"Kebetulan kau datang, jadi aku tak perlu repot-repot mencarimu" tandasku menahan geram
Sammy malah tersenyum tipis, dia lalu melangkah masuk.
Dia anaknya adik tiri mama yang menghilang sejak awal menikah dulu. Setelah hampir 20 tahun mereka muncul lagi dengan anggota keluarga baru, Sammy, sepupuku. Jadi aku memang belum cukup mengenal Sammy. Tapi aku benar-benar tak menyangka kalo dia bisa menusukku dari belakang; dengan memacari pujaan hatiku.
"Kau mau bertanya soal aku dan Nian?" tebaknya ringan, dengan seulas senyum. Senyum menyindir mungkin. Entahlah, paling tidak itulah yang kupikirkan melihat senyum itu.
"Apa maksud semua ini Sam?"
"Simple saja Ray,.." katanya mnghempaskan tubuhnya ke sofa. "Aku mencintai Nian, aku ingin memikinya, jadi aku menyatakan cintaku. Dan Nian menerimanya. so, kita pun pacaran." lanjutnya memaparkan kronologinya
Aku tergelak.
"Apa ada bagian yang lucu?"
Kutatap Sammy lekat, tanganku mengepal erat menahan emosi yang makin bergemuruh didadaku.
"Aku mencintainya puluhan tahun, aku menjaganya puluhan tahun, dan kau merampasnya tanpa rasa bersalah?"
"excuse me?"
Aku melangkah pergi.
"Apa selama puluhan tahun itu kau pernah menyatakan cintamu? Hah?!"
Langkahku terhenti diambang pintu kamarku. Aku terngungu.
"Cinta memang untuk dirasakan Ray, tapi cinta juga butuh dinyatakan. Nian bukan paranormal yang bisa tau perasaanmu jika kau diam saja tak pernah bilang ke dia. Hiduplah dalam realita Ray, bukan hanya berkutat di sketsa-sketsa wajah itu."
Aku diam memikirkan kata demi kata yang diucapkan Sammy. Memang ada benarnya, ah tidak, semua itu benar. Dan jika ini semua terjadi aku tak bisa menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri. Aku selama ini terlalu sibuk menikmati cintaku dalam kesendirianku.
"Aku hanya merasakan ketenangan saat menikmati cinta itu membalut jiwaku. Melihat dia tersenyum rasanya sudah sangat membahagiakanku." kataku lirih
"Kau egois"
Kubalikkan wajahku menatap Sammy lagi
"Kau hanya memikirkan perasaanmu saja, kau sama sekali tak memikirkan perasaan Nian, kau hanya berpikir kau sudah puas, sudah bahagia dengan mencintainya. Tapi bagaimana dia? Kau pernah berpikir mungkin saja dia juga menantimu ungkapkan cinta, kau sendiri yang buat hatinya seperti sekoci tak ber-awak, terombang-ambing di luasnya samudra. Lalu kenapa kau merasa terkhianati saat aku mendapatkannya?"
Duh Gusti, kenapa semua jadi begini rumit? Lalu aku harus bagaimana? Masa' aku harus mengulurkan tangan ke Sammy seraya berucap 'selamat y'
Aku tertawa terbahak, Sammy menatapku heran.
"Maaf." katanya kemudian,
Entah kenapa aku tak bisa menghentikan tawa bodohku ini
"Aku tau aku terlalu tidak manusiawi padamu, aku begini hanya sudah sangat muak dengan tingkahmu yang sangat pengecut"
Perlahan tawaku menghilang dan kusadari mataku mulai mengembun
Apakah begini rasanya kehilangan cinta yang sebenarnya? saking sakitnya sampai aku tak bisa membedakan apapun.
Sammy masih berdiri menatapku sedih. Yah, aku memang menyedihkan.
***
sejak kejadian itu aku berusaha tak lagi memata-matai Nian, mungkin aku memang harus tegaskan pada hatiku yang terlalu pengecut ini bahwa sekarang Nian telah punya penjaga hati yang baru. Tapi memang tak dapat dipungkiri bahwa aku tak bisa menghilangkan cinta itu dari hatiku. Dan setiap kali tanpa sengaja aku melihat mereka bersama guratan itu kembli tercipta melukai hatiku.
Sampai tiba-tiba aku mendengar kabar itu, Sammy akan pindah lagi ke Kanada. Kembali ke kampung halaman ibunya.
"Apa-apaan ini?" desisku geram, tanpa permisi dulu aku langsung masuk ke kamarnya
Sammy yang tiduran di sofa sambil mengamati foto-foto Nian di tab-nya lalu bangkit.
"Kenapa?"
"Kenapa? Kau masih tanya kenapa? Kau mau meninggalkan Nian dan kau masih tanya kenapa?"
Sammy tersenyum apatis,
"Bukankah itu lebih baik?"
"Apanya yang lebih baik? Kau membuatnya jatuh cinta, kau memacarinya, tapi kemudian kau mau meninggalkannya? Kau sama saja mempermainkan perasaannya!!"
"Nian tidak pernah bisa mencintaiku" aku Sammy datar "kami punya perjanjian, dalam 2 bulan dia akan berusaha mencintaiku, kalo tetap saja tidak bisa, maka aku harus pergi" lanjutnya
"Apa-apaan ini?"
Buuuuuuuuuuukkkkk!!!!
Aku terhuyung. Sebuah kepalan tangan mendarat sukses dirahangku.
"Kuharap sebuah pukulan saja sudah bisa menyadarkanmu."
Kupegangi rahangku yang sedikit ngilu, kulihat dengan jelas ada kemarahan dimata Sammy.
"Aku kasihan sekali denganmu Ray, kau benar-benar pengecut! Benar-benar tak pantas mendapatkan cinta itu." lalu Sammy melangkah pergi
Aku terpaku. Apanya yang salah? Benarkah cinta itu perlu diungkapkan? Tak bisakah kalo hanya dirasakan saja? Aku sudah cukup bahagia bila diijinkan menjaga hatinya.
Aku mendesah panjang sambil menahan ngilu rahangku.
Mungkin hanya Tuhan yang tau cinta apa ini.
"Apa-apaan ini?" desisku geram, tanpa permisi dulu aku langsung masuk ke kamarnya
Sammy yang tiduran di sofa sambil mengamati foto-foto Nian di tab-nya lalu bangkit.
"Kenapa?"
"Kenapa? Kau masih tanya kenapa? Kau mau meninggalkan Nian dan kau masih tanya kenapa?"
Sammy tersenyum apatis,
"Bukankah itu lebih baik?"
"Apanya yang lebih baik? Kau membuatnya jatuh cinta, kau memacarinya, tapi kemudian kau mau meninggalkannya? Kau sama saja mempermainkan perasaannya!!"
"Nian tidak pernah bisa mencintaiku" aku Sammy datar "kami punya perjanjian, dalam 2 bulan dia akan berusaha mencintaiku, kalo tetap saja tidak bisa, maka aku harus pergi" lanjutnya
"Apa-apaan ini?"
Buuuuuuuuuuukkkkk!!!!
Aku terhuyung. Sebuah kepalan tangan mendarat sukses dirahangku.
"Kuharap sebuah pukulan saja sudah bisa menyadarkanmu."
Kupegangi rahangku yang sedikit ngilu, kulihat dengan jelas ada kemarahan dimata Sammy.
"Aku kasihan sekali denganmu Ray, kau benar-benar pengecut! Benar-benar tak pantas mendapatkan cinta itu." lalu Sammy melangkah pergi
Aku terpaku. Apanya yang salah? Benarkah cinta itu perlu diungkapkan? Tak bisakah kalo hanya dirasakan saja? Aku sudah cukup bahagia bila diijinkan menjaga hatinya.
Aku mendesah panjang sambil menahan ngilu rahangku.
Mungkin hanya Tuhan yang tau cinta apa ini.
randublatung, 31 Juli 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar