Untuk beberapa detik aku merasa dunia disekitarku terhenti. Kupandangi dengan takjub sebuah komedi putar tak jauh dari tempatku berdiri. Mungkin untuk ukuran umurku aku memang sudah tak pantas untuk terkagum-kagum dengan pemandangan komedi putar berbagai macam bentuk di sebuah wahana bermain ini. Tapi setelah 25 tahun, inilah pertama kalinya akhirnya aku benar-benar bisa melihat sendiri komedi putar yang seperti ini, seperti yang ada di dalam foto kenangan itu.
" Ini kau waktu masih kecil?" Tanyaku pada Kian yang baru masuk kamar, seraya kusodorkan selembar foto cukup usang.
Kian menatapku kaget. Aku tau apa yang hendak ditunjukkan lewat tatapan mata itu.
" Aku tadi bosan kelamaan menunggumu pulang, jadi aku bermaksud beres-beres rak itu, dan tak sengaja menemukan foto ini. Kau marah?"
Kian tak menyahut dan sepertinya malah terlarut menatap foto yang sudah dipegangnya.
" Masa kecilmu sepertinya sangat bahagia. Tak seperti aku, naik komedi putar pun tak pernah." Lanjutku seperti mengeluh.
Kian masih sibuk menatap foto usang itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya kini, mungkin mengenang masa-masa indah waktu itu.
" Kalau ada waktu, maukah kau menemaniku ke tempat itu? Biarpun sudah bukan anak kecil lagi, aku ingin merasakan bahagianya naik komedi putar seperti kau yang difoto itu. Bisa kan?" Tanyaku, lebih seperti memohon.
Perlahan Kian menatapku. Lalu ada senyum tipis tergelar dibibir manisnya.
" Kasihan sekali gadis ini, bahkan naik komedi putar pun belum pernah." Katanya seperti menggumam, membuatku tersenyum lebar.
Kian membenarkan posisi poniku yang menjuntai menghalangi pandangan.
" Ya, lain kali kita pergi ke sana, kau bisa naik komedi putar sepuasnya. Bersamaku." Lanjutnya berjanji.
Dan senyumku kian lebar saja.
Tapi kini, disini, saat ini, aku malah hampir menangis memandangi komedi putar itu. Mereka terus berputar tak peduli apa yang sedang terjadi disekitarnya. Seperti bayang-bayang Kian yang terus saja berputar-putar dikepalaku, yang tak mempedulikan bahwa itu menyebabkan sakit yang sangat hebat dikepalaku.
2 jam lalu, saat aku berencana memberi surprise pada Kian bahwa hari ini novelet-ku yang bulan lalu kuikutkan lomba di sebuah redaksi yang sangat terkenal lulus seleksi dan menjadi salah satu pemenangnya. Aku ingin menunjukkan pada Kian bahwa usahanya yang mensupportku selama ini dalam hal menulis tak pernah sia-sia. Dan aku berencana mengajaknya ke wahana bermain ini. Tapi....
Mataku terpejam mengingat lagi kejadian 2 jam tadi, di area taman sebelah tempat kerja Kian.
Tiba-tiba aku menyadari seseorang sudah berdiri disebelahku. Aku menoleh. Sosok tampan ditopang tubuh tinggi tegap Kian sudah menjulang dihadapanku dengan wajah yang terkesan tanpa ekspresi.
" Hei, Evelyn, hari itu bukannya kau berharap kita bisa kesini bersama? Kenapa malah kesini sendirian tanpa memberitahuku dulu? Aku telfon pun tak diangkat, untung ada GPS, jadi aku tau kau disini." Cerocosnya seperti mengomeli.
" Tadi sebelum kesini aku ketemu pimpinan redaksi, jadi ponsel aku silent. Lupa menormalkannya lagi karena saat lewat depan sana tiba-tiba saja aku membelokkan kakiku." Dalihku.
Kian tersenyum lalu menatap komedi putar didepan kami.
" Akhirnya kau bisa kesini."
" Hmm.... lebih indah dari yang ada digambar-gambar. Sederhana tapi benar-benar membuatku takjub."
Kian tersenyum lebar menatapku.
" Ayo kita naik!" Ajaknya siap-siap menarik tanganku.
Tapi aku menolak. Aku tak bergeming. Membuat Kian menoleh, menatapku heran.
" Kian, aku...aku mencintaimu." Akuku seadanya, membuat Kian mngerutkan alisnya. Lalu tangannya terjulur ke dahiku.
Aku tersenyum.
" Aku memang sudah gila, Kian. Gila karena mencintaimu."
Kian mendesah menghadap penuh ke arahku.
" Aku tau dihatimu masih ada masa lalu itu. Dan aku tau, posisi dia dihatimu jauh lebih istimewa daripada posisiku. Seseorang itu..." Aku berhenti bicara, menata ulang hatiku yang mulai berantakan.
" Apa kau tau sesuatu?" Selidik Kian cemas.
Aku mengangguk.
" Ya, tentang seseorang itu. Masa lalumu yang tak pernah pergi."
" Eve..." Kian terperangah.
Kueratkan genggaman tangannya pada tanganku.
" Kian, aku tak peduli semua itu. Kau tau kan aku sudah gila. Aku benar-benar tak peduli masa lalu dihatimu itu. Asal kau masih bisa tersenyum bahagia saat bersamaku, itu artinya aku masih punya kesempatan memenangkan hatimu. Aku akan selalu berusaha mendapatkan kesempatan itu."
Kian menatapku tak percaya.
" Karena pria inilah yang pertama kalinya membuatku merasakan kebahagiaan yang tak pernah kurasakn sebelum bertemu dengannya. Pria inilah yang mengajariku untuk selalu percaya bahwa mimpi menjadi seorang penulis cerita itu tak mustahil diwujudkan. Pria ini juga yang akhirnya menemaniku untuk pertama kalinya pergi ke komedi putar, meski sebenarnya tak kuajak." Pengakuanku terus berlanjut tanpa hambatan.
" Dan untuk itu, aku sangat berharap. Benar-benar sangat berharap, pria itu... bersedia membiarkanku selalu ada disisinya. Karena aku yakin, akan banyak lagi 'pertama kalinya' yang akan kudapat nanti. Pria itu, kau Kian."
Lagi-lagi Kian mendesah berat. Sebelah tanganku pun kini digandengnya.
" Kau ini orang baik atau orang bodoh? Kenapa kau mencintai pria yang akan sangat mudah membuatmu sakit hati? Pria itu tak pantas kau cintai seperti itu, Eve." Katanya datar.
Aku tersenyum.
" Aku sudah bilang kan kalau aku tak peduli itu? Dalam hidup, untuk pertama kalinya aku merasakan semacam semangat hidup. Untuk terus hidup, melakukan yang lebih baik. Untuk esok, dan esoknya lagi. Untuk pertama kalinya aku ingin melakukan yang lebih baik setiap harinya. kalau aku mendapat semua itu, mengapa aku harus peduli hal-hal tak penting itu?"
Kian hanya diam. Mungkin akhirnya Kian menyerah untuk membiarkanku berusaha menjadi pemenang itu.
" Eve, aku mungkin juga harus jujur padamu." Kata Kian akhirnya. Matanya begitu lekat menatapku.
" Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa gadis dihadapanku ini seperti ombak dipantai. Punya semangat yang bahkan aku sendiri tak memilikinya meskipun hanya setengahnya. Gadis yang kukira gadis baik yang terlalu bodoh yang selalu berusaha mencari posisi dihatiku ini ternyata sangat sulit untuk kuhalangi memasuki duniaku. Dia mencoba dan terus mencoba. 10 kali aku mendorongnya menjauh, 100 kali dia mencoba mendekat lagi. Aku sepertinya mulai menyerah dan kan membiarkan dia masuk, menguasai semuanya." Akunya.
Aku tersenyum merasakan genggaman tangannya kian erat.
" Gadis itu pula yang membuatku untuk merasakan ingin menemaninya selama yang kubisa." Lanjut Kian
Aku berhambur memeluk tubuh tinggi tegap itu. Kian memelukku lembut.
" Tapi maaf, kalau aku belum sepenuhnya lepas dari masa lalu itu. Percayalah, aku sedang dan slalu berusaha melepasnya. Aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama."
Tuhan, jika ini terlalu naif, maafkanlah aku. Dan bantu aku yakinkan diri bahwa pria ini akan selalu menjadi alasan yang pertama aku punya semangat hidup. Tuhan, untuk pertama kalinya rasanya dunia ini benar-benar kuingin berhenti berputar. Agar masa lalu itu tetap tertinggal dibelakang sana. Pintaku dalam hati.
" Tenanglah, jika semua itu benar-benar bisa berakhir, kau pasti tau kan cara menemukanku meski kau tak bisa menghubungiku?" Kataku kemudian.
Dan, dari balik tubuh pria itu aku masih menikmati komedi putar itu. Dan, untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hidup itu tak ubahnya seperti komedi putar yang sedang berputar. Akan terus berputar apapun yang terjadi. Tak peduli ada yang menanti untuk terus melaju atau mengharapnya berhenti. Tak akan berhenti meski tak seorangpun mempedulikannya. Tapi pada masa-masa tertentu, ada kalanya sebuah titik itu terlihat lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sebuah masa dimana sebelum ada Evelyn dalam kehidupan Kian. Masa dimana masa lalu itu bertahta kuat dalam kehidupan Kian. Tapi, bukankah hidup itu tak jauh beda dengan komedi putar yang tak akan berhenti berputar selama belum dihentikan pemiliknya?
Minggu, 29 Maret 2015
Sabtu, 28 Maret 2015
AKHIR SEBUAH PENANTIAN
Mobil mewah yang kutumpangi bersama pria parlente tampan dan berwibawa itu terhenti disebuah halaman luas sebuah rumah besar. Ah... ini bukan rumah. Ini lebih mirip sebuah istana. Halaman luas yang pepohonan tinggi dan semaknya terawat dengan baik. Bunga-bunga bermacam warna juga menghiasi dengan cantiknya.
" Ayo turun!" Ajaknya membuka pintu mobilnya.
Aku mendesah berat sebelum membuka pintu mobil dan menurunkan kakiku dengan malas.
Sejam lalu, pria parlente itu, Pramudya namanya, menemuiku didepan rumahku di perkampungan kumuh. Aku juga sempat kaget, karena orang sewibawa itu mampu menginjakkan kakinya di tempat tak layak begitu.
" 1 jam saja, aku ingin mengajakmu dan menunjukkan sesuatu padamu. Please!" Pintanya sedikit memelas.
Aku tak sadar tergelak.
" Maaf, tapi sepertinya tak ada yang harus kita bicarakan. Bagaimana mungkin jutawan seperti anda punya urusan dengan orang rendahan seperti saya?"
" Astuti...!!" Hardiknya dengan suara tertahan.
Aku melengos menghindari tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu, dulu sekali, selalu meredam amarahku. Tatapan mata yang selalu bisa membuatku kembali berdiri kala hampir terpuruk.
" Apa ini semua karena aku?" Tanyanya
Aku diam.
" Apa aku yang menyebabkan Astuti yang dulu sangat hangat seperti matahari pagi, kini berubah sangat keras dan dingin?" Lanjutnya meracau sedih.
Aku tak mau terlarut dalam kenangan masa lalu itu lebih lama lagi. Kutatap Pramudya.
" Kau tadi mau mengajakku kemana? Ayo kita mulai secepatnya. Aku juga harus bekerja." Ucapku dingin.
Dan disinilah ternyata Pramudya mengajakku. Perlu waktu lebih dari setengah jam untuk sampai kesini.
" Dulu aku pernah berjanji padamu akan membuatkanmu sebuah istana."
Kutatap Pramudya yang penuh senyum bangga menatap bangunan megah nan mewah dihadapan kami.
" Inilah istana yang kujanjikan itu, As. Sekarang, kau tinggal masuk kedalamnya bersamaku." Lanjutnya menatapku.
Aku tergelak lagi, tapi bukan tak sengaja. Karena aku merasa yang dikatakan Pramudya terlalu lucu.
" Kenapa? Kau tak percaya aku telah berhasil menepati janjiku membuatkanmu sebuah istana?"
Kuperhatikan lebih detail bangunan dihadapanku. Benar-benar indah.
" Sangat indah, sayangnya untuk menunggu istana ini terlalu banyak luka dan air mata yang harus kulalui. Apa itu sepadan?" Tanyaku cetus, kembali menatap Pramudya.
" Astuti..."
Ya, terlalu banyak luka dan air mata untuk menunggu bisa melihat pemberian Pramudya yang disebutnya 'istana' ini. Dan selama masa menunggu itu, kehidupanku begitu keras hingga tak terhitung kudapati hancur berkeping. Butuh banyak kekuatan dan tekad untuk memunguti dan merekatkannya lagi. Apakah ini bisa disebut akhir yang sepadan jika dibandingkan dengan kekerasan hidupku selama ini?
"Maaf jika selama ini aku meninggalkanmu disitu. Aku pergi keatas untuk menggapai apa yang dulu kita impikan. Dan sekarang aku menjemputmu, As. Mulai sekarang aku akan membayar semua air mata dan luka yang selama ini kau rasakan, aku..."
" Berapa?" Selaku cepat, menatapnya lekat.
" Apa?" Pramudya kaget.
" 100 milyar? 200 milyar? Kau punya berapa? Bahkan sekalipun kau berikan semua hartamu, juga istanamu ini, belum cukup untuk membayar air mata dan luka yang kau sebabkan."
" As..."
Kualihkan pandanganku lalu mendesah jengkel.
" Katakanlah semua apa yang kau ingin asal aku bisa membayar semua penderitaanmu. Sekalipun itu dengan nyawaku."
Aku tergelak.
" Astuti, aku harus bagaimana lagi agar kau mau kembali padaku!" Geram Pramudya dengan suara cukup tinggi.
Pengkhianatan. Itulah yang tak pernah bisa kumaafkan. Itulah yang setiap hari menciptakan luka dan air mata. 7 tahun lalu, aku membantu Pramudya dengan segala cara agar dia bisa masuk seleksi perekrutan karyawan baru disebuh perusahaan raksasa itu. Bahkan aku sampai tak memperdulikan hidupku. Tapi saat dia sudah berhasil masuk, dia melepas tanganku. Demi meraih tangan yang lain. Dan itu sangat menyakitkan.
" Kau tak perlu melakukan apapun, kau sudah ada diatas dengan semua impian digenggaman tanganmu. Dan istana ini, bahkan namaku pun tak pantas masuk ke dalam. Apalagi jika ditambah dengan latar belakangku? Hanya akan mengotori lantai marmernya."
" Astuti, apa bahasamu perlu sekasar itu?"
" Inilah realita, Pram. Kau dan aku sudah terlalu lama ada di dunia yang sangat berbeda. Duniaku adalah perkampungan kumuh dengan sampah dimana-mana, setiap hari harus membanting tulang bekerja agar tetap bisa bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan duniamu?" Kupandangi wajah tampan itu " Dunia yang aku pun bahkan tak cukup mampu membayangkannya. Yang terlalu mewah dan megah dengan segala kemudahan."
Wajah tampan itu menunduk sedih.
" Tenanglah, kau baik-baiklah di duniamu. Aku juga akan baik-baik saja di duniaku. Aku tak akan mampu merangkak naik ke dunia mewah itu, dan kau juga tak perlu turun menjemputku."
" Kenapa aku tak pernah bisa mengalahkan kepala batumu?!" Desisnya seperti putus asa.
" Aku tau aku salah telah meninggalkanmu dulu, tapi sekarang aku ingin menepati janjiku. Istana itu, aku buat untukmu. Kita akan tinggal didalamnya. Menikmati sisa hidup dengan semua keindahannya, kemewahannya."
" Sudah kubilang, semua hartamu juga istanamu ini tak mampu untuk membayar luka dan air mataku."
Pramudya menatapku lain, lebih mirip sebuah amarah. Kualihkan pandanganku dengan sedikit senyum.
" Setelah kuperhatikan, dunia itu, dunia yang dulu kau impikan akan pergi bersamaku itu, sepertinya sangat membosankan."
'' Kau salah. Dunia itu sangat indah, sangat mewah. Bahkan dulu, dalam mimpiku pun tak kubayangkan seindah itu. Awalnya kukira itu sebuah mimpi, hingga puluhan kali aku sering menampar pipiku sendiri. Tapi dunia itu tetap ada dihadapanku. Sekarang, aku ingin terus dalam mimpi indah itu, aku tak ingin bangun. Aku ingin selalu dalam dunia impian itu. " Katanya datar.
Aku mengangguk mengerti.
" Begitukah? Kalau begitu kau tak perlu menjemputku. Karena untuk menjemputku kau perlu turun ke bawah, meski hanya sebentar, kau tetap harus turun dititik terendah, meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kau rasakan. Apa kau sanggup melakukannya?"
Pramudya diam tak menjawab pertanyaanku. Aku tergelak sinis.
" Kau tak sanggup melakukannya kan? Itulah sebabnya aku melarangmu menjemputku." Lanjutku lebih seperti mencemoohnya.
Pramudya mendesah panjang.
" Kau bersikap begini, apa benar-benar kuat atau hanya pura-pura?"
Mataku hampir membulat mendengar pertanyaannya kali ini. Kualihkan pandanganku untuk menghindari tatapan menyelidiknya.
" Kau kuat berapa lama untuk bisa bersikap sok tegar begini? Sehari? Dua hari?" Lanjutnya masih memberondongku.
" 7 tahun." Jawabku kemudian. Kutatap mata indah itu dengan sisa ketegaranku yang ingin kupamerkan pada pria dihadapanku ini.
" Aku sudah bisa bertahan selama 7 tahun. Dan aku yakin untuk 7 tahun kedepan aku juga akan tetap bisa bertahan, bahkan juga akan bertahan untuk 7 tahun selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya." Lanjutku yakin.
'' Kau tak percaya? Kau harus percaya, karena kau juga tau, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup keras begini. Jadi meskipun masa-masa itu adalah sangat sulit, aku pasti bisa melaluinya."
7 tahun lalu saat masa-masa sulit itu baru dimulai, aku sering berharap penantianku diujung jalan menuju rumahku itu aku akan melihatnya datang menemuiku. Aku selalu yakin dia akan datang seperti yang dia janjikan. Aku menunggu dan menunggu. Aku kira penantianku itu tak akan jauh beda dengan yang terjadi di drama-drama romantis kesukaanku. Yang meski terlambat, tapi dia akan datang dengan senyum dan memelukku menghapus gundahku. Tapi mungkin aku memang hanya gadis kampung yang polos, bodoh, dan naif. Yang terlalu berharap seorang pangeran yang telah menemukan sebuah istana akan menjemput cinderelanya. Karena setiap hari, sampai ribuan hari yang datang bukan pangeranku, tapi luka yang selalu menciptakan air mata.
" Apa kau membenciku? Sangat membenciku?" Tanya Pramudya sedih.
" Tidak. Bukan itu. Mungkin karena aku terlalu banyak mendapati luka itu, terlalu sering meratapi luka itu, aku bahkan lama-lama kehilangan rasa. Mati rasa. Hatiku tak bisa lagi merasakan semuanya." Ralatku.
'' Maaf."
Aku tersenyum.
" Aku tak butuh maafmu. Kau juga tak perlu lakukan itu. Daripada kau repot-repot minta maaf, lebih baik kau rajinlah berdoa agar kau tetap aman diduniamu diatas sana. Baik-baiklah diduniamu yang penuh kemewahan itu. Karena jika, dan jika suatu saat Tuhan ingin memutar roda hidupmu hingga kau kembali ke bawah kau tak bisa mencariku lagi." Kataku membuat wajah tampannya sayu.
" Jika saat itu tiba, apapun alasanmu jangan mencariku lagi. Karena aku sudah tak ada didunia itu lagi. Jadi aku berharap, berdoalah selalu agar kau selalu didunia impianmu itu. Dunia yang aku bahkan tak bisa membayangkannya."
Mata Pramudya kian sayu. Aku hampir tak kuasa melihatnya.
" Baiklah, aku harus pergi. Aku harus bekerja." Pamitku hendak beringsut.
" Apa mengantarmu pun sudah tak kau ijinkan?"
Kulirik mobil mewah mengkilap disampingku.
" Kau tau kan aku paling tak bisa terlalu lama dengan AC? Aku tadi sebenarnya mulai merasa flu, jadi kalau harus merasakan AC setengah jam lagi, aku bisa benar-benar flu." Kilahku ringan.
" Tak apa, aku lebih nyaman naik angkot atau metromini. Karena itulah duniaku." Lanjutku buru-buru melangkah.
Mungkin ini memang cukup menyakitkan untuk menjadi sebuah akhir. Akhir dari penantianku yang naif. Tak apalah, karena memang beginilah kerasnya duniaku. Dunia yang sederhana yang untuk bertahan hidup harus mengerahkan semua tenaganya. Dan untuk istana dibelakangku itu, itu terlalu mustahil untuk berada diduniaku. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Istanaku adalah rumah kecil diperkampungan kumuh itu. Istana yang penuh dengan cinta dan tanpa pengkhianatan, apalagi luka dan air mata penantian.
" Ayo turun!" Ajaknya membuka pintu mobilnya.
Aku mendesah berat sebelum membuka pintu mobil dan menurunkan kakiku dengan malas.
Sejam lalu, pria parlente itu, Pramudya namanya, menemuiku didepan rumahku di perkampungan kumuh. Aku juga sempat kaget, karena orang sewibawa itu mampu menginjakkan kakinya di tempat tak layak begitu.
" 1 jam saja, aku ingin mengajakmu dan menunjukkan sesuatu padamu. Please!" Pintanya sedikit memelas.
Aku tak sadar tergelak.
" Maaf, tapi sepertinya tak ada yang harus kita bicarakan. Bagaimana mungkin jutawan seperti anda punya urusan dengan orang rendahan seperti saya?"
" Astuti...!!" Hardiknya dengan suara tertahan.
Aku melengos menghindari tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu, dulu sekali, selalu meredam amarahku. Tatapan mata yang selalu bisa membuatku kembali berdiri kala hampir terpuruk.
" Apa ini semua karena aku?" Tanyanya
Aku diam.
" Apa aku yang menyebabkan Astuti yang dulu sangat hangat seperti matahari pagi, kini berubah sangat keras dan dingin?" Lanjutnya meracau sedih.
Aku tak mau terlarut dalam kenangan masa lalu itu lebih lama lagi. Kutatap Pramudya.
" Kau tadi mau mengajakku kemana? Ayo kita mulai secepatnya. Aku juga harus bekerja." Ucapku dingin.
Dan disinilah ternyata Pramudya mengajakku. Perlu waktu lebih dari setengah jam untuk sampai kesini.
" Dulu aku pernah berjanji padamu akan membuatkanmu sebuah istana."
Kutatap Pramudya yang penuh senyum bangga menatap bangunan megah nan mewah dihadapan kami.
" Inilah istana yang kujanjikan itu, As. Sekarang, kau tinggal masuk kedalamnya bersamaku." Lanjutnya menatapku.
Aku tergelak lagi, tapi bukan tak sengaja. Karena aku merasa yang dikatakan Pramudya terlalu lucu.
" Kenapa? Kau tak percaya aku telah berhasil menepati janjiku membuatkanmu sebuah istana?"
Kuperhatikan lebih detail bangunan dihadapanku. Benar-benar indah.
" Sangat indah, sayangnya untuk menunggu istana ini terlalu banyak luka dan air mata yang harus kulalui. Apa itu sepadan?" Tanyaku cetus, kembali menatap Pramudya.
" Astuti..."
Ya, terlalu banyak luka dan air mata untuk menunggu bisa melihat pemberian Pramudya yang disebutnya 'istana' ini. Dan selama masa menunggu itu, kehidupanku begitu keras hingga tak terhitung kudapati hancur berkeping. Butuh banyak kekuatan dan tekad untuk memunguti dan merekatkannya lagi. Apakah ini bisa disebut akhir yang sepadan jika dibandingkan dengan kekerasan hidupku selama ini?
"Maaf jika selama ini aku meninggalkanmu disitu. Aku pergi keatas untuk menggapai apa yang dulu kita impikan. Dan sekarang aku menjemputmu, As. Mulai sekarang aku akan membayar semua air mata dan luka yang selama ini kau rasakan, aku..."
" Berapa?" Selaku cepat, menatapnya lekat.
" Apa?" Pramudya kaget.
" 100 milyar? 200 milyar? Kau punya berapa? Bahkan sekalipun kau berikan semua hartamu, juga istanamu ini, belum cukup untuk membayar air mata dan luka yang kau sebabkan."
" As..."
Kualihkan pandanganku lalu mendesah jengkel.
" Katakanlah semua apa yang kau ingin asal aku bisa membayar semua penderitaanmu. Sekalipun itu dengan nyawaku."
Aku tergelak.
" Astuti, aku harus bagaimana lagi agar kau mau kembali padaku!" Geram Pramudya dengan suara cukup tinggi.
Pengkhianatan. Itulah yang tak pernah bisa kumaafkan. Itulah yang setiap hari menciptakan luka dan air mata. 7 tahun lalu, aku membantu Pramudya dengan segala cara agar dia bisa masuk seleksi perekrutan karyawan baru disebuh perusahaan raksasa itu. Bahkan aku sampai tak memperdulikan hidupku. Tapi saat dia sudah berhasil masuk, dia melepas tanganku. Demi meraih tangan yang lain. Dan itu sangat menyakitkan.
" Kau tak perlu melakukan apapun, kau sudah ada diatas dengan semua impian digenggaman tanganmu. Dan istana ini, bahkan namaku pun tak pantas masuk ke dalam. Apalagi jika ditambah dengan latar belakangku? Hanya akan mengotori lantai marmernya."
" Astuti, apa bahasamu perlu sekasar itu?"
" Inilah realita, Pram. Kau dan aku sudah terlalu lama ada di dunia yang sangat berbeda. Duniaku adalah perkampungan kumuh dengan sampah dimana-mana, setiap hari harus membanting tulang bekerja agar tetap bisa bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan duniamu?" Kupandangi wajah tampan itu " Dunia yang aku pun bahkan tak cukup mampu membayangkannya. Yang terlalu mewah dan megah dengan segala kemudahan."
Wajah tampan itu menunduk sedih.
" Tenanglah, kau baik-baiklah di duniamu. Aku juga akan baik-baik saja di duniaku. Aku tak akan mampu merangkak naik ke dunia mewah itu, dan kau juga tak perlu turun menjemputku."
" Kenapa aku tak pernah bisa mengalahkan kepala batumu?!" Desisnya seperti putus asa.
" Aku tau aku salah telah meninggalkanmu dulu, tapi sekarang aku ingin menepati janjiku. Istana itu, aku buat untukmu. Kita akan tinggal didalamnya. Menikmati sisa hidup dengan semua keindahannya, kemewahannya."
" Sudah kubilang, semua hartamu juga istanamu ini tak mampu untuk membayar luka dan air mataku."
Pramudya menatapku lain, lebih mirip sebuah amarah. Kualihkan pandanganku dengan sedikit senyum.
" Setelah kuperhatikan, dunia itu, dunia yang dulu kau impikan akan pergi bersamaku itu, sepertinya sangat membosankan."
'' Kau salah. Dunia itu sangat indah, sangat mewah. Bahkan dulu, dalam mimpiku pun tak kubayangkan seindah itu. Awalnya kukira itu sebuah mimpi, hingga puluhan kali aku sering menampar pipiku sendiri. Tapi dunia itu tetap ada dihadapanku. Sekarang, aku ingin terus dalam mimpi indah itu, aku tak ingin bangun. Aku ingin selalu dalam dunia impian itu. " Katanya datar.
Aku mengangguk mengerti.
" Begitukah? Kalau begitu kau tak perlu menjemputku. Karena untuk menjemputku kau perlu turun ke bawah, meski hanya sebentar, kau tetap harus turun dititik terendah, meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kau rasakan. Apa kau sanggup melakukannya?"
Pramudya diam tak menjawab pertanyaanku. Aku tergelak sinis.
" Kau tak sanggup melakukannya kan? Itulah sebabnya aku melarangmu menjemputku." Lanjutku lebih seperti mencemoohnya.
Pramudya mendesah panjang.
" Kau bersikap begini, apa benar-benar kuat atau hanya pura-pura?"
Mataku hampir membulat mendengar pertanyaannya kali ini. Kualihkan pandanganku untuk menghindari tatapan menyelidiknya.
" Kau kuat berapa lama untuk bisa bersikap sok tegar begini? Sehari? Dua hari?" Lanjutnya masih memberondongku.
" 7 tahun." Jawabku kemudian. Kutatap mata indah itu dengan sisa ketegaranku yang ingin kupamerkan pada pria dihadapanku ini.
" Aku sudah bisa bertahan selama 7 tahun. Dan aku yakin untuk 7 tahun kedepan aku juga akan tetap bisa bertahan, bahkan juga akan bertahan untuk 7 tahun selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya." Lanjutku yakin.
'' Kau tak percaya? Kau harus percaya, karena kau juga tau, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup keras begini. Jadi meskipun masa-masa itu adalah sangat sulit, aku pasti bisa melaluinya."
7 tahun lalu saat masa-masa sulit itu baru dimulai, aku sering berharap penantianku diujung jalan menuju rumahku itu aku akan melihatnya datang menemuiku. Aku selalu yakin dia akan datang seperti yang dia janjikan. Aku menunggu dan menunggu. Aku kira penantianku itu tak akan jauh beda dengan yang terjadi di drama-drama romantis kesukaanku. Yang meski terlambat, tapi dia akan datang dengan senyum dan memelukku menghapus gundahku. Tapi mungkin aku memang hanya gadis kampung yang polos, bodoh, dan naif. Yang terlalu berharap seorang pangeran yang telah menemukan sebuah istana akan menjemput cinderelanya. Karena setiap hari, sampai ribuan hari yang datang bukan pangeranku, tapi luka yang selalu menciptakan air mata.
" Apa kau membenciku? Sangat membenciku?" Tanya Pramudya sedih.
" Tidak. Bukan itu. Mungkin karena aku terlalu banyak mendapati luka itu, terlalu sering meratapi luka itu, aku bahkan lama-lama kehilangan rasa. Mati rasa. Hatiku tak bisa lagi merasakan semuanya." Ralatku.
'' Maaf."
Aku tersenyum.
" Aku tak butuh maafmu. Kau juga tak perlu lakukan itu. Daripada kau repot-repot minta maaf, lebih baik kau rajinlah berdoa agar kau tetap aman diduniamu diatas sana. Baik-baiklah diduniamu yang penuh kemewahan itu. Karena jika, dan jika suatu saat Tuhan ingin memutar roda hidupmu hingga kau kembali ke bawah kau tak bisa mencariku lagi." Kataku membuat wajah tampannya sayu.
" Jika saat itu tiba, apapun alasanmu jangan mencariku lagi. Karena aku sudah tak ada didunia itu lagi. Jadi aku berharap, berdoalah selalu agar kau selalu didunia impianmu itu. Dunia yang aku bahkan tak bisa membayangkannya."
Mata Pramudya kian sayu. Aku hampir tak kuasa melihatnya.
" Baiklah, aku harus pergi. Aku harus bekerja." Pamitku hendak beringsut.
" Apa mengantarmu pun sudah tak kau ijinkan?"
Kulirik mobil mewah mengkilap disampingku.
" Kau tau kan aku paling tak bisa terlalu lama dengan AC? Aku tadi sebenarnya mulai merasa flu, jadi kalau harus merasakan AC setengah jam lagi, aku bisa benar-benar flu." Kilahku ringan.
" Tak apa, aku lebih nyaman naik angkot atau metromini. Karena itulah duniaku." Lanjutku buru-buru melangkah.
Mungkin ini memang cukup menyakitkan untuk menjadi sebuah akhir. Akhir dari penantianku yang naif. Tak apalah, karena memang beginilah kerasnya duniaku. Dunia yang sederhana yang untuk bertahan hidup harus mengerahkan semua tenaganya. Dan untuk istana dibelakangku itu, itu terlalu mustahil untuk berada diduniaku. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Istanaku adalah rumah kecil diperkampungan kumuh itu. Istana yang penuh dengan cinta dan tanpa pengkhianatan, apalagi luka dan air mata penantian.
terinspirasi nonton drakor THE INNOCENT MAN
Jumat, 27 Maret 2015
A NAME OF STORY
Aku masih memegangi kaca bedakku dengan tangan sedikit gemetar. Mengamati wajahku yang sedikit lebam pada pipiku yang tadi baru saja terkena tamparan keras dari Camay. Rasa panas masih terasa menjalari seluruh wajahku, tapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit dihatiku. Mataku terpejam.
Plaaakkkkk!
Semua mata saat itu langsung mengarah pada kami. Sempat kulihat dengan jelas mata sipit Camay membelalak marah.
" Kuharap tamparan itu bisa menyadarkan kau ini siapa." Geramnya.
" Ada apa ini May, kok datang-datang menamparku?" Aku mencoba membela diri.
Camay tergelak sinis.
" Apa aku perlu jelaskan ke semua orang kenapa aku sampai menamparmu? Hah?!" Camay makin geram.
Aku menunduk. Kupegangi pipiku yang masih terasa panas. Lalu kusadari ada sebuah langkah mendekati tempatku bersembunyi ini. Aku buru-buru mendongak mencari tau. Seraut wajah milik Luna menatapku seperti tanpa ekspresi. Aku menunduk lagi.
" Kau pasti datang juga untuk menyalahkanku kan Lun? Sama seperti mereka tadi. Kau pasti juga tak menyangka kan kalo aku ternyata yang selama ini dibicarakan Camay? Cewek yang selalu menjadi teror dalam hubungannya dengan Linggar?" Ucapku parau.
Luna malah mendekatiku dan duduk disebelahku.
" Meski dalam 1 departemen tapi aku tak begitu akrab dengan Camay, jadi aku tak begitu tau tentang masalah ini." Sanggahnya.
" Pakailah ini, biar bekas lebam dipipimu bisa cepat hilang." Lanjut Luna menyodorkan kain berisi kompres es.
Kutatap Luna yang tersenyum, kami memang cukup dekat tapi Luna tak pernah tau rahasia hubunganku dengan Linggar, tunangan Camay. Kuterima kompres itu dan menempelkannya ke pipiku perlahan.
" Kami saling mencintai sejak masih SMU, Lun. Bahkan sampai sekarang." Ucapku membuka cerita.
" Kau juga punya cincin dijarimu kan?" Tanya Luna seperti mengingatkanku bahwa dijari manisku juga melingkar cincin pemberian Audriq yang dipasangkannya setahun lalu sebelum dia berangkat mengarungi samudra dalam tugasnya.
" Aku tau, Lun. Bahkan saat Linggar memutuskan akan menikahi Camay, kami tetap tak bisa menghentikan perasaan ini, Lun. Aku benar-benar mencintainya, Lun, sangat mencintainya." Ceracauku.
" Apa kau bahagia?"
" Apa?!" Aku tak mengerti arah pertanyaannya
" Kalo itu cinta, sesulit apapun jalannya tetap akan membuat kita bahagia. Tapi kalo perasaanmu pada Linggar malah membuatmu menderita dan selalu merasa bersalah pada Camay dan juga tunanganmu, itu bukan cinta. Hanya perasaan yang seharusnya sudah tak ada."
" Apa aku yang salah, Lun? Aku tak bisa berhenti mencintainya, bahkan setelah aku bertunangan dan dia pun memutuskan akan menikahi Camay. Aku tak bisa mengendalikan perasaan ini, Lun. Dan setiap kali dia datang dengan wajahnya yang penuh cinta aku makin tak bisa membendung perasaan ini. " Ceracauku seadanya.
Luna meraih jemariku dan saat aku menatap wajahnya, dia tersenyum lembut.
" Cinta tak pernah salah, hanya, kita mungkin yang telah salah menyerahkannya pada orang yang kita kira benar."
Dan ucapan Luna itu membuat sebuah bayangan hadir dalam pikiranku. Linggar. Tak ada yang salah dalam hubungan kami. Paling tidak pada awalnya. Sekitar 7 tahun lalu. Kami 2 orang yang saling mencintai dan berharap bisa hidup bahagia. Dan menurutku saat itu tak ada yang salah. Hingga kemudian datang Camay diantara kami. Mungkin memang inilah yang disebut, awalnya mencintai siapa tapi akhirnya malah bersama siapa. Begitupun Linggar yang kemudian malah melabuhkan hatinya pada Camay, akupun menambatkan hatiku pada Audriq. Tapi kenyataan itu tak mampu menenggelamkan cintaku pada Linggar.
" Bukan aku yang mulai Lun, tapi Linggar. Dia yang datang berwajah penuh cinta. Dia memanfaatkan perasaanku yang belum bisa melupakannya..."
" Tak akan timbul asap jika tak ada api."
Aku tergelak mendengar ucapan Luna. Amarahku tersulut. Kukira dengan menemuiku serta membawakanku kompres es Luna datang sebagai orang yang mengerti posisiku. Ternyata tak jauh beda dengan mereka tadi.
" Benar kan? Jika dari awal kau bisa menolak Linggar kau tak mungkin terjebak lebih dalam."
" Siapa kau?" Desisku dingin.
" Apa?"
" Aku kira kedatanganmu tadi karena kau tak seperti mereka yang hanya bisa menyalahkanku tanpa peduli apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ternyata aku salah." Lanjutku kian geram melempar kompres es ditanganku dan berlalu.
Tapi belum genap 3 langkah Luna angkat bicara.
" Aku tau."
Aku berhenti melangkah.
" Aku tau rasanya ada diposisimu sekarang. Aku tau rasanya dipersalahkan saat justru sebenarnya kita adalah korban. "
Kubalikkan badanku menatap Luna lagi. Wajahnya hampir tak berekspresi saat ini. Seakan semua hal yang seharusnya terlihat, ditekannya kuat-kuat ke dasar hatinya.
" Aku tau bagaimana rasanya saat tak bisa membela diri karena terlalu banyak yang menyalahkan, bahkan tak satupun yang memihak kita. Aku tau."
Lama-lama aku teringat tentang kisah hidup Luna yang sempat kudengar dari beberapa teman kerja. Bahwa Luna pernah ditinggal tunangannya seminggu sebelum pernikahan mereka. Tapi aku tak tau penyebabnya. Hanya banyak yang mengakui bahwa usai kejadian itu Luna menjadi sosok berhati keras. Hingga akhirnya kini dia bisa menjadi salah satu manager di perusahaan sebesar ini.
" Tapi apapun alasannya, sebuah perselingkuhan sedikit banyak akan merugikan. Apa kau pikir bisa bersikap seolah-olah tak terjadi apapun? Bahkan jika mungkin tunanganmu akhirnya meninggalkanmu, siapa yang bisa kau salahkan kecuali dirimu sendiri?"
" Apa?"
Luna mengalihkan pandangannya seakan sengaja menyembunyikan kelemahannya yang sempat terpancar dikedua matanya.
Aku memang tak cukup mengenal Luna, meski aku sudah bekerja disini lebih dari 3 tahun. Saat aku masuk ke perusahaan ini Luna sudah ada disini, dan dia sudah seperti ini. Meski beda departemen, dan meski sebagai senior, tapi tiap kali bertemu dia selalu menyempatkan diri menyapaku. Aku hanya tak pernah peduli dan mengurusi tentang latar belakang apalagi masa lalunya.
" 4 tahun lalu, seminggu sebelum pernikahan tunanganku meninggalkanku." Katanya mulai membuka cerita. Langkahnya mendekati jendela kaca besar yang menghubungkan dengan jalan raya. Matanya menerawang.
" Menggelikan sekaligus menyakitkan. pernikahan yang sudah didepan mata malah hancur gara-gara cinta tak berarti dengannya."
" Dengannya?" Ulangku tak mengerti dengan yang dimaksud Luna 'dengannya'.
Luna menatapku lagi.
" 4 tahun lalu, awal hubungan Linggar dengan Camay kan?"
Aku kaget.
" Bagaimana kau tau?"
Luna mendesah berat.
" Itulah akhir kisahku dengan tunanganku, dan semua itu karena dia tau aku diam-diam terjerat cinta seorang pria, yang ternyata tak mengerti apa itu cinta." Lanjut Luna dengan sederet tawa sinis.
" Lalu apa hubungannya dengan Linggar dan Camay."
" Karena pria yang menjeratku dengan cinta palsunya hingga pernikahanku berantakan adalah Linggar."
Deg!
Aku berharap yag kudengar tadi salah. Bukan, mungkin Luna tak menyebut Linggar. Mungkin Anggar, atau Damar, atau....
" Bodohnya aku yang dengan mudahnya tertipu semua omongan manisnya. Dan saat aku tersadar, rencana pernikahanku berantakan, dan dia...dia malah pergi ke pelukan gadis lain."
Aku hampir limbung mendengar semua cerita Luna.
" Aku terpaksa mengatakan ini padamu, karena aku tak mau pertunanganmu juga berakhir seperti aku. Linggar, dia tak pantas dicintai."
Kutatap Luna.
Sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa dia sedang tak bercanda.
" Jadi kau...."
" Aku pernah ada diposisimu seperti sekarang ini. Tapi cukup sampai disini saja. Jangan sampai kau juga merasakan ada diposisiku seperti sekarang ini."
" Jadi selama ini kau baik padaku karena punya maksud lain?" Tudingku merasa selama ini dibohongi oleh Luna tentang jati dirinya.
Luna tersenyum dingin.
" Tentu saja aku punya maksud lain. Karena aku tak ingin lagi ada wanita yang hancur karena pria itu. Anggap saja tamparan dari Camay hari ini adalah pintu keluarmu, jadi saat pintu itu terbuka maka keluarlah, sebelum pintu itu tertutup lagi dan kau akan terjebak lagi lebih dalam didalamnya." Ucapnya memperingatkan, lalu melangkah pergi meninggalkanku yang masih belum sepenuhnya mempercayai semua yang dikatakan Luna.
Kupandangi punggung ramping Luna yang makin menjauh. Luna, gadis yang pernah juga singgah dicerita cinta Linggar, yang bahkan tak pernah kuketahui.
Ternyata dunia ini memang sangat sempit. Bahkan 3 orang sekaligus yang pernah menjalin cinta dengan Linggar, berkumpul disatu perusahaan. Benar-benar menggelikan sekaligus menyakitkan.
Plaaakkkkk!
Semua mata saat itu langsung mengarah pada kami. Sempat kulihat dengan jelas mata sipit Camay membelalak marah.
" Kuharap tamparan itu bisa menyadarkan kau ini siapa." Geramnya.
" Ada apa ini May, kok datang-datang menamparku?" Aku mencoba membela diri.
Camay tergelak sinis.
" Apa aku perlu jelaskan ke semua orang kenapa aku sampai menamparmu? Hah?!" Camay makin geram.
Aku menunduk. Kupegangi pipiku yang masih terasa panas. Lalu kusadari ada sebuah langkah mendekati tempatku bersembunyi ini. Aku buru-buru mendongak mencari tau. Seraut wajah milik Luna menatapku seperti tanpa ekspresi. Aku menunduk lagi.
" Kau pasti datang juga untuk menyalahkanku kan Lun? Sama seperti mereka tadi. Kau pasti juga tak menyangka kan kalo aku ternyata yang selama ini dibicarakan Camay? Cewek yang selalu menjadi teror dalam hubungannya dengan Linggar?" Ucapku parau.
Luna malah mendekatiku dan duduk disebelahku.
" Meski dalam 1 departemen tapi aku tak begitu akrab dengan Camay, jadi aku tak begitu tau tentang masalah ini." Sanggahnya.
" Pakailah ini, biar bekas lebam dipipimu bisa cepat hilang." Lanjut Luna menyodorkan kain berisi kompres es.
Kutatap Luna yang tersenyum, kami memang cukup dekat tapi Luna tak pernah tau rahasia hubunganku dengan Linggar, tunangan Camay. Kuterima kompres itu dan menempelkannya ke pipiku perlahan.
" Kami saling mencintai sejak masih SMU, Lun. Bahkan sampai sekarang." Ucapku membuka cerita.
" Kau juga punya cincin dijarimu kan?" Tanya Luna seperti mengingatkanku bahwa dijari manisku juga melingkar cincin pemberian Audriq yang dipasangkannya setahun lalu sebelum dia berangkat mengarungi samudra dalam tugasnya.
" Aku tau, Lun. Bahkan saat Linggar memutuskan akan menikahi Camay, kami tetap tak bisa menghentikan perasaan ini, Lun. Aku benar-benar mencintainya, Lun, sangat mencintainya." Ceracauku.
" Apa kau bahagia?"
" Apa?!" Aku tak mengerti arah pertanyaannya
" Kalo itu cinta, sesulit apapun jalannya tetap akan membuat kita bahagia. Tapi kalo perasaanmu pada Linggar malah membuatmu menderita dan selalu merasa bersalah pada Camay dan juga tunanganmu, itu bukan cinta. Hanya perasaan yang seharusnya sudah tak ada."
" Apa aku yang salah, Lun? Aku tak bisa berhenti mencintainya, bahkan setelah aku bertunangan dan dia pun memutuskan akan menikahi Camay. Aku tak bisa mengendalikan perasaan ini, Lun. Dan setiap kali dia datang dengan wajahnya yang penuh cinta aku makin tak bisa membendung perasaan ini. " Ceracauku seadanya.
Luna meraih jemariku dan saat aku menatap wajahnya, dia tersenyum lembut.
" Cinta tak pernah salah, hanya, kita mungkin yang telah salah menyerahkannya pada orang yang kita kira benar."
Dan ucapan Luna itu membuat sebuah bayangan hadir dalam pikiranku. Linggar. Tak ada yang salah dalam hubungan kami. Paling tidak pada awalnya. Sekitar 7 tahun lalu. Kami 2 orang yang saling mencintai dan berharap bisa hidup bahagia. Dan menurutku saat itu tak ada yang salah. Hingga kemudian datang Camay diantara kami. Mungkin memang inilah yang disebut, awalnya mencintai siapa tapi akhirnya malah bersama siapa. Begitupun Linggar yang kemudian malah melabuhkan hatinya pada Camay, akupun menambatkan hatiku pada Audriq. Tapi kenyataan itu tak mampu menenggelamkan cintaku pada Linggar.
" Bukan aku yang mulai Lun, tapi Linggar. Dia yang datang berwajah penuh cinta. Dia memanfaatkan perasaanku yang belum bisa melupakannya..."
" Tak akan timbul asap jika tak ada api."
Aku tergelak mendengar ucapan Luna. Amarahku tersulut. Kukira dengan menemuiku serta membawakanku kompres es Luna datang sebagai orang yang mengerti posisiku. Ternyata tak jauh beda dengan mereka tadi.
" Benar kan? Jika dari awal kau bisa menolak Linggar kau tak mungkin terjebak lebih dalam."
" Siapa kau?" Desisku dingin.
" Apa?"
" Aku kira kedatanganmu tadi karena kau tak seperti mereka yang hanya bisa menyalahkanku tanpa peduli apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ternyata aku salah." Lanjutku kian geram melempar kompres es ditanganku dan berlalu.
Tapi belum genap 3 langkah Luna angkat bicara.
" Aku tau."
Aku berhenti melangkah.
" Aku tau rasanya ada diposisimu sekarang. Aku tau rasanya dipersalahkan saat justru sebenarnya kita adalah korban. "
Kubalikkan badanku menatap Luna lagi. Wajahnya hampir tak berekspresi saat ini. Seakan semua hal yang seharusnya terlihat, ditekannya kuat-kuat ke dasar hatinya.
" Aku tau bagaimana rasanya saat tak bisa membela diri karena terlalu banyak yang menyalahkan, bahkan tak satupun yang memihak kita. Aku tau."
Lama-lama aku teringat tentang kisah hidup Luna yang sempat kudengar dari beberapa teman kerja. Bahwa Luna pernah ditinggal tunangannya seminggu sebelum pernikahan mereka. Tapi aku tak tau penyebabnya. Hanya banyak yang mengakui bahwa usai kejadian itu Luna menjadi sosok berhati keras. Hingga akhirnya kini dia bisa menjadi salah satu manager di perusahaan sebesar ini.
" Tapi apapun alasannya, sebuah perselingkuhan sedikit banyak akan merugikan. Apa kau pikir bisa bersikap seolah-olah tak terjadi apapun? Bahkan jika mungkin tunanganmu akhirnya meninggalkanmu, siapa yang bisa kau salahkan kecuali dirimu sendiri?"
" Apa?"
Luna mengalihkan pandangannya seakan sengaja menyembunyikan kelemahannya yang sempat terpancar dikedua matanya.
Aku memang tak cukup mengenal Luna, meski aku sudah bekerja disini lebih dari 3 tahun. Saat aku masuk ke perusahaan ini Luna sudah ada disini, dan dia sudah seperti ini. Meski beda departemen, dan meski sebagai senior, tapi tiap kali bertemu dia selalu menyempatkan diri menyapaku. Aku hanya tak pernah peduli dan mengurusi tentang latar belakang apalagi masa lalunya.
" 4 tahun lalu, seminggu sebelum pernikahan tunanganku meninggalkanku." Katanya mulai membuka cerita. Langkahnya mendekati jendela kaca besar yang menghubungkan dengan jalan raya. Matanya menerawang.
" Menggelikan sekaligus menyakitkan. pernikahan yang sudah didepan mata malah hancur gara-gara cinta tak berarti dengannya."
" Dengannya?" Ulangku tak mengerti dengan yang dimaksud Luna 'dengannya'.
Luna menatapku lagi.
" 4 tahun lalu, awal hubungan Linggar dengan Camay kan?"
Aku kaget.
" Bagaimana kau tau?"
Luna mendesah berat.
" Itulah akhir kisahku dengan tunanganku, dan semua itu karena dia tau aku diam-diam terjerat cinta seorang pria, yang ternyata tak mengerti apa itu cinta." Lanjut Luna dengan sederet tawa sinis.
" Lalu apa hubungannya dengan Linggar dan Camay."
" Karena pria yang menjeratku dengan cinta palsunya hingga pernikahanku berantakan adalah Linggar."
Deg!
Aku berharap yag kudengar tadi salah. Bukan, mungkin Luna tak menyebut Linggar. Mungkin Anggar, atau Damar, atau....
" Bodohnya aku yang dengan mudahnya tertipu semua omongan manisnya. Dan saat aku tersadar, rencana pernikahanku berantakan, dan dia...dia malah pergi ke pelukan gadis lain."
Aku hampir limbung mendengar semua cerita Luna.
" Aku terpaksa mengatakan ini padamu, karena aku tak mau pertunanganmu juga berakhir seperti aku. Linggar, dia tak pantas dicintai."
Kutatap Luna.
Sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa dia sedang tak bercanda.
" Jadi kau...."
" Aku pernah ada diposisimu seperti sekarang ini. Tapi cukup sampai disini saja. Jangan sampai kau juga merasakan ada diposisiku seperti sekarang ini."
" Jadi selama ini kau baik padaku karena punya maksud lain?" Tudingku merasa selama ini dibohongi oleh Luna tentang jati dirinya.
Luna tersenyum dingin.
" Tentu saja aku punya maksud lain. Karena aku tak ingin lagi ada wanita yang hancur karena pria itu. Anggap saja tamparan dari Camay hari ini adalah pintu keluarmu, jadi saat pintu itu terbuka maka keluarlah, sebelum pintu itu tertutup lagi dan kau akan terjebak lagi lebih dalam didalamnya." Ucapnya memperingatkan, lalu melangkah pergi meninggalkanku yang masih belum sepenuhnya mempercayai semua yang dikatakan Luna.
Kupandangi punggung ramping Luna yang makin menjauh. Luna, gadis yang pernah juga singgah dicerita cinta Linggar, yang bahkan tak pernah kuketahui.
Ternyata dunia ini memang sangat sempit. Bahkan 3 orang sekaligus yang pernah menjalin cinta dengan Linggar, berkumpul disatu perusahaan. Benar-benar menggelikan sekaligus menyakitkan.
Buat yang pada terjebak 'cinta terlarang'
gak akan ada untungnya deehhh
Rabu, 25 Maret 2015
Kesayangan & Impian
Hujan siang ini belum sepenuhnya reda, titik-titik kecil masih menerpa dedaunan diluar sana. Hawa dinginnya langsung menyapaku yang baru saja membuka jendela balkon kamarku. Lumayan segar untuk me-refresh otakku yang sejak kemarin sangat berpusing ria dengan tingkah Rei yang terkesan sangat kekanak-kanakan. Dan sudah melampau batas.
" Bang Milo, Bang Milo, Bang Milo terus! Kenapa semua hal tentangmu selalu menyangkut abangmu? Apa hidupmu benar-benar tak bisa berjalan kalau sekali saja tak menyebut namanya? Kenapa pula harus pacaran denganku? Hidup bersama abangmu saja seumur hidupmu!" Gusar Rei
Aku melongo.
Apa ini tak salah? Kenapa Rei tiba-tiba marah soal Bang Milo, kakak semata wayangku yang sangat kusayangi dan sangat pula menyayangiku itu.
Dan lagi, Rei juga sudah cukup kenal dengan Bang Milo, meski tak terlalu akrab karena umur mereka memang beda beberapa tahun, juga bidang kerja mereka yang beda jauh. Rei dan aku bergelut di dunia hukum, sementara Bang Milo sudah sejak kecil menyukai dunia konstruksi.
Aku mendesah mendapati tatapan mata Rei yang begitu sengit.
" Kenapa? Itu benar kan?"
" Kau cemburu pada Bang Milo?" Tanyaku masih tak percaya.
" Wajar kan kalo aku cemburu karena apa-apa kau selalu membawa nama Bang Milo."
" Dia itu abangku, Rei...!"
" Ya, abang tiri!"
Aku tercekat. Rei benar-benar sudah keterlaluan. Akupun bangkit, meninggalkan makan siangku yang bahkan belum sempat kunikmati.
" Dia memang hanya abang tiriku." Ucapku sebelum melangkah lagi.
" Semua orang juga sudah tau, jadi kau tak perlu mengucapkannya dengan setegas itu." Aku memejam sebentar
" Tapi apa salah kalau aku terlalu menyayangi dan sangat tergantung pada abang tiriku?"
Sepi. Hanya samar-samar sempat kudengar desahan nafas panjang Rei sebelum aku melangkah pergi.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka perlahan, aku menoleh seiring muncul sosok kesayanganku dibalik daun pintu. Aku tersenyum menyambutnya. Bang Milo.
" Ijin libur hanya untuk mengurung diri dikamar seharian, apa kau sedang sibuk buat novel?" Tanya Bang Milo melangkah masuk, bajunya masih lengkap berdasi dan berjas, menunjukkan bahwa dia baru pulang kerja.
" Mengejek ya?" Sungutku melipat tanganku sembari bersandar dibingkai jendela.
Bang Milo tersenyum. Menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidurku.
" Kemarilah!" Pintanya mengisyaratkanku untuk mendekat ke sampingnya.
Tanpa disuruh dua kali akupun langsung mendekati Bang Milo, duduk disebelahnya, bahkan menyandarkan kepalaku pada pundaknya, dengan manja.
" Aku kira seorang pegacara yang tugasnya menyelesaikan masalah orang lain, tidak akan mungkin kesulitan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Ternyata tidak juga."
Aku tak cukup kaget kalau Bang Milo sudah tau alasanku sampai libur kerja dan mengurung diri dikamar seharian. Karena memang salah satu keahlian Bang Milo adalah mencari tau masalah yang terjadi padaku, apapun itu.
Aku mendesah berat.
" Tapi kali ini Rei benar-benar sudah sangat keterlaluan Bang."
Bang Milo menepuk pelan tanganku yang bergelayut manja dilengannya.
" Abang..." Panggilku seraya bangkit dari sandaran pundaknya. Bang Milo menatapku dengan senyum.
" Apa aku memang terlalu bergantung padamu?" Lanjutku bertanya.
" Sebelum kujawab, apa kau bisa mengingat, sejak kecil sampai sudah jadi pengacara begini, siapa saja yang pernah jadi teman terdekatmu?"
Kupicingkan mataku menatap laki-laki kesayanganku selain ayah dan Rei. Aku mulai berfikir, mengingat-ingat seperti yang diperintahkannya tadi.
" Tidak ingat?" Tanya Bang Milo
Akupun memilih menyerah dini, mengeleng pelan.
" Kau tak akan bisa mengingatnya, karena kau tak pernah punya teman dekat selain abangmu ini." Lanjut Bang Milo enteng.
" Masa?!" Kagetku, tapi kemudian tersenyum.
" Lalu apa tidak boleh? Sejak kecil Abang sudah menemaniku. Menjadi kakak sekaligus sahabat, bahkan juga bisa merawatku seperti yang dilakukan mama. Abang selalu menjadi pendengar yang baik saat aku punya masalah, tak hanya itu, juga selalu bisa membantuku menyelesaikan masalah. Lalu kenapa aku harus perlu sahabat lagi. Bagiku, Bang Milo pun sudah cukup." Lanjutku seadanya.
" Lalu Rei?!" Buru Bang Milo
Aku diam menatap Bang Milo yang juga menatapku lekat.
" Sejak masih kuliah kau sudah menyukainya kan? Kau bahkan pernah pulang-pulang dengan mata hampir menangis hanya karena kau melihat Rei pulang dengan gadis lain. Lalu kenapa setelah sekarang kau bisa memiliknya..."
" Bukan aku Bang, tapi dia seperti anak kecil." Sergahku tak mau disalahkan.
Bang Milo mengerutkan dahinya.
" Masa dia cemburu sama Abang, aneh kan?" Lanjutku manyun.
Bang Milo tersenyum sambil membelai rambutku yang memang sedikit berantakan.
" Saat kita mencintai orang lain, siapapun itu pasti ingin jadi yang pertama dalam hidupnya. Ingin jadi yang pertama diingatnya, diandalkannya, semuanya."
" Jadi Abang menyalahkanku?" Kernyitku.
" Bukan soal salah atau tidak, tapi mungkin sudah saatnya kau belajar mengandalkan orang lain. Karena tak mungkin kan seumur hidup kau hanya selalu mengandalkanku?"
Ada sedikit rasa sesak menyapa dadaku.
" Apa Abang sudah lelah kuandalkan?" Tanyaku takut.
Tapi Bang Milo malah tersenyum lebar.
" Dasar bodoh, kenapa malah berpikir begitu? Kau tau kenapa aku sangat menyayangi dan menghormati mama, meski mama bukan mama yang melahirkanku? Itu karena kau Mika."
" Aku?"
Bang Milo tersenyum lagi.
" Ya, kau. Karena mama sudah memberiku adik yang begitu manis dan membuat hidupku tak kesepian lagi."
Pengakuan Bang Milo benar-benar membuatku terharu, aku tersenyum dan berhambur memeluknya.
" Apa Abang tau, meski kita bukan terlahir dari ibu yang sama aku tetap berterimakasih pada Tuhan karena memberiku kakak sebaik Bang Milo? Aku tak akan minta lebih, karena apa yang kudapat sudah lebih dari cukup."
Bang Milo menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
" Tapi ada saatnya kau harus mempercayakan seseorang untuk menjagamu. Rei, dia begitu hanya karena merasa kecil hati, karena selama ini kau lebih mengandalkanku daripada dia. Itu wajar, Mik."
Aku manyun, berharap Bang Milo tau kalau aku tak begitu suka ucapannya barusan.
" Tenanglah, kapanpun Abang akan selalu ada jika kau butuhkan."
" Sekalipun kelak Abang sudah menikah?"
Bang Milo tersenyum, lalu mengangguk.
" Ya, sekalipun Abang sudah menikah, Abang tidak akan pernah mengacuhkanmu. Abang tetap bisa kau andalkan. Tapi...kau juga jangan mengacuhkan Rei, karena dia selalu berharap kau mau mengandalkannya."
Aku manyun lagi,
" Tapi dia yang seperti anak kecil Bang..." Rajukku
" Pria dewasa tak pernah malu datang minta maaf, dan aku tau Rei sudah termasuk pria dewasa."
" Maksudnya?"
" Temuilah, dia menunggu dibawah."
Aku sedetik kaget, tapi detik berikutnya mencoba menepis kekagetan itu. Meski aku akui aku kagum dengan usahanya kali ini. Dan itu mengingatkanku akan usahaku mendapatkan perhatiannya selama masa kuliah dulu. Meski masih dalam batas wajar, tapi aku tak pernah berhenti berharap aku bisa memiliki sosok bertalenta Rei.
" Biarin aja, masih males. Siapa suruh kemarin ngomongnya sembarangan." Sungutku.
Bang Milo tergelak, aku manyun protes.
" Baru juga semenit lalu bilang Rei seperti anak kecil, tapi sekarang kau sendiri kan yang kaya anak kecil?"
Aku melotot,
" Abang....." Rajukku
" Sudah, sudah, ayo turun. Temui dia, kasihan dia kesini meninggalkan keegoisannya, jadi jangan sia-siakan itu." Ajak Bang Milo bangkit sambil menarik tanganku.
Kuikuti dengan sedikit malas. Dan tanganku tetap terbalut erat dalam jemari Bang Milo bahkan sampai tiba ditangga terakhir. Kutemukan Rei sedang duduk terpekur di sofa ruang tamu. Saat menyadari kedatangan kami, dia pun buru-buru bangkit meski pancaran raut mukanya sedikit....Entahlah, aku tak cukup mengerti arti pancaran raut mukanya. Kami mendekat.
" Mik..." Sapanya kikuk.
Senyum Bang Milo mencairkan suasana. Tanganku yang sejak tadi tergenggam jemarinya, ditariknya maju.
" Rei, kuharap kau bisa memaklumi sikap Mika. Mungkin memang salahku yang terlalu memanjakannya sejak kecil, jadi...."
" Abang...." Selaku memprotes.
Bang Milo tersenyum dan membelai rambutku.
" Sudahlah kalian sudah cukup dewasa, masalah begini harusnya tak perlu dipermasalahkan."
" Sebenarnya ini semua memang salahku, Bang." Susul Rei.
" Syukurlah kalau ngaku." Sungut Mika
" Mika...!" Sergah Bang Milo " Bukankah orang yang mengaku bersalah sudah tak pantas dianggap bersalah lagi?"
Sepi. Aku memilih tak menjawab.
" Oke, aku tinggal dulu ya." Lalu Bang Milo melepas tanganku dan beringsut pergi.
Sepeninggal Bang Milo, Rei duduk kembali, tapi tak kusangka tangannya sambil menarik tanganku hingga aku terpaksa ikut terduduk.
" Kau masih tak mau memaafkanku?" Tanya Rei mencondongkan wajahnya ke arahku.
" Aku hanya masih tak habis pikir kenapa kau bisa cemburu pada Bang Milo. Dia itu abangku, meski hanya tiri, tapi dia itu abangku, Rei!"
" Mungkin karena aku terlalu takut."
" Takut?" Desisku tak mengerti.
" Aku takut tak cukup baik menggantikan posisi Bang Milo, karena selama ini aku merasa kau tetap menomor satukan Bang Milo daripada aku."
" Rei..."
" Aku tak perlu semua, hanya sedikit saja, beri aku kepercayaan bahwa aku juga bisa kau andalkan. Sama seperti Bang Milo."
Kupandangi tangan kami yang terengkuh bersama. Dulu, masa-masa masih kuliah, tiap hari aku selalu berharap tangan itu menggandengku erat penuh cinta.
Aku mendesah, menarik tangan kami ke dalam pangkuanku.
" Sepertinya sekarang masalahnya bukan pada aku yang tak memberi kepercayaan, tapi kau sendiri yang tak percaya diri." Keluhku.
" Apa?!"
Kutatap Rei yang kini wajahnya hanya berjarak beberapa centi dariku.
" Kau tau kenapa Bang Milo tadi sampai menggandengku turun menemuimu? Kau tau kenapa Bang Milo tadi lebih membelamu daripada aku? Karena dia sangat tau perasaanku padamu."
Rei bahkan menatapku tanpa kedip.
" Aku selalu mengandalkan Bang Milo karena dia Abangku, Rei. Tapi harusnya kau tau, meski tiri, tapi dia tetap abangku. Saudara sedarahku. Tapi kau, kau ada disini Rei, didadaku, dijantung hatiku." Akuku lirih, seraya menepuk dadaku pelan.
Pelan-pelan ada seulas senyum dibibir Rei, dan tanpa kusangka Rei menarik tubuhku dalam pelukannya.
" Maafkan aku Mik. mungkin aku memang terlalu sibuk mengurusi kau yang selalu mengandalkan Bang Milo, hingga aku malah mengabaikan cinta yang ingin kau beri."
Aku tersenyum dalam pelukan pria impianku. Dan diujung tangga sana, Bang Milo tersenyum menatap kearahku. Kubalas senyuman pria kesayanganku itu seiring membalas pelukan Rei.
" Bang Milo, Bang Milo, Bang Milo terus! Kenapa semua hal tentangmu selalu menyangkut abangmu? Apa hidupmu benar-benar tak bisa berjalan kalau sekali saja tak menyebut namanya? Kenapa pula harus pacaran denganku? Hidup bersama abangmu saja seumur hidupmu!" Gusar Rei
Aku melongo.
Apa ini tak salah? Kenapa Rei tiba-tiba marah soal Bang Milo, kakak semata wayangku yang sangat kusayangi dan sangat pula menyayangiku itu.
Dan lagi, Rei juga sudah cukup kenal dengan Bang Milo, meski tak terlalu akrab karena umur mereka memang beda beberapa tahun, juga bidang kerja mereka yang beda jauh. Rei dan aku bergelut di dunia hukum, sementara Bang Milo sudah sejak kecil menyukai dunia konstruksi.
Aku mendesah mendapati tatapan mata Rei yang begitu sengit.
" Kenapa? Itu benar kan?"
" Kau cemburu pada Bang Milo?" Tanyaku masih tak percaya.
" Wajar kan kalo aku cemburu karena apa-apa kau selalu membawa nama Bang Milo."
" Dia itu abangku, Rei...!"
" Ya, abang tiri!"
Aku tercekat. Rei benar-benar sudah keterlaluan. Akupun bangkit, meninggalkan makan siangku yang bahkan belum sempat kunikmati.
" Dia memang hanya abang tiriku." Ucapku sebelum melangkah lagi.
" Semua orang juga sudah tau, jadi kau tak perlu mengucapkannya dengan setegas itu." Aku memejam sebentar
" Tapi apa salah kalau aku terlalu menyayangi dan sangat tergantung pada abang tiriku?"
Sepi. Hanya samar-samar sempat kudengar desahan nafas panjang Rei sebelum aku melangkah pergi.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka perlahan, aku menoleh seiring muncul sosok kesayanganku dibalik daun pintu. Aku tersenyum menyambutnya. Bang Milo.
" Ijin libur hanya untuk mengurung diri dikamar seharian, apa kau sedang sibuk buat novel?" Tanya Bang Milo melangkah masuk, bajunya masih lengkap berdasi dan berjas, menunjukkan bahwa dia baru pulang kerja.
" Mengejek ya?" Sungutku melipat tanganku sembari bersandar dibingkai jendela.
Bang Milo tersenyum. Menghempaskan tubuhnya ke tepi tempat tidurku.
" Kemarilah!" Pintanya mengisyaratkanku untuk mendekat ke sampingnya.
Tanpa disuruh dua kali akupun langsung mendekati Bang Milo, duduk disebelahnya, bahkan menyandarkan kepalaku pada pundaknya, dengan manja.
" Aku kira seorang pegacara yang tugasnya menyelesaikan masalah orang lain, tidak akan mungkin kesulitan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Ternyata tidak juga."
Aku tak cukup kaget kalau Bang Milo sudah tau alasanku sampai libur kerja dan mengurung diri dikamar seharian. Karena memang salah satu keahlian Bang Milo adalah mencari tau masalah yang terjadi padaku, apapun itu.
Aku mendesah berat.
" Tapi kali ini Rei benar-benar sudah sangat keterlaluan Bang."
Bang Milo menepuk pelan tanganku yang bergelayut manja dilengannya.
" Abang..." Panggilku seraya bangkit dari sandaran pundaknya. Bang Milo menatapku dengan senyum.
" Apa aku memang terlalu bergantung padamu?" Lanjutku bertanya.
" Sebelum kujawab, apa kau bisa mengingat, sejak kecil sampai sudah jadi pengacara begini, siapa saja yang pernah jadi teman terdekatmu?"
Kupicingkan mataku menatap laki-laki kesayanganku selain ayah dan Rei. Aku mulai berfikir, mengingat-ingat seperti yang diperintahkannya tadi.
" Tidak ingat?" Tanya Bang Milo
Akupun memilih menyerah dini, mengeleng pelan.
" Kau tak akan bisa mengingatnya, karena kau tak pernah punya teman dekat selain abangmu ini." Lanjut Bang Milo enteng.
" Masa?!" Kagetku, tapi kemudian tersenyum.
" Lalu apa tidak boleh? Sejak kecil Abang sudah menemaniku. Menjadi kakak sekaligus sahabat, bahkan juga bisa merawatku seperti yang dilakukan mama. Abang selalu menjadi pendengar yang baik saat aku punya masalah, tak hanya itu, juga selalu bisa membantuku menyelesaikan masalah. Lalu kenapa aku harus perlu sahabat lagi. Bagiku, Bang Milo pun sudah cukup." Lanjutku seadanya.
" Lalu Rei?!" Buru Bang Milo
Aku diam menatap Bang Milo yang juga menatapku lekat.
" Sejak masih kuliah kau sudah menyukainya kan? Kau bahkan pernah pulang-pulang dengan mata hampir menangis hanya karena kau melihat Rei pulang dengan gadis lain. Lalu kenapa setelah sekarang kau bisa memiliknya..."
" Bukan aku Bang, tapi dia seperti anak kecil." Sergahku tak mau disalahkan.
Bang Milo mengerutkan dahinya.
" Masa dia cemburu sama Abang, aneh kan?" Lanjutku manyun.
Bang Milo tersenyum sambil membelai rambutku yang memang sedikit berantakan.
" Saat kita mencintai orang lain, siapapun itu pasti ingin jadi yang pertama dalam hidupnya. Ingin jadi yang pertama diingatnya, diandalkannya, semuanya."
" Jadi Abang menyalahkanku?" Kernyitku.
" Bukan soal salah atau tidak, tapi mungkin sudah saatnya kau belajar mengandalkan orang lain. Karena tak mungkin kan seumur hidup kau hanya selalu mengandalkanku?"
Ada sedikit rasa sesak menyapa dadaku.
" Apa Abang sudah lelah kuandalkan?" Tanyaku takut.
Tapi Bang Milo malah tersenyum lebar.
" Dasar bodoh, kenapa malah berpikir begitu? Kau tau kenapa aku sangat menyayangi dan menghormati mama, meski mama bukan mama yang melahirkanku? Itu karena kau Mika."
" Aku?"
Bang Milo tersenyum lagi.
" Ya, kau. Karena mama sudah memberiku adik yang begitu manis dan membuat hidupku tak kesepian lagi."
Pengakuan Bang Milo benar-benar membuatku terharu, aku tersenyum dan berhambur memeluknya.
" Apa Abang tau, meski kita bukan terlahir dari ibu yang sama aku tetap berterimakasih pada Tuhan karena memberiku kakak sebaik Bang Milo? Aku tak akan minta lebih, karena apa yang kudapat sudah lebih dari cukup."
Bang Milo menjauhkan tubuhku dari pelukannya.
" Tapi ada saatnya kau harus mempercayakan seseorang untuk menjagamu. Rei, dia begitu hanya karena merasa kecil hati, karena selama ini kau lebih mengandalkanku daripada dia. Itu wajar, Mik."
Aku manyun, berharap Bang Milo tau kalau aku tak begitu suka ucapannya barusan.
" Tenanglah, kapanpun Abang akan selalu ada jika kau butuhkan."
" Sekalipun kelak Abang sudah menikah?"
Bang Milo tersenyum, lalu mengangguk.
" Ya, sekalipun Abang sudah menikah, Abang tidak akan pernah mengacuhkanmu. Abang tetap bisa kau andalkan. Tapi...kau juga jangan mengacuhkan Rei, karena dia selalu berharap kau mau mengandalkannya."
Aku manyun lagi,
" Tapi dia yang seperti anak kecil Bang..." Rajukku
" Pria dewasa tak pernah malu datang minta maaf, dan aku tau Rei sudah termasuk pria dewasa."
" Maksudnya?"
" Temuilah, dia menunggu dibawah."
Aku sedetik kaget, tapi detik berikutnya mencoba menepis kekagetan itu. Meski aku akui aku kagum dengan usahanya kali ini. Dan itu mengingatkanku akan usahaku mendapatkan perhatiannya selama masa kuliah dulu. Meski masih dalam batas wajar, tapi aku tak pernah berhenti berharap aku bisa memiliki sosok bertalenta Rei.
" Biarin aja, masih males. Siapa suruh kemarin ngomongnya sembarangan." Sungutku.
Bang Milo tergelak, aku manyun protes.
" Baru juga semenit lalu bilang Rei seperti anak kecil, tapi sekarang kau sendiri kan yang kaya anak kecil?"
Aku melotot,
" Abang....." Rajukku
" Sudah, sudah, ayo turun. Temui dia, kasihan dia kesini meninggalkan keegoisannya, jadi jangan sia-siakan itu." Ajak Bang Milo bangkit sambil menarik tanganku.
Kuikuti dengan sedikit malas. Dan tanganku tetap terbalut erat dalam jemari Bang Milo bahkan sampai tiba ditangga terakhir. Kutemukan Rei sedang duduk terpekur di sofa ruang tamu. Saat menyadari kedatangan kami, dia pun buru-buru bangkit meski pancaran raut mukanya sedikit....Entahlah, aku tak cukup mengerti arti pancaran raut mukanya. Kami mendekat.
" Mik..." Sapanya kikuk.
Senyum Bang Milo mencairkan suasana. Tanganku yang sejak tadi tergenggam jemarinya, ditariknya maju.
" Rei, kuharap kau bisa memaklumi sikap Mika. Mungkin memang salahku yang terlalu memanjakannya sejak kecil, jadi...."
" Abang...." Selaku memprotes.
Bang Milo tersenyum dan membelai rambutku.
" Sudahlah kalian sudah cukup dewasa, masalah begini harusnya tak perlu dipermasalahkan."
" Sebenarnya ini semua memang salahku, Bang." Susul Rei.
" Syukurlah kalau ngaku." Sungut Mika
" Mika...!" Sergah Bang Milo " Bukankah orang yang mengaku bersalah sudah tak pantas dianggap bersalah lagi?"
Sepi. Aku memilih tak menjawab.
" Oke, aku tinggal dulu ya." Lalu Bang Milo melepas tanganku dan beringsut pergi.
Sepeninggal Bang Milo, Rei duduk kembali, tapi tak kusangka tangannya sambil menarik tanganku hingga aku terpaksa ikut terduduk.
" Kau masih tak mau memaafkanku?" Tanya Rei mencondongkan wajahnya ke arahku.
" Aku hanya masih tak habis pikir kenapa kau bisa cemburu pada Bang Milo. Dia itu abangku, meski hanya tiri, tapi dia itu abangku, Rei!"
" Mungkin karena aku terlalu takut."
" Takut?" Desisku tak mengerti.
" Aku takut tak cukup baik menggantikan posisi Bang Milo, karena selama ini aku merasa kau tetap menomor satukan Bang Milo daripada aku."
" Rei..."
" Aku tak perlu semua, hanya sedikit saja, beri aku kepercayaan bahwa aku juga bisa kau andalkan. Sama seperti Bang Milo."
Kupandangi tangan kami yang terengkuh bersama. Dulu, masa-masa masih kuliah, tiap hari aku selalu berharap tangan itu menggandengku erat penuh cinta.
Aku mendesah, menarik tangan kami ke dalam pangkuanku.
" Sepertinya sekarang masalahnya bukan pada aku yang tak memberi kepercayaan, tapi kau sendiri yang tak percaya diri." Keluhku.
" Apa?!"
Kutatap Rei yang kini wajahnya hanya berjarak beberapa centi dariku.
" Kau tau kenapa Bang Milo tadi sampai menggandengku turun menemuimu? Kau tau kenapa Bang Milo tadi lebih membelamu daripada aku? Karena dia sangat tau perasaanku padamu."
Rei bahkan menatapku tanpa kedip.
" Aku selalu mengandalkan Bang Milo karena dia Abangku, Rei. Tapi harusnya kau tau, meski tiri, tapi dia tetap abangku. Saudara sedarahku. Tapi kau, kau ada disini Rei, didadaku, dijantung hatiku." Akuku lirih, seraya menepuk dadaku pelan.
Pelan-pelan ada seulas senyum dibibir Rei, dan tanpa kusangka Rei menarik tubuhku dalam pelukannya.
" Maafkan aku Mik. mungkin aku memang terlalu sibuk mengurusi kau yang selalu mengandalkan Bang Milo, hingga aku malah mengabaikan cinta yang ingin kau beri."
Aku tersenyum dalam pelukan pria impianku. Dan diujung tangga sana, Bang Milo tersenyum menatap kearahku. Kubalas senyuman pria kesayanganku itu seiring membalas pelukan Rei.
Langganan:
Komentar (Atom)