Rabu, 30 Juli 2014

Penjaga Hati

Pagi itu sangat cerah, matahari begitu terik berbagi sinarnya dengan dunia, seperti matahariku diseberang koridor kelas sana. Tawa cerianya yang sedang bercanda dengan Mila, teman sebangkunya itu sampai terdengar dari sini.
Ini adalah tempat favoriteku, disini aku bisa dengan leluasa menikmati gadis manis dan lincah itu; Nian. Q begitu menyayanginya, begitu ingin melindunginya dari apapun dan siapapun, meski sikap terlaluku ini akhirnya menciptakan jurang yang cukup lebar antara kami berdua. Dulu kami seperti benda dan bayangan. Dimana ada aku disitu pasti juga ada Nian.
Persis 2 tahun lalu awal kejadian itu, kudengar gosip dari beberapa teman kalo Nian nembak Farrel disamping kantin sekolah. Mendengar itu aku buru-buru mencari Nian yang asyik menikmati mie ayam sendirian. Aku langsung duduk di depannya. Saat itu kantin lumayan sepi, hanya beberapa orang yang juga lagi menikamati sarapan atau sekedar nongkrong.
"Kau mau makan juga?" tanyanya menyumpit mie nya,sambil sesekali melirik ke sudut kantin. Kuikuti arah matanya
Ternyata......Farrel!! Hatiku tiba-tiba bergemuruh.
"Kau ini apa-apaan sih Ni,..." desisku sedikit geram, meki volume suaraku masih pelan
"Apa-apaan apanya?" tanya Nian balik, masih dengan lahap mengunyah mie dimulutnya
"Pake pura-pura lagi. kemarin kau nembak Farrel kan?"
Nian berhenti mengunyah, tapi kemudian bibirnya melebar, tersenyum lucu, seolah mencoba mencairkan kemarahanku. Sayangnya aku lagi benar-benar marah.
"Tidak ada yang lucu Ni! Kau pikir itu sebuah lelucon? Kau ini cewek, bagaimana bisa seorang cewek menyatakan cinta lebih dulu ke cowok? Itu memalukan Nian....!!"
Dan akhirnya aku berhasil membuat senyum itu hilang, Nian menundukkan wajahnya. Sekilas tadi sempat kulihat matanya berkaca- kaca.
Aku bersikap begini punya alasan. Bukannya aku melarang Nian suka Farrel, tapi aku cukup kenal siapa Farrel. Dia itu trouble maker, tukang mangkir, dan sering sekali dikeluarkan dari kelas saat jam pelajaran berlangsung karena suka melawan perintah guru. Lalu kenapa Nian bisa jatuh hati pada Farrel,sampai begitu tergila-gila dan nekat utarakan cinta lebih dulu? Tak sadarkah dia kalo ada sepotong hati yang tukus menyayanginya sejak kecil dan selalu setia menjaganya? AKU.
Kuhela napas panjang, kantin menjadi tambah sepi. Nian masih menunduk, juga tetap diam tak bicara. Aku mulai merasa bersalah. Apa aku terlalu keterlaluan? Apa aku terlalu posesif? Atau aku terlalu takut menghadapi kenyataan kalo ternyata sebenarnya Nian tidak pernah mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai 'kakak' ?
" Maaf." pintaku lirih.
Tapi Nian tetap tak bereaksi. Kuulurkan tanganku hendak meraih jemarinya, tapi tiba-tiba Nian bangkit.
"Aku mau ke kelas dulu" katanya serak, tanpa mendongak apalagi menatapku. dan buru-buru dia beringsut pergi.
Dan sejak pagi itu duniaku jadi berubah total. Nian makin hari makin menjaga jarak dengan aku. Memang dia tak jadi menjalin hubungan dengan Farrel, karena Farrel keburu di DO oleh pihak sekolah karena aksi jagoannya berkelahi dengan kakak kelas. tapi Nian pun seakan ikut men- DO aku dari hatinya. Dan 2 tahun telah berlalu. sekarang, asal aku bisa melihat tawa lepasnya yang ceria itu aku sudah sangat bahagia.
Lamunanku terbuyar oleh tepukan tangan di pundakku. Aku menoleh. Sammy, teman sekelas Nian, yang juga sepupu jauhku itu sudah menjulang disampingku.
"Masih setia hidup begini bro?" tanyanya seperti menyindir.
Sammy cukup tau perasaanku pada Nian. Dia yang hampir selalu memergokiku mengawasi Nian dari kejauhan. Dia pula yang berhasil menemukan lukisan sketsa wajah-wajah Nian di dalam kamarku.
"Hei...ini Nian kan?" pekik Sammy waktu itu, 
Salahku juga saat dia mau pinjam buku paket kimia dan aku menyuruhnya mencarinya sendiri di meja belajarku, alhasil dia menemukan tumpukan kertas gambar sketsa wajah Nian dengan berbagai ekspresi, yang biasa aku curahkan saat rindu dia.
Segera kurampas setumpuk kertas itu dari tangan Sammy dengan wajah sedikit memias. Sammy tergelak.
"Kau suka gadis bawel itu?" selidik Sammy.
Aku tak menjawab pertanyaan Sammy, kusimpan kembali kertas-kertas itu ketempat yang lebih aman.
"Sudah berapa lama?" tanyanya lagi.
"Entahlah.." cuma itu yang bisa kukatakan, selebihnya lebih suka kunikmati sendiri daripada diketahui banyak orang. 
"Biarkan aku membantumu." ucapan Sammy menyadarkan lamunanku. Aku menoleh menatap Sammy. Dia serius.
"Maksudnya?"
Sammy tersenyum sambil menepuk bahuku, lalu dia beranjak pergi.


Aku tak jadi memasukkan kunci motorku saat mataku menangkap sebuah adegan. Sekitar 10 meter dari tempatku kulihat Sammy menggandeng tangan Nian, wajah Nian tertunduk memias meski kentara sekali kalo semburat bahagia terpancar disana, seruan dan tepukan tangan teman-teman yang lain yang kebetulan ada di tempat parkir siang itu makin memiaskan wajah Nian
"Cieee..cieee yang baru jadian, nempel teruuss...." ledek Tristan setengah berteriak, tak jauh dari tempatku.
Jadian??? Dunia serasa berhenti berotasi beberapa saat, kunci motorku terlepas dari tanganku.
"Biarkan aku membantumu."
Kalimat Sammy tadi pagi kembali terngiang di telingaku.
Jadi ini maksud Sammy tadi pagi???
Aku tergelak, menertawakan kebodohanku selama ini. Bagaimana aku tidak bodoh? Aku puluhan tahun mencintai Nian, menikmati manisnya setiap irisan cinta dalam 'persembunyianku'. Dan sekarang cinta itu digenggam oleh Sammy, yang baru beberapa bulan mengenal Nian.
Nian.... apakah kau benar-benar tak bisa menyadari ada aku disini selalu menyayangimu dengan tulus dan dengan setia menjaga cinta itu? Kenapa kau malah menitipkan cintamu pada Sammy?Area parkiran sudah sepi. Tapi tak sesepi relung hatiku yang kini seperti kehilangan penghuninya. 
Tuhan, ini tidak adil! Rutukku dalam hati
Aku tergelak lagi.
Bukankah memang begini pengaturan cinta yang sebenarnya? Sebanyak apapun pengorabananmu, setulus apapun cinta yang kau suguhkan, itu semua tak ada jaminan akan dibalas dengan bahagia. Kalau cinta berjalan seperti seharusnya, maka tidaka akan ada lagi yang menciptakan lagu patah hati. Tak akan  ada lagi yang berperan sebagai penjaga hati meski dengan mengorbankan separuh hatinya hatinya tersayat dan terluka.



Randublatung,30 juli 2014
sekedar teringat sebuah hati di masa lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar