Minggu, 23 Juli 2017

Belum Ada Judul






Kuseruput lemon tea didepanku sedikit. Rasa asamnya yang berbalut manis langsung menyeruak memenuhi rongga kerongkonganku. Hampir serupa dengan semua ulasan Tarinda tadi pagi, yang langsung meracuni seluruh relung hatiku.

Fuiihhhh….. aku benar-benar merasa stok kesabaranku mulai menipis.

"Kamu benar tak mau pesan spagetti disini? Spagettinya mantap lho, spagetti ditempat mas Fajar aja kalah jauh. " Cerocos Ersan.

Aku menggeleng pelan sambil menyeruput lagi lemon tea ku, dengan perasaan yang masih campur aduk. Wajah Tarinda masih berlalu lalang di otakku.


" 2 tahun lebih kami pacaran. Ersan tau semua kesukaanku, lemon tea, spagetti, Padi,.."
Selebihnya kata-kata Tarinda seperti mengambang tak jelas kudengar. 
Yang buat aku heran kenapa semua kesukaan Tarinda sama persis dengan kesukaanku? Siapa itu Tarinda, bahkan aku baru kenal namanya 10 menit yang lalu saat dia mendatangi tempatku duduk dibangku taman ini. Yang mengaku mantan pacar Ersan.


Aku tergelak mengingat kejadian itu. Ternyata selama ini aku memang terlalu naif pada Ersan, blesteran jawa-sunda itu yang 2 bulan ini memang terlalu dekat denganku. Padahal kami bersama hanya karena pekerjaan yang harus kami selesaikan. Selebihnya, aku hanya sebatas kenal namanya sebagai salah satu karyawan bertalenta sejak pertama masuk di perusahaan ini.

Ersan, pria jangkung yang sudah mirip artis-artis korea yang langsing semampai dan begitu lookable. Kulitnya terbilang cukup bersih terawat. Bahkan jika dibandingkan dengan kulitku yang kecoklatan, aku kalah jauh. Hidungnya mancung, matanya punya pesona yang bagiku cukup memikat para wanita. Buktinya tak sedikit aku mendengar yang jatuh cinta dengannya. Bahkan ada yang terang-terangan iri dneganku karena bisa dekat dengannya. Rambutnya lembut tergerai indah meski belum bisa dikategorikan gondrong. Dan tongkrongannya yang seperti mengadopsi tongkrongan pemain sinetron Anak Jalanan di tivi itu, makin banyak membuat para kaum hawa terpukau.

Oke, awalnya aku memang cukup berbangga bisa dekat dengannya diluar ada pekerjaan dari kantor yang memang mengharuskan kami setiap hari selalu berinteraksi. Dia bahkan menambahkan jam diluar kantor untuk akrab denganku. Mulai dari makan siang bersama, pulang bersama, bahkan ini yang kedua kalinya dia mengajakku nongkrong di café langgannannya. Katanya selain menunya enak, disini setiap malam selalu ada life konser penyanyi-penyanyi underground yang bertalenta emas.

" Kamu kenapa sih, Di?" Tanya Ersan mulai risi dengan sikapku yang lebih banyak diam.

Aku memang terkenal banyak omong dan supel. Mungkin itulah yang membuatku bisa beradaptasi dengan cukup cepat pada semua aspek masyarakat di perusahaan ini. Bahkan Ersan yang katanya termasuk dalam kasta ‘sulit dipahami’ pun hanya butuh beberapa hari mampu kutaklukkan dan kami menjadi akrab. Hingga memudahkan pekerjaan kami yang mungkin tinggal beberapa hari lagi selesai. Jadi wajar kalo kemudian aku lebih banyak diam membuatnya heran. Bahkan aku bisa membahas tingkah-tingkah orang-orang di sekitar kami yang kemudian kubuat menjadi analisa yang absurd dan konyol. Itu salah satu hal yang sejak dulu kulakukan sebagai ‘pelarian’ agar tak terjebak dengan koalisi antara hati dan khayalan yang biasanya menghasilkan sesuatu yang menakutkan yang biasa mereka sebut dengan jatuh cinta.

Aku bukannya Philophobia, aku hanya malas menghabiskan waktu dan tenagaku apalagi sampai air mataku saat pada waktunya semua fase bunga-bunga cinta berubah menjadi menyakitkan. Hidupku terlalu berharga untuk hal-hal semacam itu. Terserah orang nmenyebutku bagaimana. Bahkan aku tak peduli jika kemudian teman-temanku mengira kau masih trauma dengan cinta monyet masa SMAku yang kandas karena pria yang kusukai tak mau berbalik menyukaiku karena aku kurang punya ‘nama’ di sekolah.

Kutatap Ersan sebentar, lalu pura-pura lebih sibuk mengaduk-aduk lemon tea.

" Aneh tau, biasanya cerewet banget, tapi ini malah__"

" Tadi pagi aku ketemu Tarinda." Selaku dingin, menghentikan ucapan Ersan. Aku mendongak dan menemukan Ersan menatapku lekat dengan sinar yang menurutku begitu aneh.

“Owh,”

Aku tergelak samar.

Owh? Tanggapan macam apa itu?

" Apa kalian akan balikan?" Tanyaku sedikit menahan nafas.

" Tidak." Jawab Ersan singkat dan acuh,

" Kenapa?"

" Penting ya untuk aku jawab?" Intonasi Ersan jadi sedikit naik,

" Gak juga sih, cuma Tarinda kan cantik, baik, sopan, dan yang pasti dia sudah mengenalmu dengan baik." Lanjutku, kali ini sedikit menahan sesak dadaku.

" Trus?" Sungut Ersan.


" Dulu, saking ngefansnya aku sama band Padi, Tiap Padi konser Ersan sampai bela-belain mengajukan diri meliput. Biar dapat foto eksklusif untuk aku." Kenang Tarinda
Trus, apa kaitannya denganku coba? Itu kan masa lalu kalian. Dengusku membathin jengkel.

" Ohya?" Tanggapku sedikit malas,

" Bahkan kalo bisa Ersan selalu mencari kesempatan emas agar mereka mau foto denganku." Tarinda tetap antusias bercerita. " Ersan memang yang peling mengerti aku"
Kulirik sedikit ke arah raut muka Tarinda yang cukup berubah drastis.


" Kenapa kalian berpisah?" Tanyaku datar.

Dan ekspresi yang ditunjukkkan Ersan sangat berbeda dengan raut muka Tarinda tadi pagi.


“Aku sudah sangat mengecewakannya. Dia sudah berulang kali memohon agar aku tidak menerima tawaran ke Paris itu. Tapi… Paris adalah impianku sejak terjun di dunia model, jadi aku tak mungkin mengacuhkannya saat kesempatan itu datang. Meski Ersan kecewa, tapi aku yakin dia bisa memaklumi itu.” Ulas Tarinda dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Sudah mirip dengan pendongeng di Taman bermain anak-anak dekat rumahku.

“Jadi setelah aku sukses aku kembali, kuharap 2 tahun tak terlalu lama untuk Ersan menungguku.” Kali ini Tarinda seperti berharap penuh akan hati yang  sudah 2 tahun ditinggalkannya masih dengan lapang dada menerima kembalinya dia.


" Apa itu penting untuk kamu tau?" Desis Ersan ketus.

Kuhindari tatapan geram yang tak kusukai  itu.

Awal bekerja bersama dengan Ersan banyak hal yang kubuktikan kebenarannya tentang berita tentangnya yang sudah cukup kenyang kudengar dari berbagai mulut. Ersan yang judes, Ersan yang angkuh, Ersan yang tak suka dengan alasan, dan Ersan yang nyaris tak mengenal apa itu senyum apalagi tawa.

" Tidak juga, aku hanya heran saja. Kalau kalian putus karena kamu tak mencintainya lagi, tak mungkin kamu meratapinya selama ini." Dengusku kesal, entah kesal karena apa. Mungkin sisi nurani sedikit tersinggung karena ternyata Ersan mau dekat dan baik padaku karena aku punya banyak kesamaan dengan wanita yang dicintainya di masa lalu.

" Hei___" Sergah Ersan

" Dan___" Kuangkat tanganku mencegahnya bicara "___kalo Tarinda yang tak mencintaimu lagi, kenapa juga dia masih mengingat semua kenangan kalian?"

Ersan menatap lekat ke arahku, membuatku tiba-tiba rikuh.

" Percintaan tak segampang itu Di. Kamu gak akan mengerti."

Aku tergelak.
Oke, aku memang masih nol besar soal percintaan. Aku tak pernah berpacaran sampai berumur hampir 25 tahun ini, istilah kasarnya. Aku terlalu menjaga jarak dengan kawasan yang disebut cinta. Bukan soal aku tak punya pengalaman dalam cinta. Aku memang sejak dulu tak suka berurusan dengan yang namanya cinta.

Hingga saat kemudian dekat dengan Ersan aku seperti melupakan kebiasaanku yang tak suka berurusan dengan yang namanya hati. Aku mencoba bermain hati dengan pria ini.  Aku lupa dengan komitmen dan persepsiku yang sudah sejak dulu kupercayai bahwa bermain hati itu hanya akan banyak menguras tenaga dan air mata.


" Aku ingin kembali pada Ersan."

Statemen lugas tadi pagi itu benar-benar seperti asamnya rasa lemon tanpa campuran gula.

" Aku sadar aku pernah mengecewakannya karena meninggalkannya disini demi karierku, tapi kemudian aku sadar bahwa aku salah, karena tak ada yang bisa mengerti aku sebaik Ersan."


Dan curahan hati Tarinda tadi pagi menyadarkanku bahwa mungkin selama ini aku terlalu naif pada semua sikap Ersan. Mungkin saja dia melihat sosok Tarinda dalam kesukaanku. Bodohnya aku. Naifnya pikiranku yang berfikir Ersan benar-benar jatuh cinta denganku.

Tapi.....Kenapa Ersan seperti tak suka dengan kepulangan Tarinda? Apa karena aku?

Heiii.....???! Hardikku sendiri, dan itu membuatku spontan tergelak bodoh.
Aku siap-siap beranjak.

" Kamu mau kemana? Kamu marah dengan sikap dan kata-kataku tadi?" Berondong Ersan seperti usaha mencegahku pergi.

Aku diam sebentar, lalu mendesah meletakkan tasku lagi.

Ersan memang terkenal dengan mulut pedasnya. Ibaratnya dia jarang bicara, jarang berkomentar dengan apapun, tapi sekali ngomong kebanyakan akan membuat orang tersinggung, sakit hati, dan menyesal bicara dengannya. Meski dari semua reaksi itu tak ada yang dipedulikan Ersan.

" Dengar Er, aku masih tak  mengerti alasan Tarinda menemuiku. Dia cerita semua kenangan kalian, dan dia juga katakan padaku tentang niat dia yang ingin kembali padamu. Aku benar-benar tak mau peduli itu semua." Geramku, 

Ersan menatapku lekat, dengan sinar yang tak bisa kuterka mengartikan apa.

" Aku hanya tak suka aku dilibatkan dalam masalah kalian. Aku malah sadar satu hal, kalo aku 
ini hanya kamu jadikan bayang-bayang Tarinda karena kesukaan kami yang sama. Dan aku benar-benar tak menyukainya." Lanjutku makin geram.

" Dian, aku...." Susul Ersan, tapi kemudian suaranya menghilang begitu saja.

Aku merasa ada perasaan aneh yang ingin diungkapkan Ersan, sangat aneh. Bahkan aku tak mengenali namanya.

" Aku tak mungkin lagi bersama Tarinda." Lanjut Ersan sedikit lirih sedikit menunduk.

2 bulan dekat dengan Ersan ternyata tak cukup membuatku mengerti jalan pikirannya, meski  hanya sedikit saja. Ersan memang pribadi yang misterius, tak banyak bicara. Tapi aku tak menyangka banyak sisi hatinya yang tak terjamah oleh orang lain.

Dia memang kupikir sudah menjadi pribadi yang menyenangkan saat kami sedang ngobrol, entah membahas pekerjaan atau sedang bicara yang lain. Tapi saat sendiri, dia kembali menjadi Ersan yang sebenarnya. Dia dengan dunianya yang tak pernah terjamah dan diperbolehkan dijamah siapapun.

" Er, aku tak pernah ingin jadi orang ketiga diantara kalian. Aku hanya orang baru yang tak sengaja lewat dalam kehidupanmu. Aku tak pernah sengaja punya kesukaan yang sama persis dengan Tarinda. Maaf kalo semua tentang aku mengingatkanmu pada Tarinda, aku benar-benar___"

" Dian, ini bukan tentang dia." Sergah Ersan dengan intonasi yang tinggi.

Mataku pun lekat menghujam pandangannya yang juga menatapku lekat. Menyiratkan ketidaksukaannya, entah pada apa.

" Aku juga tak pernah berharap kau punya kesukaan yang sama dengan dia. Awalnya aku juga tak bisa terima itu. Tapi percayalah, semua ini bukan tentang dia. Aku merasa nyaman dekat denganmu juga bukan karena kamu juga menyukai lemon tea. spagetti, bahkan juga bukan karena kau fans Padi. Bukan, Di." Aku Ersan dengan suara tertahan.

Aku tergelak sedikit tak percaya, karena selama ini seperti dipermainkan kehidupan. Aku tiba-tiba menjadi benci dengan ksukaanku selama ini. Lemon tea yang kusukai karena bagiku rasanya yang nyaris sama dengan rasa kehidupan yang penuh asam-manis tapi secara keseluruhan sangat menyegarkan untuk dinikmati; Spaggeti yang kusukai karena aku memang menyukai rasanya ketimbang rasa mie kebanyakan; dan Padi, aku menyukai band senior itu karena lirik-lirik lagunya yang terkesan tidak bertele-tele dan mereka punya filosofi yang unik dengan nama band-nya yang begitu sederhana.

Aku tak pernah menyangka semua kesukaanku itu juga milik seorang Tarinda yang sangat dicintai Ersan meski di masa lalu. Andai aku tau Ersan punya chemistry dengan semua itu aku tak mungkin akan menunjukkannya pada Ersan, bahkan kalo perlu aku tak perlu mengakrabkan diri terlalu akrab dengannya biar dia tak perlu tau apapun tentang kesukaanku itu. Biar dia tetap menjadi sosok yang dingin dan tak terjamah seperti kodratnya. Dan biar aku juga tetap pada posisi tak ingin bermain hati.

" Di...Kamu tau kan makna dari namamu?"

Aku mengerutkan dahi.

" Dian artinya cahaya, lentera, dan kamu, kehadiranmu seperti cahaya untuk duniaku. Aku memang terpuruk dengan kepergian Tarinda dulu. Dan memang terlalu lama meratapi semuanya di sudut duniaku yang gelap. Tapi sapaanmu 2 bulan lalu itu menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tidak hanya pada Tarinda. Apa aku salah?" Lanjut Ersan membuatku terbengong tak bisa berfikir.

" Kamu tak merasa ini terlalu konyol?" Tanyaku akhirnya

Ersan tak menjawab, hanya mendesah panjang.

" Tarinda meninggalkanku karena ingin menjadi model terkenal. Dia bahkan tak peduli perasaanku waktu itu. Dia hanya peduli kebahagiaannya saat mendapat kesempatan itu. Baginya cinta hanya selingan, tak begitu penting. Apa aku harus menerima lagi orang yang  sudah meninggalkanku? Yang menganggapku tak begitu penting?" 

" Lalu kenapa aku? Apa karena kami punya banyak kesamaan?"

" Tidak."

" Lalu?"

" Apa itu penting?"

" Cukup penting, paling tidak bagiku. Karena aku tak mau dianggap seperti bayang-bayang Tarinda."

" Harus berapa kali lagi kubilang, ini bukan tentang dia, Di!"

Aku diam. Menikmati sisa kemarahan Ersan yang tadi sempat membuyar.

" Kenapa begitu banyak hal yang kamu sembunyikan dalam hidupmu, Er? Kenapa banyak sudut dalam kehidupanmu yang begitu tak terjamah orang lain? Aku bahkan lebih bisa memahami Tarinda yang baru kukenal tadi pagi daripada kamu yang sudah 2 bulan akrab denganku.”

Apa aku mengeluh? Rasanya menggelikan mengeluhkan hal ini dihadapan Ersan ketika aku sendiri berfikir tak mau berharap apapun tentang keakraban kami selama 2 bulan ini.

Selamat, Dian, kamu sudah secara sengaja bermain hati saat kamu benar-benar berteriak ingin menjauhinya.

" Kadang ada beberapa hal yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata yang jelas. Karena semua bisa diperjelas seiring berjalannya waktu. Untuk saat ini kamu hanya cukup tau, kamu jauh lebih berarti untuk hidupku daripada Tarinda. Dia hanya masa lalu. Dan kamu, aku ingin kamu jadi masa depanku."

Tak sadar aku tersenyum mendengar penuturan Ersan barusan.

Oh, hati, bisakah kamu tak mempermainkanku?

'' Tak apa kan kalo masa depan yang akan kita tuju belum begitu jelas?'' Tanyanya seperti takut sebuah keraguan melandaku.

Aku nyaris tersenyum setuju, sebelum kemudian wajah cantik Tarinda melintas.

Kembali menjelaskan tentang kesukaanku dan kesukaan Tarinda yang sama.

" Lalu Tarinda?" Tanyaku membuat raut muka Ersan sedikit memburam.

" Dia yang memutuskan meninggalkanku , aku tak punya kewajiban memikirkan bagaimana dia selanjutnya."

" Kamu kejam sekali."

" Apanya yang kejam?" Ersan tak mengerti dengan tuduhanku.

" Tak peduli Tarinda."

Ersan tergelak, "Aku bukan Tuhan yang harus selalu peduli perasaan semua orang. Aku juga punya kehidupan yang tak mungkin dipikirkan orang lain. Hidup itu memang penuh keegoisan Di."

Aku termangu lagi. Tapi kali ini lebih lama. Banyak hal yang tak kumengerti dari Ersan.

Aku mengerti Ersan kecewa dengan sikap Tarinda dulu yang meninggalkannya karena lebih mementingkan karier. Tapi benarkah Ersan benar-benar sudah melupakan Tarinda? Bahkan sejak bersamaku setiap kali sampai pada kesukaanku, dia selalu berbinar. Ada kebahagiaan tersendiri akan tiga hal yang sangat berkaitan erat dengan Tarinda. Dan sejak tadi pagi—yang mungkin akan menjadi seterusnya—hal itu akan sangat membuatku tersinggung jika masih tetap bersikeras bersama Ersan.

" Er, aku__" Kutata hatiku sejenak "aku tak bisa." Lanjutku bangkit.

Ersan sontak kaget.

" Maaf, tapi kamu sendiri kan yang bilang, percintaan tak segampang itu. Aku tak mempermasalahkan masa depan yang akan kita tuju belum jelas, karena memang tak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi aku justru takut tak bisa memahamimu sampai kapanpun. 

"Aku bahkan tak mampu memahami apa artiku yang sebenarnya bagimu.''

Sepi beberapa detik, mungkin Ersan sedang menggerutu dalam hati.

" Tarinda yang merasa sangat memahami dirimu pun akhirnya menyerah, meski dengan jalan yang terpilih. Yang tak bisa kamu terima. Sedang aku, sedikitpun aku tak bisa memahamimu Er. Aku tak mau memaksakan diriku mencoba memahami banyak sisi hidupmu yang kamu rahasiakan, karena aku tau pada akhirnya aku pun pasti menyerah seperti Tarinda. Aku ataupun Tarinda, bukan orang yang kamu percaya boleh memasuki duniamu yang sangat istimewa itu Er."

Ersan tergelak sinis

" Ini tidak adil Di. "

"Maksudmu aku kejam?" Ralatku, "Bukan maksudku membuat karma untukmu Er. Tidak, itu bukan hakku, karena aku hanya manusia bukan Tuhan. Aku hanya tak punya kewajiban memikirkan perasaan orang lain sememntara aku mengorbankan perasaanku. Bukankah katamu hidup itu penuh dengan keegoisan? Cinta memang bukan sebuah penjelasan tapi saat cinta terlalu menjadi misteri yang ada malah kebingungan. Proses memang penting tapi tujuan tak kalah penting. Apa jadinya kita berjalan jika tak jelas maksud dan tujuannya?"

Bungkam, Ersan tak menanggapi semua 'ceramahku' yang sebagian besar sebenarnya berasal dari ucapannya sendiri.

Aku tak suka bermain hati, apalagi pada hati yang terlalu banyak misteri.

Aku perlahan beringsut meninggalkan tempat itu tanpa berkata lagi pada Ersan yang seperti sibuk menelaah semua kata-kataku.

Mungkin aku memang terlalu kejam, biarlah.  Tapi kadang memang ada beberapa hal yang tak perlu penjelasan karena seiring waktu berjalan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Kelak Ersan akan tau kenapa aku bersikap begini. Tapi yang pasti aku menolak semua ini bukan karena kedatangan Tarinda. Kedatangan perempuan cantik itu hanya sesuatu yang memperjelas alasanku untuk tetap tak main-main mencoba bermain hati. Aku belum siap merasakan patah hati.

Seperti halnya lemon tea, asam yang bercampur manis, manis yang terbalut asam. Mungkin begitulah sebenarnya jabaran dari percintaan. Tapi aku tak suka bermain hati apalagi cinta.



Winwin_Windarti
Revisi "Bukan Tentang Dia"
Smg, 24/07/2017



Minggu, 02 Juli 2017

Ayah





 “Ling, mulai sekarang Ling hanya tinggal dengan Ibu, jangan nakal ya!”
Begitu pesan Ibu sore itu, dengan mata sembab berkaca-kaca. Tangannya yang selalu hangat membelai pipiku lembut. Bibirnya seperti dipaksanya untuk tersenyum, dan aku tau itu memang hanya dipaksakan agar terlihat sedang tersenyum. Seperti bentuk kekuatan saat sudah benar-benar ambruk. Dan aku tidak pernah suka saat Ibu melakukannya.

Aku melihat ada kesedihan yang coba Ibu tahan biar tidak meluap. Membuatku tak berani bertanya ada apa atau kenapa. Akhirnya aku hanya mengangguk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Tapi yang pasti sejak sore itu di usiaku menginjak tahun ke 5, dalam hari-hari di kehidupanku tak ada lagi satu wujud bahkan satu kata; Ayah.
Semuanya menghilang seperti tetes-tetes embun pagi di rerumputan saat terik mentari mulai menyinari seluruh penjuru bumi. 


Dan setelah 11 tahun berlalu hal itu tak pernah berubah. Tetap tak ada wujud dan kata itu melintas dalam kehidupanku. Meski sebenarnya dalam hati aku selalu bertanya, kenapa ayah tak lagi menjadi bagian hidupku? Apa yang terjadi, kenapa bisa sampai terjadi, atau adakah suatu hari kembali, hanya sebatas pertanyaan sisi hati pada sisi hati lainnya.
Aku seperti dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa yang sudah pergi tak usah diharapkan kembali karena tak mungkin akan kembali.

“Ling, apa impian terbesarmu?” tanya Pak Mus siang ini dalam kelas Sejarah yang baru berjalan setengah jam. Hari ini peajaran Sejarah membahas tentang mimpi-mimpi besar para tokoh-tokoh dunia sebelum mereka menjadi tokoh-tokoh dunia.

Aku Kalingga, salah satu siswa kelas 10 di sebuah SMA favorite di tempatku tinggal. Dan saat semua ABG seumuranku menikmati masa-masa indahnya menjadi ABG aku malah harus membagi waktu luangku diantara jam-jam sekolahku yang padat dan menguras energy. Aku tetap harus membantu perekonomian keluarga agar tidak macet. Terlebih biaya sekolah saat ini tak ada yang murah. Semua memakai uang.
Jadi anggap saja aku bukan gadis ABG normal seperti kebanyakan, yang punya waktu untuk memikirkan sedang menyukai siapa, nge-fans dengan artis yang mana, atau bahkan punya mimpi alay seperrti apa. Mimpiku setiap pagi hanya semoga hari ini semua berjalan lancar tak perlu ada kepala pusing karena ada kebutuhan mendadak yang mengharuskan otak bekerja 100% lebih keras untuk memenuhinya.

Aku tak tahu apa dengan pasti yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya Ayah dan Ibu tak lagi bersama. Aku ingat Ayah marah-marah mengemasi pakaiannya setelah saling berteriak dengan Ibu. Ayah keluar rumah dengan langkah lebar. Dan Ibu hanya menangis memelukku.
Ayah bahkan tak berpamitan padaku. Tak melihatku untuk terakhir kalinya. Akupun tak memanggil. Apalagi mengejar.

Semua Tanya dan protes hanya mampu bergemuruh di dalam hatiku. Bahkan ketika aku mulai sering mendengar omongan para tetangga tentang kabar Ayah aku hanya bisa diam menikmati gemuruh hatiku yang kian riuh meneriakkan kata Ayah.
“Kasihan kamu, Ling, Ayahmu memang gak bertanggungjawab banget.” Ucap Mamak Inah, tetangga sebelah rumah yang saat Ibu bekerja dan aku sendirian di rumah, beliau selalu mengajakku ke rumahnya. Memberiku makan bahkan kadang mengajakku pergi bersama beliau.

Kehidupanku sejak ayah pergi dari rumah sore itu memang terbilang sangat keras. Seharian aku tak pernah bertemu Ibu karena pekerjaan Ibu yang mengharuskannya pergi pagi pulang sore. Tak pernah ada yang istimewa di rumah. Aku dan Ibu hidup sangat sederhana, sangat apa adanya. Dan aku menyimpulkan itu semua karena Ayah yang pergi dari kehidupan kami. Mungkin kalau sore itu Ayah tak pergi dari rumah, mungkin cerita ini tak perlu terjadi. Mungkin aku tak perlu menjalani hidup yang serba keras dan melelahkan begini.

Lama-lama aku selalu merasa perih setiap kali mendengar satu kata itu. Aku selalu mencoba menghindarinya semampu yang kubisa. Aku selalu bermimpi satu kata itu menghilang dari pikiranku. Bahkan aku pernah bermimpi otakku kehilangan ingatan bahwa satu kata itu tak pernah tercipta di dunia ini. T            api aku sadar itu hanya mimpi alay seperti mimpi Kristin temanku yang bermimpi bisa jadi pacarnya salah satu idol Korea kesukaannya.

Aku tetap harus menghadapi perih itu saat dengan sengaja atau tanpa sengaja satu kata itu melintas.
“Ling, apa kamu tak pernah ingin bertemu Ayahmu?” Pernah Om Evo, seorang teman Ibu yang kadang-kadang datang berkunjung ke rumah, bertanya seperti itu.

Seingatku Om Evo sejak dulu sering datang ke rumah dan ngobrol panjang lebar dengan Ayah, atau terkadang pergi keluar dengan Ayah. Jadi aku berfikir, Om Evo adalah teman Ayah yang sudah akrab juga dengan Ibu. Om Evo sudah seperti salah satu keluargaku yang tak kutau asalnya.
Aku kelu saat itu. Hanya menatap wajah oriental Om Evo dalam-dalam. Om Evo yang selama ini care dengan aku dan Ibu. Om Evo yang selama ini selalu dating kerumah membawa secercah kebahagiaan dimata Ibu. Aku tahu Om Evo tak bermaksud membuat hatiku perih dengan melontarkan tanya itu. Karena tadi aku sempat perbincangannya dengan Ibu kalo Om Evo tau keberadaan Ayah yang katanya kini sudah sukses dengan keluarganya yang baru.

Ah, apa itu berarti Ayah sudah menggantikan posisi aku dan Ibu dalam hidupnya?
Aku merebak dan tetap kelu. Tapi di dalam sini kurasakan sebuah rasa yang makin bergelayut menjadi salah satu beban hidupku. Rasa yang pahit terasa tapi tetap kupertahankan untuk kurasa. Rasa yang membuatku ingin berteriak tapi bibirku kelu. Rasa yang membuatku membenci dan merindu secara bersamaan seperti saat langit menurunkan hujan bersamaan dengan matahari yang menggeliat dari mendungnya. Yang akhirnya menciptakan pelangi yang indah.

Lalu rasa apa yang bisa tercipta saat benciku merebak indah bercampur dengan rindu yang menggulung cukup kuat? Adakah juga bisa seindah pelangi? Kurasa tidak.
Apa aku salah jika aku membenci orang yang seharusnya aku hormati? Apa aku salah membenci ayahku? Ayah yang membuat hidupku tak sempurna. Masa kecilku yang seharusnya bahagia penuh kasih sayang orang tua, sepanjang waktu ditemani mereka, bisa bercanda dan bermanja dengan mereka tapi malah kuterima sebaliknya. Ayah meninggalkanku. Hampir setiap hari aku sendirian di rumah karena Ibu harus bekerja sampai sore. Dan Ibu terlalu letih untuk bisa bercanda denganku apalagi memanjakanku.

Dan masa remajaku yang seharusnya penuh dengan kebebasan berekspresi malah harus ikut membanting tulang agar beban yang Ibu pikul tak terlalu berat. Kusisihkan iriku yang kadang ingin ikut berkumpul bercanda dengan teman-teman sekolah di kafe atau di mall. Kubuta-tulikan diriku dari segala bentuk kegembiraan masa remaja  teman-temanku yang tanpa sengaja melintas di depan mataku.

Aku menyesal kenapa saat Om Evo menanyakan pertanyaan itu, aku malah diam tak menjawab. Aku nyaris marah pada mulutku yang tak kooperatif dengan isi hatiku yang sedang  bergolak ingin bertemu Ayah, meski mungkin setelah 11 tahun Ayah tak bisa mengenaliku dengan baik. Salah satu atau mungkin menjadi satu-satunya kesempatan yang kusia-siakan. Aku ingin sekali bertemu Ayah agar bisa bertanya kenapa sore itu harus pergi dan membuat hidupku menjadi sangat keras selama 11 tahun terakhir ini.

“Kalingga Astuti!”
Panggilan dari Pak Mus membuatku kembali tersadar dari alam khayalku tentang Ayah.Yang meski pahit, perih dan sesak kurasa tapi selalu membuatku tergoda untuk mengenangnya.
“Apa impian terbesarmu?” lanjut Pak Mus menatapku lekat seakan menunggu segera jawabanku. Dan semua mata di kelas ini sepertinya ikut-ikutan ingin tahu jawabannya. Mungkin bagi mereka—aku yang terlalu tak sempat bersosialisasi karena terlalu sibuk hingga selalu masuk akhir tapi keluar awal—mengetahui jawaban dariku atas pertanyaan tentang impian terbesar, adalah hal yang cukup menghebohkan dan sayang untuk dilewatkan..

Aku tak langsung menjawab. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru kelas seraya menata ritme detak jantungku sekaligus memompa teratur aliran oksigen ke pembuluh jantung. Tapi perlahan tapi pasti, hatiku malah merebak. Dadaku seperti sebuah balon yang terlalu kuat ditiup dan kalo terus-terusan akan meletus.

“Bertemu Ayah.” Jawabku akhirnya menatap Pak Mus, dengan suara yang menurutku bergetar.

Aku tak meminta pujian. Aku hanya tak sadar meneteskan air mataku saat mengucapkan dua kata itu dan tentu saja membuat semua orang terhipnotis bersimpati padaku.

Dan sekali lagi aku tak pernah minta pujian apalagi simpati yang berlebihan. Karena aku hanya ingin bertemu Ayah yang karena kepergiannya telah membuat alur kehidupanku menjadi seperti ini.


End


Rdb, 03/07/2017
Winarind@