Minggu, 28 Agustus 2016

Overdose [part 2]

Nathan, dia anak yang manis. Sebagai tuan muda, dia juga tuan muda yang manis. Kulitnya yang putih bersih seakan-akan sejak bayi dia sudah dimandikan dengan air susu. Tingkah lakunya pun terkesan feminim. Bahkan bisa dibilang dia nyaris OCD. Apa-apa harus perfect. Harus sesuai aturan yang ada. Dan dia memang sering bertingkah semau dia. Seperti tak ada yang bisa melawan kehendaknya.

Seperti hari ini, dia dengan seenaknya mengajakku keluar makan siang, ah... tidak, lebih tepatnya menyeretku untuk mau diajaknya makan siang bersamanya. Tanpa bertanya dulu aku punya pekerjaan atau tidak. Tak peduli akan ada interogasi yang menimpaku dari para penggemarnya atau tidak, Karena memang itulah Nathan.

"Jadi itu rumahmu? Di lingkungan kaya dipinggir hutan gini?" tanyanya tak percaya sesaat setelah BMW Luxury model terbaru miliknya memasuki area tempat tinggalku.

Sebuah kompleks perumahan yang belum cukup banyak penghuninya karena terbilang masih baru. Pun begitu aku sangat menyukai daerah ini. Cukup jauh dari kebisingan kota, tapi tidak terlalu jauh untuk akses ke beberapa tempat yang penting, terlebih pasar. Satu lagi, karena rumah tipe 2 kamar ini sebenarnya adalah 'balas jasa' dari salah satu klienku dulu. Jadi ya, semua aku nikmati saja.

"Iya, tuh, depan situ, yang depan pagarnya ada bunga mataharinya." Tanganku menunjuk ke depan, dalam temaram lampu jalan yang tak begitu banyak.

Nathan tergelak, "Bunga matahari? Kamu ya, Una, belum berubah juga. Masih tetap suka bunga matahari yang gede tapi gak ada wanginya. Trus juga, tetep aja masih suka minum coklat. Liat tuh, kulitmu udah kaya coklat!" ledeknya terkekeh.

"How about you, boy? Kamu juga masih saja semau gue. Emang firma itu punya kakekmu, sudah berlagak kaya petinggi aja main maksa orang nemenin kamu seharian," sebalku.

Dan Nathan tetap terkekeh.

"Hahaha, lucu ya? Ketawa aja terus, tapi berhentiin mobilnya dulu!" dengusku pasang wajah jengkel.

Nathan tetap melanjutkan tawanya, meski dengan menuruti perintahku; menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumahku. Kami pun turun.

"Katanya kamu tinggal sendiri?"

"Lha emang sendiri, emang sama siapa coba, ibuk kan ada di Surabaya."

"Tapi kenapa lampu di dalam rumahmu menyala?" tanya Nathan melihatku heran,

"Oh, mungkin Bian." Aku siap-siap membuka pintu gerbangku yang memang sudah tidak terkunci, pasti Bian memang sudah datang seperti yang dikatakannya tadi pagi kalo mau kesini. Bahkan motor sport-nya udah nangkring di depan teras situ.

"Bian?"

Aku menoleh ke arah Nathan.
Oh, iya, saking asyiknya bernostalgia, aku memang sampai lupa menceritakan soal Bian kepada Nathan.

"Oh, Bian itu... pacarku," jelasku, tepat saat pintu rumah terbuka dan Bian muncul dari dalam rumah.

"Udah pulang, Na? Sama siapa?" tanya Bian mendekat,

"Oh, ini, Bi, dia... Nathan," jawabku mendapat sambutan kecupan sekilas di pipi kiriku.

Dan kedua pasang mata dari kedua pria yang kini ada di sisi kanan dan kiriku itu terlihat sama-sama heran. Atau mungkin lebih ke tidak percaya.

"Nathan?" desis Bian, seperti lebih detail memperhatikan sosok yang tingginya beberapa centi melebihi tinggi dirinya..

"Iya, Nathan, dia ternyata advisor baru itu, amazing kan? Nathan, kenalin ini Bian, pacarku."

Dan kedua mata bening itu tetap berekspresi sama seperti tadi. Tangannya pun tak bergerak meski Bian sudah mengulurkan tangannya.

"Nathan... " tegurku, sama seperti dulu tiap kali dia bertingkah tak seharusnya pada orang lain.

Barulah mata bening itu sedikit meredup, setengah enggan diulurkan tangannya menyambut uluran tangan Bian.

"Senang bertemu denganmu, Nathan, Yuna sering cerita tentang kamu, tuan muda yang manis,"

Segera kusikut pinggang Bian sebagai wujud protesku, tapi sayang itu tetap terlambat karena mata bening Nathan kembali memancarkan sinar yang aneh. Yang aku sendiri masih tak mengerti ekspresi apa itu. Nathan sejak kecil paling tak suka kalo dijuluki 'Tuan Muda yang manis'. Meski kenyataannya dia memang tuan muda.

"Masuk dulu yuk, Nat," ajakku mencoba mencairkan suasana yang terasa makin horor.

Saat kecil, aku paling tak suka ekspresi mata Nathan yang seperti itu. Serasa mau menghabisi apa yang tak disukainya.

"Nat,...?!"

Akhirnya ekspresi itu mengabur oleh pegangan tanganku pada lengannya.

"Lain kali saja, aku masih ada urusan." Nathan meraih tanganku yang ada dilengan kirinya, lalu menggenggamnya.

Kutepuk bahunya pelan dengan tanganku yang lain. Dengan seulas senyum tipis.

"besok aku jemput ya?"

Aku setengah gelagapan.

"Tidak perlu, Besok Yuna biar berangkat bersamaku."

Lalu mata  bening itu menatap lurus ke Bian yang baru saja 'menolak' ajakannya.

Lagi. Mata itu kembali seperti tadi.

"Iya, Nat, gak usah, lagian kan rumahmu sama daerah sini sebenarnya berlawanan arah," alibiku.

Dan aku tertegun beberapa detik waktu tiba-tiba tubuh tinggi itu condong ke arahku. Lebih tepatnya bibirnya mendekati keningku dan mengecupnya lembut.

Ya, Nathan menciumku di depan pacarku.
Meski aku tak cukup kaget dengan perilaku Nathan yang selalu semau dia tanpa peduli sekitarnya, tapi ini sudah cukup gila.

Kudengar Bian sedikit berdehem, membuatku makin serba salah.
Nathan, benar-benar nih anak,
Tapi Nathan tetaplah Nathan sekalipun dia sudah menjadi Advisor lulusan universitas Harvard. Dia selalu merasa dia-lah yang berkuasa. Pemegang kendali.

Nathan tersenyum manis, "Sampai ketemu besok ya,"

Aku tersenyum canggung dan melepaskan genggaman tangannya perlahan.

"Setelah urusan selesai, pulang dan istirahatlah. Seorang Nathan tidak boleh terlalu capek," saranku malah ditanggapinya dengan tawa kecil.

"You know? You're always the best to me,"

Aku kini tergelak, kutepuk pipinya gemas, "Kamu tuh masih saja suka lebay,"

Nathan tersenyum lebar, matanya berbinar seperti waktu kecil dulu ketika berhasil melakukan hal yang disukainya. Perlahan genggaman tangannya pada kelima jariku terlepas juga, lalu langkahnya beringsut kembali menuju mobilnya. Bersamaan Nathan masuk ke dalam mobil, kurasakan sebuah tangan merengkuh pinggangku, mendekatkan pada tubuh tegapnya yang selalu beraura maskulin. Dan seperti yang sudah-sudah, aku tak begitu berekspresi mendapati perlakuan 'manis' itu. Malah kini kulambaikan tanganku dengan seulas senyum lebar kala Nathan menjalankan mobilnya.

"Sepertinya aku harus mulai mencari cara memaksamu mau menikah denganku," desis Bian membuatku langsung tergelak. Dan itu berakibat rengkuhan satu tangan kekar tadi makin menguat. Seakan ingin menyatukan tubuhku dengan tubuhnya. Kutanggapi dengan tawa geli.

"Udah deh, gak usah ikutan lebay kaya Nathan,"

"Tapi tingkahnya benar-benar membuatku cemburu."

Kuputar posisi tubuhku dan membuatnya kini berhadapan penuh dengan Bian. Kutatap wajah tampan 5 centi didepan mataku itu dengan senyum lembut.

"Nathan is nothing jika dilihat dari segi perasaan, oke? He is my little brother, dulu ataupun sekarang." tegasku mencoba mengusir api cemburu dengan sasaran Nathan itu dengan senyum..

"Tapi tidak baginya, Yun. Dia mencintaimu sebagai seorang wanita."

Aku terdiam sedetik, tapi detik berikutnya aku tergelak. Tidak, lebih tepatnya terpingkal. Benar, aku terpingkal-pingkal mendengar kata-kata Bian tadi. Dan meskipun Bian kemudian berwajah masam, aku tetap tak menghentikan tawaku. Bahkan saat dia melepas rengkuhan tangannya dan berlalu masuk ke rumah dengan langkah jengkel.

"Hei, sayang, please deh," protesku akan sikap merajuknya yang tetap kutanggapi dengan tawa.

Yang benar saja, Bian si pria dewasa ini akhirnya mencemburuiku untuk pertama kalinya dalam rentang hubungan kami yang sudah memasuki usia 4 tahun? Dan cemburu itu diberinya label Nathan.

Semua yang berhubungan dengan perasaan memang selalu aneh.



BYL, 28/08/2016
Win@rinda, 2016



Minggu, 21 Agustus 2016

Overdose



Lift pagi ini lumayan lenggang. Hanya berisi kurang dari 10 orang. Dan sepertinya hanya aku yang paling akhir turunnya. Maklum, kantor kerjaku ada di lantai 17 gedung ini. Sampai di lantai 3 sudah ada yang mau keluar. Kusandarkan tubuhku ke dinding. Kedua cuping telingaku terpasang headset sejak masih di busway tadi. Diujung telpon sana sepertinya Bian-pacarku- masih sibuk mendiskusikan sesuatu dengan temannya. Kutunggu dengan sabar, toh aku lebih sering mengacuhkan dia saat dia menelpon. Bahkan kadang saat bertemu langsung aku juga sering menduakannya dengan pekerjaanku. Padahal sebagai seorang polisi, waktu luang Bian tak banyak. Apalagi kalo ada kasus, bisa berhari-hari tanpa kabar.

Tapi untung aku orangnya easy going. Yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya. Buktinya selama hampir 4 tahun hubunganku dengan Bian tetap eksis. Bahkan bisa dibilang hampir tanpa pertengkaran tak berguna. Mungkin karena sikap dewasa Bian. Atau mungkin malah sikap 'whatever'ku.

"Yuna," panggil Bian akhirnya.

"Hmm," Hanya kubalas dengan deheman. Mataku sibuk menatap layar ipad ditanganku. Sedikit mengintip berita hari ini. Biar tetap up to date sama dunia luar sana. Terlebih dunia diluar hukum yang selama ini kugeluti. Kadang aku juga butuh refreshing 'meloncat' ke dunia alay Korea. Drama korea, juga musiknya yang identik dengan cowok-cowok cantiknya.

"Kita sambung nanti malam aja ya, mau aku jemput?" tawarnya.

"Gak usah, aku sepertinya pulang rada sorean. Hari ini gak begitu banyak kerjaan."

"Kalo begitu, aku ke rumah ya."

"Hmm,"

Bian tergelak kecil mendengar persetujuan acuhku. Tapi memang apa istimewanya Bian main ke rumahku? Dia bahkan sudah punya kunci duplikat ruamhku. Kapan pun dia mau, dia bisa masuk.

"Sepertinya aku memang masih gagal mengajakmu menikah kalo kamu masih cuek begini,"

Kini aku yang tergelak.

"Haizz... pagi-pagi udah ngomongin nikah? Bikin pengen sarapan lagi lho, hahaha." timpalku sedikit kudramatisir.

Terdengar Bian mendesah.

"Aku tutup ya, met kerja... "

"Oke, jangan lupa makan siang." pesanku, karena Bian selalu melupakan jadwal makan siangnya dengan alasan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Memang, sebagai polisi apalagi bagian cyberchrime menuntutnya lebih lama fokus di hadapan komputer.

"Iya," Lalu telpon terputus.

Kucopot headsetku dan kumasukkan ke dalam tas LV biru milikku, hampir bersamaan dengan pintu lift terbuka di lantai 17. Dan saat aku melangkah keluar kurasakan aura tempat kerjaku ini sedikit beda dari biasanya.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Yaah... ternyata semua rekan kerjaku kumpul di kubikel milik Rangga, cowok ceriwis bin alay itu sepertinya punya rubrik 'panas' hingga mampu menyedot semua penghuni ruangan ini. Gak semua sih, karena pasti si serius Gamma dan si culun Setyo tetap berada di kubikelnya. Biarlah, yang penting itu tak menyangkut aku. Mungkin saja cowok itu dulu mau kuliah entertainment  tapi salah masuk ke ruang kelas hukum. Sebagai pelampiasannya, dia akan sangat bahagia jika mendapat kasus para selebritis.

"Lima menit lagi masuk jam kerja woi," ucapku mencoba mmebuyarkan gerombolan itu. Hani si single, Jingga yang bentar lagi nikah, Bu Cicik yang udah punya anak SMP, Riska yang baru putus seminggu lalu dengan pacarnya, juga Leni yang sering terkena jebakan betmen buaya darat, semua berkumpul jadi satu. Membuat Rangga serasa dewa pembunuh kegalauan.

"Eh, Yuna, sini gabung! Kita lagi membicarakan advisor kita yang baru." ajak Bu Cicik.

"Emang kenapa advisornya? Gak jadi kesini?" tanggapku asal meletakkan tas tanganku ke atas meja kerjaku yang kebetulan bersebelahan dengan Rangga.

"Ih... kamu tuh, Yun, bukan itu. Kamu tau gak siapa advisor kita yang baru?" Kali ini Riska yang angkat bicara.

"Gak. Tapi dia manusia kan?"

Ke enam rekan kerjaku itu langsung melotot protes.

"Udah, udah, gak usah pikirin si Yuna. Dia mah unbeloved. Untung aja pacarnya sabar banget kaya si Bian, kalo enggak,...:" Kata-kata Rangga menggantung.

Kutanggapi cibiran sinis Rangga hanya dengan gelak tawa pendek.

"Dia masih muda tapi sudah jadi advisor, lulusan Harvard pula, ckckck." Jingga berdecak kagum.

Haduhh... tuh cewek, udah mau nikah kok masih aja labil.
Yang jadi pertanyaan Who is the Advisor? Kenapa semua pada heboh begini? Pada kurang kerjaan.
Mau semuda apa? Advisor paling muda juga umur 30an, Kalo gak workholic ya orangnya nyebelin.

"Mau kemana kamu, Yun?" tanya Hani saat melihatku malah beringsut pergi.

"Nyari berkas."

"Tunda aja dulu, dia udah naik ke lift bareng Pak Simatupang. Sebagai yang lebih junior tingkatannya, kita paling gak menyambutnya lah..." imbuh Bu Cicik mencoba menahan kepergianku.

Aku tergelak.
Ampuunn deh nih orang-orang.

"Eh, kita nanti manggilnya gimana ya? Kalo Pak Jo, pantes gak ya? Soalnya dia kan masih muda banget... " Kali ini si Reni yang keganjenan.

"Panggil Bang Jo aja, kaya abang ojek dibawah, bang Parjo," sahutku terkekeh, seraya berlalu mengabaikan pandangan sebal mereka.

Sepertinya orang-orang itu sudah terkontaminasi virus 'mendewakan' orang baru. Apa istimewanya advisor muda, lulusan Harvard? Kalo kinerjanya gak bagus juga sama aja.

Aku melangkah ke ruang pantry dulu. Secangkir coklat panas di pagi yang semrawut ini sepertinya cukup cocok.

Saat aku kembali dari ruang penyimpanan berkas, dengan tangan kanan menenteng beberapa map dan tangan kiri memegang cangkir coklat panasku yang masih mengepulkan uap memikatnya, ditengah ruangan sana sudah berkumpul para penghuni kantor ini.

Mungkin ini yang dimaksud 'penyambutan' oleh Bu Cicik tadi. Aku melenggang tanpa dosa meski tau terlambat mengikuti upacara penyambutan itu. Advisor baru itu sedang dikelilingi semua pegawai. Sebagai orang bertinggi badan kurang dari 160cm dan tak begitu menyukai highheels, tentu saja aku kesulitan menerobos pagar betis itu agar bisa melihat tampang si advisor baru itu.

"Yuna, darimana saja kau ini," seloroh pak Simatupang, salah satu 'petinggi' firma hukum ini yang lebih dulu menyadari kedatanganku.

"Nyari berkas untuk kasusnya Gie bersaudara, Pak." Kuletakkan map ditanganku ke atas meja ditengah ruangan. Meja bundar yang dikelilingi 10 kursi, biasa kami gunakan untuk berdiskusi bersama saat salah satu rekan kerja kesulitan dalam menghadapi kasusnya.

"Ooowwh, sini aku kenalkan sama advisor baru kita, namanya Pak Jonathan. Dia baru pindah dari Inggris."

Aku melangkah sambil mendekatkan cangkirku ke bibir, tapi saat aku bisa melihat wajah sang advisor itu, aku sedikit tertegun dan tepian cangkir itu berhenti di ujung bibirku.

Sebenarnya pandanganku lebih terfokus pada pipi kiri advisor baru yang katanya bernama Jonathan itu. Entah kenapa, yang jelas aku seperti terhubung sesuatu. Teringat sesuatu yang terjadi puluhan tahun lalu.

"Ngga!" panggilku berbisik pada Angga yang sekarang tepat disebelahku. "Namanya siapa tadi?" lanjutku tetap berbisik.

"Jonathan."

"Lengkapnya?"

"Jonathan  Aryadanu."

Aku menoleh cepat ke arah Angga. Tentu saja Angga heran melihatku menatapnya dengan mata penuh. Tapi kuacuhkan reaksi Angga bahkan saat tangan usil Angga mengambil cangkir coklat panasku. Mataku beralih lagi ke wajah Jonathan Aryadanu itu. Lebih kuteliti wajah yang memang terbilang tampan itu. Lalu pipi kiri itu...

"Yun, kok malah bengong?" tegur Bu Cicik.

Pak Jonathan itu akhirnya ikut menatapku intens. Seperti tak mau kalah akan bola mataku yang tak juga beranjak dari wajahnya.
Pipi putih mulus itu berlesung pipit. Tapi sebenarnya kalo setelah diperhatikan, itu adalah sebuah codet. Dan kalo aku tak salah orang, aku tau codet karena apa itu.

"Kenapa bekas paku itu jadi lesung pipit?" tanyaku membuatnya terhenyak. Juga yang lainnya.

Ya, pemirsaa... aku yakin dengan dugaanku. Dia adalah Jonathan Aryadanu atau biasa kupanggil Nathan, seseorang yang tertinggal di masa kecilku dulu. Dan lesung pipit itu adalah bekas paku. Jangan tanya lanjutannya, karena aku selalu merasa bersalah jika mengingat luka di pipi itu. Meski aku juga tau itu bukan salahku.

"What?" Dia makin terhenyak.

Aku bergegas mendekat dan meraih tangan kanannya, menyingkap sedikit pergelangan tangannya yang terhalang jas hitamnya. Ada segaris horizontal di sisi luar pergelangan tangannya. Dan menemukan itu aku jadi tergelak.

"Kamu beneran Nathan?"

"Nathan?" koor semua mulut disitu menatapku heran.

Matanya seperti menginterogasi setiap inchi tubuhku.

"Una?" tanyanya tak percaya.

"Una?" Kali ini koor itu menatap ke arah depanku.

"Huh," Aku hanya menaikkan dagu.

Akhirnya dia ikut tergelak.

"Are you sure?" Dia masih tak yakin.

"I think yes, absolutly sure!"

Beberapa detik kami saling pandang, seakan merevisi lagi pandangan masing-masing. Benarkah yang terlihat kini? Ini bukan fatamorgana kan?
Pada detik ke 5 kami tergelak dan langsung berpelukan. Semua mata melongo. Ruangan jadi sepi. Hanya sisa tawa kami yang terdengar di telinga. Aku menyadari keganjilan itu. Kujauhkan tubuhku dari pelukan tangan panjang itu. Nathan menatapku aneh.

"What's wrong?" tanyanya menahan tubuhku pada sudut kedua siku.

Kuamati Nathan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kulit putih dan langsingnya memang tak berubah. Tapi lihat, dia tinggi sekali? Seperti pohon kecambah yang tumbuh di tempat tertutup saja.

"Ini gak adil. Kepala kamu dulu ada dibawah daguku sini! Kenapa sekarang malah berbalik posisi?" protesku membuatnya tertawa.

"Bukan salahku, salahkan saja dirimu sendiri gak tinggi-tinggi."

Aku melotot kesal.

"Eheemm."

Dan deheman Pak Simatupang membuyarkan dunia kami. Kami sama-sama menoleh ke arah advisor 'tua' itu.

"Oh, eh, Pak, dia... "ucapku gelagapan menunjuk ke arah Nathan.

"Kami mengenal sejak kecil," sela Nathan.

"Begitulah,"

"Kamu umur berapa waktu itu, Una?"

"Akhir kelas 1 SD, menginjak 8 tahun.''

"And i 5 years old."

Sumpah, mata semua orang disini jadi terlihat lucu, karena bergantian menatapku dan Nathan usai kami bicara. Seperti gerombolan anak kecil yang melihat dua pemain sirkus yang bergantian melakukan aksi menakjubkan.

Pak Simatupang yang sepertinya lebih dulu kembali ke otak normalnya.

"Oke, Pak Jonathan, mari saya tunjukkan ruang kerja kita," ucapnya seperti mengakhiri drama pagi ini.

Mataku tak lepas mengikuti setiap gerakan tubuh yang sudah terbilang jangkung itu. Sudah mirip aktor korea Lee Jong Suk yang dramanya sempat kutonton karena mengangkat dunia pengacara. Nathan seperti enggan berbalik dan mengikuti langkah Pak Simatupang yang sudah berjalan beberapa langkah di depan.

"Nanti ke ruanganku," ucapnya tanpa suara dan hanya memakai bahasa bibir.

"Siap, bos!" jawabku dengan cepat, mengangkat tangan kananku membentuk posisi hormat. Hal yang sering kami lakukan dulu saat menuruti kemauan yang berperan jadi 'bos'.

Nathan tersenyum lebar sebelum akhirnya benar-benar membalikkan tubuhnya berjalan menuju ruangannya bersama Pak Simatupang yang sama-sama menjabat sebagai Advisor di firma hukum ini.
 Dan ketika aku kembali fokus ke tempatku semula, aku baru sadar ada 6 pasang mata menatapku dengan ekspresi yang sama. Minta penjelasan. Hanya 6 pasang, karena yang 2 pasang mata milik Gamma dan Setyo sudah meninggalkan tempatnya berdiri tadi, menuju kubikelnya masing-masing.

"Tidak peduli ya? Huh?" desis Angga maju selangkah.

"Aku... aku mana tau kalo advisor baru kita namanya Jonathan Aryadanu, kalian tadi bilangnya kan cuma Jonathan. Nama Jonathan itu kan banyak." Aku mencoba membela diri, berharap cepat mengubah mata-mata beraura beringas itu.

"Aha?" Leni seperti tak yakin dengan penjelasanku.

"Beneran, kalian masa gak percaya sih? Masa aku pernah bohongi kalian soal beginian pula. Kami waktu kecil pernah serumah karena ibuku sempat numpang dirumah orang tua dia. Sekitar 2 tahun aja. Habis itu kami berpisah lagi."

"Sampai sekarang baru ketemu lagi?" delik Bu Cicik.

Aku menggaruk kepalaku, sibuk mencari kata-kata yang pas untuk kupakai untuk menjawab.

"Ya, gak sih. Setelah ibuku nikah lagi, kami masih beberapa kali ketemu. Kalo gak aku dan ibuku yang main ke rumahnya, ya dia yang dianter ke rumahku. Sampai kemudian saat aku kelas 1 SMP kami harus pindah ke Surabaya. Setelah itu kami cuma berkomunikasi lewat telpon. Gak sampe setahun kami sudah lost contact." Akhirnya aku bisa menyelesaikan 'berkas' pembelaanku dihadapan mereka semua.

"Lalu? Udah gitu aja?" Hani juga tak yakin.

"Apalagi?"

''Kalian tak pernah terjebak dalam hubungan cinta?" Riska penasaran, sama seperti yang lain juga.

Aku tergelak, "Kalian gila? Ya gak lah. Waktu kecil kami udah lakukan semua sama-sama. Makan, mandi, bahkan tidur. Dia udah kaya adik aku."

''Jadi kamu menganggapnya adik?" tanya Riska.

"Ya iyalah."

"Kalo begitu tetap pada level itu!" Leni seperti mengancam, membuatku tergelak.

"Awas kalo sampai ada kabar kalian jadian!" imbuh Angga.

"Kamu juga naksir dia?" tudingku asal membuat Angga langsung melotot. Tak kuhiraukan ekspresi garang itu dan malah mengambil gelas coklat panasku yang ternyata sudah berkurang sedikit. Melenggang meninggalkan arena itu.



...Tbc...

BYL, 21/08/2016
Win@rinda, 2016

Kamis, 11 Agustus 2016

GARDENIA [You Took My Heart Away]



Langit benar-benar sudah sempurna gelap. Bulan di langit kota metropolitan ini seperti bersaing dengan lampu-lampu benderang di segala penjuru tempat. Semilir angin bulan agustus yang mulai menusuk pori-pori kulit kucoba kuusir dengan segelas cappuccino late ditanganku.

Desahan panjang semacam ekspresi lega terdengar di sebelahku. Aku tersenyum kecil saat mengamatinya. Bibirnya yang terpoles lipstik pink atau apalah, yang jelas tidak terlalu nge-jreng warnanya, masih tersisa buih late cappuccino yang baru diteguknya. Wajahnya mendongak ke langit. Menatap ke arah secuil bulan tanggal muda yang masih berusaha mengalahkan benderangnya lampu kota.

"Kamu masih suka melihat bintang itu?" tanyaku menikmati raut wajahnya yang selama nyaris 10 tahun ini sering membelengguku dengan satu kata kunci "rindu".

"Begitulah, aku dan bintang itu seperti memang seperti takdir. Sama-sama diciptakan sendirian, tidak seperti yang lain yang memiliki biduk bersama bintang yang lain," Wajahnya tetap mendongak ke arah bulan yang bertengger manis di atas sana. Meski akupun tau fokus matanya pada titik benderang di sebelah bulan.

Begitupun aku, Sal. Sendirian.

"Meski ternyata itu bukan bintang, tapi planet," lanjutnya tetap datar

"Dulu kamu suka sekali nyanyi lagunya Sheila On 7 yang Tunjuk Satu Bintang kan?" tanyaku mencoba mencairkan suasana yang mulai membeku.

Salome tergelak lirih. Terdengar sopan. Berbeda dengan Salome yang dulu. Yang saat tertawa akan terdengar sampai ke kelas sebelah.

"Sekarang pun masih, maklum, mungkin karena aku orangnya susah move on."

Kini aku yang tergelak.

"Susah move on? Lalu ini apa?" desisku mengamati sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Aku gak sedikitpun menyangka kamu itu Salome, andai gak baca KTP kamu. Lihat, highheels 12 cm, rok span, dan ini... " Kutunjuk rambutnya, "Kemana rambut Nirina Zubir-mu? Kenapa jadi panjang dan kruel-kruel begini?"

Plaaakk

Aku menjerit kecil saat tangannya memukul punggungku. Cukup keras.

"Kruel-kruel? Ini namanya blow, Enggar! Dasar, emang pacarmu gak pernah nge-blow rambut?"

Pacar?
Aneh juga dengernya kata itu meluncur dari Salome. Karena yang selama ini membuatku tak mau berurusan dengan perempuan lain adalah karena dia.
Entahlah, hati dan otakku terlalu sempit dan semua sudah dipenuhi dengan kenangan masa-masa SMA dengan Salome. Tak ada tempat lagi untuk menciptakan kenangan baru dengan orang baru. Terdengar lebay juga sih, tapi apa mau dikata, memang begitu kenyataannya.

"Gak ada pacar."

Dan jawaban singkat itu ditanggapi Salome dengan tawa yang cukup panjang.

"Seorang Enggar Wijayanto gak punya pacar? Gombal banget!"

Aku tersenyum getir mendengar 'ejekan'nya.
Iya, ya, kenapa selama 10 tahun ini aku tak pernah bisa punya pacar? Padahal rekan-rekanku sesama polisi, yang kesibukannya sama denganku juga bisa punya pacar, bahkan menikah. Aku, boro-boro. Berteman dekat dengan yang namanya perempuan saja aku tak pernah. Aku kadang curiga. Jangan-jangan aku gay. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku juga tak tertarik dengan sejenisku. Jadi, apa hanya karena perempuan disebelahku ini? Yang setelah bertemu lagi hampir tak bisa kukenali? Itu juga yang sejak dulu selalu membuatku malas berurusan dengan yang namanya perasaan. Aneh. Susah dicerna. Malah kadang bisa bikin sembelit.

"Ya, udah kalo gak percaya. Maaf udah mengecewakanmu. Maaf juga soal tadi.'' kataku meneguk lagi cappuccino late-ku.

"Tadi? Maksudnya?" tanya Salome heran. Alis bulan sabitnya yang memang sudah terkontaminasi pensil alis mengkerut bertaut.

Oh, iya, sejak insiden saling tak percaya di dalam tadi, aku memang belum sempat menceritakan kronologi detail kisah di koridor lobi hotel dua jam lalu.

"Itu, tadi yang nembak penjahatnya kan aku, jadi... "

Plaaakkkk!!

Aku menjerit sekaligus melonjak bangkit demi merasakan sekujur punggungku seperti terkena sengatan listrik. Mataku setengah melotot menatap ke arah Salome yang juga melotot padaku. Alhasil, ternyata penampilan yang berubah tak menjamin kelakuan juga berubah. Tamparan tangan Salome ke arah punggung ternyata masih abadi melekat padanya. Dan sakitnya tetap tak berubah. Masih panas menjalar. Seperti terlempar masa SMA dulu. Tak terhitung berapa banyak punggungku ini jadi korban keganasan tamparan tangan Salome.

"Jadi polisi sialan tadi kamu?" desisnya ikut bangkit.

"Hei, kenapa menyebut orang yang berusaha menyelamatkanmu malah kamu sebut sialan?" geramku tak terima.

Salome tergelak sengit, tangannya berkacak pinggang setelah menyibak rambutnya yang mengusik wajahnya.
"Menyelamatkan, katamu? Kamu menembak kepala orang yang ada tepat dibelakangku! Kalo meleset sedikit saja aku bisa saja yang mati. Aku bahkan harus cuci muka dan rambutku di wastafel karena bercak darah penjahat tadi. Dan lihat, bajuku penuh dengan darah!" Salome melempar blazer warna hitam-putih miliknya yang memang kotor oleh beberapa bercak darah.

"Aku punya perhitungan yang matang sebelum melakukan hal semacam itu. Itu caraku menyelamatkan sandera. Dan selama ini gak ada yang meleset," sungutku kembali duduk sambil meringis kecil merasakan sisa panas yang masih terasa di punggungku. Meletakkan blazer miliknya yang tadi dilempar ke arahku.

"Selama ini? Jadi aku bukan yang pertama jadi korban aksi gilamu itu?"

Kutarik pelan pergelangan tangannya dan mengisyaratkannya untuk duduk kembali. Aku tak mau orang-orang yang kebetulan lewat di jalan taman sebelah kantor polisi ini menyangka aku berbuat tak pantas pada Salome.

"Itulah kenapa aku tadi bilang maaf."

Tangan Salome siap melayang, tapi kali ini aku tak mau kalah cepat, kusambar lebih dulu tangannya dan menggenggamnya erat. Mata bulat itu melotot lagi. Aku tersenyum kecil. Sudah sangat lama tak menikmati mata itu melotot sebesar itu. Dan kerinduan yang selama ini sering mencabik-cabik rongga hatiku seperti perlahan terobati.

"Kalo udah cantik dan feminim begini, harusnya gak boleh galak kaya dulu."

Aneh, aku tak percaya kalimatku itu bisa membuat mata bulatnya meredup, pipinya juga merona. Bahkan matanya berubah posisi. Seperti seorang ABG yang ketahuan mengamati gebetan barunya.

Salome pun menurut, kembali duduk. Kusodorkan lagi gelas minumannya. Dia malah tergelak tak percaya meski tangannya tetap menerima.

"Ini pengalaman terburuk yang pernah aku alami denganmu."

Aku meringis, "Lebih buruk dari waktu kamu ketahuan Pak Beni manjat pohon jambu dan digiring ke ruang BP bersama yang lain?" tanyaku asal, mengingat memori salah satu kenakalan kami dulu.

"Apa?" desisnya tak percaya.

Aku terbahak, "Kalo dari awal aku tau sanderanya itu kamu, aku malah gak akan ragu menembak penjahatnya. Nyawamu kan banyak,"

Salome melotot marah, tapi tangannya tetap di tempat.

"Hahaha... lucu sekali ya?!" sungutnya.

Kucoba hentikan tawaku yang sepertinya kontras dengan suasana hati Salome. Memang tak semestinya aku menjadikan insiden menegangkan tadi menjadi bahan guyonan.

"Oke, oke, sebagai bonus tambahan permintaan maafku, akan kuantar kamu pulang," usulku.

What?
Untung tak seorangpun yang mendengar usulan konyolmu ini, Nggar! Coba kalo sampai Gani atau Juki mendengar ini, mereka pasti terpingkal-pingkal. Bonus tambahan permintaan maaf? Ya ampuunn... belajar dari mana aku sampai bisa mengucapkan kata-kata aneh itu?

"Mobilku ada di hotel tadi."

"Kalo gitu aku antar ke hotel."

"Okelah," setuju Salome bangkit.

Eh? Apa? Aku sedikit gelagapan mendengar persetujuannya atas ajakanku yang konyol itu. Aku bangkit seraya meraih blazer miliknya yang ada disampingku.

"Yuk, motorku disana!" kataku antusias melangkah,

"WHAT?!"

Aku tak jadi melangkah, menoleh menatap Salome yang kaget dengan ekspresi yang nyaris sama.

"Motor?" Matanya kembali melotot.

"Iya, tuh disana?" jawabku menunjuk dengan dagu ke arah motor sport-ku yang kebetulan terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri.

Duuukkk

Aku menjerit cukup keras berjingkat mengangkat kaki kiriku. Cukup membuat beberapa orang di dekat parkiran depan kami menoleh. Sebelah kaki Salome baru saja melayang ke tulang keringku. Sepertinya cukup memar. Tulang kering versus ujung highheels. Sudah pasti tulang kering yang kalah.

"Ini apa-apaan sih? Bisa gak kelakuanmu disamakan dengan dandananmu?" gerutuku mengelus-elus tulang kering kakiku.

Salome tergelak, sambil berkacak pinggang.

"Hei, kamu nyuruh aku nyamain kelakuan sama dandanan, tapi malah ngajak aku naik motor balapmu itu?"

Kenapa? Ada yang salah dengan motorku?
Kuangkat kedua tanganku tanda tak mengerti.

"Boy, look at me!" geramnya sedikit menghentakkan ujung highheels-nya, "Aku pake heels 12 cm, pake rok span. Masa iya aku naik motor? Mau naik model gimana?" lanjutnya galak.

Oh?
Aku meringis malu.
Iya, ya, pantes aja Salome langsung kaget tadi. Ternyata yang salah bukan pada motorku, tapi pada ajakanku yang asal.

"Sori," kataku masih meringis.

"Dasar! Udah ah, nanti aku dijemput kok, nah tuh... dia kayaknya!" Salome menunjuk sebuah mobil Porshe hitam yang baru saja memasuki pelataran parkir kantor polisi.

Pacarnya kah?
Mendengar dengungan tebakanku sediri itu, tiba-tiba hatiku jadi nelangsa.

Salome melangkah mendekati mobil yang berhenti diantara jajaran mobil petugas polisi yang lain. Dan entah kenapa aku mengikuti langkah Salome.
Whoaahh... kenapa aku begini?
Dan langkahku perlahan terhenti demi melihat sosok itu keluar dari dalam mobil. Laki-laki dengan dandanan yang sangat parlente. Outfit kerja orang-orang kantoran. Setelan jas dan dasi yang senada. Tidak seperti aku, yang bahkan memakai seragam polisi saja tak nyaman. Lebih nyaman mengenakan jeans dan kaos, kadang ditambah jaket selain berbahan kulit.

Benarkah ini pacar Salome? Inikah laki-laki yang beruntung mendapatkan gadis impianku yang dulu kutinggalkan tanpa salam perpisahan?

"Salome... " Panggilan itu begitu memburu, begitu cemas. Sama dengan langkah kakinya yang tak sabar mendekati Salome.

"Mas Angga,"

Mas? Mas Angga?

"Kamu gak apa-apa kan?Kamu tau gak, semua orang cemas dengan keadaanmu waktu dengar kamu yang jadi sandera tadi."

Lihat, lihat! Bahkan pancaran matanya yang terhalang kaca mata minus itu tak bisa dipungkiri kalo itu ekspresi dari kecemasan.

"Gak apa-apa kok, Mas!"

"Gak ada yang luka kan?"

Laki-laki yang dipanggil Salome dengan nama 'Mas Angga' itu meneliti seluruh tubuh Salome. Memastikan bahwa yang dikatakan Salome barusan adalah benar. Barulah setelah beberapa puluh detik, akhirnya laki-laki 'Mas Angga' itu menghela nafas lega.

"Syukurlah kamu gak apa-apa."

"Aku malah mencemaskan event kita, Mas."

"Tenang aja, semua sudah ter-handle oleh masing-masing pos. Tadi waktu aku telpon Riana, katanya udah hampir selesai. Mobilmu juga sudah diurus Sandy, jadi aku langsung antar kamu pulang aja."

"Tapi... " Salome hendak menyanggah tapi tak ada kesempatan.

"Udah, nurut kataku, oke?" tegas 'Mas Angga' itu melepas jas hitamnya dan menyelubungi tubuh Salome yang mengenakan T-shirt putih  tak berlengan dengan hiasan rampel manis di bagian depannya.

"Eheemm," dehemku mencoba mengisyaratkan tentang keberadaanku.
Kedua pasang mata itu menoleh.

"Oh, iya, Mas, kenalin ini Enggar, teman SMA-ku dulu. Dia polisi disini." kata Salome menatapku dan 'Mas Angga'-nya bergantian.

Aku melangkah mendekat.

"Nggar, kenalin ini CEO tempatku bekerja, Mas Angga." Salome meneruskan ritual introducing-nya.

Kuulurkan tanganku bersamaan dengan uluran tangannya. Kami sama-sama menyebut nama sendiri. Saling menjabat dan menyebut nama dengan setengah hati.
Hei, what's up?

"Oke, Nggar, aku balik dulu ya," pamit Salome.

"Aku akan mentraktirmu makan siang, atau malam, atau sarapan juga boleh."

Aduuhhh... ini juga kalimat apaan sih?

Salome.tersenyum sedikit geli.

"Aku dapat libur 3 hari."

Libur? Skors maksudnya. Tapi siapa yang peduli? Aku saja tak peduli itu skors.

Salome seperti berfikir sejenak.
Aneh, hatiku benar-benar seperti tak ingin dia pergi. Aku benar-benar tak ingin kebersamaan ini berakhir secepat ini.

"Oke, nanti aku BBM."

Ada sedikit perasaan lega. Aku tergelak dalam hati.

"Bye... senang bisa bertemu denganmu lagi." Salome mengangkat tangan kirinya seraya berjalan mendekati pintu mobil.

Aku bahkan tak mampu membalas salam perpisahannya dan malah terpaku melihat semua itu. Sampai tubuh Salome menghilang dibalik pintu mobil, aku masih saja terpaku.

Apa ini yang dinamakan cemburu? Patah hati? Putus harapan?
Gadis yang selama hampir 10 tahun ini membelenggu hatiku dengan tali ikatan rindu, setelah bertemu malah kemudian berakhir begini.

Salome... Apa semacam ini rasa yang kamu rasakan saat malam perpisahan itu malah menjadi malam perpisahan kita? Apa seperti ini yang kamu rasakan saat mengejar laju kereta api yang kutumpangi meninggalkan stasiun? Seperti ada yang merebak patah.

Oh, come on, boy! Kenapa jadi melankolis begini? Ini bukan akhir yang tragis. Tadi Salome juga bilang kalo senang bisa bertemu denganku lagi kan? Jadi...

Dan lirih aku mendengar bait-bait lagunya MLTR yang You Took My Heart Away. 


     "... You become the meaning of my life..."


Salome, kali ini aku tak akan diam saja. Aku akan menemukan jawabannya. Jawaban bahwa kamulah yang memberi arti akan hidupku selama ini.

Tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar. Kurogoh saku celanaku, kutekan tombol aplikasi BBM. 1 pesan masuk


Salome : 
Jln Kebayoran baru no. 23. Itu alamat rumahku, ok?

Aku tersenyum membaca alamat yang terpampang di layar ponselku.
Dan aku baru menyadari sebelah tanganku lagi memegang blazer milik Salome tadi.
Mungkin, ini memang takdir.
 
Aku melangkah dengan senyum kecil. Bayang Salome seperti berjalan disampingku.
Terdengar lagi alunan bait-bait lagu You Took My Heart Away tadi.


  "... You took my heart away, when my whole world was grey... "



  
Gardenia; The Speechless Love
Byl, 11/08/2016
22:21
Win@rinda



Oke, bisa dibilang ini part lanjutan Gardenia[ It's Gonna Make Sence].
Sebenarnya aku gak punya rencana buat judul part-nya 'nyulik' judul-judul lagunya MLTR. Hanya pas inget cerita ini ikut keinget cerita drakor HEALER yang pake beberapa lagunya MLTR. Ya udah, ikutin apa kemauan si imajiner seperti air mengalir aja. 
Happy reading... !!!