Sabtu, 10 September 2016
Overdose [part 3]
Pelan-pelan aku turunkan kakiku yang pagi ini sengaja kualasi sepatu pantofel. Outfit-ku pagi ini juga terkesan sangat formal; celana panjang model pensil dan atasan blouse peplum sesiku. Sedikit terpaksa sebenarnya, karena tak mungkin aku mengenakan rok atau terusan dan membonceng di motor sport Bian. Bian memegangi sebelah tanganku, memudahkanku turun. Setelah sempurna memijak tanah baru kubuka helm yang kukenakan dengan sambutan senyum hangat Bian dan sebelah tangannya merapikan rambutku yang memang harus ditata ulang.
"Gak lagi-lagi deh kalo nginep bawa motor, kasihan kamu kalo berangkat kerja gini," ucap Bian seperti sebuah sesal.
Aku tersenyum tipis seraya mengambil setumpuk dokumen di jok di depannya.
"Udah terlanjur, gak usah disesali," tukasku enteng, Bian malah meringis.
"Jangan lupa makan siang ya," kataku, tak bosan mengingatkan tentang kebutuhan yang sering dilupakan manusia sok sibuk ini. Karena bagaimana pun nanti kalo kenapa-napa aku juga yang repot.
Pernah suatu kali Bian terlalu sibuk memecahkan kasus prostitusi online misterius. Saking sibuknya sampai akhirnya dia jatuh sakit. 2 hari terbaring lemah di atas tempat tidur. Aku pula yang harus merawatnya. Bukan soal tak mau, tapi gak tega aja liat orang yang biasanya kuat push up dan sit up 50 kali kemudian malah bebaring dengan wajah pucat.
"Iya, iya. Kalo pas begini kamu lebih mirip emak-emak," kelakarnya dan langsung kutanggapi dengan tatapan cranky. Bian malah mencubit pipiku pelan.
"Ya udah aku pergi ya..." pamitnya menstater lagi motornya.
Aku mengganguk dengan seulas senyum samar.
Usai motor yang membawa tubuh Bian pergi, baru kusadari sosok Rangga melihatku dari jarak kurang 5 meter.
"Kamu kenapa? Cemburu juga aku dianter pacarku?" desisku sok galak.
Rangga, dia teman membuat skripsiku di semester terakhir kuliah kami dan seperti takdir kami akhirnya bergabung dalam 1 firma ini. Jadi dia mengenalku sudah lebih dari 5 tahun. Bisa dibilang dia sudah sangat tahu tabiat dan semua kebiasaanku.
"Sebenarnya aku tadi sudah mau mendekat, menyapa Bian," katanya berjalan ke arahku.
"Kok gak jadi?" Kami pun berjalan beriringan memasuki area gedung perkantoran kami.
"Aku ingin memberitahu Bian kalo kamu... "
"Ketemu Nathan? Seharian bersama Nathan? Atau pulangnya dianter Nathan?" selaku cepat, membuat Rangga bungkam.
Aku menahan tawa melihat reaksi Rangga, kuserahkan setumpuk dokumen yang kubawa padanya.
"Bian sudah hafal siapa itu Nathan, ngerti?!" kataku berlalu lebih dulu.
Sepanjang perjalanan di dalam lift menuju gedung kantor kami, Rangga seperti anak kecil yang ngambek karena tak dituruti keinginannya. Aku hampir tak bisa menahan tawa melihat pemandangan itu.
"Kok ada ya cowok sebaik Bian? Gak ada takutnya kalo ceweknya selingkuh sama cowok lain," gerutunya pelan.
Tawaku hampir muncrat andai tak kutahan. Dan andai di dalam lift ini tak ada orang, aku pun tak akan menahan tawa ini. Ini orang ngapain pula bingung mikir pacarnya orang cemburu apa tidak sama pacarnya? Aneh banget.
Lagian itu cuma Nathan. Meskipun dia kini menjelma jadi pria dewasa yang parlente sekaligus mengesankan membuat siapa saja berdecak kagum, tapi dia tetaplah Nathan. Paling tidak bagiku.
Tapi, semalam Bian sempat mengungkapkan kalo dia cemburu dengan tingkah Nathan. Meski bagiku itu sangat tidak dewasa tapi...
Suara tanda pintu lift terbuka membuyarkan lamunanku. Tak sadar ternyata sudah sampai di lantai gedung firma tempat kami bekerja. Dan saat kakiku hendak keluar dari dalam lift setumpuk, ah tidak, lebih dari setumpuk rasa heran membuat dahiku berkerut.
Ini apa-apaan ini? Kenapa kantor firma hukum kami jadi kaya kebun bunga matahari di serial anak-anak Masha & the Bear? Dimana-mana ada bunga matahari berbagai ukuran. mulai dari pot mini yang bisa diletakkan di atas telapak tangan, sampai pot besar dengan bunga matahari yang besarnya melebihi lebarnya wajah Bu Cicik.
''Ada acara apaan ini?" desis Rangga heran sekaligus sebal.
Dan tepat di dalam kubikelku ada banyak sekali bunga-bunga warna kuning terang itu. BANYAK!
"Yun, ini semua buat kamu kan? Semua bunga matahari ini untuk kamu kan? Apa ini surprise dari pacarmu? Apa gak terlalu norak?" berondong Riska seperti iri.
Surprise dari pacar? Ah, gak mungkin Bian melakukan ini. Dia bukan tipe cowok yang suka buat kejutan norak begini. Dia akan lebih memilih menemaniku sepanjang malam mencari artikel tentang kasus yang sedang kutangani daripada mendekor kantor tempatku bekerja jadi kebun bunga dadakan begini.
Dan otakku kemudian seperti terhubung oleh seutas benang masa lalu. Nathan.
Aku tergelak antara kesal dan terharu.
"benar-benar nih anak... " desisku membalikkan tubuhku menuju ruangan para advisor dengan langkah lebar. Semua mata di ruangan ini menatapku penasaran. Seakan mereka para peserta undian berhadiah milyaran rupiah yang sedang menunggu kartu undian terpilih dibacakan.
Ruangan para advisor-disini yang menjabat sebagai advisor hanya Pak Simatupang dan tuan muda manis Nathan-yang hanya belapis kaca terang sepinggang ke atas memudahkanku mengetahui bahwa Nathan ada di dalam. Dia entah sibuk apa dengan komputernya di atas meja kerjanya. Dia memang aneh, saat semua orang baru datang dia sudah seperti sibuk dengan pekerjaannya.
Kubuka pintu kaca didepanku tanpa mengucap salam.
"Apa-apaan ini, Nat?" Kutatap wajah freshnya yang makin mempesona dengan outfite berkelas. Setelan jas yang sangat pas membalut tubuhnya dengan kemeja warna merah tua dipadu dengan dasi asimetris warna senada. Nathan memang pantas digandrungi.
Nathan mendongak meninggalkan pandangan matanya dari layar komputernya.
"Oh, morning Una, how are you today? Do you like that?" katanya sangat, sangat innocent.
Nih anak dari kecil sampe sekarang segede gini tetep aja gak bisa mengerti keadaan. Atau mungkin emang gak pernah mau mengerti.
"Itu semua apaan? Kantor udah kaya hutan," geramku.
Dan apa? Nathan malah mengulum senyum. Bikin kepalaku langsung migrain.
"Bukannya kamu suka bunga matahari?" Pertanyaannya sudah mirip pertanyaan anak kecil yang bertanya pada ibunya, 'kemana perginya bintang-bintang kalo siang hari?'.
Oke, Yuna, tenang. Kamu mengenal Nathan cukup detail. Dia akan makin penasaran jika makin keras dilarang. Dia akan makin menjengkelkan jika disalahkan.
"Aku curiga, jangan-jangan kamu udah beli firma ini ya? Tingkahmu udah seenakmu sendiri. Aku emang suka bunga matahari,. tapi kamu gak terus buat kantor jadi kaya begini. Kasihan yang lain merasa terganggu." Akhirnya kalimat itu yang kupakai untuk mengkuliahinya. Semoga sebagai seorang advisor jebolan universitas Harvard dia tak se-ndablek dulu.
Tapi, lagi-lagi reaksinya membuatku kembali migrain.
Nathan hanya tersenyum manis tapi terkesan meremehkan. Bagiku itu menyebalkan. Dan daripada kepalaku benar-benar terserang migrain akut, aku memilih segera balik kanan dan keluar dari ruangan itu.
"Una... Unaaa...!" panggilnya tetap seperti panggilan masa kecil dulu, manja dan menuntut.
Kuhempaskan tubuhku ke kursi kerjaku. Bahkan tak ada tempat untuk tas dan map berkas bawaanku. Rangga sepertinya tak mau ambil pusing dengan itu dan meletakkan setumpuk dokumen yang tadi dibawakannya ke atas tikungan dinding pembatas antar kubikel. Semua dipenuhi dengan bunga matahari.
"Ini jadnya mau diapain mbak?" tanya kang Joni, OB firma ini.
Aku tak langsung menjawab. Dilema. Disatu sisi aku tak mungkin menyia-nyiakan bunga kesukaanku ini. Bahkan waktu kecil aku sampai menangis seharian karena bunga matahariku yang kurawat setiap hari tau-tau malah dipotong oleh Nathan saat kutinggal sekolah.
"Sisihkan dulu ke pojok ruangan, Kang, ntar biar aku telpon temen yang punya toko bunga, biar dia bawa ke tokonya. Sayang kalo dibuang." putusku akhirnya.
Pikirku, paling tidak aku tidak menyia-nyiakan Nathan yang menghamburkan uangnya untuk membeli bunga-bunga ini.
"Aku kira kamu bakal membuangnya," seloroh Nathan sudah menjulang di sisi lain kubikelku, tangan kiriuya memegang cangkir yang isinya masih menguap mengepul. Dari aromanya... kuhirup nafas sedikit panjang, aroma coklat panas.
Dan memang sudah menjadi bakat alami Nathan bisa menebak gelagat orang hanya sekilas pandang. Dan saat ini dia tau betul aku sakau akan coklat panas ditangannya itu.
Nathan seperti tersenyum mengejek.
''Dasar penggila coklat," katanya sambil menyodorkan cangkir ditangannya ke arahku.
Aku tak langsung menyambutnya dan hanya memandanginya, masih dengan tatapan kesal.
"Minumlah sebelum berangkat ke pengadilan, kamu butuh energi untuk sidang perdanamu."
Akhirnya kuterima cangkir berisi coklat panas yang selalu menggodaku itu. Dan senyum manis Nathan tergelar sempurna membuatku langsung menangkap ada bisik-bisik ekspresi histeria dari para penggemar setia Nathan.
Itulah Nathan. Sekalipun dia selalu bersikap semau gue, tapi dia tetaplah tuan muda yang manis. Sejengkel apapun orang yang dibuatnya jengkel tak akan bertahan lama karena Nathan seperti senjata pamungkas yang selalu diperlihatkannya di menit-menit terakhir. Lalu aku bisa apa? Nathan tetaplah Nathan. Meski semua orang menganggap aku ini munafik, pasti akan aku abaikan. Nathan tetaplah adik kecilku yang manis. Tak akan pernah berubah.
"Dia mencintaimu sebagai seorang wanita."
Ah, kalimat yang dilontakan Bian semalam terngiang lagi.
Kuarahkan pandanganku ke Nathan. Matanya masih lekat menatapku. Seperti seorang perawat yang menunggui pasiennya benar-benar meminum obat yang tadi diberikannya.
Aku tergelak sendiri.
Benar-benar, semua yang berhubungan dengan perasaan memang selalu aneh.
Byl, 10/09/2016
Win@rinda, 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar