkur jatuh paling tidak aku harus menekan beberapa digit password dan masuk ke dalam. Seperti biasanya.

Ya, seperti biasanya. Yang sudah-sudah. Selama setahun terakhir ini.
Setiap tiba di apartemen yang bahkan tak pernah kugeser sedikitpun barang-barangnya agar tetap seperti saat ditinggal Gendhis dulu, atau bahkan tak pernah kuganti password pintu masuknya, aku memang lebih banyak hanya meluruh dibalik pintu masuk. Menerawang menatap seantereo ruangan sambil menikmati kepedihan yang menelusup seraya membiarkan halusinasi sosok Gendhis berlalu lalang di depan mataku.

Aku hampir selalu bertanya pada In Sung hyung saat diajaknya keluar minum. Tentang skizofernia. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku tahan. Aku tak mau aku benar-benar dianggap gila.
Dan pada akhirnya semua hanya mengendap disini.

Kurenggangkan dulu jari-jari tangan kananku. Serasa mau adu panco dengan taruhan kesempatan hidup dan mati rasanya, tiap kali memencet tombol-tombol disisi pintu itu.

1-2-3-4-5-6 digit tombol sudah aku tekan. 101793. Bulan, tanggal, dan tahun kelahiran Gendhis.
Ah, Gendhis lagi.
Sepertinya keluar nanti aku memang harus mengganti password pintu masuk itu. HARUS!

Kutarik handle pintu dihadapanku. Tubuhku sedikit kuseret melewati pintu yang kubuka tak lebih dari 10 centi itu. Aroma Gendhis langsung menyeruak indra penciumanku.

Aneh, biasanya tak sekuat ini. Pikirku.

Mataku sedikit memicing dengan alis tebalku yang bertaut menyatu.
Didepan sepatu Converse yang kupakai, hanya berjarak tak lebih dari lima centi, ada sepatu boots dengan ujung atas berhias bulu-bulu lembut. Sudah memasuki musim dingin jadi wajar style sepatu seperti ini muncul lagi.

Tapi tunggu, sepatu siapa ini? Bagaimana dia bisa masuk? Mau apa dia masuk kesini?
Belum selesai rasa penasaranku, aku seperti tersengat aliran listrik beberapa ratus amphere,.
Di depan itu...

"Oh, annyeong, Oppa, sudah datang?" sapanya melepas celemek sambil berjalan dengan senyum menuju ke arahku.

Demi langit dan bumi, kenapa halusinasi itu terlihat sangat nyata?
Lihat Omma, kali ini dia begitu nyata.  Dan aroma tubuhnya makin kuat.
Oh... tidak, benarkah aku mulai terserang skizofernia????

Darahku membeku. Benar-benar sosok didepanku seperti nyata. Inikah yang dirasakan Jang Jae Yeol ketika menghadapi sosok Han Kangwoo selama 3 tahun? Sungguh suatu penyiksaan yang nyata. Dan senyumnya itu...

"Kau tampak kurusan, Oppa..." katanya meyisakan semburat sendu pada wajahnya.

Kali ini halusinasi sosok Gendhis sedikit berbeda. Wajahnya sedikit lebih bermake-up. Rambutnya tergerai sebahu, begitu lembut seperti baru saja tadi pagi selesai creambath. Pipi gembilnya, oh... aku rindu sekali pipi itu.

"Oppa..." Suara Gendhis kali ini seperti semacam usaha penyadaran diri.
Menyadarkanku kah? Dari apa? Bukankah ini semua hanya halusinasi yang jauh lebih indah kalo tetap dibiarkan?

"Neo-reul geuriwo, chagiya..."

Gendhis tersenyum getir, tangan kananya terulur hendak menyentuh wajahku. Spontan aku mundur dan langsung saja tubuhku menghantam daun pintu. Dan pyaarrr.....

Aku seperti tersadar. Benar-benar tersadar bahwa ini semua...

"Maldo andwae... " Aku menggeleng pelan.

"Oppa, mianhae... " pintanya memelas dengan pandangan tertunduk.

Aku masih perlu kesadaran lagi agar bisa mempercayai yang sedang berlangsung ini.
Benarkah ini bukan mimpi? Benarkah ini tak hanya halusinasi seperti yang kusangka? Dia Gendhis? Benar-benar Gendhis?

Dan semua pertanyaan yang menjejali otakku seketika terjawab saat sosok dihadapanku itu berhambur memelukku. Yah, memelukku. Aku benar-benar bisa merasakan aroma tubuhnya melilitku. Aku benar-benar bisa merasakan hangat temperatur tubuhnya menyusupi pori-pori kulitku.

Untuk sekitar 3 detik aku terpaku. Sungguh, aku benar-benar butuh lebih banyak waktu untuk menerima semua ini.

"Bogoshipo, Oppa." akunya mengeratkan pelukannya yang bahkan belum aku balas.

Kuhela nafas, serasa baru saja mendapatkan lagi udara setelah sekian lama terjebak dalam ruangan kedap udara. Kedua tanganku pun merengkuh tubuh Gendhis. Memeluknya seerat mungkin, bahkan bisa saja meremukkan tulang-tulangnya.

"Gomawo, chagiya, gomawo, karena telah kembali."

Gendhis melepas pelukannya, dan mau tak mau aku juga harus melepas lilitan tanganku pada tubuhnya. Matanya sedikit sembab oleh air mata yang masih tersisa di pipi tapi tangannya malah terulur menyentuh kedua pipiku. Senyum tipis membuat pipi gembilnya terangkat. Momen dari semua kharisma darinya yang selalu kurindukan.

"Mianhae, Oppa,"

"Jangan minta maaf lagi, kau kembali sudah cukup untukku." sergahku mulai tak suka dengan kalimat apologinya.

Tapi, kenapa Gendhis bisa ada disini? Kenapa dia bisa kembali lagi kesini? Tak mungkin kan dia pinjam pintu ajaibnya Doraemon? Ah, sudahlah, semua itu bisa aku tanyakan nanti.

"Oppa, sekarang aku bisa memenuhi keinginan terbesarmu." katanya dengan wajah yang sudah berubah ceria. Gendhis memang jagonya mengubah 'paksa' aura wajahnya.

"Kau mau pindah kewarganegaraan?" Hanya itu yang terlintas di otakku saat itu.

"Aiishh, bukaann... " Wajahnya kini cemberut, membuat pipi gembilnya makin menggemaskan.

Mau tak mau aku tertawa. Benar-benar tertawa ungkapan bahagia. Hal yang nyaris tak pernah tercipta di bibirku selama setahun belakangan ini. Kulingkarkan kedua tanganku pada pinggang rampingnya yang terbalut baju berbahan rajut lembut.

"Masih mau mengajakku keluar jalan-jalan?" tanyanya.

Aku termangu detik itu juga.
Aaahh... impian itu... ternyata Gendhis juga memperhatikan impian sederhana tapi mustahil itu. Dulu. Tapi jika sekarang dia 'menantang' berarti bukan hal mustahil lagi.

Aku tersenyum dan langsung disambutnya dengan senyum pula.

"Tapi sebelum itu, ayo kita makan dulu. Aku buatkan spagetti tadi, Oppa masih suka spagetti kan?" Gendhis beringsut memaksa melepaskan diri dari lilitan tanganku dan menggandengku masuk.

Sedikit tergesa aku mengikuti langkahnya, bahkan aku tak sempat memakai alas kaki. Tapi siapa yang peduli?

"Tentu saja masih,"
Dan tentunya, aku masih mencintaimu, chagiya...

 
END




BYL, 02 Des' 2016



Satu kalimat, Maaf kalo endingnya rada garing. Kurang bisa greget kalo buat happy ending. Kapan-kapan direvisi lagi deh kalo ada waktu.  Hehehe