Jumat, 27 Februari 2015

Everlasting Love

              Pelan-pelan Giok menurunkan kaki Hanum dari pangkuannya. Hanum sedikit meringis saat mencoba menggerakkan kaki kanannya.
" Lain kali harus lebih hati-hati. Dan jangan macam-macam mencoba pakai high heels segala. Kakimu itu aset penting, jauh lebih berharga dari apapun." Omel Giok membantu Hanum memakai flatshoes yang sudah sedikit lusuh.
" Nanti pulang pakai sepatu ini saja, dan simpan rapat-rapat high heels itu atau aku akan membuangnya." Lanjut Giok tetap dengan nada memerintah, membuat Hanum bermuka masam. Tapi beberapa karyawan di coffee shop yang saat itu ada disekitar mereka justru tersenyum penuh arti.
" Sepatu ini baru aku beli minggu lalu, tadi aku malah sengaja mau memakainya karena mau menunjukkan padamu." Hanum angkat bicara seperti mencoba membela diri.
Giok menatap kearah Hanum dengan tatapan lekat.
" Apa kau pikir aku akan menyukainya? Dasar bodoh!"
" Tapi Mawar juga selalu memakai high heels, dan aku lihat kau tak pernah sekalipun protes. "
" Apa? Kau ini...." Suara geram Giok mengambang saat melihat wajah Hanum yang menunduk dalam. Lalu Giok mendesah berat.

       Bagi Hanum, Giok tak hanya sahabat sejak kecilnya. Tak hanya tetangga sebelah rumahnya. Tak hanya abang yang selalu menyayangi tapi juga mengomeli kalau Hanum berbuat tak benar seperti saat ini. Jauh dilubuk hati Hanum, juga tersimpan perasaan terindah yang selalu Hanum jaga.
" Maaf, kalau sudah membuatmu khawatir..." Rajuk Hanum lirih.
" Dari dulu kau kan memang suka sekali membuatku jantungan. Tapi kau bukan anak kecil lagi Num.."
" Bukankah dihadapanmu aku selalu anak kecil?" Sanggah Hanum polos, membuat Giok melotot, tapi tidak ekspresi seorang pegawai yang kebetulan lewat, tertawa tertahan. Sampai Giok spontan menatap pegawainya tadi.
" Kau ini...benar-benar masih seperti anak kecil!" Dengus Giok memukul kepala Hanum pelan.
" Aku hanya tak mau terjadi apa-apa pada kakimu, kau itu balerina. Apa jadinya jika seorang balerina kakinya sampai cidera?" Lanjut Giok 
" Terima kasih selama ini selalu mengkhawatirkanku. Meski aku selalu merepotkanmu kau juga tak pernah jera menjagaku. Kau memang sahabat sekaligus kakak yang sangat baik untukku." Ucap Hanum perlahan menatap Giok, yang ternyata lebih dulu sudah menatap Hanum lekat.
" Itulah kesalahan terfatal yang kau buat, Hanum. Kau selalu bisa melihatku sebagai seorang sahabat dan kakak yang baik. Tapi kau tak pernah berani melihatku sebagai seorang laki-laki yang mungkin juga bisa mencintaimu dengan sangat baik."

            Hanum menunduk sedih mendengar pernyataan Giok. Hal yang sangat disesali Hanum. Tapi, sehebat apapun penyesalan yang Hanum rasakan tak akan ada gunanya karena Giok sebentar lagi akan bertunangan dengan Mawar. Dan jika kelanjutan kisah Hanum akan jadi sebuah elegi, tak ada yang pantas dipersalahkan selain Hanum sendiri. Hanum dan Mawar adalah sahabat di sanggar balet. Mawar adalah senior yang sangat baik dan begitu telaten membimbing Hanum sampai sejauh ini. Dan hari itu, entah niat dari mana Hanum memperkenalkan Mawar pada Giok, laki-laki yang hampir sepanjang umurnya telah menemani Hanum. Laki-laki yang hampir separuh umurnya selalu membuatnya begitu nyaman menikmati cinta dilubuk hatinya.
" Aku tau, sebesar apapun penyesalanku tak akan merubah apapun." Desis Hanum berat.
" Jangan membiarkan penyesalan itu menguasaimu, dia akan menjadi duri dalam daging. Aku tak mau kau merasakan kesakitan saat melihat kami." Pinta Giok meraih jemari Hanum dan membelainya.
Hanum tersenyum.
" Tenanglah, aku tak akan pernah khawatir jika yang bersanding denganmu adalah Mawar. Aku sudah lama mengenalnya, dan aku bisa pastikan dia gadis yang baik dan sangat pantas mendapatkan coffee prince sepertimu." Ucap Hanum optimis. Entah jujur atau hanya dibuat-buat.
" Kau ini pintar, tapi kenapa bersikap sebodoh ini?!" Protes Giok memukul jidat Hanum. Hanum meringis memegangi jidatnya.
" Jelas-jelas aku sangat menyayangimu. Jelas-jelas pula kau sangat berharap aku bisa disisimu selamanya, tapi kenapa malah membawa orang asing diantara kita? Kau ini sangat kepala batu tapi aku tak menyangka hatimu juga bisa kau ubah sekeras batu."
Hanum menunduk lagi, menatap kakinya yang terbalut sepatu kets lusuh yang entah kapan ditinggalkannya di coffee shop milik Giok ini.
" Paling tidak aku tetap akan masih bisa merasakan kasih sayang seorang kakak dan sahabat. Itu sudah lebih dari cukup untukku." Ungkap Hanum.
" Lalu?"
" Apa?"Hanum mendelik heran.
" Iya, lalu? Lalu bagaimana denganku? Apa kau tak pernah memikirkan bagiamana aku?" Tanya Giok
Hanum terdiam. Entah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Giok, atau hanya memang ingin diam tak menjawabnya.
" Aku begitu peduli padamu, tapi kenapa kau begitu egois padaku? Kau tiba-tiba mengenalkanku dengan gadis yang kau pikir baik hati dan paling pantas bersanding denganku. Tapi tanpa minta pendapatku dulu. Dan saat aku bisa menerimanya kau bersikap begini. Terluka dan memaksakan diri. Apa kau pikir aku tak sedih melihatnya?"
" Gi..." Rajuk Hanum mengguncang lengan Giok, dengan tatapan memelas pula, seperti meminta pengampunan.
Giok mendesah berat.
" Kau harus cepat-cepat mendapatkan pasangan agar aku percaya kau baik-baik saja."
" Kau pikir mendapatkan pasangan seperti mencari seekor kucing di pasar?" Rutuk Hanum
" Kau ini...." Giok hendak memukul kepala Hanum lagi tapi ponselnya berbunyi. Giok pun urung dan memilih mengangkat panggilan di ponselnya.
" Iya, Mawar...?" Sahut Giok membuat mata Hanum membulat sebentar, tapi cepat-cepat diredupkannya.
" Iya, aku akan segera kesana, secepat mungkin. Maaf, tadi masih ada sedikit pekerjaan di kedai."
Hanum mengucek-ucek ujung kaosnya.
" Aku akan sampai sebelum acara dimulai. oke." Lalu Giok menutup ponselnya. Memperhatikan Hanum yang seperti sibuk sendiri menata hatinya.
" Disini, meski hanya seperti ini, rasanya sudah sakit kan?" Tanya Giok menepuk dadanya pelan.
" Aku..." Hanum bingung harus menjawab apa.
" Tak usah mencoba berbohong Num, aku tau itu, karena aku juga merasakannya."
" Gi, kau membuatku merasa bersalah."
" Siapa suruh membuatku jadi serba salah. Kau tau aku paling tak bisa membantah permintaan ibuku, tapi kau malah sengaja membuat ibu juga jatuh hati pada Mawar. Kau yang menutup semua jalan untuk aku bisa melarikan diri dari situasi ini. Kau, Num!" Cetus Giok lirih dan berat.
Hanum menatap Giok tepat dimata indahnya. Pancaran kasih sayang itu jelas sekali terlihat oleh Hanum, dan Hanum sudah sangat bahagia masih bisa melihat itu.
" Selalu menyalahkanku juga tak mengapa, asal dengan begitu kau bisa lebih mudah menjalani semua ini. Soal aku, tak usah khawatir. Meski aku seorang balerina tapi hatiku seperti petarung, tangguh. Jadi berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang tak perlu." Ucap Hanum dengan wajah dan mata berbinar. 
" Cepatlah berangkat, kau ada janji menemui Mawar di panti asuhan kan?acaranya sejam lagi, jangan sampai terlambat." Lanjut Hanum menyerahkan jaketnya Giok yang ada dipunggung sofa yang diduduki Hanum.
" Kau mau ikut?" Tanya Giok tak yakin.
Hanum menggeleng, 
" Dengan kakiku yang begini, nanti malah merepotkan semua orang. Aku mau pulang saja. Istirahat biar besok sudah bisa pulih." Tolak Hanum ringan.
" Kuantar kau pulang dulu ya?!" Tawar Giok.
Hanum tergelak,
" Kau ini, arah ke panti dan rumah kan berlawanan. Bisa benar-benar telat nanti. Sudah, sana cepat berangkat. Aku nanti kan bisa pulang sendiri."
Giok bangkit dengan malas, seperti enggan meninggalkan Hanum.
" Biar nanti pulangnya diantar saja"
" Iya...sudah gak usah mikir gimana pulangku, aku bisa atur sendiri. Sana cepat berangkat, kau kan janji setengah jam lagi sampai sana." Desis Hanum mengibaskan tangannya, mengisyaratkan Giok untuk segera pergi.
Giok memakai jaketnya
" Setelah sampai rumah nanti aku akan langsung menemuimu, biar kau tak sendirian."
Hanum melebarkan bibirnya dan kembali mengibaskan tangannya, menyuruh Giok segera berangkat.
Giok pun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, dan ketika tubuh itu menghilang dari ruangan staff bibir Hanum pun menciut, wajahnya tertunduk lesu.
Tuhan, apa hatiku benar-benar bisa tangguh seperti petarung? Bathin Hanum sedih.

     Hanum yakin ini memang benar-benar akan menjadi perjalanan yang berat dan melelahkan. Yang paling Hanum khawatirkan adalah saat Hanum akan kehilangan seluruh tenanganya kalau terlalu sering memaksakan diri begini. Hanum memegang dadanya yang masih terasa sakit karena kepergian Giok yang akan menemui Mawar.
" Mau kubuatkan kopi dulu sebelum pulang?" 
Hanum terlonjak kaget mendengar suara yang tiba-tiba dari belakangnya. Hanum menoleh dan menemukan Bimo, salah satu pegawai kepercayaan Giok.
" Iiihh...kau hampir membuatku jantungan, Bim!" Rutuk Hanum kesal.
Bimo hanya tersenyum. Dan bermaksud masuk lagi ke dapur. Tapi Hanum memanggil.
" Kau bawa pulang saja sepatuku itu. Masih baru kok, juga baru kupakai sekali ini. Bisa kau berikan pada adikmu, atau kalau kau sedang punya pacar, kau bisa berikan pacarmu." Ucap Hanum menatap sepatunya yang tergeletak dibawah tak jauh dari tempatnya duduk.
" Sepertinya benar juga yang dikatakan Giok tadi."
Hanum mengernyitkan dahinya.
" Yang mana?"
" Bahwa kau ini pintar, tapi kenapa bersikap bodoh?"
" Hei..."
" Tapi itu benar."
" Hei...!!" Intonasi suara Hanum makin meninggi. Tapi Bimo malah tersenyum
" Aku bekerja untuk Giok tak hanya sebulan dua bulan. Aku bersamanya sudah 3 tahun lebih. Dan selama itu aku melihat hubungan kalian yang unik."
" Hari ini kau belum minum kopi ya? Ngomongmu ngaco." Sungut Hanum dan malah membuat Bimo tergelak.
" Kalian itu tak hanya saling mencintai tapi juga saling membutuhkan. Dan kau benar-benar sudah berbuat bodoh karena malah menyerahkan Giok pada gadis lain."
" Tapi Mawar itu baik, kau belum mengenalnya saja."
Bimo malah tertawa sinis.
"Kau selalu bilang dia itu baik, bahkan sebagai teman pun dia sudah kuanggap tak baik, paling tidak tak bisa mengerti keadaan temannya sendiri. Kalau dia memang temanmu yang baik dia pasti bisa mengerti posisi Giok dalam kehidupanmu dan pasti akan menolak saat kau mencoba menjodohkan mereka. Tapi apa kenyataannya? Dia pasti merasa beruntung mendapatkan pasangan seorang Giok yang sangat baik, perhatian, dan sukses. Iya kan?" Papar Bimo panjang lebar.
" Kau jangan sok tau dengan apa yang kau pikir sudah tau." Sanggah Hanum seperti benar-benar tak suka.
" Aku bukannya sok tau, tapi aku cukup tau dengan apa yang kalian tunjukkan saat kalian bersama. Kau begitu menyayangi Giok, dan Giok juga selalu ingin menyayangimu. Cinta kalian benar-benar tulus, sangat tidak adil jika berakhir begini."

          Hanum termenung meresapi setiap kata yang diucapkan Bimo. Mungkin memang benar, sangat tidak adil rasanya kalau Hanum dan Giok yang begitu saling menyayangi akhirnya malah tak bersama. Tapi mungkin begitulah cinta, kadang awalnya mencintai siapa tapi akhirnya malah bersama siapa. Seperti sebuah permainan yang membingungkan. Untuk kebanyakan orang mungkin memang hal bodoh saat kita sangat mencintai seseorang tapi malah melepaskannya karena kita berfikir ada yang lebih bisa membuatnya bahagia. Tapi bagi Hanum, asal tetap bisa menjaga perasaan itu tetap abadi dilubuk hatinya, itu sudah lebih dari cukup.
" Aaahh... sudahlah, nglantur terus ngomongmu, aku antar pulang dulu ya, mumpung kedai gak banyak pelanggan." Kilah Hanum mengalihkan pembicaraan. Lalu menatap sepatu yang dipakainya.
" Aneh, sepatu ini kapan kutinggal disini ya? Aku bahkan sampai lupa." Lanjut Hanum seperti bicara sendiri.
" Sepatu itu seperti penunggu di kedai ini." 
" Apa?"
" Kalau tak salah ingat, setelah pembukaan kedai ini. Mungkin karena kau kelelahan membantu pembukaan kedai ini. Kau sampai pingsan disini. Saat itu aku benar-benar yakin Giok sangat menyayangimu. Dia begitu cemas. Membopongmu ke dalam mobil sampai tak mempedulikan saat sepatumu tercecer jatuh."
Hanum berfikir sejenak, 
" Ooh...waktu itu." Hanum seperti sudah ingat. " Tapi yang kutau dia seharian malah ngomel-ngomel terus padaku, memaksaku makan yang banyak. Dan sampai mengancamku seharian tak boleh turun dari tempat tidur." Lanjut Hanum menggerutu. Bimo hanya menanggapi dengan seulas senyum.
" Kuambilkan kunci motor dulu." Pamit Bimo
Hanum menatap flatshoes yang dipakainya, bergantian dengan high heels yang tergeletak sembarangan.

        Mungkin tak jauh beda dengan pengaturan Tuhan, yang tak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi selalu mencukupi apa yang kita butuhkan. Karena kadang apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan. Mungkin begini juga pengaturan Tuhan, bersama selamanya saling menyayangi tanpa harus memiliki.  Kebahagiaan itu tak harus memiliki, karena tanpa memiliki, kita juga akan terhindar dari kehilangan. Justru rasa itu bisa bersemayam abadi tanpa terusik yang lain.
Hanum tersenyum penuh arti.






28 feb' 2014
teringat sumber inspirasiku

Jumat, 13 Februari 2015

CINTA YANG SEDERHANA

      Saat kubuka pintu dihadapanku, bebarengan dengan keterkejutan Adam yang sedang menempelkan secarik kain didadanya. Dan sebelum aku juga menghabiskan keterkejutanku, Adam buru-buru menyembunyikan benda itu yang bisa kutebak sebuah dasi. Dimasukkannya ke dalam laci meja kerjanya. Aku tersenyum lucu melihat wajah memias Adam.
" Kau ini, harusnya ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan kepala bagian." Gerutunya masih dengan sedikit kikuk.
" Oh, iya.. maaf." Aku pun buru-buru membalikkan tubuhku untuk keluar lagi.
" Hei..!" Desisnya membuatku berhenti diambang pintu.
" Kau sudah didalam, buat apa mau keluar lagi? Dasar aneh." Lanjutnya malah kesal.
Aku menghela nafas pendek, lalu kembali masuk. Menatap sedikit menyelidik pada Adam yang duduk tak tenang, sibuk menata posisi laci mejanya yang tak sempurna tertutup karena tersangkut benda tadi. Aku melongok sedikit.
" Apa itu? Dasi ya?"
" Bukan urusanmu!" Ketusnya
" Aku kan cuma bertanya, sewot amat. Lagian tampangmu itu lucu sekali seperti seorang siswa yang ketahuan menyontak saat ulangan. Padahal aku kan cuma melihatmu sedang mncoba sebuah dasi. Atau.. jangan-jangan dasi itu hadiah dari Mika ya?" Cerocosku menggodanya.
Dan lagi-lagi wajah tampan itu memias, aku tertawa ringan.

       Inilah kami, aku dan Adam. Entah harus kusebut apa kisah kami. 5 tahun lalu kami sempat menjalin kisah cinta yang penuh gelora. Tapi ternyata cinta yang bergelora tak menjamin kami bisa bertahan lama. Apalagi bertahan dalam ujian cinta. Setahun kemudian semua memudar seiring jarak yang memisahkan. Lalu kami seperti orang asing lagi. Tapi 4 bulan lalu takdir seperti menempatkan kami pada satu jalan lagi. Kegembiraanku dimutasi ke kantor pusat harus kubayar dengan pertemuan kembali dengan Adam yang sudah menjelma menjadi seorang kepala divisi di perusahaan jurnalis yang cukup terkenal di negara ini.
" Hanya sebuah dasi juga." Ucap Adam seperti meremehkan.
" Tapi meskipun hanya, itu adalah sebuah perhatian. Aku rasa Mika benar-benar mencintaimu. Dia gadis yang baik, cantik, cerdas dan benar-benar tulus padamu."
" Hei... apa kau kesini hanya untuk menceramahiku seperti ini? Harusnya sebelum menceramahiku lihat dulu dirimu. Kau sendiri bagaimana?" Tuding Adam menohok ulu hatiku.
" Bagaimana apanya? Aku baik-baik saja." Gerutuku sedikit memanyunkan bibirku.
Kali ini Adam yang tertawa ringan.
" Benarkah? Kalo kau baik-baik saja harusnya kau sudah menikah diusia seperti ini, atau paling tidak punya pacar-lah. Tapi mana, mana, mana....?" Lanjut Adam mendramatisir dalam mengolok-olokku.
" Memang apa salahnya aku belum menikah? Tak punya pacar? Aku mau sukses dulu jadi editor, baru memikirkan menikah." Sangkalku membuat tawa Adam kian lebar.
" Bilang saja kau belum bisa melupakanku." Desis Adam lirih seraya bangkit mencondongkan tubuhnya ke arahku. Meski terhalang meja kerja tapi wajahnya dan wajahku hanya berjarak beberapa inci saja. Bahkan hembusan nafasnya pun mampu kurasakan menerpa wajahku.
Getaran itu....
Ahhh.... Cepat-cepat kutepis perasaan konyol itu. Kupukul pelan wajah Adam dengan map ditanganku.
" Hei.... Jangan terlalu GR jadi orang. Kau pikir paling ganteng sedunia apa? Kalo laki-laki didunia ini sudah mati semua, baru aku memikirkan mau denganmu lagi." Desisku berkacak pinggang.
" Sombong sekali kau sekarang, apa karena sekarang kau sudah cantik dan seksi?" Adam mengusap wajahnya yang baru saja tertampar map ditanganku.
" Makanya yang sudah berlalu biarkan berlalu jangan coba-coba mengungkitnya. Lebih baik lihat yang ada didepanmu sekarang."
" Sekarang yang ada didepanku adalah kau." Sahut Adam enteng.
Aku siap-siap melayangkan map ditanganku lagi, tapi keburu Adam mengacungkan jari telunjuknya.
" Ingat, posisiku disini lebih tinggi, kau bisa kena masalah kalo kulaporkan berbuat tidak sopan padaku."
Aku geregetan jadinya. Kugenggam jemariku erat-erat.
" Kau benar-benar tak berubah, masih sangat menyebalkan."
" Dan kau masih saja gampang emosi."
Aku mendesah panjang.
" Sebaiknya terima saja Mika."
" Kenapa aku harus?"
" Karena dia baik."
" Dilihat dari siapa?
Aku diam.
" Tak semudah itu menerima seseorang Mut. Apa kau pikir membuka hati untuk seseorang itu seperti membuka pintu dan mempersilahkan orang masuk? Kalo kau pikir mudah, kenapa kau memilih sendiri sampai sekarang? Hah?"
 Aku tetap diam. Aku memang tak bisa mengelak. Sampai saat ini aku masih sendiri juga karena aku belum berani membuka pintu hatiku untuk cinta yang lain.
" Apa kita ini terlalu bodoh ya, Mut?"
" Apa?!" 
Adam bangkit dan berjalan ke arahku.
" Kita sudah berpisah 4 tahun lebih, kita dulu berpisah juga dengan kesadaran penuh bahwa kita tak bisa saling mencintai lagi. Tapi kenapa sampai sekarang kita masih sama-sama tak bisa melupakan?" Gumam Adam berhenti tepat didepanku, bersandar di tepian meja kerjanya.
Aku tak menyahut dan malah mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
" Kenapa kita tak mencoba lagi dari awal, Muthia..."
" Dam...!" Desisku menyusul ucapannya secepat mungkin. Dan kali ini tatapan kami beradu dengan sinar yang berbeda.
" Kau juga tau kita tak mungkin bersama lagi, apapun alasannya." Lanjutku dengan suara tertahan.
 Adam terlihat menahan emosinya. Tangannya mencengkeram pinggiran meja.
" Kau yang bilang, cinta yang sederhana itu lebih sederhana pemahamannya. Dan yang terjadi kita yang mempersulit pemahaman itu."
" Bukan pemahamannya yang sulit, Dam, tapi keadaanlah yang membuat kita mustahil bersama lagi. Tetaplah mengingat hal itu." Sergahku dingin.
Adam menunduk.

Mungkin cinta yang pernah terjadi pada kami tak pernah sesederhana yang pernah aku jabarkan. Cinta itu begitu rumit, sangat rumit hingga kami tak mampu memahaminya sedikitpun. Yang akhirnya membuat kami menyerah pada keadaan. Tapi lagi-lagi perpisahan tak membuat kami bisa melupakan satu sama lain. Aku bahkan sering bertanya, kenapa cinta yang kukenal tak pernah berjalan sederhana?
" Kalo aku tak bisa membahagiakanmu, harusnya kau menunjukkan padaku kau bisa bahagia dengan orang lain. Biar aku tak menyesal pernah melepaskanmu."
Aku tersenyum.
" Kau tak punya kewajiban untuk menyesal, dan aku tak mau jadi penghalang untuk perasaanmu pada Mika."
" Bisakah tak perlu menyebut namanya? Atau kau memang sengaja menyodorkan dia agar perasanmu bisa dengan mudah kau tutupi? Kau naif sekali, Mut."
" Kau yang naif, Dam." Sergahku dingin.
Adam menatapku lekat.
" Aku benar-benar tak pernah lagi berharap kita bersama lagi. Cinta kita terlalu rumit, saking rumitnya selalu membuatku sakit saat merasakannya. Aku tak menyukai cinta seperti itu, Dam. Yang untuk memilikinya harus menahan sakit. Aku ingin  cinta yang sederhana, yang bisa berjalan bersama dan berakhir sederhana. Itu saja."
Adam tak bergeming, bahkan seperti mematung.
" Ini berkas yang kau minta tadi." Lanjutku menyodorkan map ditanganku. Adam menerima map itu perlahan.
" Aku permisi dulu, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan." 
Aku beringsut pergi menuju pintu.
" Benarkah..." Suara Adam menghentikan langkahku diambang pintu.
" Benarkah sudah benar-benar berakhir? Semuanya?" Lanjut Adam lirih.
" Aku bahkan merasa kita dulu belum memulainya. Kita dulu baru akan memulai perjalanan itu, tapi mungkin kita terlalu banyak pertimbangan hingga kita tak bisa menemukan kesepakatan. Jika 2 orang memutuskan berjalan bersama, harus menyamakan langkah dulu. Tapi selamanya kita tak bisa berjalan bersama, karena langkah dan jalan yang kita tempuh tak pernah sama." Lalu aku melangkah lagi sambil menutup pintu dihadapanku.

Mungkin aku memang bukan pecinta yang baik, tak mau mengalah untuk agar bisa menyamakan langkah dengan orang yang kucintai. Tapi ribuan kali aku berfikir, jika cinta itu untuk membuat kita bahagia kenapa kita perlu mengorbankan kebahagiaan kita untuk mereka? Apakah itu pantas?









Apakah cintamu benar-benar sudah membahagiakanmu?
13/02/2015

Sabtu, 07 Februari 2015

ELEGI HATI

    Aku menunduk menghindari tatapan lekat dari mata indah Elang. Kesunyian diantara kami begitu membuatku tersiksa. Membuatku ingin berlari sejauh mungkin dari tempat ini. Tatapan itu seharusnya bisa membuatku bahagia, tapi entah kenapa justru membuatku tak tenang dan juga membuatku merasakan sederet rasa bersalah.
" Kau suka coklat kan? Makanlah!" Katanya kemudian dengan menyodorkan sebatang coklat yang memang kesukaanku.
Kulirik sebentar coklat yang menunggu untuk kuambil itu.
" Kenapa?" Aku malah bertanya, dan tetap menunduk.
Elang tersenyum dengan tangannya meraih tanganku lalu meletakkan coklat itu.
" Karena aku tau sekarang suasana hatimu sedang tak baik. Dan sudah menjadi kebiasaanmu kalo suasana hati sedang tak baik kau selalu makan coklat. Katamu rasa manisnya bisa mencairkan suasana hati yang terasa pahit." Papar Elang
Kata-kata itu.... Bahkan Elang mengingatnya dengan baik. Dan entah kenapa justru itu membuatku makin tak tenang.
" Maksudku.... Kenapa kau selalu baik padaku? Kenapa selalu peduli dengan keadaanku?" Tanyaku menatapnya dengan sinar protes. Tapi Elang malah membalasnya dengan senyum tipis. Aku menunduk lagi.
" Aku juga tak tau. Selama mengenalmu setahun terakhir ini aku juga tak berhenti mencari tau kenapa aku selalu ingin mencintaimu. Sekeras apapun kau menolak perasaanku, aku bahkan tak peduli itu. Aku hanya berfikir aku ingin mencintaimu. Aku ingin bersamamu. Karena dengan bersamamu, dengan mencintaimu aku merasa aku bahagia. Aku merasa hidupku sudah sempurna." Ungkap Elang.
Menatapnya saat berbicara semua kalimat itu, aku merasa tak satupun kata yang dibuat-buat. Semaunya seperti sudah tertata dengan sangat apik, seperti sebuah sajak dari pengarang puisi dunia. Dan itu membuatku makin merasa bersalah.
" Lang, aku...." 
Kata-kataku terpotong oleh desahan Elang. Kugigit bibirku menahan rasa sesak dadaku yang menyeruak tiba-tiba.
" Apa kau masih berfikir aku mencintaimu karena aku merasa bersalah pada apa yang sudah dilakukan Genta padamu?" Cetus Elang.
Aku menunduk makin dalam. Sumpah, aku benar-benar ingin lari sejauh mungkin dari tempat ini. Kemanapun asal tidak disini, dihadapan Elang.

Prahara setahun lalu itu masih jelas teringat diotakku. Bahkan aku yakin akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Saat itu aku masih bahagia menjadi kekasih Genta. Genta yang manis, pintar membuat suasana hatiku bahagia, dan Genta yang selalu membuatku bangga dengan segala apa yang dimilikinya. Sukses di dunia kedokterannya yang belum lama digeluti, juga akan keberaniannya menerjang batas kecepatan di hobi racingnya. 
Tapi semua jadi ironis saat semua impian yang kami bangun bersama akhirnya malah hancur tergilas ban motor balapnya. Sore itu, Genta menjemputku di sanggar balet usai aku mengajar les balet dengan motor balap kesayangannya. Akupun sudah terbiasa menitipkan nyawaku padanya yang begitu percaya diri menerjang kecepatan. Tapi sore itu...
" Aku tak menyuruhmu melupakannya sekarang Ai. Aku tau Genta terlalu lekat menempel diseluruh sisi hatimu. Aku...."
Aku mendongak menatap pria tampan dihadapanku. Dia seorang pengacara yang cukup punya nama. Tak susah mencari pendamping hidup untuknya. Tapi dia tetap meluangkan waktunya untuk menemaniku disini, setiap hari.
" Aku tak tau cinta apa ini, Ai, aku hanya merasa harus mempertahankannya karena aku bahagia merasakan cinta ini. Bersamamu seperti ini, meski hanya ngobrol dan menatap lautan itu, aku merasa bahagia Ai."
Elang bangkit, berdiri membelakangiku. Menantang laut dan cakrawala disana. Seperti menentang semua ketidaksetujuan keluarga besarnya yang terus mempertahankanku dengan segala hal yang kumiliki
" Bohong kalo aku bilang aku tak merasa kehilangan Genta. Meski kami sangat jarang bertemu tapi dia tetap adikku. Waktu kecil kami tumbuh bersama. Dan juga bohong kalo aku awalnya memang hanya merasa bersalah padamu, yang karena adikku seluruh impianmu hancur berantakan."
Aku menunduk menatap kedua kakiku. Elang berbalik menghadapku lagi.
" Aku mungkin tak bisa menggantikan posisi Genta dihatimu, aku juga tak bermaksud menggeser tempat Genta dihatimu. Aku hanya berharap kau memberiku kesempatan aku membahagiakanmu seperti yang dilakukan Genta dulu. Aku ingin membantumu mengumpulkan lagi serpihan impianmu yang masih tersisa usai kecelakaan itu Ai. "
Dan akhirnya aku menangis. Tangis yang selama ini mampu kusembunyikan dari Elang akhirnya ketahuan juga. Elang duduk berjongkok dihadapanku.
" Aku hanya merasa tak pantas untukmu Lang.."
" Hei... " Desis Elang merengkuh jemariku.
" Tak ada yang berhak memutuskan kepantasan itu selain aku sendiri Ai. Aku menemukan arti ketegaran darimu. Aku mengerti apa itu cinta yang tulus darimu. Dari bagaimana kau menyingkapi kepergian Genta dan menerima dengan sangat ikhlas apa yang ditinggalkan Genta. Aku hanya ingin merasakan juga bagaimana hangatnya hidup dalam cinta seperti itu." Lanjut Elang pasti.
" Tapi aku cacat Lang, aku bahkan tak bisa berjalan bersamamu bergandengan tangan seperti mereka." Keluhku masih dengan air mata mengalir.
Elang tersenyum seraya mengusap air mataku.
" Yang kubutuhkan hanya kau menggegam tanganku seperti ini dan tak akan melepasnya apapun yang terjadi. Selebihnya serahkan saja padaku." Kali ini Elang begitu percaya diri mengatakan itu.
Kutatap jemariku yang tergenggam erat jemari kekar itu. Lalu beralih menatapnya. Tersungging senyum lebar yang manis menunggu kepastianku.
" Asal kita punya keberanian, kita pasti bisa bahagia Ai. Aku mohon percaya padaku."
"Tapi aku akan selalu merepotkanmu Lang, aku juga akan selalu membuat kau capek." Keluhku.
" Kelihatanya memang akan jadi hari-hari yang melelahkan." Tanggap Elang " Tapi aku akan bahagia." Lanjutnya dengan senyum lebar.
Sebelah tangannya lalu mengusap sisa air mataku. Sebelah lagi mengenggam erat jemariku.

Aku juga belum tau tentang keberanianku memutuskan ini. Aku hanya mencoba memberi kesempatan sebuah hati yang dengan berani ingin mengajakku membangun impian yang setahun lalu sudah hancur berkeping-keping. Aku hanya ingin kembali berjalan tegak melanjutkan hidupku setelah sempat terhenti oleh kepergian Genta.
Mungkin tak akan seindah yang kami bayangkan, tapi paling tidak aku ataupun Elang akan sama-sama mencoba berjalan bersama meski dari titik awal yang berbeda.


cinta yang menyembuhkan
08 feb' 14

Minggu, 01 Februari 2015

MEMILIKI KEHILANGAN

             Ninda turun dari mobil dengan setumpuk kertas foto ditangannya. Sebuah langkah menyusul turun dari pintu mobil sebelah.
" Kau harusnya tak perlu ikut turun, nanti kau terlambat seminar." Ujar Ninda pada laki-laki yang malah berdiri dihadapannya, dengan senyum lebar. Arga.
" Tak apa, aku cukup menambah kecepatan mobil ini. " Jawabnya, lalu menoleh " Jadi ini studiomu?" Lanjutnya bertanya seraya mengamati bangunan mungil tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ninda tersenyum tipis.
" iya, inilah hasil kerjaku selama ini. Tidak begitu besar, tapi aku sangat bangga dan menikmatinya."
" Ibumu pasti sangat bangga denganmu. Kau sudah jadi fotografer tetap disebuah rumah produksi dan juga sudah punya studio foto sendiri. Kau sudah jadi orang sukses, Ninda." Ucap Arga sedikit berbisik pada kalimat terakhirnya.
" Hei... kau sedang menyindir ya bilang aku sukses? Bukannya kau yang lebih pantas disebut sukses? Lihat, penampilan berjas dan berdasi, mobil keren,..." Pujian Ninda terpotong oleh dehem pendek Arga. Ninda tersenyum.
" Tanpa bantuan papaku, aku tak mungkin sejauh ini. Berbeda denganmu, kau berjalan sendiri dan bisa setinggi ini."
Ninda tersenyum lagi.
" Kalo ada waktu, mampirlah ke rumah, mamaku pasti senang melihatmu." Lanjut Arga
Ninda mau tak mau tersenyum lagi
" Hei... waktu masih kecil kau pelit sekali soal tersenyum, kenapa sekarang senyummu itu begitu gampang muncul?" Gusar Arga seperti memprotes.
" Sudahlah, cepat berangkat, kau benar-benar bisa terlambat. Terimakasih sudah mengantarku dan sampaikan salamku untuk mamamu, kapan-kapan aku pasti mampir dengan ibuku."
Arga tersenyum dan pamit. Setelah mobil yang ditumpangi Arga menghilang ditikungan, barulah Ninda menggeser tubuhnya. Tapi baru kakinya akan diangkat melangkah, sebuah sosok tinggi tegap sedang menatapnya dengan pandangan tajam.
Ninda tersenyum getir menemukan sosok itu. Sosok tinggi tegap yang dulu sering menyisakan bahunya untuk bersandar kala Ninda lelah. Sosok rupawan yang dulu selalu mendekap tubuhnya ketika Nindamerasa mencemaskan sesuatu. Nesta.
" Aku perhatikan kau begitu bahagia saat ngobrol dengannya tadi. Apa dia yang membahagiakanmu setelah putus denganku?" Tuding Nesta
Ninda tergelak,
" Apa hari ini kau tidak punya kerjaan sampai repot-repot mengurusi mantan pacarmu dekat dengan siapa?"
" Aku hanya tak menyangka ternyata kau juga punya selera orang2 berdasi, padahal dulu kau selalu bilang kalo orang2 berdasi itu tak punya nurani."
" Ingatanmu sangat bagus, sampai masih bisa mengingat ucapanku yang aku sendiri sudah lupa kapan itu kuucapkan."
Nesta mendekat. Dan Ninda bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang begitu keras berdegup.
Ya Tuhan..... kenapa ini masih terjadi tiap kali dia mendekat sedekat ini? Aku bahkan tak yakin dia masih peduli perasaan itu atau tidak, lalu kenapa aku masih menjaga semua ini?
" Lalu?" Tanya Nesta seperti memojokkan Ninda kesudut tersempit. Bahkan sampai Ninda merasa kesulitan bernafas.
" Aku sudah mengenalnya sejak kecil, dia anak teman ibuku. Kami dulu selalu bertemu tiap kali ibu kami berkumpul. Tapi apa pedulinya kau dengan semua ini? Bodohnya aku, kenapa repot-repot menjelaskan padamu siapa itu Arga."
Nesta menatap Ninda lekat, dan bagi Ninda itu benar-benar membuatnya makin sulit bernafas dengan detak jantung yang kian bergemuruh. Tatapan yang seakan memaksa Ninda untuk mengatakan yang sejujurnya.
" Apa kau benar-benar sudah berubah selera, menyukai pria berdasi yang dulu kau cap sebagai penjilat dan tak punya hati nurani?" Selidik Nesta
" Aku tak pernah mendefinisikan seleraku. "
" Tapi saat aku berjas dan berdasi, dan menjadi pengawal orang-orang berdasi, kau mengatakan bahwa aku sudah berubah menjadi golongan mereka."
Ninda menatap pria bermata tajam itu. Teringat lagi masa-masa indah saat mereka begitu menikmati hidup yang sederhana. Saat Nesta belum ada diposisi seperti sekarang ini. 
" Aku hanya.... lebih suka kau yang dulu. Saat kau masih menjadi pelatih taekwondo. Mengajari orang-orang agar bisa menjaga dirinya sendiri. Bekerja untuk semua orang tanpa batasan apapun. Bukan menjadi budak orang berdasi yang tak punya hati nurani."
Nesta mendesah jengkel.
" Apa kau tak merasa kalimat terakhirmu itu sedikit kasar? Budak?"
Ninda mengacuhkan kejengkelan Nesta dan bermaksud melangkah pergi.
" Kubawakan barangmu." Desis Nesta merebut tumpukan kertas foto ditangan Ninda.
Sedetik Ninda terkejut barang bawaannya berpindah tangan tanpa dia sadari, tapi detik berikutnya Ninda malah tergelak. Membuat Nesta mendesah lagi.
" Kau tak perlu repot-repot membantuku, toh akhirnya juga akan kau tinggalkan sebelum bantuan itu selesai setengahnya."
" Bisakah kau tak bersikap sinis padaku?"
" Bukankah ini kenyataannya? Kau seorang bodyguard, tapi aku merasa kau seperti dokter UGD, harus selalu siap sedia saat ada panggilan. Bahkan dokter UGD pun punya jam kerja, Nes. Tapi kau.... kapan jam kerjamu? 24 jam. 7hari full. Kenapa? Karena bagi mereka kau bukan bodyguard, tapi budak!" Desis Ninda marah.
Nesta menunduk.

Benar, hubungan mereka tiba-tiba menghilang setelah Nesta resmi masuk agen bodyguard untuk orang-orang penting. Semua waktu tersita. Semua, tak ada yang tersisa untuk Ninda sedikitpun. Dan itu sangat menyesakkan.
" Maaf. Aku tau aku terlalu menelantarkanmu."
" Kenapa pakai bahasa menelantarkan? Itu seperti mengibaratkan aku ini sebuah mainan."
" Hei...." Sergah Nesta gusar, menatap Ninda lekat.
Kali ini Ninda yang menyembunyikan pandangannya.
" Kita tak mungkin bersama lagi selama keadaannya masih seperti ini." Aku Ninda lirih.
Ya Tuhan... kenapa rasanya sakit sekali mengatakan itu? Nesta, dulu aku sendiri yang mengatakan padamu kalo mencintai orang itu sangat menyenangkan. Tapi kenapa aku merasa yang kukatakan itu sangat lucu? Jangankan merasa senang, aku justru begitu kesakitan tiap kali aku ingat aku mencintaimu?
" Aku mungkin memang orang yang terlalu acuh dalam hal perasaan, tapi kau adalah orang yang kejam pada perasaanmu sendiri Nin."
" Aku tak merugikan siapapun, ini perasaanku sendiri, apa pedulimu?"
Nesta tergelak,
" Kau kejam, juga egois. Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri Nin. Kau bahkan tak peduli aku sudah bekerja sangat keras untuk tetap mempertahankan perasaan ini."
Apa aku tidak? Apa kau pikir aku juga tak bekerja sangat keras menghadapi perasaan ini, Nes? Betapa menyedihkan aku ini, hanya mampu jujur dalam hati.
Ninda menggeser posisi tubuhnya untuk menghindari tatapan marah Nesta.
" Nin, beri aku...." Ucapan Nesta terpotong oleh dering ponselnya.
Ninda tersenyum kecut, lalu menghadap penuh ke sosok dihadapannya.
" Angkatlah, itu panggilan yang penting. Aku bisa urus sendiri pekerjaanku." Gusar Ninda mengambil kembali tumpukan kertas foto ditangan Nesta.
" Lagipula aku sudah terbiasa mendapat perlakuan begini. Ditawari bantuan, tapi kemudian ditinggalkan." Lanjut Ninda dingin.
Meski terlihat begitu kecewa dengan semua ucapan Ninda, Nesta hanya mampu mendesah berat sebelum kemudian menjawab panggilan di ponselnya. Ninda memilih melangkah pergi menuju pintu studionya. Baru akan memasukkan kunci pintu, Nesta sudah menyusul dengan langkah lebar.
" Jangan!" Cegah Ninda segera, sebelum Nesta sempat mengambil alih kunci yang dipegang Ninda. Dan tindakan itu seperti berhasil mengurungkan niat Nesta.
" Pergilah melakukan tugasmu, kau sudah tak punya kewajiban membantuku." Lanjut Ninda, tetap pada pandangannya.
Ya Tuhan... kuatkan aku, jangan sampai aku menangis dalam keadaan begini. Aku harus kuat dihadapannya. Agar dia tak lagi berbuat begini. 
" Bisakah kita tak begini terus ?"
Ninda memejamkan matanya sebentar. Sekedar untuk menguatkan hatinya
"Bisakah kau tidak terus-terusan bersikap keras begini? Bisakah kau berhenti membuat semua jadi lebih rumit? Aku hanya butuh sedikit pengertianmu tentang pekerjaanku. Masalahnya bukan pada pekerjaanku, tapi karena kau yang tak bisa menerima pekerjaanku. Didunia ini tak hanya aku yang bekerja sebagai pengawal. Bahkan presiden pun butuh pengawal. Kenapa pikiranmu terlalu buruk pada profesi pengawal?" Geram Nesta 
Karena aku terlalu mencintaimu. Tak bisakah kau mengerti itu, Nes? Dengung Ninda dalam hati, hanya dalam hati.
" Pergilah." 
" Percuma kalo kau mengusirku terus, tapi pada kenyataannya kau sendiri tak mau pergi."
" Apa maksudmu?" Tanya Ninda diiringi tawa lirih.
" Kalo kau memang tak mau memberiku kesempatan mendampingimu lagi, kenapa kau malah membiarkan hidupmu begitu menyedihkan begini? Kalo kau memang sudah tak menyukaiku harusnya kau mencari penggantiku, cari yang jauh lebih baik dari aku. Bukan malah bersembunyi dibilik gelap dengan alasan mencetak foto."
Ninda tersenyum getir, padahal dadanya bergemuruh, sampai kesulitan bernafas. Dieratkan rengkuhan kertas fotonya agar gemetar yang tiba-tiba menyerangnya itu tak semakin kuat.
" Aku...." Ninda mencoba bicara, meski sedikit kesulitan. Ninda menarik nafas panjang dulu, lalu menatap Nesta yang berjarak tak lebih 30 centi.
" Aku pernah mencoba menjadi kekuatan untukmu,  mendukungmu. Tapi tiap kali kau mendapat kekuatan itu kau malah meluapkannya pada pekerjaanmu, kau meninggalkanku dalam kecemasan. Apa kau pernah mengalami bagaimana rasanya menunggu dalam kecemasan? Aku bukan orang hebat , Nes, aku tak bisa hidup dalam kecemasan."
" Jadi itu alasanmu lepas dariku?"Tuding Nesta
Ninda menunduk tak menjawab, dan malah membuka pintu studio foto dihadapannya. Tapi sebelum tubuh Ninda sepenuhnya memasuki pintu, Nesta berujar lagi
" Jika kau berubah pikiran, aku masih disini. Tanganku masih akan mengenggammu agar kecemasanmu berkurang." Kali ini ucapan Nesta seperti sebuah harapan yang dalam.
Maafkan aku , Nes. Bathin Ninda menggigit bibirnya, mencoba menahan agar tangisnya tak pecah. Ninda pun buru-buru masuk ke dalam studionya. Dan Ninda benar-benr merasakan dentuman yang sangat keras di salah satu dinding hatinya. Dan itu sangat menyakitkan.
Aku hanya tak ingin menambah bebanmu , Nes. Aku terlalu mencintaimu dan aku tak mau jadi batu sandungan dalam langkahmu. Maafkan aku , Nes, jangan menungguku. 
Tiba didalam studionya tangis Ninda pecah. Air matanya mengalir tak terbendung. Tumpukan kertas foto dipelukannya perlahan terlepas dan berhamburan jatuh.

Dalam sebuah jabaran perasaan kadang memang ada sudut yang sulit dipahami, bahkan untuk pemilik perasaan itu sendiri. Dan bagi Ninda, mencintai Nesta adalah keharusan untuk menjaga jarak sejauh mungkin. Agar perasaan itu tetap terjaga. Meski untuk menjalankan itu harus bertahan hidup dalam kepedihan. Karena pada dasarnya, rasa kehilangan hanya akan ada jika kita merasa memilikinya. Semakin besar rasa memiliki itu, maka semakin menyesakkan membayangkan rasanya kehilangan. 
Dan tiba-tiba Ninda seperti tersadar dalam tidur panjangnya, seluruh ingatannya terpaku pada kenangan bersama Nesta. Ninda melepas begitu saja kunci pintu dan tas yang sejak tadi disandangnya. Dan langkahnya bergegas keluar. Masih dengan isak dan derai air matanya, Ninda menyapu semua pandangannya ke segala penjuru. Kecemasan begitu kentara.
Nes, maafkan aku... Aku bukan egois atau kejam, aku hanya penakut. Aku terlalu takut mengakui kalo aku sangat mencintaimu dan tak pernah berani membayangkan rasanya kehilanganmu. Dengung Ninda dalam hati.

Aku mencintaimu Nes, sangat. Dan aku tak tau kenapa rasa ini begitu menyesakkan dadaku.




Mencintai orang itu,
menyenangkan atau menyakitkan?
01 feb '15