Nathan, dia anak yang manis. Sebagai tuan muda, dia juga tuan muda yang manis. Kulitnya yang putih bersih seakan-akan sejak bayi dia sudah dimandikan dengan air susu. Tingkah lakunya pun terkesan feminim. Bahkan bisa dibilang dia nyaris OCD. Apa-apa harus perfect. Harus sesuai aturan yang ada. Dan dia memang sering bertingkah semau dia. Seperti tak ada yang bisa melawan kehendaknya.
Seperti hari ini, dia dengan seenaknya mengajakku keluar makan siang, ah... tidak, lebih tepatnya menyeretku untuk mau diajaknya makan siang bersamanya. Tanpa bertanya dulu aku punya pekerjaan atau tidak. Tak peduli akan ada interogasi yang menimpaku dari para penggemarnya atau tidak, Karena memang itulah Nathan.
"Jadi itu rumahmu? Di lingkungan kaya dipinggir hutan gini?" tanyanya tak percaya sesaat setelah BMW Luxury model terbaru miliknya memasuki area tempat tinggalku.
Sebuah kompleks perumahan yang belum cukup banyak penghuninya karena terbilang masih baru. Pun begitu aku sangat menyukai daerah ini. Cukup jauh dari kebisingan kota, tapi tidak terlalu jauh untuk akses ke beberapa tempat yang penting, terlebih pasar. Satu lagi, karena rumah tipe 2 kamar ini sebenarnya adalah 'balas jasa' dari salah satu klienku dulu. Jadi ya, semua aku nikmati saja.
"Iya, tuh, depan situ, yang depan pagarnya ada bunga mataharinya." Tanganku menunjuk ke depan, dalam temaram lampu jalan yang tak begitu banyak.
Nathan tergelak, "Bunga matahari? Kamu ya, Una, belum berubah juga. Masih tetap suka bunga matahari yang gede tapi gak ada wanginya. Trus juga, tetep aja masih suka minum coklat. Liat tuh, kulitmu udah kaya coklat!" ledeknya terkekeh.
"How about you, boy? Kamu juga masih saja semau gue. Emang firma itu punya kakekmu, sudah berlagak kaya petinggi aja main maksa orang nemenin kamu seharian," sebalku.
Dan Nathan tetap terkekeh.
"Hahaha, lucu ya? Ketawa aja terus, tapi berhentiin mobilnya dulu!" dengusku pasang wajah jengkel.
Nathan tetap melanjutkan tawanya, meski dengan menuruti perintahku; menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumahku. Kami pun turun.
"Katanya kamu tinggal sendiri?"
"Lha emang sendiri, emang sama siapa coba, ibuk kan ada di Surabaya."
"Tapi kenapa lampu di dalam rumahmu menyala?" tanya Nathan melihatku heran,
"Oh, mungkin Bian." Aku siap-siap membuka pintu gerbangku yang memang sudah tidak terkunci, pasti Bian memang sudah datang seperti yang dikatakannya tadi pagi kalo mau kesini. Bahkan motor sport-nya udah nangkring di depan teras situ.
"Bian?"
Aku menoleh ke arah Nathan.
Oh, iya, saking asyiknya bernostalgia, aku memang sampai lupa menceritakan soal Bian kepada Nathan.
"Oh, Bian itu... pacarku," jelasku, tepat saat pintu rumah terbuka dan Bian muncul dari dalam rumah.
"Udah pulang, Na? Sama siapa?" tanya Bian mendekat,
"Oh, ini, Bi, dia... Nathan," jawabku mendapat sambutan kecupan sekilas di pipi kiriku.
Dan kedua pasang mata dari kedua pria yang kini ada di sisi kanan dan kiriku itu terlihat sama-sama heran. Atau mungkin lebih ke tidak percaya.
"Nathan?" desis Bian, seperti lebih detail memperhatikan sosok yang tingginya beberapa centi melebihi tinggi dirinya..
"Iya, Nathan, dia ternyata advisor baru itu, amazing kan? Nathan, kenalin ini Bian, pacarku."
Dan kedua mata bening itu tetap berekspresi sama seperti tadi. Tangannya pun tak bergerak meski Bian sudah mengulurkan tangannya.
"Nathan... " tegurku, sama seperti dulu tiap kali dia bertingkah tak seharusnya pada orang lain.
Barulah mata bening itu sedikit meredup, setengah enggan diulurkan tangannya menyambut uluran tangan Bian.
"Senang bertemu denganmu, Nathan, Yuna sering cerita tentang kamu, tuan muda yang manis,"
Segera kusikut pinggang Bian sebagai wujud protesku, tapi sayang itu tetap terlambat karena mata bening Nathan kembali memancarkan sinar yang aneh. Yang aku sendiri masih tak mengerti ekspresi apa itu. Nathan sejak kecil paling tak suka kalo dijuluki 'Tuan Muda yang manis'. Meski kenyataannya dia memang tuan muda.
"Masuk dulu yuk, Nat," ajakku mencoba mencairkan suasana yang terasa makin horor.
Saat kecil, aku paling tak suka ekspresi mata Nathan yang seperti itu. Serasa mau menghabisi apa yang tak disukainya.
"Nat,...?!"
Akhirnya ekspresi itu mengabur oleh pegangan tanganku pada lengannya.
"Lain kali saja, aku masih ada urusan." Nathan meraih tanganku yang ada dilengan kirinya, lalu menggenggamnya.
Kutepuk bahunya pelan dengan tanganku yang lain. Dengan seulas senyum tipis.
"besok aku jemput ya?"
Aku setengah gelagapan.
"Tidak perlu, Besok Yuna biar berangkat bersamaku."
Lalu mata bening itu menatap lurus ke Bian yang baru saja 'menolak' ajakannya.
Lagi. Mata itu kembali seperti tadi.
"Iya, Nat, gak usah, lagian kan rumahmu sama daerah sini sebenarnya berlawanan arah," alibiku.
Dan aku tertegun beberapa detik waktu tiba-tiba tubuh tinggi itu condong ke arahku. Lebih tepatnya bibirnya mendekati keningku dan mengecupnya lembut.
Ya, Nathan menciumku di depan pacarku.
Meski aku tak cukup kaget dengan perilaku Nathan yang selalu semau dia tanpa peduli sekitarnya, tapi ini sudah cukup gila.
Kudengar Bian sedikit berdehem, membuatku makin serba salah.
Nathan, benar-benar nih anak,
Tapi Nathan tetaplah Nathan sekalipun dia sudah menjadi Advisor lulusan universitas Harvard. Dia selalu merasa dia-lah yang berkuasa. Pemegang kendali.
Nathan tersenyum manis, "Sampai ketemu besok ya,"
Aku tersenyum canggung dan melepaskan genggaman tangannya perlahan.
"Setelah urusan selesai, pulang dan istirahatlah. Seorang Nathan tidak boleh terlalu capek," saranku malah ditanggapinya dengan tawa kecil.
"You know? You're always the best to me,"
Aku kini tergelak, kutepuk pipinya gemas, "Kamu tuh masih saja suka lebay,"
Nathan tersenyum lebar, matanya berbinar seperti waktu kecil dulu ketika berhasil melakukan hal yang disukainya. Perlahan genggaman tangannya pada kelima jariku terlepas juga, lalu langkahnya beringsut kembali menuju mobilnya. Bersamaan Nathan masuk ke dalam mobil, kurasakan sebuah tangan merengkuh pinggangku, mendekatkan pada tubuh tegapnya yang selalu beraura maskulin. Dan seperti yang sudah-sudah, aku tak begitu berekspresi mendapati perlakuan 'manis' itu. Malah kini kulambaikan tanganku dengan seulas senyum lebar kala Nathan menjalankan mobilnya.
"Sepertinya aku harus mulai mencari cara memaksamu mau menikah denganku," desis Bian membuatku langsung tergelak. Dan itu berakibat rengkuhan satu tangan kekar tadi makin menguat. Seakan ingin menyatukan tubuhku dengan tubuhnya. Kutanggapi dengan tawa geli.
"Udah deh, gak usah ikutan lebay kaya Nathan,"
"Tapi tingkahnya benar-benar membuatku cemburu."
Kuputar posisi tubuhku dan membuatnya kini berhadapan penuh dengan Bian. Kutatap wajah tampan 5 centi didepan mataku itu dengan senyum lembut.
"Nathan is nothing jika dilihat dari segi perasaan, oke? He is my little brother, dulu ataupun sekarang." tegasku mencoba mengusir api cemburu dengan sasaran Nathan itu dengan senyum..
"Tapi tidak baginya, Yun. Dia mencintaimu sebagai seorang wanita."
Aku terdiam sedetik, tapi detik berikutnya aku tergelak. Tidak, lebih tepatnya terpingkal. Benar, aku terpingkal-pingkal mendengar kata-kata Bian tadi. Dan meskipun Bian kemudian berwajah masam, aku tetap tak menghentikan tawaku. Bahkan saat dia melepas rengkuhan tangannya dan berlalu masuk ke rumah dengan langkah jengkel.
"Hei, sayang, please deh," protesku akan sikap merajuknya yang tetap kutanggapi dengan tawa.
Yang benar saja, Bian si pria dewasa ini akhirnya mencemburuiku untuk pertama kalinya dalam rentang hubungan kami yang sudah memasuki usia 4 tahun? Dan cemburu itu diberinya label Nathan.
Semua yang berhubungan dengan perasaan memang selalu aneh.
BYL, 28/08/2016
Win@rinda, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar