Senin, 26 September 2016

Chagiya... [Goodbye]



POV Kyungsoo

"Aku pul... " sapaan masuk rumahku terpenggal saat pintu yang kubuka terbuka belum sepenuhnya. "...lang, " lanjutku lirih, sambil menatap ganjil dua pasang sepatu yang terjajar sedikit berantakan tak jauh dari posisi ujung kakiku.

Tanpa meneliti lagi pun aku sudah bisa menebak kalo ini sepatu ukuran namja.
Tunggu, namja? Gendhis menerima tamu? Namja? Selain aku?

Aku bergegas masuk, bahkan sampai tak sempat memakai sandal rumah. Dan di langkah ke tiga, aku terpaku. Di depan sana, di sofa yang biasa aku duduki bersama Gendhis, ada dua namja sekarang. Kualihkan pandanganku ke arah Gendhis yang duduk di bangku bar tak jauh dari mereka. Menatapku dengan berbagai ekspresi yang sulit untuk aku terjemaahkan.

"Oppa... ''

"Siapa mereka?" tanyaku segera setelah sampai di dapur, bahkan pergelangan tangannya masih tercengkeram erat di kelima jariku.

Ini tidak bisa dibiarkan. Gendhis menerima tamu dirumah ini? Harusnya tak ada yang boleh tau tempat ini selain aku. Bahkan se'parno-parno'nya aku seluruh anggota keluarga EXO pun tak ada yang tau tempat ini. Jadi bagaimana Gendhis bisa selancang ini memberitahukan keberadaannya pada orang yang tak kukenal.

"Mereka oppa-ku... dari Indonesia!"

Dan demi mendengar nama Indonesia aku sampai tak sadar melepas genggaman jemariku pada lengannya. Aku kelu. Aku bahkan merasa otakku blank tak menemukan satu kata pun disana. Mata bening Gendhis menatapku penuh arti. Dia seperti ingin menyampaikan bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
Ha, baik-baik saja? Tidak mungkin. Aku tak mungkin akan baik-baik saja jika apa yang kutakutkan sejak tadi akhirnya terjadi juga. Aku tak bisa berpisah darimu, chagiya...

"Mwo?" tanyaku akhirnya, meski sudah sangat terlambat untuk masuk kategori ekspresi kekagetanku tadi.

"Ne!" jawab Gendhis sambil menunduk, seakan menyembunyikan sinar bola matanya yang mungkin memancarkan ekpresi yang terlarang untuk kutau, atau mungkin malah karena tak mau melihat mataku yang penuh dengan api protes.

"Oppa... kita tak bisa terus-terusan begini... "

"Hajima!" keluhku hopeless

"Oppa... "

Tidak, aku benar-benar tak rela semua ini berakhir begini. Sejak jatuh cinta dengan Gendhis aku selalu membayangkan akan membawanya 'keluar' dari sini dengan menggenggam tangannya. Memperkenalkan pada dunia bahwa aku mencintai gadis berkulit gelap dan bermata legam ini. Pun agar semua orang tau, aku tak seperti yang mereka sangka selama ini.

"Apa semua yang terjadi selama ini bagimu hanya semu? Hanya mimpi musim semi yang akan berakhir saat musim panas tiba? Hanya seperti ini?"

"Tidak seperti itu, Oppa..."

"LALU SEPERTI APA?" protesku, kali ini dengan nada suara 5 oktaf lebih tinggi dari biasanya.

Dan demi Kuil Choi Young tempat kami pertama kali bertemu, ini juga pertama kalinya aku bersuara keras pada Gendhis. Dengan aura kemarahan pula. Jangankan Gendhis atau dua namja yang diakui Gendhis sebagai oppa-nya dari Indonesia itu, aku pun tak percaya dengan yang baru saja terjadi.

Dan dampak dari suara 7 oktafku tadi, suasana rumah ini sudah beubah seperti film horor. Sepi mencekam. Jauh berbeda dengan yang biasa terjadi.

"Mian..." lirihku.

Ada beberapa detik senggang waktu Gendhis bereaksi atas permintaan maafku. Wajahnya mendongak sedikit.
Omo... mata legam itu kini memburam oleh cairan bening yang menyelimuti seluruh permukaannya. Sebelah hatiku terasa patah.

"Ani, Oppa, aku yang salah. Aku yang tak berani mengiyakan ajakanmu untuk keluar dari sini. Aku ternyata tak seberani yang kukira. Aku merasa jauh lebih takut dibandingkan saat sendirian di depan kuil dulu, Aku..." kalimatnya terpenggal begitu saja, dan aku masih setia menunggu. Seperti setiaku menunggu keajaiban Gendhis mau sepenuhnya ada bersamaku disini.

Tidak, kenapa ini malah seperti kisah Han Kangwoo yang kuperankan di drama kali ini. Sosok halusinasi yang selalu mengikuti tokoh utama dalam drama itu, Jang Jae Yeol yang diperankan Jo In Sung hyung. Drama yang mendekati episode-episode terakhir itu memang lebih banyak membuatku tampil. Aku sang tokoh halusinasi pada akhirnya 'dipaksa' Hyung untuk pergi karena dia sudah akan bahagia dengan pacarnya Hae Soo nuna.

"Oppa, aku harus pergi, aku harus pulang. Aku... ini bukan tempat yang seharusnya kutinggali, ini... "

Kulumat mata legam yang terlihat sangat gelisah itu dengan pandangan lekat, hingga Gendhis kesulitan menyelesaikan kalimatnya.

"Chagiya..." Kugenggam erat jemarinya, berharap genggaman ini tak bisa dilepaskannya. Berharap genggaman ini bisa membuatnya tetap tinggal meski dengan terpaksa.

"Mianhae, Oppa, mianhae..." katanya sedikit gemetar, seperti benar-benar tak kuasa mengakhiri semua ini secepat ini.

Oh, apa ini yang disebut nelangsa? Kurasakan seluruh permukaan hatiku meluruh saat tangannya melepaskan diri dari cengkeraman jemariku. Demi langit dan bumi, aku tak mau ini terjadi. Tapi entah kenapa aku tak sanggup mencegahnya agar tak terjadi. Dan tangan yang penuh kehangatan, pengusir letihku dengan pijitan-pijitan lembutnya itu, akhirnya benar-benar terlepas.

Tak seharusnya aku hanya diam mematung di tempat melihat Gendhis mengeluarkan 1 koper dan 1 tas ukuran sedang ditentengnya. Dan tas selempang bahan kanvas menghiasi pundaknya. Berjalan perlahan menatapku penuh harap.
Aku tergelak dalam hati.
Berharap? Apa yang diharapkan Gendhis untuk kali ini? Perpisahan yang manis? Bullsit, siapa bilang perpisahan bisa manis? Semua perpisahan itu menyakitkan.

Dua tas bawaan Gendhis tadi sudah berpindah tangan pada 'oppa'-nya. Gendhis menghadap ke arahku dengan tatapan mata yang begitu mengharapkan. Lagi-lagi, mengharapkan apa?

Dan aku tak tau kenapa tiba-tiba Gendhis melangkah lagi ke arahku. Bukan hanya melangkah biasa, tapi sedikit berlari. Menubrukku. Menghempaskan tubuhnya untuk memelukku yang masih mematung. Kedua tangannya melingkar erat di leherku. Tubuhku terpaksa sedikit mencondong karena tarikan tubuhnya, meski aku yakin kaki Gendhis sudah menjinjit maksimal.

"Saranghae, Oppa... " lirihnya disela isaknya yang mulai pecah.

"Kalo kau mencintaiku, harusnya kau tak pergi."

Gendhis akhirnya melepas rangkulan tangannya pada leherku, tepat saat tanganku hendak merengkuh pinggangnya. Aku terpaku nelangsa. Tanganku masih mengambang di udara.

"Mungkin kita memang ditakdirkan begini, bertemu tapi bukan untuk bersama."

Aku tergelak miris mendengar kalimatnya barusan. Ingin aku berteriak lagi, tapi percuma. Itu juga tak akan mengubah apapun. Malah hanya akan mengulang rasa nelangsa menyelimuti hatiku.

Gendhis membelai pipiku lembut, kedua pipinya sendiri sudah basah oleh air mata yang mengalir. Tapi untuk sekedar mengusap air mata itu, akupun tak mampu. Entahlah, seluruh syaraf tubuhku seperti kehilangan fungsinya. Aku seperti patung yang tak bisa bergerak. Hanya otak dan hati yang bergolak.

"Annyeonghi kyeseyo, Oppa..."

Dan, aku benar-benar seperti terkena special effect di MV Mama . Hatiku serasa tercerai berai. Hancur berantakan.
Oke, aku akui ini terlalu hiperbolis. Tapi aku bisa apa? Selama setahun terakhir ini aku mati-matian mempertahankan Gendhis ada disampingku. Jadi jika pada akhirnya semua malah seperti ini, apa aku terlalu berlebihan mendapati diriku sendiri seperti orang tak berpengharapan hidup?Apa yang aku harapkan lagi jika satu-satunya harapan yang selama ini kujaga dari badai dan hujan bahkan debu, pada akhinya hilang tak berbekas?

Dan aku masih seperti patung saat kaki Gendhis beringsut dari tempatnya berpijak tadi. Dan meski aku yakin Gendhis berat hati melangkah mundur meninggalkanku, dengan tatapan yang masih diselingi tetesan air mata, aku tetap tak mengerti kenapa tetap melangkah pergi. Seperti rasa tak mengertiku kenapa hanya diam mematung.

Sampai di ambang pintu pun mata legam Gendhis masih menatapku nanar, lengkap dengan air mata yang masih mengalir. Membuatku makin nelangsa.

Jika kau bersedih dengan perpisahan ini, kenapa tetap pergi?

Dan dentuman pelan pintu yang menelan tubuh mungil Gendhis lebih seperti godam besar yang menghantam tubuhku. Meremukkan semua tulang-tulangku. Aku meluruh.

Gomawo, Chagiya... kau menginginkanku, kau mendapatkanku, dan pada akhirnya kau menyakitiku. Ini seperti lagu Overdose sedang menyusup dalam kehidupanku. Dan aku tau, aku tak terselamatkan.





BYL, 26.09.2016
win@rinda







*Gak tau kenapa tadi siang tiba-tiba kepikiran nuntasin part ini. Soalnya ysng selanjutnya udah minta di eksekusi. Semoga setelah melewati part ini, part selanjutnya, yang mungkin ending dari keseluruhan FF ini bisa segera diluruskan. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar