Yudok jitge baen neoui hyanggie
bari mukkin nan nae kkumui noye gata
gaseum sok han pyeon bulkkoccgateun gieok yeongicheoreom sarajyeo....
(Hurt, EXO)
Seperti yang sudah kuduga, aku tak bisa hidup seperti sebelum bertemu Gendhis. Sebelah hatiku ada yang hancur berantakan tak bisa direnovasi model apapun.
Berserakan di segala sisi.
Tak terselamatkan.
Perpisahan yang tak direncana dan tak pernah kuduga-meski hanya dalam angan terburukku-itu benar-benar menjadi luka menyayat paling perih dari yang kukira. Ini benar-benar membuatku seperti mematahkan sebelah sayapku ketika aku yakin aku bisa terbang melebihi burung-burung di atas sana.
Gendhis, dia hanya gadis biasa dari negeri bernama Indonesia yang jaraknya 5280 kilometer, atau mungkin malah lebih. Menurut In Sung-Hyung, Indonesia itu sangat menawan, terlebih di kota Bali tempat dia dulu pernah syuting drama di sana tahun 2004. Dan gadis-gadisnya begitu mempesona. Untuk bagian ini aku mengakuinya sendiri. Karena bagiku, Gendhis memang jauh lebih mempesona dari yeoja manapun yang selama ini kutemui.
Ahh... Gendhis lagi.
Setiap kali aku mengingat yeoja berkulit gelap eksotik dengan mata legamnya, hatiku merebak nelangsa. Kesakitan tak berujung itu kian mencekik urat leherku. Aku nyaris seperti robot. Melakukan apa yang jadi kewajiban, selebihnya hanya diam membisu dengan tatapan kosong disudut ruangan tanpa teman..
Untung kegiatanku terbilang sangat padat usai kepergiannya yang seperti meninggalkan gempa berkekuatan 8 skala richter. Aku harus menuntaskan peranku di drama It's Okay That's Love bersama In Sung-hyung. Belum lagi konser-konser EXO yang begitu menguras tenaga. Semua malah seperti pelarian bagiku. Bisa dibilang aku malah terlalu bersemangat dengan semua yang kulakukan. Hanya satu tujuanku, semoga itu bisa 'membunuh' bayang-bayang Gendhis yang masih melekat di otakku.
Ya, 'membunuhnya' meski aku tau dia akan tumbuh lagi beberapa saat kemudian. Tapi paling tidak, ada kata 'mati' tersemat di bayang-bayangnya. Dan aku juga tau meski itu cuma beberapa saat.
"Indonesia? Kita juga konser ke Indonesia? Di kota mana?" tanyaku serius, mengguncang kedua bahu Kai.
"Kamu kenapa, Dio? Aneh, tau. Interest banget dengar kata Indonesia." desis Kai mengerutkan dahinya.
Aku sedikit gelagapan sambil melepas cengkeraman tanganku di bahunya.
"Mmmm... soalnya itu, In Sung-hyung sering cerita padaku soal indahnya Indonesia. Dan itu waktu tahun 2004, bayangkan saja sekarang kaya apa." dalihku , berharap Kai atau siapapun mempercayainya.
"Aha?!" delik Kai mengangkat sebelah alisnya, air mukanya menunjukkan dia tak percaya. Ya, aku bisa baca itu.
Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa memberitahu siapapun akan alasan yang sebenarnya. Aku tak mungkin cerita di negara itu ada yeoja manis bernama Gendhis yang sangat ingin kutemui. Yang sangat kurindui beberapa bulan ini.
Lagipula, jika akhirnya aku ke Indonesia, kecil kemungkinan bahkan mustahil mengharap bertemu Gendhis. Itu sama seperti mencari jarum ditumpukan jerami.
Ingatkan aku bahwa ini bukan sebuah drama yang keajaiban bisa terjadi di tempat-tempat tak terduga, di saat-saat jiwa raga ingin menyerah, atau hanya di akhir cerita. Aku bahkan tak tau kisah ini berakhir atau belum. Ingatkan aku bahwa ini benar-benar elegi yang melilitku sendiri. Tak mampu atau-mungkin- tak mau kulepas.
Aku benar-benar telah berubah menjadi orang yang malas,Sangat malas. Malas melupakannya. Malas mencoba mengakhirinya dengan memulai yang baru. Malas melarangnya saat datang seperti badai tornado. Meski kadang aku punya keinginan kuat membunuhnya. Tapi tetap saja aku malas berjuang keluar dari lingakaran hitam ini.
Intinya, aku tetap kacau.
Dan setelah tahun berganti, semua tetap tak ada yang berubah.
Aku tetap merindukan Gendhis. Tetap berharap ada keajaiban memercik di elegi ini. Tetap berharap Gendhis kembali.
"Kalian, ingatkan aku untuk menjadi orang pertama menghasut kalian untuk tidak mendukung Dio main drama bergenre aneh!" Ultimatum Kai di ruang bersantai kami langsung menjadi pusat perhatian.
Aku hanya menatap sebentar saat kurendahkan majalah yang kubaca. Setelah itu kuposisikan ke tempat semula. Sekaligus mengabaikan tatapan mata yang lain.
Aku benar-benar tak peduli.
Dalam kurun waktu setahun sejak kepergian Gendhis, aku sudah resmi berubah menjadi orang yang lebih menyebalkan dengan ke-diam-anku.
"Waegeura?" tanya Sehun tak sabar menahan penasarannya atas sikap Kai padaku.
"Masih tanya kenapa?"
Kai mendesis seperti menahan giginya agar tidak diremukkannya sendiri.
"Kalian tak lihat dia?" Kini Kai menujuk ke arahku. Yang sudah
jelas-masih- tak kupedulikan.
"Waktu main di It's Okay
That's Love, dia jadi seperti sosok halusinasi yang sering menghilang.
Muncul tiba-tiba, tapi lebih seringnya menghilang entah kemana, Seperti
tertelan ke dimensi lain."
Itu karena aku menemui
Gendhis di apartemen yang jauh dari perkiraan kalian semua. Tempat yang
ya..., seperti di dimensi yang lain.
"Dan sekarang, waktu dia
main di drama Hello Monster sebagai Lee Joon Young, dia juga sudah
seperti monster." Kali ini nada bicara Kai sudah mirip sebuah pengaduan
seorang costumer pada costumer service akan produk abal-abal yang sudah
dibelinya.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan, Kai?" sahut Chanyeoul yang sibuk mengelap, lebih tepatnya mengelus-elus, gitar kesayangannya.
"Ani, kalian
tidak tau saja karena bukan teman sekamarnya. Lha, aku? Kalian gak akan
mengalami gimana cemasnya aku tiap malam. Membayangkan tiba-tiba saat
aku sudah terlelap dia menggorok leherku seperti cara psikopat yang dia
perankan?" Dan ungkapan kekhawatiran Kai malah berbuah tawa membahana di
ruangan ini. Membuat wajah tampan itu merengut kesal. Mata bulan
sabitnya tinggal segaris kecil. Nyaris tak terlihat terbuka.
Akhirnya kutatap Kai dengan mata penuh, lagi lama.
"Omo, lihat itu, dia bahkan bisa mengatakan hal seperti itu tanpa ekspresi!" Itu yang masih sempat kudengar keluar dari bibir Kai, sebelum aku menghilang dibalik pintu.
Andai.
Ya, andai aku bisa menjadi psikopat seperti yang disangkakan Kai. Aku pasti sangat bersyukur. Tokoh Lee Joon Young yang kuperankan-meski hanya pada saat usia muda-sangat membuatku seperti mendapat air dalam dahagaku yang teramat sangat. Seperti sebuah takdir, peran itu benar-benar membuatku mampu menjadi diriku yang kumau. Paling tidak untuk saat ini. Saat aku benar-benar meratapi kehancuranku akan kepergian Gendhis yang sudah tidak baru lagi.
Dan kurasa hanya Kai yang sedikit mencium kejanggalan itu.
Mungkin karena dia teman sekamarku di dorm.
Atau mungkin hanya karena dia tak nyaman dengan sikap-makin-tak-peduliku-dengan-sekitar.
Yang pasti, aku tetap sendirian menikmati pahit getir kesedihan tak berujung ini.
Gendhis sudah seperti sosok Han Kangwoo yang tak akan pernah jadi nyata tapi begitu sempurna menggerogoti kesadaranku. Tapi dilain waktu dia juga seperti Lee Hyun kecil yang lewat kegelisahan ayahnya yang tak sengaja terbaca olehku, membuat aku jatuh cinta dengan rasa penasaranku yang membuncah minta dipuaskan. Dan semakin ke depan, ternyata tidak ada ujung kepuasan itu. Lee Hyun dan Gendhis sama-sama membuatku terpuruk makin dalam seiring berjalannya waktu. Dan sekali lagi, ini seperti takdir. Gendhis seperti Han Kangwoo saat bersamaku dulu. Dan setelah pergi, dia seperti Lee Hyun yang membuatku selalu terobsesi.
Dan itu sama-sama menyakitkan.
BYL, 09/10/2016
Ini semua hasil belajarku cara membuat diksi yang panjang dari baca novelnya Stepheni Meyer MIDNIGHT SUN. Dan aku cukup puas, hehehe
How about you, readers?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar