Kamis, 11 Agustus 2016

GARDENIA [You Took My Heart Away]



Langit benar-benar sudah sempurna gelap. Bulan di langit kota metropolitan ini seperti bersaing dengan lampu-lampu benderang di segala penjuru tempat. Semilir angin bulan agustus yang mulai menusuk pori-pori kulit kucoba kuusir dengan segelas cappuccino late ditanganku.

Desahan panjang semacam ekspresi lega terdengar di sebelahku. Aku tersenyum kecil saat mengamatinya. Bibirnya yang terpoles lipstik pink atau apalah, yang jelas tidak terlalu nge-jreng warnanya, masih tersisa buih late cappuccino yang baru diteguknya. Wajahnya mendongak ke langit. Menatap ke arah secuil bulan tanggal muda yang masih berusaha mengalahkan benderangnya lampu kota.

"Kamu masih suka melihat bintang itu?" tanyaku menikmati raut wajahnya yang selama nyaris 10 tahun ini sering membelengguku dengan satu kata kunci "rindu".

"Begitulah, aku dan bintang itu seperti memang seperti takdir. Sama-sama diciptakan sendirian, tidak seperti yang lain yang memiliki biduk bersama bintang yang lain," Wajahnya tetap mendongak ke arah bulan yang bertengger manis di atas sana. Meski akupun tau fokus matanya pada titik benderang di sebelah bulan.

Begitupun aku, Sal. Sendirian.

"Meski ternyata itu bukan bintang, tapi planet," lanjutnya tetap datar

"Dulu kamu suka sekali nyanyi lagunya Sheila On 7 yang Tunjuk Satu Bintang kan?" tanyaku mencoba mencairkan suasana yang mulai membeku.

Salome tergelak lirih. Terdengar sopan. Berbeda dengan Salome yang dulu. Yang saat tertawa akan terdengar sampai ke kelas sebelah.

"Sekarang pun masih, maklum, mungkin karena aku orangnya susah move on."

Kini aku yang tergelak.

"Susah move on? Lalu ini apa?" desisku mengamati sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Aku gak sedikitpun menyangka kamu itu Salome, andai gak baca KTP kamu. Lihat, highheels 12 cm, rok span, dan ini... " Kutunjuk rambutnya, "Kemana rambut Nirina Zubir-mu? Kenapa jadi panjang dan kruel-kruel begini?"

Plaaakk

Aku menjerit kecil saat tangannya memukul punggungku. Cukup keras.

"Kruel-kruel? Ini namanya blow, Enggar! Dasar, emang pacarmu gak pernah nge-blow rambut?"

Pacar?
Aneh juga dengernya kata itu meluncur dari Salome. Karena yang selama ini membuatku tak mau berurusan dengan perempuan lain adalah karena dia.
Entahlah, hati dan otakku terlalu sempit dan semua sudah dipenuhi dengan kenangan masa-masa SMA dengan Salome. Tak ada tempat lagi untuk menciptakan kenangan baru dengan orang baru. Terdengar lebay juga sih, tapi apa mau dikata, memang begitu kenyataannya.

"Gak ada pacar."

Dan jawaban singkat itu ditanggapi Salome dengan tawa yang cukup panjang.

"Seorang Enggar Wijayanto gak punya pacar? Gombal banget!"

Aku tersenyum getir mendengar 'ejekan'nya.
Iya, ya, kenapa selama 10 tahun ini aku tak pernah bisa punya pacar? Padahal rekan-rekanku sesama polisi, yang kesibukannya sama denganku juga bisa punya pacar, bahkan menikah. Aku, boro-boro. Berteman dekat dengan yang namanya perempuan saja aku tak pernah. Aku kadang curiga. Jangan-jangan aku gay. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku juga tak tertarik dengan sejenisku. Jadi, apa hanya karena perempuan disebelahku ini? Yang setelah bertemu lagi hampir tak bisa kukenali? Itu juga yang sejak dulu selalu membuatku malas berurusan dengan yang namanya perasaan. Aneh. Susah dicerna. Malah kadang bisa bikin sembelit.

"Ya, udah kalo gak percaya. Maaf udah mengecewakanmu. Maaf juga soal tadi.'' kataku meneguk lagi cappuccino late-ku.

"Tadi? Maksudnya?" tanya Salome heran. Alis bulan sabitnya yang memang sudah terkontaminasi pensil alis mengkerut bertaut.

Oh, iya, sejak insiden saling tak percaya di dalam tadi, aku memang belum sempat menceritakan kronologi detail kisah di koridor lobi hotel dua jam lalu.

"Itu, tadi yang nembak penjahatnya kan aku, jadi... "

Plaaakkkk!!

Aku menjerit sekaligus melonjak bangkit demi merasakan sekujur punggungku seperti terkena sengatan listrik. Mataku setengah melotot menatap ke arah Salome yang juga melotot padaku. Alhasil, ternyata penampilan yang berubah tak menjamin kelakuan juga berubah. Tamparan tangan Salome ke arah punggung ternyata masih abadi melekat padanya. Dan sakitnya tetap tak berubah. Masih panas menjalar. Seperti terlempar masa SMA dulu. Tak terhitung berapa banyak punggungku ini jadi korban keganasan tamparan tangan Salome.

"Jadi polisi sialan tadi kamu?" desisnya ikut bangkit.

"Hei, kenapa menyebut orang yang berusaha menyelamatkanmu malah kamu sebut sialan?" geramku tak terima.

Salome tergelak sengit, tangannya berkacak pinggang setelah menyibak rambutnya yang mengusik wajahnya.
"Menyelamatkan, katamu? Kamu menembak kepala orang yang ada tepat dibelakangku! Kalo meleset sedikit saja aku bisa saja yang mati. Aku bahkan harus cuci muka dan rambutku di wastafel karena bercak darah penjahat tadi. Dan lihat, bajuku penuh dengan darah!" Salome melempar blazer warna hitam-putih miliknya yang memang kotor oleh beberapa bercak darah.

"Aku punya perhitungan yang matang sebelum melakukan hal semacam itu. Itu caraku menyelamatkan sandera. Dan selama ini gak ada yang meleset," sungutku kembali duduk sambil meringis kecil merasakan sisa panas yang masih terasa di punggungku. Meletakkan blazer miliknya yang tadi dilempar ke arahku.

"Selama ini? Jadi aku bukan yang pertama jadi korban aksi gilamu itu?"

Kutarik pelan pergelangan tangannya dan mengisyaratkannya untuk duduk kembali. Aku tak mau orang-orang yang kebetulan lewat di jalan taman sebelah kantor polisi ini menyangka aku berbuat tak pantas pada Salome.

"Itulah kenapa aku tadi bilang maaf."

Tangan Salome siap melayang, tapi kali ini aku tak mau kalah cepat, kusambar lebih dulu tangannya dan menggenggamnya erat. Mata bulat itu melotot lagi. Aku tersenyum kecil. Sudah sangat lama tak menikmati mata itu melotot sebesar itu. Dan kerinduan yang selama ini sering mencabik-cabik rongga hatiku seperti perlahan terobati.

"Kalo udah cantik dan feminim begini, harusnya gak boleh galak kaya dulu."

Aneh, aku tak percaya kalimatku itu bisa membuat mata bulatnya meredup, pipinya juga merona. Bahkan matanya berubah posisi. Seperti seorang ABG yang ketahuan mengamati gebetan barunya.

Salome pun menurut, kembali duduk. Kusodorkan lagi gelas minumannya. Dia malah tergelak tak percaya meski tangannya tetap menerima.

"Ini pengalaman terburuk yang pernah aku alami denganmu."

Aku meringis, "Lebih buruk dari waktu kamu ketahuan Pak Beni manjat pohon jambu dan digiring ke ruang BP bersama yang lain?" tanyaku asal, mengingat memori salah satu kenakalan kami dulu.

"Apa?" desisnya tak percaya.

Aku terbahak, "Kalo dari awal aku tau sanderanya itu kamu, aku malah gak akan ragu menembak penjahatnya. Nyawamu kan banyak,"

Salome melotot marah, tapi tangannya tetap di tempat.

"Hahaha... lucu sekali ya?!" sungutnya.

Kucoba hentikan tawaku yang sepertinya kontras dengan suasana hati Salome. Memang tak semestinya aku menjadikan insiden menegangkan tadi menjadi bahan guyonan.

"Oke, oke, sebagai bonus tambahan permintaan maafku, akan kuantar kamu pulang," usulku.

What?
Untung tak seorangpun yang mendengar usulan konyolmu ini, Nggar! Coba kalo sampai Gani atau Juki mendengar ini, mereka pasti terpingkal-pingkal. Bonus tambahan permintaan maaf? Ya ampuunn... belajar dari mana aku sampai bisa mengucapkan kata-kata aneh itu?

"Mobilku ada di hotel tadi."

"Kalo gitu aku antar ke hotel."

"Okelah," setuju Salome bangkit.

Eh? Apa? Aku sedikit gelagapan mendengar persetujuannya atas ajakanku yang konyol itu. Aku bangkit seraya meraih blazer miliknya yang ada disampingku.

"Yuk, motorku disana!" kataku antusias melangkah,

"WHAT?!"

Aku tak jadi melangkah, menoleh menatap Salome yang kaget dengan ekspresi yang nyaris sama.

"Motor?" Matanya kembali melotot.

"Iya, tuh disana?" jawabku menunjuk dengan dagu ke arah motor sport-ku yang kebetulan terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri.

Duuukkk

Aku menjerit cukup keras berjingkat mengangkat kaki kiriku. Cukup membuat beberapa orang di dekat parkiran depan kami menoleh. Sebelah kaki Salome baru saja melayang ke tulang keringku. Sepertinya cukup memar. Tulang kering versus ujung highheels. Sudah pasti tulang kering yang kalah.

"Ini apa-apaan sih? Bisa gak kelakuanmu disamakan dengan dandananmu?" gerutuku mengelus-elus tulang kering kakiku.

Salome tergelak, sambil berkacak pinggang.

"Hei, kamu nyuruh aku nyamain kelakuan sama dandanan, tapi malah ngajak aku naik motor balapmu itu?"

Kenapa? Ada yang salah dengan motorku?
Kuangkat kedua tanganku tanda tak mengerti.

"Boy, look at me!" geramnya sedikit menghentakkan ujung highheels-nya, "Aku pake heels 12 cm, pake rok span. Masa iya aku naik motor? Mau naik model gimana?" lanjutnya galak.

Oh?
Aku meringis malu.
Iya, ya, pantes aja Salome langsung kaget tadi. Ternyata yang salah bukan pada motorku, tapi pada ajakanku yang asal.

"Sori," kataku masih meringis.

"Dasar! Udah ah, nanti aku dijemput kok, nah tuh... dia kayaknya!" Salome menunjuk sebuah mobil Porshe hitam yang baru saja memasuki pelataran parkir kantor polisi.

Pacarnya kah?
Mendengar dengungan tebakanku sediri itu, tiba-tiba hatiku jadi nelangsa.

Salome melangkah mendekati mobil yang berhenti diantara jajaran mobil petugas polisi yang lain. Dan entah kenapa aku mengikuti langkah Salome.
Whoaahh... kenapa aku begini?
Dan langkahku perlahan terhenti demi melihat sosok itu keluar dari dalam mobil. Laki-laki dengan dandanan yang sangat parlente. Outfit kerja orang-orang kantoran. Setelan jas dan dasi yang senada. Tidak seperti aku, yang bahkan memakai seragam polisi saja tak nyaman. Lebih nyaman mengenakan jeans dan kaos, kadang ditambah jaket selain berbahan kulit.

Benarkah ini pacar Salome? Inikah laki-laki yang beruntung mendapatkan gadis impianku yang dulu kutinggalkan tanpa salam perpisahan?

"Salome... " Panggilan itu begitu memburu, begitu cemas. Sama dengan langkah kakinya yang tak sabar mendekati Salome.

"Mas Angga,"

Mas? Mas Angga?

"Kamu gak apa-apa kan?Kamu tau gak, semua orang cemas dengan keadaanmu waktu dengar kamu yang jadi sandera tadi."

Lihat, lihat! Bahkan pancaran matanya yang terhalang kaca mata minus itu tak bisa dipungkiri kalo itu ekspresi dari kecemasan.

"Gak apa-apa kok, Mas!"

"Gak ada yang luka kan?"

Laki-laki yang dipanggil Salome dengan nama 'Mas Angga' itu meneliti seluruh tubuh Salome. Memastikan bahwa yang dikatakan Salome barusan adalah benar. Barulah setelah beberapa puluh detik, akhirnya laki-laki 'Mas Angga' itu menghela nafas lega.

"Syukurlah kamu gak apa-apa."

"Aku malah mencemaskan event kita, Mas."

"Tenang aja, semua sudah ter-handle oleh masing-masing pos. Tadi waktu aku telpon Riana, katanya udah hampir selesai. Mobilmu juga sudah diurus Sandy, jadi aku langsung antar kamu pulang aja."

"Tapi... " Salome hendak menyanggah tapi tak ada kesempatan.

"Udah, nurut kataku, oke?" tegas 'Mas Angga' itu melepas jas hitamnya dan menyelubungi tubuh Salome yang mengenakan T-shirt putih  tak berlengan dengan hiasan rampel manis di bagian depannya.

"Eheemm," dehemku mencoba mengisyaratkan tentang keberadaanku.
Kedua pasang mata itu menoleh.

"Oh, iya, Mas, kenalin ini Enggar, teman SMA-ku dulu. Dia polisi disini." kata Salome menatapku dan 'Mas Angga'-nya bergantian.

Aku melangkah mendekat.

"Nggar, kenalin ini CEO tempatku bekerja, Mas Angga." Salome meneruskan ritual introducing-nya.

Kuulurkan tanganku bersamaan dengan uluran tangannya. Kami sama-sama menyebut nama sendiri. Saling menjabat dan menyebut nama dengan setengah hati.
Hei, what's up?

"Oke, Nggar, aku balik dulu ya," pamit Salome.

"Aku akan mentraktirmu makan siang, atau malam, atau sarapan juga boleh."

Aduuhhh... ini juga kalimat apaan sih?

Salome.tersenyum sedikit geli.

"Aku dapat libur 3 hari."

Libur? Skors maksudnya. Tapi siapa yang peduli? Aku saja tak peduli itu skors.

Salome seperti berfikir sejenak.
Aneh, hatiku benar-benar seperti tak ingin dia pergi. Aku benar-benar tak ingin kebersamaan ini berakhir secepat ini.

"Oke, nanti aku BBM."

Ada sedikit perasaan lega. Aku tergelak dalam hati.

"Bye... senang bisa bertemu denganmu lagi." Salome mengangkat tangan kirinya seraya berjalan mendekati pintu mobil.

Aku bahkan tak mampu membalas salam perpisahannya dan malah terpaku melihat semua itu. Sampai tubuh Salome menghilang dibalik pintu mobil, aku masih saja terpaku.

Apa ini yang dinamakan cemburu? Patah hati? Putus harapan?
Gadis yang selama hampir 10 tahun ini membelenggu hatiku dengan tali ikatan rindu, setelah bertemu malah kemudian berakhir begini.

Salome... Apa semacam ini rasa yang kamu rasakan saat malam perpisahan itu malah menjadi malam perpisahan kita? Apa seperti ini yang kamu rasakan saat mengejar laju kereta api yang kutumpangi meninggalkan stasiun? Seperti ada yang merebak patah.

Oh, come on, boy! Kenapa jadi melankolis begini? Ini bukan akhir yang tragis. Tadi Salome juga bilang kalo senang bisa bertemu denganku lagi kan? Jadi...

Dan lirih aku mendengar bait-bait lagunya MLTR yang You Took My Heart Away. 


     "... You become the meaning of my life..."


Salome, kali ini aku tak akan diam saja. Aku akan menemukan jawabannya. Jawaban bahwa kamulah yang memberi arti akan hidupku selama ini.

Tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar. Kurogoh saku celanaku, kutekan tombol aplikasi BBM. 1 pesan masuk


Salome : 
Jln Kebayoran baru no. 23. Itu alamat rumahku, ok?

Aku tersenyum membaca alamat yang terpampang di layar ponselku.
Dan aku baru menyadari sebelah tanganku lagi memegang blazer milik Salome tadi.
Mungkin, ini memang takdir.
 
Aku melangkah dengan senyum kecil. Bayang Salome seperti berjalan disampingku.
Terdengar lagi alunan bait-bait lagu You Took My Heart Away tadi.


  "... You took my heart away, when my whole world was grey... "



  
Gardenia; The Speechless Love
Byl, 11/08/2016
22:21
Win@rinda



Oke, bisa dibilang ini part lanjutan Gardenia[ It's Gonna Make Sence].
Sebenarnya aku gak punya rencana buat judul part-nya 'nyulik' judul-judul lagunya MLTR. Hanya pas inget cerita ini ikut keinget cerita drakor HEALER yang pake beberapa lagunya MLTR. Ya udah, ikutin apa kemauan si imajiner seperti air mengalir aja. 
Happy reading... !!!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar