Kamis, 31 Juli 2014

Jengah

Senyumku menghilang seiring terbukanya pintu dihadapanku. Pelaku pengetuk pintu yang kukira Alpha, ternyata bukan.
Senyum itu tergelar. Senyum sedikit bandel yang dulu sempat kugandrungi, senyum yang saat memutuskan mengajak mengakhiri kisah-kisah manis bersamanya sempat membuatku limbung dan hampir hilang arah. Senyum milik Pram.
"Kau tak menyuruhku masuk? Tak sopan lho membiarkan tamu berdiri saja didepan pintu" katanya enteng,
Aku tergelak "Ada perlu apa menemuiku?" tanyaku ketus.
Sungguh aku tak mau mengingat apapun tentang Pram, terlalu sakit jika kubiarkan membelengguku. Dan aku tak mau dibelenggu perasaan menyebalkan itu.
Pram malah memamerkan senyumnya lagi. Aku mendengus dan melangkah pergi, meninggalkan Pram didepan pintu
"Kau tak suka aku kesini?"
Aku diam tak menjawab pertanyaan bodohnya. Kupandangi Pram yang seperti tak punya salah apa-apa padaku.
Mungkin, 3 bulan lalu aku sangat bahagia jika Pram datang kesini. Hatiku pasti merasa tersanjung dan hariku dipenuhi dengan wangi bunga-bunga cinta. Tapi sejak kejadian siang itu aku merubah semua persepsi itu
"Putus?" lirihku tak percaya, mengulang ucapannya tadi " Tapi kenapa?"
" Tya, mengertilah, masih banyak yang lebih baik dari aku, suatu hari kamu pasti dapat penggantiku."
" Aku tak butuh yang lebih baik, yang aku butuhkan kamu Pram!" 
Pram malah melepas genggaman jemariku. Dia nampak gelisah, 
Ah, kenapa aku memikirkan kegelisahannya? Bagaimana dengan aku? Menyakitkan sekali mendapati hubungan yang baru berjalan sebulan, tak ada masalah apa-apa, tapi kemudian dipaksa diakhiri.
" Apa karena kita beda usia? Kau malu dengan aku yang lebih tua?" selidikku
" Tidak Ya, jangan berfikir seperti itu, aku tak masalah pacaran dengan yang lebih tua"
" Lalu apa?!"
Pram menunduk dalam, seperti mencari jawaban untuk pertanyaanku yang begitu menuntut
" Aku hanya ingin fokus kerja dulu Ya,"
Aku tergelak kaget,
" Kalo kelak aku sudah sukses aku akan meenmuimu dan meminangmu."
bullsitttt!!!
Lamunanku terbuyar oleh dering sms hape-ku. Kuraih hape-ku dan kubuka sms itu. Senyumku mengembang spontan saat menemukan nama Alpha disitu

hai....apa kabarmu hari ini, udah makan belum, makan yang banyak ya biar tetep cerewet....hahahaha

Senyumku jadi tawa kecil,
Alpha, pria cool yang jujur saja beberapa hari ini telah menggoda hatiku lagi. Pertemuan tak sengaja lewat insiden cukup memalukan itu benar-benar membuatku terpukau akan mata tajam 'bak elang itu. Kami berdua waktu itu dalam satu lift, dan tiba-tiba ada gempa kecil yang membuat kami kaget, aku terhuyung limbung terjatuh dan mengahantam tubuh Alpha yang berdiri  tak jauh dariku. Tak hanya berhenti disitu, tiba-tiba mesin lift mati, berhenti bergerak dan tak bisa dibuka. Aku spontan kelabakan. Aku super heboh menggedor-gedor pintu lift, dan usahaku terhenti saat Alpha angkat bicara
" Hei...bisa berhenti tidak? Berisik tauk!" cetusnya
Aku menoleh menatapnya geram. Pria itu benar-benar cool bahkan tak cemas sedikitpun kalo saat ini dia sedang terkunci di lift
" Tanpa kamu menggedor-gedor pintu lift dan teriak-teriak minta tolong, kalo nanti mesinnya nyala juga bakal berfungsi lagi, dasar cerewet!!"
Aku tergelak tak percaya
" Ternyata kamu bawel juga ya, kukira kamu se- cool tampangmu" 
Alpha seperti tersinggung, mata elangnya menatapku lekat seakan ingin menelanku mentah-mentah. Kutanggapi dengan senyum sinis. Dan ternyata kami harus menunggu cukup lama, tapi itulah yang membuat kami perlahan jadi akrab. Kami lalu cerita asal kami masing-masing. Hobi kami, bahkan sampai cita-cita untuk masa depan kami
" Kanada?" desis Alpha
Aku mengangguk. 
" Impian itu terus kujaga, dan akan terus aku coba untuk mewujudkannya."
Aku tersenyum seiring terseret lagi ke alam sadarku. Kubalas sms itu

Iya, iya ...., bawelll. Kamu juga jaga kesehatan lho ya, salam untuk putri duyungnya, hehehehe

Lalu kutekan send. Aku sampai tak sadar kalo diruangan itu masih ada Pram
" Kau menduakanku Ya?!"
" What?? Hello????!!" Siapa menduakan siapa Pram?" geramku benar-benar mulai hilang kesabaran
" Apa aku pernah tanya ke kamu siapa itu Meila? Hah?"
" Dia cuma teman biasa"
" Who care's? I don't care !!" Emosiku meluap.
Pram mendekat
" Cukup. Stop!"
" Tya..."
" Aku mohon Pram, ijinkan aku hidup tenang..."
" Tya aku...."
" Kamu sendiri kan yang dulu minta kita putus? kamu ingin fokus kerja? jadi aku mohon, ijinkan aku lepas dari belenggumu ini..." ibaku.
" Benarkah sudah ada yang lain??!" Tanya Pram berat,
Sekilas mata elang Alpha melewati otakku. 
" Cukup lama aku terpuruk karena kejadian itu Pram. Harusnya dulu tak kau giring kambing itu ke kandang macan, karena meski tak dimangsa macan, tetap saja meninggalkan trauma yang mendalam pada si kambing."
" Tya, aku....."
" Sudahlah Pram, antara kita sudah berakhir, dan kamu sendiri yang mengakhirinya. Jadi biarkan aku mencoba mengobati luka ini, apapun caranya itu sudah bukan urusanmu."
Pram menatapku lekat. Seakan mencari kebenaran ucapan lewat sinar mataku yang makin meredup. Perlahan kualihkan pandanganku dari mata menyelidik itu.
" Suatu hari aku pasti menjemputmu dan memilikimu seutuhnya,..."
Duh gusti.....kenapa dia tak bosan-bosannya mengucapkan kalimat itu? gerutuku dalam hati
" Dan untuk selamanya..."
Kuantar tubuh tegap itu membalik dan melangkah perlahan keluar pintu rumah kontrakanku.
Hanya Tuhan yang tau apa yang akan terjadi esok Pram. Kamu,aku ataupun Alpha tak punya hak menentukannya. Apalagi untuk masalah hatimu yang begitu sulit kupahami itu.




Randublatung,01 agustus '14
Buat teman dumay-ku
tetap semangat y

Rabu, 30 Juli 2014

Penjaga Hati II

Kubuka pintu didepanku. Seraut wajah tampan Sammy menjulang dihadapanku dengan wajah tanpa dosa. Dan didalam dadaku rasanya seperti ada yang bergemuruh.
"Kebetulan kau datang, jadi aku tak perlu repot-repot mencarimu" tandasku menahan geram
Sammy malah tersenyum tipis, dia lalu melangkah masuk.
Dia anaknya adik tiri mama yang menghilang sejak awal menikah dulu. Setelah hampir 20 tahun mereka muncul lagi dengan anggota keluarga baru, Sammy, sepupuku. Jadi aku memang belum cukup mengenal Sammy. Tapi aku benar-benar tak menyangka kalo dia bisa menusukku dari belakang; dengan memacari pujaan hatiku.
"Kau mau bertanya soal aku dan Nian?" tebaknya ringan, dengan seulas senyum. Senyum menyindir mungkin. Entahlah, paling tidak itulah yang kupikirkan melihat senyum itu.
"Apa maksud semua ini Sam?"
"Simple saja Ray,.." katanya mnghempaskan tubuhnya ke sofa. "Aku mencintai Nian, aku ingin memikinya, jadi aku menyatakan cintaku. Dan Nian menerimanya. so, kita pun pacaran." lanjutnya memaparkan kronologinya
Aku tergelak.
"Apa ada bagian yang lucu?" 
Kutatap Sammy lekat, tanganku mengepal erat menahan emosi yang makin bergemuruh didadaku.
"Aku mencintainya puluhan tahun, aku menjaganya puluhan tahun, dan kau merampasnya tanpa rasa bersalah?"
"excuse me?
Aku melangkah pergi.
"Apa selama puluhan tahun itu kau pernah menyatakan cintamu? Hah?!" 
Langkahku terhenti diambang pintu kamarku. Aku terngungu.
"Cinta memang untuk dirasakan Ray, tapi cinta juga butuh dinyatakan. Nian bukan paranormal yang bisa tau perasaanmu jika kau diam saja tak pernah bilang  ke dia. Hiduplah dalam realita Ray, bukan hanya berkutat di sketsa-sketsa wajah itu."
Aku diam memikirkan kata demi kata yang diucapkan Sammy. Memang ada benarnya, ah tidak, semua itu benar. Dan jika ini semua terjadi aku tak bisa menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri. Aku selama ini terlalu sibuk menikmati cintaku dalam kesendirianku. 
"Aku hanya merasakan ketenangan saat menikmati cinta itu membalut jiwaku. Melihat dia tersenyum rasanya sudah sangat membahagiakanku." kataku lirih
"Kau egois" 
Kubalikkan wajahku menatap Sammy lagi
"Kau hanya memikirkan perasaanmu saja, kau sama sekali tak memikirkan perasaan Nian, kau hanya berpikir kau sudah puas, sudah bahagia dengan mencintainya. Tapi bagaimana dia? Kau pernah berpikir mungkin saja dia juga menantimu ungkapkan cinta, kau sendiri  yang buat hatinya seperti sekoci tak ber-awak, terombang-ambing di luasnya samudra. Lalu kenapa kau merasa terkhianati saat aku mendapatkannya?"
Duh Gusti, kenapa semua jadi begini rumit? Lalu aku harus bagaimana? Masa' aku harus mengulurkan tangan ke Sammy seraya berucap 'selamat y'
Aku tertawa terbahak, Sammy menatapku heran.
"Maaf." katanya kemudian,
Entah kenapa aku tak bisa menghentikan tawa bodohku ini
"Aku tau aku terlalu tidak manusiawi padamu, aku begini hanya sudah sangat muak dengan tingkahmu yang sangat pengecut"
Perlahan tawaku menghilang dan kusadari mataku mulai mengembun
Apakah begini rasanya kehilangan cinta yang sebenarnya? saking sakitnya sampai aku tak bisa membedakan apapun.
Sammy masih berdiri menatapku sedih. Yah, aku memang menyedihkan.


***



sejak kejadian itu aku berusaha tak lagi memata-matai Nian, mungkin aku memang harus tegaskan pada hatiku yang terlalu pengecut ini bahwa sekarang Nian telah punya penjaga hati yang baru. Tapi memang tak dapat dipungkiri bahwa aku tak bisa menghilangkan cinta itu dari hatiku. Dan setiap kali tanpa sengaja aku melihat mereka bersama guratan itu kembli tercipta melukai hatiku.
Sampai tiba-tiba aku mendengar kabar itu, Sammy akan pindah lagi ke Kanada. Kembali ke kampung halaman ibunya.
"Apa-apaan ini?" desisku geram, tanpa permisi dulu aku langsung masuk ke kamarnya
Sammy yang tiduran di sofa sambil mengamati foto-foto Nian di tab-nya lalu bangkit.
"Kenapa?" 
"Kenapa? Kau masih tanya kenapa? Kau mau meninggalkan Nian dan kau masih tanya kenapa?"
Sammy tersenyum apatis, 
"Bukankah itu lebih baik?"
"Apanya yang lebih baik? Kau membuatnya jatuh cinta, kau memacarinya, tapi kemudian kau mau meninggalkannya? Kau sama saja mempermainkan perasaannya!!"
"Nian tidak pernah bisa mencintaiku" aku Sammy datar "kami punya perjanjian, dalam 2 bulan dia akan berusaha mencintaiku, kalo tetap saja tidak bisa, maka aku harus pergi" lanjutnya
"Apa-apaan ini?"
Buuuuuuuuuuukkkkk!!!!
Aku terhuyung. Sebuah kepalan tangan mendarat sukses dirahangku.
"Kuharap sebuah pukulan saja sudah bisa menyadarkanmu." 
Kupegangi rahangku yang sedikit ngilu, kulihat dengan jelas ada kemarahan dimata Sammy.
"Aku kasihan sekali denganmu Ray, kau benar-benar pengecut! Benar-benar tak pantas mendapatkan cinta itu." lalu Sammy melangkah pergi
Aku terpaku. Apanya yang salah? Benarkah cinta itu perlu diungkapkan? Tak bisakah kalo hanya dirasakan saja? Aku sudah cukup bahagia bila diijinkan menjaga hatinya.
Aku mendesah panjang sambil menahan ngilu rahangku.
Mungkin hanya Tuhan yang tau cinta apa ini.




randublatung, 31 Juli 2014

Penjaga Hati

Pagi itu sangat cerah, matahari begitu terik berbagi sinarnya dengan dunia, seperti matahariku diseberang koridor kelas sana. Tawa cerianya yang sedang bercanda dengan Mila, teman sebangkunya itu sampai terdengar dari sini.
Ini adalah tempat favoriteku, disini aku bisa dengan leluasa menikmati gadis manis dan lincah itu; Nian. Q begitu menyayanginya, begitu ingin melindunginya dari apapun dan siapapun, meski sikap terlaluku ini akhirnya menciptakan jurang yang cukup lebar antara kami berdua. Dulu kami seperti benda dan bayangan. Dimana ada aku disitu pasti juga ada Nian.
Persis 2 tahun lalu awal kejadian itu, kudengar gosip dari beberapa teman kalo Nian nembak Farrel disamping kantin sekolah. Mendengar itu aku buru-buru mencari Nian yang asyik menikmati mie ayam sendirian. Aku langsung duduk di depannya. Saat itu kantin lumayan sepi, hanya beberapa orang yang juga lagi menikamati sarapan atau sekedar nongkrong.
"Kau mau makan juga?" tanyanya menyumpit mie nya,sambil sesekali melirik ke sudut kantin. Kuikuti arah matanya
Ternyata......Farrel!! Hatiku tiba-tiba bergemuruh.
"Kau ini apa-apaan sih Ni,..." desisku sedikit geram, meki volume suaraku masih pelan
"Apa-apaan apanya?" tanya Nian balik, masih dengan lahap mengunyah mie dimulutnya
"Pake pura-pura lagi. kemarin kau nembak Farrel kan?"
Nian berhenti mengunyah, tapi kemudian bibirnya melebar, tersenyum lucu, seolah mencoba mencairkan kemarahanku. Sayangnya aku lagi benar-benar marah.
"Tidak ada yang lucu Ni! Kau pikir itu sebuah lelucon? Kau ini cewek, bagaimana bisa seorang cewek menyatakan cinta lebih dulu ke cowok? Itu memalukan Nian....!!"
Dan akhirnya aku berhasil membuat senyum itu hilang, Nian menundukkan wajahnya. Sekilas tadi sempat kulihat matanya berkaca- kaca.
Aku bersikap begini punya alasan. Bukannya aku melarang Nian suka Farrel, tapi aku cukup kenal siapa Farrel. Dia itu trouble maker, tukang mangkir, dan sering sekali dikeluarkan dari kelas saat jam pelajaran berlangsung karena suka melawan perintah guru. Lalu kenapa Nian bisa jatuh hati pada Farrel,sampai begitu tergila-gila dan nekat utarakan cinta lebih dulu? Tak sadarkah dia kalo ada sepotong hati yang tukus menyayanginya sejak kecil dan selalu setia menjaganya? AKU.
Kuhela napas panjang, kantin menjadi tambah sepi. Nian masih menunduk, juga tetap diam tak bicara. Aku mulai merasa bersalah. Apa aku terlalu keterlaluan? Apa aku terlalu posesif? Atau aku terlalu takut menghadapi kenyataan kalo ternyata sebenarnya Nian tidak pernah mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai 'kakak' ?
" Maaf." pintaku lirih.
Tapi Nian tetap tak bereaksi. Kuulurkan tanganku hendak meraih jemarinya, tapi tiba-tiba Nian bangkit.
"Aku mau ke kelas dulu" katanya serak, tanpa mendongak apalagi menatapku. dan buru-buru dia beringsut pergi.
Dan sejak pagi itu duniaku jadi berubah total. Nian makin hari makin menjaga jarak dengan aku. Memang dia tak jadi menjalin hubungan dengan Farrel, karena Farrel keburu di DO oleh pihak sekolah karena aksi jagoannya berkelahi dengan kakak kelas. tapi Nian pun seakan ikut men- DO aku dari hatinya. Dan 2 tahun telah berlalu. sekarang, asal aku bisa melihat tawa lepasnya yang ceria itu aku sudah sangat bahagia.
Lamunanku terbuyar oleh tepukan tangan di pundakku. Aku menoleh. Sammy, teman sekelas Nian, yang juga sepupu jauhku itu sudah menjulang disampingku.
"Masih setia hidup begini bro?" tanyanya seperti menyindir.
Sammy cukup tau perasaanku pada Nian. Dia yang hampir selalu memergokiku mengawasi Nian dari kejauhan. Dia pula yang berhasil menemukan lukisan sketsa wajah-wajah Nian di dalam kamarku.
"Hei...ini Nian kan?" pekik Sammy waktu itu, 
Salahku juga saat dia mau pinjam buku paket kimia dan aku menyuruhnya mencarinya sendiri di meja belajarku, alhasil dia menemukan tumpukan kertas gambar sketsa wajah Nian dengan berbagai ekspresi, yang biasa aku curahkan saat rindu dia.
Segera kurampas setumpuk kertas itu dari tangan Sammy dengan wajah sedikit memias. Sammy tergelak.
"Kau suka gadis bawel itu?" selidik Sammy.
Aku tak menjawab pertanyaan Sammy, kusimpan kembali kertas-kertas itu ketempat yang lebih aman.
"Sudah berapa lama?" tanyanya lagi.
"Entahlah.." cuma itu yang bisa kukatakan, selebihnya lebih suka kunikmati sendiri daripada diketahui banyak orang. 
"Biarkan aku membantumu." ucapan Sammy menyadarkan lamunanku. Aku menoleh menatap Sammy. Dia serius.
"Maksudnya?"
Sammy tersenyum sambil menepuk bahuku, lalu dia beranjak pergi.


Aku tak jadi memasukkan kunci motorku saat mataku menangkap sebuah adegan. Sekitar 10 meter dari tempatku kulihat Sammy menggandeng tangan Nian, wajah Nian tertunduk memias meski kentara sekali kalo semburat bahagia terpancar disana, seruan dan tepukan tangan teman-teman yang lain yang kebetulan ada di tempat parkir siang itu makin memiaskan wajah Nian
"Cieee..cieee yang baru jadian, nempel teruuss...." ledek Tristan setengah berteriak, tak jauh dari tempatku.
Jadian??? Dunia serasa berhenti berotasi beberapa saat, kunci motorku terlepas dari tanganku.
"Biarkan aku membantumu."
Kalimat Sammy tadi pagi kembali terngiang di telingaku.
Jadi ini maksud Sammy tadi pagi???
Aku tergelak, menertawakan kebodohanku selama ini. Bagaimana aku tidak bodoh? Aku puluhan tahun mencintai Nian, menikmati manisnya setiap irisan cinta dalam 'persembunyianku'. Dan sekarang cinta itu digenggam oleh Sammy, yang baru beberapa bulan mengenal Nian.
Nian.... apakah kau benar-benar tak bisa menyadari ada aku disini selalu menyayangimu dengan tulus dan dengan setia menjaga cinta itu? Kenapa kau malah menitipkan cintamu pada Sammy?Area parkiran sudah sepi. Tapi tak sesepi relung hatiku yang kini seperti kehilangan penghuninya. 
Tuhan, ini tidak adil! Rutukku dalam hati
Aku tergelak lagi.
Bukankah memang begini pengaturan cinta yang sebenarnya? Sebanyak apapun pengorabananmu, setulus apapun cinta yang kau suguhkan, itu semua tak ada jaminan akan dibalas dengan bahagia. Kalau cinta berjalan seperti seharusnya, maka tidaka akan ada lagi yang menciptakan lagu patah hati. Tak akan  ada lagi yang berperan sebagai penjaga hati meski dengan mengorbankan separuh hatinya hatinya tersayat dan terluka.



Randublatung,30 juli 2014
sekedar teringat sebuah hati di masa lalu