Minggu, 21 Agustus 2016
Overdose
Lift pagi ini lumayan lenggang. Hanya berisi kurang dari 10 orang. Dan sepertinya hanya aku yang paling akhir turunnya. Maklum, kantor kerjaku ada di lantai 17 gedung ini. Sampai di lantai 3 sudah ada yang mau keluar. Kusandarkan tubuhku ke dinding. Kedua cuping telingaku terpasang headset sejak masih di busway tadi. Diujung telpon sana sepertinya Bian-pacarku- masih sibuk mendiskusikan sesuatu dengan temannya. Kutunggu dengan sabar, toh aku lebih sering mengacuhkan dia saat dia menelpon. Bahkan kadang saat bertemu langsung aku juga sering menduakannya dengan pekerjaanku. Padahal sebagai seorang polisi, waktu luang Bian tak banyak. Apalagi kalo ada kasus, bisa berhari-hari tanpa kabar.
Tapi untung aku orangnya easy going. Yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya. Buktinya selama hampir 4 tahun hubunganku dengan Bian tetap eksis. Bahkan bisa dibilang hampir tanpa pertengkaran tak berguna. Mungkin karena sikap dewasa Bian. Atau mungkin malah sikap 'whatever'ku.
"Yuna," panggil Bian akhirnya.
"Hmm," Hanya kubalas dengan deheman. Mataku sibuk menatap layar ipad ditanganku. Sedikit mengintip berita hari ini. Biar tetap up to date sama dunia luar sana. Terlebih dunia diluar hukum yang selama ini kugeluti. Kadang aku juga butuh refreshing 'meloncat' ke dunia alay Korea. Drama korea, juga musiknya yang identik dengan cowok-cowok cantiknya.
"Kita sambung nanti malam aja ya, mau aku jemput?" tawarnya.
"Gak usah, aku sepertinya pulang rada sorean. Hari ini gak begitu banyak kerjaan."
"Kalo begitu, aku ke rumah ya."
"Hmm,"
Bian tergelak kecil mendengar persetujuan acuhku. Tapi memang apa istimewanya Bian main ke rumahku? Dia bahkan sudah punya kunci duplikat ruamhku. Kapan pun dia mau, dia bisa masuk.
"Sepertinya aku memang masih gagal mengajakmu menikah kalo kamu masih cuek begini,"
Kini aku yang tergelak.
"Haizz... pagi-pagi udah ngomongin nikah? Bikin pengen sarapan lagi lho, hahaha." timpalku sedikit kudramatisir.
Terdengar Bian mendesah.
"Aku tutup ya, met kerja... "
"Oke, jangan lupa makan siang." pesanku, karena Bian selalu melupakan jadwal makan siangnya dengan alasan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Memang, sebagai polisi apalagi bagian cyberchrime menuntutnya lebih lama fokus di hadapan komputer.
"Iya," Lalu telpon terputus.
Kucopot headsetku dan kumasukkan ke dalam tas LV biru milikku, hampir bersamaan dengan pintu lift terbuka di lantai 17. Dan saat aku melangkah keluar kurasakan aura tempat kerjaku ini sedikit beda dari biasanya.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Yaah... ternyata semua rekan kerjaku kumpul di kubikel milik Rangga, cowok ceriwis bin alay itu sepertinya punya rubrik 'panas' hingga mampu menyedot semua penghuni ruangan ini. Gak semua sih, karena pasti si serius Gamma dan si culun Setyo tetap berada di kubikelnya. Biarlah, yang penting itu tak menyangkut aku. Mungkin saja cowok itu dulu mau kuliah entertainment tapi salah masuk ke ruang kelas hukum. Sebagai pelampiasannya, dia akan sangat bahagia jika mendapat kasus para selebritis.
"Lima menit lagi masuk jam kerja woi," ucapku mencoba mmebuyarkan gerombolan itu. Hani si single, Jingga yang bentar lagi nikah, Bu Cicik yang udah punya anak SMP, Riska yang baru putus seminggu lalu dengan pacarnya, juga Leni yang sering terkena jebakan betmen buaya darat, semua berkumpul jadi satu. Membuat Rangga serasa dewa pembunuh kegalauan.
"Eh, Yuna, sini gabung! Kita lagi membicarakan advisor kita yang baru." ajak Bu Cicik.
"Emang kenapa advisornya? Gak jadi kesini?" tanggapku asal meletakkan tas tanganku ke atas meja kerjaku yang kebetulan bersebelahan dengan Rangga.
"Ih... kamu tuh, Yun, bukan itu. Kamu tau gak siapa advisor kita yang baru?" Kali ini Riska yang angkat bicara.
"Gak. Tapi dia manusia kan?"
Ke enam rekan kerjaku itu langsung melotot protes.
"Udah, udah, gak usah pikirin si Yuna. Dia mah unbeloved. Untung aja pacarnya sabar banget kaya si Bian, kalo enggak,...:" Kata-kata Rangga menggantung.
Kutanggapi cibiran sinis Rangga hanya dengan gelak tawa pendek.
"Dia masih muda tapi sudah jadi advisor, lulusan Harvard pula, ckckck." Jingga berdecak kagum.
Haduhh... tuh cewek, udah mau nikah kok masih aja labil.
Yang jadi pertanyaan Who is the Advisor? Kenapa semua pada heboh begini? Pada kurang kerjaan.
Mau semuda apa? Advisor paling muda juga umur 30an, Kalo gak workholic ya orangnya nyebelin.
"Mau kemana kamu, Yun?" tanya Hani saat melihatku malah beringsut pergi.
"Nyari berkas."
"Tunda aja dulu, dia udah naik ke lift bareng Pak Simatupang. Sebagai yang lebih junior tingkatannya, kita paling gak menyambutnya lah..." imbuh Bu Cicik mencoba menahan kepergianku.
Aku tergelak.
Ampuunn deh nih orang-orang.
"Eh, kita nanti manggilnya gimana ya? Kalo Pak Jo, pantes gak ya? Soalnya dia kan masih muda banget... " Kali ini si Reni yang keganjenan.
"Panggil Bang Jo aja, kaya abang ojek dibawah, bang Parjo," sahutku terkekeh, seraya berlalu mengabaikan pandangan sebal mereka.
Sepertinya orang-orang itu sudah terkontaminasi virus 'mendewakan' orang baru. Apa istimewanya advisor muda, lulusan Harvard? Kalo kinerjanya gak bagus juga sama aja.
Aku melangkah ke ruang pantry dulu. Secangkir coklat panas di pagi yang semrawut ini sepertinya cukup cocok.
Saat aku kembali dari ruang penyimpanan berkas, dengan tangan kanan menenteng beberapa map dan tangan kiri memegang cangkir coklat panasku yang masih mengepulkan uap memikatnya, ditengah ruangan sana sudah berkumpul para penghuni kantor ini.
Mungkin ini yang dimaksud 'penyambutan' oleh Bu Cicik tadi. Aku melenggang tanpa dosa meski tau terlambat mengikuti upacara penyambutan itu. Advisor baru itu sedang dikelilingi semua pegawai. Sebagai orang bertinggi badan kurang dari 160cm dan tak begitu menyukai highheels, tentu saja aku kesulitan menerobos pagar betis itu agar bisa melihat tampang si advisor baru itu.
"Yuna, darimana saja kau ini," seloroh pak Simatupang, salah satu 'petinggi' firma hukum ini yang lebih dulu menyadari kedatanganku.
"Nyari berkas untuk kasusnya Gie bersaudara, Pak." Kuletakkan map ditanganku ke atas meja ditengah ruangan. Meja bundar yang dikelilingi 10 kursi, biasa kami gunakan untuk berdiskusi bersama saat salah satu rekan kerja kesulitan dalam menghadapi kasusnya.
"Ooowwh, sini aku kenalkan sama advisor baru kita, namanya Pak Jonathan. Dia baru pindah dari Inggris."
Aku melangkah sambil mendekatkan cangkirku ke bibir, tapi saat aku bisa melihat wajah sang advisor itu, aku sedikit tertegun dan tepian cangkir itu berhenti di ujung bibirku.
Sebenarnya pandanganku lebih terfokus pada pipi kiri advisor baru yang katanya bernama Jonathan itu. Entah kenapa, yang jelas aku seperti terhubung sesuatu. Teringat sesuatu yang terjadi puluhan tahun lalu.
"Ngga!" panggilku berbisik pada Angga yang sekarang tepat disebelahku. "Namanya siapa tadi?" lanjutku tetap berbisik.
"Jonathan."
"Lengkapnya?"
"Jonathan Aryadanu."
Aku menoleh cepat ke arah Angga. Tentu saja Angga heran melihatku menatapnya dengan mata penuh. Tapi kuacuhkan reaksi Angga bahkan saat tangan usil Angga mengambil cangkir coklat panasku. Mataku beralih lagi ke wajah Jonathan Aryadanu itu. Lebih kuteliti wajah yang memang terbilang tampan itu. Lalu pipi kiri itu...
"Yun, kok malah bengong?" tegur Bu Cicik.
Pak Jonathan itu akhirnya ikut menatapku intens. Seperti tak mau kalah akan bola mataku yang tak juga beranjak dari wajahnya.
Pipi putih mulus itu berlesung pipit. Tapi sebenarnya kalo setelah diperhatikan, itu adalah sebuah codet. Dan kalo aku tak salah orang, aku tau codet karena apa itu.
"Kenapa bekas paku itu jadi lesung pipit?" tanyaku membuatnya terhenyak. Juga yang lainnya.
Ya, pemirsaa... aku yakin dengan dugaanku. Dia adalah Jonathan Aryadanu atau biasa kupanggil Nathan, seseorang yang tertinggal di masa kecilku dulu. Dan lesung pipit itu adalah bekas paku. Jangan tanya lanjutannya, karena aku selalu merasa bersalah jika mengingat luka di pipi itu. Meski aku juga tau itu bukan salahku.
"What?" Dia makin terhenyak.
Aku bergegas mendekat dan meraih tangan kanannya, menyingkap sedikit pergelangan tangannya yang terhalang jas hitamnya. Ada segaris horizontal di sisi luar pergelangan tangannya. Dan menemukan itu aku jadi tergelak.
"Kamu beneran Nathan?"
"Nathan?" koor semua mulut disitu menatapku heran.
Matanya seperti menginterogasi setiap inchi tubuhku.
"Una?" tanyanya tak percaya.
"Una?" Kali ini koor itu menatap ke arah depanku.
"Huh," Aku hanya menaikkan dagu.
Akhirnya dia ikut tergelak.
"Are you sure?" Dia masih tak yakin.
"I think yes, absolutly sure!"
Beberapa detik kami saling pandang, seakan merevisi lagi pandangan masing-masing. Benarkah yang terlihat kini? Ini bukan fatamorgana kan?
Pada detik ke 5 kami tergelak dan langsung berpelukan. Semua mata melongo. Ruangan jadi sepi. Hanya sisa tawa kami yang terdengar di telinga. Aku menyadari keganjilan itu. Kujauhkan tubuhku dari pelukan tangan panjang itu. Nathan menatapku aneh.
"What's wrong?" tanyanya menahan tubuhku pada sudut kedua siku.
Kuamati Nathan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kulit putih dan langsingnya memang tak berubah. Tapi lihat, dia tinggi sekali? Seperti pohon kecambah yang tumbuh di tempat tertutup saja.
"Ini gak adil. Kepala kamu dulu ada dibawah daguku sini! Kenapa sekarang malah berbalik posisi?" protesku membuatnya tertawa.
"Bukan salahku, salahkan saja dirimu sendiri gak tinggi-tinggi."
Aku melotot kesal.
"Eheemm."
Dan deheman Pak Simatupang membuyarkan dunia kami. Kami sama-sama menoleh ke arah advisor 'tua' itu.
"Oh, eh, Pak, dia... "ucapku gelagapan menunjuk ke arah Nathan.
"Kami mengenal sejak kecil," sela Nathan.
"Begitulah,"
"Kamu umur berapa waktu itu, Una?"
"Akhir kelas 1 SD, menginjak 8 tahun.''
"And i 5 years old."
Sumpah, mata semua orang disini jadi terlihat lucu, karena bergantian menatapku dan Nathan usai kami bicara. Seperti gerombolan anak kecil yang melihat dua pemain sirkus yang bergantian melakukan aksi menakjubkan.
Pak Simatupang yang sepertinya lebih dulu kembali ke otak normalnya.
"Oke, Pak Jonathan, mari saya tunjukkan ruang kerja kita," ucapnya seperti mengakhiri drama pagi ini.
Mataku tak lepas mengikuti setiap gerakan tubuh yang sudah terbilang jangkung itu. Sudah mirip aktor korea Lee Jong Suk yang dramanya sempat kutonton karena mengangkat dunia pengacara. Nathan seperti enggan berbalik dan mengikuti langkah Pak Simatupang yang sudah berjalan beberapa langkah di depan.
"Nanti ke ruanganku," ucapnya tanpa suara dan hanya memakai bahasa bibir.
"Siap, bos!" jawabku dengan cepat, mengangkat tangan kananku membentuk posisi hormat. Hal yang sering kami lakukan dulu saat menuruti kemauan yang berperan jadi 'bos'.
Nathan tersenyum lebar sebelum akhirnya benar-benar membalikkan tubuhnya berjalan menuju ruangannya bersama Pak Simatupang yang sama-sama menjabat sebagai Advisor di firma hukum ini.
Dan ketika aku kembali fokus ke tempatku semula, aku baru sadar ada 6 pasang mata menatapku dengan ekspresi yang sama. Minta penjelasan. Hanya 6 pasang, karena yang 2 pasang mata milik Gamma dan Setyo sudah meninggalkan tempatnya berdiri tadi, menuju kubikelnya masing-masing.
"Tidak peduli ya? Huh?" desis Angga maju selangkah.
"Aku... aku mana tau kalo advisor baru kita namanya Jonathan Aryadanu, kalian tadi bilangnya kan cuma Jonathan. Nama Jonathan itu kan banyak." Aku mencoba membela diri, berharap cepat mengubah mata-mata beraura beringas itu.
"Aha?" Leni seperti tak yakin dengan penjelasanku.
"Beneran, kalian masa gak percaya sih? Masa aku pernah bohongi kalian soal beginian pula. Kami waktu kecil pernah serumah karena ibuku sempat numpang dirumah orang tua dia. Sekitar 2 tahun aja. Habis itu kami berpisah lagi."
"Sampai sekarang baru ketemu lagi?" delik Bu Cicik.
Aku menggaruk kepalaku, sibuk mencari kata-kata yang pas untuk kupakai untuk menjawab.
"Ya, gak sih. Setelah ibuku nikah lagi, kami masih beberapa kali ketemu. Kalo gak aku dan ibuku yang main ke rumahnya, ya dia yang dianter ke rumahku. Sampai kemudian saat aku kelas 1 SMP kami harus pindah ke Surabaya. Setelah itu kami cuma berkomunikasi lewat telpon. Gak sampe setahun kami sudah lost contact." Akhirnya aku bisa menyelesaikan 'berkas' pembelaanku dihadapan mereka semua.
"Lalu? Udah gitu aja?" Hani juga tak yakin.
"Apalagi?"
''Kalian tak pernah terjebak dalam hubungan cinta?" Riska penasaran, sama seperti yang lain juga.
Aku tergelak, "Kalian gila? Ya gak lah. Waktu kecil kami udah lakukan semua sama-sama. Makan, mandi, bahkan tidur. Dia udah kaya adik aku."
''Jadi kamu menganggapnya adik?" tanya Riska.
"Ya iyalah."
"Kalo begitu tetap pada level itu!" Leni seperti mengancam, membuatku tergelak.
"Awas kalo sampai ada kabar kalian jadian!" imbuh Angga.
"Kamu juga naksir dia?" tudingku asal membuat Angga langsung melotot. Tak kuhiraukan ekspresi garang itu dan malah mengambil gelas coklat panasku yang ternyata sudah berkurang sedikit. Melenggang meninggalkan arena itu.
...Tbc...
BYL, 21/08/2016
Win@rinda, 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar